Anda di halaman 1dari 24

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)

PADA PASIEN PERILAKU KEKERASAN DENGAN PENGALIHAN


ENERGI : SENAM

Disusun Oleh :

VELIA SUWANDI (P1337420217001)


NURHANIFAH (P1337420217002)
FERNANDA VESTARINI (P1337420217003)
PRADITYA KUSUMA PRATIWI (P1337420217004)
NAILIS SANGADAH FIDDARAINI (P1337420217005)
MUCHAMMAD FAIZAL SADELI (P1337420217006)
IKHLAS DWI KURNIAWAN (P1337420217007)

Tingkat 2A

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG

JURUSAN KEPERAWATAN

PRODI D III KEPERAWATAN PURWOKERTO


TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)
STIMULASI SENSORI

A. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial, yang terus menerus membutuhkan


adanya orang lain di sekitarnya. Salah satu kebutuhan manusia untuk
melakukan interaksi dengan sesama manusia. Interaksi ini dilakukan tidak
selamanya memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh
individu, sehingga mungkin terjadi suatu gangguan terhadap kemampuan
individu untuk interaksi dengan orang lain (Azizah, 2010).
Kelompok adalah kumpulan individu yang memilih hubungan satu
dengan yang lain. Anggota kelompok mungkin datang dari berbagai latar
belakang yang harus ditangani sesuai dengan keadaannya, seperti agresif,
takut, kebencian, kompetitif, kesamaan ketidaksamaan, kesukaan dan menarik
diri (Stuart dan Laraia, 2006). Terapi kelompok adalah suatu psikoterapi yang
dilakukan oleh sekelompok penderita bersama-sama dengan jalan diskusi satu
sama lain yang dipimpin, diarahkan oleh terapis/petugas kesehatan yang telah
dilatih (Keliat, 2009).
Terapi aktivitas kelompok itu sendiri mempermudah psikoterapi
dengan sejumlah pasien dalam waktu yang sama. Manfaat terapi aktivitas
kelompok yaitu agar pasien dapat belajar kembali bagaimana cara
bersosialisasi dengan orang lain, sesuai dengan kebutuhannya
memperkenalkan dirinya. Menanyakan hal-hal yang sederhana dan
memberikan respon terhadap pertanyaan yang lain sehingga pasien dapat
berinteraksi dengan orang lain dan dapat merasakan arti berhubungan dengan
orang lain (Bayu, 2011).
Terapi aktivitas kelompok sering dipakai sebagai terapi tambahan.
Wilson dan Kneisl menyatakan bahwa terapi aktivitas kelompok adalah
manual, rekreasi, dan teknik kreatif untuk memfasilitasi pengalaman seseorang
serta meningkatkan repon sosial dan harga diri (Keliat, 2009).

1
Pada pasien dengan perilaku kekerasan selalu cenderung untuk
melakukan kerusakan atau mencederai diri, orang lain, atau lingkungan.
Perilaku kekerasan tidak jauh dari kemarahan. Kemarahan adalah perasaan
jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan
sebagai ancaman. Ekspresi marah yang segera karena suatu sebab adalah wajar
dan hal ini kadang menyulitkan karena secara kultural ekspresi marah yang
tidak diperbolehkan. Oleh karena itu, marah sering diekspresikan secara tidak
langsung (Sumirta, 2013).
Kemarahan yang ditekan atau pura-pura tidak marah akan
mempersulit diri sendiri dan mengganggu hubungan interpersonal.
Pengungkapan kemarahan dengan langsung dan tidak konstruktif pada waktu
terjadi akan melegakan individu dan membantu mengetahui tentang respon
kemarahan seseorang dan fungsi positif marah (Yosep, 2010).
Atas dasar tersebut, maka dengan terapi aktivitas kelompok (TAK)
pasien dengan perilaku kekerasan dapat tertolong dalam hal sosialisasi dengan
lingkungan sekitarnya. Tentu saja pasien yang mengikuti terapi ini adalah
pasien yang mampu mengontrol dirinya dari perilaku kekerasan sehingga saat
TAK pasien dapat bekerjasama dan tidak mengganggu anggota kelompok lain.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan terapi aktivitas kelompok (TAK) penyaluran
energi dengan topik senam, diharapkan pasien dapat menjalin kerjasama
dengan pasien lain dan mampu mengontrol emosi.
2. Tujuan Khusus
a. Klien dapat menyalurkan energinya secara kosntruktif dan
memberikan stimulasi pada klien agar mampu mengekspresikan
perasaannya melalui gerakan badan (olah raga).
b. Klien mampu memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama
panggilan

2
c. Klien mampu memperkenalkan diri dengan menyebutkan asal, dan
hobi
d. Klien mampu melatih konsentrasi dan meminimalkan penggunaan
energi serta emosional untuk aktivitas
e. Klien mampu mengeluarkan energinya untuk melakukan kegiatan
positif
f. Klien mampu fokus mencontoh gerakan senam yang diajarkan
perawat dan fasilitator
g. Klien mampu menyelaraskan dan menyeimbangkan dengan
melakukan kegiatan positif.

C. Waktu dan Tempat

1. Hari dan tanggal :

2. Jam :

3. Tempat :

D. Metode

1. Senam

E. Media dan Alat

1. Laptop

2. Sound sistem

3. Buku catatan dan bolpoin

F. Setting Tempat

3
O P
CL
P P
L
P F

F P

P P
P F

OP

Keterangan Gambar:

L : Leader

CL : Co-Leader

F : Fasilitator
O : Observer

P : Pasien

OP : Operator

(Eko Prabowo, 2014 : 241).

G. Pembagian Tugas

1. Leader

Tugas :

a. Menyiapakan proposal kegiatan TAK

4
b. Menyampaikan tujuan dan peraturan kegiatan terapi aktivitas kelompok
sebelum kegiatan dimulai

c. Menjelaskan aturan permainan

d. Mampu memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok dan


memperkenalkan dirinya

e. Mampu memimpin aktivitas kelompok dengan baik dan bersih

f. Menetralisir bila ada masalah yang timbul dalam kelompok

2. Co-leader

Tugas :

a. Mendampingi leader

b. Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang aktivitas


klien

c. Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang dari perencanaan yang


telah dibuat

d. Mengambil alih posisi leader jika leader mengalami bloking dalam


proses terapi

3. Fasilitator

Tugas :

a. Menyediakan fasilitas selama kegiatan berlangsung

b. Ikut serta dalam kegiatan kelompok

c. Memfasilitasi dan memberikan stimulus dan motivator pada anggota


kelompok untuk aktif mengikuti jalannya terapi

4. Observer

Tugas :

a. Mengobservasi jalannya proses kegiatan

5
b. Mengamati serta mencatat perilaku verbal dan non-verbal klien selama
kegiatan berlangsung (dicatat pada format yang tersedia)

c. Mengawasi jalannya aktivitas kelompok dari mulai persiapan, proses,


hingga penutupan

5. Operator

Tugas :

a. Mengatur alih permainan (menghidupkan dan mematikan musik)

b. Timer (mengatur waktu)

H. Klien

1. Kriteria klien

a. Klien dengan indikasi menarik diri dan harga diri rendah dan mulai
menunjukkan kemampuan untuk interaksi sosial

b. Klien dengan kerusakan komunikasi verbal yang telah berespon sesuai


dengan stimulus yang diberikan

2. Proses seleksi

a. Mengidentifikasi klien yang masuk kriteria

b. Mengumpulkan klien yang masuk kriteria

c. Membuat kontak dengan klien yang setuju mengikuti TAK, meliputi


menjelaskan tujuan TAK pada klien, rencana kegiatan kelompok dan
aturan main dalam kelompok

I. Susunan Pelaksanaan

1. Susunan perawat pelaksana TAK sebagai berikut :

6
a. Leader :

b. Co-leader :

c. Fasilitator :

d. Observer :

e. Operator :
2. Klien peserta TAK sebagai berikut :

NO NAMA MASALAH KEPERAWATAN

J. Tata Tertib dan Antisipasi Masalah

1. Tata tertib pelaksanaan TAK

a. Peserta bersedia mengikuti kegiatan TAK sampai dengan selesai

b. Peserta wajib hadir 5 menit sebelum acara dimulai

c. Peserta berpakaian rapi, bersih, dan sudah mandi

d. Peserta tidak diperkenankan makan, minum, merokok selama


kegiatan TAK berlangsung

e. Jika ingin mengajukan atau menjawab pertanyaan, peserta


mengangkat tangan kanan dan berbicara setelah dipersilahkan oleh
pemimpin

f. Peserta yang mengacaukan jalannya acara akan dikeluarkan dari


permainan

g. Peserta dilarang meninggalkan tempat sebelum acara selesai

7
h. Apabila waktu yang ditentukan untuk melakukan TAK telah habis,
sedangkan permainan belum selesai maka pemimpin akan meminta
persetujuan anggota utnuk memperpanjang waktu TAK

2. Antisipasi kejadian yang tidak diinginkan pada proses TAK

a. Penanganan klien yang tidak aktif saat aktivitas kelompok

1) Memanggil klien

2) Memberi kesempatan pada klien tersebut untuk menjawab sapaan


perawat atau klien yang lain

b. Bila klien meninggalkan permainan tanpa pamit :

1) Panggil nama klien

2) Tanya alasan klien mengapa meninggalkan permainan


3) Berikan penjelasan tentang tujuan permainan dan berikan
penjelasan pada klien bahwa klien dapat melaksanakan
keperluannya setelah itu klien boleh kembali lagi

c. Bila klien lain ingin ikut :

1) Memberikan penjelasan bahwa permainan ini ditujukan pada


klien yang telah dipilih

2) Katakan pada klien lain bahwa ada permainan lain yang mungkin
dapat diikuti oleh klien tersebut

3) Jika klien memaksa, beri kesempatan untuk masuk dengan tidak


memberi peran pada permainan tersebut

8
Terapi Aktivitas Kelompok
Stimulasi Sensori

A. Pengertian

TAK stimulasi sensori adalah TAK yang diadakan dengan memberikan


stimulus tertentu kepada klien sehingga terjadi perubahan perilaku. (Lilik

Ma’rifatul, 2011 : 239).

B. Bentuk Stimulus

1. Stimulus suara : musik

2. Stimulus visual : gambar

3. Stimulus gabungan visual dan suara : melihat televisi, video.

C. Tujuan

TAK stimulasi sensori bertujuan agar klien mengalami :

1. Peningkatan kepekaan terhadap stimulus.

2. Peningkatan kemampuan merasakan keindahan.

3. Peningkatan apresiasi terhadap lingkungan.

D. Jenis TAK

TAK stimulasi sensori terdapat tiga jenis, diantaranya :

1. TAK stimulus suara

2. TAK stimulus gambar

3. TAK stimulus suara dan gambar

9
TAK Stimulasi Sensori Suara

Mendengar Musik

A. Pengertian

TAK yang diberikan dengan memberikan stimulus suara pada klien sehingga
terjadi perubahan perilaku.

B. Tujuan

1. Klien mampu mengenali musik yang didengar

2. Klien mampu menikmati musik sampai selesai

3. Klien mampu menceritakan perasaan setelah mendengarkan musik

C. Indikasi

1. Klien menarik diri

2. Klien harga diri rendah

D. Setting

1. Terapis dan peserta duduk melingkar

2. Ruangan nyaman dan tenang

E. Alat

1. Tape recorder

2. Kaset lagu melayu (dipilih lagu yang memiliki cerita yang bermakna, dapat
juga lagu-lagu yang bermakna religius)

10
F. Metode

1. Diskusi

2. Sharing persepsi

G. Langkah-langkah Kegiatan

1. Persiapan

a. Membuat kontrak dengan klien yang sesuai indikasi (klien menarik diri,
harga diri rendah)

b. Mempersiapkan alat dan tempat (klien duduk melingkar)

2. Orientasi

a. Salam terapeutik (terapis mengucapkan salam)

b. Evaluasi/validasi (terapis menanyakan perasaan klien hari ini)

c. Kontrak :

1) Terapis menjelaskan tujuan kegiatan

2) Terapis menjelaskan aturan main yaitu :


a) Klien harus mengikuti kegiatan dari awal sampai dengan akhir

b) Bila ingin keluar dari kelompok, klien harus meminta izin kepada
terapis

c) Lama kegiatan 60 menit

3. Tahap Kerja

a. Terapis mengajak klien untuk saling memperkenalkan diri (nama


panggilan, serta asal) dimulai dari terapis, secara berurutan searah jarum
jam

b. Setiap kali seorang klien selesai memperkenalkan diri, terapis mengajak


klien untuk bertepuk tangan

c. Terapis dan klien menggunakan papan nama

11
d. Terapis menjelaskan bahwa akan diputar lagu, klien boleh tepuk tangan
atau berjoget sesuai irama lagu. Setelah selesai lagu tersebut klien akan
menceritakan isi cerita dari lagu tersebut dan perasaan klien setelah
mendengar lagu

e. Terapis memutar lagu, klien mendengar, boleh juga berjoget atau tepuk
tangan

f. Secara bergiliran, klien menceritakan isi lagu dan perasaannya secara


bergiliran. Sesuai arah jarum jam sampai semua peserta mendapat giliran
(catatan : jika klien aktif dan proses berlangsung cepat, lagu yang diputar
boleh lebih dari satu lagu)

g. Terapis memberikan pujian, setiap kali klien selesai menceritakan


perasaannya

4. Terminasi

a. Evaluasi

1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK

2) Terapis memberikan pujian atas pencapaian kelompok

b. Tindak lanjut : terapis menganjurkan klien untuk mendengarkan musik


yang baik dan yang bermakna dalam kehidupan

c. Kontrak yang akan datang :

1) Terapis menyepakati kegiatan TAK berikutnya

2) Terapis menyepakati waktu dan tempat TAK

H. Evaluasi dan Dokumentasi


1. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai tujuan TAK. Untuk

12
stimulasi sensoris mendengarkan musik, kemampuan klien yang diharapkan
adalah mengikuti kegiatan, respons terhadap musik, memberi pendapat tentang
musik yang didengar, dan perasaan saat mendengar musik. Formulir evaluasi
sebagai berikut :
Sesi 1 : TAK
Stimulasi Sensori Mendengarkan Musik
Kemampuan memberi respons pada musik
No. Aspek yang Dinilai Nama Peserta TAK

1. Mengikuti kegiatan dari awal


sampai akhir
2. Memberi respon (ikut
bernyanyi/menari/joget/menggerakk
an tangan-kaki dagu sesuai irama)
3. Memberi pendapat tentang musik
yang didengar
4. Menjelaskan perasaan setelah
mendengar lagu
Petunjuk :

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien

2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mengikuti,


merespons, memberi pendapat, menyampaikan perasaan tentang musik yang
didengar. Beri tanda (√) jika klien mampu dan tanda (-) jika klien tidak
mampu.

2. Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses
keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti sesi 1, TAK stimulasi sensori
mendengarkan musik. Klien mengikuti kegiatan sampai akhir dan
menggerakkan jari sesuai dengan irama musik, namun belum mampu memberi

13
pendapat dan perasaan tentang musik. Latih klien untuk mendengarkan musik
di ruang rawat.

TAK Stimulasi Sensori

Menggambar

A. Pengertian

TAK yang diberikan dengan memberikan stimulus menggambar pada pasien


sehingga terjadi perubahan perilaku.

B. Tujuan

1. Klien mampu mengekspresikan perasaan melalui gambar

2. Klien dapat memberi makna gambar

C. Indikasi

1. Pasien menarik diri

2. Pasien harga diri rendah

D. Setting

1. Klien dan terapis duduk melingkar

2. Tempat tenang dan nyaman

E. Alat

1. Kertas HVS

2. Pensil 2B (catatan : jika tersedia krayon juga bisa digunakan).

F. Metode

1. Dinamika kelompok

14
2. Diskusi

G. Langkah-langkah Kegiatan

1. Persiapan

a. Terapis membuat kontrak dengan klien

b. Terapis menyiapkan alat dan tempat (klien duduk melingkar dalam


suasana ruang yang tenang dan nyaman)

2. Orientasi

a. Salam terapeutik (terapis mengucapkan salam, terapis dan klien memakai


papan nama)

b. Evaluasi/validasi (terapis menanyakan perasaan klien hari ini)

c. Kontrak :

1) Terapis menjelaskan tujuan kegiatan yaitu menggambar dan


menceritakannya kepada orang lain

2) Terapis menjelaskan aturan main TAK :


a) Klien mengikuti TAK dari awal sampai akhir
b) Jika akan keluar kelompok, klien harus meminta izin terapis
c) Lama kegiatan 60 menit
3. Tahap Kerja

a. Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu


menggambar dan cerita hasil gambar kepada klien lain

b. Terapis membagikan kertas dan pensil, satu pasang untuk setiap klien

c. Terapis meminta klien menggambar apa saja sesuai dengan perasaan


hatinya

15
d. Sementara klien mulai menggambar, terapis berkeliling dan memberi
penguatan kepada klien untuk meneruskan menggambar. Jangan
mencela klien

e. Setelah selesai semua menggambar, terapis meminta masing-masing


klien untuk menceritakan gambar yang telah dibuatnya. Yang harus
diceritkan adalah gambar apa dan apa makna gambar tersebut menurut
klien

f. Kegiatan point e dilakukan sampai semua klien mendapat giliran

g. Setiap kali klien selesai menceritakan gambarnya, terapis mengajak klien


bertepuk tangan

4. Tahap Terminasi

a. Evaluasi :

1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah selesai mengikuti TAK

2) Terapis memberikan pujian atas pencapaian kelompok

b. Tindak lanjut : terapis menganjurkan klien untuk mengekspresikan


perasaan melalui gambar

c. Kontrak yang akan datang :

1) Terapis menyepakati TAK berikutnya

2) Terapis menyepakati tempat dan waktu TAK

H. Evaluasi dan Dokumentasi

1. Evaluasi

Evaluasi dilakukan saat TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek
yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk
TAK stimulasi sensoris menggambar, kemampuan klien yang diharapkan
adalah mampu mengikuti kegiatan, menggambar, menyebutkan apa yang
digambar dan menceritakan makna gambar.

16
Sesi 2 : TAK

Stimulasi sensori menggambar

Kemampuan memberi respon terhadap menggambar


No. Aspek yang Dinilai Nama Peserta TAK

1. Mengikuti kegiatan dari awal


sampai akhir
2. Menggambar sampai selesai
3. Menceritakan jenis gambar
4. Menceritakan makna gambar
Petunjuk :

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien

2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mengikuti,


merespons, memberi pendapat, menyampaikan perasaan tentang musik yang
didengar. Beri tanda (√) jika klien mampu dan tanda (-) jika klien tidak
mampu.

2. Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan
proses keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti sesi 2 TAK
stimulasi sensoris menggambar. Klien mengikuti sampai selesai. Klien
mampu menggambar, menyebutkan nama gambar dan menceritakan makna
gambar. Anjurkan klien untuk mengungkapkan perasaan melalui gambar.

17
TAK Stimulasi Sensori

Menonton TV/Video

A. Pengertian

TAK yang diberikan dengan memberikan stimulus suara dan melihat pada
klien sehingga terjadi perubahan perilaku.

B. Tujuan

1. Klien dapat memberi respon terhadap tontonan TV/video (jika menonton


TV, acara tontonan hendaknya dipilih yang positif dan bermakna terapi
untuk klien)

2. Klien mampu menceritakan makna acara yang ditonton pada perasaan klien

C. Indikasi

1. Klien menarik diri

2. Klien harga diri rendah

D. Setting

1. Klien dan terapis duduk membentuk setengah lingkaran di depan


televisi/video

2. Rungan nyaman dan tenang

E. Alat

1. Video

2. Televisi

3. VCD

F. Metode

1. Diskusi

18
G. Langkah-langkah Kegiatan

1. Persiapan

a. Terapis membuat kontrak dengan klien yang telah mengikuti TAK sesi 2

b. Terapis menyiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi

a. Salam terapeutik (terapis mengucapkan salam kepada klien, terapis dank


lien memakai papan nama)

b. Evaluasi/validasi (terapis menanyakan perasaan klien hari ini)

c. Kontrak :

1) Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan, yaitu


menonton TV/video dan menceritakannya

2) Terapis menjelaskan aturan main :

a) Klien mengikuti TAK dari awal sampai akhir

b) Bila ingin keluar dari kelompok, klien harus meminta izin terapis
c) Lama kegiatan adalah 60 menit

3. Tahap Kerja

a. Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu menonton


TV/video dan menceritakan makna yang telah ditonton

b. Terapis memutar TV/VCD yang telah dipersiapkan (catatan : untuk klien


PK dapat dipilih video tentang marah dan sebagainya, disesuaikan
dengan klien dan tujuan yang hendak dicapai)

c. Terapis mengobservasi klien selama menonton TV/video

d. Setelah selesai menonton, masing-masing klien diberi kesempatan


menceritakan isi tontonan dan maknanya untuk kehidupan klien.
Berurutan searah jarum jam, dimulai dari klien yang ada di sebelah kiri
terapis

19
e. Setiap selesai, klien menceritakan persepsinya, terapis mengajak klien
lain bertepuk tangan dan memberikan pujian, sampai semua klien
mendapatkan giliran

4. Terminasi

a. Evaluasi

1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah selesai mengikuti TAK

2) Terapis memberikan pujian atas pencapaian kelompok

b. Tindak lanjut : terapis menganjurkan klien untuk menonton acara tv yang


baik

c. Kontrak yang akan datang :

1) Terapis menyepakati kegiatan TAK berikutnya

2) Terapis menyepakati tempat dan waktu TAK

H. Evaluasi dan Dokumentasi

1. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek
yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk
TAK stimulasi sensoris menonton, kemampuan klien yang diharapkan adalah
mampu mengikuti kegiatan, berespon terhadap tontonan, menceritakan isi
tontonan dan mengungkapkan perasaan saat menonton. Formulir evaluasi
sebagai berikut.

Sesi 3 : TAK

20
Stimulasi sensoris menonton
Kemampuan memberi respon kepada tontonan

No Aspek yang Dinilai Nama Peserta TAK

1. Mengikuti kegiatan sampai TAK


berakhir
2. Memberi respon pada saat
menonton (senyum, sedih, dan
gembira)
3. Menceritakan makna cerita dalam
TV / video
4. Menceritakan perasaan setelah
menonton
Petunjuk :

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien

2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mengikuti,


merespons, memberi pendapat, menyampaikan perasaan tentang musik yang
didengar. Beri tanda (√) jika klien mampu dan tanda (-) jika klien tidak
mampu.

2. Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan
proses keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti sesi 3 TAK stimulasi
sensoris menonton. Klien mengikuti sampai selesai, ekspresi datar, dan tanpa
respon, klien tidak dapat menceritakan isi tontonan dan perasannya.
Tingkatkan stimulus diruangan, ulang kembali dengan stimulus yang berbeda.

21
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori merupakan upaya untuk


menstimulasi semua pancaindera (sensori) agar memberi respon yang adekuat.
Tujuannya agar klien dapat berespon terhadap stimulus pancaindera yang
diberikan. Aktivitas stimulasi sensori dapat berupa stimulus terhadap penglihatan,
pendengaran, dan lain-lain seperti gambar, video, tarian, dan nyanyian. Klien yang
mempunyai indikasi TAK-stimulasi sensori adalah klien isolasi sosial, menarik diri,
harga diri rendah yang disertai dengan kurang komunikasi verbal.

B. Saran

Terapi aktivitas kelompok sudah sepantasnya masuk dalam standar asuhan


keperawatan jiwa dan menjadi integral dalam standar asuhan keperawatan jiwa
khususnya pada tindakan keperawatan jiwa yang diberikan pada berbagai tatanan
pelayanan kesehatan jiwa terutama di ruang rawat inap rumah sakit jiwa. Dengan
demikian, menjadi kewajiban perawat untuk memberikan terapi aktivitas kelompok
secara rutin sesuai dengan kebutuhan diberbagai tatanan pelayanan kesehatan jiwa
dan menjadikannya sebagai bagian dari budaya profesional sehingga dapat
meningkatkan citra dan mutu pelayanan keperawatan jiwa bagi pasien dan
keluarganya.

22
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, dkk. (2004). Modul IC Manajemen Kasus Gangguan Jiwa dalam


Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas. . Jakarta: World Health
Organization Indonesia.

Ma'rifatul L. (2011). Keperawatan Jiwa Aplikasi Praktik Klinik. Yogyakarta:

Graha Ilmu.

Purwaningsih W & Karlina I. (2010). Asuhan Keperawatan Jiwa Terapi


Modalitas dan Standard Operating Procedure (SOP). Yogyakarta: Nuha
Medika.

Prabowo E. (2014). Konsep & Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta:

Nuha Medika.

23