Anda di halaman 1dari 27

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Terorisme adalah paham yang berpendapat bahwa penggunaan cara-

cara kekerasan dan menimbulkan ketakutan adalah cara yang sah untuk mencapai

tujuan. Istilah teroris oleh para ahli kontraterorisme dikatakan merujuk kepada

para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal

atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Terorisme sendiri

sering tampak dengan mengatasnamakan agama. Aksi terorisme juga

mengandung makna bahwa serangan-serangan teroris yang dilakukan tidak

berprikemanusiaan dan tidak memiliki justifikasi, dan oleh karena itu para

pelakunya (teroris) layak mendapat pembalasan yang kejam. Akibat makna-

makna negative yang dikandung oleh perkataan “teroris” dan “terorisme”,

para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang

pembebasan, pasukan perang salib, militant, mujahidin, dan lain-lain. Adapun

makna sebenarnya dari jihad, mujahidin adalah jauh dari tindakan terorisme

yang menyerang penduduk sipil yang tidak terlibat dalam perang.

Dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwa serangan

terorisme merupakan ancaman yang sangat serius terhadap individu,

masyarakat, Negara, dan masyarakat internasional. Terorisme bukanlah

kejahatan biasa melainkan merupakan kejahatan luar biasa bahkan digolongkan

ke dalam kejahatan terhadap kemanusiaan. Hal itu terbukti dari beberapa kasus
terorisme yang menyerang Indonesia. Data menunjukkan kejahatan terorisme

telah dimulai sejak awal masa orde baru dan reformasi. Menurut Adisiputra, Asep

(2008) pada masa orde baru ada 7 kejadian terorisme, sedangkan pada masa

reformasi ada 32 kejadian, serangkaian teror bom diatas belum termasuk data

ledakan bom di Poso dan Ambon yang sering terjadi sepanjang tahun 2000-2005.

Menurut data yang dikutip dari Liputan6.com ada 5 kasus terorisme terbesar di

Indonesia, diantaranya ialah Bom Bali 2002 (disebut juga Bom Bali I) terjadi pada

malam hari tanggal 12 Oktober 2002. Aksi ini merupakan rangkaian tiga

pengeboman di lokasi yang berbeda di Bali. Dua ledakan pertama terjadi di

Paddy’s Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan yang

terakhir di Konsulat Amarika Serikat. Tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang

luka-luka. Kasus kedua ialah Bom JW Mariot, sebuah bom meledak dan

menghancurkan sebagian Hotel JW Marriott di kawasan Mega Kuningan, Jakarta,

Indonesia. Bom meledak sekitar pukul 12.45 WIB dan 12.55 WIB pada Selasa, 5

Agustus 2003. Sebanyak 12 orang tewas dan 150 orang cedera. Ledakan ini

merupakan aksi bom bunuh diri. Kasus ketiga adalah Bom Kedubes Australia.

Ledakan besar terjadi di depan Kedutaan Besar Australia, kawasan Kuningan,

Jakarta. Bom meledak pada tanggal 9 September 2004 silam. Aksi teror ini

merupakan rentetan serangan terorisme yang ditujukan terhadap Australia.

Jumlah korban jiwa tidak begitu jelas, versi petugas Indonesia 9 orang, sementara

versi Australia 11 orang tewas. Kasus keempat adalah Bom Bali 2 pada tahun

2005. Ledakan bom berada di R.AJA’s Bar dan Restaurant, Kuta Square, daerah

Pantai Kuta dan di Nyoman Cafe’Jombaran. Meski lebih kecil dari bom Bali

pertama, peristiwa ini menewaskan 22 orang dan 102 orang mengalami luka-luka.
Kasus kelima adalah Bom Cirebon 2011. Sebuah ledakan bom bunuh diri terjadi

di Masjid Mapolresta Cirebon saat Salat Jumat pada 15 April 2011 silam. Berbeda

dari aksi lainnya, bom bunuh diri ini ditujukan untuk menyerang Polisi. Tercatat

ada 25 orang mengalami luka-luka dan menewaskan satu pelaku.

Dampak yang ditimbulkan dari aksi terorisme adalah suatu peristiwa yang

tragis dan menggerikan, di mana dari segi manusiawi, apa yang dialami oleh

korban teror bom, menimbulkan efek psikologis yang sungguh tidak terperikan

mengenang peristiwa teror bom yang pernah dialaminya. Sebagai anak bangsa,

kita semua tentu sangat prihatin dengan aksi teror di Tanah Air yang justru

dilakukan oleh warga negara Indonesia sendiri. Demikian juga menyangkut harkat

dan martabat bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa beradab, agamis, penuh

keramahtamahan, kini telah dicemari oleh aksi teroris. Berdasarkan analisis

dampak dan implikasi yang ditimbulkan, secara signifikan sangat merugikan

kepentingan nasional, seperti menurunnya devisa dari sektor pariwisata,

kehilangan lapangan kerja, serta menyisahkan duka keluarga korban baik yang

meninggal maupun yang cacat seumur hidup.

Peran beberapa pihak di Indonesia seperti Pemerintah, Lembaga

Pendidikan, Tokoh Masyarakat, dan keluarga sangat penting dalam pencegahan

kejadian terorisme di Indonesia. Pencegahan ini harus dilakukan sedini mungkin.

Namun tidak hanya itu, selain melakukan pencegahan, kita sebagai pemuda

penerus bangsa harus mengetahui alur operasionalisasi tentang pencegahan

maupun penanganan kasus terorisme di Indonesia. Oleh karena itu, berdasarkan

pemaparan beberapa kasus diatas maka kami sebagai penulis ingin menganalisis

permasalahan kasus terorisme. Kasus terorisme ini kami ambil dari beberapa
contoh kejadian terorisme, kemudian kasus tersebut kami bandingkan antara

standar operasionalisasi di negara Indonesia dan negara Amerika Serikat.

1.2 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

1) Menganalisis contoh kasus terorisme di Indonesia.

2) Menganalisis prosedur penanganan terorisme berdasarkan Badan Nasional

Penanggulangan Terorisme di Indonesia.

3) Membandingkan standar prosedur penanganan terorisme di Indonesia dan di

Amerika Serikat.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Terorisme

Terorisme merupakan suatu istilah yang digunakan untuk penggunaan

kekerasan terhadap penduduk sipil/non kombatan untuk mencapai tujuan politik,

dalam skala lebih kecil daripada perang. Dari segi bahasa, istilah teroris berasal

dari Perancis pada abad 18. Kata Terorisme yang artinya dalam keadaan teror

(under the terror), berasal dari bahasa latin ”terrere” yang berarti gemetaran dan

”detererre” yang berarti takut. Istilah terorisme pada awalnya digunakan untuk

menunjuk suatu musuh dari sengketa teritorial atau kultural melawan ideologi

atau agama yang melakukan aksi kekerasan terhadap publik. Istilah terorisme dan

teroris sekarang ini memiliki arti politis dan sering digunakan untuk

mempolarisasi efek yang mana terorisme tadinya hanya untuk istilah kekerasan

yang dilakukan oleh pihak musuh, dari sudut pandang yang diserang.

Polarisasi tersebut terbentuk dikarenakan ada relativitas makna terorisme

yang mana menurut Wiliam D. Purdue (1989), the use word terorism is one

method of delegitimation often use by side that has the military advantage.

Sedangkan teroris merupakan individu yang secara personal terlibat dalam aksi

terorisme. Penggunaan istilah teroris meluas dari warga yang tidak puas sampai

pada non komformis politik.

Sedangkan pengertian terorisme secara filosofis yang dapat berlaku

sepanjang zaman adalah sebagai berikut : Terorisme merupakan tindak


kejahatan yang tidak tunduk kepada aturan apa pun, karena nilai

kebenarannya terletak di dalam dirinya sendiri.

Dewan Keamanan PBB yang menegaskan, bahwa terorisme merupakan

kejahatan yang mengancam perdamaian dan keamanan umat manusia, oleh

karenanya maka seluruh anggota PBB termasuk Indonesia wajib mendukung dan

melaksanakan resolusi. Dewan Keamanan PBB yang mengutuk terorisme dan

menyerukan kepada seluruh anggotanya untuk mencegah dan memberantas

terorisme melalui pembentukan peraturan perudang-undangan nasional yang

berkaitan dengan terorisme di negara masing-masing.

Pada bulan November 2004, Panel PBB mendefinisikan terorisme sebagai :

” Any action intended to cause death or serious bodily harm to civilians,

non combatans, when the purpose of such act by is nature or context, is to

intimidate a population or compel a government or international organization to

do or to abstain from doing any act”. Segala aksi yang dilakukan untuk

menyebabkan kematian atau kerusakan tubuh yang serius bagi para

penduduk sipil, non kombatan di mana tujuan dari aksi tersebut berdasarkan

konteksnya adalah untuk mengintimidasi suatu populasi atau memaksa

pemerintah atau organisasi internasional untuk melakukan atau tidak

melakukan sesuatu).

2.2 Tujuan Terorisme

Tujuan utama teroris adalah menghancurkan sistem ekonomi, politik,

dan sosial masyarakat suatu negara, untuk diganti dengan struktur baru secara

total. Dewasa ini terorisme menjadi profesi kaum fanatik untuk mencapai
keinginannya dengan melakukan aksi pembunuhan, penculikan ataupun aksi

teror lainnya. Dalam dunia modern, aksi teror banyak ditujukan pada

kelompok middle-upper class, pejabat pemerintah atau orang-orang kaya.

2.3 Idealisme Terorisme

Aksi terorisme dapat dilakukan oleh individu, sekelompok orang atau

Negara sebagai alternatif dari pernyataan perang secara terbuka. Negara yang

mendukung kekerasan terhadap penduduk sipil menggunakan istilah positif

untuk kombatan mereka, misalnya antara lain paramiliter, pejuang kebebasan

atau patriot. Kekerasan yang dilakukan oleh kombatan Negara, bagaimanapun

lebih diterima dari pada yang dilakukan oleh ”teroris” yang mana tidak

mematuhi hukum perang dan karenanya tidak dapat dibenarkan melakukan

kekerasan. Negara yang terlibat dalam peperangan juga sering melakukan

kekerasan terhadap penduduk sipil dan tidak diberi label sebagai teroris.

Meski kemudian muncul istilah State Terorism, namun mayoritas membedakan

antara kekerasan yang dilakukan oleh negara dengan terorisme, hanyalah

sebatas bahwa aksi terorisme dilakukan secara acak, tidak mengenal

kompromi, korban bisa saja militer atau sipil, pria, wanita, tua, muda bahkan

anak-anak, kaya miskin, siapapun dapat diserang. Kebanyakan dari definisi

terorisme yang ada menjelaskan empat macam kriteria, antara lain target, tujuan,

motivasi dan legitmasi dari aksi terorisme tersebut. Dapat dikatakan secara

sederhana bahwa aksi-aksi terorisme dilatarbelakangi oleh motif-motif tertentu

seperti motif : perang suci, motif ekonomi, motif balas dendam dan motif-motif

berdasarkan aliaran kepercayaan tertentu. Namun patut disadari bahwa


terorisme bukan suatu ideologi atau nilai-nilai tertentu dalam ajaran agama. Ia

sekedar strategi, instrumen atau alat untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain

tidak ada terorisme untuk terorisme, kecuali mungkin karena motif -motif

kegilaan (madness).

2.4 Dampak yang Ditimbulkan dari Kasus Terorisme

Dampak yang ditimbulkan dari kasus terorisme terbagi menjadi dua hal

yaitu :

1) Dampak Positif

Berbagai pengaruh positif bagi kehidupan berbangsa, bernegara, dan

bermasyarakat dari timbulnya masalah terorisme di Negara ini memanglah

sedikit, namun pada hakekatnya setiap masalah yang muncul dari Negara ini

pasti akan membawa hikmah yang baik bagi kehidupan nasional. Adanya

serangan teroris yang sering muncul dan menghantui rakyat Indonesia dalam

satu dekade terakhir membuat masyarakat Indonesia mengerti apa sebetulnya

definisi dari kata “jihad” yang selalu menjadi alasan bagi para teroris untuk

terus melakukan aksinya. Masyarakat awam pun juga sudah mulia mengerti

bahwa jihad yang sebenarnya bukan seperti jihad yang dilakukan oleh para

teroris. Selain itu keamanan Negara juga mulai ditingkatkan oleh para aparat

militer, semua itu dilakukan demi mengatasi masalah teroris yang mengancam

keamanan Negara ini. Semakin hari kesiapan aparat penegak hukum untuk

mengatasi masalah terorisme terus ditingkatkan.Setidaknya hal tersebut juga

menjanjikan sedikit rasa aman bagi masyarakat Indonesia yang resah akan

adanya kegiatan terorisme di Negara ini.


2) Dampak Negatif

Pengaruh negatif yang timbul akibat adanya masalah terorisme di dalam

bangsa ini cenderung sangat banyak sekali, dari mulai nasionalisme, rasa was-

was akan adanya kejahatan terorisme, rasa saling tidak percaya antar umat

beragama, pengaruh psikologis bagi para anak muda Indonesia yang masih

labil emosinya, dan lain-lain. Semua pengaruh negatif tersebut secara langsung

mengganggu tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Belum lagi adanya

kelompok-kelompok yang ingin mengganti ideologi bangsa menjadi ideology

yang berlandaskan Islam yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Adanya

rasa saling tidak percaya antar umat beragama yang diawali dari aksi teror yang

mengatas namakan agama menjadikan citra salah satu agama menjadi buruk di

mata umat beragama lain. Dari hal tersebut yang dikhawatirkan adalah

menurunnya rasa saling menghormati antar umat beragama di Indonesia yang

selanjutnya dapat mengurangi rasa kesatuan dan persatuan dari rakyat

Indonesia. Kemudian dari segi keamanan dan kenyamanan yang terusik akibat

adanya aksi terorisme. Indonesia memiliki banyak tempat wisata yang sudah

terkenal sampai ke manca Negara dan kemungkinan sudah menjadi incaran

para teroris untuk melakukan aksinya. Maka, banyak wisatawan yang

mengurungkan niatnya untuk mengunjungi tempat-tenpat wisata tersebut.

Adanya hal tersebutlah yang membuat penduduk Indonesia menjadi was-was

untk melaksanakan aktifitasnya. Selain itu, hal tersebut juga berpengaruh

terhadap pendapatan Negara dari wisatawan-wisatawan asing yang berkunjung

ke Indonesia menjadi berkurang karena takut akan adanya aksi terorisme yang

ada di Negara ini. Rasa nasionalisme yang menurun akibat adanya masalah
terorisme tergambar dari begitu mudahnya para pelaku bom bunuh diri yang

sebagaian besar adalah anak muda Indonesia yang mudah terpengaruh oleh

doktrin-doktrin yang mengarah pada separatisme. Begitu mudahnya mereka

terjebak dan tertipu akan “iming-iming” yang dijanjikan para teroris yang

mendoktrin mereka agar mereka bersedia menjadi pelaku teror yang

menghancurkan bangsanya sendiri, ini menunjukan rasa nasionalisme mereka

sangat rendah terhadap Negara ini hal tersebutpun juga dapat mengganggu

keyakinan penduduk lain akan kedaulatan bangsa ini. Seharusnya hal tersebut

dapat dihindari apabila generasi muda dari bangsa ini lebih mempunyai rasa

nasionalisme yang tinggi yang benar-benar dipupuk sejak dini. Menurunnya

rasa nasionalisme juga berkaitan erat dengan pengaruh psikologis terhadap

generasi muda dari bangsa ini. Labilnya emosi para remaja membuat doktrin-

dotrin tentang separatisme menjadi lebih mudah dimasukan kedalam pikiran

mereka. Adanya ajaran-ajaran baru yang negatif yang sampai saat ini membuat

para generasi muda semakin kebingungan untuk menentukan jalan hidup

mereka, karena para remaja cenderung memilih segala sesuatu dengan proses

yang cepat dan mudah “cepat dan mudah untuk masuk surga”.

2.5 Prosedur Penanganan Terorisme di Indonesia

Berdasarkan standar penanganan Badan Nasional Penanganan Terorisme di

Indonesia, dipaparkan operasionalisasinya, yaitu :

2.5.1 PERMASALAHAN

1) Terorisme belum berhasil ditangani secara efektif. Rangkaian kejadian

terorisme di Indonesia selama 3 tahun terakhir dimulai dengan terjadinya kasus


Bom Bali tahun 2002 dan secara total telah terjadi 15 kasus penting terorisme

dengan 243 korban jiwa dan ratusan orang luka-luka. Wilayah dan target

terorisme di Indonesia saat ini sudah meluas terhadap kepentingan domestik

dan internasional hingga kepentingan Indonesia di Luar Negeri dengan

dibomnya kedubes Indonesia di Perancis tahun 2004. Hal tesebut semakin

menjelaskan fenomena bahwa terorisme yang tidak berhasil ditangani secara

efektif akan makin meningkatkan intensitas dan frekuensi aksi-aksi tersebut.

2) Keterbatasan kualitas dan kapasitas institusi intelijen. Penanganan terhadap

masalah terorisme membutuhkan kualitas dan kapasitas intelijen yang tinggi

untuk dapat mengungkap pelaku, motif dibalik terorisme, dan akar

permasalahahan yang mendasarinya. Keterbatasan kualitas dan kapasitas

intelijen secara individu maupun instansi serta aparat terkait lainnya yang

kompeten dihadapkan dengan makin canggihnya aksi-aksi terorisme,

menempatkan aksi terorisme ke dalam skala ancaman yang makin serius.

3) Sulitnya mengungkap pelaku terorisme. Semakin canggih pengetahuan pelaku

dan teknologi yang digunakan, semakin sulit mengungkap dan mendeteksi

secara dini terhadap setiap aksi terorisme. Beroperasinya jaringan teroris yang

memiliki hubungan dengan jaringan terorisme internasional telah terbukti

memiliki kemampuan untuk melaksanakan aksi terorisme yang belum dapat

dijangkau secara keseluruhan oleh aparat kemanan di Indonesia.

4) Aksi terorisme dapat melumpuhkan dinamika kehidupan bermasyarakat,

berbangsa dan bernegara. Dampak yang ditimbulkan dari aksi-aksi terorisme

merusak mental, semangat, dan daya juang masyarakat, sehingga dalam jangka

panjang akan melumpuhkan dinamika hidup bermasyarakat, berbangsa dan


bernegara. Sebagai ilustrasi dampak sosial ekonomi bom Bali pada tahun 2002

memiliki efek yang berlangsung sepanjang tahun 2003 yang secara lokal

meliputi penurunan pendapatan penduduk Bali rata-rata 43 persen dan

pemutusan hubungan kerja terhadap 29 persen tenaga kerja dan lebih lanjut

secara nasional mengakibatkan penurunan kedatangan wisman hingga 30

persen sepanjang awal tahun 2003.

2.5.2 SASARAN

Sasaran pencegahan dan penanggulangan terorisme adalah sebagai

berikut:

1) Menurunnya kejadian tindak terorisme di wilayah hukum Indonesia;

2) Meningkatnya daya cegah dan tangkal negara terhadap ancaman terorisme.

2.5.3 ARAH KEBIJAKAN

Sasaran tersebut dicapai dengan arah kebijakan sebagai berikut:

(1) Membangun kemampuan penangkalan dan penanggulangan terorisme;

(2) Memantapkan operasional penanggulangan terorisme.

2.5.4 PROGRAM-PROGRAM PEMBANGUNAN

Arah kebijakan dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme

dijabarkan ke dalam program-program sebagai berikut:

1) PROGRAM PENGEMBANGAN PENYELIDIKAN, PENGAMANAN DAN

PENGGALANGAN KEAMANAN NEGARA

Program ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan

profesionalisme intelijen guna lebih peka, tajam dan antisipatif dalam

mendeteksi dan mengeliminir berbagai ancaman, tantangan, hambatan

dan gangguan yang berpengaruh terhadap kepentingan nasional


khususnya dalam hal pencegahan, penindakan, dan penanggulangan

terorisme. Kegiatan pokok yang dilakukan adalah:

(1)Operasi intelijen termasuk pencegahan, penindakan dan penanggulangan

terorsme.

(2)Koordinasi seluruh badan-badan intelijen pusat dan daerah di seluruh wilayah

NKRI dalam pelaksanaan operasi intelijen yang melingkupi pencegahan,

penindakan dan penanggulangan terorisme.

(3)Pengkajian, analisis intelijen perkembangan lingkungan strategis, pengolahan

dan penyusunan produk intelijen; serta

(4)Pengadaan sarana dan prasarana operasional intelijen di pusat dan daerah.

2) PROGRAM PENGEMBANGAN PENGAMANAN RAHASIA NEGARA

Program ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan

profesionalisme kontra-intelijen dalam melindungi kepentingan

nasional dari berbagai ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan

termasuk dalam hal pencegahan dan penanggulangan terorisme.

Kegiatan pokok yang dilakukan adalah:

(1)Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan SDM persandian kontra terorisme;

serta

(2)Penyelenggaraan operasional persandian anti terorisme.

3) PROGRAM PEMANTAPAN KEAMANAN DALAM NEGERI.

Program ini bertujuan untuk meningkatkan dan memantapkan

keamanan dan ketertiban wilayah Indonesia dalam pencegahan dan

penanggulangan terorisme, yaitu meningkatkan kemampuan kapasitas

kelembagaan nasional dalam menangani masalah terorisme dan


melakukan penanganan terorisme secara operasional yang didukung

kerjasama antar instansi dengan melibatkan partisipasi seluruh

komponen kekuatan bangsa, meliputi kemampuan deteksi dini, cegah

dini, penanggulangan, pengungkapan dan rehabilitasi. Kegiatan

pokok yang dilakukan adalah:

(1) Peningkatan keberadaan Desk Terorisme untuk masalah penyiapan kebijakan

dan koordinasi penanggulangan terorisme untuk disinergikan dengan

pembangunan kapasitas masing-masing lembaga dan institusi keamanan;

(2) Peningkatan kemampuan komponen kekuatan pertahanan dan kemanan

bangsa dalam menangani tindak terorisme;

(3) Restrukturisasi operasional institusi keamanan dalam penanganan terorisme

termasuk pengembangan standar operasional dan prosedur pelaksanaan

latihan bersama;

(4) Peningkatan pengamanan terbuka simbol-simbol negara untuk meminimalkan

kemungkinan terjadinya aksi terorisme dan memberikan rasa aman bagi

kehidupan bernegara dan berbangsa;

(5) Peningkatan pengamanan tertutup area-area publik untuk mengoptimalkan

kemampuan deteksi dini dan pencegahan langsung di lapangan;

(6) Komunikasi dan dialog serta pemberdayaan kelompok masyarakat secara

intensif dalam kerangka menjembatani aspirasi, mencegah berkembangnya

potensi terorisme, serta secara tidak langsung melakukan delegitimasi motif

terror;

(7) Peningkatan kerjasama regional negara-nagara ASEAN dalam upaya

menangkal dan menanggulangi aksi terorisme;


(8) Penanganan terorisme secara multilateral dibawah PBB, termasuk peredaran

senjata konvensional dan Weapon of Mass Destruction (WMD);

(9) Penangkapan dan pemrosesan secara hukum tokoh-tokoh kunci operasional

terorisme;

(10) Pengawasan lalu lintas uang dan pemblokiran asset kelompok teroris;

(11) Peningkatan pengawasan keimigrasian serta upaya interdiksi darat, laut, dan

udara.

(12) Peningkatan pengawasan produksi dan peredaran serta pelucutan senjata dan

bahan peledak sebagai bagian global disarment.

2.6 Prosedur Penanganan Terorisme di Amerika Serikat

2.6.1 Homeland Security

2.6.1.1 Latar Belakang Pembentukan

Peristiwa 9/11 membawa implikasi dan restrukturisasi yang besar bagi AS.

Berbagai perangkat kebijakan, undang-undang, kerjasama mengalami

pemutakhiran khususnya di bidang keamanan. Spesifik pada bidang keamanan

domestik, Administrasi Bush mensahkan undang-undang yang dikenal dengan

Homeland Security Act pada tahun 2002 sebagai bentuk antisipasi dan manajemen

terhadap ancaman domestik AS dari ancaman termasuk bencana alam dan

terorisme. Secara umum apa yang menjadi konten dalam undang-undang ini

adalah:

1) Terbentuknya Department of Homeland Security sebagai badan eksekutif

pemerintah yang bertanggung jawab kepada Presiden


2) Membentuk sebuah Dewan Keamanan yang terintegrasi dengan kantor

kepresidenan.

3) Mengatur bentuk organisasi dan struktur manajemen DHS secara rinci.

4) Mendaftarkan semua badan dan program yang di transfer ke dalam DHS.

5) Mengatur tugas dan tanggung jawab ke 5 direktorat DHS.

DHS memiliki definisi Homeland Security sebagai upaya terpadu nasional

untuk mencegah serangan teroris di dalam Amerika Serikat, mereduksi kerentanan

terhadap teror dan meminimalisasi segala kerusakan serta pemulihan dari

serangan yang terjadi.

2.6.1.2 Struktur Organisasi

DHS memiliki 5 direktorat utama yang membawahi berbagai sektor,

direktorat-direktorat tersebut yakni:1

1) Management Directorate

Direktorat ini bertugas menjalankan semua fungsi manajemen administratif

untuk mendukung operasional DHS.

2) Border and Transportation Security Directorate

Direktorat terbesar ini memiliki fungsi kordinasi terhadap beberapa badan

federal seperti: U.S. Customs Service, Immigration and Naturalization Service

Enforcement Division, Animal and Plant Health Inspection Service,

Transportation Security Administration, Office for Domestic Preparedness, dan

Federal Protective Service. Secara umum tujuan yang ingin dicapai oleh

direktorat ini adalah pengamanan udara, darat, perbatasan laut dan sistem

transportasi. Pengamanan perbatasan dan transportasi meliputi mengamankan

1
Ibid., hal. 130-132
dan mencegah akses masuk teroris dan penyelundupan ke dalam AS; mengatur

dan menegakan segala regulasi terkait imigrasi dan akses ke dalam AS;

menegakakan peraturan Bea Cukai AS; serta mengatur fungsi Badan Inspeksi

Satwa dan Tumbuhan. Sedangkan kesiapan domestik meliputi koordinasi

aktivitas kesiapan federal bekerjasama dengan pusat dan sektor swasta untuk

mengantisipasi keadaan darurat; meningkatkan kemampuan sistem komunikasi

keamanan nasional; mengatur segala bantuan federal untuk perlindungan

terhadap terorisme. Melaksanakan pelatihan untuk aparat pemerintahan dan

badan internasional; bekerjasama dengan direktorat Emergency Preparedness

and Response, untuk bersiap terhadap segala bentuk bencana; serta

melaksanakan kegiatan manajeman dan analisa resiko.

3) Emergency Preparedness and Response Directorate

Direktorat ini dibentuk untuk menyertakan Federal Emergency Management

Agency untuk menyiapkan bentuk respon terhadap bencana alam/teknologi dan

terorisme.

4) Information Analysis and Infrastructure Protection Directorate

Fokus direktorat ini terletak pada upaya antisipasi dari ancaman terorisme,

perlindungan terhadap infrastruktur dan dunia maya dan analisa informasi

ancaman.

5) Science and Technology Directorate

Direktorat ini dibangun untuk memfasilitasi riset dan pengembangan dengan

sasaran untuk pencegahan dan mitigasi senjata pemusnah massal dan ancaman

lainnya.
Bagan 1. Struktur Department of Homeland Security

2.6.2 DHS vs Isu Legal dan HAM

Model keamanan nasional AS menekankan perlindungan bagi AS secara

komprehensif. Walaupun kebijakan tersebut bersifat global namun

kemampuannya sangat menjangkau secara global. Upaya pemerintah dalam

meningkatkan keamanan nasional dinilai mampu berimplikasi pada pengurangan

pada hak-hak sipil dan hak asasi. Pencegahan terhadap ancaman kemanan

nasional menurut kebijakan AS dalam Homeland Security di lancarkan melalui

beberapa program, yakni Intelijen dan Peringatan Dini; Keamanan Perbatasan dan

Transportasi; Kontra terorisme domestik; Melindungi infrastruktur penting dan

aset kunci; Mempertahankan diri dari ancaman besar; serta Persiapan dan respon

pada kondisi darurat.

Aplikasi terhadap kebijakan-kebijakan diatas pada kehidupan masyarakat

sehari-hari seringkali berbenturan terhadap hak-hak konstitusional dan hak-hak

sipil warga AS maupun hak-hak warga negara non AS atau yang disebut sebagai
aliens. Regulasi-regulasi yang mengatur pelaksanaan kebijakan-kebijakan tersebut

juga dinilai memiliki permasalahan legal dan HAM, khususnya yang berkaitan

dengan perlindungan hak-hak warga negara AS dan warga negara non AS. Salah

satu yang menimbulkan dilema legal bagi AS adalah penerapan kebijakan

intelijen dan peringatan dini. Dalam kebijakan ini, fungsi intelijen dinilai

signifikan untuk mengantisipasi serangan teror dan diharapkan mampu menjadi

sumber pertimbangan pemerintah untuk mengambil langkah preventif, preemptif

dan protektif. Pada agenda nasional yang memiliki urgensi sebesar ini maka

metode untuk menyerap dan mengumpulkan informasi dituntut untuk memiliki

kapasitas yang memadai dan kualitas yang baik. Penerapan fungsi pengintaian

dan penyadapan dalam memperoleh informasi harus ditempuh agar informasi

dapat diserap secara mentah tanpa adanya noise. Namun pada penerapannya,

secara konstitusi pengintaian dan penyadapan ini sangat kontradiktif dengan

kebebasan dan hak sipil. Kebijakan ini juga membuat ruang gerak individu

semakin sempit karena pengawasan semakin ditingkatkan.

Dua regulasi utama mengenai pengumpulan data intelejen yang terkait

dengan pelaksanaan fungsi-fungsi DHS adalah Foreign Intelligence Surveillance

Act (FISA) dan Foreign Intelligence Surveillance Court (FISC). FISA adalah

undang-undang yang memuat petunjuk dalam membedakan penyadapan dalam

kasus keamanan nasional dengan kasus pidana regular/umum. Sedangkan FISC

adalah ketentuan yang dibuat pada tahun 1978 tentang pengaturan pengintaian

intelijen asing yang dipisahkan dari pengintaian penyidikan pidana. Penerapan

dari regulasi-regulasi tersebut menimbulkan kontroversi terkait dengan kebebasan

dan hak-hak sipil di AS. Salah satunya adalah penyadapan komunikasi pribadi
oleh aparat penegak hukum sebagai dalih untuk mendapatkan bukti mengenai

keterlibatan individu dalam jaringan terorisme2 Tindakan tersebut mencederai

kebebasan dan hak-hak sipil dasar di AS yang dituangkan dalam Bill of Rights

seperti perlindungan individu dari penggeledahan dan penyitaan yang tidak

beralasan maupun dari peradilan yang tidak adil.

Permasalahan isu legal dan HAM juga dapat dilihat pada kebijakan

keamanan perbatasan dan transportasi serta kontra-terorisme domestik. Kejadian

pembajakan pesawat maskapai penerbangan AS pada tragedi 9/11 dan beberapa

kasus pemboman pada transportasi publik di Eropa menjadi sebuah pelajaran

berharga bagi pemerintah AS. Serangan teror beberapa tahun yang silam menjadi

bukti bahwa kelemahan imigrasi dan keamanan transportasi memiliki celah untuk

dieksploitasi bagi kelompok teror untuk melancarkan aksi. Hal ini juga

membuktikan lemahnya antisipasi domestik terhadap tindakan-tindakan terorisme.

Untuk merespon kejadian tersebut, aplikasi yang diterapkan dari peningakatan

kewaspadaan pada keamanan perbatasan dan transportasi dan keamanan internal

adalah pemeriksaan imigrasi yang ketat serta kontra-terorisme domestik yang

dilakukan dengan beberapa regulasi terkait pemeriksaan, penggeledahan serta

penangkapan pihak-pihak yang terlibat dalam aksi terorisme baik mereka warga

negara AS ataupun warga negara non-AS.

Beberapa ketentuan yang terkait dengan respon AS tersebut antara lain the

exclusionary rule, ketentuan mengenai penggeledahan oleh aparat keamanan yang

harus disertai dengan surat perintah penggeledahan dan pelarangan untuk

menggeledah secara ilegal; kecurigaan beralasan (reasonable suspicion), sebuah

2
Shun-jie Ji, “Civil Liberties vs. National Security: Lesson from September 11 th Attacks on
America,” Tamkang Journal of International Affairs, Vol.8 No. 2, (2004), 133-159, hal. 142-144
justifikasi hukum berdasarkan fakta ataupun kesimpulan fakta yang

mengakibatkan individu dapat ditenggarai akan melakukan atau dalam proses

melakukan tindakan kriminal; serta probable cause, sebuah bukti yang diperlukan

untuk melakukan penahanan atau penggeledahan sesuai dengan pengaturan

undang-undang.

Warga negara AS pada dasarnya memiliki perlindungan terhadap tindakan

pemerintah dan penegak hukum dalam ketentuan-ketentuan di atas. Perlindungan

tersebut tercermin dalam Bill of Rights yang memuat hak-hak sipil dasar warga

negara AS serta salah satu perlindungan hukum seperti Miranda Rights.3

Sedangkan bagi warga negara non-AS atau aliens, ketentuan yang diterapkan

berbeda karena pada dasarnya, warga negara asing tidak memiliki hak-hak yang

sama dengan warga negara AS (dengan Bill of Rights-nya). Ketentuan bagi warga

negara non-AS apabila diduga dan terbukti terlibat dalam aksi terorisme seperti

penahanan tanpa proses peradilan selama masa yang ditentukan oleh penyelidik

hingga deportasi.

Salah satu pelaksanaan upaya responsif perlindungan keamanan nasional

dari ancaman terorisme, yakni proses pemeriksaan dan penggeledahan hingga

penangkapan yang dilakukan pada cek poin imigrasi menempatkan semua

individu sipil berada pada status yang sama dengan pelaku teror harus diperiksa

dan digeledah baik individu maupun barang atau kargo yang bersangkutan.

Dalam pemeriksaan ini, jika ditemukan warga negara non-AS yang dicurigai

sebagai teroris, maka aparat keamanan berhak untuk menahan individu tersebut

untuk pemeriksaan. Demikian pula jika di wilayah AS ditemukan warga negara

3
Ibid., hal. 165-166
AS yang dicurigai terlibat dalam aksi terorisme, proses pemeriksaan,

penggeledahan hingga penangkapan juga dapat dilakukan (melalui aturan

exclusionary rule dan probable cause). Pelaksanaan regulasi pemeriksaan,

penggeledahan serta ini menimbulkan dilema legal dan HAM terkait dengan hak-

hak sipil warga negara AS maupun aliens. Tindakan-tindakan yang diperdebatkan

antara lain seperti penahanan individu tanpa tuduhan yang jelas serta disriminasi

pemerintah terhadap minoritas dan agama tertentu seperti tindakan pemerintah

yang menarget individu keturunan Timur Tengah, Asia Selatan dan individu yang

berasal dari negara Muslim lainnya dengan tuduhan melanggar hukum.4

Kebebasan dan hak-hak sipil dasar di AS yang dilanggar sebagai akibat dari

tindakan ini contohnya kebebasan berbicara dan berkumpul maupun kebebasan

untuk beragama yang ketentuannya tertuang dalam Bill of Rights AS.

4
Shun-jie Ji, Loc. Cit.
BAB 3

PEMBAHASAN

(kasus yang ada di bab 2 DIANALISIS, kira-kira mengapa itu terjadi dan

dampak yang ditimbulkan dari kasus itu apa? Misal ada korban : pengobatan

secara lokal wisdom apa yang bisa dimasukkan? Contoh kalo di daerah Ngai :

orang – orang percaya bahwa dengan daun Binahong luka apa pun bisa sembuh

dan luka basah menjadi cepat kering.... kemudian di analisis pula alur

penanganan kasus terorisme tersebut di Indonesia dibandingkan di amerika

serikat)

Tragedi Bom Bali terjadi tanggal 12 Oktober 2002 di jalan Legian,

Kuta, Balitelah menewaskan 202 orang dan mencederai 209 jiwa

lainnya yang kebanyakan adalahturis asing yang tengah berlibur di Bali

seperti Australia,Britania Raya, Amerika Serikat, Jerman, Swedia, Belanda,

Perancis,Denmark, Selandia Baru,Swiss, Brasil, Kanada, serta beberapa Negara

lainnya. Aksi ini dikecam oleh banyak pihak sebagai aksiteroris terparah dalam

sejarah Indonesia. Ditetapkan 3 tersangka utama dalam kasus ini, yaitu

Imam Samudra, Amrozi, dan AliGufron beserta sekelompok anak buah yang

mengatasnamakan Syariat Islam dalam aksi Bom ini. Terorisme yang terjadi di

Bali adalah akibat kepentingan dakwah yang terganggu. Sebenarnya, bagi seorang

muslim wajib untuk berdakwah menyerukan kebenaran. Dalam kontek bom Bali

hal itu bisa terjadi tak bisa dilepaskan dari hegemoni global Amerika yang selalu

menyudutkan gerakan Islam. Ada kebencian akibat ulah Negara adidaya yang

semena-mena terhadap umat Islam. akhirnya, sebagai salah satu cara sebagaimana
ditulis Imam Samudra (2004) dalam bukunya aku melawan teroris. Maka,

diambillah jalan membom Bali karena disitulah berkumpul banyak bule dari luar.

Memang ada yang menyalahkan, akan tetapi jika disimak dari sisi lain ternyata

ada muatan pesan disitu. Teror yang terjadi bisa juga dilihat sebagai ekspresi

kemarahan yang lama terpendam. Hingga ketika menemukan momentumnya,

maka meletuskan amarah yang lama terpendam. Bukan berarti teror bom yang

terjadi selama ini dilakukan oleh golongan aktifis Islam. Kalaupun ada

kemungkinan akibat dari semangat juang yang tinggi yang bisa saja dimanfaatkan

oleh golongan tertentu untuk kepentingan pragmatisnya. Dengan adanya kejadian

ini, Indonesia dirundung masalah yang berat terkait denganmasalah keamanan.

Sebagai dampaknya kecaman terus berdatangan dari negara- negara

lainnyadengan mengeluarkan travel warning dan secara tegas melarang warganya

untuk datang keIndonesia. Penanganan lokal wisdomnya: Akibat yang

ditimbulkan oleh bom bali ini, seringkali oang tua ataupun sanak keluarga

melarang untuk mengahabiskan waktu atau bersenang-senang di tempat yang

ramai seperti diskotik, ataupun tempat lainnya yang banyak dihuni orang, karena

dicurigai adanya bom. Dan juga orang-orang percaya apabila di tempat ramai

ditemukan sebuah benda yang mencurigakan tanpa pemilik maka harus segera

dilaporkan kepada pihak yang berwajib.


BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Terorisme di Indonesia belum berhasil ditangani secara efektif sehingga

makin meningkatkan intensitas dan frekuensi aksi-aksi terorisme. Keterbatasan

kualitas dan kapasitas institusi intelijen di indonesia juga mempengaruhi

penanganan terorisme yang ada. Pelaku teroris di Indonesia juga sulit dideteksi

karena kurangnya teknologi dan besarnya jaringan terorisme. Sehingga, aksi

terorisme ini dapat melumpuhkan dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa

dan bernegara.

Penanganan terorisme berdasarkan BNPT di Indonesia dibagi dalam

beberapa program, antara lain : program pengembangan penyelidikan,

pengamanan dan penggalangan keamanan negara; program pengembangan

pengamanan rahasia negara; program pemantapan keamanan dalam negeri.

Penaganan terorisme di Amerika dilakukan dengan membentuk DHS yang

memiliki definisi Homeland Security sebagai upaya terpadu nasional untuk

mencegah serangan teroris di dalam Amerika Serikat, mereduksi kerentanan

terhadap teror dan meminimalisasi segala kerusakan serta pemulihan dari

serangan yang terjadi. Pencegahan terhadap ancaman kemanan nasional menurut

kebijakan AS dalam Homeland Security di lancarkan melalui beberapa program,

yakni Intelijen dan Peringatan Dini; Keamanan Perbatasan dan Transportasi;

Kontra terorisme domestik; Melindungi infrastruktur penting dan aset kunci;


Mempertahankan diri dari ancaman besar; serta Persiapan dan respon pada

kondisi darurat.

4.2 Saran

Menurut kelompok kami, prosedur penanganan terorisme di indonesia sudah

mulai berjalan dengan baik. Namun mungkin karena negara indonesia sendiri

merupakan negara yang masih tergolong negara berkembang, jadi prosedur

penanganan terorisme itu sendiri masih belum semaksimal negara AS. Salah

satunya di sektor teknologi. Teknologi di negara indonesia sendiri masih sangat

kurang dibandingkan negara AS. Seperti teknologi dalam persenjataan dan

transportasi misalnya pesawat tempur. yang mendukung teknologi itu sangatlah

kurang. Kemudian di beberapa sektor lain juga masih belum semaksimal negara

AS.
DAFTAR PUSTAKA

Nugraha, Bagus,dkk. 2012. Dilema Penanganan Terorisme di Amerika. Diakses


pada 29 Oktober 2014. Jam 14:05.
https://www.academia.edu/2351826/Dilema_Penanganan_Terorisme_di_A
merika

Datinlitbang. 2011. Konsepsi Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme di


Indonesia dalam Rangnka Menjaga Keutuhan NKRI. Diakes pada 14
Oktober 2014. Jam 17:08.
http://balitbang.kemhan.go.id/?q=comment/reply/216

.2011. Penanggulangan Terorisme. Diakses pada 29 Oktober 2014.


Jam 14:30. http://www.bnpt.go.id/