Anda di halaman 1dari 61

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Puskesmas merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan


Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan
kesehatan di wilayah kerjanya. Sebagai penyelenggara pembangunan
kesehatan, puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan upaya
kesehatan per orangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang ditinjau dari
Sistem Kesehatan Nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama
(Depkes RI, 2009).
Untuk menjangkau wilayah kerjanya puskesmas diperkuat dengan
puskesmas pembantu, puskesmas keliling dan untuk daerah yang jauh dari
sarana pelayanan rujukan, puskesmas dilengkapi dengan fasilitas rawat inap
(Depkes RI, 2009).
Sekalipun telah banyak keberhasilan yang dicapai oleh puskesmas
dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, namun dalam
pelaksanaanya masih banyak terjadi masalah - masalah yang dapat
menghambat puskesmas berfungsi maksimal. Masalah - masalah tersebut
dapat memengaruhi pemanfaatan puskesmas yang pada ujungnya
berpengaruh pada status kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya (Oleske,
2002).

1.2. Tujuan Pedoman


1.2.1 Tujuan Umum
Tersedianya pedoman penyelenggaraan pelayanan puskesmas rawat
inap sehingga tercapai pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu untuk
terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Memberikan Pelayanan kepada pasien rawat inap sesuai dengan
standar Asuhan dari masing-masing Profesi Pemberi Asuhan (PPA)
yang tepat.
2. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada pasien rawat inap
serta mempunyai keinginan yang terus menerus untuk
mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan dalam
memberikan pelayanan.
3. Memberikan Asuhan keperawatan kepada pasien untuk
kesembuhan yang optimal sehingga dapat memuaskan pasien
4. Memberikan pelayanan kepada pasien dengan ramah, sopan, dan
hangat sehingga memberikan kesan yang positif
5. Memberikan pelayanan Informasi kesehatan dengan tepat pada
pasien dan keluarga, sehingga dapat memenuhi hak pasien dan
keluarga penyusunan standar diharuskan untuk memperhatikan
proses dan harapan yang akan terjadi dalam upaya meningkatkan
mutu layanan.
1.3. Sasaran Pedoman
1. Tim Mutu Puseksmas Kebonsari
2. Petugas rawat inap (Profesi pemberi asuhan) Puskesmas Kebonsari.
1.4. Ruang Lingkup Pedoman
Upaya Kesehatan Perseorangan di Rawat Inap meliputi :
1. Konsultasi kesehatan dan pengobatan oleh Dokter umum
2. Pemeriksaan kesehatan/pemberian surat keterangan rawat inap
3. Visite pasien oleh dokter Umum
4. Konsultasi Dokter Umum By Oncall
5. Pelayanan Asuhan Keperawatan.
6. Pemberian Nutrisi dan Asuhan Gizi oleh ahli Gzi.
7. Asuhan Farmasi ( Edukasi pemakaian Obat) oleh Apoteker.
8. Asuhan Psikologi Jika dibutuhkan.
9. Pemeriksaan Laboratorium
10. Pelayanan rujukan
11. Pelayanan ambulance (hanya untuk kasus pasien yang perlu
penanganan pelayanan pada faskes tingkat lanjut)
1.5. Batasan Operasional
Puskesmas Perawatan atau Puskesmas Rawat Inap merupakan
Puskesmas yang diberi tambahan ruangan dan fasilitas untuk menolong
penderita gawat darurat, baik berupa tindakan operatif terbatas maupun rawat
inap sementara. Sesuai Standard Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di
Kabupaten/Kota (Depkes RI, 2003), pengertian rawat inap, merupakan
pelayanan kesehatan perorangan yang meliputi observasi, diagnosa,
pengobatan, keperawatan, rehabilitasi medik dengan menginap di ruang
rawat inap pada sarana kesehatan rumah sakit pemerintah dan swasta, serta
puskesmas perawatan dan rumah bersalin, yang oleh karena penyakitnya
penderita harus menginap. Rawat inap di Puskesmas hanya diperuntukkan
untuk kasus-kasus yang lama rawatnya paling lama 5 hari. Pasien yang
memerlukan perawatan lebih dari 5 (lima) hari harus dirujuk ke rumah sakit,
secara terencana ( Permenkes 75 Tahun 2014).
BAB II

STANDAR KETENAGAAN

NO UNIT KOMPETENSI PELATIHAN TAMBAHAN


PELAYANAN MINIMAL

1 Dokter Umum a. Dokter umum a. PPGD/BLS,ATLS,ACLS


dengan STR b. Tatalaksana Gizi Buruk.Tatalaksana
dan SIP yang Penyakit Menular Langsung
c. Tatalaksana Penyakit Menular Bersumber
masih berlaku
Binatang
d. Program TB Strategis DOTS
e. Pemberian Obat Secara Rasional
f. IMS, VCT, PITC/HIV
g. Tatalaksana Penyakit Tidak Menular dan
Faktor Resiko PTM
Koordinator b. Perawat a. Pelatihan BTCLS
Rawat Inap dengan STR b. Pelatihan manajemen Keperawatan
SKep, Ners dan SIP yang c. Pelatihan penanggulangan
masih berlaku infeksi

c. Perawat a. PPGD untuk perawat/BLS/BCLS


minimal DIII b. MTBS
Keperawatan c. MTBM
d. Tatalaksana Gizi Buruk
dengan STR
e. Perkesmas
dan SIP yang f. IMS
masih berlaku
dan memiliki
SK
Pelimpahan
Tugas dan
Wewenang

Nutrisionist d. DIII Ahli Gizi, a. Asuhan Gizi Terpadu


DIII Ahli Gizi mempunyai
STR dan SIP
yang masih
berlaku dan
memiliki SK
Pelimpahan
Tugas dan
wewenag
2.1 KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA

Penanggung Jawab Layanan Rawat Inap Puskesmas Kebonsari


adalah seorang dokter umum yang sudah memiliki sertifikat pelatihan
kegawatdaruratan ATLS. Koordinator rawat inap adalah seorang perawat S1
yang sudah menyelesaiakn profesi Ners dan sudah memiliki sertifikat
kegawatdaruratan BTCLS. Perawat pelaksana adalah perawat dengan
pendidikan S1 Ners dan DIII keperawatan yang sudah mempunyai sertifikat
kegawatdaruratan minimal BLS atau PPGD. Tenaga kerja di unit rawat inap
saat ini berjumlah 4 orang, yang memegang tanggung jawab sebagai
koordinator perawat rawat inap 1 orang, perawat pelaksana 4 orang.

2.3 JADWAL KEGIATAN


Rawat inap Puskesmas Kebonsari dilaksanakan oleh empat perawat dalam
pengaturan jam dinas dibagi menjadi 3 shift diamana pada shift 1 dinas
dimulai pukul 07.00 sampai dengan pukul 14.00, shift 2 dinas dimulai pukul
14.00 sampai dengan pukul 21.00, dan shift 3 dinas dimulai pukul 21.00
sampai dengan pukul 07.00.Untuk Visite Dokter, Ahli Gizi dan Farmasi
dilaksanakan di pagi hari jam 07.30 dan jika pasien memerlukan konsultasi di
luar jam Visite maka perawat melakukan Konsultasi melalui On Call.
BAB III

STANDAR FASILITAS

3.1 DENAH RUANG

Puskesmas mempunyai denah bangunan yang berisi letak ruangan-ruangan


yang dimilikinya untuk memberikan informasi ke masyarakat tentang tempat/lokasi
pelayanan. Ruangan di Puskesmas diberikan papan nama sesuai dengan jeis
ruangan.
3.2 STANDAR FASILITAS

3.2.1 PERALATAN

Peralatan Puskesmas adalah peralatan medis dan non medis termasuk


mebelair dan bahan habis pakai yang dimiliki Puskesmas untuk melaksanakan
kegiatan program di Puskesmas, yang mencakup rincian informasi mengenai
peralatan.
Ketentuan mengenai peralatan di Puskesmas:
1. Setiap peralatan yang digunakan untuk kegiatan harus mempunyai
penanggung jawab dalam hal penggunaan dan pemeliharaan peralatan
yang menjadi tanggung jawabnya. Kinerja setiap penanggung jawab alat
dievaluasi.
2. Setiap ruangan di Puskesmas mempunyai daftar inventaris. Seluruh
sarana dan prasarana yang ada perlu diinventarisasi dan diperiksa ulang
apakah dalam kondisi yang memenuhi syarat dalam jumlah, jenis dan
kondisinya.
3. Penilaian Peralatan:
a. Berfungsi : jika alat yang dimiliki dapat digunakan untuk kegiatan
pelayanan kesehatan di Puskesmas.
b. Tidak berfungsi adalah: jika peralatan Laboratorium peralatan yang
dimiliki tidak dapat digunakan untuk kegiatan pelayanan kesehatan.
4. Setiap Puskesmas rawat inap harus dilengkapi dengan peralatan
pencegahan dan penanggulangan kebakaran dan peralatan K3
(Keamanan dan Keselamatan Kerja) untuk melindungi petugas dan orang
di sekitarnya, yaitu:
a. Pemadam kebakaran.
b. Alat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).
c. Set peralatan pencegahan infeksi/APD set, terdiri dari:
1) Sarung tangan.
2) Sepatu karet/alas kaki tertutup/sepatu boot.
3) Masker.
4) Kaca mata goggle/pengaman mata.
5) Apron plastik tebal/celemek/schort panjang 52 inci.
5. Puskesmas mempunyai prosedur baku untuk mengatasi terjadinya
kecelakaan dalam Puskesmas. Prosedur tersebut harus disertai dengan
instruksi kerja yang menjelaskan secara rinci tata cara mengatasi
kecelakaan akibat kebakaran, sengatan listrik, ledakan, tumpahan bahan
kimia dan bahan infeksius.
6. Peralatan yang digunakan harus memenuhi standar mutu, keamanan dan
keselamatan.
7. Peralatan harus terjamin kebersihan dan sterilitasnya terutama untuk
peralatan yang kontak dengan cairan tubuh harus dievaluasi. Instrumen
yang siap digunakan harus dalam keadaan steril.
8. Peralatan harus terlihat bersih sehabis dipakai,langsung dicuci, atau
disetrika, disimpan pada tempatnya dengan rapi dan tertutup sehingga
tidak ada debu yang menempel. Semua peralatan harus bersih dari debu,
kotoran, bercak dan cairan, dll.
9. Penyimpanan alat kesehatan:
a. Alat yang dibungkus: Bungkusan steril disimpan dalam lemari tertutup
di bagian yang tidak terlalu sering dijamah, suhu udara sejuk dan
kering atau kelembaban rendah. Jika ragu-ragu akan sterilitas paket,
maka alat itu dianggap tercemar dan harus disterilkan kembali sebelum
pemakaian.
b. Alat yang tidak dibungkus harus segera digunakan setelah dikeluarkan.
Alat yang tersimpan dalam wadah steril dan tertutup apabila yakin tetap
steril paling lama untuk 1 (satu) minggu, tetapi bila ragu-ragu harus
disterilkan kembali.
c. Jangan menyimpan alat dalam larutan. Simpan alat dalam keadaan
kering. Mikroorganisme dapat tumbuh dan berkembang biak pada
larutan antiseptik maupun desinfektan, sehingga dapat
mengkontaminasi dan menyebabkan infeksi.
10. Permukaan alat.
a. Permukaan instrumen metal harus bebas karat/cacat/terkelupas.
b. Permukaan peralatan yang dicat harus utuh dan bebas dari
goresan/cacat.
c. Peralatan dari plastik atau kain pelapis harus utuh (tidak bocor/robek).
11. Roda peralatan jika ada harus lengkap dan berfungsi baik.
12. Pasokan oksigen harus dievaluasi secara berkala, dengan ketentuan:
a. Harus ada dua tabung oksigen dengan satu regulator dan pengukur
aliran untuk mengatur kadar oksigen.
b. Tabung oksigen cadangan harus selalu terisi penuh.
13. Pemeliharaan alat kesehatan di Puskesmas.
Pemeliharaan peralatan mempunyai tujuan mencegah resiko kerusakan
peralatan yang digunakan untuk diagnosis, pengobatan, pemantauan dan
perawatan pasien. Ketentuan pemeliharaan:
a. Peralatan harus dirawat/dipelihara dengan baik lengkap agar fungsinya
tetap terjaga serta dapat digunakan sesuai kebutuhan dan peraturan
yang berlaku sesuai dengan spesifikasi.
b. Setiap Puskesmas harus mempunyai prosedur baku disertai dengan
instruksi kerja yang menjelaskan secara rinci tata cara penggunaan
alat.
c. Peralatan berfungsi bila dapat digunakan untuk kegiatan.
d. Seluruh kegiatan yang berkaitan dengan pemeliharaan, kalibrasi dan
perbaikan peralatan harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan
instruksi kerja yang ada. Prosedur dan instruksi kerja tersebut harus
dievaluasi secara berkala.
e. Peralatan medis yang digunakan di Puskesmas harus diuji dan
dikalibrasi secara berkala oleh pengkalibrasi yang berwenang.
f. Program pemeliharaan sarana dan peralatan perlu disusun dan
dilaksanakan secara konsisten agar pelayanan dan penyelenggaraan
program kegiatan Puskesmas berjalan dengan lancar dan tidak terjadi
hambatan akibat ketidak tersedianya sarana dan alat.
g. Pemeliharaan dan kalibrasi peralatan berkala dan menjadi tanggung
jawab Puskesmas dan Dinas Kesehatan.
h. Dalam mempergunakan alat khusus seperti EKG, radiologi, inkubator,
dll sebelumnya harus dilakukan uji fungsi dan uji coba serta program
pelatihan untuk mempergunakannya.
14. Puskesmas harus dilengkapi dengan peralatan medis dan non medis yang
memadai sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan.
Peralatan non medis di Puskesmas terdiri dari:
a. Kendaraan bermotor sesuai dengan kebutuhan pelayanan
Puskesmas.
b. Alat-alat komunikasi :
1) Mampu mengadakan komunikasi keluar Puskesmas.
2) Berupa alat komunikasi internal dan eksternal berupa telepon
seluler, telepon
c. Mebelair.
1) Bersih dari debu, kotoran, cemaran, cairan dan lain-lain.
2) Jumlah dan jenis sesuai kebutuhan.

3.2.1.1 PERALATAN RAWAT INAP


JUMLAH
No JENIS PERALATAN
MINIMAL
I. Set Rawat Inap
1. Ari sound timer 1 buah
2. Baki Instrument bertutup 1 buah
3. Bak instrumen bertutup 30 x 30 Cm 1 buah
4. Bisutri No 10 1 buah
5. Brankar 1 buah
6. Gunting lengkung, ujung tajam (Metzenbaum) (18 Cm) 3 buah
7. Gunting lengkung, ujung tumpul (Metzenbaum) (18 Cm) 3 buah
8. Gunting lurus,ujung tajam (Metzenbaum) (18 Cm) 3 buah
9. Gunting lurus, ujung tumpul (Metzenbaum) (18 Cm) 3 buah
10. Gunting mayo lurus atau lengkung 3 buah
11. Gunting pembuka jahitan,lurus 3 buah
12. Kaca pembesar 3 buah
13. Kanula hidung 3 buah
14. Kateter, selang penghisap lendir bayi 3 buah
15. Kauter 3 buah
16. Klem agrave, 14 mm (isi 100) 3 buah
Klem artteri,12 Cm, lengkung dengan gigi 1 x 2 (Halstead -
17. 3 buah
Mosquito)
18. Klem arteri,12 Cm , lengkung tanpa gigi (Halstead - Mosquito) 3 buah
Klem arteri, 12 Cm , lurus dengan gigi 1 x 2 (Halstead -
19. 3 buah
Mosquito)
20. Klem arteri, 12 Cm , lurus tanpa gigi 1 x 2 (Halstead - Mosquito) 3 buah
21. Klem arteri lurus (Kelly) 3 buah
22. Klem/pemegang jarum jahit dengan kunci (Baraquer) 3 buah
23. Klem/pemegang jarum jahit (Mathieu Standar) 3 buah
24. Klem/ pemegang silet (Barraquer) 3 buah
25. Klem/penjepit kain (Kocher - Backhaus)/Duk klem 3 buah
26. Klem pengatur oksigen dengan humidifier 3 buah
27. Korentang,Lengkung, penjepit alat steril,23 Cm (Cheattle) 3 buah
28. Korentang,Penjepit sponge (Foerster) 3 buah
29. Inkubator bayi 1 buah
30. Lampu periksa 1 buah
31. Lampu senter 1 buah
32. Manset anak : dengan velecro 1 buah
33. Manset dewasa 1 buah
34. Meja instrumen,Mayo berstandar 1 buah
35. Meja instrumen,alat 1 buah
36. Nebulizer 1 buah
37. Pinset Anatomis,14,5 Cm 2 buah
38. Pinset Anatomis,18 Cm 2 buah
39. Pinset Anatomis (Untuk Specimen) 2 buah
40. Pinset bedah, 14,5 Cm 2 buah
41. Pinset bedah,18 Cm 2 buah
42. Resusitator untuk dewasa 1 buah
43. Resusitator for infant 1 buah
44. Selang Oksigen 3 buah
45. Skalpel, tangkai pisau operasi 2 buah
46. Spalk 1 buah
47. Sphygmomanometer 2 buah
Sesuai
jumlah
tempat
48. Standar infus tidur
49. Standar Waskom tunggal 1 buah
50. Standar Waskom ganda 1 buah
51. Stetoskop infant 1 buah
52. Stetoskop anak 1 buah
53. Stetoskop dewasa 1 buah
54. Suction pump 1 buah
55. Sonde dengan mata 14,5 Cm 1 buah
56. Sonde pengukur dalam luka 1 buah
57. Tabung oksigen 6 Meterkubik dan Regulator 1 buah
58. Tabung oksigen 1 meterkubik dan regulator 1 buah
59. Tabung/Sungkup untuk resusitasi 2 buah
60. Termometer infant 1 buah
61. Termometer dewasa 1 buah
5 s/d 8
62. Tempat tidur rawat inap buah
63. Tempat tidur rawat inap untuk anak 2 buah
64. Torniket karet 1 buah
65. Tromol kasa/kain steril (125 x 120cmm) 1 buah
66. Tromol kasa/kain steril (150 x 150 mm) 1 buah
67. Waskom bengkok 1 buah
68. Waskom cekung 1 buah
69. Waskom cuci 1 buah
70. Wing needle 3 buah

II. Bahan Habis Pakai


Cairan antiseptik/antimikroba (Klorheksidin glukonat 2- Sesuai
1. 4%,alkohol 60-90%) kebutuhan
2. Benang cat gut (15 Cm)/Rol/Kaset 1 Roll
3. Disposible syringe, 1 cc 1 box
4. Disposible syringe, 3 cc 1 box
5. Disposible syringe, 5 cc 1 box
6. Disposible syringe, 10 cc 1 box
7. Jarum jahit,lengkung ½ lingkaran,penampang bulat 1 box
8. Jarum jahit,lengkung ½ lingkaran,penampang segitiga 1 box
9. Jarum jahit,lengkung, 3/8 lingkaran,penampang bulat 1 box
10. Jarum jahit,lengkung 3/8 lingkaran,penampang segitiga 1 box
11. Kasa non steril 1 box
12. Kapas 1 box
13. Masker 1 box
14. Plester 1 box
15. Sarung tangan,Nomor 6½ Steril dan non steril 1 box
16. Sarung tangan Nomor 7 Steril dan non steril 1 box
17. Sarung tangan,Nomor 7½ Steril dan non steril 1 box

III. Perlengkapan
Sesuai
jumlah
tempat
1. Bantal tidur
2. Dorongan untuk tabung oksigen 2 buah
3. Duk biasa,besar (274 x 183 Cm) 3 buah
4. Duk biasa,kecil (91 x 114 Cm) 3 buah
5. Duk biasa,Sedang (91 x 98 Cm) 3 buah
6. Duk bolong,besar (274 x 183 Cm) Letak lubang tengan (23 x 10) 3 buah
7. Duk bolong kecil 3 buah
8. Duk bolong,sedang 3 buah
9. Handuk bayi 3 buah
10. Handuk kecil (60 x 40) 3 buah
11. Kain penutup meja mayo 3 buah
12. Kasur Sesuai
jumlah
tempat
tidur
13. Kursi roda 1 buah
14. Lap untuk mandi pasien 10 buah
15. Pispot anak 1 buah
16. Pispot dewasa 2 buah
17. Pispot Fraktur/Immobilisasi 2 buah
18. Pispot pria/Urinal 1 buah
19. Perlak,Tebal Lunak (200 x 90 Cm) 10 buah
20. Sarung bantal 20 buah
21. Selimut 20 buah
22. Selimut bayi 15 buah
23. Sikat tangan 5 buah
24. Sprei 20 buah
25. Sprei kecil steek laken 15 buah
26. Tempat sampah tertutup dengan injakan 4 buah

IV. Meubelair
1. Kursi 12 buah
Sesuai
jumlah
tempat
2. Lemari kecil untuk perlengkapan pasien tidur
3. Lemari peralatan 1 buah
4. Penyekat ruangan 7 buah

V. Pencatatan dan Pelaporan


Sesuai
1. Formulir rujukan kebutuhan
Sesuai
2. Formulir lain sesuai kebutuhan kebutuhan
Sesuai
3. Informed consent kebutuhan
Sesuai
4. Kertas resep kebutuhan
Sesuai
5. Rekam medis pasien rawat inap kebutuhan
Sesuai
6. Register pasien rawat inap kebutuhan
Sesuai
7. Surat keterangan sakit kebutuhan
BAB IV

TATA LAKSANA PELAYANAN

4.1 LINGKUP KEGIATAN

Upaya kesehatan perorangan yang dilakukan oleh rawat inap meliputi


kegiatan :
1. Pengkajian awal klinis /assesment awal Keperawatan yang dilakukan 24 jam
pertama setelah pasien masuk ruang rawat
2. Penyusunan rencana layanan medis
3. Pelayanan Klinis.
4. Pelayanan Pasien secara Terintegrasi dari masing-masing Profesional
Pemberi Asuhan (PPA)
5. Pemberian Asuhan keperawatan
6. Pemberian Nutrisi pasien rawat inap dan Asuhan Gizi oleh Ahli Gizi.
7. Pemberian pendidikan/penyuluhan pasien oleh PPA
8. Pelayanan pasien gawat darurat
9. Pelayanan ambulan gawat darurat
10. Pengisian berkas rekam medis
11. Pelayanan rujukan

4.2 METODE KEGIATAN


Metode pelaksanaan upaya pelayanan rawat inap adalah dengan membuka
pelayanan kesehatan di puskesmas sesuai jadwal dan mengkaji serta menangani
penyakit secara individual.

4.3 LANGKAH KEGIATAN

4.3.1 PENGKAJIAN AWAL KLINIS

Pengkajian awal klinis adalah wawancara yang dilakukan terhadap pasien


dan atau keluarga pasien untuk mengumpulkan data penyakit. Pengkajian awal
klinis dapat dilakukan oleh dokter dan perawat.
Tata cara melakukan pengkajian awal klinis adalah sebagai berikut :
1. Petugas melakukan anamnesa
Menilai Keadaan umum
Riwayat Kesehatan yang terdiri dari Keluhan Utama, Riwayat penyakit
sekarang (RPS), Riwayat penyakit dahulu (RPD), dan Riwayat penyakit
Kronis, serta Riwayat Alergi.
2. Melakukan asesmen B1 sampai B6 ( Breathing,Blood, Brain,
Blader,Bowel,Bone)
3. Petugas melakukan asessmen nyeri.
4. Petugas melakukan assesment Psikosial, Ekonomi dan Spiritual.
5. Petugas memberitahu akan dilakukan pemeriksaan fisik
6. Petugas menjelaskan maksud pemeriksaan fisik
7. Petugas melakukan pemeriksaan fisik meliputi inspeksi, palpasi, perkusi,
auskultasi.
8. Petugas memberitahukan kepada pasien tentang hasil pemeriksaan.
9. Petugas mencatat anamnesa dan seluruh hasil pemeriksaan pasien ke
dalam berkas rekam medis
Bila kajian dilakukan oleh perawat maka perawat melaporkan hasil kajian
kepada dokter untuk dikonsultasikan, kecuali jika tidak ada dokter jaga yang stand
bye di Puskesmas maka perawat melaporkan hasil kajian dengan menghubungi
Dokter On Call sehingga melalui ON Call dapat menggunakan hasil kajian untuk
menegakkan diagnosa dan memberikan terapi.

4.3.2 PENYUSUNAN RENCANA LAYANAN MEDIS

Penyusunan rencana layanan medis adalah penyusunan rencana layanan


yang akan dilakukan pada pasien, seperti rencana pemeriksaan penunjang,
pemberian terapi/ tindakan.
Penyusunan rencana layanan medis harus berdasarkan indikasi medis dan
mempertimbangkan kondisi dan pendapat pasien. Penyusunan rencana layanan
medis juga harus tercatat di berkas rekam medis.

4.3.3 PELAYANAN KLINIS


Pelayanan klinis yang diberikan pada kasus rawat inap adalah berdasarkan
Permenkes 75 Tahun 2014 yaitu Rawat inap di Puskesmas hanya
diperuntukkan untuk kasus-kasus yang lama rawatnya paling lama 5 hari.
Pasien yang memerlukan perawatan lebih dari 5 (lima) hari harus dirujuk ke
rumah sakit, secara terencana.Adapun kasus-kasus yang dapat ditangani di
Rawat Inap Puskesmas Kebonsari berdasarkan PENETAPAN KEPALA
UPTD PUSKESMAS KEBONSARI KOTA SURABAYA NOMOR :
.........................adalah sebagai berikut berikut
4.3.3.1 Persalinan Normal
4.3.3.2 Hiperemesis Gravidarum
4.3.3.3 Demam Dengue
4.3.3.4 Gastritis (Maagh Akut)
4.3.3.5 Gastroenteritis akut (Diare disertai dehidrasi)
4.3.3.6 Demam Typoid (Typus)
4.3.3.7 Dispepsia.

4.3.3.3 Dengue Fever


4.3.3.2.1 Definisi
Demam Dengue adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
Dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegepty
4.3.3.3 1 Tata Laksana Demam Dengue
a) Dokter/Perawat melakukan anamnesa dengan ditemukan gejala berupa
demam, gangguan saluran cerna dan mencatat anamnesa di rekam
medis
b) Dokter/Perawat melakukan pemeriksaan fisik dan mencatat hasil
pemeriksaan fisik di rekam medis.
c) Dokter merujuk pasien ke laboratorium
 Dokter memberikan pengantar laboratorium pada pasien dengan
keluhan demam minimal 3 hari untuk dilakukan pemeriksaan darah
atau pasien yang memerlukan DL serial
 Dokter tidak memberikan pengantar laboratorium pada pasien dengan
keluhan demam belum 3 hari.
d) Dokter membaca hasil laboratorium dan mencatat hasil laboratorium di
rekam medis
Pemeriksaan Penunjang :
 Darah perifer lengkap, yang menunjukkan: Trombositopenia (≤
100.000/µL), Leukopenia < 4000/µL.
 Serologi Dengue, yaitu IgM dan IgG anti-Dengue, yang titernya dapat
terdeteksi setelah hari ke-5 demam.
e) Dokter menegakkan diagnosa dan mencatat diagnosa di rekam medis
Diagnosa Klinis Demam Dengue
 Demam 2–7 hari yang timbul mendadak, tinggi, terus-menerus, bifasik
 Adanya manifestasi perdarahan baik yang spontan seperti petekie,
purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan
atau melena; maupun berupa uji tourniquet positif
 Nyeri kepala, mialgia, artralgia, nyeri retroorbital
 Adanya kasus DBD baik di lingkungan sekolah, rumah atau di sekitar
rumah
 Leukopenia < 4.000/mm3
 Trombositopenia < 100.000/mm3
Apabila ditemukan gejala demam ditambah dengan adanya dua atau lebih tanda
dan gejala lain, diagnosis klinis demam dengue dapat ditegakkan.
f) Dokter memberikan terapi dan edukasi dan mencatat terapi serta edukasi
di rekam medis
 Terapi simptomatik dengan analgetik antipiretik (Parasetamol 3x500-1000
mg)
g) Dokter menentukan pasien indikasi atau tidak untuk rawat inap dan
mengisi blanko permintaan masuk rawat inap.
h) Perawat mengentry data hasil pemeriksaan yang tercatat di rekam medis
pada aplikasi SIMPUS.
4.3.3.4 Gastritis (Maagh Akut)
4.3.3.4.1 Definisi

Gastritis adalah proses inflamasi/peradangan pada lapisan mukosa dan


submukosa lambung sebagai mekanisme proteksi mukosa apabila terdapat
akumulasi bakteri atau bahan iritan lain.

Gejala penyakit gastritis yang biasa terjadi adalah


 Mual dan muntah
 Nyeri epigastrum yang timbul tidak lama setelah makan dan minum unsur-
unsur yang dapat merangsang lambung ( alkohol, salisilat, makanan tercemar
toksin stafilokokus )
 Pucat
 Lemah
 Keringat dingin
 Nadi cepat
 Nafsu makan menurun secara drastis
 Suhu badan meningkat
 Sering bersendawa terutama dalam keadaan lapar

4.3.3.4.2 Tata Laksana


a) Dokter/Perawat melakukan anamnesa dengan ditemukan gejala berupa rasa
nyeri atau panas seperti terbakar pada perut bagian atas atau mual, muntah
dan kembung dan mencatat anamnesa di rekam medis.
b) Dokter/Perawat melakukan pemeriksaan fisik dan mencatat hasil pemeriksaan
fisik di rekam medis
c) Dokter menegakkan diagnosa dan mencatat diagnosa di rekam medis
d) Dokter memberikan terapi dan edukasi dan mencatat terapi serta edukasi di
rekam medis dan mengisi form edukasi
e) Terapi diberikan per oral dengan obat, antara lain: H2 Bloker 2x/hari
(Ranitidin 150 mg/kali,), PPI 2x/hari (Omeprazole 20 mg/kali ), serta
Antasida dosis 3 x 500-1000mg/hari.
f) Menginformasikan kepada pasien untuk menghindari pemicu terjadinya
keluhan, antara lain dengan makan tepat waktu, makan sering dengan porsi
kecil dan hindari dari makanan yang meningkatkan asam lambung atau perut
kembung seperti kopi, teh, Alkohol, makanan pedas dan kol.

4.3.3.4.3 Kriteria Rujukan


a) Bila 5 hari pengobatan belum ada perbaikan.
b) Terjadi komplikasi (Pendarahan saluran cerna bagian atas, Ulkus peptikum,
Perforasi lambung, Anemia)
c) Terjadi alarm symptoms seperti perdarahan, berat badan menurun 10%
dalam 6 bulan, dan mual muntah berlebihan

4.3.3.5 Gastroenteritis akut (Diare disertai dehidrasi)


4.3.3.5.1 Definisi
Gastroenteritis (GE) adalah peradangan mukosa lambung dan usus halus
yang ditandai dengan diare dengan frekuensi 3 kali atau lebih dalam waktu
24 jam
Anamnesa :
Pasien datang dengan keluhan BAB cair/encer lebih dari 3 x dalam waktu < 24 jam,
pada umumnya tidak ada demam, tidak dikeluhkan adanya darah atau lendir di
fesesnya. Diare non spesifik disebabkan oleh virus, dan sebagian besar diare pada
anak pada umumnya adalah diare non spesifik
Pemeriksaan Fisik :
Yang terpenting adalah menentukan status hidrasi pasien :

Pengamatan/Pem Derajat Dehidrasi


eriksaan Tidak dehidrasi Dehidrasi sedang Dehidrasi berat
Keadaan umum Baik, sadar Gelisah Lesu, tidak sadar
Mata Normal Cekung Sangat cekung
Air mata Ada Tidak ada Tidak ada
Mulut dan lidah Basah Kering Sangat kering
Rasa haus Normal, tidak Haus, ingin Malas minum/tidak dapat
haus minum banyak minum
Turgor kulit Kembali cepat Kembali lambat Kembali sangat lambat
4.3.3.5.2 Tata Laksana
a. Tidak menggunakan antibiotik
b. Rehidrasi dengan oralit : anak 5 sachet, dewasa 10 sachet
1. Diare tanpa dehidrasi, rencana Terapi A, yaitu :
- Meningkatkan pemberian cairan untuk mengganti cairan yang hilang
(kuah sayur, air tajin, larutan garam oralit)
- Cairan diberikan sebanyak yang diinginkan hingga diare berhenti,
berikan setiap habis BAB
Anak < 2 tahun : 50-100ml cairan (seperempat gelas)
Anak 2-10tahun : 100-200ml (1/2-1 gelas)
Cara membuat oralit : larutkan 1 sachet garam oralit dengan 200ml/1 gelas aqua air
matang, jika larutan oralit tidak habis dalam waktu 24 jam maka larutan tsb harus
dibuang dan harus membuat larutan baru
- Meneruskan pemberian makanan atau ASI
- Merujuk jika disertai tanda-tanda bahaya (dehidrasi)
2. Diare dengan dehidrasi sedang, rencana Terapi B :
- Oralit 75ml/kgBB dalam 3 jam atau
Umur Berat Badan Jumlah Oralit
< 4 bulan < 5 kg 200-400 ml
4-11 bulan 5-7,9 kg 400-600 ml
12-23 bulan 8-10 kg 600-800 ml
2-4 tahun 11-15,9 kg 800-1200 ml
5-14 tahun 16-29,9kg 1200-2200 ml
>15 tahun >30 kg 2200-4000 ml
- Cairan jangan diberikan dengan botol, untuk bayi, cairan diberikan dengan
tetesan atau spuit. Anak umur < 2 tahun diberikan dengan sendok setiap
12 menit. Untuk anak yang lebih besar atau orang dewasa langsung
diminum dari gelas
- Amati perkembangan dehidrasinya
3. Diare dengan dehidrasi berat, rencana Terapi C :
- Diberikan RL 100 ml terbagi menjadi :
Umur Berat badan Jumlah Oralit
Bayi (< 12 bulan) Dalam 1 jam Dalam 5 jam
>12 bulan Dalam 30 menit Dalam 2,5 jam
- Setiap 1-2 jam pasien diperiksa ulang, jika hidrasi tidak membaik tetesan
dipercepat
- Persiapkan rujukan ke puskesmas rawat inap/RS
c. Zinc : membantu memperbaiki mukosa usus dan mencegah
berulangnya diare, diberikan kepada Bayi 2-6 bulan dosis 1x10mg selama
10 hari, sedangkan usia 6 bulan-5 tahun 1x20mg selama 10 hari
d. Memadatkan feses : attapulgit : dewasa 2 tablet tiap diare, maksimal 12
tab dalam sehari
e. Probiotik : diutamakan pada pasien diare dengan gizi kurang maupun
buruk karena terdapat gangguan penyerapan nutrisi pada pasien-pasien
tersebut, dosis < 6 bulan : 1-2x1/2 sach/hari, >6 bulan : 1-2 sach/hari,
diberikan 4 sachet per pasien
f. Mengurangi spasme : papaverin 3x1tab (hanya untuk dewasa, tidak
boleh diberikan pada anak-anak)

4.3.3.6 Demam Typoid (Typus)


4.3.3.6.1 Definisi

Demam tifoid, atau typhoid adalah penyakit yang disebabkan oleh


bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella
Typhi.Penyakit ini dapat ditemukan di seluruh dunia, dan disebarkan
melalui makanan dan minuman yang telah tercemar oleh tinja.

Hasil Anamnesis (Subjective)


Keluhan
a) Demam turun naik terutama sore dan malam hari dengan pola
intermiten dan kenaikan suhu step-ladder. Demam tinggi dapat terjadi
terus menerus (demam kontinu) hingga minggu kedua.
b) Sakit kepala (pusing-pusing) yang sering dirasakan di area frontal.
c) Gangguan gastrointestinal berupa konstipasi dan meteorismus atau
diare, mual, muntah, nyeri abdomen dan BAB berdarah.
d) Gejala penyerta lain, seperti nyeri otot dan pegal-pegal, batuk,
anoreksia, insomnia
e) Pada demam tifoid berat, dapat dijumpai penurunan kesadaran atau
kejang.

Faktor Risiko
a) Higiene personal yang kurang baik, terutama jarang mencuci tangan.
b) Higiene makanan dan minuman yang kurang baik, misalnya makanan
yang dicuci dengan air yang terkontaminasi, sayuran yang dipupuk
dengan tinja manusia, makanan yang tercemar debu atau sampah
atau dihinggapi lalat.
c) Sanitasi lingkungan yang kurang baik.
d) Adanya outbreak demam tifoid di sekitar tempat tinggal sehari-hari.
e) Adanya carrier tifoid di sekitar pasien.
f) Kondisi imunodefisiensi

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)


Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan umum biasanya tampak sakit sedang atau sakit berat.
b) Kesadaran: dapat compos mentis atau penurunan kesadaran (mulai
dari yang ringan, seperti apatis, somnolen, hingga yang berat
misalnya delirium atau koma)
c) Demam, suhu > 37,5
d) Dapat ditemukan bradikardia relatif, yaitu penurunan frekuensi nadi
sebanyak 8 denyut per menit setiap kenaikan suhu 1oC.
e) Ikterus
f) Pemeriksaan mulut: typhoid tongue, tremor lidah, halitosis
g) Pemeriksaan abdomen: nyeri (terutama regio epigastrik),
hepatosplenomegali
h) Delirium pada kasus yang berat
Pemeriksaan fisik pada keadaan lanjut
1. Penurunan kesadaran ringan sering terjadi berupa apatis dengan kesadaran
seperti berkabut. Bila klinis berat, pasien dapat menjadi somnolen dan koma
atau dengan gejala-gejala psikosis (organic brain syndrome).
2. Pada penderita dengan toksik, gejala delirium lebih menonjol.
3. Nyeri perut dengan tanda-tanda akut abdomen

Pemeriksaan Penunjang
1. Darah perifer lengkap beserta hitung jenis leukosis
Dapat menunjukkan: leukopenia / leukositosis / jumlah leukosit normal,
limfositosis relatif, monositosis, trombositopenia (biasanya ringan), anemia.
2. Serologi
a. IgM antigen O9 Salmonella thypi (Tubex-TF)®
 Hanya dapat mendeteksi antibody IgM Salmonella typhi
 Dapat dilakukan pada 4-5 hari pertama demam
b. Enzyme Immunoassay test (Typhidot®)
 Dapat mendeteksi IgM dan IgG Salmonella typhi
 Dapat dilakukan pada 4-5 hari pertama demam
c. Tes Widal tidak direkomendasi
 Dilakukan setelah demam berlangsung 7 hari.
 Interpretasi hasil positif bila titer aglutinin O minimal 1/320 atau
terdapat kenaikan titer hingga 4 kali lipat pada pemeriksaan
ulang dengan interval 5 – 7 hari.
Hasil pemeriksaan Widal positif palsu sering terjadi oleh karena
reaksi silang dengan non-typhoidal Salmonella,
enterobacteriaceae, daerah endemis infeksi dengue dan
malaria, riwayat imunisasi tifoid dan preparat antigen komersial
yang bervariasi dan standaridisasi kurang baik. Oleh karena itu,
pemeriksaan Widal tidak direkomendasi jika hanya dari 1 kali
pemeriksaan serum akut karena terjadinya positif palsu tinggi
yang dapat mengakibatkan over-diagnosis dan over-treatment.
3. Kultur Salmonella typhi (gold standard)
Dapat dilakukan pada spesimen:
 Darah : Pada minggu pertama sampai akhir minggu ke-2 sakit, saat
demam tinggi
 Feses : Pada minggu kedua sakit
 Urin : Pada minggu kedua atau ketiga sakit
 Cairan empedu : Pada stadium lanjut penyakit, untuk mendeteksi
carrier typhoid
4. Pemeriksaan penunjang lain sesuai indikasi klinis, misalnya: SGOT/SGPT,
kadar lipase dan amilase

Penegakan Diagnosis (Assessment)


Suspek demam tifoid (Suspect case)
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan gejala demam, gangguan saluran
cerna dan petanda gangguan kesadaran. Diagnosis suspek tifoid hanya dibuat pada
pelayanan kesehatan primer.
Demam tifoid klinis (Probable case)
Suspek demam tifoid didukung dengan gambaran laboratorium yang menunjukkan
tifoid.
Diagnosis Banding
Demam berdarah dengue, Malaria, Leptospirosis, infeksi saluran kemih, Hepatitis A,
sepsis, Tuberkulosis milier, endokarditis infektif, demam rematik akut, abses dalam,
demam yang berhubungan dengan infeksi HIV.
Komplikasi
Biasanya terjadi pada minggu kedua dan ketiga demam. Komplikasi antara lain
perdarahan, perforasi usus, sepsis, ensefalopati, dan infeksi organ lain.
1. Tifoid toksik (Tifoid ensefalopati)
Penderita dengan sindrom demam tifoid dengan panas tinggi yang disertai
dengan kekacauan mental hebat, kesadaran menurun, mulai dari delirium
sampai koma.
2. Syok septik
Penderita dengan demam tifoid, panas tinggi serta gejala-gejala toksemia
yang berat. Selain itu, terdapat gejala gangguan hemodinamik seperti
tekanan darah turun, nadi halus dan cepat, keringat dingin dan akral dingin.
3. Perdarahan dan perforasi intestinal (peritonitis)
Komplikasi perdarahan ditandai dengan hematoschezia. Dapat juga diketahui
dengan pemeriksaan feses (occult blood test). Komplikasi ini ditandai dengan
gejala akut abdomen dan peritonitis. Pada foto polos abdomen 3 posisi dan
pemeriksaan klinis bedah didapatkan gas bebas dalam rongga perut.
4. Hepatitis tifosa
Kelainan berupa ikterus, hepatomegali, dan kelainan tes fungsi hati.
5. Pankreatitis tifosa
Terdapat tanda pankreatitis akut dengan peningkatan enzim lipase dan
amilase. Tanda ini dapat dibantu dengan USG atau CT Scan.
6. Pneumonia
Didapatkan tanda pneumonia yang diagnosisnya dibantu dengan foto polos
toraks

4.3.3.6.2 Tata Laksana


1. Terapi suportif dapat dilakukan dengan:
a. Istirahat tirah baring dan mengatur tahapan mobilisasi
b. Menjaga kecukupan asupan cairan, yang dapat diberikan secara oral
maupun parenteral.
c. Diet bergizi seimbang, konsistensi lunak, cukup kalori dan protein,
rendah serat.
d. Konsumsi obat-obatan secara rutin dan tuntas
e. Kontrol dan monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, kesadaran),
kemudian dicatat dengan baik di rekam medik pasien
2. Terapi simptomatik untuk menurunkan demam (antipiretik) dan mengurangi
keluhan gastrointestinal.
3. Terapi definitif dengan pemberian antibiotik. Antibiotik lini pertama untuk
demam tifoid adalah Kloramfenikol, Ampisilin atau Amoksisilin (aman untuk
penderita yang sedang hamil), atau Trimetroprim-sulfametoxazole
(Kotrimoksazol).
4. Bila pemberian salah satu antibiotik lini pertama dinilai tidak efektif, dapat
diganti dengan antibiotik lain atau dipilih antibiotik lini kedua yaitu Seftriakson,
Sefiksim, Kuinolon (tidak dianjurkan untuk anak <18 tahun karena dinilai
mengganggu pertumbuhan tulang).

Antibiotik dan dosis penggunan untuk tifoid

ANTIBIOTIKA DOSIS KETERANGAN


Kloramfeni-kol Dewasa: 4x500 mg Merupakan obat
selama 10 hari yang sering
Anak 100 digunakan dan
mg/kgBB/har, per telah lama dikenal
oral atau intravena, efektif untuk tifoid
dibagi 4 dosis, Murah dan dapat
selama 10-14 hari diberikan peroral
serta sensitivitas
masih tinggi
Pemberian PO/IV
Tidak diberikan bila
lekosit <2000/mm3

Seftriakson Dewasa:
Dewasa:2-4gr/hari
2-4gr/hari Cepat
Cepatmenurunkan
menurunkan
selama
selama3-5
3-5hari
hari suhu,
suhu,lama
lama
Anak:
Anak:80
80 pemberian
pemberianpendek
pendek
mg/kgBB/hari,
mg/kgBB/hari,IM
IM dan
dandapat
dapatdosis
dosis
atau
atauIV,
IV,dosis
dosis tunggal
tunggalserta
serta
tunggal
tunggalselama
selama55 cukup
cukupaman
amanuntuk
untuk
hari
hari anak.
anak.
Pemberian
PemberianPO/IV
PO/IV
Ampisilin & Dewasa:
Dewasa:(1.5-2)
(1.5-2) Aman
Amanuntuk
untuk
Amoksisilin gr/hr
gr/hrselama
selama7-10
7-10 penderita
penderitahamil
hamil
hari
hari Sering
Seringdikombinasi
dikombinasi
Anak:
Anak:100
100 dengan
dengan
mg/kgbb/hari
mg/kgbb/hariper
per kloramfenikol
kloramfenikolpada
pada
oral
oralatau
atauintravena,
intravena, pasien
pasienkritis
kritis
dibagi
dibagi33dosis,
dosis, Tidak
Tidakmahal
mahal
selama
selama10
10hari.
hari. Pemberian
PemberianPO/IV
PO/IV

Kotrimok-sazole Tidak mahal


(TMP-SMX) Dewasa: 2x(160- Pemberian per oral
800) selama 7-10
hari
Anak:
Kotrimoksazol 4-6
mg/kgBB/hari, per
oral, dibagi 2 dosis,
Kuinolon selama 10 hari. Pefloxacin dan
Fleroxacin lebih
cepat menurunkan
Ciprofloxacin suhu
2x500 mg selama Efektif mencegah
1 minggu relaps dan kanker
Ofloxacin 2x(200- Pemberian peroral
400) selama 1 Pemberian pada
minggu anak tidak
dianjurkan karena
efek samping pada
pertumbuhan
tulang
Sefiksim
Aman untuk anak
Efektif
Pemberian per oral
Anak: 20
mg/kgBB/hari, per
oral, dibagi menjadi
2 dosis, selama 10
Thiamfenikol hari Dapat dipakai
untuk anak dan
dewasa
Dewasa: 4x500 Dilaporkan cukup
mg/hari sensitif pada
Anak: 50 beberapa daerah
mg/kgbb/hari
selama 5-7 hari
bebas panas

Rencana Tindak Lanjut


 Bila pasien dirawat di rumah, dokter atau perawat dapat melakukan
kunjungan follow up setiap hari setelah dimulainya tatalaksana.
 Respon klinis terhadap antibiotik dinilai setelah penggunaannya selama 1
minggu.

Indikasi Perawatan di Rumah


1. Persyaratan untuk pasien
a. Gejala klinis ringan, tidak ada tanda-tanda komplikasi atau
komorbid yang membahayakan.
b. Kesadaran baik.
c. Dapat makan serta minum dengan baik.
d. Keluarga cukup mengerti cara-cara merawat dan tanda-tanda
bahaya yang akan timbul dari tifoid.
e. Rumah tangga pasien memiliki dan melaksanakan sistem
pembuangan eksreta (feses, urin, cairan muntah) yang memenuhi
persyaratan kesehatan.
f. Keluarga pasien mampu menjalani rencana tatalaksana dengan
baik.

2. Persyaratan untuk tenaga kesehatan


a. Adanya 1 dokter dan perawat tetap yang bertanggung jawab penuh
terhadap tatalaksana pasien.
b. Dokter mengkonfirmasi bahwa penderita tidak memiliki tanda-tanda
yang berpotensi menimbulkan komplikasi.
c. Semua kegiatan tata laksana (diet, cairan, bed rest, pengobatan) dapat
dilaksanakan secara baik di rumah.
d. Dokter dan/atau perawat mem-follow up pasien setiap hari.
e. Dokter dan/atau perawat dapat berkomunikasi secara lancar dengan
keluarga pasien di sepanjang masa tatalaksana.

Konseling dan Edukasi


Edukasi pasien tentang tata cara:
1. Pengobatan dan perawatan serta aspek lain dari demam tifoid yang harus
diketahui pasien dan keluarganya.
2. Diet, jumlah cairan yang dibutuhkan, pentahapan mobilisasi, dan
konsumsi obat sebaiknya diperhatikan atau dilihat langsung oleh dokter,
dan keluarga pasien telah memahami serta mampu melaksanakan.
3. Tanda-tanda kegawatan harus diberitahu kepada pasien dan keluarga
supaya bisa segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk perawatan.

Pendekatan Community Oriented


Melakukan konseling atau edukasi pada masyarakat tentang aspek pencegahan dan
pengendalian demam tifoid, melalui:
1. Perbaikan sanitasi lingkungan
2. Peningkatan higiene makanan dan minuman
3. Peningkatan higiene perorangan
4. Pencegahan dengan imunisasi
4.3.3.6.3 Kriteria Rujukan
1. Demam tifoid dengan keadaan umum yang berat (toxic typhoid).
2. Tifoid dengan komplikasi.
3. Tifoid dengan komorbid yang berat.
4. Telah mendapat terapi selama 5 hari namun belum tampak perbaikan.

4.3.4 ASUHAN KEPERAWATAN

4.3.4.1 Asuhan Keperawatan Hiperemesis Gravidarum

4.3.4.1.1 Diagnosa Keperawatan Hiperemis Gravidarum

1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan mual dan muntah

2. Penurunan COP berhubungan dengan penurunan kontriktilitas jantung.

3. Gangguan perpusi jaringan berhubungan dengan penurunan perfusi jaringan.

4. Gangguan pola nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya edema pada
paru.

5. Hipotermi berhubungan adanya dehidrasi.

6. Gangguan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan


mual muntah yang berlebih.

4.3.4.1.2 Rencana Asuhan Keperawatan

NO DIAGNOSA TUJUAN RENCANA KEPERAWATAN


KEPERAWATAN INTERVENSI RASIONAL
1. Ganguan Tujuan: keseimbangan Mandiri:
keseimbangan cairan cairan dan elektrolit 1. Kaji suhu dan turgor kulit, 1. Memberikan data
dan elektrolit kurang sesuai dengan kebutuhan membrane mukosa, tekanan berkenaan dengan
dari kebutuhan tubuh tubuh. darah, suhu, masukan/ semua
berhubungan dengan Kriteria hasil: haluaran dan berat jenis urin. kondisi.peningkatan
mual/ muntah.  Turgor kulit kembali Timbang berat badan klien kadar hormone
Data obyektif: normal dapat balik dengan standar. gonadotropin krionik
 HT menurun kembali dalam dan (HCG), perubahan
 Konjungtiva pucat delik metabolisme KH, dan
 TD menurun, suhu  Haluaran urin normal penurunan mortilitas
meningkat, nadi 3-5 ml/ jam. gaftrik memperberat
meningkat, RR  Mukosa mulut: mual dan muntah pada
meningkat. lembab. trimester pertama.
 Mata cekumg.  Turgor kulit: elastis. 2. Membantu dalam
 Turgor kulit: tidak  BUN normal (of= 10- 2. Anjurkan peningkatan masukan mengenyampingkan
elastis. 25 mg/ 100 ml; of= 8- minuman berkarbonat, makan penyebab lain untuk
 Mukosa mulut 20 mg/ 100 ml) 6 kali sehari dengan jumlah mengatasi masalah
kering.  TTV: yang sedikit dan makanan dalam

 Oliguri o TD: N (120/ 180 tinggi KH (mis: pop corn, roti mengidentifikasikan

 BUN meningkat mmHg) kering sebelum bangun tidur). intervensi.

Data subjektif: o T º: 36-37,5 ºC 3. Tentukan adanya/ frekuensi

 Haus/ dehidrasi o RR: 16-20 x/ mnt mual berlebihan atau menetap 3. Membantu dalam

o N: 80-100 x/ mnt muntah. menentukan adanya

o HT: N 37-47 muntah yang tidak

 dapat dikontrol
(hiperemesis
gravidarum) pada
awalnya muntah dapat
mengakibatkan
alkalosis, dehidrasi dan
ketidak seimbangan
elektrolit. Muntah yang
tidak dapat diatasi atau
yang berat dapat
menimbulkan asidosis,
memerlukan intervensi
lanjut.
4. Menurunkan faktor
4. Kaji hal-hal yang meningkatkan penyebab terjadinya
mual dan muntah. Misalnya mual muntah
bau-bauan yang terlalu,
makanan yang terlalu asin atau
manis. 5. Meningkatkan
5. Kaji hal-hal yang menurunkan kenyamanan dan selera
mual dan muntah missal makan.
makanan diberikan waktu
hangat, suasana yang
menyenangkan.
6. Ajarkan pada ibu waktu bangun 6. –
tidur pagi hari:
 Jangan langsung pergi dari
tempat tidur.
 Minum air putih.
7. Libatkan keluarga: 7. Menurunkan rasa
 Menghadirkan suami dan cemas.
keluarga terdekat klien
ketika klien dirawat
 Keluarga/suami berusaha
meyakinkan klien bahwa
klien tidak perlu cemas
menghadapi
kehamilannya.
Kolaborasi:
8. Pantau hasil pemeriksaan
laboratorium sesuai indikasi 8. Indikator dalam

 Elektrolir membantu untuk

 Ht mengevaluasi tingkat

 BUN ataukebutuhan

9. Berikan cairan elektrolit hidrasi.

glukosa atau vitamin secara 9. Membantu dalam

parentera/ sesuai indikasi. meminimalkan mual/


muntah dan
menurunkan
keasaman jambung
muntah yang sering
(hiperemesis
gravidarum)
mengakibatkan
bilirubin dan
mengetahui frekuensi
muntah, memudahkan
kita melakukan
10. Lakukan tes urine. tindakan tang lebih
lanjut.
10. Meningkatkan pada
dehidrasi hipovolemik
menurunkan fungsi
ginjal, meningkatkan
BUN. Membantu
menghentikan atau
mencegah
kemungkinan
hipokalemi yang berat
2. Penurunan COP Tujuan: curah jantung 1. Pantau tanda vital, contoh 1. Untuk mengetahui
berhubungan dengan kembali normal. frekuensi jantung, TD kandungan urin apakah
penurunan Kriteria hasil: dalam batas normal
kontrktilitas jantung  Berpartisipasi pada atau tidak.
Data obyektif: perilaku/aktivitas yang Takikardi dapat terjadi
 Dispnea menurunkan kerja karena nyeri, cemas,
 Nadi perifer jantung. hipoksia,dan
 Kulit dingin/pucat  TTV: menurunnya curah

 Perubahan status  TD: 120/80 mmHg jantung, perubahan

mental  RR 16-20 x/menit. juga terjadi pada TD

Data subjektif  N: regular, 60-100 karena respon jantung.

 Gelisah x/menit 2. Sirkulasi perifer

 Kelemahan  T º: 36-37,5 ºC 2. Catat warna kulit dan adanya menurun bila curah

 Nyeri dada  Kulit hangtat kualitas nadi jantung turun

 Kesadaran
 membuat kulit pucat

komposmentis atau warna abu-abu


(tergantung tingkat
hipoksia) dan
menurunnya kekuatan
nadi perifer.
3. S3, S4 atau krekels
3. auskultasi bunyi nafas dan bunyi terjadi dengan
jantung dengarkan murmur dekompensasi jantung
atau beberapa obat,
terjadinya murmur
dapat menunjukkan
katup karena nyeri
dada, contoh stenosis
dorta, stenosis mitra
atau ropta otit papilar.
3. Ganguan perfusi Tujuan: menunjukkan Mandiri:
jaringan berhubungan perfusi adekuat. 1. Pertahankan tirah baring, 1. Menurunkan beban
dengan perfusi Kriteria hasil: Bantu dengan aktivitas kerja miokard dan
jaringan.  TTV stabil: perawatan. konsumsi O2
Data obyektif:  Kulit hangat dan memaksimalkan
 TD kering aktivitas dan perfusi
Data subjektif:  Tingkat kesadaran jaringan.
 Akral dingin membaik 2. Pantau TTV. 2. Bila terjadi takikardi,
 Kesadaran (komposmentis). mengacu pada
menurun  Haluaran urin normal stimulasi skunder

2/3 ml/ jam. system saraf simpatis


untuk menekan respon
untuk mengganikan
kerusakan pada
hipovolumit.jika terjadi
hipotensi menunjukkan
curah jantung yang
menurun.
3. Perubahan
menunjukan
3. Kaji perubahan pada sensori, penyimpangan perfusi
NN ex kesuraman mental, serebral hipoksenia
agitasi, supor, koma, delirium. atau asidosis.
4. Mekanisme
kompensasi dari
4. Kaji kulit terhadap perubahan vasodilatasi
warna, suhu, kelembaban. mengakibatkan kulit
hangat, merah muda,
kering adalah
karakteristik dari
hiperperfusi.
5. Penurunan haluaran
5. Catat haluaran urin setiap jam urin dengan
dan setiap menit. peningkatan berat jenis
akan mengindikasikan
penurunan perfusi
ginjal.

1. Meskipun
Kolaborasi: controversial, steroid
1. Berikan obat-obatan sesuai mungkin diberikan
petunjuk: kortisteroid untuk kepentingan
potensial terhadap
penurunan
permeabilitas kapiler,
peningkatan perfusi
ginjal dan pencegahan
pembentukan
mikroemboli.
2. Perkembangfan
asidosis respiratorik/
metabolic
2. Pantau pemeriksaan merefleksikan
laboratorium misalnya: GDA, kehilangan mekanisme
kadar laktat. kompensasai, misalnya
penurunan perfusi
ginjal/ ekskresi
hydrogen dan
akumulasi asam laktat.

4. Gangguan pola napas Tujuan: pola pernafasan Mandiri:


tidak efektif menjadi efektif. 1. Kaji frekuensi, kedalaman 1. Kecepatan biasanya
berhubungan dengan Kriteria hasil: pernafasan dan ekspansi dada. meningkat, disepnea
adanya oedema pada  Menunjukkan pola Catat upaya pernafasan, dan terjadi
paru. nafas efektif dengan termasuk penggunaan otot peningkatan kerja
Data obyektif: frekuensi dan bantu/ pelebaran nasal. nafas.kedalaman nafas
 Takipnea kedalaman dalam bervariasi tergantung
 Dispnea rentang normal dan derajat gagal nafas
(pernafasan pural jelas bersih. ekspansi dada terbatas
tersengal-sengal)  Bunyi nafas: yang berhubungan
 Penurunan bunyi vasikuler. atelektuasi dan nyeri
nafas krekels.  RR: reguler, 16-20 x/ dada pleruitik

 Batuk (sputum) menit. 2. Auskultasi bunyi nafas dan 2. Bunyi nafas menurun/

Data subjektif: catat adanya bunyi nafas tidak ada bila jalan

 Mengeluh adventisius seperti krekels. nafas obstruksi

gangguan pola sekunder terhadap

tidur. perdarahan, bekuan/

 gelisah kolab jalan nafas kecil.


3. Duduk tinggi
3. Tinggikan kepala dan bantu memungkinkan
pengubahan posisi. ekspansi paru dan
memudahkan
pernafasan.
4. Kongesti alveolar
4. Observasi pola batuk dan mengakibatkan batuk
karaktre secret. kering/ iritasi. Sputim
berdarah dapat
diakibatkan oleh
kerusakan jaringan
(infak paru) atau anti
koagulan berlebih.
5. Dapat meningkatkan
5. Dorong/ bantu pasien dalam banyaknya seputum
nafas dalam dan latihan batuk. dimana gangguan
ventilasi dan ditambah
ketidak nyamanan
upaya bernafas.

Kolaborasi: 6. Memaksimalkan
6. Berikan O2 tambahan bernafas dan
menurunkan kerja
nafas.
7. Memberikan
7. Berikan humidifikasi tambahan kelembaban pada
mis: nebuliser ultra sonic. membrane mukosa dan
membantu
mengencerkan sekret
untuk memudahkan
pembrtsihan.
8. Bantu fisioterapi dada (mis: 8. Memudahkan upaya
drainase portural dan perkusi pernafasan dalam dan
area yang tak sakit/ tiupan meningkatkan drainase
botol). sekret dari segmen
paru kedalam bronkus,
dimana dapat lebih
mempercepat
pembuangandengan
batuk/ penghisap.
5. Ganguan integritas Tujuan: 1. mandikan dengan air hangat 1. mempertahankan
kulit berhubungan Integritas kulit kembali dan sabun ringan kebersihan tanpa
dengan penurunan normal mengiritasi kulit
turgor kulit. Kriteria hasil:
Data Objektif:  Turgor kulit
 Turgor kulit meningkat
menurun  Membran mukosa 2. dorong pasien mengubah posisi 2. meningkatkan sirkulasi
 Membran mukosa lembab dengan sering dan mencegah tekanan
menurun pada kulit atau jaringan
Data Subjektif: yang tidak perlu
 Mengeluh kulit 3. dapat meningkatkan
kering iritasi
3. anjurkan klien untuk
menghindari kering kulit
apapun, kecuali dengan ijin 4. mencegah iritasi dan
dokter terjadinya cidera
4. anjurkan menggunakan pakaian dermal.
lembut dan longgar

6. Ganguan perubahan Tujuan: 1. Anjurkan pilihan tinggi protein 1. Protein membentuk


nutrisi kurang dari Berat badan kembali zat besi dan MTC bila masukan peningkatan pemulihan
kebutuhan normal. oral dibatasi. dan regenerasi jaringan
berhubungan dengan baru. Zat besi perlu
mual muntah yang Kiteria hasil: untuk sintesis Hb.
berlebihan.  Berat badan kembali Vitamin C
Data obyektif: normal/ ideal: memudahkan untuk
 Berat badan penambahan berat absorbsi zat besi dan
menurun. badan tidak boleh perlu untuk sintesis
 Turgor kulit jelek. lebih dari 12 kg dinding sel.
 Bising usus selama kehamilan.
menurun.  Pasien tidak 2. Memberikan kalori dan

 Membrane mengalami anoreksia 2. Tingkatkan masukan sedikitnya nutrisi lain untuk

mukosa menurun/ kembali makan 3x 2000 ml/hari jus, sup dan memenuhi kebutuhan

kering. sehari. cairan nutrisi lain. metabulik serta

Data subjektif:  Bising usus: normal. menggantikan

 Lelah.  Membrane mukosa kebutuhan metabolic

 Letih. lembab. serta menggantikan

 Anoreksia.  Mual hilang. kebutuhan cairan,

 Mual. karena meningkatnya


volume cairan sirkulasi.
3. Menunjukkan kerja
metabolisme,
3. Anjurkan tidur atau istirahat memungkinkan nutrisi
adekuat. dan O2 digunakan
untuk proses
pemulihan.
4. Memungkinkan perlu
Kolaborasi: untuk mengalami
4. Berikan cairan atau nutrisi dehidrasi
parenteral, sesuai indikasi. menggantikan
kehilangan cairan dan
memberikan nutrisi
yang perlubila masukan
oral dibatasi.
5. Bermanfaat dalam
memperbaiki anemia
atau defisiensi bila ada.
5. Berikan preparat zat besi atau 6. Mungkin perlu untuk
vitamin sesuai indikasi. dikompresi
gastrointestinal, pada
adanya distensi distensi
6. Bantu penempatan selang atau perifnitis.
nurogastrik atau Niller-Abbott.
7. Untuk mengganti
cairan dan makanan
yang keluar saat
muntah dan
7. Anjurkan klien untuk memonitor bila terjadi
mempertahankan intek cairan penurunan berat
dan nutrisi yang adekuat dan badan.
timbang berat badan setiap
hari.
7. Intoleransi aktifitas Tujuannya: 1. Evaluasi laporan kelelahan 1. Menentukan derajat
berhubungan dengan Klien dapat melakukan dari efek ketidak
suplai dan kebutuhan. aktivitas seperti biasanya mampuan
Data obyektif: Kriteria hasil: 2. Anjurkan klien mengikuti 2. Menghemat energi dan
 Nadi lemah  Nadi 80 x/mnt aktivitas dengan istirahat yang menghindari
 Kelelahan otot  Kekuatan otot dan cukup. penggunaan tenaga
 Kehilangan tonus tonus kembali normal terus-menerus untuk
Data subjektif  Klien tidak merasa meminimalkan

 Mengeluh lemas cepat lelah kelelahan

 Mengeluh cepat 3. Identifikasi faktor stres yang 3. Mungkin mempunyai

lelah dapat memperberat efek akumulatif


(sepanjang faktor
psikologis) yang dapat
diturunkan bila ada
masalah
4. Berikan bantuan dalam 4. Mengubah energi,
aktivitas sehari-hari memungkinkan
berlanjutnya aktivitas
yang dibutuhkan.

4.3.4.2 Asuhan Keperawatan Deman Dengue

4.3.4.2.1 Diagnosa Keperawatan Demam Dengue

1. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan


intravaskuler ke ekstravaskuler.
2. Peningkatan suhu tubuh (Hiperthermi) sehubungan dengan Kerusakan
kontrol suhu sekunder terhadap infeksi.
3. Potensial gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari yang
dibutuhkan sehubungan dengan :
4. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor
pembekuan darah (trombositopeni).
5. Kecemasan orangtua berhubungan dengan kondisi anak.
4.3.4.2.2 Rencana Asuhan Keperawatan

NO DIAGNOSA TUJUAN RENCANA KEPERAWATAN


KEPERAWATAN INTERVENSI RASIONAL
Resiko defisit volume •Input dan output 1. Observasi tanda-tanda 1. Untuk memonitor
kondisi pasien selama
1 cairan berhubungan seimbang vital: Tekanan darah,
perawatan terutama
dengan pindahnya •Vital sign dalam batas frekuensi dan kedalaman saat terdi perdarahan.
Perawat segera
cairan intravaskuler normal pernafasan, frekuensi dan
mengetahui tanda-
ke •Tidak ada tanda presyok kedalaman nadi, suhu. tanda presyok /syok.
ekstravaskuler.Data •Akral hangat 2. Observasi vital sign setiap 3
2. Perawat perlu terus
subyektif : Pasien •Capilarry refill < 2 detik jam atau lebih. mengobaservasi vital
sign untuk
gelisah , mual, tak
memastikan tidak
nafsu makan, sakit terjadi presyok / syok.
menelan, lemah.
Data obyektif : 3. Jelaskan pada pasien dan 3. Dengan melibatkan
psien dan keluarga
Perdarahan bawah keluarga tanda
maka tanda-tanda
kulit di lengan dan perdarahan, dan segera perdarahan dapat
segera diketahui dan
kaki, epistaxis, laporkan jika terjadi
tindakan yang cepat
perdarahan gusi, perdarahan. dan tepat dapat
segera diberikan.
muntah darah.
Laboratorium : 4. Cairan intravena
Trombositopeni : 4. Kolaborasi dalam diperlukan untuk
kurang dari pemberian : mengatasi kehilangan
100.000/m 3 • Terapi cairan RL atau cairan tubuh secara
Hematokrit pengganti plasma. hebat.
meningkat. 5. Untuk mengetahui
5. Kolaborasi : pemeriksaan : tingkat kebocoran
HB, PCV, trombosit pembuluh darah yang
dialami pasien dan
untuk acuan
melakukan tindakan
lebih lanjut.
2 Peningkatan suhu Suhu tubuh turun sampai 1. Dengan penjelasan
tubuh (Hiperthermi) batas normal dalam 1. Beri penjelasan pada klien diharapkan
sehubungan dengan waktu 4 jam setelah penyebab panas penderita mengerti
Kerusakan kontrol dilakukan tindakan dan mau
suhu sekunder keperawatan berpartisipasi
terhadap infeksi. Kriteria hasil : dalam perawatan.
1 Klien mengungkapkan
badanynya tidak terasa 2. memantau
panas. 2. Observasi tanda vital tiap 3 perkembangan
2 Suhu tubuh turun 36 – jam sekali klien untuk
37.5 ) tindakan
3 Klien tidak gelisah perawatan
4 RR 16x/menit, nadi 80- selanjutnya
88 x/menit. 3. Mempercepat
3. Lakukan kompres hangat vasodilatasi
didaerah permukaan tubuh sehingga terjadi
penguapan ,
merangsang
termostat.
4. Dapat
4. Berikan minum banyak -+ 2 mengimbangi
liter perhari akibat pengeluaran
cairan lewat
penguapan
5. Mempercepat
5. Lanjutkan pemberian proses penurunan
terapi IV 20 tetes/menit panas
dan antipiretik 3 x 500 mg
3 Tidak terjadi gangguan 1. Kaji riwayat nutrisi, 1. Mengidentifikasi
Resiko gangguan kebutuhan nutrisi termasuk makanan yang defisiensi, menduga
pemenuhan
Kriteria : disukai kemungkinan
kebutuhan nutrisi
kurang dari • Tidak ada tanda- intervensi
kebutuhan tubuh
tanda malnutrisi 2. Mengawasi masukan
kalori/kualitas
• Menunjukkan 2. Observasi dan catat
kekurangan konsumsi
berat badan yang masukan makanan pasien makanan.
seimbang. 3. Timbang BB tiap hari (bila
3. Mengawasi
memungkinkan). penurunan BB /
mengawasi efektifitas
intervensi.
4. Berikan makanan sedikit
4. Makanan sedikit
namun sering dan atau
dapat menurunkan
makan diantara waktu kelemahan dan
meningkatkan
makan
masukan juga
mencegah distensi
gaster.
5. Berikan dan Bantu oral
5. Meningkatkan nafsu
hygiene makan dan masukan
peroral
6. Hindari makanan yang
6. Menurunkan distensi
merangsang dan dan iritasi gaster.
mengandung gas

4 Resiko terjadi Tidak terjadi perdarahan 1. Monitor tanda-tanda 1. Penurunan trombosit


merupakan tanda
perdarahan penurunan trombosit yang
adanya kebocoran
berhubungan dengan disertai tanda klinis pembuluh darah yang
pada tahap tertentu
penurunan factor- 2. Anjurkan pasien untuk
dapat menimbulkan
faktor pembekuan banyak istirahat ( bedrest) tanda-tanda klinis
seperti epistaksis,
darah 3. Berikan penjelasan kepada
ptike.
(trombositopeni) klien dan keluarga untuk 2. Aktifitas pasien yang
tidak terkontrol dapat
melaporkan jika ada tanda
menyebabkan
perdarahan seperti : terjadinya
perdarahan.
hematemesis, melena,
3. Keterlibatan pasien
epistaksis dan keluarga dapat
membantu untuk
4. Antisipasi adanya
penaganan dini bila
perdarahan : gunakan sikat terjadi perdarahan.
4. Mencegah terjadinya
gigi yang lunak, pelihara
perdarahan lebih
kebersihan mulut, berikan lanjut.
5. Dengan trombosit
tekanan 5-10 menit setiap
yang dipantau setiap
selesai ambil darah hari, dapat diketahui
tingkat kebocoran
5. Kolaborasi, monitor
pembuluh darah dan
trombosit setiap har kemungkinan
perdarahan yang
dialami pasien.

6 Kecemasan orangtua Tujuan : 1. Kaji dan dokumentasikan 1. memudahkan


berhubungan dengan intervensi.
• Ansietas tingkat kecemasan pasien
kondisi anak. 2. mempertahankan
berkurang/terkontrol. 2. Kaji mekanisme koping mekanisme koping
adaftif,
Kriteria : yang digunakan pasien
meningkatkan
• Klien melaporkan untuk mengatasi ansietas kemampuan
mengontrol
tidak ada manifestasi di masa lalu.
ansietas.
kecemasan secara fisik. 3. Lakukan pendekatan dan 3. pendekatan dan
motivasi
• Tidak ada manifestasi berikan motivasi kepada
membantu pasien
perilaku akibat pasien untuk untuk
mengeksternalisasi
kecemasan. mengungkapkan pikiran
kan kecemasan
dan perasaan yang dirasakan.
4. alat untuk
4. Motivasi pasien untuk
mengidentifikasi
memfokuskan diri pada mekanisme koping
yang dibutuhkan
realita yang ada saat ini,
untuk mengurangi
harapan-harapan yang kecemasan.
5. menciptakan rasa
positif terhadap terapy
percaya dalam diri
yang di jalani. pasien bahwa
dirinya mampu
5. Berikan penguatan yang
mengatasi
positif untuk meneruskan masalahnya dan
memberi keyakinan
aktivitas sehari-hari
pada diri sendri
meskipun dalam keadaan yang dibuktikan
dengan pengakuan
cemas
orang lain atas
6. Anjurkan pasien untuk kemampuannya
.
menggunakan teknik
6. menciptakan
relaksasi perasaan yang
tenang dan
7. Sediakan informasi factual
nyaman.
(nyata dan benar) kepada 7. meningkatkan
pengetahuan,
pasien dan keluarga mengurangi
kecemasan.
menyangkut diagnosis,
8. mengurangi
perawatan dan prognosis. ansietas sesuai
kebutuhan.
8. Kolaborasi pemberian obat
anti ansietas.
7 Kurang pengetahuan Tujuan : 1. Kaji tingkat pengetahuan 1. mengetahui
keluarga tentang seberapa jauh
• Orang tua klien dan keluarga tentang
penyakit, prognosis, pengalaman dan
efek prosedur, dan mengutarakan penyakitnya. pengetahuan klien
perawatan anggota dan keluarga
pemahaman tentang 2. Berikan penjelasan pada
keluarga yang sakit tentang
berhubungan dengan kondisi, efek prosedur klien dan keluarga tentang penyakitnya.
kurang 2. dengan
dan proses pengobatan. penyakitnya dan
terpajan/mengingat mengetahui
informasi. Kriteria : kondisinya sekarang. penyakit dan
kondisinya
• Melakukan prosedur 3. Anjurkan klien dan
sekarang, klien dan
yang diperlukan dan keluarga untuk keluarganya akan
merasa tenang dan
menjelaskan alasan dari memperhatikan diet
mengurangi rasa
suatu tindakan. makanan nya. cemas.
3. diet dan pola
• Memulai perubahan 4. Anjurkan keluarga untuk
makan yang tepat
gaya hidup yang memperhatikan perawatan membantu proses
penyembuhan.
diperlukan dan ikut serta diri dan lingkungan bagi
4. perawatan diri
dalam regimen anggota keluarga yang (mandi, toileting,
berpakaian/berdan
perawatan. sakit.
dan) dan
5. Minta klien/keluarga kebersihan
lingkungan penting
mengulangi kembali
untuk menciptakan
tentang materi yang telah perasaan
nyaman/rileks klien
diberikan
sakit.
5. mengetahui
seberapa jauh
pemahaman klien
dan keluarga serta
menilai
keberhasilan dari
tindakan yang
dilakukan.
4.3.4.3 Asuhan Keperawatan Gastritis Akut

4.3.4.3.1 Diagnosa Keperawatan Gastritis Akut

1. Defisit volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


intake yang tidak adekuat dan output cair yang berlebih ( mual dan muntah).
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
penurunan intake asupan gizi.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
4. Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya
informasi.
5. Perubahan kenyamanan; Nyeri akut berhubungan dengan iritasi mukosa
gaster.

4.3.4.3.2 Diagnosa Keperawatan Gastritis Akut

NO DIAGNOSA TUJUAN RENCANA KEPERAWATAN


KEPERAWATAN INTERVENSI RASIONAL
1 Defisit volume Tujuan : 1.Penuhi kebutuhan individual. 1. Mengganti kehilangan
cairan kurang dari Mencegah output yang Anjurkan klien untuk minum cairan dan memperbaiki
kebutuhan tubuh berlebih dan (Dewasa : 40-60 cc/kg/jam). keseimbangan cairan
berhubungan mengoptimalkan intake 2.Berikan cairan tambahan dalam fase segera.
dengan intake yang cair. Intravena sesuai indikasi. 2. Menunjukkan status
tidak adekuat dan Kriteria Hasil : 3.Awasi tanda-tanda vital, dehidrasi atau
output cair yang Mempertahankan evaluasi turgor kulit, pengisian kemungkinan kebutuhan
berlebih ( mual dan volume cairan adekuat kapiler dan membran mukosa. untuk peningkatan
muntah). dengan dibuktikan oleh 4.Kolaborasi pemberian penggantian cairan.
mukosa bibir lembab, cimetidine dan ranitidine. Intake Cimetidine dan ranitidine
turgor kulit baik, cairan yang adekuat akan berfungsi untuk
pengisian kapiler mengurangi resiko dehidrasi menghambat sekresi asam
berwarna merah muda, pasien lambung
input dan output
seimbang.
 21

Perubahan nutrisi Tujuan : Gangguan nutrisi 1. Reduksi stress dan farmakoterapi 1.Stress menyebabkan
kurang dari teratasi seperti cytoprotective agent, peningkatan produksi asam
kebutuhan tubuh Kriteria Hasil : penghambat pompa proton, lambung, untuk klien
berhubungan 1.Antoprometri : Berat anatasida. dengan gastritis
dengan penurunan badan, lingkar lengan atas 2.Menganjurkan keluarga untuk penggunaan penghambat
intake asupan gizi. kembali normal. menyediakan makanan yang pompa proton membantu
2.Albumin, hemoglobin banyak mengandung albumin. untuk mengurangi asam
normal. 3.Konsultasi dengan ahli diet untuk lambung dengan cara
3.Klinis : terlihat segar. menentukan kalori / kebutuhan menutup pompa asam
4.Porsi makan habis. nutrisi. dalam sel lambung
4.Tambahkan vitamin seperti B12. penghasil asam. Kemudian
5.Batasi makanan yang untuk penggunaan
menyebabkan peningkatan asam cytoprotective agent
lambung berlebih, dorong klien membantu untuk
untuk menyatakan perasaan melindungi jaringan yang
masalah tentang makan diet. melapisi lambung dan usus
6.Berikan nutrisi melalui Intravena kecil. pada klien dengan
sesuai indikasi. gastritis antasida berfungsi
untuk menetralisir asam
lambung dan dapat
mengurangi rasa sakit.
2.Dengan mengkonsumsi
makanan yang diharapkan
kadar albumin dalam
darah berangsur angsur
normal sehingga
kebutuhan nutrisi kembali
normal.
3.Pemasukan individu
dapat dikalkulasikan
dengan berbagai
perhitungan yang berbeda,
perlu bantuan dalam
perencanaan diet yang
memenuhi kebutuhan
nutrisi.
4.Mencegah terjadinya
anemia.
5.Keragu-raguan untuk
makan mungkin
diakibatkan oleh takut
makanan yang
menyebabkan terjadinya
gejala. Program ini
mengistirahatkan saluran
pencernaan sementara,
dan memenuhi nutrisi
sangat penting dan
dibutuhkan.

Intoleransi aktivitas Tujuan : Intoleransi 1. Tingkatkan tirah baring atau 1.Tirah baring dapat
berhubungan aktivitas akibat duduk dan berikan obat sesuai meningkatkan stamina
dengan kelemahan kelemahan fisik teratasi. dengan indikasi. tubuh pasien sehinggga
fisik. 2. Berikan lingkungan yang tenang pasien dapat beraktivitas
Kriteria Hasil : dan nyaman. kembali.
1)Klien tampak lebih 3. Ajarkan klien metode 2. Lingkungan yang nyaman
mudah aktivitas. penghematan energi untuk dan tenang dapat
2)Klien merasa nyaman aktivitas (lebih baik duduk mendukung pola istirahat
dengan posisinya. daripada berdiri saat melakukan pasien.
3)Klien tidak dibantu aktivitas). 3.Klien dapat beraktivitas
oleh keluarga dalam secara bertahap sehingga
beraktifitas. tidak terjadi kelemahan.

Kurang Tujuan : 1.Beri pendidikan kesehatan Pengkajian / evaluasi


pengetahuan Informasi tepat dan (penyuluhan) tentang penyakit, secara periodik
tentang penyakit efektif. beri kesempatan klien atau meningkatkan pengenalan
berhubungan keluarga untuk bertanya, beritahu / pencegahan dini terhadap
dengan kurangnya Kriteria Hasil : tentang pentingnya obat-obatan komplikasi seperti ulkus
informasi. Klien dapat menyebutkan untuk kesembuhan klien. peptikum dan pendarahan
pengertian, penyebab, 2.Evaluasi tingkat pengetahuan pada lambung.
tanda dan gejala, pasien. Memberikan pengetahuan
perawatan, pencegahan dasar dimana klien dapat membuat
dan pengobatan. pilihan informasi tentang kontrol
masalah kesehatan. Keterlibatan
orang lain yang telah menerima
masalah yang sama dapat
meningkatkan koping , dapat
meningkatkan terapi dan proses
penyembuhan.
Perubahan Tujuan: Pasien 1.Anjurkan puasa pada pasien pada 1. Mengurangi inflamasi
kenyamanan; Nyeri mengatakan rasa nyeri 6 jam pertama. pada mukosa lambung.
akut berhubungan berkurang. 2.Berikan makanan lunak sedikit 2. Dilatasi gaster dapat
dengan iritasi Kriteria Hasil : Tidak demi sedikit dan beri minum yang terjadi bila pemberian
mukosa gaster. terjadi iritasi berlanjut. hangat. makan terlalu cepat.
3.dentifikasi dan batasi makanan setelah periode puasa.
yangmenimbulkan 3.Dapat menyebabkan
ketidaknyamanan. distres pada bermacam-
4.Observasi keluhan nyeri, catat macam individu /
lokasi, lamanya, intensitasnya, ( dispepsia.
skala 0-10 ), serta perubahan 4. Perubahan karakteristik
karakteristik nyeri. nyeri dapat menunjukan
penyebaran penyakit /
terjadinya komplikasi

4.3.4.4 Asuhan Keperawatan Gastroenteritis ( GE)

4.3.4.4.1 Diagnosa Keperawatan Gastritis Akut

1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare


atau output berlebihan dan intake yang kurang
2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan
kehilangan cairan skunder terhadap diare.
3. Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi
skunder terhadap diare
4. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan
frekwensi diare.
5. Resiko tinggi gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan BB
menurun terus menerus.
6. Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive
BAB V

LOGISTIK

Perencanaan logistik untuk keperluan pendukung penyelenggaraan


pelaksanaan pelayanan rawat inap adalah sebagai berikut :

1. Perencanaan obat dan bahan habis pakai medis


Penanggungjawab : koordinator obat dan dokter penanggungjawab obat
Perencanaan dilakukan sesuai kebutuhan pasien pada bulan Oktober-
Desember untuk tahun berikutnya kepada Dinas Kesehatan bagian
Pelayanan Kesehatan
Rumus perencanaan obat dan bahan habis pakai medis :
A = (B+C+D)-E
A (rencana pengadaan)
B (pemakakaian rata-rata x 12 bulan)
C (stok pengamanan 10-20%)
D (waktu tunggu pengadaan barang)
E (sisa stok)
2. Perencanaan alat kesehatan
Penanggungjawab : koordinator alat kesehatan puskesmas
Perencanaan dilakukan pada bulan Oktober – Desember untuk tahun
berikutnya berdasarkan kebutuhan yang disesuaikan dengan standar
puskesmas rawat jalan.
Adapun rencana perbaikan jika ada alat kesehatan yang rusak diajukan saat
itu juga kepada Dinas Kesehatan bagian Pelayanan Kesehatan

3. Perbaikan gedung dan sarana prasarana pendukung


Untuk maintenance gedung dilakukan secara rutin oleh bagian Sanitasi
puskesmas, begitu juga dengan maintenance sarana prasarana seperti listrik
dan air. Jika gedung memerlukan perbaikan kecil maka perbaikan menjadi
tanggung jawab puskesmas sesuai dana yang tersedia
Jika perbaikan yang diperlukan cukup besar maka puskesmas mengajukan
usulan perbaikan kepada Dinas Kesehatan
BAB VI

KESELAMATAN SASARAN KEGIATAN PELAYANAN KESEHATAN

RAWAT INAP

Pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan harus memperhatikan


keselamatan pasien saat mendapat pelayanan kesehatan yang meliputi enam hal :
1. Ketepatan Identifikasi Pasien
Ketepatan identifikasi dilakukan sejak pasien diterima di unit pendaftaran
hingga mendapatkan obat/tindakan/dirujuk
Ketepatan identifikasi dilakukan dengan menanyakan minimal dua dari empat
identitas pasien yaitu : Nama lengkap, Tanggal lahir, Alamat, Nomor rekam
medis
Identifikasi pasien dilakukan oleh semua petugas kesehatan setiap kali pasien
akan mendapatkan pelayanan seperti saat pasien mendaftar, pasien
dipanggil di poli umum, pasien akan diambil darah, pasien akan dilakukan
operasi minor, pasien akan diberi obat dst
2. Peningkatan Komunikasi yang Efektif
Komunikasi efektif yang dimaksud adalah komunikasi lisan maupun tertulis
yang berhubungan dengan pelayanan kepada pasien
Komunikasi efektif dengan pasien dapat dilakukan dengan memberikan
kalimat tanya terbuka
Komunikasi efektif antar petugas dilakukan dengan pengisian berkas rekam
medis dengan lengkap, benar dan tulisan yang dapat terbaca, begitupun juga
dengan penulisan resep, permintaan konsultasi rujukan internal, permintaan
laboratorium maupun pengisian resume medis saat merujuk pasien
Jika dilakukan konsultasi melalui telepon (misal : dengan petugas pustu)
maka petugas sebaiknya mengulang kembali kalimat hasil konsultasi tersebut
agar tidak terjadi kekeliruan, dan mencatat hasil konsultasi sebagai bukti
3. Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai (Benar Obat, Benar
Dosis, Benar cara pemberian, Benar Waktu Pemberian, Benar Pasien, Benar
Informasi, Benar Dokumentasi )
Petugas poli wajib melakukan pengecekan kembali resep sebelum obat
diserahkan kepada pasien, di antaranya melakukan identifikasi pasien
penerima resep, mengecek jenis obat, dosis, cara pakai serta jumlah obat
yang diberikan
4. Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-Prosedur, Tepat-Pasien Operasi
Sebelum dilakukan operasi dokter mengkonfirmasi kembali lokasi operasi
dengan pasien atau keluarga pasien, serta dilakukan identifikasi pasien
sebelum dilakukan tindakan
5. Pengurangan Resiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
Pengurangan resiko infeksi dilakukan dengan menerapkan kewaspadaan
universal di semua unit pelayanan di puskesmas
6. Pengurangan Resiko Pasien Jatuh
Pengurangan resiko pasien jatuh dilakukan dengan menganalisa bentuk
gedung, lokasi puskesmas, dan dilakukan perbaikan agar resiko pasien jatuh
berkurang, seperti tangga yang terlalu curam diberi pegangan pengaman,
lantai diberi sekat agar tidak terpeleset dsb

Insiden keselamatan pasien adalah setiap kejadian yang tidak disengaja dan
kondisi yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat
dicegah pada pasien, terdiri dari Kejadian Tidak Cedera (KTC), Kejadian Potensial
Cedera (KPC), Kejadian Nyaris Cedera (KNC), Kejadian Tidak Diinginkan (KTD)
1. Kejadian Tidak Cedera (KTC) adalah insiden yang sudah terpapar kepada
pasien tapi tidak menimbulkan cedera
2. Kejadian Potensial Cedera (KPC) adalah kondisi yang sangat berpotensi
menimbulkan cedera, tetapi belum terjadi insiden
3. Kejadian Nyaris Cedera (KNC) adalah terjadinya insiden yang belum
sampai terpapar kepada pasien
4. Kejadian Tidak Diinginkan (KTD) adalah insiden yang mengakibatkan
cedera kepada pasien
Adapun langkah menuju keselamatan pasien di UPT Puskesmas Kemlagi
dilakukan dengan pembentukan Tim Manajemen Mutu Klinis dan Keselamatan
Pasien yang diketuai langsung oleh dokter umum sebagai motor pelaksana
keselamatan pasien di puskesmas. Usaha yang dilakukan terkait dengan kondisi
mencapai tingkat keselamatan pasien yang baik antara lain :
1. Membangun nilai kesadaran bagi seluruh karyawan puskesmas akan nilai
keselamatan pasien
2. Memimpin dan mendukung seluruh karyawan puskesmas untuk menerapkan
program keselamatan pasien
3. Mengidentifikasi kejadian-kejadian yang berhubungan dengan keselamatan
pasien, seperti kejadian tidak cedera (KTC), kejadian potensial cedera (KPC),
kejadian nyaris cedera (KNC), kejadian tidak diinginkan (KTD)
4. Mengembangkan sistem pelaporan KTC, KPC, KNC, KTD
5. Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya
6. Mencegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien
BAB VII

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

7.1 STANDAR PELAYANAN KESEHATAN KERJA DI PUSKESMAS

Bentuk pelayanan kesehatan kerja untuk petugas rawat inap yang perlu
dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja bagi pekerja :


a. Pemeriksaan fisik lengkap
b. Kesegaran jasmani
c. Pemeriksaan penunjang dasar (foto thorax, laboratorium rutin, EKG)
d. Pemeriksaan yang sesuai dengan kebutuhan guna mencegah bahaya
yang diperkirakan timbul khusus untuk pekerjaan tertentu
e. Jika tiga bulan sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh
dokter dan tidak ada keragu-raguan dinyatakan sehat maka tidak perlu
dilakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja
2. Melaksanakan pendidikan dan penyuluhan/pelatihan tentang kesehatan kerja
dan memberikan bantuan kepada pekerja puskesmas dalam penyesuaian diri
baik fisik maupun mental terhadap pekerjanya, di antaranya :
a. Informasi umum puskesmas dan fasilitas atau sarana yang terkait dengan
kesehatan dan keselamatan kerja
b. Informasi tentang resiko dan bahaya khusus di tempat kerjanya
c. SOP kerja, SOP peralatan, SOP penggunaan alat pelindung diri
d. Orientasi kesehatan dan keselamatan kerja di tempat kerja
e. Melaksanakan pendidikan, pelatihan ataupun promosi/penyuluhan
kesehatan kerja secara berkesinambungan sesuai kebutuhan dalam
rangka menciptakan budaya kesehatan dan keselamatan kerja
3. Melakukan pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus sesuai dengan
pajanan di puskesmas :
a. Setiap pekerja di puskesmas wajib mendapatkan pemeriksaan berkala
minimal satu tahun sekali
b. Pemeriksaan khusus disesuaikan dengan jenis dan besar pajanan serta
umur dari pekerja
c. Adapun jenis pemeriksaan khusus yang perlu dilakukan antara lain
sebagai berikut :
- Pemeriksaan kesehatan HbsAg dan HIV untuk pekerja yang
berhubungan dengan darah dan produk tubuh manusia (dokter, dokter
gigi, perawat, perawat gigi, bidan, petugas laboratorium)
- Melakukan upaya preventif (vaksinasi hepatitis B pada pekerja yang
terpajan produk tubuh manusia)
4. Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani) dan kemampuan fisik
karyawan puskesmas
a. Pemberian imunisasi bagi petugas puskesmas
b. Olah raga, senam kesehatan dan rekreasi
c. Pembinaan mental dan rohani
5. Memberikan pengobatan bagi karyawan puskesmas yang menderita sakit
a. Memberikan pengobatan dasar secara gratis kepada seluruh karyawan
puskesmas
b. Memberikan pengobatan dan menanggung biaya pengobatan untuk
karyawan puskesmas yang terkena Penyakit Akibat Kerja (PAK)
c. Menindaklanjuti hasil pemeriksaan kesehatan berkala dan pemeriksaan
kesehatan khusus
d. Melakukan upaya rehabilitasi sesuai penyakit terkait
6. Melakukan pemeriksaan kesehatan khusus pada pekerja puskesmas,
khususnya poli umum dan UGD yang akan pensiun atau pindah kerja
a. Pemeriksaan kesehatan fisik
b. Pemeriksaan laboratorium lengkap, EKG, paru (foto thorax dan fungsi
paru)
7. Melakukan koordinasi dengan Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
mengenai penularan infeksi terhadap karyawan puskesmas dan pasien
a. Pertemuan koordinasi
b. Pembahasan kasus
c. Penanggulangan kejadian infeksi nosokomial
8. Melaksanakan kegiatan surveilans kesehatan kerja
a. Melaksanakan pemetaan (mapping) tempat kerja untuk mengidentifikasi
jenis bahaya dan besarnya resiko
b. Melakukan identifikasi pekerja berdasarkan jenis pekerjaannya, lama
pajanan, dosis pajanan
c. Melakukan analisa hasil pemeriksaan kesehatan berkala dan khusus
d. Melakukan tindak lanjut analisa pemeriksaan kesehatan berkala dan
khusus (dirujuk ke spesialis terkait, rotasi kerja, merekomendasikan
pemberian istirahat kerja)
e. Melakukan pemantauan perkembangan kesehatan karyawan puskesmas
9. Melaksanakan pemantauan lingkungan kerja dan ergonomi yang berkaitan
dengan kesehatan kerja (pemantauan/pengukuran terhadap faktor fisik, kimia,
biologi, psikososial dan ergonomi)
10. Membuat evaluasi, pencatatan dan pelaporan kegiatan kesehatan dan
keselamatan kerja puskesmas yang disampaikan kepada Kepala Puskesmas
dan Dinas Kesehatan

7.2 STANDAR PELAYANAN KESELAMATAN KERJA DI PUSKESMAS

Pada prinsipnya pelayanan keselamatan kerja berkaitan erat dengan sarana,


prasarana dan peralatan kerja. Bentuk pelayanan keselamatan kerja yang dilakukan
:

1. Pembinaan dan pengawasan keselamatan/keamanan sarana, prasarana, dan


peralatan kesehatan :
Lokasi puskesmas memenuhi ketentuan mengenai kesehatan, keselamatan
lingkungan, dan tata ruang, serta sesuai dengan hasil kajian kebutuhan dan
kelayakan penyelenggaraan puskesmas
a. Teknis bangunan puskesmas, sesuai dengan fungsi, kenyamanan dan
kemudahan dalam pemberian pelayanan serta perlindungan dengan
keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak,
dan orang usia lanjut
b. Prasarana harus memenuhi standar pelayanan, keamanan, serta
keselamatan dan kesehatan kerja penyelenggara puskesmas
c. Pengoperasian dan pemeliharaan sarana, prasarana dan peralatan
puskesmas harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai kompetensi di
bidangnya (sertifikasi personil petugas/operator sarana dan prasarana
serta peralatan kesehatan puskesmas)
d. Membuat program pengoperasian, perbaikan dan pemeliharaan rutin dan
berkala sarana dan prasarana serta peralatan kesehatan dan selanjutnya
didokumentasikan dan dievaluasi secara berkala dan berkesinambungan
e. Peralatan kesehatan meliputi peralatan medis dan non medis harus
memenuhi standar pelayanan, persyaratan mutu, keamanan, keselamatan
dan laik pakai
f. Membuat program pengujian dan kalibrasi peralatan kesehatan, peralatan
kesehatan harus diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh Pengujian
Fasilitas Kesehatan dan/atau institusi pengujian fasilitas kesehatan yang
berwenang
g. Melengkapi perizinan dan sertifikasi sarana dan prasarana serta peralatan
kesehatan
2. Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian peralatan kerja terhadap
pekerja :
a. Melakukan identifikasi dan penilaian resiko ergonomi terhadap peralatan
kerja dan karyawan puskesmas
b. Membuat program pelaksanaan kegiatan, mengevaluasi dan
mengendalikan resiko ergonomi
3. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja :
a. Manajemen harus menyediakan dan menyiapkan lingkungan kerja yang
memenuhi syarat fisik, kimia, biologi, ergonomi dan psikososial
b. Pemantauan/pengukuran terhadap faktor fisik, kimia, biologi, ergonomi
dan psikososial secara rutin dan berkala
c. Melakukan evaluasi dan memberikan rekomendasi untuk perbaikan
lingkungan kerja
4. Pembinaan dan pengawasan terhadap sanitasi
Manajemen harus menyediakan, memelihara, mengawasi sarana prasarana
sanitasi yang memenuhi syarat, meliputi :
a. Penyehatan makanan dan minuman
b. Penyehatan air
c. Penyehatan tempat pencucian
d. Penanganan sampah dan limbah
e. Pengendalian serangga dan tikus
f. Sterilisasi/desinfeksi
g. Upaya penyuluhan kesehatan lingkungan
5. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan keselamatan kerja
a. Pembuatan rambu-rambu arah dan tanda-tanda keselamatan
b. Penyediaan peralatan keselamatan kerja dan alat pelindung diri (APD)
c. Membuat SOP peralatan keselamatan kerja dan penggunaan APD
d. Melakukan pembinaan dan pemantauan terhadap keputusan penggunaan
peralatan keselamatan dan APD
6. Pelatihan/penyuluhan keselamatan kerja untuk semua pekerja
a. Sosialisasi dan penyuluhan keselamatan kerja bagi seluruh karyawan
puskesmas
7. Memberi rekomendasi/masukan mengenai perencanaan, pembuatan tempat
kerja dan pemilihan alat serta pengadaannya terkait keselamatan/keamanan
a. Mengevaluasi dan mendokumentasikan kondisi sarana, prasarana dan
peralatan keselamatan kerja dan membuat rekomendasi sesuai dengan
persyaratan yang berlaku serta standar keamanan dan keselamatan
8. Membuat sistem pelaporan kejadian dan tindak lanjutnya
a. Membuat alur pelaporan kejadian nyaris cedera dan cedera petugas
b. Membuat SOP pelaporan, penanganan dan tindak lanjut kejadian nyaris
cedera dan cedera petugas
9. Pembinaan dan pengawasan Sistem Penanggulangan Kebakaran
a. Manajemen menyediakan sarana dan prasarana pencegahan dan
penanggulangan kebakaran
b. Membentuk tim penanggulangan kebakaran
c. Membuat SOP APAR
d. Melakukan sosialisasi dan pelatihan pencegahan dan penanggulangan
kebakaran
e. Melakukan audit internal terhadap sistem pencegahan dan
penanggulangan kebakaran
10. Membuat evaluasi, pencatatan, dan pelaporan kegiatan pelayanan
keselamatan kerja yang disampaikan kepada Kepala Puskesmas dan Dinas
Kesehatan
BAB VIII

PENGENDALIAN MUTU RAWAT INAP

Indikator Mutu Upaya Kesehatan Perorangan telah diatur lebih lengkap dalam
Panduan Mutu puskesmas. Berikut adalah profil serta sasaran mutu rawat inap di
UPT Puskesmas Kemlagi :

JUDUL Tingkat Kejadian Flebhitis


TUJUAN Untuk menghindari kompilkasi akibat flebitis
DEFINISI suatu inflamasi vena yang terjadi akibat tidak berhasilnya
penusukan vena, kontaminasi alat IV dan penggunaan cairan
OPERASIONAL
hipertonik yang tidak
adekuat, yang secara kimiawi dapat mengiritasi vena. jadi tidak
boleh lebih dari 1,5 % dari jumlah pasien
ALASAN DAN Jumlah pasien yang banyak, diperlukan pelayanan petugas yang
IMPLIKASI efektif efisien demi kenyamanan pasien
FORMULA Jumlah pasien Flebitis yang dilayani < 1,5% dalam 1 bulan : Jumlah
seluruh pasien yang flebitis di dalam 1 bulan x 100% = ___%
NUMERATOR Jumlah pasien yang flebitis< 1,5
DENOMINATOR Jumlah seluruh yang flebitis dalam 1 bulan
TARGET < 1,5%
KRITERIA Seluruh pasien yang di pasang infus
INKLUSI
KRITERIA Seluruh Pasienyang mengalamiflebitis
EKSKLUSI
PENCATATAN Setiap hari kerja, oleh petugas jaga rawat inap
REKAPITULASI Setiap bulan, oleh Tim Audit Internal
UNIT
ANALISA & Setiap 6 bulan, oleh Tim Manajemen Mutu dan Kepala Puskesmas
PELAPORAN
FORMAT No Tanggal Jumlah Jumlah pasien Keteranga
PENCATATAN pasien yang mengalami n
yang flebitis < 1,5%
dipasang
infus