Anda di halaman 1dari 7

PTERIGYUM

YUSI RIZKY NOVIANTY


1610211051

DEFINISI
Pterigium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat
degeneratif dan invasif .

Pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah


konjungtiva menuju kornea pada daerah interpalpebra. Diduga bahwa paparan
ultraviolet merupakan salah satu faktor resiko terjadinya pterigium.

Gambarannya seperti sayap klasik (sesuai dengan asal katanya dari bahasa Yunani
pteron) yang artinya sayap kecil.

Pterygium berasal dari bahasa Yunani yaitu “Pteron” yang artinya sayap
(wing). Pterygium didefinisikan sebagai pertumbuhan jaringan fibrovaskuler
pada subkonjungtiva dan tumbuh menginfiltrasi permukaan kornea, umumnya bilateral
di sisi nasal, biasanya berbentuk segitiga dengan kepala/apex menghadap ke sentral
kornea dan basis menghadap lipatan semilunar pada cantus

FAKTOR RESIKO

1. sinar ultraviolet
Lapisan Ozon <<  Sinar UV >> penyakit yg berhubungan dengan mata >>, mis ;
katarak, pterigium, & keratopathy.
Cahaya matari diserap o/ kornea dan konjungtiva kerusakan sel
2. Faktor Herediter

Pterygium diperengaruhi faktor herediter yang diturunkan secara autosomal dominan.

3. Faktor lain
Iritasi kronik atau inflamasi pada area limbus (perifer kornea)  keratitis kronik, limbal
defisiensi dan pterigium.
Debu,kelembaban <<
Trauma kecil/mikrotrauma karena partikel-partikel tertentu seperti asap rokok , pasir
dry eye
Virus papiloma juga diduga dapat menyebabkan pterigium.
PATOGENESIS
UV (MUTAGEN p53 pada limbal basal stem cell) >>  apoptosis << transforming
growth factor-beta >>  kolagenase dan angiogenesis >> pterigyum.
subepitelial fibrovaskular  perubahan degenerasi kolagen dan terlihat jaringan.
proliferasi jaringan vaskular di bawah epitel yang selanjutnya menembus dan merusak
kornea.
Kerusakan pada kornea terdapat pada lapisan membran bowman oleh pertumbuhan
jaringan fibrovaskular, yang sering disertai dengan inflamasi ringan.

Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea.

defisiensi limbal stem cellpembentukan jaringan konjungtiva pada permukaan kornea.

Gejala dari defisiensi limbal :


 pertumbuhan konjungtiva ke kornea
 vaskularisasi
 inflamasi kronis
 kerusakan membran basement
 pertumbuhan jaringan fibrotik.
* Tanda ini juga ditemukan pada pterigium dan karena itu pterigium
merupakan manifestasi dari defisiensi atau disfungsi limbal stem cell.
Kemungkinan akibat sinar ultraviolet terjadi kerusakan limbal stem cell di
daerah interpalpebra. *

GEJALA KLINIS
Pada fase awal, pterigium tidak memberikan keluhan atau hanya menimbulkan keluhan
mata merah, iritatif, dan keluhan kosmetik.

Gangguan terjadi ketika pterigium mencapai daerah pupil atau menyebabkan


astigmatisma.

laki-laki yang bekerja di luar rumah >>.


unilateral atau bilateral.
90% terletak di daerah nasal.
Pterigium yang terletak di nasal dan temporal dapat terjadi secara bersamaan walaupun
pterigium di daerah temporal jarang ditemukan.
Kedua mata sering terlibat tetapi jarang simetris.
Perluasan pterigium dapat sampai ke medial dan lateral limbus sehingga menutupi
sumbu penglihatan yang menyebabkan penglihatan kabur.

TAMPAK ANTERIOR

SKEMA
KLASIFIKASI PTERIGYUM
(berdasarkan perjalanan penyakit)
Progresif pterigium: tebal dan banyak pembuluh darah dengan beberapa infiltrat di
depan kepala pterigium(disebut cap pterigium).
Regresif pterigium: tipis, atrofi, sedikit pembuluh darah. Akhirnya membentuk
membrane, tetapi tidak pernah hilang.

KLASIFIKASI PTERIGYUM
(berdasarkan tampilan klinisnya)
Menurut Fisher(2013):
1. Pasien dengan proliferasi minimal dan tampilan atrofik.

Pterigium pada grup ini tambah lebih datar dan tumbuh.lambat. Memiliki
insidensi kekambuhan yang lebih rendah setelah dieksisi.

2. Pasien dengan riwayat pertumbuhan cepat dan komponen fibrovaskular yang


meninggi secara signifikan.

Pterigium pada grup ini tumbuh lebih cepat dan memiliki tingkat kekambuhan
yang tinggi setelah dieksisi.

KLASIFIKASI PTERIGYUM
{menurut Kanski (2007)}
1. Tipe I: meluas kurang 2 mm dari kornea. Stoker's line atau deposit besi dapat
dijumpai pada epitel kornea dan kepala pterigium. Lesi sering asimptomatis meskipun
sering mengalami inflamasi ringan. Pasien dengan pemakaian lensa kontak dapat
mengalami keluhan lebih cepat.

2. Type II: menutupi kornea sampai 4 mm, bias primer atau rekuren setelah operasi,
berpengaruh dengan tear film dan menimbulkan astigmatisma.

3. Type III: mengenai kornea lebih 4 mm dan mengganggu aksis visual. Lesi yang luas
terutama yang rekuren dapat berhubungan dengan fibrosis subkonjungtiva yang meluas
ke fornik dan biasanya menyebabkan gangguan pergerakan bola mata.

KLASIFIKASI BERDASARKAN +/- pembuluh darah episklera di pterigyum.


1. T1 (atrofi) :pembuluh darah episklera jelas terlihat
2. T2 (intermediet) :pembuluh darah episklera sebagian terlihat
3. T3 (fleshy, opaque) :pembuluh darah tidak jelas terlihat

Klasifikasi berdasarkan derajat pterigium


Derajat 1
Jika pterigium belum melewati limbus, hanya terbatas pada limbus kornea.

Derajat 2
Jika sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2 mm melewati kornea.
Pterigium belum mencapai pupil.

Derajat 3
Sudah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi pinggiran pupilmata dalam
keadaan cahaya normal (pupil dalam keadaan normal sekitar 3–4mm)

Derajat 4
Pertumbuhan pterigium melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan.

DIAGNOSIS
Anamnesis
Pada anamnesis didapatkan keluhan berupa
 mata sering berair dan tampak merah dan mungkin menimbulkan
astigmatisma yang memberikan keluhan berupa gangguan penglihatan.
 rasa panas, gatal atau alasan kosmetik.
Pada kasus berat dapat terjadi diplopia, biasanya penderita mengeluhkan
adanya sesuatu tumbuh di kornea dan kuatir akan adanya keganasan
diplopia.
Pemeriksaan fisik
 Pada inspeksi, pterigium terlihat sebagai jaringan fibrovaskular pada
permukaan konjungtiva.
 Pterigium dapat memberikan gambaran yang vaskular dan tebal tetapi ada
juga pterigium yang avaskular dan datar.

Pemeriksaan penunjang
 topografi kornea : untuk menilai seberapa besar komplikasi berupa
astigmatisma irregular yang disebabkan oleh pterigium.

PENATALAKSANAAN
Konservatif
Penanganan pterygium pada tahap awal adalah berupa tindakann konservatif seperti
penyuluhan pada pasien untuk mengurangi iritasi maupun paparan sinar ultraviolet
dengan menggunakan kacamata anti UV dan pemberian air mata buatan/topical
lubricating drops.
Untuk pterigium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi, pasien dapat diberikan
obat tetes mata kombinasi antibiotik dan steroid 3 kali sehari selama 5-7 hari.
Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada
penderita dengan tekanan intraokular tinggi atau mengalami kelainan pada
kornea (Ilyas, 2011).

Bedah
Tujuan utama pengangkatan pterigium adalah memberikan hasil yang baik
secara kosmetik, mengupayakan komplikasi seminimal mngkin, angka
kekambuhan yang rendah.

Indikasi Operasi
- Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus.
- Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi pupil.
- Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair dan silau karena
astigmatisma.
- Kosmetik, terutama untuk penderita wanita

Adapun indikasi operasi menurut Ziegler dan Guilermo Pico, yaitu:


Menurut Ziegler :
1. Mengganggu visus
2. Mengganggu pergerakan bola mata
3. Berkembang progresif
4. Mendahului suatu operasi intraokuler
5. Kosmetik
Menurut Guilermo Pico :
1. Progresif, resiko rekurensi > luas
2. Mengganggu visus
3. Mengganggu pergerakan bola mata
4. Masalah kosmetik
5. Di depan apeks pterygium terdapat Grey Zone
6. Pada pterygium dan kornea sekitarnya ada nodul pungtat

Terapi Tambahan
untuk mencegah kekambuhan setelah operasi, dikombinasikan pemberian:
 Mitomycin C 0,02% tetes mata (sitostatika) 2x1 tetes/hari selama 5
hari,bersamaan dengan pemberian dexamethasone 0,1% 4x1 tetes/hari
kemudian tappering off sampai 6 minggu.
 Mitomycin C 0,04% (0,4 mg/ml) 4x1 tetes/hari selama 14 hari, diberikan
bersamaan dengan salep mata dexamethasone.

**Penggunaan mitomycin C (MMC) sebaiknya hanya pada kasus pterigium yang


rekuren, mengingat komplikasi dari pemakaian MMC juga cukup berat (Bag.
SMF Ilmu Penyakit Mata, 2007).
Namun, dosis minimal yang aman dan efektif belum ditemukan . Ada dua bentuk
MMC yang saat ini digunakan,yaitu aplikasi intraoperatif MMC langsung ke
sklera setelah eksisi pterigium, dan penggunaan obat tetes mata MMC topikal
setelah operasi.

Komplikasi
Pra-operatif:
- Astigmat
- Mata merah
- Iritasi
- Scar (parut) kronis pada konjungtiva dan kornea
- Pada pasien yang belum eksisi,scarpada otot rectus medial yang dapat menyebabkan
diplopia

Intra-operatif:
Nyeri, iritasi, kemerahan, graft oedema, corneoscleral dellen (thinning), dan
perdarahan subkonjungtival dapat terjadi akibat tindakan eksisi dengan conjunctival
autografting, namun komplikasi ini secara umum bersifat sementara dan tidak
mengancam penglihatan.

.
Pasca-operatif:
- Infeksi,reaksi bahan jahitan (benang),diplopia,scar kornea,konjungtiva graft
longgar,dan komplikasi yang jarang termasuk perforasi bola mata, vitreous hemmorage
- Penggunaan mytomicin C setelah operasi dapat menyebabkan ektasia atau nekrosis
pada sklera dan kornea.
- Kekambuhan berulang
Komplikasi jangka panjang setelah operasi pterigium, yaitu:
- Penipisan kornea atau sklera.
- Beberapa kasus ,penggunaan MMC topikal sebagai terapi tambahan dan setelah
operasi pterigium menyebabkan kelainan seperti mencairnya sklera dan atau kornea

Komplikasi yang paling umum dari pterigium adalah kekambuhan setelah operasi
PROGNOSIS
Penglihatan dan kosmetik setelah dieksisi adalah baik (Zaki, 2011).
Rasa tidak nyaman pada hari pertama setelah operasi dapat ditoleransi,kebanyakan
pasien setelah 48 jam setelah operasi dapat beraktivitas kembali.
Pasien dengan pterigium berulang dapat dilakukan eksisi ulang dan graft dengan
konjungtiva autograft atau transplantasi membran amnion.
Sebaiknya dilakukan penyinaran dengan strontium yang mengeluarkan sinar beta, dan
apabila residif maka dapat dilakukan pembedahan untuk mencegah kekambuhan
pterigium (sekitar 50-80%).
Pada beberapa kasus pterigium dapat berkembang menjadi degenerasi ke arah
keganasan jaringan epitel (Salomon,2006).

Pencegahan

Pasien dengan risiko tinggi timbulnya pterigium seperti riwayat keluarga mengalami
pterigium atau penduduk di daerah tropik yang bekerja di luar rumah seperti petani
yang banyak kontak dengan debu dan UV disarankan memakai topi yang memiliki
pinggiran, dan menggunakan kacamata sunblock dan mengurangi terpapar dengan
sinar matahari (Zaki, 2011).
Daftar Pustaka
Riordan, Paul. Dan Witcher, John. Vaughan & Asbury’s Oftalmologi Umum:edisi 17.
Jakarta : EGC. 2010. Hal 119.
Ilyas, Sidharta. Ilmu Penyakit Mata edisi 6. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2006.p.2-7,117.
Laszuarni. Prevalensi Pterygium di Kabupaten Langkat. Tesis Dokter Spesialis Mata.
Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2009.
Jerome P Fisher, Pterygium. [online]. 2011 [cited 2011 October
23]http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview