Anda di halaman 1dari 8

ANATOMI REPRODUKSI JANTAN

Menurut Toelihere (1993), organ reproduksi hewan jantan dapat dibagi menjadi
tiga
1. Organ kelamin primer, yaitu gonad jantan dinamakan testis atau testiculus,
jamak testes atau testiculae disebut juga orchis atau didymos
2. Sekelompook kelenjar kelamin pelengkap, yaitu kelenjar vesicularis,prostat
dan cowper, dan saluran-saluran yang terdiri dari epididymis dan vas
deferen
3. Alat kelamin luar atau organ kopulatoris yaitu penis

TESTES
Spermatozoa atau gamet jantan dihasilkan oleh sepasang testes dimana pada
hampir sebagian besar golongan hewan domestic tergantung di luar tubuh. Testes
terletak pada daerah prepubis, terbungkus dalam kantong skrotum dan digantung oleh
feniculus spermaticus yang mengandung unsur-unsur yang terbawa oleh testes dalam
perpindahanya dari cavum abdominalis melalui canalis inguinalis ke dalam scrotum.
Testes sebagai organ kelamin primer mempunyai dua fungsi yaitu a)
menghasilkan spermatozoa atau sel kelamin jantan, dan b) mensekresikan hormon
kelamn jantan yaitu testosteron
Testis adalah suatu organ yang aktif dan menghasilkan swjumlah besar
spermatozoa setiap harinya. Kira-kira 90 persen isis testis terdiri dari beratus ratus
meter tubulus yang sangat kecil. Tubulus ini berhubngan satu sama lain.sepuluh persen
sisanya dari seluruh isi testis terdiri dari jaringan ikat,pembuluh-pembuluh darah dan
sel sel penghasil hormone penting yang disebut sel leydig. Hormone jantan atau
androgen dihasilkan oleh sel ini yang berfungsi mengontrol tingkah laku jantan atau
fungsi kelamin pejantan. Mwskipun diprodksi dalam jumlah yang sedikit sekali,
sekresinya langsung di curahkan ke dalam aliran darah sehingga hormone tersebut
dapat secara langung memppengaruhi seluruh bagian tubuh hewan. Androgen yang
ummnya dsebut testosterone jugamempengaruhi perkembangan proses fisiologis,
perkembangan hewan-hewan muda. Tanpa adanya hormone ini tingkah laku seksual
hewan muda tidak akan timbul. Oleh karena itu bila testis dihiilangkan pada saat hewan
masih muda, ia tidak akan berkembang sebagai hewan jantan seringkali bertingkah
seperti hewan betina sebab terjai kegagalan pada perkembangan kelamin sekundernya.
Sedangkan apabila hewan dikebiri pada saat hewan dewasa, hal ini hanya akan
menyebabkan sedikit perubahan pada penampilanya, sebab sifat keelamin sekunder
ataupun tingkah laku seksualnya tempakanya tidak menurun. selain itu, bila pada
hewan jantan dilakukan kastrasi pada saat segera setelah dilahirkan, maka umumnya
hewab jantan tersebut akan memperlhatkan tingkah laku seperti hewan bila disuntik
testoteron secara rutn. Hal seperti ini dapat pula terjadi pada hewan betina, tingkah laku
Tersebut dapat timbul paling sedikit 14 hari setelah permulaam penyunikan
testosterone tersebut. Dalam aktvitas seksual, mempengaruhi berlangsungnyaa proses
reprduksi, tetapi untuk memelihara sifat-sifat ini secara terus-menerus peranan hrmon
tidak selalu harus ada. Penyuntikan hormone jantan seperti testoteron dianggap umum
akan meningkatkan aktivitas seksualnya (Lindsay et al.,1982).
Sperma dihsilkan di dalam tubuli seminiferous atas pengaruh FSH (flicle
Stimulating Homone), sedangkan testosterone diproduksi oleh sel-sel interstitial dan
leydig atas pengaruh ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone).

EPIDIDIMIS
ductus afferent pada akhirnya berasatu mebentuk saluran tunggal yang disebut
epididymis. Tiap testis mempunyai satu epididimys (Lindsay et al.,1982). Epididymis
adalah suatu struktur memanjang yang bertaut yang bertaut rapat dengan testis. Ia
mengandung ductus epididymis yang sangat berliku-liku, dan mencapai panjang lebih
dari 40 meter pada jantan dewasa dan kurang lebih 80 meter pada kuda. Epididymis
dapat dibagi atas tiga bagian, yaitu kepala, badan, dan ekor. Kepala (caput epididymis),
membentuk suatu penonjolan dasar dan agak membentuk mangkok yang dimulai dari
ujung proksimal testis. Umumnya ia berbentuk U, berbeda beda beda ukuranya dan
menutupi saluran satu per tiga dari bagian depan testis. Melalui serosa, saluran
epidymis tersusun dalam lobuli dan gandung ductui efferentes testis. Saluran tersebut
terakhir yang menghubungkan rete testis dengan saluran epididymis berjumlah 13
sampai 15 buah. Dekat jung proksmal testis, caput epdidymisnya menjasi pipih dan
bersambung ke badan (corpus epididymis) yang langsing dan berjalan distal sepanjang
tepi posterior testis. Pada ujung distal testis, corpus menjelma menjadi cauda
epididymis, yang pada sapi dewasa mencapai ukuran sebasar ujung ibu jari dan agak
berayun dalam kedudukanya. Di dekat ligamentum testis, saluran epididymis menjadi
lebih kasar dan pada pelipatanya sekeliling ligamen, bersambung ke proksimal sebagai
ductus deferens (toelihere, 1993)

Gambar

Epididymis mempunyai empat fungsi utama, yaitu pengangkutan atau


transportasi, konsentrasi atau pengentalan, maturase dan pentimpanan spermatozoa
.
Pengangkutan (transportasi) spermatozoa
Spermatozoa diangkut dari rete testis ke ductuli efferents testis dibantu oleh
cilia yang bergerak aktif memukul ke arah luar pada sel bersilia dan ooleh gerakan-
gerakan peristaltikk muskulator dindingnya. Pengangkutan sperma dari epithel
kecambah sapai cauda epididymis memakan waktu 7 sampai 9 hari pada sapi jantan
tergantung pada frekuensi ejakulasi.
Konsentrasi (pengentalan) sspermatozoa
Dari suspensi sperma encer yang bersal dari testis dengan konsentrasi 25.000
sampai 350.000 el per mm3 , air direapsorbsi ke dalam sel sel epithel selama
perjalananya melalui epididymis, terutama pada caput, dan ketika mecapai cauda
konsetrasisuspensi sperma menjadi 4.000.000 sel atau lebih per mm3 atau 4x109 sel
per ml

Gambarrrrrrrr

Maturasi (pematangan) apermatozoa


Spermatozoa menjasi matang di dalam epididymis dan sisa sitoplasma
(cytoplasmic droplet) berpindah dari pangkal kepala (proximal droplet) ke ujung
bawah bagian tengah spermatozoa (distal droplet). Pematangan atau maturase
spermatozoa mungkin sicpai atas pengaruh sekeresi dari sel-sel epithel. Pada sapi
jantan perpindahan btiran sitoplasma hanya terjadi di dalam caput epididymis, sehingga
di dalam cauda praktis semua spermazoa mempunyai butiran sitoplasma pada posisi
distal (Toellihere, 1993).
Spermatozoa yang berasal dari bagian cauda epididymis telah memiliki
kemampuan membuahi oosit yang sama baiknya dengan spermatozoa hasil ejakulasi
(Hafez, 1987). Hal ini disebabakan karena spermatozoa yang ada di bagian cauda telah
melewat proses pematangan di bagian caput dan corpus epididymis serta sudah
memiliki kemampuan bergerak (motil) dan mebuahi oosit yang sama dengan
spermatozoa hasil ejakulasi (Axner et al., 1999). Proses pematangan ditandai oleh
berpindahnya butiran sitoplasma (cytoplasmic droplet) dari bagian proksimal ke distal
ekor atau hilang sama sekali dari ekor spermatozoa (Toliehere, 1993).

Upaya pengelolahan spermatozoa yang dikoleksi dari cauda epididymis dalam


bentuk semen cair dan beku untuk keperluan aplikasi berbgai teknlogi reproduksi,
menjadi metode alternative yang dapat dapat diterapkan pada ternak atau hewan yang
memiliki kualitas genetic unggul tapi tidak dapat ditanggung semenya karena berbagai
alasan, seperti tidak bersedia melayani vagina buatan ,tidak memberikan respon
terhadap elektro ejakulator dan masase, pincang, atau sebab-sebab lain yang
menyebabkan hewan tersebut tidak mau melakukan aktifitas kawin secara normal.
Paya ni juga dapat membantu dalam upaya menyelamatkan plasma nutfah atau hewan
ternak tatau hewan jantan yang mati secara mendadak, serta terhadap satawa langkah
yang sedang di tangkarkan. Tetapi tidak dapat melakukan aktifitas kawin secara normal
karrena kondisi tempat penangkaran yang tidak sesuai dengan kondisi habitat aslinya.
(Rizal et al.,2004)

Penyimpanan spermatozoa

Cauda epididymis merupakan tempat penyimpanan spermatozoa. Konsentrasi


spermatozoa sangatn tinggi dan lumen ductus tersebut relative lebih luas. Oleh karena
itu, tidaklah mengherankan bahwa setengah dari jumlah spermatozoa disimpan
didalam cauda yang mebentuk sperempat dari panjang saluran epididymis. Kondisi
dalam epididymis adalah optimal untuk mempertahankan kehidupan spermatozoa yang
berada dalam keadaan metabolism sangat minim. Sesidah istirahat kelamin yang sangat
lama, ejakula tejakulat pertama mungkin mengandung spermatozoa yang tidak fertile.
Pelepasan selubung acrosome adalah suatu perubahan yang pertama yang terlihat pada
spermatozoa sesudah istiraha kelamin yang lam. (Toeliher.,1993)
Skrotum

Testis pada semua ternak dewasa terdapat di suatu kantong di bagian luar,
skrotum terdiri dari kulit yang tidak berbulu dan mengandung banyak kelenjar kerngat
dan kelenjar sebaseous yang besar.garis pertemuan kulit yang berada di bagian tengah
dan membatasi bagian kra dan kanan disebut raphe scroti dibawahkulit terdapat tunica
dartos, suatu selubn yang terdiri dari jaringan fibroelastik dan otot licin. D bagian
tengah sepanjang raphe scroti ia membentuk septum scroti yang memisahkan scrotum
dalam dua kanting ang terpisah. Lapisan berikutnya adalah tunica vagnalis communis,
suatu fascia scrotalis tebal berwarna putih yang mengelilingi kedua tengahan skrotum
secara terpisah, dana dibagian tengah diselubungi oleh lapisan parietal, procesus
vsginalis, suatu evaginasi dari peritoneum.

Skrotum dengan otot oto licinya lapisan, lapisan fibrosa dan kulit berfungsi
menunjang dan melindung testis dan mempertahankan suh yang lebih rendah daripada
suhu badan ang diperlukan untuk spermatogenesis (Toeliher.,1993). Suhu testis
50celcius atau 60 dibawah suhu tubuh. Terdapat mekanisme yang berbeda yangbekerja
scara terpisah sehingga pengaturan suhu tersebut dapat berhasil. Pada suhu dingin, otot
cremaster dapat menarik skrtum sehingga mendekati tubuh, sehinggga suhu testes
dapat dipertahankan hangat. Pada suhu panas, otot tersebt mengendur dan testes turun
menjauhi tubuh, sehingga memungkinkan pelepasan, panas hingga suhu testes menjadi
lebih dingin. Otot yang lain, yaitu tunica dartos yang mengelilingi kulit skrotum dapat
mengerut dan mengendrkan permukaan skrotum dan hal ini akan memperluas
permukaan skrotum sehingga, mempengaruhi kecepatan hilangnya panas. Pada hampi
semua golongan hewan pada kulit skrotum mempunyai kelnjar keringat yang
berkembang sangat baik dan mempunya peranan penting dalam proses diatas. Pada
udara panas pengeluaran keringat ini membantu secara nyata pendinginan testes
melalui penguapan. System pendinginan lain yangd dapat membantu dalam
mempertahankan konstatnya suhu teste adalah dengan jalan pertukaran panas antara
darah dari arteri yang menuju testes dan darah dari vena yangeninggalkan testes.
Mekanisme inni diatur oleh pleksus pampiniformis, diamana vena dan arteri saling
menjalani secara kompleks dengan darah dalam vena yang meninggalkan testes
menuju ke tubuh untk mendinginkan darah arteri yang menuju testes. oleh karena itu,
sedkit energidikeluarkan dalam mempertahankan suhu normal dalam testes.

Apabila satu atau semua system pengaturan panas tersebut oleh suatu sebab rusak
dan suhu skrotum mendekati suhu tubuh maka hewan akan menadi infertile.
Pengaturan suhu dalam testes dapat macet jika dalam kulit skrotum ada kelainan seperti
luka-luka dan sebagainya. Reaksi tubuh terhadap luka luka tersebut akan meningkatkan
ke aliran darah ke daerah itu. Apabila aliran ini cukup besar maka pertukaran panas
dari aliran darah tidak berfungsi secar efisien lagi sehingga suhu testes meningkat dan
hewan menjadi infertile. Mekanisme lain yang cukup penting dalam pendinginan suhu
testes adalah penyesuaian tingkah laku dari hewan terhadap lingkungan.

VAS DEFERENS

Vas deferens atau ductus deferens mengangkut spematzoa dari cauda epididymis
ke urethra. Dinding yang mengandung otot-otot licn yang penting dalam mekanisasi
pengangkutna semen waktu ejakulasi

GLANDULA VESICULARIS

Kelenjar vesicularis dahulu disebut vesicula seminalis karena disangka


reservoir semen. Sekeresi kelenjar vescularis meruppakan cairan keruh dan lengket
yang mengandung kalium asam sistrat, fruktosa dan beberapa enxym yang
konsentrasinya tinggi, kadang kadang berwana kuning karena mengandung Flavin.