Anda di halaman 1dari 16

MODUL IV

MATA KULIAH BIOLOGI DASAR

a. Identitas Mata Kuliah


Mata Kuliah : Biologi Dasar
SKS/Kode Mata Kuliah : 3/18Y02111103
Semester : I (Ganjil) atau II (Genap)
Program Studi : Biologi
Mata Kuliah Prasyarat : -
Tim Dosen : Drs. Ambeng, M.Si dan Tim Dosen Biologi

b. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) :


Setelah mengikuti mata kuliah Biologi Dasar, mahasiswa mampu menjelaskan konsep
dasar pada organisme, dan interaksi organisme dengan lingkungan sertaevolusinya
sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat dijadikan dasar pengembangan di
departemennya masing-masing.

c. Judul Pokok Bahasan


Metabolisme Sel: Anabolisme

d. Metode Pembelajaran
 Luring (Off line) : Bentuk Kuliah, Metode Ceramah, Diskusi Interaktif dan
Praktikum.
 Daring (On line) : Tugas-tugas (LMS Modul 3)

e. Sub Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (Sub-CPMK):


Setelah mengikuti proses pebelajaran Metabolisme Sel: Anabolisme, mahasiswa
mampu menjelaskan Biosintesis lemak, Biosintesis asam amino dan Fotosintesis.

f. Perilaku Awal/ Entry Behavior


1. Mahasiswa telah membuat rangkuman mengenai Anabolisme.
2. Mahasiswa yang akan melakukan presentasi telah membuat materi dalam bentuk
Powerpoint.

g. Dosen Pengampu Pokok Bahasan


Drs. Ambeng, M.Si

h. Urutan Pembahasan
Pendahuluan secara berurutan akan meliputi
 Anabolisme
 Biosintesis lemak
 Biosintesis asam amino

IV-1
 Fotosintesis

i. Uraian Materi
Metabolisme meliputi semua reaksi kimia yang terjadi di dalam makhluk hidup, mulai dari
makhluk bersel satu yang sangat sederhana seperti bakteri, protozoa, jamur, tumbuhan, hewan sampai
kepada manusia yang susunan tubuhnya sangat kompleks. Di dalam proses ini makhluk hidup
mendapat, mengubah dan memakai senyawa kimia dari sekitarnya untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya.

Pada metabolisme selular bahan dan energi diperoleh dari lingkungannya yang
berbentuk cairan (cairan ekstra seluler). Cairan ekstraseluler terdiri dari ion dan gas yaitu :

1. Bentuk gas yaitu O2 dan CO2.


2. Bentuk ion anorganik yaitu Na2+, Cl2-, dan lain-lain.
3. Bentuk senyawa organik yaitu nutrisi (karbohidrat, lemak, dan protein) dan
vitamin.
4. Hormon

Bahan-bahan yang terdapat dalam cairan ekstra sel dapat digunakan sebagai bahan
baku untuk mensintesis glukosa, asam lemak, gliserol dan asam amino yang kemudian unit
tersebut disusun menjadi makromolekul seperti polisakarida, lipid, protein dan asam nukleat.

Proses metabolisme yang melalui serangkaian reaksi kimia yang dilakukan oleh sel
hanya dapat berlangsung oleh adanya suatu biokatalisator yang disebut enzim. Enzim dapat
mempercepat reaksi tanpa mengalami perubahan struktur kimia. Cara kerja enzim dikenal ada
dua yaitu :

1. Model kunci gembok (Lock And Key)

Enzim dimisalkan sebagai gembok karena memiliki sebuah bagian kecil yang dapat
berikatan dengan substrat, yang disebut sebagai situs aktif. Sedangkan substrat
dimisalkan sebagai kunci karena dapat berikatan secara pas dengan situs aktif enzim.

2. Induksi pas (Induced Fit)


Pada model ini, situs aktif enzim dapat berubah bentuk sesuai dengan bentuk substrat.
Metabolisme digolongkan dalam dua kelompok besar yaitu :
i. Katabolisme,
ii. Anabolisme,
IV-2
iii.
ANABOLISME
Jika proses katabolisme melepaskan energi, maka proses anabolisme memerlukan
energi. Energi yang dilepas katabolisme dalam bentuk ATP kemudian dimanfaatkan dalam
anabolisme.

Contoh proses anabolisme adalah :

1. Sintesa lipid
2. Pembentukan dan penggabungan asam-asam amino untuk sintesa protein
3. Proses fotosintesis
Sintesa lemak, penggabungan asam-asam amino untuk sintesa protein dan proses
fotosintesis menghasilkan glukosa semuanya memerlukan ATP yang berasal dari proses
katabolisme. Hasil-hasil metabolisme ini berguna untuk menunjang kelangsungan kehidupan
suatu organisme, misalnya lemak dan protein berguna sebagai makanan cadangan. Senyawa
protein, protein-karbohidrat dan protein-lipid merupakan komponen struktural yang esensial
dari organisme baik ekstra sel maupun intra sel. Bila laju sintesis bahan-bahan ini
berlangsung lebih cepat dari perombakannya maka organisme dikatakan sedang bertumbuh.

BIOSINTESIS LEMAK
Lemak terdapat dalam semua bagian tubuh manusia terutama dalam otak, sebagai
komponen utama membran sel, kelincahan gerak organisme serta bentuk pada tubuh kita
semuanya bergantung pada pengorganisasian lemak.

Lemak dan minyak terdiri atas asam lemak berantai panjang yang teresterifikasi oleh
gugus karboksilnya ke hidroksil dari gliserol. Pada lemak dan minyak ketiga gugus hidroksil
gliserol diesterifikasi dan senyawa ini disebut trigliserida (Gambar 3.5).

Lemak pada suhu ruang berbentuk padat biasanya mengandung asam lemak dengan
16 atau 18 atom karbon. Minyak pada suhu ruang berbentuk cair mempunyai asam lemak
dengan 16 atau 18 karbon, tetapi biasanya asam lemak tersebut mengandung satu hingga tiga
ikatan rangkap. Contoh minyak tumbuhan yang penting dalam perdagangan adalah yang
berasal dari biji jagung, kacang tanah dan kacang kedelai. Semua minyak itu terutama
mengandung asam lemak dengan 18 atom karbon termasuk asam oleat dengan satu ikatan
rangkap, dan asam linoleat dengan dua ikatan rangkap. Kedua asam lemak ini diperkirakan

IV-3
adalah asam lemak terbanyak yang terdapat dalam biji, sedang asam linoleat dengan tiga
ikatan rangkap merupakan asam lemak yang terbanyak terdapat dalam daun.

Asam lemak jenuh yang banyak terdapat adalah asam palmitat dengan 16 karbon dan
asam stearat dengan 18 karbon. Lemak kelapa juga banyak mengandung asam laurat, asam
lemak jenuh dengan 12 atom karbon. Baik lemak tumbuhan maupun lemak hewan sering
mengandung asam lemak jenuh pada posisi terminal 1 dan 3 dari gliserol dan asam lemak
tidak jenuh melekat pada posisi tengah (Gambar 3.6).

Sebagian besar biji mengandung lemak dan minyak sebagai cadangan makanan Pada
tubuh manusia jaringan lemak sangat sedikit pada bibir, telinga. Berbeda dengan karbohidrat,
lemak/minyak mengandung sejumlah besar karbon dan hidrogen dibandingkan dengan
oksigen, dan jika lemak/minyak diuraikan relatif lebih banyak oksigen digunakan. Akibatnya,
banyak ATP dihasilkan. Jadi, lebih banyak energi kimia yang dapat disimpan dalam suatu
volume kecil lemak/minyak dari pada dalam karbohidrat dengan volume yang sama.

(A)

(B)

Gambar 3.5. A. Struktur gliserol dan asam lemak; B. struktur trigliserida (gabungan 3 asam
lemak dengan gliserol)

IV-4
Gambar 3.6. Asam lemak jenuh (saturated fat) dan tak jenuh (unsaturated)

Sintesis lemak dan minyak dibagi dalam tiga bagian, yaitu pembentukan gliserol, sintesis
asam lemak dan penggabungan gliserol dengan asam lemak.

1. Pembentukan Gliserol
Gliserol terbentuk dari senyawa perantara glikolisis, yaitu dihidroksiaseton fosfat
yang akan direduksi oleh NADH2 membentuk α-gliserofosfat, sebagai berikut :

Gliserofosfat
Dihidroksi aseton fosfat + NADH2 α-gliserofosfat + NAD
dehidrogenase

Senyawa gliserofosfat inilah menyediakan unit gliserol yang terdapat dalam lemak dan
minyak (Gambar 3.5).

2. Sintesis Asam Lemak Jenuh


Mengingat bahwa hampir semua asam lemak berantai panjang terdiri atas atom
karbon berjumlah genap, maka diperkirakan bahwa asam lemak dibangun dari penambahan
berulang suatu unit berkarbon dua (2C). Mula-mula dianggap bahwa unit berkarbon dua itu
adalah asetil S-KoA. Tetapi ternyata malonil-SKoA merupakan donor karbon yang utama
bagi sintesis asam lemak dan bukan asetil-SKoA.

Sintesis asam lemak berkarbon empat dari asetil-SKoA adalah sebagai berikut ; Mula-
mula malonil-SKoA akan berkondensasi dengan asetil-SKoA. Tetapi sebelum berkondensasi,
gugus asetil dan gugus malonil (gugus asil) harus dipindahkan dahulu ke suatu protein khusus
yang disebut protein pembawa asil/ACP (acyl carrier protein). Setelah dipindakan ke ACP
baru gugus asetil dan gugus malonil berkondensasi. Setiap kali gugus asetil dan gugus
malonil berkondensasi, satu molekul CO2 yang semula diikatnya akan dibebaskan. Dengan
menambahkan malonil-SACP kepada butiril-SACP akan diperoleh suatu asil-SACP

IV-5
berkarbon 6. Demikian seterusnya setiap kali ditambahkan malonil-SACP (malonil-SKoA)
sehingga diperoleh asam lemak yang diinginkan (Gambar 3.7). Reaksi keseluruhan sintesis
asam palmitat, asam lemak jenuh dengan 16 C adalah sebagai berikut :

Asetil-SKoA + 7 malonil-SKoA + 14 NADPH2 Asam palmitat + 7 CO2 + 8 KoASH + 14


NADH + 6 H2O

IV-6
Asetil-SKoA Malonil-SKoA
ACPSH ACPSH

KoASH KoASH

Asetil-SACP Malonil-SACP

ACPSH CO2

Asetoasetil-SACP
NADPH2

NADP

-OH-Butiril-SACP

H2O

Trans-Krotonat-SACP
NADPH2

NADP

Butiril-SACP
KoASH

ACPSH

Butiril-SKoA
H2O

KoASH

Asam Butirat

Gambar 3.7. Sintesis Asam Butirat (4C) dari Asetil-SKoA (2C)

IV-7
3. Penggabungan Gliserol dengan Asam Lemak
Tahap akhir sintesis lemak adalah penggabungan α-gliserol fosfat dengan tiga
molekul asam lemak-SACP/KoASH membentuk trigliserida (Gambar 3.5). Setelah asam
lemak disintesis menurut reaksi yang telah diuraikan, asam lemak bebas tidak menumpuk
dalam sel tetapi segera bereaksi dengan gliserol fosfat membentuk lemak/minyak. Pada
waktu reaksi terjadi asam lemak masih tetap berikatan dengan –SACP atau –SkoA. Reaksi
penggabungan tersebut adalah sebagai berikut :

BIOSINTESIS ASAM AMINO PADA UMUMNYA


Protein merupakan komponen utama dalam semua sel hidup. Fungsinya sebagai
pembentuk struktur sel, misalnya dalam rambut, wol, kolagen, jaringan penghubung,
membran sel.. Selain itu dapat pula berfungsi sebagai protein aktif seperti misalnya enzim,
hormon, antibodi dan lain-lain.

Protein umumnya terdiri atas 20 macam asam amino. Asam amino berikatan satu
sama lain dalam urutan yang bervariasi membentuk suatu rantai polipeptida. Asam amino
disintesis menurut dua cara yaitu reaksi aminasi reduksi dan reaksi trans aminasi.

4. Reaksi Aminasi Reduksi

IV-8
Sintesis asam amino asam glutamat merupakan reaksi aminasi reduksi. Berikut ini
akan ditunjukkan sintesis asam amino asam aspartat dan alanin masing-masing dari asam
oksaloasetat dan asam piruvat dengan cara aminasi reduksi.

Asam oksaloasetat + NH4+ + NADH2 Asam aspartat Asam aspartat + NAD + H2O
dehidrogenase

5. Reaksi Transminasi
Glutamat memindahkan gugus aminonya langsung ke berbagai asam α-keto dalam
reaksi transminasi (glutamat berlaku sebagai donor gugus amino). Contoh transminasi adalah
pemindahan gugus amino antara glutamat dan oksaloasetat, menghasilkan α-ketoglutarat dan
aspartat, seperti terlihat di bawah ini.

Asam glutamat + asam oksaloasetat Asam -ketoglutarat + asam aspartat

Transminasi ini dapat balik. Beberapa asam amino selain asam glutamat dapat
memindahkan gugus aminonya kepada asam -keto lain membentuk asam amino yang
berbeda.

FOTOSINTESIS
Suatu sifat fisiologi yang hanya dimiliki oleh tanaman berhijau daun ialah
kemampuan menyerap energi matahari dan mengubahnya menjadi energi kimia melalui
proses yang dikenal dengan fotosintesis.

Tempat berlangsungnya fotosintesis pada daun dalam organel yang disebut plastida.
Organel yang mengandung klorofil disebut kloroplas (Gambar 3.8). Fotosintesis adalah salah
satu bagian dari proses anabolisme yang hanya dapat berlangsung jika ada cukup cahaya.
Dalam proses fotosintesis CO2 dan air diubah menjadi karbohidrat dan O2 yang dilepaskan ke
atmosfir. Karbohidrat sederhana yang dihasilkan fotosintesis melalui proses anabolisme
selanjutnya diubah menjadi protein, lemak, asam nukleat dan molekul organik lainnya.

Molekul-molekul organik tersebut bermanfaat dalam pembentukan akar, batang, daun,


umbi, jaringan dan sistem organ lainnya. Bagian lain yang termasuk dalam proses anabolisme
adalah kemosintesis. Proses kemosintesis ini dapat berlangsung tanpa adanya sinar matahari.
Contohnya asimilasi nitrogen.

IV-9
Asimilasi nitrogen ini merupakan langkah awal dalam proses pembentukan protein,
dan protein tidak dapat disusun tanpa adanya hasil fotosintesis. Oleh karena itu fotosintesis
merupakan kegiatan pokok.

Gambar 3.8. Tempat fotosintesis dalam tanaman. Daun adalah tempat proses fotosintesis
berlangsung. Pertukaran gas antara mesofil dan atmosfir melalui stomata.
Kloroplas banyak ditemukan dalam mesofil dilapisi oleh dua membran yang
membungkus stroma. Membran tilakoid memisahkan stroma dari ruang
tilakoid. Tilakoid terkonsentrasi pada grana.

6. Energi Cahaya dan Klorofil


Produksi senyawa organik oleh fotosintesis tergantung dari tersedianya mineral,
cukup tersedianya air dan CO2, suhu yang sesuai, energi radiasi dan ada tidaknya senyawa
toksik di sekitar tumbuhan. Faktor-faktor tersebut merupakan bagian dari lingkungan yang
mempunyai keragaman yang cukup besar, sehingga menimbulkan produktivitas yang
berbeda. Faktor dalam seperti jenis pigmen, tingkat enzim dan derajat organisasi dan organ
fotosintetik juga mempengaruhi produktivitas. Menjadi permasalahan berapa besar dari
energi radiasi matahari yang menyinari tumbuhan dapat dikonversikan menjadi senyawa
organik.

Klorofil adalah suatu pigmen karena mampu menyerap cahaya berupa radiasi
elektromagnetik pada spektrum kasat mata (visible). Misalnya cahaya matahari mengandung
semua warna spektrum kasat mata dari merah sampai violet. Tetapi seluruh panjang
gelombang unsurnya tidak diserap dengan baik secara merata oleh klorofil.

IV-10
Dalam proses fotosintesis tumbuhan hanya dapat memanfaatkan sinar dengan panjang
gelombang antara 400-700 nm. Dengan demikian hanya relatif kecil dari energi radiasi yang
sampai di permukaan bumi yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan.

Klorofil a dan b paling kuat menyerap cahaya di bagian merah (600-700 nm). Cahaya
hijau (500-600 nm) adalah yang paling sedikit diserap. Karotenoid juga menyerap cahaya
pada daerah yang berwarna biru dari spektrum tersebut. Karotenoid merupakan pigmen
dominan pada bunga dan buah. Pada daun adanya karotenoid sering ditutupi oleh klorofil
yang jauh lebih banyak.

Gambar 3.9. Spektrum radiasi elektromagnetik

Karotenoid ternyata berperan membantu mengabsorbsi cahaya sehingga dapat dipakai


bagian lebih besar dari spektrum matahari. Energi yang diserap oleh karotenoid diteruskan
kepada klorofil a untuk diserap digunakan dalam fotosintesis, demikian halnya dengan
klorofil b. Faktor lain yang menjadi pembatas produktivitas tumbuhan adalah kadar CO2 pada
atmosfir rendah.

7. Karbon Dioksida dan Air


Persamaan untuk fotosintesis

Sinar matahari
6 CO2 + 6 H2O C6H12O6 + 6 O2
klorofil

Reaksi fotosintesis tersebut melibatkan dua proses yang amat berbeda. Banyak para
ahli telah melakukan penelitian, diantaranya adalah F.F. Blackman, seorang ahli fisiologi
tumbuhan dari Inggris. Percobaan-percobaan yang dilakukan adalah menggunakan tumbuhan
air yang hijau Elodea sebagai organisme uji. Bila sepotong tumbuhan tersebut ditempatkan

IV-11
terbalik dalam larutan encer NaHCO3 (sumber CO2) dengan lampu senter, maka gelombang
oksigen segera dikeluarkan dari bagian potongan tangkainya. Kemudian dihitung jumlah
gelombang yang dikeluarkan dalam interval waktu tertentu pada setiap intensitas cahaya.

Gambar 3.10. Laju Fotosintesis

Karena laju fotosintesis tidak meningkat terus secara tak terbatas dengan
meningkatnya penyinaran, maka Blackman mengambil kesimpulan bahwa, ada dua proses
berlainan yang terlibat :

1. Reaksi yang memerlukan cahaya.


2. Reaksi yang tidak memerlukan cahaya.
Reaksi yang tidak memerlukan cahaya ini disebut reaksi gelap yang dapat
berlangsung terus dalam terang. Teori ini diperkuat dengan mengurangi percobaan pada
temperatur agak lebih tinggi. Seperti diketahui kebanyakan reaksi kimia berjalan lebih cepat
pada suhu tinggi (sampai suhu tertentu). Pada 35 o C laju fotosintesis tidak menurun sampai
ada intensitas cahaya yang lebih tinggi. Pada intensitas cahaya lebih rendah laju fotosintesis
itu tidak lebih besar dari 35o C. Hal ini menunjang gagasan bahwa yang menjadi pembatas
dalam proses ini ialah reaksi terang. Reaksi terang tidak bergantung pada suhu tetapi hanya
pada intensitas penyinaran.

Laju fotosintesis meningkat sejalan dengan kenaikan suhu, tidak terjadi jika suplai
CO2 terbatas. Konsentrasi CO2 merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi laju
fotosintesis. Pada konsentrasi CO2  0,03 % (konsentrasi CO2 atmosfir normal). Laju
fotosintesis tidak akan meningkat secara tidak terbatas dengan meningkatnya intensitas

IV-12
cahaya. Tetapi mulai mendatar (tetap) pada intensitas cahaya 0,3 – 0,4 % kalium cm-2 menit-1.
Sistem fotosintesis dikatakan jenuh cahaya.

Selain itu pada konsentrasi CO2 0,03 % suhu mempunyai pengaruh yang kecil
terhadap laju fotosintesis meningkat dengan meningkatnya intensitas cahaya sampai
mencapai 0,6 kal cm-2 menit–1, lajunya mendatar dan peningkatan energi radiasi selanjutnya
tidak akan memberikan pengaruh dan sistem dikatakan jenuh cahaya.

Dari penelitian kinetik murni, pengaruh faktor lingkungan (intensitas cahaya,


konsentrasi CO2 dan suhu) terhadap laju fotosintesis, Blackman mengusulkan bahwa proses
fotosintesis mencakup reaksi cahaya dan reaksi kimia/biokimia. Reaksi cahaya berperan
dalam transformasi energi radiasi dan reaksi kimia berperan dalam asimilasi CO 2.

8. Reaksi Terang dan Reaksi Gelap


a) Reaksi Terang
Yang pertama-tama melihat sepintas peranan cahaya dalam fotosintesis ialah Van Niel,
ahli mikrobiologi dari Amerika. Dia meneliti fotosintesis pada bakteri belerang ungu.
Mikroorganisme ini menghasilkan glukosa dari CO2 seperti pada tumbuhan hijau, dan
untuk memperoleh hal itu, jasad renik tersebut memerlukan cahaya. Akan tetapi pada
penelitian ini air tidak dipakai sebagai bahan pemula melainkan hidrogen sulfida (H 2S).
Itulah sebabnya selama fotosintesis ini tidak ada oksigen yang dibebaskan melainkan
sulfur. Van Niel berpendapat bahwa tindakan cahaya menyebabkan dekomposisi H2S
menjadi atom Hidrogen dan Sulfur. Kemudian dalam serangkaian reaksi gelap atom-
atom Hidrogen dipakai untuk mereduksi CO2 menjadi Karbohidrat.

Percobaan-percobaan yang dilakukan beberapa ahli memberikan sokongan besar kepada


Van Niel bahwa satu fungsi cahaya pada fotosintesis ialah pemisahan atom Hidrogen dan
atom Oksigen pad molekul-molekul air.

Teori fotolisis yang dikemukakan oleh Hill membuktikan bahwa sinar itu hanya
diperlukan untuk memecahkan air menjadi Hidrogen dan Oksigen. Persamaan reaksinya
sebagai berikut :

2 H2O 2 H2 + O2

IV-13
H2 yang terlepas ditampung oleh koenzim NADP dan membentuk NADPH2 ; O2 tetap
dalam keadaan bebas.

Fotolisis ini merupakan reaksi awal dalam proses fotosintesis. Langkah berikutnya
setelah fotolisis ialah penyusutan CO2 yang tidak memerlukan sinar, dengan kata lain
peristiwa ini dapat berlangsung dalam gelap.

b) Reaksi Gelap
Seperti yang diduga, reaksi gelap pada fotosintesis itu sebenarnya merupakan
serangkaian reaksi yang melibatkan pengambilan CO 2 oleh tumbuhan dan reduksi CO2
oleh atom Hidrogen. Dr. Calvin dan rekan-rekannya di Universitas California bertahun-
tahun menyelidiki urutan langkah demi langkah reaksi-reaksi kimia yang terlibat, secara
ringkas siklus atau siklus pentosa fosfat reduktif (tumbuhan C 3) dapat digambarkan
sebagai berikut :

Siklus tersebut dapat dibagi atas 3 (tiga) bagian :

a. Pembentukan dua molekul PGA (Asam Phosphagliserat) dari satu molekul CO 2


dengan suhu molekul RUDP. 1,5 RUDP karboksilase mempunyai peranan yang
sangat penting pada reaksi tersebut di atas karena menjadi katalisator pembentuk
asam 3-fosfagliserat dari CO2 dan ribulosa 1,5 difosfat.
b. Pereduksian PGA menjadi triosafosfat (gliserol dehide 3 fosfat dengan dihidroksi
aseton fosfat) melalui penambahan ATP dan NADPH.
c. Pensintesaan kembali RUDP dan pembentukan heksosafosfat.

IV-14
Karena produk awal dari fiksasi CO2 merupakan senyawa berkarbon tiga (asam 3-
fosfagliserat), maka tumbuhan yang mempunyai pola fiksasi seperti tersebut di atas
disebut sebagai tumbuhan C3, misalnya : padi.

Pada jenis tanaman lain ada yang mempunyai senyawa berkarbon 4 sebagai produk awal
dari fiksasi CO2. Tumbuhan tersebut dikenal sebagai tumbuhan C4.

9. Lintasan Asam Dikarboksilat C4 (Siklus C4)


Produk pertama yang tampak pada fiksasi CO2 dalam tumbuhan ini adalah senyawa
empat karbon seperti asam oksaloasetat, asam malat dan bukan asam fosfogliserat (3C).
Ternyata tumbuhan ini dinamakan tumbuhan C 4, mula-mula merambat CO2 melalui lintasan
empat karbon yang ada dalam sel-sel dekat permukaan daun, kemudian mengangkut CO2 ke
sel-sel di bagian dalam daun, dan di sinilah siklus tiga karbon berfungsi.

Dalam tumbuhan C4 (jagung, sorgum, tebu) ikatan pembuluhnya


diselubungi/terbungkus oleh selapis sel parenkim yang dikenal sebagai sel seludang
pembuluh (bundle sheath cells). Sel seludang pembuluh tersebut mengandung organel sel
kloroplas, mitokondria dan peroksisom. Sel mesofil dan sel seludang pembuluh mempunyai
hubungan erat antara satu dengan lainnya dan dihubungkan oleh plasmodesmata.

Penelitian biokimia menunjukkan kloroplas mesofil dan kloroplas sel seludang


pembuluh mengandung kelompok enzim yang berbeda, sehingga kedua jenis kloroplas
tersebut mempunyai fungsi metabolik yang berbeda.

Dalam kloroplas seludang pembuluh, asam malat mengalami dekarboksilasi


menghasilkan CO2 dan asam piruvat. CO2 bereaksi dengan RUDP dan selanjutnya
diasimilasikan melalui siklus pentosafosfat reduktif, membentuk sukrosa dan pati. Asam
piruvat yang dibentuk melalui dekarboksilasi asam malat diangkut ke kloroplas sel mesofil
yang kemudian mengalami fosforilasi menjadi asam fosfoenol piruvat yang merupakan
substrat bagi asimilasi CO2 dalam lintasan C4 dengan produk awal asam oksaloasetat sebagai
senyawa yang beratom karbon 4.

Tumbuhan C4 bekerja pada konsentrasi CO2 yang lebih rendah (1-2 ppm) dari pada
sistem C3, yang berhenti berfungsi pada konsentrasi CO2 di bawah  50 ppm. Karena itu pada
hari yang amat panas, suatu tumbuhan C4 dapat menutup stomatanya untuk mengurangi
kekurangan air melalui transpirasi, dan tetap memperoleh CO2 untuk fotosintesis. Hal ini
disebabkan karena tumbuhan C4 menciptakan gradien konsentrasi yang sangat curam untuk

IV-15
difusi CO2 (dari 300 ppm di udara sampai 1 ppm dalam daun). Karena alasan inilah
tumbuhan C4 secara amat khusus teradaptasi pada habitat dengan suhu yang tinggi,
kelembaban tanah rendah dan sinar matahari yang terik.

j. Penutup.
Fasilitator merangkum materi kuliah ini dengan memberikan esensi dari materi
bahasan dan keterhubungannya dengan materi bahasan sebelumnya dan berikutnya
k. Tugas
Fasilitator memberikan Tugas kepada peserta kuliah untuk membaca materi bahan
ajar/referensi dan membuat rangkuman tentang Metabolisme Sel: Anabolisme meliputi:
Anabolisme, Biosintesis lemak, Biosintesis asam amino, Fotosintesis.

l. Umpan Balik

Mahasiswa dapat mengajukan hal tentang kondisi yang dialami dan diharapkannya
untuk memahami materi bahasan terkait.

m. Referensi
Bahan Ajar/ Materi Biologi dasar pada LMS.
Barrett, J,M., 1986. Biologi. Prentice-Hall, Englewood Cliffs, New Jersey
Campbell, et al. 2003. Biologi Jilid 1. Jakarta : Erlangga, hal 200

IV-16