Anda di halaman 1dari 34

1.

DDO 5
BATRAI

Ada beberapa tipe baterai yang ada yaitu baterai tipe


timah-asam ( lead acid ), baterai perawatan ringan atau
baterai bebas perawatan, baterai berventilasi, dan
baterai rapat (sealed baterai). Penjelasan mengenai
baterai tersebut adalah sebagai berikut.
1) Baterai tipe timah-asam ( lead acid). Pada baterai
tipe ini suatu logam (timah) direndam dalam suatu larutan
elektrolit. Tegangan atau energi listrik dihasilkan dari
reaksi kimia antara logam dan larutan elektrolitnya.
2) Baterai berventilasi. Pada baterai ini, terdapat tutup
ventilasi yang dapat dibuka untuk mengecek elektrolit
atau untuk menambahkan air suling jika diperlukan
untuk mengembalikan kondisinya. Tutup ini juga
berfungsi untuk mengeluarkan gas hidrogen yang
dihasilkan selama proses pengisian.
3) Baterai rapat ( sealed baterai). Baterai ini
menggunakan juga timah-asam tetapi tidak mempunyai
tutup yang dapat dilepas untuk mengecek elektrolit atau
menambah elektrolit. Pada beberapa tipe baterai ini,
mempunyai mata kecil untuk menunjukkan tingkat isi
dari baterai.
4) Baterai bebas perawatan. Pada baterai jenis ini
larutan elektrolit tidak dapat ditambahkan sehingga tidak
diperlukan perawatan baterai secara khusus.
Cara Pengisian Baterai ada
*20% hasil pembagian dari kapasitas aki/arus charger
Baca Juga : Perbedaan antara Tread dan Core pada
Processor
Teknik Pengisian Baterai
Memasang battery charger
Pengisian 2 baterai secara
paralel

Pengisian ACCU secara seri


Kelebihan dan Kelemahan Metode Mengisi Baterai Seri
dan Paralel
 Tegangan pengisian rendah yaitu 12 V, sehingga
rancangan trafo yang digunakan lebih sederhana.
 Tetap aman meskipun kapasitas baterai tidak sama.

 Tidak mampu menentukan dengan pasti berapa besar

arus yang mengalir ke tiap baterai, sehingga sulit


menentukan waktu pengisian yang tepat
 Arus listrik yang dialirkan merupakan arus total

pengisian, sehingga arusnya yang mengalir cukup besar


sehingga kabel maupun klem buaya untuk pengisian
harus berukuran besar.
 Mampu menentukan dengan pasti berapa besar arus

yang mengalir ke tiap baterai, sehingga dapat


menentukan waktu pengisian dengan tepat.
 Arus listrik yang dialirkan besarnya sama untuk semua

baterai, sehingga mudah ditentukan waktu


pengisiannya.
 Besar arus pengisian normal berdasarkan kapasitas

baterai yang paling kecil, sehingga arus pengisian kecil


dan kabel maupun klem buaya yang digunakan untuk
pengisian dapat dengan ukuran lebih kecil.
 Tegangan pengisian merupakan total tegangan baterai

yang diisi, misal 4 baterai 12V, berarti tegangan


pengisian sebesar 48 V.
 Tidak tepat digunakan untuk baterai yang kapasitasnya

bervariasi, sebab harus mengikuti arus pengisian baterai


yang kapasitas kecil, sehingga untuk baterai yang
kapasitasnya besar waktu pengisian terlalu lama, dan
bila mengikuti baterai kapasitas besar maka pada
baterai yang kapasitasnya kecil akan mengalami over
charging sehingga baterai cepat rusak. Dengan
demikian metode ini kurang tepat untuk baterai dengan
kapasitas yang jauh berbeda.
1. Pengisian Normal
Pengisian normal adalah pengisian dengan besar arus
yang normal, besar arus pengisian normal sebesar 10
% dari kapasitas baterai.
Contoh: baterai 50 AH maka besar arus pengisian 50 x
10/100 = 5 A. Jadi jika kita memiliki baterai (accu) dengan
kapasitas 50AH maka ketika melakukan charging
dibutuhkan arus dari alat charging sebesar 5A.
Lama Waktu pengisian
Saat melakukan charging pasti yang gi inginkan adalah
accu dalam kondisi full. Untuk menentukan berapa lama
waktu pengisian bisa menggunakan rumus berikut
Lama pengisian (jam) = (Besar kapasitas aki [AH]/ Besar
arus charger [AH])+20%
JIka kita memiliki accu dengan kapasitas 42AH, arus
pengisian adalah 4.2A maka waktu yang dibutuhkan
adalah 11 jam
atau kalau tak au ribet bisa menggunakan kalkulator lama
pengisian accu berikut [Link]
2. Pengisian Cepat
Pengisian cepat adalah pengisian dengan arus yang
sangat besar. Besar pengisian tidak boleh melebihi 50%
dari kapasitas baterai, dengan demikian untuk baterai 50
AH, besar arus pengisian tidak boleh melebihi 25
Ampere.
Prosedur pengisian cepat sebenarnya sama dengan
pengisian normal, yang berbeda adalah besar arus
pengisian yang diatur sangat besar. Selain itu juga resiko
yang jauh lebih besar, sehingga harus dilakukan dengan
ektra hati-hati.
Pengisian cepat sering dilakukan untuk membantu
kendaraan yang mogok atau sedang dalam proses
perbaikan, sehingga baterai tidak diturunkan dari
kendaraan. Pada kasus pengisian cepat di atas
kendaraan yang perlu diingat adalah lepas kabel baterai
negatip sebelum melakukan pengisian, hal ini
disebabkan saat pengisian cepat tegangan dari battery
charging lebih besar dari pengisian normal, kondisi ini
potensial merusak komponen elektronik dan diode pada
altenator.
1. Pengisian satu baterai
Hubungkan kabel positip baterai dengan klem positip
battery charger dan terminal negatip dengen klem
negatip. Hati-hati jangan sampai terbalik, bila terbalik
akan timbul percikan api, bila dipaksa baterai akan rusak,
pada battery charger model tertentu dilengkapi dengan
indicator, dimana bila pemasangan terbalik akan muncul
bunyi peringatan.
2. Pengisian lebih dari 1 baterai
Pengisian baterai yang lebih dari satu buah dapat
dilakukan dengan dua metode, yaitu :
a. Rangkaian Paralel 2 baterai
Hubungkan kabel positip baterai 1 dengan terminal
positip baterai 2 kemudian hubungkan dengan klem
positip battery charger. Demikian pula untuk terminal
negatip.
Hati-hati jangan sampai terbalik, bila terbalik akan
timbul percikan api, bila dipaksa baterai akan rusak, pada
battery charger model tertentu dilengkapi dengan
indicator, dimana bila pemasangan terbalik akan muncul
bunyi peringatan.
Note :
o> Pilih selector tegangan sesuai dengan tegangan
baterai, misal baterai 12 V maka selector digerakan
kearah 12V.
o> Hidupkan battery charger, dan setel besar arus sesuai
dengan kapasitas baterai.
o> Besar arus merupakan jumlah arus yang dibutuhkan
untuk baterai 1 dan baterai 2. misalnya untuk mengisi dua
baterai 50 AH dibutuhkan arus pengisian sebesar 10%
x(2 x50)) = 10 A., mengisi baterai 50 AH dan 40 AH maka
diperlukan arus sebesar 10 % x (40+50) = 9A.
b. Rangkaian Seri 2 baterai
Hubungkan kabel positip baterai 1 dengan klem positip
battery charger, kemudian hubungkan kabel negatip
baterai 1 dengan kabel positip baterai 2, selanjutnya
hubungkan kabel negatip baterai 2 dengan klem negatip
battery charger. Hati-hati jangan sampai terbalik, bila
terbalik akan timbul percikan api, bila dipaksa baterai
akan rusak, pada battery charger model tertentu
dilengkapi dengan indicator, dimana bila pemasangan
terbalik akan muncul bunyi peringatan.
Note :
o> Hubungkan battery charger dengan sumber listrik
220V.
o> Pilih selector tegangan sesuai dengan total tegangan
baterai, misal 2 baterai 12 V dirangkai seri maka
tegangan menjadi 24 V maka selector digerakan kearah
24 V.
o> Hidupkan battery charger, dan setel besar arus sesuai
dengan kapasitas baterai yang paling kecil. Misalkan
besar untuk mengisi dua baterai 50 AH dibutuhkan arus
pengisian sebesar 10% x 50 = 5 A., mengisi baterai 50
AH dan 40 AH maka diperlukan arus sebesar yang
digunakan 10 % x 40 AH = 4 A.
Metode mengisi baterai lebih dari satu baik secara paralel
maupun secara seri masing-masing memiliki kelemahan
dan kelebihan yaitu :
10. Kelebihan pengisian secara parallel adalah ?
11. Kelemahan pengisian secara parallel adalah ?
12. Kelebihan pengisian secara seri adalah ?
13. Kelemahan ?

Diposting 16th March 2018 oleh pono75

0
Tambahkan komentar
2.
MAR

16

DDO 4
DASAR DASAR LISTRIK
Hukum Ohm adalah suatu pernyataan bahwa besar arus listrik yang mengalir melalui
sebuah penghantar selalu berbanding lurus dengan beda potensial yang diterapkan
kepadanya.[1][2] Sebuah benda penghantar dikatakan mematuhi hukum Ohm apabila
nilai resistansinya tidak bergantung terhadap besar dan polaritas beda potensial yang dikenakan
kepadanya.[1] Walaupun pernyataan ini tidak selalu berlaku untuk semua jenis penghantar, namun
istilah "hukum" tetap digunakan dengan alasan sejarah.[1]
Secara matematis hukum Ohm diekspresikan dengan persamaan:[3][4]

V=I.R
Di mana :
 I adalah arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar dalam satuan Ampere.
 V adalah tegangan listrik yang terdapat pada kedua ujung penghantar dalam satuan volt.
 R adalah nilai hambatan listrik (resistansi) yang terdapat pada suatu penghantar dalam
satuan ohm.
Hukum ini dicetuskan oleh Georg Simon Ohm, seorang fisikawan dari Jerman pada
tahun 1825 dan dipublikasikan pada sebuah paper yang berjudul The Galvanic Circuit
Investigated Mathematically pada tahun 1827. [5] (https://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Ohm)

DAYA lISTRIK
Daya listrik, seperti daya mekanik, dilambangkan oleh huruf P dalam persamaan listrik. Pada
rangkaian arus DC, daya listrik sesaat dihitung menggunakan Hukum Joule, sesuai nama
fisikawan Britania James Joule, yang pertama kali menunjukkan bahwa energi listrik dapat
berubah menjadi energi mekanik, dan sebaliknya.

P = V.I
di mana
P adalah daya (watt atau W)
I adalah arus (ampere atau A)
V adalah perbedaan potensial (volt atau V)

Hukum Joule dapat digabungkan dengan hukum Ohm untuk menghasilkan dua
persamaan tambahan
𝑉2
𝑃 = 𝐼2 . 𝑅 =
𝑅
di mana

adalah hambatan listrik (Ohm atau Ω).

RAGKAIAN LISTRIK
A. RANGKAIAN SERI

B. RANGKAIAN PARALEL
C. RANGKAIAN CAMPURAN

CONTOH SOAL....

1. JIKA DALAM SEBUAH RANGKAIAN KELISTRIKAN SEDERHANA ADA LAMPU,

BATRAI DAN

KABEL YANG MENGHUBUNGKANNYA, JIKA DALAM LAMPU TERSEBUT

MEMPUNYAI

TAHANAN 5 OHM DAN TEGANGAN BATRAI 12 VOLT BERAPA ARUS YANG

MENGALIR

DALAM RANGKAIAN ......

2 LIHAT GAMBAR DIBAWAH JIKA R1 = 4 OHM DAN R2= 6 OHM SERTA R3=12 OHM

DENGAN
TEGANGGNYA 12 VOLT MAKA ARUS TOTAL, TAHANAN TOTAL TEGANGAN DI V1,

V2 DAN V3

.........

3.LIHAT GAMBAR DIBAWAH JIKA R1 = 4 OHM DAN R2= 6 OHM SERTA R3=12 OHM

DENGAN

TEGANGGNYA 12 VOLT MAKA ARUS TOTAL, TAHANAN TOTAL ARUS DI I1, I2 DAN

I3

ANGG

4. JIKA DALAM SATU LAMPU KEPALA MEMPUNYAI DAYA 100 WATT DENGAN

TEGANGAN
BATRAI 12 VOLT BERAPA ARUS YANG MENGALIR PADA RANGKAIAN TERSEBUT

DAN

BERAPA AMPERE SIKRING YANG DIGUNAKAN ....


3.
MAR

16

DDO 3
CARA MEMBACA AVOMETER ATAU MULTITESTER

SKALA UKUR
1. UNTUK TAHANAN NILAI NOL-NYA DI SEBELAH KANAN
2. UNTUK TEGANGAN NILAI NOL-NYA SEBELAH KIRI
SELEKTOR
1. DCV BATAS MAKSIMUM PENGUKURAN TEGANGAN SEARAH "DC"
2. ACV BATAS MAKSIMUM PENGUKURAN TEGANGAN BOLAK BALIK "AC"
3. OHM PENGALI HASIL BACAAN MENGUKUR TAHANAN
4. DCmA BATAS MAKSIMUM PENGUKURAN ARUS SEARAH "DC"

HITUNGLAH HASIL PENGUKURAN NYA DAN JELASAKAN HASILNYA.....

1. Berapa pembacaan hasil pengukuran menggunakan AVO meter analog dimana posisi
selektor X10 ohm ? beri penejlasan ?
2. Berapa hasil pengukuran menggunakan AVO meter kalau selektor di 50 DCV ? dengan
penjelasan ?

3. Berapa pembacaan hasil pengukuran menggunakan AVO meter analog dimana posisi
selektor X1 ohm ? dengan penjelasanya ?

4. Berapa hasil pengukuran menggunakan AVO meter kalau selektor di 250 DCV ? dengan
penjelasanya ?
5. Berapa hasil pengukuran menggunakan AVO meter kalau selektor di 10 DCV ? dengan
penjelasanya ?

Diposting 16th March 2018 oleh pono75

0
Tambahkan komentar
4.
MAR

16

DDO2

CARA MEMBECA MIKROMETER


Kita lihat gambar sighmat luar di bawah ini
cara membaca sighmat
perhatikan betul skala vernier jumlah sekalanya ..ada
10, 20 dan 50....hati hati
hitunglah hasil pengukuran mikrometer dan jelasakan hasilnya.....
1

Diposting 16th March 2018 oleh pono75


0
Tambahkan komentar
5.
MAR

16

DDO

CARA MEMBECA MIKROMETER


Kita lihat gambar mikrometer luar di bawah ini
sekarang mari kita coba kerjakan soal soal dibawah ini dan jelasakan dengan baik......
1

3
Diposting 16th March 2018 oleh pono75

1
Lihat komentar
6.
MAR

16

KIsi-kisi ujian nasional produktif TKR 2018


KISI-KISI UJIAN NASIONAL PRODUKTIF TKR 2018
Diposting 16th March 2018 oleh pono75

0
Tambahkan komentar
7.
NOV

Diagram Katup
Diposting 6th November 2017 oleh pono75

0
Tambahkan komentar
8.
NOV

Motor bakar yang kita akan pelajari adalah motor 2 tak dan 4 tak, kenapa disebut motor bakar
karena motor bakar adalah rangkaian sistem yang dapat bergerak sendiri dengan energi panas
Diposting 6th November 2017 oleh pono75

0
Tambahkan komentar
9.
JUL

29

Throttle Position Sensor


Throttle position sensor

p pasaal pada throttle body. Sensor


mengubah sudut bukaan throttle ke voltase, yang
dikirim
ke ECU mesin sebagaimana sinyal bukaan throttle
(VTA). Sebagai tambahan, beberapa peranti
melakukan
output akan sinyal individual IDL. Yang lain
menentukannya
pada keadaan idle ketika voltase VTA di bawah nilai
standar.

Saat ini, dua tipe, tipe linear dan tipe hall element,
digunakan. Sebagai tambahan, 2-system output
digunakan untuk meningkatkan kehandalan.
Diposting 29th July 2017 oleh pono75

0
Tambahkan komentar
10.
AUG

29

Tune-up engine karburator bagian 1

1. Perawatan Sistem Pendinginan


Gangguan pada sistem pendinginan secara umum akan berakibat
meningkatnya suhu kerja engine yang akhirnya akan mengganggu kinerja engine. Gangguan
langsung yang dirasakan antara lain: tenaga berkurang, bahan bakar boros, komponen-komponen
engine mengalami kerusakan pekerjaan perawatan berkala pada sistem pendinginan meliputi:

a) Pemeriksaan tinggi permukaan air pendingin


Periksa ketinggian air pendingin yang terdapat pada tangki Penampungan (Reservoir).
Jika tinggi air kurang isilah hingga garis FULL.

b) Memeriksa kondisi air pendingin

Periksalah air pendingin kemungkinan kotor terdapat karat atau tercemar oli.
C) Memeriksa sistem pendinginan

Periksalah kemungkinan terjadi:


1) Kerusakan fisik pada radiator atau slang radiator.
2) Kerusakan pada klem slang radiator.
3) Kisi-kisi radiator berkarat.
4) Kebocoran pada pompa air, pipa radiator (core),penguras.

d) Memeriksa kerja tutup radiator


Dengan menggunakan alat tes tutup radiator (Radiator cap tester) periksalah kondisi pegas dan
katup vakum dari tutup radiator. Tutup perlu diganti bila tekanan pembukaan dibawah angka
spesifikasi pabrik, atau jika secara fisik rusak.
Tekanan pembukaan katup :
STD : 0,75 – 1,05 kg/cm2
Limit : 0,6 kg/cm2
(sesuaikan dengan ketentuan manual)
e) Memeriksa tali kipas
1) Tali kipas diperiksa secara visual kemungkinan terjadi: Retak, perubahan bentuk, aus
atau terlalu keras. terkena oli atau paslin/grease. Persinggungan yang tidak sempurna
antara tali dan puli.

a) Memeriksa dan menyetel tegangan tali kipas


Dengan tekanan 10 kg/cm2, tekan tali seperti pada gambar defleksi/kelenturan tali :
Pompa air – Alternator : 7 – 11 mm
Engkol – Kompressor : 11 – 14 mm
Bila tidak memenuhi spesifikasi pabrik lakukan penyetelan tali kipas dengan SST penyetel tali kipas.
Tegangan tali kipas :
Baru : 100 – 150 Lbs
Lama : 60 – 100 Lbs.
(sesuaikan dengan ketentuan manual)

2. Membersihkan saringan udara/Air filter


Gangguan pada saringan udara akan berakibat tenaga engine berkurang dan bahan bakar boros.
Adapun prosedur perawatannya seperti berikut:
a) Melepas saringan udara dari engine. Jangan sampai ada benda yang masuk ke karburator.
b) Hembuskan tekanan udara dari sisi dalam elemen.
c) Bila elemen rusak atau terlalu kotor supaya diganti.
3. Memeriksa Baterai
Kemampuan kerja baterai akan mengalami penurunan seiring dengan pemakaian. Kinerja baterai
yang kurang baik akan menyebabkan: sulit untuk menstarter engine, gangguan pada sistem
penerangan dan peralatan tambahan (assesoris).
Perawatan baterai meliputi:

a) Pemeriksaan secara visual:


Periksa baterai kemungkinan:
1) Penyangga baterai berkarat.
2) Terminal longgar, berkarat atau rusak.
3) Kotak baterai rusak atau bocor.

b) Mengukur berat jenis elektrolit


1) Memeriksa berat jenis baterai dengan hydrometer
Berat jenis : 1,25 – 1,27 pada suhu 200 C
2) Periksa jumlah elektrolit pada setiap sel. Ketinggian elektrolit harus berada antara garis Uper level
dan lower level.
4. Memeriksa Sistem Pelumasan
Sistem pelumasan merupakan bagian vital pada engine. Gangguan pada sistem pelumasan akan
berakibat: suhu engine meningkat berlebihan, komponen-komponen engine cepat aus dan tenaga
mesin akan terasa berkurang. Perawatan pada sistem pelumasan meliputi:
a) Memeriksa tinggi oli
Tinggi oli harus berada antara garis L dan F, bila kurang harus ditambah, periksalah kemungkinan
ada kebocoran, dan perbaikilah.

b) Memeriksa kondisi oli


Periksa oli kemungkinan kotor, tercemar air atau sudah berubah warna karena
terbakar
c) Mengganti saringan oli (oil filter)
1) Membuka saringan oli dengan SST.
2) Pasang saringan oli baru dengan tangan sampai kencang.
3) Hidupkan mesin dan periksa kebocoran.
4) Matikan mesin dan periksa tinggi oli, bila kurang ditambah.

5. Memeriksa, membersihkan dan menyetel busi


Busi adalah komponen yang memberikan loncatan api untuk proses pembakaran. Bila busi kotor,
rusak akan berakibat: tenaga engine kurang, engine tidak dapat idel, pincang dan sulit distarter.
Perawatan busi meliputi:
a) Pemeriksaan busi secara visual
1) Kemungkinan retak, kerusakan pada ulir atau isolator.
2) Keausan pada elektroda.
3) Gasket rusak atau berubah bentuk.
4) Elektroda terbakar atau kotor berlebihan.

b) Membersihkan busi
1) Jangan menggunakan pembersih busi terlalu lama.
2) Hembuskan kompoun dan karbon pembersih dengan udara tekan
3) Bersihkan ulir dan permukaan luar isolator.

c) Menyetel celah busi


Memeriksa semua celah busi dengan alat pengukur celah. Jika diperlukan setelah celah busi
dengan membengkokkan elektroda busi.

6. Memeriksa kabel tegangan tinggi


Gangguan kabel tegangan tinggi pengapian akan berakibat: engine sulit distarter, tidak dapat idel,
pincang dan tenaga kurang. Hal ini dapat terjadi karena tahanan kabel menjadi sangat besar.
Periksalah semua kabel tegangan tinggi tahanan kabel: kurang dari 25 k.
7. Distributor
Gangguan pada distributor akan berakibat kinerja sistem pengapian tidak sempurna, yang
akhirnya akan mengganggu kinerja engine: engine sulit distart, tenaga kurang, panas berlebihan
dan komponen-komponen utama engine cepat rusak. Adapun perawatannya meliputi:
a) Memeriksa tutup distributor
Periksa tutup distributor serta rotor dari kemungkinan:
1) Retak, berkarat, kotor atau terbakar.
2) Terminal-terminal kotor atau terbakar.
3) Pegas karbon terminal tengah lemah atau macet.

Gambar 20. Pemeriksaan tutup distributor


b) Menyetel celah platina atau celah udara
1) Jika platina aus, rusak atau terbakar ganti yang baru.
2) Stel celah platina : celah blok : 0,45 mm
3) Stel celah udara antara rotor dan proyeksi koil (pengapian elektronik). Celah udara : 0,2 – 0,4
mm

Gambar 21. Cara penyetelan platina atau celah udara

c) Memeriksa sudut Dwell


Periksa sudut dwell dengan Dwell tester.
Sudut dwell : 50 0 – 54 0

Gambar 22. Pemeriksaan sudut dwell

d) Memeriksa saat pengapian


Stel putaran mesin pada putaran idel, oktan selector pada posisi standar. Pada putaran maksimal
950 Rpm saat pengapian antara 50 –15 0 sebelum TMA (sesuaikan dengan spesifikasi
pabrik).
Penyetelan pengapian dengan merubah posisi distributor serta menggunakan alat Timing light.
Jangan menyetel dengan Oktan selector.

Gambar 23. Penyetelan saat pengapian

e) Memeriksa kerja governor advancer


1) Rotor harus kembali dengan cepat setelah diputar searah putaran rotor dan dilepas.
2) Rotor tidak boleh terlalu kendor.

Gambar 24. Pemeriksaan Governoor advancer

f) Memeriksa governor advancer dengan engine hidup


Hidupkan engine dan lepaskan slang vakum pada distributor. Saat pengapian berubah-ubah
sesuai putaran engine.
Gambar 25. Pemeriksaan Governoor advancher dengan engine hidup

g) Memeriksa kerja Vacum advancer


Hubungkan slang vakum pada distributor. Oktan selector akan berubah-ubah sesuai putaran
engine.

Gambar 26. Pemeriksaan Vacum advancer