Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN APLIKASI KLINIS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN BATU GINJAL


(NEFROLITIASIS) DI RUANG PERAWATAN B DI KAMAR KELUD 1 DI
RUMAH SAKIT UMUM KALIWATES JEMBER

oleh

Ayu Wulandari
NIM 152310101176

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS JEMBER

2018
1. Darah
a) Hb akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal kronis.
b) Lekosit terjadi karena infeksi.
c) Ureum kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.
d) Kalsium, fosfat dan asam urat.
2. Radiologis
a) Foto BNO/IVP untuk melihat posisi batu, besar batu, apakah terjadi
bendungan atau tidak.
b) Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat dilakukan, pada
keadaan ini dapat dilakukan retrogad pielografi atau dilanjutkan
dengan antegrad pielografi tidak memberikan informasi yang
memadai.
3. USG (Ultra Sono Grafi)
Untuk mengetahui sejauh mana terjadi kerusakan pada jaringan ginjal.

I. Penatalaksanaan

Sjamsuhidrajat (2004) menjelaskan penatalaksanaan pada nefrolitiasis terdiri dari :


1. Obat diuretik thiazid (misalnya trichlormetazid) akan mengurangi pembentukan
batuyang baru
2. Dianjurkan untuk minum banyak air putih (8-10 gelas/hari)
3. Diet rendah kalsium dan mengkonsumsi natrium selulosa fosfat
4. Untuk meningkatkan kadar sitrat (zat penghambat pembentukan batu kalsium) di
dalamair kemih, diberikan kalium sitrat
5. Kadar oksalat yang tinggi dalam air kemih, yang menyokong terbentuknya batu
kalsium,merupakan akibat dari mengkonsumsi makanan yang kaya oksalat
(misalnya bayam,coklat, kacang-kacangan, merica dan teh). Oleh karena itu
sebaiknya asupan makanan tersebut dikurangi
6. Kadang batu kalsium terbentuk akibat penyakit lain, seperti hiperparatiroidisme,
sarkoidosis, keracunan vitamin D, asidosis tubulus renalis atau kanker. Pada kasus
ini sebaiknya dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit tersebut.
a) Hiperurikosuri: kadar asam urat melebihi 850 mg/ 24jam. Asam urat yang
berlebih dalam urin bertindak sebagai inti batu untuk terbentuknya batu
kalsium oksalat.
1. Batu sistin
Cystunuria mengakibatkan kerusakan metabolic secara congetinal yang
mewarisi pengahambat atosomonal. Batu sistin merupakan jenis yang timbul
biasanya pada anak kecil dan orang tua, jarang ditemukan pada anak-anak dan
remaja, sedangkan pada dewasa jarang terjadi.
2. Batu xanthine
Batu xanthine terjadi karena kondisi hederiter hal ini terjadi karena
defisiensi oksidasi xathine.

F. Patofisiologi

Batu terbentuk di traktus urinarius ketika konsertrasi substansi tertentu seperti Ca


oksalat,kalsium fosfat, dan asam urat meningkat. Batu juga dapat terbentuk ketika
terdapat defisiensi substansi tertentu, seperti sitrat yang secara normal pencegah
kristalisasi dalam urin. Kondisi lain yang mempengaruhi laju pembentukan batu
mencakup PH urine dan status cairan pasien. Ketika batu menghambat aliran urin,
terjadi obstruksi, menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala
ginjal serta ureter proksimal. Infeksi (peilonefritis & cystitis yang disertai menggigil,
demam dan disuria) dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu,
jika ada, menyebabkan sedikit gejala namun secara fungsional perlahan-lahan
merusak unit fungsional ginjal dan nyeri luar biasa dan tak nyaman. Batu yang
terjebak di ureter, menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa. Pasien sering
merasa ingin berkemih, namun hanya sedikit yang keluar dan biasanya mengandung
darah akibat aksi abrasif batu. Umumnya batu diameter <0,5-1 cm keluar spontan.
Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai nyeri tekan di seluruh area kostovertebral
dan muncul mual dan muntah, maka pasien sedang mengalami kolik renal. Diare dan
ketidaknyamanan abdominal dapat terjadi. Selain itu ada beberapa teori yang
,membahas tentang proses pembentukan batu
penyakit bedah usus halus, bedah abdomen sebelumnya,
hiperparatiroidisme, penggunaan antibiotika, anti hipertensi, natrium,
bikarbonat, alupurinol, fosfat, tiazid, pemasukan berlebihan kalsium atau
vitamin D.

E. Riwayat Kesehatan Keluarga ( disertai Genogram )


Kaji riwayat keluarga apakah keluarga ada yang pernah menderita
nefrolitiasis atau tidak

F. Riwayat Psikososial

a) Orang terdekat dengan klien seperti suami, istri, anak, sahabat dan
kerabat
b) Interaksi dalam keluarga, dengan pola komunikasi yang baik dan terbuka,
pembuat keputusan dengan cara musyawarah antara anggota keluarga,
klien juga mengikuti seluruh kegiatan kemasyarakatan seperti gotong
royong dan keikut sertaan klien dalam pembangunan gampoeng.
c) Dampak penyakit klien terhadap keluarga terganggu akan masalah
ekonomi keluarga
d) Masalah yang mempengaruhi klien usia klien yang sudah lanjut usia.
e) Mekanisme koping terhadap stress dengan cara pemecahan masalah
melalui proses mengumpulkan seluruh anggota keluarga dan
bermusyawarah
f) Persepsi klien terhadap penyakitnya, hal yang sangat dipikirkan saat ini
adalah kapan penyakitnya ini sembuh, harapan setelah perawatan adalah
dapat pulang kerumah dan melanjutkan aktivitas seperti biasanya,
perubahan yang dirasakan setelah jatuh sakit adalah klien tidak dapat
berkerja seperti biasanya
g) Sistem nilai kepecayaan klien tidak ada yang bertentangan dengan
penyakitnya biarpun klien dirawat dirumah sakit namun klien masih tetap
melakukan ibadah solat 5 waktu
h) Klien beragama islam dan selalu bersembahyang dan berdoa agar
mendapatkan ridha dari allah atas masalah kesehatan yang menimpanya
i) Kondisi lingkungan rumah, klien tinggal di lingkungan dengan mayoritas
penduduknya berpekerjaan petani.

G. Pola Fungsi Kesehatan

1. Pola persepsi dan tata laksana hidup


Bagaimana pola hidup orang atau klien yang mempunyai penyakit batu ginjal
dalam menjaga kebersihan diri klien perawatan dan tata laksana hidup sehat.
2. Pola nutrisi dan metabolism
Nafsu makan pada klien batu ginjal terjadi nafsu makan menurun karena
adanya luka pada ginjal.
3. Pola aktivitas dan latihan
Klien mengalami gangguan aktivitas karena kelemahan fisik gangguan karena
adanya luka pada ginjal.
4. Pola eliminasi
Bagaimana pola BAB dan BAK pada pasien batu ginjal biasanya BAK
sedikit karena adanya sumbatan atau bagu ginjal dalam perut, BAK normal.
5. Pola tidur dan istirahat
Klien batu ginjal biasanya tidur dan istirahat kurang atau terganggu karena
adanya penyakitnya.
6. Pola persepsi dan konsep diri
Bagaimana persepsi klien terdapat tindakan operasi yang akan dilakukan dan
bagaimana dilakukan operasi.
7. Pola sensori dan kognitif
Bagaimana pengetahuan klien tarhadap penyakit yang dideritanya selama di
rumah sakit.
8. Pola reproduksi sexual
Apakah klien dengan nefrolitiasis dalam hal tersebut masih dapat melakukan
dan selama sakit tidak ada gangguan yang berhubungan dengan produksi
sexual.
9. Pola hubungan peran
Biasanya klien nefrolitiasis dalam hubungan orang sekitar tetap baik tidak ada
gangguan.
10. Pola penaggulangan stress
Klien dengan nefrolitiasis tetap berusaha dab selalu melakukan hal yang
positif jika stress muncul
11. Pola nilai dan kepercayaan
Klien tetap berusaha dan berdoa supaya penyakit yang di derita ada obat dan
dapat sembuh.

H. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda – tanda vital :
Tekanan Darah : 140/90 mmHg, Suhu : 38
Nadi : 100x/menit, RR : 28 x/menit
Pemeriksaan head to toe
a. Kepala
Keadaan rambut dan hygiene kepala baik,Warna rambut hitam sedikit
uban,Tidak mudah rontok, Kebersihan rambut bersih. Tidak teraba adanya
massa yang abnormal, Tidak ada nyeri tekan.
b. Muka/Wajah
Muka simetris kiri dan kanan,Bentuk wajah lonjong,Ekspresi wajah murung.
c. Mata
Tidak ada edema dan tanda-tanda radang. Sklera tidak ikterik, reflek pupil
normal, konjungtiva anemis.
d. Hidung
Bentuk hidung simetris kiri dan kanan,Tidak ada sekret pada hidung, Tidak
ada sumbatan pada hidung.
e. Telinga
Telinga terlihat bersih tidak ada serumen
f. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada luka maupun bekas operasi
dan tidak teraba hipertiroidisme
g. Thorax :
I : dada simetris dan juga tidak terlihat ictus cordis
P : teraba ictus cordis pada kosta ke 5
P : tidak ada pembesaran jantung
A : terdengar suara hjantunga lup – duk, reguler
h. Paru :
I : Bentuk dada simetris kiri dan kanan, Pengembangan dada simetri, Frek
wensi pernafasan 28 x/menit
P : Vocal fremitus kanan dan kiri lebih terasa kiri, ekspansi dada sama
P : suara paru sonor
A : suara nafas vesikuler
i. Abdomen
I : abdomen terlihat membesar pada vesika urinaria
A : bising usus mengalami penurunan 10x/menit
P : terdengar suara abdomen redup
P : distensi abdomen, nyeri pada abdomen sebelah kanan dan kortovertebral
sebelah kanan.
j. Kulit
Kulit teraba hangat dan tampak kemerahan, kulit kering dan tidak elastis
k. Ekstremitas atas
terpasang infus RL 24 tpm di lengan kanan
l. Ekstremitas bawah
Tidak ada gangguan pada ekstremitas bawah

I. Pemeriksaan Penunjang

1) Radiologi

Secara radiologi, batu dapat radiopak atau radiolusen. Sifat radiopak ini
berbeda untuk berbagai jenis batu sehingga dari sifat ini dapat diduga
batu dari jenis apa yang ditemukan. Radiolusen umumnya adalah jenis
batu asam urat murni.

Pada yang radiopak pemeriksaan dengan foto polos sudah cukup untuk
menduga adanya batu ginjal bila diambil foto dua arah. Pada keadaan
tertentu terkadang batu terletak di depan bayangan tulang, sehingga dapat
luput dari penglihatan. Oleh karena itu foto polos sering perlu ditambah
foto pielografi intravena (PIV/IVP). Pada batu radiolusen, foto dengan
bantuan kontras akan menyebabkan defek pengisian (filling defect) di
tempat batu berada. Yang menyulitkan adalah bila ginjal yang
mengandung batu tidak berfungsi lagi sehingga kontras ini tidak muncul.
Dalam hal ini perlu dilakukan pielografi retrograd.
2) Ultrasonografi (USG)
Dilakukan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP, yaitu
pada keadaan-keadaan; alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang
menurun dan pada wanita yang sedang hamil . Pemeriksaan USG dapat
untuk melihat semua jenis batu, selain itu dapat ditentukan ruang/ lumen
saluran kemih. Pemeriksaan ini juga dipakai unutk menentukan batu
selama tindakan pembedahan untuk mencegah tertinggalnya batu
3) Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari kelainan kemih
yang dapat menunjang adanya batu di saluran kemih, menentukan fungsi
ginjal, dan menentukan penyebab batu.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa preoperasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan peradangan sekunder terhadap iritasi
batu dan spasme otot polos
2. Gangguan eliminasi urine yang berhubungan dengan stimulasi kandung
kemih oleh batu, iritasi ginjal, atau ureter, obstruksi mekanik atau
inflamasi
3. Gangguan istirahat dan tidur b.d nyeri
Diagnosa postoperasi
1) Nyeri akut berhubungan dengan post pembedahan (agen injuri: mekanik)
2) Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif

3) Intervensi Keperawatan
1) Dx : Nyeri akut berhubungan dengan peradangan sekunder terhadap iritasi
batu dan spasme otot polos
NOC
 Kontrol nyeri
 Tingkat kenyamanan

Kriteria Hasil
1. Mamp mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu
menggunakan teknik non farmakologi untu mengurangi nyeri,
mencari bantuan)
2. Melaporkan nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen
nyeri
3. Mampu menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
4. Tanda tanda vital normal
NIC
Manajemen nyeri
1) Eksplorasi dengan pasien,faktor yang meningkatkan /memperburuk nyeri
2) Lakukan penilaian yangkomprehensif untukmemasukkan lokasi rasa
sakit,karakteristik, onset / durasi,frekuensi, kualitas, intensitasatau beratnya
nyeri, danfaktor pencetus
3) Berikan informasi tentang rasa sakit, seperti penyebabnyeri, berapa lama
akanberlangsung, dan ketidaknyamanan di antisipasi dari prosedur
4) Ajarkan prinsip-prinsipmanajemen nyeri
5) Gunakan langkah-langkahmengontrol rasa sakitsebelum nyeri menjadi parah

Pemberian analgesik
1) Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas, dan keparahan sebelum
mengobati pasien
2) Periksa perintah medis untuk obat, dosis dan frekuensi yang ditentukan
analgesic
3) Periksa riwayat adanya alergi obat
4) Pantau tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgesik narkotika dengan
kepalan-waktu dosis atau catat jika tanda yang tidak biasa terjadi
5) Lihat ekspektasi positif mengenai efektivitas analgesik untuk mengoptimalkan
respon pasien

2). Dx : Gangguan eliminasi urine yang berhubungan dengan stimulasi kandung


kemih oleh batu, iritasi ginjal, atau ureter, obstruksi mekanik atau inflamasi
NOC
 Eliminasi urin
Kriteria Hasil
1. Pola eliminasi klien baik
2. Asupan cairan klien cukup
3. Klien dapat mengosongkan kandung kemih sepenuhnya
4. Tidak terlihat terlihat darah dalam urin klien
5. Klien tidak mengaluhkan sakit saat buang air kecil
6. Klien tidak merasa terbakar saat buang air kecil
7. Frekuensi kemih klien teratur/baik
NIC
Manajemen eliminasi Urin
1) Pantau eliminasi urine termasuk frekuensi, konsistensi, volume, bau dan
warna
2) Pantau tanda-tanda dan gejala retensi urin
3) perhatikan waktu eliminasi urine yang lalu
4) Ajarkan pasien untuk minum 8 oz cairan dengan makanan, di antara
waktu makan, dan pada sore hari

3). Dx : Gangguan istirahat dan tidur b.d nyeri


NOC
 Istirahat
 Tidur
Kriteria Hasil
1. Kuantitas dan kualitas istirahat klien cukup dan baik
2. Pola istirahat klien cukup
3. Jam tidur klien cukup dan terpantau
4. pola tidur dan kualitas tidur klien cukup
5. Klien merasakan perasaan peremajaan setelah tidur
NIC
Terapi relaksasi
1) Tentukan apakah intervensi relaksasi di masa lalu telah berguna
2) Berikan penjelasan rinci tentang intervensi relaksasi yang dipilih
3) Ciptakan lingkungan yang tenang dengan cahaya redup dan suhu yang
nyaman, jika memungkinkan
4) Undang pasien untuk bersantai dan membiarkan sensasi terjadi
5) Gunakan nada lembut , kecepatan kata yang lamabat dan ritmis
6) Tunjukkan dan praktekkan teknik relaksasi dengan pasien
7) Sediakan waktu tenang, karena pasien mungkin dapat tertidur
8) Dorong kontrol ketika teknik relaksasi dilakukan
9) Evaluasi dan dokumentasikan respon terhadap terapi relaksasi

Tidur tambahan
1) Tentukan tidur pasien / pola aktivitas
2) perkirakan yang tidur rutin pasien / siklus bangun dalam perencanaan
perawatan
3) Tentukan efek dari obat pasien pada pola tidur
4) Pantau / rekam pola tidur pasien dan jumlah jam tidur
5) Bantu Klien untuk menghilangkan situasi stres sebelum tidur
6) Diskusi dengan pasien dan keluarga -meningkatkan teknik

4) Dx : Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif


NOC
 Kontrol Resiko
 Kontrol infeksi : Proses Infeksi

Kriteria Hasil
1. Klien dapat menyesuaikan strategi pengendalian risiko
2. Klien dapat memantau faktor risiko pribadi
3. Klien dapat memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi risiko
4. Klien mampu memelihara kebersihan lingkungan dan daerah post operasi
5. Klien mampu mengenali tanda dan gejala terjadinya infeksi

NIC
Perlindungan infeksi
1) Monitor tanda-tanda sistemik dan lokal dan gejala infeksi
2) Pertahankan teknik isolasi,
3) Ajarkan pasien dan keluarga bagaimana menghindari infeksi
4) Sediakan kamar pribadi, sesuai kebutuhan
5) Pantau tanda-tanda Vital

Pengawasan
1) Tentukan risiko kesehatan pasien
2) Minta pasien mengenai tanda-tanda, gejala, atau masalah
3) Pantau tanda vital
4) Mulai pengawasan kulit rutin pada pasien berisiko tinggi
5) Pantau keadaan yang berpeluang untuk infeksi

DISCHARGE PLANNING
Penyuluhan pada pasien dan keluarganya :
 Perlunya untuk memenuhi diit, terutama kalsium dan protein
 Menghindari makanan yang mengandung kalsium tinggi dan asam urat.
 Menganjurkan klien untuk berolah raga
 Menganjurkan pasien untuk minum air putih 2 –3 lt/sehari, diluar waktu
makan.
 Menjelaskan hygiene perseorangan yang benar, contohnya perawatan dan
kebersihan daerah genitalia.
 Hindari peningkatan suhu lingkungan yang mendadak yang dapat menyebabkan
keringat berlebih dan dehidrasi.