Anda di halaman 1dari 8

ASUHAN KEPENATAAN ANASTESI PERI ANASTESI

DI RUMAH SAKIT UMUM MUSLIMAT PONOROGO

a. Asuhan kepenataan pre anastesi.


1. Cemas berhubungan dengan krisis situasi dan maturasi
Tujuan : Cemas berkurang/hilang.
Kriteria hasil :
a. Pasien mengetahui tentang proses dan manfaat pembiusan.
b. Pasien menyatakan siap dilakukan pembiusan
c. Pasien tampak tenang dan kooperatif.
d. TTV normal
Rencana/intervensi tindakan:
a. Kaji tingkat kecemasan
b. Orientasikan dengan tim anastesi/kamar operasi
c. Jelaskan jenis anastesi yang akan dilakukan
d. Dampingi pasien untuk mengurangi cemas
e. Ajarkan tekhnik relaksasi distraksi
f. Kolaborasi dengan tim dokter untuk pemberian obat penenang
Implementasi:
a. Mengkaji tingkat kecemasan
b. Mengorientasikan dengan tim anastesi/kamar operasi
c. Menjelaskan jenis anastesi yang akan dilakukan
d. Mendampingi pasien untuk mengurangi cemas
e. Mengajarkan tekhnik relaksasi distraksi
f. memberikan obat penenang sesuai advis dokter.
Evaluasi:
a. pasien mengatakan paham tentang tindakan pembiusan
b. pasien mengatakan siap dilakukan pembiusan dan operasi
c. pasien tampak tenang
d. TTV normal
e. Pasien kooperatif
2. Resiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan
kebutuhan yang tidak terpenuhi.
Tujuan : keseimbangan cairan intrasel dan ekstrasel tercukupi.
Kriteria hasil :
a. Pasien mengatakan tidak haus/tidak lemas
b. Akral hangat
c. Haemodinamik normal
d. Masukan dan keluaran cairan seimbang
e. Urine output 1-2 cc/kgBB/jam
f. Hasil laborat elektrolit darah normal
Intervensi/rencana tindakan:
a. Kaji tingkat kekurangan volume cairan
b. Kolaborasi dalam pemberian cairan dan elektrolit
c. Monitor masukan dan keluaran cairan dan elektrolit
d. Monitor haemodinamik pasien
e. Monitor adanya perdarahan
Implementasi tindakan:
a. mengkaji tingkat kekurangan volume cairan
b. memberikan cairan dan elektrolit sesuai advis dokter
c. Memonitor masukan dan keluaran cairan dan elektrolit
d. Memonitor haemodinamik pasien
e. Memonitor adanya perdarahan
Evaluasi
a. Kebutuhan volume cairan seimbang
b. Cairan keluar masuk pasien terpantau
c. Haemodinamik normal
b. Asuhan kepenataan intra anastesi
1. Pola napas tidak efektif beerhubungan dengan disfungsi neuromuskule
dampak sekunder dari obat pelumpuh otot.
Tujuan : pola napas pasien efektif/normal
Kriteria hasil :
a. Frekuensi napas normal
b. Irama napas teratur
c. Ekspansi dada simetris
d. Jalan napas pasien lancer
e. Tidak terjadi sianosi, saturasi O2 96-100%
Intervnesi/rencana tindakan:
a. Bersihkan secret pada jalan napas
b. Jaga patensi jalan napas
c. Pasang dan beri suplai O2 yang adekuat
d. Monitor perfusi jaringan perifer
e. Monitor irama, ritme, dan usaha respirasi
f. Monitor pola nafas dan tanda hipoventilasi
Implementasi:
a. membersihkan secret pada jalan napas
b. menjaga patensi jalan napas
c. memasang dan memberi suplai O2 yang adekuat
d. Memonitor perfusi jaringan perifer
e. Memonitor irama, ritme, dan usaha respirasi
f. Memonitor pola nafas dan tanda hipoventilasi
Evaluasi:
a. Pola napas efektif dan tidak ada tanda sianosis
b. Napas spontan, irama dan ritme teratur
2. Potensial syok kardiogenik berhubungan dengan sekunder obat anastesi
(RA)
Tujuan : pompa jantung dan sirkulasi kardiovaskuler dapat efektif
Kriteria hasil :
a. tekanan darah sistolik dan diastolic dalam batas normal
b. danyut jantung dalam batas normal
c. denyut nadi perifer kuat dan teratur
d. pasien menyatakan tidak pusing
Intervensi/rencana tindakan:
a. atur posisi pasien
b. kaji toleransi aktifitas: awal napas pendek, nyeri, palpitasi
c. kaji tekanan darah, sianosis, status pernapasan
d. beri oksigen
e. evaluasi respon pasien terhadap terapi oksigen
f. kolaborasi dengan dokter
Implementasi:
a. mengatur posisi pasien
b. mengkaji toleransi aktifitas: awal napas pendek, nyeri, palpitasi
c. mengkaji tekanan darah, sianosis, status pernapasan
d. memberi oksigen
e. mengevaluasi respon pasien terhadap terapi oksigen
f. berkolaborasi dengan dokter
Evaluasi:
a. komplikasi syok kardiogenik tidak terjadi
b. tekanan darah normal
c. warna kulit normal
d. tidak pusing
e. tidak mual muntah
3. Resiko aspirasi berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran.
Tujuan : tidak terjadi aspirasi
Kriteria hasil :
a. Pasien mampu menelan
b. Bunyi paru bersih
c. Tonus otot adequate
Rencana Tindakan:
a. Atur posisi pasien
b. Pantau tanda-tanda aspirasi
c. Pantau tingkat kesadaran pasien.
d. Pantau bersihan jalan napas dan status paru pasien
e. Kolaborasi dengan dokter
Implementasi:
a. Mengatur posisi pasien
b. memantau tanda-tanda aspirasi
c. Memantau tingkat kesadaran pasien.
d. Memantau bersihan jalan napas dan status paru pasien
e. berkolaborasi dengan dokter
Evaluasi:
a. Tidak ada muntah
b. Mampu menelan
c. Napas normal, tidak ada suara paru tambahan
4. Resiko cidera berhubungan dengan anastesi umum
Tujuan : pasien terbebas dari cidera akibat jatuh
Kriteria hasil:
a. Selama oprasi pasien tenang
b. Pasien saadar setelah anastesi selesei
c. Kemampuan untuk melakukan gerakan yang bertujuan
d. Pasien tidak jatuh.
Intervensi tindakan:
a. Atur posisi pasien, tingkatkan keamanan bila perlu gunakan restraint.
b. Jaga pasien immobile
c. Atur posisi meja oprasi atau tubuh pasien untuk meningkatkan posisi
fisiologis dan psikologis.
d. Pasang pengaman tempat tidur pasien
e. Pantau penggunaan obat anaastesi dan efek yang timbul
Implementasi:
a. Mengatur posisi pasien, tingkatkan keamanan bila perlu gunakan
restraint.
b. Menjaga pasien immobile
c. Mengatur posisi meja oprasi atau tubuh pasien untuk meningkatkan
posisi fisiologis dan psikologis.
d. Memasang pengaman tempat tidur pasien
e. Memantau penggunaan obat anaastesi dan efek yang timbul
Evaluasi:
a. Pasien aman selama dan sesudah pembiusan
b. Pasien nyaman selama pembiusan, TTV stabil
c. Pasien aman tidak jatuh
c.Post Anastesi
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan
secret akibat efek GA
Tujuan : bersihan jalan nafas efektif
Kriteria hasil :
a. Pola nafas efektif (frekuensi, kedalaman, irama)
b. Suara nafas bersih
c. Tidak sianosis
Intervensi:
a. Atur posisi pasien
b. Pantau tanda2 ketidakefektifan jalan nafas dan pola nafas
c. Pantau respirasi dan oksigenasi
d. Ajarkan dan anjurkan batuk efektif
e. Buka jalan nafas dan bersihkan secret
Implementasi:
a. mengatur posisi pasien
b. Memantau tanda2 ketidakefektifan jalan nafas dan pola nafas
c. Memantau respirasi dan oksigenasi
d. Mengajarkan dan anjurkan batuk efektif
e. Membuka jalan nafas dan bersihkan secret
Evaluasi:
a. Jalan nafas efektif
b. Nafas pasien spontan dan teratur
c. Tidak ada tanda-tanda sianosis
d. Status haemodinamik pasien stabil
2.Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik akibat pembedahan.
Tujuan :nyeri berkurang/hilang
Kriteria hasil :
a. Pasien mengatakan neri berkurang/hilang
b. Pasien dapat istirahat dengan tenang
c. Expresi wajah nyaman
Intervensi tindakan.
a. Kaji derajat, lokasi,durasi, dan karakteristik nyeri
b. Gunakan tekhnik komunikasi terapeutik
c. Ajarkan tekhnik distrkasi relaksai
d. Kolaborasi dengan tim dokter
Implementasi:
a. Mengkaji derajat, lokasi,durasi, dan karakteristik nyeri
b. Menggunakan tekhnik komunikasi terapeutik
c. Mengajarkan tekhnik distrkasi relaksai
d. Berkolaborasi dengan tim dokter
Evaluasi:
a. Pasien mengatakan nyeri hilang/berkurang
b. Haemodinamik normal
c. Pasien bias istirahat dengan ekspresi wajah tenang.
3. Hipotermia berhubungan dengan terpapar dengan lingkungan dingin.
Tujuan :pasien menunjukkan termoregulasi normal
Kriteria hasil :
a. Kulit hangat dan suhu tubuh dalam batas normal.
b. Pasien tidak menggigil
c. Perubahan warna kulit tidak ada.
Intervensi:
a. Beri penghangat
b. Pantau TTV
c. Pertahanakan suhu tubuh selama pembiusan atau oprasi sesuai
yang diharapkan.
Implementasi:
a. Memberi penghangat
b. Memantau TTV
c. Mempertahanakan suhu tubuh selama pembiusan atau oprasi
sesuai yang diharapkan.
Evaluasi:
a. Suhu tubuh normal
b. TTV stabil
c. Pasien tidak menggigil
d. Warna kulit tidak ada perubahan.