Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Apendisitis adalah peradangan dari apendik periformis, dan merupakan
penyebab abdomen akut yang paling sering (Dermawan & Rahayuningsih, 2010)
Istilah usus buntu yang dikenal di masyarakat awam adalah kurang tepat karena
usus yang buntu sebenarnya adalah sekum. Apendiks diperkirakan ikut serta dalm
system imun sektorik di saluran pencernaan. Namun, pengangkatan apendiks tidak
menimbulkan efek fungsi system imun yang jelas (syamsyuhidayat, 2005).
Insiden apendisitis di Negara maju lebih tinggi daripada di Negara berkembang.
Namun, dalm tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiannya menurun secara
bermakna. Hal ini di duga disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan
berserat pada diit harian (Santacroce,2009).
Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di indonesia, apendisitis
akut merupakan salah satu penyebab dari akut abdomen dan beberapa indikasi
untuk dilakukan operasi kegawatdaruratan abdomen. Insidens apendisitis di
Indonesia menempati urutan tertinggi di antara kasus kegawatan abdomen lainya
(Depkes 2008). Dinkes jateng menyebutkan pada tahun 2009 jumlah kasus
apendisitis di jawa tengah sebanyak 5.980 penderita, dan 177 penderita diantaranya
menyebabkan kematian. Pada periode 1 Januari sampai 31 Desember 2011 angka
kejadian appendisitis di RSUD salatiga, dari seluruh jumlah pasien rawat inap
tercatat sebanyak 102 penderita appendisitis dengan rincian 49 pasien wanita dan
53 pasien pria. Ini menduduki peringkat ke 2 dari keseluruhan jumlah kasus di
instalsi RSUD Salatiga. Hal ini membuktikan tingginya angka kesakitan dengan
kasus apendiksitis di RSUD Salatiga.
Peradangan pada apendiks selain mendapat intervensi farmakologik juga
memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi dan memberikan
implikasi pada perawat dalam bentuk asuhan keperawatan. Berlanjutnya kondisi
apendisitis akan meningkatkan resiko terjadinya perforasi dan pembentukan masa

1
periapendikular. Perforasi dengan cairan inflamasi dan bakteri masuk ke rongga
abdomen lalu memberikan respons inflamasi permukaan peritoneum atau terjadi
peritonitis. Apabila perforasi apendiks disertai dengan material abses, maka akan
memberikan manifestasi nyeri local akibat akumulasi abses dan kemudian juga
akan memberikan respons peritonitis. Manifestasi yang khas dari perforasi
apendiks adalah nyeri hebat yang tiba-tiba datang pada abdomen kanan bawah
(Tzanakis, 2005).
Tujuh persen penduduk di Amerika menjalani apendiktomi (pembedahan untuk
mengangkat apendiks) dengan insidens 1,1/1000 penduduk pertahun, sedang di
negara-negara barat sekitar 16%. Di Afrika dan Asia prevalensinya lebih rendah
akan tetapi cenderung meningkat oleh karena pola dietnya yang mengikuti orang
barat (www.ilmubedah.info.com, 2011).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dari apendisitis ?
2. Apa etiologi dari apendisitis ?
3. Apa manifestasi klinis apendisitis ?
4. Bagaimana patofisiologi apendisitis ?
5. Apa saja pemeriksaan diagnostik dari apendisitis ?
6. Apa saja penatalaksanaan medis dari apendisitis ?
7. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada klien dengan Apendisitis ?

1.3 Tujuan
1. Memahami pengertian dari apendisitis.
2. Mengetahui etiologi dari apendisitis.
3. Mengetahui manifestasi klinis dari apendisitis.
4. Memahami patofisiologi apendisitis.
5. Mengetahui apa saja pemeriksaan diagnostik dari apendisitis.
6. Mengetahui apa saja penatalaksanaan medis dari apendisitis.

2
7. Mengetahui bagaimana Asuhan Keperawatan pada klien dengan Apendisitis.

3
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Medis


A. Definisi Apendisitis

Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis dan merupakan


penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini mengenai semua umur baik
laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia 10 sampai
30 tahun (Mansjoer, 2000). Sedangkan menurut Smeltzer C. Suzanne (2001),
Apendisitis adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan
dari rongga abdomen dan merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen
darurat. Jadi, dapat disimpulkan apendisitis adalah kondisi dimana terjadi infeksi pada
umbai apendiks dan merupakan penyakit bedah abdomen yang paling sering terjadi.
Klasifikasi apendisitis terbagi menjadi dua yaitu, apendisitis akut dan
apendisitis kronik (Sjamsuhidayat, 2005).
1. Apendisitis akut. Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari
oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai
maupun tidak disertai rangsang peritonieum lokal. Gajala apendisitis akut talah
nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium
disekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang muntah.
Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah
ketitik mcBurney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya
sehingga merupakan nyeri somatik setempat.
2. Apendisitis kronik. Diagnosis apendisitis kronis baru dapat ditegakkan jika
ditemukan adanya : riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang
kronik apendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Kriteria mikroskopik
apendisitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial

4
atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa , dan
adanya sel inflamasi kronik. Insiden apendisitis kronik antara 1-5%.
2. Etiologi

Apendisitis akut merupakan merupakan infeksi bakteria. Berbagai berperan


sebagai faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang
diajukan sebagai faktor pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor
apendiks dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang
diduga dapat menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit
seperti E.histolytica. Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan
makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis.
Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan
fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa.
Semuanya ini mempermudah timbulnya apendisitis akut. (Sjamsuhidayat, 2005).

3. Patofiologi

Patofisiologi Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen


apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis
akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan
mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Semakin lama mukus tersebut
semakin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan
sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat
tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri,
dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut lokal yang ditandai oleh
nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat.
Hal tersebut akan menyebkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan
menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum
setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah. Keadaan ini disebut
apendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark

5
dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis
gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.
Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan
bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate
apendikularis. Peradangan pada apendiks tersebut dapat menjadi abses atau
menghilang. Pada anak-anak, kerena omentum lebih pendek dan apendiks lebih
panjang, maka dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya
tahan tubuh yang masih kurang sehingga memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan
pada orang tua, perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah
(Mansjoer, 2000).

4. Manifestasi klinik

Manifestasi Klinik Apendisitis akut sering tampil dengan gejala yang khas
yang didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat.
nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual, muntah
dan hilangnya nafsu makan. Pada apendiks yang terinflamasi, nyeri tekan dapat
dirasakan pada kuadran kanan bawah pada titik Mc.Burney yang berada antara
umbilikus dan spinalis iliaka superior anterior. Derajat nyeri tekan, spasme otot dan
apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi
apendiks. Bila apendiks melingkar dibelakang sekum, nyeri dan nyeri tekan terasa
didaerah lumbal. Bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini dapat diketahui hanya
pada pemeriksaan rektal. nyeri pada defekasi menunjukkan ujung apendiks berada
dekat rektum. nyeri pada saat berkemih menunjukkan bahwa ujung apendiks dekat
dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekakuan pada bagian bawah otot rektus
kanan dapat terjadi. Tanda rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran
bawah kiri yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa dikuadran kanan
bawah. Apabila apendiks telah ruptur, nyeri menjadi menyebar. Distensi abdomen
terjadi akibat ileus paralitik dan kondisi pasien memburuk. Pada pasien lansia, tanda

6
dan gejala apendisitis dapat sangat bervariasi. Tanda-tanda tersebut dapat sangat
meragukan, menunjukkan obstruksi usus atau proses penyakit lainnya. Pasien mungkin
tidak mengalami gejala sampai ia mengalami ruptur apendiks. Insidens perforasi pada
apendiks lebih tinggi pada lansia karena banyak dari pasien-pasien ini mencari bantuan
perawatan kesehatan tidak secepat pasien-pasien yang lebih muda (Smeltzer C.
Suzanne, 2002).

5. Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorium : terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein
reaktif (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah
leukosit antara 10.000-20.000/ml (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%.
Sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat.
2. Radiologi : terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan. Pada
pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat
yang terjadi inflamasi pada apendiks. Sedangkan pada pemeriksaan CT-
scan ditemukan bagian menyilang dengan apendikalit serta perluasan dari
apendiks yang mengalami inflamasi serta pelebaran sekum.

6. Pengobatan

Pembedahan untuk mengangkat usus buntu, yang disebut apendektomi,


adalah penanganan standar untuk radang usus buntu.

Secara umum, jika usus buntu dicurigai, dokter cenderung untuk memiliki sisi aman
untuk keselamatan pasien dengan cepat mengambil apendiks untuk menghindari
pecah-usus buntu nya. Jika usus buntu telah membentuk abses, Anda mungkin
memiliki dua prosedur operasi: satu kali operasi untuk mengeringkan abses nanah dan
cairan, dan kemudian satu untuk mengambil usus buntu. Namun, ada beberapa

7
penelitian yang menunjukkan bahwa pengobatan apendisitis akut dengan antibiotik
dapat menghilangkan kebutuhan untuk operasi.

7. Komplikasi

Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks yang dapat


berkembang menjadi peritonitis atau abses. Insidens perforasi adalah 10% sampai 32%.
Insidens lebih tinggi pada anak kecil dan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam
setelah awitan nyeri. Gejala mencakup demam dengan suhu 37,70C atau lebih tinggi,
penampilan toksik, dan nyeri atau nyeri tekan abdomen yang kontinyu (Smeltzer
C.Suzanne, 2002).

8. Pencegahan
- Memakan makanan berserat tinggi
- Batasi asupan alkohol dan kafein
- Perbanyak minum air putih
- Jangan suka menunda buang air besar (BAB)
- Jangan lupa konsumsi vitamin A dan D
- Jangan suka menahan kentut
- Milikilah kualitas tidur yang baik dan jadwal teratur
- Jangan mengonsumsi obat tertentu jika tidak terlalu diperlukan
- Miliki jadwal olahraga yang rutin

8
B. Konsep Dasar Keperawatan
1. pengkajian
a) Wawancara Dapatkan riwayat kesehatan dengan cermat khususnya
mengenai:
1) Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium
menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan
bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau
di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu.Sifat keluhan
nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam
waktu yang lama. Keluhan yang menyertai biasanya klien
mengeluh rasa mual dan muntah, panas.
2) Riwayat kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan
masalah. kesehatan klien sekarang.
3) Diet, kebiasaan makan makanan rendah serat.
4) Kebiasaan eliminasi.
b) Pemeriksaan Fisik
1) Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit
ringan/sedang/berat.
2) Sirkulasi : Takikardia.
3) Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal.
4) Aktivitas/istirahat : Malaise.
5) Eliminasi : Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang.
6) Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan
atau tidak ada bising usus.
7) Nyeri/kenyamanan, nyeri abdomen sekitar epigastrium dan
umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc.
Burney, meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau napas
dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki
kanan/posisi duduk tegak.

9
8) Demam lebih dari 38oC.
9) Data psikologis klien nampak gelisah.
10) Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan.
11) Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita
merasa nyeri pada daerah prolitotomi.
12) Berat badan sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat.

10
C. Penyimpangan KDM

Materian Paras Kebiasaan diet rendah Konstipasi

Obstruksi pada lumen Fekali

Peningkatan konsentrasi dan penurunan perfusi


pada dinding apendiks

Peningkatan tekanan intraluminal


dan peningkatan bakteri

Apendisitis Apendisitis
nekrosis

Apendisitis Gangguan Respon


sistem

Respon lokal saat Mual, Muntah, Pening


terjadi inflamasi kembung, katan
anoreksia pada suhu
bayi dan anak
Pengeluaran
HSBP
Hiperter
. Asupan nutrisi mia
. Nyeri
tidak adekuat

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan

11
2. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut
2) Hipertermia
3) Ketidaksamaan nutrisi kurang dari kebutuhan

12
3. Intervensi Keperawatan

No Diognisa Tujuan kriteria Intervensi (SIKI)


keperawatan (SLKI)
(SDKI)
1 Nyeri akut Setelah dilakukan Perawatan tingkat nyeri :
berhubungan dengan tindakan keperawatan, Tindakan
agen pencedera status tingkat nyeri 1. Observasi
fisiologis ( mis. klien menurun, - Identifikasi lokasi,
Diagnosa inflamasi, dengan kriteria hasil : karakteristik,
iskemia, neoplasma. - keluhan nyeri durasi, frekuensi,
Menurun kualitas, intensitas
- Meringis nyeri.
Menurun - Identifikasi skala
- Sikap protektif nyeri
Menurun - identifikasi
- Gelisah Menurun respons nyeri non
- Kesulitan tidur verbal
Menurun 2. Terapeotik
- Berikan teknik non
farmokologis
untuk mengurangi
rasa nyeri (Mis.
TENS, hipnosis,
akupresur, terapi
musik,biofeedback,
terapi pijat, aroma
terapi, teknik
imajinasi

13
terbimbing,
kompres
hangat/dingn,
terapi bermain)
- kontrol lingkungan
yang memperberat
rasa nyeri (Mis.
suhu ruangan,
pencahayaan,
kebisingan)
- fasilitas istirahat
dan tidur
3. Edukasi
- jelaskan
penyebab,
periode, dan
pemicu nyeri.
- jelaskan strategi
meredakan nyeri
- anjurkan
memonitor nyeri
secara mandiri
4. Kolaborasi
- kolaborasi
pemberian
analgetik jika
perlu.

14
2 Hipertermia Setelah dilakukan Tindakan
berhubungan dengan tindakan keperawatan 1. Observasi
terpapar suhu tingkat suhu pasien - Identifekasi
lingkungan membaik dengan penyebab
kriteria hasil hipertermia (Mis.
- Suhu tubuh dehidrasi,
membaik terpapar
- Suhu kulit membaik lingkungan
- Tekanan darah panas,
membaik penggunaan
inkubator)
- Monitor suhu
tubuh
- Monitor kadar
elektrolit
- Monitor haluaran
urien
- Monitor
komplikasi akibat
hipertermia
2. Terapeotik
- Sediakan
lingkungan yang
dingin
- Longgarkan atau
lepaskan pakaian
- Basahi dan kipasi
permukaan tubuh

15
- Beri cairan oral
- ganti linen setiap
hari atau lebih
sering jika
mengalami
hiperhidrosis
(keringat
berlebihan)
- Lakukan
pendinginan
eksternal (Mis.
selimut
hipertermia, atau
kompres dingin
pada dahi, leher,
dada, abdomen,
aksila)
- hindari
pemberian
antipiretik atau
aspirin
- Berikan oksigen,
jika perlu
3. Edukasi
- Anjurkan tirah
baring
4. Kolaborasi

16
- Kolaborasi
pemberian cairan
dan elektrolit
intravena, jika
perlu.

3 Ketidaksamaan Setelah dilakukan


Tindakan :
nutrisi kurang dari tindakan keperawatan
1. Observasi
kebutuhan tingkat nutrisi pasien
- identifikasi status
berhubungan dengan membaik dengan
nutrisi
ketidakmampuan kriteria hasil :
- identifekasi
mencerna makanan - berat badan
kebutuhan kalori
membaik
dan jenis nutrien
- indeks masa
- monitor asupan
tubuh (IMT)
makanan
membaik
- monitor berat
badan
2. Terapeutik
- lakukan oral
hygiene sebelum
makan, jika perlu
- berikan makanan
tinggin serat
untuk mencegah
konstipasi
- berikan makanan
tinggi kaluri dan
tinggi protein

17
- berikan suplemen
makanan, jika
perlu
3. Edukasi
- anjurkan posisi
duduk,jika perlu
4. Kolaborasi
- Kolaborasi
pemberian
medikasi sebelum
makan (Mis.
pereda nyeri,
antiemetik) jika
perlu
- kolaborasi
dengan ahli gizi
untuk
menentukan
jumlah kalori dan
jenis nutrien yang
dibutuhkan,jika
perlu.

18
BAB III
LAPORAN KASUS

A. Definisi Apendisitis

Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis dan merupakan


penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini mengenai semua umur baik
laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia 10 sampai
30 tahun (Mansjoer, 2000). Sedangkan menurut Smeltzer C. Suzanne (2001),
Apendisitis adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan
dari rongga abdomen dan merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen
darurat. Jadi, dapat disimpulkan apendisitis adalah kondisi dimana terjadi infeksi pada
umbai apendiks dan merupakan penyakit bedah abdomen yang paling sering terjadi.
Klasifikasi apendisitis terbagi menjadi dua yaitu, apendisitis akut dan
apendisitis kronik (Sjamsuhidayat, 2005).
1. Apendisitis akut. Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari
oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai
maupun tidak disertai rangsang peritonieum lokal. Gajala apendisitis akut talah
nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium
disekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang muntah.
Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah
ketitik mcBurney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya
sehingga merupakan nyeri somatik setempat.
2. Apendisitis kronik. Diagnosis apendisitis kronis baru dapat ditegakkan jika
ditemukan adanya : riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang
kronik apendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Kriteria mikroskopik
apendisitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial
atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa , dan
adanya sel inflamasi kronik. Insiden apendisitis kronik antara 1-5%.

19
2. Etiologi

Apendisitis akut merupakan merupakan infeksi bakteria. Berbagai berperan


sebagai faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang
diajukan sebagai faktor pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor
apendiks dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang
diduga dapat menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit
seperti E.histolytica. Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan
makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis.
Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan
fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa.
Semuanya ini mempermudah timbulnya apendisitis akut. (Sjamsuhidayat, 2005).

3. Patofiologi

Patofisiologi Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen


apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis
akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan
mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Semakin lama mukus tersebut
semakin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan
sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat
tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri,
dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut lokal yang ditandai oleh
nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat.
Hal tersebut akan menyebkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan
menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum
setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah. Keadaan ini disebut
apendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark
dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis

20
gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.
Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan
bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate
apendikularis. Peradangan pada apendiks tersebut dapat menjadi abses atau
menghilang. Pada anak-anak, kerena omentum lebih pendek dan apendiks lebih
panjang, maka dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya
tahan tubuh yang masih kurang sehingga memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan
pada orang tua, perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah
(Mansjoer, 2000).

4. Manifestasi klinik

Manifestasi Klinik Apendisitis akut sering tampil dengan gejala yang khas
yang didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat.
nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual, muntah
dan hilangnya nafsu makan. Pada apendiks yang terinflamasi, nyeri tekan dapat
dirasakan pada kuadran kanan bawah pada titik Mc.Burney yang berada antara
umbilikus dan spinalis iliaka superior anterior. Derajat nyeri tekan, spasme otot dan
apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi
apendiks. Bila apendiks melingkar dibelakang sekum, nyeri dan nyeri tekan terasa
didaerah lumbal. Bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini dapat diketahui hanya
pada pemeriksaan rektal. nyeri pada defekasi menunjukkan ujung apendiks berada
dekat rektum. nyeri pada saat berkemih menunjukkan bahwa ujung apendiks dekat
dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekakuan pada bagian bawah otot rektus
kanan dapat terjadi. Tanda rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran
bawah kiri yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa dikuadran kanan
bawah. Apabila apendiks telah ruptur, nyeri menjadi menyebar. Distensi abdomen
terjadi akibat ileus paralitik dan kondisi pasien memburuk. Pada pasien lansia, tanda
dan gejala apendisitis dapat sangat bervariasi. Tanda-tanda tersebut dapat sangat

21
meragukan, menunjukkan obstruksi usus atau proses penyakit lainnya. Pasien mungkin
tidak mengalami gejala sampai ia mengalami ruptur apendiks. Insidens perforasi pada
apendiks lebih tinggi pada lansia karena banyak dari pasien-pasien ini mencari bantuan
perawatan kesehatan tidak secepat pasien-pasien yang lebih muda (Smeltzer C.
Suzanne, 2002).

5. Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorium : terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein reaktif
(CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara
10.000-20.000/ml (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%. Sedangkan pada
CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat.
2. Radiologi : terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan. Pada
pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat yang
terjadi inflamasi pada apendiks. Sedangkan pada pemeriksaan CT-scan
ditemukan bagian menyilang dengan apendikalit serta perluasan dari apendiks
yang mengalami inflamasi serta pelebaran sekum.

6. Pengobatan

Pembedahan untuk mengangkat usus buntu, yang disebut apendektomi,


adalah penanganan standar untuk radang usus buntu.

Secara umum, jika usus buntu dicurigai, dokter cenderung untuk memiliki sisi aman
untuk keselamatan pasien dengan cepat mengambil apendiks untuk menghindari
pecah-usus buntu nya. Jika usus buntu telah membentuk abses, Anda mungkin
memiliki dua prosedur operasi: satu kali operasi untuk mengeringkan abses nanah dan
cairan, dan kemudian satu untuk mengambil usus buntu. Namun, ada beberapa
penelitian yang menunjukkan bahwa pengobatan apendisitis akut dengan antibiotik
dapat menghilangkan kebutuhan untuk operasi.

22
7. Komplikasi

Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks yang dapat


berkembang menjadi peritonitis atau abses. Insidens perforasi adalah 10% sampai 32%.
Insidens lebih tinggi pada anak kecil dan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam
setelah awitan nyeri. Gejala mencakup demam dengan suhu 37,70C atau lebih tinggi,
penampilan toksik, dan nyeri atau nyeri tekan abdomen yang kontinyu (Smeltzer
C.Suzanne, 2002).

8. Pencegahan
- Memakan makanan berserat tinggi
- Batasi asupan alkohol dan kafein
- Perbanyak minum air putih
- Jangan suka menunda buang air besar (BAB)
- Jangan lupa konsumsi vitamin A dan D
- Jangan suka menahan kentut
- Milikilah kualitas tidur yang baik dan jadwal teratur
- Jangan mengonsumsi obat tertentu jika tidak terlalu diperlukan
- Miliki jadwal olahraga yang rutin

23
B. Asuhan Keperawatan
1) Pengkajian
1. Identitas Pasien
Nama : Ny. A
Umur : 45 thun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
2. Keluhan utama : Nyeri abdomen pada kuadran kanan bawah, demam,
tidak napsu makan, mual, muntah, dan konstipasi.
3. Pemeriksaan Fisik : Area abdomen terdapat bunyi timpany dan nyeri tekan
saat dilakukan palpasi.
4. Tanda – tanda vital
TD : 130/80 mmHg
Repirasi : 21 x/ menit
Nadi : 93 x/ menit
Suhu :39°c
Nilai bising usus : Melambat
Skala nyeri :7
Pemeriksaan Homatologi rutin WBC 14000 g/dl

24
2) Penyimpangan KDM

Apendisitis terinflamasi

Mual Muntah peningkatan tekanan intraluminal

Resiko Menghambat aliran limfe


kekurangan
volume cairan

Ulserasi pada dinding mukosa

gangren dan perforasi

Appendiktomy

Luka post Op

Resiko tinggi
Nyeri akut
infeksi

25
3) Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut
- Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis ( mis.
Diagnosa inflamasi, iskemia, neoplasma.
- Kategori : psikologis
- Sup kategori : Nyeri dan kenyamanan
- Definisi : Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan
kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak
atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung
kurang dari 3 bulan.

NO Gejala dan tanda mayor Gejala dan tanda minor

Subjektif Subjektif
1 Mengeluh nyeri (tidak tersedia)

Objektif Objektif
1 Tampak meringis 1 tekanan darah meningkat
2 Bersikap protektif (Mis. waspada, 2 Pola napas berubah
posisi menghindar nyeri) 3 Nafsu makan berubah
4 Proses berfikir terganggu
3 Gelisah
5 menarik diri
4 Frekuensi nadi meningkat
6 Berfokus pada diri sendiri
5 Sulit tidur
7 Diaforesis

26
- Kondisi klinis terkait
1. Kondisi pembedahan
2. cedera traumatis
3. infeksi
4. sindrom koroner akut
5. glaukoma

2. Resiko tinggi infeksi


- Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan paparan organisme
patpgen lingkungan
- Kategori : lingkungan
- Subkategori : keamanan dan proteksi
- Definisi : Beresiko mengalami peningkatan terserang organisme
patogenik
- kondisi klinis terkait

3. Resiko kekurangan volume cairan


- resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan obstruksi
intestinal
- Kategori : fisiologi
- subkategori : Nutrisi/cairan
- Definisi : Beresiko mengalami penurunan, peningkatan atau percepatan
perpindahan cairan dari intravaskuler, interstisial atau inra selular
- kondisi klinis terkait :
1. prosedur pembedahan mayor

27
4. Intervensi keperawatan

No Diognisa Tujuan kriteria Intervensi (SIKI)


keperawatan (SLKI)
(SDKI)
1 Nyeri akut Setelah dilakukan Perawatan tingkat nyeri :
berhubungan dengan tindakan keperawatan, Tindakan
agen pencedera status tingkat nyeri 1. Observasi
fisiologis ( mis. klien menurun, dengan - Identifikasi lokasi,
Diagnosa inflamasi, kriteria hasil : karakteristik,
iskemia, neoplasma. - keluhan nyeri durasi, frekuensi,
Menurun kualitas, intensitas
- Meringis nyeri.
Menurun - Identifikasi skala
- Sikap protektif nyeri
Menurun - identifikasi
- Gelisah Menurun respons nyeri non
- Kesulitan tidur verbal
Menurun 2. Terapeotik
- Berikan teknik non
farmokologis
untuk mengurangi
rasa nyeri (Mis.
TENS, hipnosis,
akupresur, terapi
musik,biofeedback,
terapi pijat, aroma
terapi, teknik
imajinasi

28
terbimbing,
kompres
hangat/dingn,
terapi bermain)
- kontrol lingkungan
yang memperberat
rasa nyeri (Mis.
suhu ruangan,
pencahayaan,
kebisingan)
- fasilitas istirahat
dan tidur
3. Edukasi
- jelaskan
penyebab,
periode, dan
pemicu nyeri.
- jelaskan strategi
meredakan nyeri
- anjurkan
memonitor nyeri
secara mandiri
4. Kolaborasi
- kolaborasi
pemberian
analgetik jika
perlu.

29
2 Resiko infeksi Setelah dilakukan Perawatan resiko infeksi
berhubungan dengan tindakan keperawatan Tindakan
peningkatan paparan tingkat infeksi klien 1. Observasi
organisme patpgen menurun dengan - monitor tanda
lingkungan kriterian hasil : dan gejala
- Demam menurun infeksi lokal
- Kemerahan dan sistematik
menurun 2. Terapeotik
- Nyeri menurun - Batasi jumlah
- Bengkak menurun pengunjung
- berikan
perawatan kulit
pada area
edema
- cuci tangan
sebelum dan
sesudah kontak
dengan pasien
dan lingkungan
pasien
3. Edukasi
- Jelaskan tanda
dan gejala
infeksi
- ajarkan cara
mencuci tangan
yang benar

30
- ajarkan cara
memeriksa
kondisi luka
atau luka
operasi
4. Kolaborasi
- Pemberian
imunisasi, jika
perlu

3 Resiko kekurangan Setelah dilakukan Perawatan


volume cairan tindakan keperawatan ketidakseimbangan
berhubungan dengan keseimbangan cairan cairan
obstruksi intestinal pada klien meningkat Tindakan
dengan kriteria hasil : 1. Observasi
- Asupan cairan - Monitor status
meningkat hidrasi (Mis.
- keluaran urine frekuensi nadi,
meningkat kekuatan nadi,
- kelembaban akral, pengisian
membran mukosa kapiler,
meningkat kelembapan
mukosa, turgor
kulit, tekanan
darah)
- monitor berat
badan harian

31
- monitor berat
badan sebelum
dan sesudah
dianalisis
2. Terapeotik
- catat intake-
output dan
hitung balans
cairan 24 jam
- berikan asupan
cairan, sesuai
kebutuhan
- berikan cairan
intravena, jika
perlu
3. Kolaborasi
- kolaborasi
pemberian diuretik,
jika perlu

32
BAB IV

LEMBAR KERJA

1. Kata Kunci
WBC (white blood cell count/WBC adalah jumlah total leukosit. leukosit
tinggi(hitung sel darah putih yang tinggi) umumnya berarti tubuh kita sedang
melawan infeksi. leukosit rendah artinya ada masalah dengan sumsum tulang.
leukosit yang rendah, yang disebut leukopenia atau sitopenia, berarti tubuh kita
kurang mampu melawan infeksi.

Bising usus adalah kontraksi tonik yang bersifat kontinu, berlangsung bermenit-
menit, atau berjam-jam kadang-kadang meningkat atau menurun intensitasnya
tetap kontinu.

IRD yaitu suatu tempat atau unit pelayanan dirumah sakit yang memiliki tim kerja
dengan kemampuan khusus dan peralatan yang memberikan pelayanan pasien
gawat darurat yang terorganisir.

Bunyi timpani atau Hipersonor adalah suara perkusi pada daerah yang lebih
berongga kosong, misalnya daerah caverna paru, pada klien asma kronik.

2. PERTANYAAN PENTING
jika penyakit Apendisitis ini terjadi pada ibu hamil dimana jika melahirkan
apa yang akan terjadi dan tindakan apa saudara selaku perawat dalam
menangani ibu hamil yang melahirkan tersebut

33
3. JAWABAN PERTANYAAN
Yang pertama: kita lakukan sebagai seorang perawat yaitu mengkaji
keluhan-keluhan menentukan diagnosa yang tepat dan melakukan intervensi
serta implementasi seperti pemberian obat kemudian kolaborasi dengan
dokter.
jadi, ketika terjadi pada ibu hamil dapat menyebabkan kematian pada ibu
hamil, dan akan menimbulkan tingkat nyeri sangat hebat.

4. Informasi tambahan
- mencegah iritasi saluran pencernaan
- hambatan pada pintu rongga usus buntu
- penebalan atau pembengkakan jaringan dinding usus buntu
karena infeksi disaluran pencernaan
- tunja atau pertumbuhan parasit yang menyumbat rongga usus buntu
- cedera pada perut

34
ANALISA SINTESA
A. IDENTITAS
Nama: Ny.A
Umur: 45 th
Jenis kelamin : perempuan
Agama : islam
Diagnosa : Apendisitis
Skala Nyeri: 7

B. PEMERIKSAAN FISIK
1.Tanda-tanda Vital:
Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Nadi : 93x permenit
Suhu : 39c
WBC : 14000 g

2. Alasan masuk RS:


Nyeri abdomen pada kuadran kanan bawah.
3. Riwayat kesehatan saat ini:
Ny.A mengatakan abdomen pada kuadran kanan bawah. Pasien
tersebut mengatakan nyeri sudah dirasa sejak 2 hari yang lalu dan
semakin memberat. nyeri dirasakan terus-menerus. Keluhan yang
dirasakan saat ini demam, tidak napsu makan, mual, muntah, dan
kostipasi.

6) tujuan pembelajaran selanjutnya


- kita harus mengetahui gejala usus buntu tersebut
- harus menghindari makanan pedas dan makanan rendah serat
- serta mencegah terjadinya usus buntu
- buat pasien istirahat dengan nyenyak

35
BAB V
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Apendisitis merupakan inflamasi apendiks vermiformis, karena struktur
yang terpuntir, apendiks merupakan tempat ideal bagi bakteri untuk berkumpul
dan multiplikasi. Penyebab dari apendisitis adalah adanya obstruksi pada lumen
apendikial oleh apendikolit, hiperplasia folikel limfoid submukosa, fekalit, atau
parasit. Gejala apendisitis adalah nyeri viseral di daerah epigastrium di sekitar
umbilikus dengan keluhan mual dan muntah. Dalam beberapa jam nyeri akan
berpindah ke kanan bawah. Nyeri kemudian dirasakan lebih tajam dan lebih jelas
letaknya sehingga disebut nyeri somatik. Komplikasi apendisitis adalah
perforasi, peritonitis, abses apendiks.

2. SARAN
Dengan dibuatnya makalah ini, kami berharap makalah ini dapat
bermanfaat bagi mahasiswa dan dapat menambah pengetahuan tentang
Apendisitis. Semoga kita juga dapat mencegah terjadinya apendisitis, dengan
cara diet tinggi serat.

36
DAFTAR PUSTAKA

Ackley,B. J., Ladwig, G. B., & Makic, M. B. F. (2017). Nursing Diagnosis Handbook,
An Evidence-Based Guide to Planning care. 11th Ed. St. Louis: Elsevier.
Carpertnito-Monyet, L. J. (2013). Nursing Diagnosis Aplikation to Clinical Practice. 14th
Ed. Philadelpia: Lippincot Williams & Wilkins.
Mansjoer A,. dkk. 2012. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapiu
Rutherford, M. (2018). standardized Nursing Language: What does it mean for Nursing
practice? OJIN: The online journal of issues in Nursing, 13, 1.
Simon, J. M., Baumann, M. A., & Nolan, L. (1995). Differential diagnostic validation: acute
and chronic pain. Nursing Diagnosis Association, 6(2) 73-79
Wilkimson, J. M., Treas, L. S., Barnett, K. & Smith, M. H. (2016) Fundamentals of Nursing
(3ᵗᵈ ed.) Philadelphia: F. A. Davis Company.

37