Anda di halaman 1dari 2

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada kasus didapatkan pasien laki-laki berusia 50 tahun datang ke IGD puskesmas dengan
keluhan demam. Demam sudah dirasakan sejak 3 hari yang lalu. Demam dikatakan terasa terus
menerus sepanjang hari. Pasien sempat berobat ke dokter dan diberikan obat penurun panas.
Keluhan demam dirasakan membaik setelah mengkonsumsi obat, namun keluhan muncul
kembali setelahnya. Keluhan tersebut membuat pasien lemas dan mengganggu aktivitas pasien.
Selain demam pasien juga mengeluhkan nyeri kepala dan nyeri sendi yang sudah dirasakan sejak
awal terasa demam.
Pada teori disebutkan tonsillitis disebabkan oleh grup A Streptokokus β hemolitikus,
Klebsiella pneumoniae, Streptokokus viridian dan Streptokokus piogenes, serta Staphylokokus
aureus. Dimana gejala klinis tonsilitis kronis didahului dengan gejala tonsilitis akut seperti nyeri
tenggorokan, halitosis atau bau tidak sedap dari mulut akibat debris yang tertahan di dalam kripta
tonsil. Pembesaran tonsil dapat mengakibatkan terjadinya obstruksi sehingga timbul gangguan
menelan, obstruksi sleep apnue dan gangguan suara.1,4,5
Dari anamnesis yang dilakukan terhadap pasien, keluhan pasien sudah mengarah ke
diagnosis tonsilitis kronis, yaitu didahului gejala yang sama seperti tonsilitis akut seperti nyeri
tenggorokan, halitosis atau bau tidak sedap dari mulut akibat debris yang tertahan di dalam kripta
tonsil, tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus membesar disertai detritus.
Tonsil yang hipertrofi sampai uvula atau melebihi uvula dapat menyumbat saluran nafas atas
yang dapat menyebabkan apnea waktu tidur, gejala yang paling umum adalah mendengkur yang
dapat diketahui dalam anamnesis. Pasien atau orang tua pasien (anak-anak) akan mengeluhkan
nafsu makan yang menurun atau terjadi penurunan berat badan khususnya pada anak-anak.
Obstruksi juga dapat terjadi pada tuba eusthasius sehingga funginya terganggu dan menyebabkan
keluhan pada telinga yaitu sakit telinga dan penurunan pendengaran Faktor risiko timbulnya
tonsilitis kronis ini adalah akibat rangsangan menahun dari beberapa jenis makanan, hygiene
mulut yang buruk, pengaruh cuaca, rokok, kelelahan fisik dan pengobatan tonsilitis yang tidak
adekuat.
Berdasarkan teori, dari pemeriksaan fisik dapat dijumpai pembesaran tonsil bervariasi, dapat
terlihat pus kekuningan pada permukaan medial tonsil, bila dilakukan penekanan pada plika
anterior dapat keluar pus atau material menyerupai keju, warna kemerahan pada plika anterior
bila dibanding dengan mukosa faring, tanda ini merupakan tanda penting untuk menegakkan
diagnosa infeksi kronis pada tonsil.4,5
Pada pasien ditemukan pemeriksaan tanda vital dan status intena kasus ditemukan dalam
batas normal. Pemeriksaan lokalis telinga dan hidung masih dalam batas normal, namun pada
pemeriksaan tenggorokan ditemukan pembesaran tonsil T4/T4 dan sedang tidak mengalami
peradangan.
Berdasarkan teori dapat dilakukan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui jenis
organisme penyebab tonsilitis. Organisme penyebab tonsilitis yang sering yaitu grup A
Streptokokus β hemolitikus, Klebsiella pneumoniae, Streptokokus viridian dan Streptokokus
piogenes, serta Staphylokokus aureus.1,5 Pada kasus pemeriksaan penunjang tidak dilakukan
karena diagnosis pasti sudah bisa ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik saja.4,5
Berdasarkan teori, penatalaksanaan tonsilitis dapat berupa terapi non medikamentosa,
medikamentosa, dan terapi definitif. Terapi non medikamentosa yaitu hidrasi yang baik,
mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat, serta istirahat yang cukup. Terapi
medikamentosa bertujuan untuk meringankan gejala-gejala yang timbul pada pasien.6,7
Pasien pada kasus ini mendapat penanganan berupa terapi definitif yaitu tonsilektomi karena
pasien sudah mengalami tonsilitis kronis dan sering mengalami peradangan yang berulang.
Gagalnya pengobatan medikamentosa menjadi salah satu indikasi dilakukannya terapi
definitif untuk tonsilitis yaitu tonsilektomi. Adapun indikasi dilakukan tonsilektomi yaitu (1)
Tonsilitis yang berulang disertai nyeri, rasa tidak nyaman dan suhu tubuh meningkat, (2)
Tonsilitis kronis yang gagal dengan pengobatan antibiotic, (3) Infeksi telinga berulang yang
berhubungan dengan tonsilitis, (4) Kesulitan dalam bernafas akibat tonsil yang membesar, (5)
Terbentuknya abses pada tenggorokan (abses peritonsilar atau quinsy), (6) Anak – anak yang
tumbuh kembangya terganggu akibat kesulitan menelan karena infeksi berulang dan pembesaran
pada tonsilnya.1,6