Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dermatitis adalah Peradangan kulit sebagai respon terhadap pengaruh faktor endogen maupun
eksogen dengan manifestasi polimortik disertai gatal. Dermatitis yang disebabkan oleh bahan
yang menempel pada kulit disebut dermatitis kontak, dermatitis kontak dapat berupa dermatitis
kontak alergi dan dermatitis kontak iritan (Sularsito & Djuanda, 2011). Dermatitis kontak Iritan
merupakan suatu kondisi yang tanpa diperantarai reaksi imunologi, dermatitis kontak iritan
dikarenakan oleh bahan yang bersifat iritan yang merusak barrier kulit. Bahan iritan dapat
berupa kosmetik, deterjen, sabun maupun racun serangga. Dermatitis yang diakibatkan oleh
racun serangga dari genus paederus juga disebut paederus dermatitis (Saraswati, 2013)

Paederus dermatitis disebabkan oleh racun pederin yang terdapat pada darah kumbang
(hemolimfe) yang kemudian dapat menyebabkan keluhan gatal, rasa panas, terbakar dan
kemerahan pada kulit. keluhan ini dapat muncul 12 sampai 48 jam setelah kulit terpapar racun
pederin yang dihasilkan oleh serangga dari genus paederus (IDAI, 2013). Salah satu serangga
dari genus paederus adalah tomcat. Serangga tomcat tidak menggigit atau menyengat namun
karena serangga tomcat saat hinggap dikulit ditepuk ataupun tergencet pada kulit atau pada baju
dan handuk dapat mengiritasi kulit, kasus kontak iritan dermatitis oleh tomket paling banyak
kasusnya diantara kumbang lainnya (Siemeen et al, 2006)

Kumbang paederus (tomcat = paederus fuscipes) sebenarnya bukan kumbang patogen,


hai ini karena sangat bermanfaat bagi pertanian, tomcat sebagai serangga pemangsa hama-hama
pertanian. Saat malam hari tomcat sering menjelajah sampai rumah dan kamar tidur, hal ini
dikarenakan Tomcat menyukai lampu terang, terutama malam hari sehingga sering berada
ditempat tidur tanpa sepengetahuan pemilik rumah. Perkembangbiakan tomcat terjadi dalam
tanah lembab seperti di area persawahan, tepi sungai dan hutan. Serangga tomcat meningkat
Populasinya pada musim hujan hal ini dikarenakan musim hujan menyebabkan tanah menjadi
subur, hutan dan rumput mulai menghijau kembali, keadaan ini merupakan saat yang cocok bagi
siklus hidup tomcat (Saraswati, 2013).
Sesuai SKDI 2012 bahwa dermatitis kontak iritan masuk dalam kompetensi 4A pada
daftar penyakit kulit yang harus dikuasai oleh dokter umum sehingga kasus ini menarik
untuk dibahas lebih mendalam.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI

Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respons terhadap pengaruh
faktor eksogen dan atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi
polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi) dan keluhan gatal (Sularsito &
Djuanda, 2011).
Dermatitis Kontak Iritan adalah peradangan kulit yang disebabkan terpaparnya kulit
dengan bahan dari luar yang bersifat iritan yang menimbulkan kelainan klinis efloresensi
polimorfik berupa eritema, vesikula, edema, papul, vesikel, dan keluhan gatal, perih serta panas.
Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan hanya beberapa saja (Saraswati, 2013).
Dermatitis yang disebabkan spesifik diakibatkan oleh bahan aktif yang dikandung oleh
serangga genus Paederus, yakni pederin, disebut dengan paederus dermatitis atau dermatitis
linearis atau blister beetle dermatitis, kumbang paederus memiliki cairan hemolimfe yang
mengadung senyawa beracun disebut pederin. Setiap kumbang memiliki jumlah senyawa yang
berbeda, produksi pederin pada tunbuh kumbang bergantung pada aktifitas endosimbion
kumbang dengan bakteri pseudomonas sp, umumnya kumbang betina lebih banyak mengadung
pederin dibandingkan kumbang janta, karena kumbang betina memiliki kemampuan
memproduksi pederin. ( Schiazza, 2015 ; Saraswati, 2013).
Bagian tubuh yang sering terkena biasanya pada leher dan wajah, lesi yang timbul akibat
racun pederin tidak langsung terjadi, lesi biasnaya muncul 1-2 hari setelah terpapar toksin,
karena racun pederin memerlukan waktu untuk masuk kedalam kulit dan menimbulkan
peradanagan. Pederin merupakan suatu molekul non protein kompleks yang sangat toksin bahkan
12 kali lebih toksin dari racun kobra, Pederin dapat menghambat sintesis protein dan mencegah
pembelahan sel (Schiazza, 2015)

2.2 EPIDEMIOLOGI
Dermatitis paederus merupakan dermatitis akut yang dapat sembuh dengan sendiri jika
tanpa disertai infeksi sekunder. Kumbang tomcat dapat menyerang semua kelompok umur, baik
dewasa maupun anak-anak, dan insidennya tergantung aktifitas. Anak-anak sering terkena pada
usia 7-12 tahun. Kasus dermatitis paederus cenderung mengalami peningkatan pada musim
penghujan, yaitu pada bulan oktober april dan cenderung menurun pada musim kering (Simeen
et al, 2006). Seseorang kontak dengan tomcat cenderung saat malam hari dan cenderung
menghancurkan serangga dengan menepuk pada kulit saat kontak dengan tomcat. Tubuh yang
sering terkena pada bagian terbuka seperti leher dan wajah, meskipun tidak menutup
kemungkinan terkena pada area tubuh lainnya (IDAI, 2013)

2.3. ETIOPATOGENESIS

Jenis kumbang penjelajah sangat bervariasi, terdapat sekitar 3100 spesies yang tersebar di asia,
afrika dan amerika selatan. Salah satu yang ada diindonesia adalah tomcat, tomcat menyukai
habitat yang lembab sehingga kasus dermatitis paederus cenderung meningkat pada musim
penghujan, hal ini dikarenakan terjadi lonjakan populasi tomcat pada musim penghujan. Tomcat
merukapan serangga yang bermanfaat pada pertanian, hal ini dikarenakan tomcat sebagai
predator alami terhadap hama pada padi sawah. Tomcat memiliki ukuran tujuh sampai 10 mm,
Lebar 0,5 mm mama terdapat warna hitam pada kepala, abdomen bawah, dan daerah yang
meliputi sayap dan sepertiga segmen abdomen, terdapat warna merah pada toraks. Tomcat
termasuk dalam kelas insect, ordo coleopteran family staphylinidae genus paederus. (Travis &
shayer 2015)

Kumbang tomcat dewasa aktif pada siang hari dan menyukai cahaya lampu saat malam
hari (tomcat tidak menyukai lampu yang mengeluarkan cahaya kuning), hal ini menyebabkan
seseorang cenderung sering kontak dengan tomcat saat malam hari. Tomcat tidak mengigita atau
menyengat, racun dikeluarkan dari tubuh kumbang karena kumbang tergencet sehingga dapat
menyebabkan iritasi pada kulit atau mata, darah kembang mengandung racun yang berbahaya
yang disebut pederin (C24H4309), toksisitas racun Pederin 12 kali lebih tinggi dibandingkan
dengan racun kobra, dalam bentuk kering racun ini masih bersifat toksik hingga 8 tahun racun.

Respon inflamasi pada kulit akibat paparan toksin akan merusak barrir kulit, terjadi
perubahan epidermal cellular pada kulit dan mengaktifkan mediator imflamasi tanpa diikuti
keterlibatan sel T memori atau immunoglobulin spesifik, kelepasan sitokin terutama berasal dari
keratinosit, respon iritasi pada kulit akan menimbulkan sensasi rasa panas pada kulit yang
terkena kemudian diikuti oleh erythema, urtika sampai Lesi yang melepuh, timbulnya Lesi
akibat toksin pederin berbeda tiap individu hari ini tergantung banyaknya toksin lamanya kontak
dengan toksin dan sensitivitas individu, lesi muncul pada dermatitis paederus sekitar 12 sampai
36 jam setelah terpapar kemudian Lesi dapat mengering dan menjadi krusta dalam waktu 1-2
minggu setelah terpapar, jika racun Pederin mengenai daerah lipatan seperti siku maka dapat
ditemukan tanda kissing lesions, kasus pederin yang tertelan sangat jarang terjadi namun jika
hal ini terjadi dapat menyebabkan keracunan dan dapat terjadi hematuria serta nyeri perut yang
hebat (James et al, 2011) pederin karena bersifat iritan alami maka belakangan ini dipakai
sebagai pengobatan (Schiazza, 2015)

2.4 FAKTOR RESIKO paederus dermatitis

Paederus dermatitis dapat mengenai semua kelompok umur, akan tetapi kondisi seperti
berada dekat dengan lingkungan persawahan, hutan, membuka jendela saat menjelang malam
menghidupkan lampu putih (Neon) dan menepuk kumbang pada kulit dapat meningkatkan resiko
untuk terjadinya paederus dermatitis

2.4 Manifestasi klinis paederus dermatitis

Bentuk dermatitis yang timbul berupa dermatitis linearis, lesi yang dangkal tidak menimbulkan
bekas luka (skar) namun bila mencapai dermis dapat menimbulkan ulserasi dan dapat terjadi
infeksi sekunder maupub skar. kelainan kulit paederus dermatitis mirip dengan herpes zooster
namun pada herpes zoster, lesi memiliki pola distribusi mengikuti pola alur saraf. Lesi pada
dermatitis paederus akan sembuh sempurna dalam kurun waktu 10 hingga 12 hari dan dapat
timbul bercak kehitaman atau putih paska Inflamasi. Gejala awal pada dermatitis paederus
berupa gatal, Kemerahan, timbul vesikel, gejala ini dapat timbul beberapa jam atau satu sampai
dua hari setelah paparan ( Ahmed et al, 2013). Dermatitis paederus memiliki gejala bervariasi
dari ringan, sedang ataupun berat dan bisa disertai dengan infeksi sekunder. Pada dermatitis
paederus ringan terdapat sedikit eritema yang dimulai pada 24 jam dan berlangsung selama
sekitar 48 jam disertai pasien mengeluh rasa panas dan gatal. Pada dermatitis paederus sedang
muncul eritema mulai sekitar sekitar 24 jam setelah kontak lalu sekitar 48 jam selanjutnya
diikuti tahapan vesikulardengan lepuh yang membesar secara bertahap dan mencapai maksimal
dalam 48 jam. Vesikula mengering selama sekitar 8 hari dan dapat disertai krusta, paska
penyembuhan linear hyperpigmentasi pada kulit dapat bertahan hingga beberapa bulan, pada
dermatitis paederus berat terdapat eritema kulit yang melepuh dan dapat terjadi bekas luka
kehitaman, pada beberapa kasus yang lebih berat dapat terjadi demam neuralgia sampai mual.
Secara histopatologi 12 jam setelah paparan toxsin terjadi sedikit infiltrasi eosinophil sehingga
tampak kemerahan, pada hari ketiga terjadi peningkatan infiltrasi eosinophil dan limposit dan
terjadi edema sehingga hal ini menyebabkan tampak meninggi pada hari ketiga aera yang terkena
toksin, pada hari ke tujuh terjadi nekrosis pada epidermal layer disertai edemadisertai
meningkatnya intraepidermal neutrophil, pada hari ke 14 sudah mulai terjadi perbaikan pada
jaringan kulit dan pada hari ke 30 terjadi perbaikan total namun masih terdapat sedikit sel
inflammatory pada dermis disertai dilatasi pembuluh darah. Munculnya infiltrasi eosinophil lalu
vesikel pada hari ketiga terjadi akibat respon inflamasi dimana terjadi pengeluaran neutral serine
protease sehingga selanjutnya merusak desmosome hal ini menagkibatkan rusaknya tenofilament
dan homeostatasis epidermal sel, sehingga eksudat dengan mudah masuk melewati sel dan
membentuk vesikel, pederin yang terkena pada kulit diabsirpsi perlahan oleh lipid layer
epidermal sel sehingga menyebabkan kerusakan barrier kulit dan pelepasan sitokin oleh keratosit
yang memicu pathogenesis lepuh pada kulit. Beberapa hari kemudian vesikel pecah dan
membentuk erosi maupun krusta sehingga dapat terjai infeksi sekunder, pada tahapan ini juga
terjadi infiltrasi limposit dan macrofag serta granuloma sehingga akan tampak tanda kemerahan
disekitar lesi, pada hari ke 7 tanpa disertai infeksi sekunder edema akan mengalami perbaikan
(Ahmed et al, 2013). Karena sebagian besar spesies paederus bersimbiosis dengan bakteri gram
negatif seperti pseudomonas aeruginosa maka hal ini mungkin dapat mencemari area yang
terkena toksin Pederin sehingga dapat terjadi infeksi sekunder (Simeen et al, 2006)

2.5 Komplikasi

Komplikasi yang paling sering terjadi pada dermatitis paederus adalah adanya infeksi
sekunder dan hiperpigmentasi postInflamasi

2.6 penatalaksanaan pederus dermatitis


Terapi yang diberikan pada keadaan akut yaitu kompres dingin (nacl 0,9%) dan
diberikan cream steroid topical untuk menghilangkan iritasi serta antiistamin untuk
menghilangkan gatal, pengobatan dengan salep anti bakteri atau antibiotik oral dapat diberikan
untuk mencegah terjadinya infeksi Sekunder (James et al, 2011) . Pada penelitian tahun 2006
yang dilakukan simeen et al, bahwa terapi dermatitis paederus kombinasi terapi topical steroid
(diflucortolone velerate 0,001%), antihistamin oral (cetirizine hydrochloride) disertai antibiotik
oral (ciprofloxacin) pasien mendaptkan kesembuhan lebih cepat dan mencegah terjadinya infeksi
sekunder dibandingkan pada pasien dengan pengiabtan steroid topical dan antihistamin saja.

2.6 pencegahan paederus dermatitis


Pencegahan dapat adalah menghindari kontak dengan Kumbang tinapan tersebut antara
lain (azizi et al, 2011; iram et al, 2015)

1. jika kumbang hinggap pada tubuh kita, Usirlah dengan perlahan misalnya dengan
meniup atau mencongkel dengan secarik kertas lalu mencuci kulit yang kontak dengan
Kumbang tersebut.

2. Cucilah tangan yang terkena kumbang dengan sabun dan air mengalir, Baju yang kontak
dengan kembang juga dapat dicuci

3. Jangan menepuk kumbang pada area kulit

4. jika tidak yakin terkena darah kumbang namun terdapat kumbang pada tempat tidur
sebaiknya segera mandi

5. tutup jendela dan pintu saat malam hari untuk mencegah kumbang masuk ke kamar tidur

6. gunakan kelambu saat tidur dan periksalah tempat tidur sebelum tidur malam, disertai
gunakan lampu tidur yang lebih redup untuk mencegah kumbang tertarik masuk ke
ruangan.
BAB III
PENUTUP
Dermatitis adalah Peradangan kulit sebagai respon terhadap pengaruh faktor endogen maupun
eksogen dengan manifestasi polimortik disertai gatal. Paederus dermatitis disebabkan oleh racun
pederin yang terdapat pada darah kumbang (hemolimfe) yang kemudian dapat menyebabkan
keluhan gatal, rasa panas, terbakar dan kemerahan pada kulit.

Kumbang tomcat dapat menyerang semua kelompok umur, baik dewasa maupun anak-
anak, dan insidennya tergantung aktifitas. Anak-anak sering terkena pada usia 7-12 tahun
Respon inflamasi pada kulit akibat paparan toksin akan merusak barrir kulit, terjadi perubahan
epidermal cellular pada kulit dan mengaktifkan mediator imflamasi tanpa diikuti keterlibatan sel
T memori atau immunoglobulin spesifik, kelepasan sitokin terutama berasal dari keratinosit,
respon iritasi pada kulit akan menimbulkan sensasi rasa panas pada kulit yang terkena kemudian
diikuti oleh erythema, urtika sampai Lesi yang melepuh
Komplikasi yang paling sering terjadi pada dermatitis paederus adalah adanya infeksi sekunder
dan hiperpigmentasi postInflamasi
Terapi yang diberikan pada keadaan akut yaitu kompres dingin (nacl 0,9%) dan
diberikan cream steroid topical untuk menghilangkan iritasi serta antiistamin untuk
menghilangkan gatal, pengobatan dengan salep anti bakteri atau antibiotik oral dapat diberikan
untuk mencegah terjadinya infeksi Sekunder
DAFTAR PUSTAKA

Azizi, Eghibal, Fakoorziba, Fard. 2011. Treatment outcome of paederus dermatitis due to vove

beetles (coleoptera: Staphylinidae) on guine pigs. Tropical biomedicine pp 418-428

Ahmed, Bonel, Rakha. 2013. histopatological characterization of induced paederus dermatitis


cause by egyptian vove beetles (paederus alfievir). Behi- suef university journal of
basic and applied sciences 2 pp 108-113.

Berger T, Elston D, James W. 2011. Andrews diseases of the skin clinical dermatology Ed 7.
Philadelpia : Elsevier Saunders. Pp 439

Ber, Naeem, Raza, Rasool, Rahman, Qadis. 2006. Paederus dermatitis in sierra leone. In :
dermatology online j ournal 12 (7) available from
http://escholarship.org/uc/item/8b58k49j

Saraswati A. 2013. Hubungan antara musim dengan kejadian dermatitis venenata di


RSUD Dr. Moewardi Surakarta periode 2010 2012. Fakultas kedokteran universitas
Muhamadiyah Surakarta. Surakarta pp 1-6

Indonesian pediatric society. 2013. serangga tomcat penyebab paederus dermatitis pada anak.
Available from http://www.IDAI.OR.ID/ARTIKEL/SEPUTAR-KESEHATAN

Iram, muhammad, rashal, waseem, shabab. 2015. Paederus beetles : the agent of human
dermatitis. Nsir et al journal of venomous animal and toxins 21 (5)

Schiazza L. 2015. Paederus dermatitis. Available from

http://www.Lucianoschiazza.it/document/dermatitie_da_paederus_eng.html

Travis, shawyer.2015. Nairobi fly (paederus beetles) health information and guidance

Sularsito&Djuanda,. 2011. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Hal 129-130