Anda di halaman 1dari 34

LAMPIRAN…………….

PERATURAN BUPATI PESISI SELATAN


NOMOR ………TAHUN 2019
TANGGAL…………………2019
TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KESEHATAN
KABUPATEN PESISIR SELATAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pemerintah daerah mempunyai fungsi utama menyediakan pelayanan


publik bagi masyarakat daerah bersangkutan. Oleh sebab itu optimalisasi
pelayanan publik yang efisien dan efektif menjadi perhatian utama
pemerintah daerah agar dapat menyajikan pelayanan publik yang prima bagi
masyarakat. Puskesmas sebagai salah satu institusi pelayanan publik
memegang peranan penting bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Puskesmas di tuntut untuk dapat melayani masyarakat, dapat


berkembang dan mandiri serta harus mampu memberikan pelayanan yang
bermutu dan terjangkau bagi masyarakat. Dengan semakin tingginya
tuntutan bagi puskesmas untuk meningkatkan pelayanannya, banyak
permasalahan yang muncul terkait dengan terbatasnya anggaran yang
tersedia bagi operasional puskesmas, alur birokrasi yang terlalu panjang,
dalam proses pencairan dana, aturan pengelolaan keuangan yang
menghambat kelancaran pelayanan dan sulitnya untuk mengukur kinerja.
Dalam melaksanakan program dan kegiatannya puskesmas mengacu
kepada Standar Pelayanan Minimal yang telah di tetapkan Kementrian
Kesehatan dan Pemerintah Daerah.

Standar Pelayanan Minimal (SPM) merupakan salah satu cara yang


ditempuh untuk mendorong pemerintah daerah melakukan pelayanan
publik yang tepat bagi masyarakat, dan sekaligus mendorong masyarakat
untuk melakukan kontrol terhadap kinerja pemerintah di bidang pelayanan
publik.

Penyusunan Standar Pelayanan Minimal (SPM) merupakan langkah


awal untuk melaksanakan janji dalam memperbaiki kualitas dan kinerja
pelayanan publik yang diamanatkan oleh PPK-BLUD. Setelah SPM tersusun,
maka seluruh unit kerja yang bertanggung jawab untuk menyediakan jenis

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 1


pelayanan yang di telah di tuangkan dalam SPM wajib mengupayakan agar
SPM tersebut dapat di capai dengan menyusun standar-standar teknis yang
merupakan panduan untuk mencapai standar yang telah di tetapkan, dan
mengembangkan kegiatan perbaikan mengikuti siklus Plan-Do-Check-Action
(WHO,1993).

Perubahan paradigma penyelenggaraan pemerintahan daerah, dari


sentralistisasi ke desentralisasi, dari terpusatnya kekuasaan pada
pemerintah daerah (eksekutif) ke power sharing antara eksekutif dan
legislatif daerah, harus disikapi dengan mengubah manajemen
pemerintahan daerah. Dari sisi manajemen publik, juga terjadi perubahan
nilai yang semula menganut proses manajemen yang berorientasi kepada
kepentingan internal organisasi pemerintahan ke kepentingan eksternal
disertai dengan peningkatan pelayanan dan pendelegasian sebagian tugas
pelayanan publik dari pemerintah ke masyarakat.

Semua perubahan di atas harus diantisipasi oleh semua pelaksana


pemerintahan, terutama Kepala Daerah. Dengan adanya orientasi baru
dalam manajemen publik tersebut, maka pemerintah daerah tidak saja
dituntut akuntabilitasnya ke dalam tetapi justru keluar (masyarakat).
Melalui akuntabilitas publik, pemerintah akan dipantau dan dievaluasi
kinerjanya oleh masyarakat. Pemantauan dan evaluasi terhadap kinerja
pemerintah daerah akan lebih mudah jika pemerintah daerah sudah
membuat indikator dan target-target yang disusun dalam Standar Pelayanan
Minimal (SPM). SPM yang telah tersusun akan menjadi pedoman bagi kedua
belah pihak, pemerintah daerah maupun masyarakat.

Bagi pemerintah daerah SPM dijadikan pedoman dalam melakukan


pelayanan publik, sedangkan bagi masyarakat SPM merupakan pedoman
untuk memantau dan mengukur kinerja pemerintah daerah. Standar
pelayanan minimal atau biasa disingkat SPM adalah standar pelayanan
minimal yang harus didapatkan oleh masyarakat dan menjadi program yang
ditetapkan oleh pemerintah pusat dan pelaksanaanya diwajibkan kepada
pemerintah daerah sesuai dengan sumber daya dan kemampuan daerah.

Undang-undang No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah telah


menetapkan bidang kesehatan merupakan urusan wajib yang berkaitan
dengan pelayanan dasar yang harus dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota.
Penyelenggaraan urusan wajib oleh daerah merupakan perwujudan otonomi

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 2


yang bertanggung jawab yang pada intinya merupakan
pengakuan/pemberian hak dan kewenangan daerah dalam wujud tugas dan
kewajiban yang harus di pikul daerah. Sebagaimana diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 65 tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan
Penerapan Standar Pelayanan Minimal maka untuk menjamin
terselenggaranya urusan wajib daerah yang berkaitan dengan hak dan
pelayanan dasar kepada warga Negara perlu ditetapkan Standar Pelayanan
Minimal Bidang Kesehatan (Juknis SPM Depkes RI).

Selanjutnya Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun


2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar
Pelayanan Minimal (SPM) pasal 4 menyebutkan bahwa Penentuan jenis
pelayanan dasar yang berpedoman pada SPM mengacu pada Kriteria :

1. Merupakan bagian dari pelaksanaan urusan wajib.


2. Merupakan pelayanan yang sangat mendasar yang berhak
diperoleh setiap warga secara minimal sehingga dijamin
ketersediaannya oleh konstitusi, rencana jangka panjang nasional,
dan konvensi internasional yang sudah diratifikasi, tanpa
memandang latar belakang pendapatan, sosial, ekonomi, dan
politik warga.

3. Didukung dengan data dan informasi terbaru yang lengkap secara


nasional serta latar belakang pengetahuan dan keterampilan yang
dibutuhkan dalam penyelenggaraan pelayanan dasar dengan
berbagai implikasinya, termasuk implikasi kelembagaan dan
pembiayaannya.

Sedangkan menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun


2006 sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Dalam Negeri Nomor 59
Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah pasal pasal 31
ayat (2) menyebutkan bahwa belanja penyelenggaraan urusan wajib
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diprioritaskan untuk melindungi dan
meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi
kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan
dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak
serta mengembangkan sistem jaminan sosial.

Untuk itu, sesuai dengan amanat peraturan Perundang-undangan


kesehatan Dinas Kesehatan merupakan suatu oraganisasi/Instansi yang
[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 3
melakukan fungsi pelayanan kesehatan kepada Masyarakat dengan
mengacu kepada Standar Pelayanan Minimal.

Untuk dapat menerapkan PPK-BLUD maka persyaratan yang harus


dipenuhi oleh Dinas Kesehatan sesuai dengan Permendagri Nomor 77 tahun
2018 pasal 36, yaitu dapat menyajikan dokumen Standar Pelayanan
Minimal.

B. MAKSUD DAN TUJUAN SPM


Penyusunan Standar Pelayanan Minimal ini dimaksudkan untuk
memberikan panduan kepada Puskesmas dalam menyusun perencanaan,
pelaksanaan dan pengendalian serta pengawasan maupun pertanggung-
jawaban penyelenggaraan Standar Pelayanan Minimal atas pelayanan jasa
kesehatan yang diberikan oleh Puskesmas, serta bertujuan untuk
memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan dapat menjamin
mutu pelayanan kepada masyarakat.

C. PRINSIP-PRINSIP STANDAR PELAYANAN MINIMAL

Dalam penyusunan Standar Pelayanan Minimal ini, harus


memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :

1. Fokus, yaitu pelayanan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki


dan dapat dipakai untuk mengukur aspek yang akan dinilai.
Cukup peka terhadap kebutuhan pengendalian dan pengambilan
keputusan perencanaan.

2. Terukur, yaitu dapat dihitung atau dianalisa dan mutu pelayanan


mempunyai suatu patokan standar yang telah ditetapkan oleh
peraturan pemerintah/menteri dan Departemen Kesehatan.

3. Dapat dicapai, yaitu angka standar yang sudah ditentukan


dijabarkan sesuai dengan kondisi minimum pskesmas.

4. Relevan dan dapat diandalkan, yaitu target yang ditetapkan


berdasarkan pada data yang akurat dan di dokumentasikan secara
memadai.

5. Konsensus, yaitu disepakati bersama oleh seluruh pihak yang


terlibat dalam pemberian jasa kesehatan pada Puskesmas.

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 4


6. Sederhana, yaitu mudah dimengerti dan dipahami.

7. Nyata, yaitu memiliki dimensi ruang dan waktu serta persyaratan


atau prosedur teknis.

8. Terbuka, yaitu dapat diakses oleh seluruh warga atau lapisan


masyarakat.

9. Terjangkau, yaitu dapat dicapai bersama SPM yang telah


ditetapkan dengan menggunakan sumber-sumber daya dan dana
yang tersedia.

10. Akuntabel, yaitu dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

11. Bertahap, yaitu mengikuti perkembangan kebutuhan dan


kemampuan keuangan, kelembagaan, dan personil dalam
pencapaian SPM.

D. PENGERTIAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL


1. Pengertian Secara Umum
a. Puskesmas adalah sarana kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan masyarakat dan pelayanan perorangan
secara paripurna yang menyediakan pelayanan kesehatan
masyarakat.
b. Pelayanan kesehatan paripurna adalah pelayanan kesehatan
yang meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
c. Standar Pelayanan Minimal yaitu; tolok ukur kinerja dalam
menentukan capaian jenis dan mutu pelayanan dasar yang
merupakan urusan wajib daerah.
d. Indikator kinerja yaitu; variabel yang dapat digunakan untuk
mengevaluasi keadaan atau status dan memungkinkan
dilakukan pengukuran terhadap perubahan yang terjadi dari
waktu ke waktu. Penentuan Indikator SPM harus dapat
menggambarkan :
1) Tingkat atau besaran sumber daya yang digunakan,
seperti sarana dan prasarana, dana, dan personil
2) Tahapan yang digunakan, termasuk upaya
pengukurannya, seperti program atau kegiatan yang

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 5


dilakukan, mencakup waktu, lokasi, pembiayaan,
penetapan, pengelolaan, dan keluaran, hasil dan dampak
e. Wujud pencapaian kinerja, meliputi pelayanan yang diberikan,
persepsi, dan perubahan perilaku masyarakat.
f. Tingkat kemanfaatan yang dirasakan sebagai nilai tambah,
termasuk kualitas hidup, kepuasan konsumen atau
masyarakat, dunia usaha, pemerintah dan pemerintahan
daerah; dan
g. Keterkaitannya dengan keberadaan sistem informasi,
pelaporan dan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah
yang menjamin pencapaian SPM dapat dipantau dan
dievaluasi oleh pemerintah secara berkelanjutan.
2. Pengertian Secara Khusus
a. Dimensi kinerja adalah dimensi-dimensi yang digunakan
sebagai dasar penyusunan standar pelayanan minimal yang
meliputi: akses, efektifitas, efisiensi, keselamatan/keamanan,
kenyamanan, kesinambungan pelayanan, kompetensi tehnis,
dan hubungan antar manusia;
b. Indikator adalah latar belakang/alasan mengapa suatu
kinerja tersebut perlu diukur;
c. Definisi operasional dimaksudkan untuk menjelaskan
pengertian dari indikator;
d. Frekuensi pengumpulan data adalah frekuensi pengambilan
data dari sumber data untuk tiap indikator tersedia;
e. Periode analisis adalah rentang waktu pelaksanaan kajian
terhadap indikator kinerja yang dikumpulkan;
f. Pembilang (numerator) adalah besaran sebagai nilai pembilang
dalam rumus indikator kinerja;
g. Penyebut (denominator) adalah besaran sebagai nilai pembagi
dalam rumus indikator kinerja;
h. Standar adalah ukuran pencapaian mutu/kinerja yang
diharapkan bisa dicapai;
i. Sumber data adalah sumber bahan nyata/keterangan yang
dapat dijadikan dasar kajian yang berhubungan langsung
dengan persoalan

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 6


j. Indikator kerja SPM Bidang Kesehatan adalah tolok ukur
prestasi kualitatif dan kuantitatif di bidang kesehatan yang di
gunakan untuk menggambarkan besaran sasaran yang
hendak di penuhi dalam pencapaian SPM di bidang kesehatan
berupa masukan, proses, hasil dan manfaat pelayanan
kesehatan.

k. Batas waktu pencapaian adalah batas waktu yang di


butuhkan mencapai target (nilai) indikator SPM secara
bertahap yang di tentukan untuk mencapai SPM daerah
Kabupaten.

l. Langkah kegiatan adalah tahapan yang harus di laksanakan


untuk memenuhi capaian indikator SPM sesuai situasi dan
kondisi kemampuan keuangan pemerintah Kab/Kabupaten.

m. Kurun waktu adalah kurun /waktu dalam pelaksanaan


kegiatan periode 1 (satu) tahun.

n. Satuan Kerja atau Lembaga Penanggung jawab adalah


lembaga di daerah yang bertanggung jawab dalam penerapan
SPM. Penentuan Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) ini
harus mempertimbangkan tugas pokok dan fungsi, kualifikasi
dan kompetensi sumber daya SKPD yang bersangkutan.

o. Kemampuan dan potensi daerah adalah kondisi keuangan


daerah seperti PAD,DAU dan DAK serta sumber daya yang di
miliki daerah untuk menyelenggarakan urusan wajib
pemerintah daerah dan dalam rangka pembelanjaan untuk
membiayai penerapan SPM.

p. Rencana pencapaian SPM adalah target pencapaian SPM yang


di tuangkan dalam dokumen perencanaan daerah yang di
jabarkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD), RKPD, Renstra SKPD, dan Renja SKPD
untuk di gunakan sebagai dasar perhitungan kebutuhan
biaya dalam penyelenggaraan pelayanan dasar.

q. Analisis kemampuan dan potensi daerah terkait data dan


informasi menyangkut kapasitas dan sumber daya yang di
miliki daerah.

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 7


r. Program adalah penjabaran kebijakan SKPD dalam bentuk
upaya yang berisi satu atau lebih kegiatan yang menggunakan
sumber daya yang di sediakan untuk mencapai hasil yang
sesuai dengan misi SKPD.

s. Program yang ada di Dinas Kesehatan dijabarkan dalam


bentuk upaya kesehayan adalah bagian dari program yang di
laksanakan oleh satu atau lebih unit kerja SKPD sebagin
bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatau program
yang terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber
daya baik yang berupa personal (sumber daya manusia),
barang modal termasuk peralatan dan teknologi, dana atau
kombinasi dari beberapa atau ke semua jenis sumber daya
tersebut. Sebagai masukan input untuk menghasilkan
keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa.

E. LANDASAN HUKUM

1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan


Negara.

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan


Daerah.

5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2005


tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum.

6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2005


tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan
Minimal.

7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005


tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007


tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kabupaten.

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 8


9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun
2012tentang Perubahan Pertama Peraturan Pemerintah Nomor 23
Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
Umum.

10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006,


sebagaimana telah dirubah dengan Permendagri Nomor 59 Tahun
2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2007 tentang


Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan
Minimal (SPM).

12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang


Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum
Daerah (BLUD) sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 79 Tahun 2018 tentang Badan
Layanan Umum Daerah.

13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang


Puskesmas.

14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 tahun 2019 tentang Standar


Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.

15. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 28


tahun 2004 tentang Akuntabilitas Pelayanan Publik.

16. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 128/MenKes/SK/II/2004


tentang Kebijakan Dasar Puskesmas.

17. Permendagri Nomor 79 Tahun 2007 tentang Rencana Pencapaian


Standar Pelayanan Minimal.

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 9


BAB II
STANDAR PELAYANAN MINIMAL

A. JENIS PELAYANAN
Jenis-jenis pelayanan yang disediakan oleh Puskesmas meliputi
Standar Pelayanan Minimal ( SPM ) Bidang Kesehatan

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 tahun 2019


tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan, dan Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas, jenis
pelayanan bidang kesehatan yang dilakukan oleh Puskesmas sebagai
berikut :

1. Upaya Kesehatan Masyarakat Essensial, terdiri dari :

a. Pelayanan Promosi Kesehatan termasuk UKS

b. Pelayanan Kesehatan Lingkungan

c. Pelayanan KIA – KB yang bersifat UKM

d. Pelayanan Gizi yang bersifat UKM

e. Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit( P2P)

f. Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat

2. Upaya Kesehatan Masyarakat Pengembangan, terdiri dari :

a. Pelayanan Kesehatan Jiwa

b. Pelayanan Kesehatan Gigi masyarakat

c. Pelayanan kesehatan Tradisional komplementer

d. Pelayanan Kesehatan Olah raga

e. Pelayanan Kesehatan indra

f. Pelayanan Kesehatan lansia

g. Pelayanan kesehatan kerja

h. Pelayanan kesehatan lainnya

3. Upaya Kesehatan Perorangan, terdiri dari :

a. Pelayanan pemeriksaan Umum

b. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 10


c. Pelayanan KIA-KB yang bersifat UKP

d. Pelayanan gawat darurat

e. Pelayanan gizi yang bersifat UKP

f. Pelayanan Persalinan

g. Pelayanan Rawat Inap

h. Pelayanan Kefarmasian
i. Pelayanan Laboratorium

4. Upaya Kesehatan Jejaring terdiri dari :

a. Puskesmas Pembantu

b. Puskesmas Keliling

c. Bidan Desa

d. Jejaring fasilitas pelayanan kesehatan

B. STANDAR PELAYANAN MINIMAL


Puskesmas merupakan salah satu puskesmas perKabupatenan
dengan fasilitas rawat inap di Kabupaten Pesisi Selatan. Dengan
melihat segala sarana dan prasarana puskesmas, SDM yang ada ,
kemampuan keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Pesisi Selatan,
dan faktor lainnya yang relevan, standar pelayanan minimal dan batas
waktu pencapaiannya ditetapkan dalam Standar Pelayanan Minimal
yang mengacu pada PERMENKES No. 4 Tahun 2019 dengan seluruh
jenis pelayanan, indikator dan standar pelayanannya dijabarkan
sebagai berikut:
No. Jenis Mutu Pelayanan Penerima Pernyataan
Pelayanan Layanan Dasar standar

1. Pelayanan Pelayanan yang dilakukan kepada Ibu hamil Setiap ibu hamil
ibu hamil dengan memenuhi criteria mendapatkan
kesehatan
10 T yaitu : pelayanan
ibu hamil a. Timbang berat badan dan ukur antenatal sesuai
tinggi badan; standar
b. Ukur tekanan darah;
c. Nilai status gizi (Ukur lingkar
lengan atas/LILA)
d. Ukur tinggi puncak rahim
e. Tentukan presentasi janin dan
denyut jantung janin
f. Skrining status imunisasi tetanus

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 11


dan denyut jantung janin
g. Skrining imunisasi status tetanus
dan berikan imunisasi tetanus
toksoid (TT) bila diperlukan
h. Pemberian tablet tambah darah
minimal 90 tablet selama
kehamilan
i. Tes laboratorium; tes kehamilan,
pemriksaan hemoglobin darah
(HB), pemeriksaan golongan darah
(bila belum pernah dilakukan),
Pemeriksaan Tripel Eliminasi (
Sipilis, Anti HIV, HbsAg ) dan
skrining malaria, pemeriksaan
proteun urin (bila ada indikasi);
yang pemberian pelayanannya
disesuiakan dengan trimester
kehamilan
j. Tatalaksana/penanganan kasus
sesuai kewenangan
K. Temu wicara (konseling)

2 Pelayanan Sesuai standar pelayanan persalinan Ibu bersalin Setiap ibu


kesehatan normal yang tercantum dalam bersalin
ibu bersalin Peraturan Menteri Kesehatan Nomor mendapatkan
97 tahun 2014 tentang Pelayanan pelayanan
Kesehatan masa sebelum hamil, persalinan sesuai
masa hamil, persalinan, dan masa standar
sesudah melahirkan, penyelenggaran
pelayanan kontrasepsi serta
pelayanan kesehatan seksual.
3 Pelayanan Sesuai standar pelayanan kesehatan Bayi baru lahir Setiap bayi baru
kesehatan bayi baru lahir mengacu pada lahir
bayi baru Permenkes Nomor 25 Tahun 2014 mendapatkan
lahir pelayanan
kesehatan sesuai
standar
4 Pelayanan Sesuai standar pelayanan kesehatan Balita Setiap balita
kesehatan balita meliputi : mendapatkan
balita a. Penimbangan minimal 8 kali pelayanan
setahun, pengukuran kesehatan sesuai
panjang/tinggi badan minimal standar
2 kali setahun
b. Pemberian kapsul vitamin A 2
kali setahun
c. Pemberian imunisasi dasar
lengkap

5 Pelayanan Sesuai standar skrining kesehatan Anak pada usia Setiap anak pada
kesehatan usia pendidikan dasar meliputi : pendidikan usia pendidikan
pada usia a. Penilaian status gizi (tinggi dasar dasar
pendidikan badan, berat badan, tanda mendapatkan
dasar klinis anemia); skrining
b. Penilaian tanda vital (tekanan kesehatan sesuai
darah, frekuensi nadi, dan standar
nafas);
c. Penilaian kesehatan gigi dan
mulut;
d. Penilaian ketajaman indera
penglihatan dengan poster
snellen
e. Penilaian ketajaman indera
penglihatan dengan garpu
tala;

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 12


6 Pelayanan Sesuai standar skrining kesehatan Warga Negara Setiap Warga
kesehatan usia produktif meliputi : Indonesia usia Negara Indonesia
pada usia a. Deteksi kemungkinan obesitas 15 s.d 59 tahun usia 15 s.d 59
produktif dilakukan dengan memeriksa tahun
tinggi badan dan berat badan mendapatkan
serta lingkar perut; pelayanan
b. Deteksi hipertensi dengan kesehatan sesuai
memeriksa tekanan darah standar
sebagai pencegahan primer;
c. Deteksi kemungkinan
diabetes mellitus
d. Deteksi gangguan mental
emosional dan perilaku
e. Pemeriksaan ketajaman
penglihatan
f. Pemeriksaan ketajaman
pendengaran
g. Deteksi dini kanker melalui
pemeriksaan payudara klinis
dan pemeriksaan IVA khusus
untuk wanita usia 30-59
tahun
7 Pelayanan Sesuai standar skrining kesehatan Warga Negara Setiap Warga
kesehatan usia lanjut meliputi : Indonesia usia Negara Indonesia
pada usia a. Deteksi hipertensi dengan 60 tahun ke usia 60 tahun ke
lanjut mengukur tekanan darah. atas atas
b. Deteksi diabetes mellitus mendapatkan
dengan pemeriksaan kadar pelayanan
gula darah kesehatan sesuai
c. Deteksi kadar kolesterol standar
dalam darah.
d. Deteksi gangguan mental
emosional dan perilaku.
8 Pelayanan Sesuai standar pelayanan kesehatan Penderita Setiap penderita
kesehatan penderita hipertensi meliputi : hipertensi hipertensi
pada a. Mengikuti panduan praktik mendapatkan
penderita klinik bagi dokter di FKTP pelayanan
hipertensi b. Pelayanan kesehatan sesuai kesehatan sesuai
standar diberikan kepada standar
penderita hipertensi di FKTP.
c. Pemeriksaan dan monitoring
tekanan darah, edukasi,
pengaturan diet seimbang,
aktifitas fisik dan pengelolaan
farmakologis
9 Pelayanan Sesuai standar pelayanan kesehatan Penderita Setiap penderita
kesehatan penderita Diabetes Mellitus meliputi : Diabetes Diabetes Mellitus
pada a. Edukasi Mellitus mendapatkan
penderita b. Aktifitas fisik pelayanan
Diabetes c. Terapi nutrisi medis kesehatan sesuai
Mellitus d. Intervensi farmakologis standar
10 Pelayanan Sesuai standar pelayanan kesehatan Orang Dengan Setiap Orang
kesehatan jiwa meliputi : Gangguan Jiwa Dengan
pada orang a. Edukasi dan evaluasi (ODGJ) Berat Gangguan Jiwa
dengan b. Tindakan kebersihan diri (ODGJ) Berat
gangguan ODGJ berat mendapatkan
jiwa berat pelayanan
kesehatan sesuai
standar
11 Pelayanan Sesuai standar pelayanan kesehatan Orang dengan Setiap orang
kesehatan TB meliputi : TB dengan TB
orang dengan a. Penegakan diagnosis TB secara mendapatkan
TB bakteriologis dan klinis. pelayanan TB
b. Pemeriksaan pemantauan kemajua sesuai standar

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 13


pengobatan pada akhir
pengobatan intensif, bulan ke 5
dan akhir pengobatan
c. Pengobatan dengan Obat Anti
Tuberkulosis (OAT) dengan
panduan OAT standar
d. Kegiatan promotif dan preventif
12 Pelayanan Sesuai standar mendapatkan Orang beresiko Setiap orang
kesehatan pemeriksaaan HIV meliputi : terinfeksi HIV beresiko
orang dengan a. Upaya pencegahan pada orang yang (ibu hamil, terinfeksi HIV
resiko memiliki risiko Ternveksi HIV. pasien TB, (ibu hamil,
terinfeksi HIV b. Pemeriksaan HIV ditawarkan pasien IMS, pasien TB,
secara aktif oleh petugas waria/transgen pasien IMS,
kesehatanbagi orang yang beresiko der, pengguna waria/transgend
dimulai dengan : napza, dan er, pengguna
- Pemberian informasi warga binaan napza, dan warga
terkait HIV-AIDS lembaga binaan lembaga
- Pemeriksaan HIV permasyarakata permasyarakatan
menggunakan tes cepat n) ) mendapatkan
HIV dengan menggunakan pemeriksaan HIV
alat tes sesuai standar sesuai standar
nasional yang telah
ditetapkan
- Orang dengan hasil
pemeriksaan positif harus
dirujuk ke fasilitas yang
mampu menangani untuk
mendapatkan pengobatan
ARV dan konseling
tentang HIV dan AIDS bagi
orang dengan HIV (ODHA)
dan pasangannya.
- Orang dengan infeksi
menularseksual (IMS)
waria/transgender,
pengguna napza, dan
warga binaan lembaga
pemasyarakatan dengan
hasil pemriksaan HIV
negatif

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 14


BAB III
RENCANA PENCAPAIAN
STANDAR PELAYANAN MINIMAL

A. RENCANA PENCAPAIAN TARGET SPM


Dalam menentukan rencana pencapaian dan penerapan SPM,
pemerintah daerah harus mempertimbangkan:
1. Kondisi awal tingkat pencapaian pelayanan dasar
Kondisi awal tingkat pencapaian pelayanan dasar dilihat dari
kegiatan yang sudah dilakukan oleh daerah sampai saat ini, terkait
dengan jenis-jenis pelayanan yang ada di dalam SPM bidang
kesehatan di Kabupaten.
2. Target pelayanan dasar yang akan dicapai
Target pelayanan dasar yang akan dicapai mengacu pada target
pencapaian yang sudah disusun oleh Departemen Kesehatan
dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 tahun 2019 tentang
Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.
3. Kemampuan, potensi, kondisi, karakteristik dan prioritas daerah
Rencana pencapaian SPM Bidang Kesehatan di daerah mengacu
pada batas waktu pencapaian SPM Bidang Kesehatan secara
nasional yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan dengan
memperhatikan analisis kemampuan dan potensi daerah.
Rencana pencapaian target Standar Pelayanan Minimal Puskesmas dan
batas waktu pencapaiannya sebagai berikut:
Target Tahunan
Jenis
No Pernyataan standar
Pelayanan
2019 2020 2021 2022 2023
1. Pelayanan Setiap ibu hamil
mendapatkan pelayanan 90 90 95 100 100
kesehatan
antenatal sesuai standar
ibu hamil

2. Pelayanan Setiap ibu bersalin


kesehatan mendapatkan pelayanan 85 90 95 100 100
ibu bersalin persalinan sesuai
standar

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 15


3. Pelayanan Setiap bayi baru lahir
kesehatan mendapatkan pelayanan 100 100 100 100 100
bayi baru kesehatan sesuai standar
lahir
4. Pelayanan Setiap balita
kesehatan mendapatkan pelayanan 75 80 85 90 100
balita kesehatan sesuai standar
5. Pelayanan Setiap anak pada usia
kesehatan pendidikan dasar 99 100 100 100 100
pada usia mendapatkan skrining
pendidikan kesehatan sesuai standar
dasar
6. Pelayanan Setiap Warga Negara
kesehatan Indonesia usia 15 s.d 59
pada usia tahun mendapatkan 70 75 75 80 85
produktif pelayanan kesehatan
sesuai standar
7. Pelayanan Setiap Warga Negara
kesehatan Indonesia usia 60 tahun
pada usia ke atas mendapatkan 70 75 75 80 85
lanjut pelayanan kesehatan
sesuai standar
8. Pelayanan Setiap penderita
kesehatan hipertensi mendapatkan
pada pelayanan kesehatan 70 75 75 80 85
penderita sesuai standar
hipertensi
9. Pelayanan Setiap penderita Diabetes
kesehatan Mellitus mendapatkan
pada pelayanan kesehatan 70 80
75 75 85
penderita sesuai standar
Diabetes
Mellitus
10 Pelayanan Setiap Orang Dengan
. kesehatan Gangguan Jiwa (ODGJ)
pada orang Berat mendapatkan 100 100 100 100 100
dengan pelayanan kesehatan
gangguan sesuai standar
jiwa berat
11 Pelayanan Setiap orang dengan TB
. kesehatan mendapatkan pelayanan
orang dengan TB sesuai standar 100 100 100 100 100
TB
12 Pelayanan Setiap orang beresiko
. kesehatan terinfeksi HIV (ibu hamil,
orang dengan pasien TB, pasien IMS,
resiko waria/transgender,
terinfeksi HIV pengguna napza, dan 100 100 100 100 100
warga binaan lembaga
permasyarakatan)
mendapatkan
pemeriksaan HIV sesuai
standar
[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 16
B. PROGRAM PENCAPAIAN SPM
Analisis kemampuan dan potensi daerah disusun berdasarkan data,
statistik dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan baik
yang bersifat khusus maupun umum. Pengertian khusus dalam hal ini
adalah data, statistik dan informasi yang secara langsung terkait dengan
penerapan SPM Bidang Kesehatan di Kab/Kabupaten, misalnya data teknis,
sarana dan prasarana fisik, personil, alokasi anggaran utuk melaksanakan
SPM Bidang Kesehatan di Kabupaten.

Sedangkan pengertian umum dalam hal ini adalah data, statistik, dan
informasi yang secara tidak langsung terkait dengan penerapan SPM Bidang
Kesehatan, namun keberadaannya menunjang pelaksanaan SPM secara
keseluruhan, misalkan kondisi geografis, demografis, pendapatan daerah,
sarana prasarana umum dan sosial ekonomi.

Sedangkan untuk pencapaian dan penerapan SPM Bidang Kesehatan


pada Puskesmas KabupatenPesisi Selatan didukung dengan program
sebagai berikut:

No Pernyataan standar Program

1. Setiap ibu hamil mendapatkan 1. Upaya Pelayanan Kesehatan


Masyarakat
pelayanan antenatal sesuai
2. Promkes
standar
3. Penyehatan Lingkungan
4. Obat dan perbekalan kesehatan
5. Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit (P2P)
6. KIA & KB
7. Pelayanan Gizi
2. Setiap ibu bersalin 1. KIA & KB
mendapatkan pelayanan 2. Upaya Pelayanan Kesehatan
Masyarakat
persalinan sesuai standar
3. Penyehatan Lingkungan
4. Obat dan perbekalan kesehatan
5. Program penanggulangan
kemiskinan berbasis keluarga
6. Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit (P2P)
7. Promkes

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 17


8. Pelayanan Gizi
3. Setiap bayi baru lahir 1. Upaya Pelayanan Kesehatan
Masyarakat
mendapatkan pelayanan
2. Penyehatan Lingkungan
kesehatan sesuai standar
3. Obat dan perbekalan kesehatan
4. KIA & KB
5. Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit (P2P)
6. Promkes
7. Pelayanan Gizi
4. Balita mendapatkan pelayanan 1. Upaya Pelayanan Kesehatan
Masyarakat
kesehatan sesuai standar
2. Penyehatan Lingkungan
3. Obat dan perbekalan kesehatan
4. KIA & KB
5. Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit (P2P)
6. Promkes
7. Pelayanan Gizi
5. Setiap anak pada usia 1. Promkes termasuk UKS
pendidikan dasar 2. Pelayanan Gizi
mendapatkan skrining Penyehatan Lingkungan
kesehatan sesuai standar

6. Setiap Warga Negara Indonesia 1. Pencegahan dan Pengendalian


Penyakit (P2P)
usia 15 s.d 59 tahun
2. Promkes
mendapatkan pelayanan
3. KIA & KB
kesehatan sesuai standar
4. Pelayanan Gizi
5. Upaya Pelayanan Kesehatan
Masyarakat
6. Penyehatan Lingkungan
7. Obat dan perbekalan kesehatan
8. Program penanggulangan
kemiskinan berbasis keluarga
7. Setiap Warga Negara Indonesia 1. Upaya Pelayanan Kesehatan
Masyarakat
usia 60 tahun ke atas
2. Promkes
mendapatkan pelayanan
3. Penyehatan Lingkungan
kesehatan sesuai standar
4. Obat dan perbekalan kesehatan
5. Program penanggulangan
[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 18
kemiskinan berbasis keluarga
6. Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit (P2P)
7. Pelayanan Gizi
8. Setiap penderita hipertensi 1. Obat dan perbekalan kesehatan
mendapatkan pelayanan 2. Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit (P2P)
kesehatan sesuai standar
3. Promkes
4. Pelayanan Gizi
5. Upaya Pelayanan Kesehatan
Masyarakat
9. Setiap penderita Diabetes 1. Obat dan perbekalan kesehatan
Mellitus mendapatkan 2. Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit (P2P)
pelayanan kesehatan sesuai
3. Promkes
standar
4. Pelayanan Gizi
2. Upaya Pelayanan Kesehatan
Masyarakat
10 Setiap Orang Dengan 1. Upaya Pelayanan Kesehatan
Masyarakat
. Gangguan Jiwa (ODGJ) Berat
2. Promkes
mendapatkan pelayanan
3. Penyehatan Lingkungan
kesehatan sesuai standar
4. Obat dan perbekalan kesehatan
5. Program penanggulangan
kemiskinan berbasis keluarga
6. Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit (P2P)
7. Pelayanan Gizi
11 Setiap orang dengan 1. Upaya Pelayanan Kesehatan
Masyarakat
. Tuberkulosis mendapatkan
2. Penyehatan Lingkungan
pelayanan Tuberkulosis sesuai
3. Obat dan perbekalan kesehatan
standar
4. Program penanggulangan
kemiskinan berbasis keluarga
5. Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit (P2P)
6. Promkes
7. Pelayanan Gizi
12 Setiap orang beresiko terinfeksi 1. Upaya Pelayanan Kesehatan
Masyarakat
. HIV (ibu hamil, pasien TB,
2. Promkes

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 19


pasien IMS, waria/transgender, 3. Penyehatan Lingkungan
pengguna napza, dan warga 4. Obat dan perbekalan kesehatan
binaan lembaga 5. Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit (P2P)
permasyarakatan)
6. Pelayanan Gizi
mendapatkan pemeriksaan HIV
sesuai standar

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 20


BAB IV
SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA

A. RENCANA STRATEGIS DAN PENGANGGARAN SPM


Pemerintah daerah menyusun rencana pencapaian SPM bidang
kesehatan yang dituangkan dalam RPJMD, kemudian dijabarkan lagi
melalui Rencana Strategic (Renstra) Dinas Kesehatan. Sebagai Badan
Layanan Umum Daerah (BLUD), Puskesmas menyusun Rencana Strategi
(Renstra) yang diantaranya memuat rencana pencapaian SPM dan target
tahunan pencapaian SPM dengan mengacu kepada RPJMD dan Renstra
Dinas Kesehatan, yang selanjutnya akan menjadi pedoman dalam
penyusunan kebijakan umum APBD (KUA) dan Prioritas Plafond Anggaran
(PPA).
Mekanisme perencanaan pembiayaan pencapaian SPM bidang
kesehatan dilakukan untuk melihat kemampuan dan potensi daerah dalam
pencapaian dan penerapan SPM Bidang Kesehatan Kabupaten. Adapun
tahapan mekanisme perencanaan pembiayaan SPM adalah sbb:
1. Pemerintah daerah menyusun rincian kegiatan untuk masing-
masing jenis pelayanan dalam rangka pencapaian SPM dengan
mengacu pada jenis pelayanan dan mutu pelayanan serta batas
waktu pencapaian SPM yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
2. Pemerintah daerah menetapkan batas waktu pencapaian SPM
untuk daerahnya dengan mengacu pada batas waktu pencapaian
SPM secara nasional, kemampuan dan potensi daerahnya masing-
masing.
3. Pemerintah daerah membuat rincian belanja untuk setiap kegiatan
pada rincian belanja yang sudah ditetapkan oleh masing-masing
daerah.
4. Pemerintah daerah dapat mengembangkan jenis kegiatan dari
masing-masing jenis pelayanan yang sudah ditetapkan oleh
Departemen Kesehatan sesuai kebutuhan daerahnya dalam
pencapaian SPM di daerah masing-masing.
5. Pemerintah daerah menggunakan perencanaan pembiayaan
pencapaian SPM bidang kesehatan untuk melihat kondisi dan
kemampuan keuangan daerahnya dalam mencapai SPM Bidang
Kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 21
6. Apabila pembiayaan yang dibutuhkan dalam pencapaian SPM
bidang kesehatan melebihi kemampuan keuangan daerah maka
pemerintah daerah dapat mengurangi kegiatan atau mencari
sumber anggaran lainnya.

B. MONITORING DAN PENGAWASAN PELAKSANAAN SPM


1. Monitoring Pelaksanaan SPM
a. Menteri Kesehatan melaksanakan monitoring dan evaluasi
atas penerapan SPM Kesehatan oleh Pemerintah Daerah
dalam rangka menjamin akses dan mutu pelayanan dasar
kepada masyarakat.
b. Monitoring dan evaluasi dilaksanakan sesuai dengan
peraturan perundang undangan.
c. Monitoring dan evaluasi dilakukan oleh Bupati sebagai Wakil
Pemerintah di Daerah untuk Pemerintahan Kabupaten.
Hasil monitoring dan evaluasi penerapan dan pencapaian SPM
Kesehatan dipergunakan sebagai:
a. Bahan masukan bagi pengembangan kapasitas pemerintah
daerah dalam pencapaian SPM Kesehatan;
b. Bahan pertimbangan dalam pembinaan dan pengawasan
penerapan SPM Kesehatan, termasuk pemberian penghargaan
bagi pemerintah daerah yang berprestasi sangat baik.
c. Bahan pertimbangan dalam memberikan sanksi kepada
Pemerintah Kabupaten yang tidak berhasil mencapai SPM
Kesehatan dengan baik dalam batas waktu yang ditetapkan
dengan mempertimbangkan kondisi khusus Daerah yang
bersangkutan sesuai peraturan perundang-undangan

2. Pengawasan pelaksanaan SPM

a. Menteri Kesehatan dalam melakukan pengawasan teknis atas


penerapan dan pencapaian SPM Kesehatan, dibantu oleh
Inspektorat Jenderal Kementrian Kesehatan.

b. Bupati selaku wakil pemerintah di daerah dalam melakukan


pengawasan teknis atas penerapan dan pencapaian SPM
Kesehatan, dibantu oleh Inspektorat Kabupaten.

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 22


C. PENGUKURAN CAPAIAN KINERJA DAN EVALUASI KINERJA

Pernyataan standar kinerja pada masing-masing jenis pelayanan akan


digunakan sebagai dasar pengukuran kinerja pelayanan. Pengukuran
kinerja untuk setiap pernyataan standar ditentukan profilnya dan disajikan
pada Lampiran 2.

Puskesmas menyusun laporan kegiatan dan evaluasi kinerja


pelaksanaan SPM, dengan mekanisme pelaporan sebagai berikut :

1. Puskesmas menyusun laporan kegiatan untuk masing-masing


jenis pelayanan dan indikator kinerja serta batas waktu
pencapaian melalui pelaporan puskesmas untuk kemudian
dikirim secara berkala kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisi
Selatan.

2. Puskesmas menyusun laporan tahunan pencapaian SPM dan


laporan penilaian kinerja yang disampaikan kepada Dinas
Kesehatan Kabupaten Pesisi Selatan.

3. Dinas Kesehatan Kabupaten mengkompilasi laporan sebagaimana


dimaksud di atas, kemudian dimasukan ke dalam KOMDAT online
dan formulir SPM.

4. Dinas Kesehatan Kabupaten mengirimkan laporan sebagai


tembusan kepada Dinas Kesehatan Provinsi dan Pemerintah
Kabupaten (Bupati).

5. Dinas Kesehatan Provinsi melakukan monitoring dan evaluasi atas


penyelenggaraan SPM Kabupaten.

6. Kementerian Kesehatan melalui Simpus mengkompilasi laporan


kegiatan SPM secara nasional. Kemudian juga memperbarui data
aplikasi nasional serta melakukan monitoring dan evaluasi
pelaksanaan SPM Kabupaten.

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 23


DEFINISI OPERASIONAL CAPAIAN KINERJA DAN RUMUS PENGUKURAN
KINERJA SESUAI PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 4 tahun
2019.

1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil

Setiap ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal


Pernyataan Standar
sesuai standar

Capaian kinerja Pemerintah Daerah


Kabupaten/Kabupaten dalam memberikan
pelayanan kesehatan ibu hamil dinilai dari
Definisi Operasional
cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil (K4)
sesuai standar di wilayah kabupaten/Kabupaten
tersebut dalam kurun waktu satu tahun.

Jumlah ibu hamil yang


mendapatkan
Persentas pelayanan K4 di fasilitas
e ibu pelayanan kesehatan
hamil milik pemerintah dan
Rumus Pengukuran mendapat swasta 100
kan = X
Kinerja %
pelayanan Jumlah semua ibu
ibu hamil hamil di wilayah
kabupaten/Kabupaten
tersebut dalam kurun
waktu satu tahun yang
sama.

1. Pendataan ibu hamil


2. Pemeriksaan kehamilan
Langkah – Langkah
3. Pemberian Buku KIA
Kegiatan
4. Pencatatan dan pelaporan
5. Rujukan ANC jika diperlukan

2.Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin

Setiap ibu bersalin mendapatkan pelayanan


Pernyataan Standar
persalinan sesuai standar

Capaian kinerja Pemerintah Daerah


Kabupaten/Kabupaten dalam memberikan
pelayanan kesehatan ibu bersalin dinilai dari
Definisi Operasional
cakupan pelayanan kesehatan ibu bersalin sesuai
standar di wilayah kabupaten/Kabupaten tersebut
dalam kurun waktu satu tahun.

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 24


Jumlah ibu bersalin
yang mendapatkan
Persentas
pelayanan persalinan
e ibu
sesuai standar di
bersalin
Rumus Pengukuran fasilitas kesehatan 100
mendapat = X
Kinerja kan %
Jumlah semua ibu
pelayanan
bersalin diwilayah
persalian
kabupaten tersebut
an
dalam kurun waktu
satu tahun yang sama

Standar Pencapaian 100 %

1) Pendataan ibu bersalin


2) Pelayanan persalinan
Langkah – Langkah 3) Pengisian dan pemanfaatan Buku KIA
Kegiatan 4) Pencatatan dan pelaporan
5) Rujukan pertolongan persalinan jika
diperlukan

3.Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir

Setiap Bayi Baru Lahir mendapatkan pelayanan


Pernyataan Standar
Kesehatan sesuai standar

Capaian kinerja Pemerintah Daerah


Kabupaten/Kabupaten dalam memberikan paket
pelayanan kesehatan bayi baru lahir dinilai dari
persentase jumlah bayi baru lahir usia 0-28 hari
Definisi Operasional
yang mendapatkan pelayanan kesehatan bayi baru
lahir sesuai standar di wilayah
kabupaten/Kabupaten tersebut dalam kurun
waktu satu tahun.

Jumlah bayi baru lahir


Persentas usia 0-28 hari yang
e bayi mendapatkan
Baru pelayanan kesehatan
Lahir bayi baru lahir sesuai
Rumus Pengukuran mendapat dengan standar 100
kan = X
Kinerja %
pelayanan Jumlah semua Bayi
Kesehata Baru Lahir di wilayah
n Bayi kabupaten/Kabupaten
Baru tersebut dalam kurun
Lahir waktu satu tahun yang
sama.

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 25


Standar Pencapaian 100%

1) Pendataan bayi baru lahir


2) Pelayanan kesehatan bayi baru lahir
Langkah – Langkah 3) Pengisian dan pemanfaatan Buku KIA

Kegiatan 4) Pencatatan dan pelaporan


5) Rujukan pertolongan kasus komplikasi pada
bayi
baru lahir jika diperlukan

4.Pelayanan Kesehatan Balita

Setiap Balita mendapatkan pelayanan kesehatan


Pernyataan Standar
sesuai standar

Capaian Kinerja Pemerintah Daerah


Kabupaten/Kabupaten dalam memberikan
pelayanan kesehatan balita usia 0-59 bulan dinilai
Definisi Operasional
dari cakupan balita yang mendapat pelayanan
kesehatan balita sehat sesuai standar di wilayah
kerjanya dalam kurun waktu satu tahun.

Persentas Jumlah balita 0–59


e anak bulan yang mendapat
usia 0-59 pelayanan kesehatan
bulan balita sesuai standar
yang dalam kurun waktu
Rumus Pengukuran 100
mendapat = satu tahun X
Kinerja kan %
pelayanan Jumlah balita 0–59
kesehatan bulan yang ada di
balita wilayah kerja dalam
sesuai kurun waktu satu
standar tahun yang sama.

Standar Pencapaian 100%

1) Pendataan Balita 0-59 bulan


Langkah – Langkah
2) Pemberian Pelayanan Kesehatan balita
Kegiatan
3) Pencatatan dan Pelaporan

5.Pelayanan Kesehatan pada Usia Pendidikan Dasar

Setiap anak pada usia pendidikan dasar


Pernyataan Standar
mendapatkan skrining kesehatan sesuai standar.

Capaian kinerja Pemerintah Daerah


Definisi Operasional Kabupaten/Kabupaten dalam memberikan
pelayanan skrining kesehatan anak usia
pendidikan dasar dinilai dari cakupan pelayanan

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 26


kesehatan pada usia pendidikan dasar sesuai
standar di wilayah kabupaten/Kabupaten tersebut
dalam kurun waktu satu tahun ajaran.

Jumlah anak usia


Persentas pendidikan dasar kelas
e anak 1 dan 7 yang mendapat
usia pelayanan skrining
pendidika kesehatan di satuan
n dasar pendidikan dasar
Rumus Pengukuran yang
mendapat = Jumlah semua anak X 100 %
Kinerja usia pendidikan dasar
kan
skrining kelas 1 dan 7 yang ada
di wilayah kerja di
kesehatan
wilayah
sesuai
standar kabupaten/Kabupaten
tersebut dalam kurun
waktu satu tahun
ajaran.

Standar Pencapaian 100%

1) Pendataan anak usia pendidikan dasar kelas 1


dan kelas 7
2) Pra penjaringan: a) informed consent
b) Pembagian Buku Rapor Kesehatanku dan
Langkah – Langkah penjelasan penggunaan
Kegiatan 3) Pelaksanaan penjaringan kesehatan
4) Pelaksanaan tindak lanjut hasil penjaringan
kesehatan a) Rujukan jika diperlukan
b) KIE
5) Pencatatan dan pelaporan

6.Pelayanan Kesehatan pada Usia Produktif

Setiap warga negara Indonesia usia 15–59 tahun


Pernyataan Standar
mendapatkan skrining kesehatan sesuai standar.

Capaian kinerja Pemerintah Daerah


Kabupaten/Kabupaten dalam memberikan
pelayanan skrining kesehatan warga negara
Definisi Operasional berusia usia 15–59 tahun dinilai dari persentase
pengunjung usia 15–59 tahun yang mendapat
pelayanan skrining kesehatan sesuai standar di
wilayah kerjanya dalam kurun waktu satu tahun.

Rumus Pengukuran Persentas = Jumlah pengunjung X 100 %


e warga usia 15–59 tahun

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 27


Kinerja negara mendapat pelayanan
usia 15– skrining kesehatan
59 tahun sesuai standar dalam
mendapat kurun waktu satu
kan tahun
skrining
kesehatan Jumlah warga negara
sesuai usia 15–59 tahun yang
standar ada di wilayah kerja
dalam kurun waktu
satu tahun yang sama.

Standar Pencapaian 100%

1) Skrining faktor risiko PTM dan gangguan mental


emosional dan perilaku
2) Konseling tentang faktor risiko PTM dan
gangguan mental emosional dan perilaku
3) Pelatihan teknis petugas skrining kesehatan bagi
tenaga kesehatan dan petugas pelaksana (kader)
Posbindu PTM
Langkah – Langkah
4) Penyediaan sarana dan prasarana skrining (Kit
Kegiatan Posbindu PTM)
5) Pelatihan surveilans faktor risiko PTM berbasis
web
6) Pelayanan rujukan kasus ke Faskes Tingkat
Pertama
7) Pencatatan dan pelaporan faktor risiko PTM
8) Monitoring dan evaluasi

7. Pelayanan Kesehatan pada Usia Lanjut

Setiap warga Negara Indonesia usia 60 tahun


Pernyataan Standar keatas mendapatkan skrining kesehatan sesuai
standar

Capaian kinerja Pemerintah Daerah


Kabupaten/Kabupaten dalam memberikan
pelayanan skrining kesehatan warga negara usia
usia 60 tahun keatas dinilai dari persentase
Definisi Operasional
pengunjung berusia 60 tahun keatas yang
mendapatkan skrining kesehatan sesuai standar
minimal 1 kali di wilayah kerjanya dalam kurun
waktu satu tahun

Persentas Jumlah pengunjung


Rumus Pengukuran e warga usia 60 tahun keatas
= X 100 %
Kinerja negara mendapat pelayanan
usia 60 skrining kesehatan
tahun sesuai standar dalam

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 28


keatasme kurun waktu satu
ndapatka tahun
n skrining
kesehatan Jumlah warga negara
sesuai usia 60 tahun keatas
standar yang ada di wilayah
kerja dalam kurun
waktu satu tahun yang
sama.

Standar Pencapaian 100%

1) Pendataan lansia
2) Skrining kesehatan lansia
Langkah – Langkah
3) Pemberian buku kesehatan lansia
Kegiatan
4) Pelayanan rujukan
5) Pencatatan dan pelaporan

8. Pelayanan Kesehatan Penderita Hipertensi

Setiap penderita hipertensi mendapatkan


Pernyataan Standar
pelayanan kesehatan sesuai standar.

Capaian kinerja Pemerintah


Kabupaten/Kabupaten dalam memberikan
pelayanan kesehatan sesuai standar bagi
penderita hipertensi, dinilai dari persentase
jumlahpenderita hipertensiyang mendapatkan
Definisi Operasional
pelayanan kesehatan sesuai standar di
wilayah kerjanya dalam kurun waktu satu
tahun.

Jumlah penderita
hipertensiyang
Persentas mendapatkan
e pelayanan kesehatan
penderita sesuai standar dalam
Rumus Pengukuran hipertensi kurun waktu satu 100
mendapat = tahun X
Kinerja %
pelayanan
kesehatan Jumlah estimasi
penderita hipertensi
sesuai
berdasarkan angka
standar
pervalensi
kab/Kabupaten dalam
kurun waktu satu

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 29


tahun pada tahun yang
sama.

Standar Pencapaian 100%

1) Pendataan penderita hipertensi menurut wilayah


kerja FKTP
2) Melakukan skrining faktor risiko hipertensi
untuk seluruh pasien di FKTP
3) Melakukan pelayanan kesehatan sesuai
standar, berupa edukasi tentang diet makanan
dan aktivitas fisik, serta terapi farmakologi
Langkah – Langkah 4) Melakukan rujukan ke FKRTL untuk
pencegahan komplikasi
Kegiatan
5) Pelatihanteknispelayanankesehatantentanghipert
ensibagi tenagakesehatan,termasukpelatihan
surveilansfaktorrisiko hipertensi berbasis web
6) Penyediaan peralatan kesehatan hipertensi
7) Penyediaan obat hipertensi
8) Pencatatan dan pelaporan
9) Monitoring dan evaluasi

9. 9. Pelayanan Kesehatan Penderita Diabetes Melitus (DM)

Setiap penderita diabetes 30ellitus mendapatkan


Pernyataan Standar
pelayanan kesehatan sesuai standar.

Capaian kinerja Pemerintah


Kabupaten/Kabupaten dalam memberikan
pelayanan kesehatan sesuai standar bagi

Definisi Operasional penyandang DM dinilai dari persentase


penyandang DM yang mendapatkan pelayanan
sesuai standar di wilayah kerjanya dalam kurun
waktu satu tahun.

Persentase Jumlah penyandang


penyandang DM yang mendapatkan
DM yang pelayanan kesehatan
qRumus Pengukuran mendapatka = sesuai standar dalam X 100 %
Kinerja n pelayanan kurun waktu satu
kesehatan tahun
sesuai
standar Jumlah penyandang

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 30


DM berdasarkan
angka prevalensi DM
nasional di wilayah
kerja dalam kurun
waktu satu tahun
pada tahun yang sama

Standar Pencapaian 100%

1) Melakukan pendataan penderita DM menurut


wilayah kerja FKTP
2) Melakukan skrining faktor risiko DM untuk
seluruh pasien di FKTP
3) Melakukan pelayanan kesehatan sesuai
standar, berupa edukasi tentang diet makanan
dan aktivitas fisik, serta terapi farmakologi
4) Melakukan rujukan ke FKRTL untuk
Langkah – Langkah
pencegahan komplikasi
Kegiatan
5) Pelatihan teknis pelayanan kesehatan tentang
DM bagi tenaga kesehatan, termasuk pelatihan
surveilans DM berbasis web
6) Penyediaan peralatan kesehatan DM, termasuk
HbA1C)
7) Penyediaan obat DM
8) Pencatatan dan pelaporan
9) 9) Monitoring dan evaluasi

10. Pelayanan Kesehatan Orang dengan Gangguan Jiwa(ODGJ) Berat

Setiap ODGJ berat mendapatkan pelayanan


Pernyataan Standar
kesehatan sesuai standar.

Capaian kinerja Pemerintah Kabupaten/Kota


dalam memberikan pelayanan kesehatan ODGJ
berat dinilai dengan jumlah ODGJ berat (psikotik)
Definisi Operasional
diwilayah kerjanya yang mendapat pelayanan
kesehatan jiwa promotif preventif sesuai standar
dalam kurun waktu satu tahun.

Persentas Jumlah ODGJ


Rumus Pengukuran e ODGJ berat(psikotik) diwilayah 100
= X
Kinerja berat kerjakab/Kabupaten %
yang yang
mendapat mendapatpelayanankes
[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 31
kan ehatan jiwa promotif
pelayanan preventif sesuai standar
kesehatan dalam kurun waktu
sesuai satu tahun.
standar
Jumlah ODGJ
berat(psikotik)yang ada
diwilayah
kerjakab/Kabupaten
dalam kurun waktu
satu tahun yang sama.

1) Penyediaan materi KIE Keswa, Pedoman dan


Buku KerjaKesehatan Jiwa
2) Peningkatan pengetahuan SDM
Langkah – Langkah 3) Penyediaan form pencatatan dan pelaporan
Kegiatan 4) Pelayanan Kesehatan ODGJ Berat di Puskesmas
5) Pelaksanaan kunjungan rumah (KIE keswa dan
dukungan psikososial
6) Monitoring dan evaluasi

11. Pelayanan Kesehatan Orang dengan Tuberkulosis (TB)

Pernyataan Standar Setiap orang dengan TB mendapatkan pelayanan


TB sesuai standar.

Capaiankinerja
PemerintahDaerahKabupaten/Kabupatendalam
memberikan pelayanan orang dengan TB dinilai
Definisi Operasional
dari persentase jumlah orang yangmendapatkan
pelayanan TB sesuai standar di wilayah kerjanya
dalam kurun waktu satu tahun.

Persentas Jumlah orang yang


e Orang mendapatkan
dengan pelayananTBsesuai
TB standar dalam kurun
Rumus Pengukuran mendapat waktu satu tahun. 100
kan = X
Kinerja %
pelayanan Jumlah Orang dengan
TB sesuai TB yang adadiwilayah
standar kerjapada kurun waktu
satu tahun yang sama.

Langkah – Langkah 1) Peningkatan Kapasitas SDM TB

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 32


Kegiatan 2) Promosi/Penyuluhan danPenyediaan Media
KIETB
3) Pelayanan dan pemeriksaan TB dalam gedung
dan luar gedung
4) Rujukan kasus TB dengan penyulit termasuk TB
resistan Obat kepada fasilitas kesehatan tingkat
lanjut
5) Jejaring dan kemitraan pelayanan TB
6) Pemantapan mutu layanan labotatorium TB
untuk penegakan diagnosisTB
7) Pencatatan dan pelaporan TB melalui
penyediaan Formulir pencatatan dan pelaporan
8) Monitoring dan Evaluasi

12. Pelayanan Kesehatan Orang dengan Risiko Terinfeksi HIV

SetiaporangberisikoterinfeksiHIV(ibuhamil,pasienT
Pernyataan Standar B,pasien IMS, waria/transgender, pengguna
napza, dan warga binaanlembaga pemasyarakatan)
mendapatkan pemeriksaan HIV sesuai standar.

Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten


dalam memberikan pemeriksaan HIV terhadap
orang berisiko terinfeksi HIV dinilai dari

Definisi Operasional persentase orang berisiko terinfeksi HIV yang


datang ke fasyankes dan mendapatkan
pemeriksaan HIV sesuai standar di wilayah
kerjanya dalam kurun waktu satu tahun.

Persentas Jumlah orang berisiko


e Orang terinfeksi HIV yang
berisiko mendapatkan
terinfeksi pemeriksaan HIV sesuai
HIV standar di fasyankes
Rumus Pengukuran mendapat dalam kurun waktu 100
kan = satu tahun. X
Kinerja %
pemeriks
Jumlah orang berisiko
aan HIV
terinfeksi HIV yang
sesuai
adadisatu wilayah
standar
kerjapada kurun waktu
satu tahun yang sama.

Langkah – Langkah 1) Pemetaan kelompok sasaran

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 33


Kegiatan 2) Penyiapan SDM
3) Promosi/penyuluhan
4) Jejaring kerja dan kemitraan

5) Sosialisasi
6) Pemeriksaan HIV
7) Rujukan kasus HIVuntuk mendapatkan
pengobatan ARV

8) Pencatatan dan pelaporan

9) Monitoring dan Evaluasi

[Dokumen Standar Pelayanan Minimal Dinkes Kab.Pessel] 34