Anda di halaman 1dari 24

PENGARUH JENIS PELARUT DAN BENTUK IRISAN

RIMPANG KUNYIT TERHADAP EKSTRAKSI


KURKUMIN KUNYIT (Curcuma domestica Val)
DENGAN METODA SOXHLET
i
I
I

oleh
Susiana Prasetyo S.,ST
NIK: 21878

i:?-s,1 d(, R{ 7:>rtY~


1 - Ie . Cq ~

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN
BANDUNG
1998
KATAPENGANTAR

Dengan segala kerendahan hati, penuJis memanjatkan puji dan syukur ke


hadirat Tuhan Yang Mahakuasa. Atas berkat dan rahmat-Nyalah, penuJis dapat
menyelesaikan makalah peneJitian ini tepat pada waktunya.
Dalam pelaksanaan peneJitian dan penyusunan makalah peneJitian ini,
penuJis banyak mendapat dukungan, bimbingan, pengarahan, petunjuk, dan
bantuan informasi dari berbagai pihak. Untuk itu penuJis menghaturkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof.Dr.Ign.Suharto, Ir., APU yang telah memberikan bimbingan,
pengarahan, petunjuk, penjelasan, dan masukan bagi penuJis selama
penyusunan makalah penelitian ini, serta

2. Staf perpustakaan UNPAR, ITB, LIPI yang telah banyak membantu penuJis
dalam pencarian Jiteratur yang dibutuhkan oleh penuJis, serta

Memahami sepenuhnya arti kata dari pepatah "Tiada gading yang tak
retak", maka penuJis menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam
penyajian laporan peneJitian ini. Oleh sebab itu, penuJis sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun guna mencapai penyusunan laporan peneJitian
yang lebih baik.

Bandung, lanuari 1998


Penulis

ii
DAFTARISI

HALAMAN SAMPUL
KATAPENGANTAR ii
DAFTARISI iii
DAFTAR GAMBAR v

DAFTAR TABEL vi
INTI SARI vii

BABI PENDAHULUAN
1.I Latar Belakang I
1.2 Kunyit I
1.2.1 Susunan Kimiawi Kunyit 2
1.2.2 Zat Warna Alami Kurkumin 3
1.3 Isolasi Zat Warna Kurkumin 4
1.3.1 DAUBE5
1.3.2 RAO DAN SHINTRE 5
1.3.3 Dr.H.J.V. GRIFFITH 5
1.3.4 JACKSON 6
1.3.5 KACHLER 6
1.3.6 IWANOFF DAN CAJEWSKY 6
1.3.7 FARMAKOLOGIS 6
1.3.8 JNAKI DAN BOSE 6
1.3.9 SASTRY 7

BABII METODA PENELITIAN


2. I Bahan dan Peralatan 8
2.2 Metoda Penelitian 8
2.3 Prosedur Penelitian 9
2.3.1 Persiapan Bahan Baku 9

iii
2.3.2 Ekstraksi Kurkumin 9
2.3.3 Pemisahan Kurkumin 10

BABll HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Analisis Bahan Baku Rimpang Kunyit 12
3.2 Penelitian Utama 12
3.2.1 Rendemen 12
3.2.2 Kadar Kurkumin 13
3.2.3 Uji Kelarutan 14

BABIV KESIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan 15
4.2 Saran 15

DAFTAR PUSTAKA 16

IV
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Prosedur Penelitian 11

y
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Komposisi Kimiawi Rata-rata Rimpang Kunyit 2


Tabel 1.2 Komposisi Kimia per 100 g Kunyit 3
Tabel2.1 Rancangan Percobaan Penelitian 9
Tabel3.1 Analisis Komposisi Rimpang Kunyit 12
Tabel 3.1 Hasil Analisis Rendemen 12
Tabel3.2 Hasil Analisis Kadar Kurkumin 13
Tabel3.3 Hasil Uji Kelarutan Kurkumin 14

VI
INTISARI

KunVII (curcuma aomesnca ) meruDaKan satansaru ranaman emoo!!<"


yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Kunyit mengandung zat warna
aiami vane: aiseoUl kurkumin van~aman digunakan dalam industri makanan.
Bahan baku penelitian ini adalah rimpang kunyit yang telah mengalami
pengukusan dan pengeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh bentuk irisan rimpang kunyit dan jenis pelarut dalam ekstraksi
kurkumin dari rimpang kunyit dengan metode soxhlet.

Bahan baku yang digunakan berupa rimpang kunyit kering yang telah
mengalami penghilangan minyak atsiri. Ekstraksi dilakukan dalam perangkat
soxhlet selama waktu kesetimbangan. Ekstrak yang didaptkan difiltrasi dan
mengalami pemisahan dengan pelarutnya melalui distilasi bias. Hasil
kurkumin yang telah didapatkan dianalsis rendemen, Kadar kurkumin, dan uji
kelarutannya dalarn pelarut untuk memastikan kurkumin yang terbentuk sesuai
dengan standar.

Hasil penelltian yang didapat memberikan hasil bahwa ekstraksi kurkumin


yang optimum adalah dengan pelarut etanol 95% dan bentuk irisan rimpang
kunyit memanjang. Kurkumin yang dihasilkan berupa kristal kurkumin
berwarna j ingga kemerahan. Variasi jenis pelarut memberikan pengaruh yang
nyata terhadap rendemen dan kadar kurkumin hasil ekstraksi hingga tingkat
kepercayaan 99% sedangkan variasi bentuk irisan rimpang kunyit tidale
mem!)erikan oene:aruh vane: nyata terhadap rendemen dan Kadar kurkumin
hasil ekstraksi.

Vll
BAB!
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Zat warna merupakan bahan tambahan yang banyak digunakan dalam
industri pengolahan pangan. Selain itu, zat warna juga digunakan sebagai bahan
pewama tekstil, hasil kerajinan, kosmetik, obat-obatan,dll. Zat warna alami
tanaman, hewan dan mineral mulai dikembangkan dalam bentuk ekstrak maupun
serbuk sejak 3000 tahun yang lalu. Namun, di lndonesia industri pengolahan zat
warna alami belumdikenal secara luas dan belum banyak dilakukan. Dengan
meluasnya pemakaian zat warna alami dalam industri akan memberikan peluang
bisnis yang menarik.
Untuk itulah perlu diusahakan pengembangan, pemanfaatan, dan pengolahan
zat wama alami sebagai pewarna makanan yang relative aman dan sudah dikenal
dalam masyarakat, misalnya zat warna kurkumin dari kunyit. Penggunaan
kurkumin sebagai bahan tambahan yang aman dikonsumsi telah diizinkan dan
diatur dalam oleh Departemen Kesehatan dan PeraturanaMenteri Kesehatan RI
Nomor 235fMenkeslPerlVII1975.

1.2 Kunyit
Kunyit merupakan tanaman daerah tropis yang banyak ditemukan di lndia,
RRC, Indonesia, Kepulauan Salomon (Lautan Teduh),Haiti dan Jamaika.
Tanaman kunyit (Curcuma domesticaVal.) semula dikenal sebagai Curcuma
longa Linn., tetapi karena nama tersebut sudah digunakan untuk jenis rempah lain,
maka pada 1918 Valenton memberikan nama bam kunyit yaitu Curcuma
domestica.
Klasifikasi kunyit sebagai berikut :
Kelas Monocothyledonae
Ordo Scitamineae
Famili Zingiberaceae
Genus Curcuma
Jenis Curcuma domestica
2

Kunyit tennasuk tanaman semak yang hidup dan berumur musiman,


tumbuh berumpun-rumpun dengan tinggi 50-150 em, berbatang semu, dan terdiri
dari kumpulan kelopak atau pelepah daun yang berpalutan. Daunnya lemas tidak
berbulu dengan dengan pennukaan Iicin tanpa bintik-bintik dan berwama hijau
muda. Daun kunyit berbentuk lanset dan berkelopak panjang menutupi batang.
Bunga kunyit berbentuk malai dan tumbuh dari ketiak kelopak daun, rata-
rata terdiri atas tujuh bunga berwarna kuning atau agak kuning. Rimapng kunyit
mempunyai baud an rasa khas. Rimpangnya berwama kecoklatan dengan sisik
luar dan bagian dalamnya berwama jingga terang. Ujung-ujung umbi mudanya
berwarna putih dan akar-akarnya diakhiri dengan umbi.

1.2.1 Susuuau Kimiawi Kuuyit


Wama kuning jingga daging rimpang kunyit disebabkan oleh adanya
minyak atsiri curcumin oil. Kadar rata-rata minyak atsiri dalam kunyit adalah 5-
6%. Salah satu jenis kunyit irnpor, yaitu Allepey mengandung minyak hingga
6,5%. Selain itu, kunyit mengandung 28% glukosa, 12% fruktosa, 8% protein,
vitamin C, rupa-rupa jenis zat mineral dengan kandungan kalium yang eukup
tinggi.
Komposisi kimiawi rata-rata rirnpang kunyit dan komposisi kimia per 100
gram kunyit disajikan pada Tabel 1.1 dan Tabel 1.2.

Tabel1.1 Komposisi Kimiawi Rata-rata Rimpang Kunyit


Komponeu Kadar(%)
Abu 7,0
Asam 0,5
Serat Kasar 9,5
Minyak volatile (mLlIOO g) 3,5
Air 9,0
Kurkumin 5,0-6,6
[Sumber : Purseglove, 1981 )
3

Tbel12K
a . .. K"lima
ompOslsl . per 100I g K unYlt
Komponen Jumlah
Energi (kal) 349
Air (g) 13,1
Protein (g) 6,3
Lemak (g) 5,1
Karbohidrat (g) 69,4
Serat Kasar (g) 2,6
Abu (g) -
Kalsium (g) 0,15
Posfor (g) 0,28
Natrium (g) 0,03
Kalium (g) 3,3
Besi (mg) 18,6
Thiamin (mg) 0,03
Riboflavin (mg) -
Niasin (mg) -
Asam Nikotinat (mg) 2,3
Asam Askorbat (mg) -
Vitamin A (lU) 50
rSumber : Rismunandar. 19881

1.2.2 Zat Warua Alami Kurkumip


Warna kuning kunyit disebutjuga sebagai "kurkumin" dapat dimanfaatkan
sebagai zat aktif baban pewarna katun, sutera, kulit, baban anyaman, bahan
kosmetika tradisional, bahan makanan, keju, dan mentega. Kurkumin merupakan
senyawa fenolik yang mempunyai daya antimikroba yang dapat dimanfaatkan
untuk pengobatan infeksi oleh bakteri.
Kurkumin merupakan komponen utama dalam zat warna kunyit. Rumus
molekulnya C21H2006 yang ditemukan oleh Silber dan Ciamician tahun 1897 yang
kemudian disebut diferu-oil metana' oleh Milobedzka tahun 1910.
Sebenamya,ekstrak zat wama kunyit terdiri atas campuran analog dimana
kandungan terbanyaknya berupa kurkumin. Dua komponen utama lain yang
menyertai kurkumin adalab desmethoxycurcumin dan bis-desmethoxycurcumin.
Kurkumin memiliki berat molekul 368,37 yang terdiri dari 68,4% atom C,
5,47% atom H dan 26,06% atom O. Kurkumin berbentuk kristal berwarna kuning
jingga dengan titik leleh 183°C, tidak larut dalam air dan eter tetapi larut di dalam
alkhohol dan asam asetat glacial. untuk memforrnulasikan kurkumin sehingga
4

larut di dalarn air adalah dengan mengubahnya menjadi natrium kurkuminat atau
dilarutkan dalarn pelarut. Kurkumin stabil terhadap panas tetapi menjadi pucat
dengan cepat akibat pengaruh cahaya.
Kunyit yang akan digunakan sebagai zat warna harus memiliki kandungan
pigmen yang tinggi tetapi kandungan minyak volatile-nya tidak boleh terlalu
tinggi karena dapat menimbulkan bau yang tidak diinginkan.
Dalam rimpang kunyit segar, zat wama terdapat dalam sel oleoresin
bersama minyak atsiri. Perebusan menyebabkan terpecahnya sel oleoresin dan zat
warna menjadi lebih tersebar secara merata ke dalarn patio

1.3 lsolasi Zat Warna Kurkumin


Kurkumin memiliki kristal berwarna merah jingga dan berbentuk prisma
atau batang. Kurkumin mudah larut dalam bensin, methanol, etanol, aseton, dan
etilen diklorida tetapi sukar larut dalam eter dan petroleum eter. Pada prakteknya,
heksana disarankan digunakan sebagai pelarut untuk mengurangi rasa getir tanpa
berpengaruh terhadap kandungan kurkumin.
Dalarn isolasi zat wama kurkumin sangat terganggu oleh adanya minyak
atsiri. Minyak atsiri merupakan suatu fenol dan kurkumin merupakan suatu zat
warna asarn dengan gugus fenol. Karena struktur inilah, kedua senyawa tersebut
memilki kelarutan yang sarna dalam pelarut orgaik sehingga menggangu proses
isolasi kurkumin. Satu-satunya cara isolasi kurkumin adalah dengan
menghilangkan minyak atsirinya terlebih dahulu, misalnya dengan distilasi uap
atau memilih pelarut yang mudah melarutkan minyak atsirinya tetapi tidak
melarutkan kurkumin kemudian dilanjutkan dengan ekstraksi menggunakan
pelarut yang dapat melarutkan kurkumin.
Metode ekstraksi zat wama kurkumin yang telah berhasil dilakukan dan
telah dipatenkan, antara lain metoda Daube, Rao dan Shintre, Dr. H.J.V. Grifftith,
Jackson, Kaehler, lwanoff dan Cajewsky, untuk Farmakologis, Jnaki dan Bose,
serta Sastry.
5

1.3.1 DAUBE
Daube mengisolasi kurkumin dari bubuk kering kunyit dengan
membebaskan minyak atsirinya terlebib edabulu dengan distilasi uap. Bubuk
sisanya dikeringkan dan diekstraksi dengan benzoL Kurkumin yang telab
dipisahkan ditarik dengan alkhol kemudian diencerkan dengan larutan Pb(Ach
dalam alkhohoL
Kurkumin dipisabkan dengan mengalirkan H2S dan disaring. Filtratnya
diuapkan perlahan-Iahan. Kurkumin yang didapatkan memiliki titik leleh 165u C.

1.3.2 RAO DAN SIDNTRE


Rao dan Shintre mengisolasi kurkumin dari irnpang kunyit yang telah
dikeringkan, kemudian dicampur dengan alkhohol dan dibiarkan selama 1 malam.
Setelah itu dilakukan penyaringan. residu yang didapat dicuci dengan alkhohol
dan kurkumin akan mengendap dari filtratnya. Kemudian berturut-turut dicuci
dengan Pb(Ac h , alkhohol, dan air kemudian disuspensikan dalam air.
Kelebiban garam Pb dipisahkan dengan mengalirkan gas H2S dan disaring.
Endapan yan gterbentuk dicuci dengan air dan dikeringkan pada suhu 80u C dan
kemudian dilarutkan dalam benzoL Metode ini menghasilkan kurkumin dengan
rendemen 1,4%.

1.3.3 Dr.H.J.V. GRIFFITH


Dr. H.J. V. Griffith membuat kurkumin sebagai suatu bubuk coklat dengan
titik leleh 180u C dari rhyzoma kunyit. Ekstraksi dilakukan menggunakan pelarut
petroleum eter untuk membebaskan min yak atsirinya terlebih dahulu kemudian
dilanjutkan dengan pelarut etil asetat.
Larutan dalam etil asetat didistilasi dan residu ditarik dan disaring. Filtrat
ditambabkan larutan Pb(Ach dalam alkhohol setetes demi setetes hingga tidak
terbentuk lagi endapan. Endapan dicuci dengan alkhohol dan diuraikan dengan
S02. Residu dicuci dengan ammonia 20% dan disaring. Filtrat kurkumin
diendapkan dengan CO2 • Untuk memumikan kurkumin yang dibasilkan, endapan
dilarutkan dengan sedikit benzol panas.
6

1.3.4 JACKSON
Jackson menarik rimpang kunyit dengan CS2 , kemudian menggunakan
eter. Residu dibebaskan dari minyak atsiri dan sebagian dari harsanya dengan
alkhohol. Kurkumin dimumikan dengan rekristalisasi menggunakan alkhohol.
Kurkumin yang dihasilkan memiliki titik leleh 177-178°C.

1.3.5 KACHLER
Kaehler mengekstraksi kunyit dengan alkhohol dan ditarik dengan eter. Eter
diuapkan dan larutan pekat ini ditarik amoniak, kemudian diendapkan dengan
CaCho endapan dibebaskan dengan HCI encer.

1.3.6 IWANOFF DAN CAJEWSKY


lwanoff dan Cajewsky menarik kurkumin dengan amoniak pekat
kemudian diendapkan dengan CO2. Titik leleh kurkumin yang dihasilkan adalah
140°C.

1.3.7 FARMAKOLOGIS
Isolasi untuk farmakologis ini dilakukan dengan mendistilasi uap kunyit
untuk membebaskasn minyak atsiri. Sisanya dikeringkan, kemudian diekstraksi
menggunakan eter. Ekstrak diuapkan untuk memisahkan eter. Residu ditarik
dengan alkhohol 96%, dipanaskan kemudian disaring.
Filtrat yang masih panas diendapkan kurkuminnya dengan larutan Pb(Aeh
dalam alkhohol. Endapan diuraikan dalam air dengan S02 kemudian diuapkan dan
ditarik dengan alkhohol panas dimana larutan alkhohol diuapkan dan membentuk
kurkumin dengan titik leleh III ° C.

1.3.8 JNAKI DAN BOSE


Jnaki dan Bose mengisolasi zat warna alami kunyit menggunakan
petroleum eter untuk menghilangkan minyak. Kemudian diekstraksi
menggunakan pelarut benzene selama 16 jam. Kurkumin yang didaptkan
dikristalkan hingga didapatkan kurkumin mumi dengan rendemen sebesar I, I %.
Titik leleh kurkumin yang dihasilkan memiliki titik lebur I 82-1 83°C.
7

1.3.9 SASTRY
Sastry mengekstraksi kunyit dengan pelarut aseton dan dilanjutkan dengan
pelarut petroleum eter pada temperatur 40-50"C. kurkumin yang dihasilkan
memiliki titk lebur 178-179°C.
BABII
METODA PENELITIAN

2.1 Bahan dan Peralatan


Penelitian ini dilakukan untuk mengekstraksi kurkumin dalam kunyit
Curcuma domestica Val.} dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut secara
batch dengan alat Soxhlet. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :
1. Bahan baku, berupa rimpang kunyit segar (Curcuma domestica Va!.)
2. Bahan pendukung, berupa pelarutorganik, yaitu etanol 95%, etanol 70%,
aseton, dan n-heksana Selain itu juga kertas saring dan aluminium foil.
3. Bahan analisis, berupa alkhohol 95%, asam asetat glacial,eter, kurkumin
standar Cl 75300 dan aquadest.
Perlatan penelitian yang digunakan berupa perangkat soxhlet, pisau,
blender, timbangan, kukusan, oven, heating mantel, perangkat dislisai biasa,
thermometer, spektrofotometer, pipet ukur, labu ukur, stopwatch, Erlenmeyer,
tabung reaksi, cawan penguapan, dan gelas kimia.

2.2 Metoda Penelitian


Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variable jenis pelarut
dan bentuk penampang irisan rimpang kunyit dalam ekstraksi secara batch
menggunakan pelarut dengan metode soxhlet.
Bentuk irisan rimpang kunyit divariasikan menjadi 4 level, yaitu
blender, irisan tipis bulat melintang, irisan tipis bulat memanjang, dan irisan tipis
persegi panjang. Sedangkan jenis pelarut divariasikan menjadi 4 level, yaitu :
etanol 95%, etanol 70%, aseton, dan n-heksana.
Analisis yang dilakukan meliputi analisis awal bahan baku berupa analsis
kadar air, kadar abu, kadar lemak, dan kadar protein serta analsis hasil
ekstrak kurkumin berupa analsis rendemen, kadar kurkumin, dan uji kelarutan.
Matrik rancangan percobaan penelitian ini disaj ikan pada Tabel 2.1. Tiap
run penelitian ini dilakukan duplo.

8
9

laDel ~.l Kancangan l'erCODaan renelluan


l'----..
I Variabel
_____ I Jenis Pelarut
I
Bentuklri~ Etanol95 % Etanol7D % Aseton N-heksana
(BI) (B2) (83) (84)
Blender (AI) AIBI AIB2 AlB3 AlB4
Bulat melintang (A2) A2BI A2B2 A2B3 A2B4
Bulat memanjang (A3) A3B3 A3B2 A3B3 A3B4
Persegi panjang (A4) A4B4 A4B2 A4B3 A4B4

2.3 Prosedur Penelitian


Prosedur ekstraksi kurkumin kunyit ini meliputi tahap persiapan baban
baku , tabap ekstraksi kurkumin dan tahap pemisaban kurkumin. Secara garis
besar prosedur penelitian disajikan pada Gambar 2.1.

2.3.1 Persiapan Baban Baku


Prosedur yang dilakukan dalam persiapan baban baku sebagai berikut :
I. Rimpang kunyit dibersihakan dari kotoran yang melekat, seperti tanab dan
kotoran lainnya dengan mencucinya di dalam air
2. Kulit kunyit dikupas dan dicuci sekali lagi untuuk menghilangkan
sebagian minyak yang melapisi rimpang luar kunyit
3. Rimpang kunyit dipotong tipis-tipis sesuai ukurang yang divariasikan
4. lrisan rimpang kunyit dikukus dalam kukusan selama 4 jam untuk
menghilangkan minyak atsirinya
5. [risan kunyit yang telab dikukus didinginkan dan kemudian dikeringkan
dalam oven pada II DOC selama ± 8 jam hingga kunyit kering dan siap
untuk diekstraksi

2.3.2 Ekstraksi Kurkumin


Prosedur yang dilakukan dalam proses ekstraksi kurkumin sebagai
berikut:
1. lrisan kunyit yang telah siap diekstrak diletakkan di alas kertas saring dan
dimasukkan dalam tudung soxhlet
10

2. Tabung soxhlet dihubungkan dengan labu leher tiga yang telah diisi
dengan pelarut. Rasio pelarut terhadap rirnpang kunyit adalah 1:9.
3. Kondensor dipasang pada tudung soxhlet.
4. Ekstraksi dilakukan pada titik didih pelarutnya hingga tidak teIjadi
perubahan konsentasri ekstrak yang didapatkan
5. Didinginkan hingga semua pelarut turun ke dalam tudung soxhlet
6. Ekstrak kurkumin siap untuk dipisahkan

2.3.3 Pemisahan Kurkumin


Ekstrak kurkumin yang didapatkan masih bercampur dengan pelarut
sehingga perlu dilakukan pemisahan kurkumin yang terekstrak dari pelarutnya.
Prosedur yang dilakukan dalam pemisahan kurkumin sebagai berikut :
1. Ekstrak yang didapatkan dimasukkan dalam labu distilasi
2. Ekstrak didislasi pada temperatur sedikit di atas temperature didih pelarut
yang digunakan
3. Distilasi dilakukan hingga semua pelarut terpisahkan dari kurkumin. Hal
ini ditandai dengan tidak ada lagi pelarut yang menetes.
4. Kurkumin murni didapatkan dan siap untuk dianalisis.
11

Rimpang kunyit dibersihkan

1
Pengupasan kulit
rimpang kunyit

1
Pengukusan rifPang kunyit - minyak atsiri
kunyit

Pengeringan

1
Ekstraksi

1
Filtrasi _________~~ AJnpas

1 ---------.~ Pelarut
Distilasi

1
Kurkumin mumi

1
Analisis

Gambar 2.1 Prosedur Penelitian


BABIn
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Analisis Bahan Baku Rimpang Kunyit


Hasil analisis awal rimpang kunyit sebagai bahan baku rimpang kunyit
sebagai bahan baku proses ekstraksi kurkumin disajikan pada Tabel3.1.

a e .
TbI31Anr'K a ISIS omposlsl Impang KunYlt
Komponen Kadar (%berat)
Air 8,00
Abu 10,25
Lemak 6,25
Protein 10,08

3.2 Penelitian Utama


Pada pene1itian utama ini, kurkumin hasil ekstraksi dianalisis rendemen ,
kadar kurkumin, dan uji kelarutan.

3.2.1 Rendemen
Hasil anal isis rendemen (dalam %-berat) untuk setiap variasi jenis pelarut
dan bentuk irisan rimpang kunyit disajikan pada Tabel3.1.

Tabel3.1 Hasil Analisis Rendemen


Bentuk Irisan Rimpang Kunyit
Pelarut Bulat Bulat Persegi
Blender
Melintang Memanjang Panjang
Etano170% 13,09 12,89 20,24 12,89
Etano190% 14,60 18,29 18,27 17,60
Aseton 7,60 9,76 9,02 9,95
n-heksana 0,32 0,63 0,62 0,63

Dari Tabel 3.1 terlihat bahwa rendemen terkecil didapatkan pada bentuk
irisan rimpang kunyit blender dengan pelarut n-heksana sedangkan rendemen
terbesar didapatkan pada bentuk irisan rirnpang kunyit bulat memanjang dengan

12
13

pelarut etanol 70%. Namun seeara umum dapat disimpulkan bahwa pelarut etanol
95% memberikan rendemen terbesar, disusul pelarut etanol 70%, aseton dan n-
heksana.
Semakin besar luas permukaan kontak padatan dengan pelarut seharusnya
akan meningkatkan rendemen yang diperoleh, artinya rimpang kunyit yang
diblender seharusnya memberikan rendemen yang tertinggi tetapi dalam
penelitian ini justru teljadi penyimpangan. Hal ini dapat dijelaskan bahwa
rimpang kunyit yang eukup halus menyebabkan rimpang kunyit memadat di
dalam tudung soxhlet akibat desakan pelarut yang berlangsung seeara terus-
menerus. Akibatnya, luas permukaan kontak efektif yang dapat teIjadi dengan
pelarut saat ekstraksi menjadi lebih keeil sehingga pelarut tidak dapat
mengekstrak dengan efektif.
Hasil analisis seeara statistik menunjukkan bahwa jenis pelarut
memberikan pengaruh yang nyata terhadap rendemen hingga tingkat kepereayaan
99%. Sedangkan bentuk irisan kunyit tidak memberikan pengaruh yang nyata
terhadap rendemen hingga tingkat kepereayaan 99%.

3.2.2 Kadar Kurkumin


Hasil analisis kadar kurkumin (%-berat) untuk setiap variasi jenis pelarut
dan bentuk irisan rimpang kunyit disajikan pada Tabel 3.2.

.
Tabel3 2 Hasil Analisis Kadar Kurkumin
Bentuk Irisan Rimpang Kunyit
Pelarut Bulat Bulat Persegi
Blender
Melintang Meman,jang Paniang
Etano170% 71,47 86,37 87,86 86,36
Etano190% 94,77 95,66 96,86 95,44
Aseton 92,97 92,86 92,96 92,68
n-heksana 28,21 28,27 28,57 28,32

Dari Tabel 3.2 terlihat bahwa kadar kurkumin terkeeil didapatkan pada
rirnpang kunyit blender dengan pelarut n-heksana, sedangkan kadar kurkumin
tertinggi didapatkan pada bentuk irisan kunyit bulat memanjangh dengan pelarut
etanoI95%.

-----~~-
14

Secara umum, kadar kurkumin tertinggi didapatkan berturut-turut pada


ekstraksi menggunakan pelarut etanol 95%, aseton, etanol 70%, kemudian n-
heksana. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa konsentrasi etanol juga
mempengaruhi kadar kurkumin yang didapatkan. Hal ini dapat dianalisis bahwa
keberadaan air sangat mengganggu proses ekstraksi kurkumin, selain itu juga
factor kepolaran sangat mempengaruhi kadar kurkumin yang didapat. Terlihat
bahwa pelarut non polar (n-heksana) kurang mampu untuk mengekstrak
kurkumin.
Hasil analisis secara statistik menunjukkan bahwa jenis pelarut
memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar kurkumin hingga tingkat
kepercayaan 99%. Sedangkan bentuk irisan kunyit memberikan pengaruh yang
nyata terhadap kadar kurkumin hingga tingkat kepercayaan 95%.

3.2.3 Uji Kelarutan


Kurkumin hasil ekstraksi diuj i kelarutannya dalam berbagai pelarut untuk
menyakinkan secara kualitatif bahwa kurkumin hasil ekstraksi memenuhi standar
yang berlaku. Hasil uji kelarutan kurkumin disajikan pada TabeI3.3.

Tabel3. 3 Hasi \UooJJI Ke Iarutan Kurkumin


Pelarnt Kurkumin HasH Penelitian Kurkumin Standar
Etanol95% larut larut
Asam Asetat larut larut
Petroleum Eter sedikit larut tidak larut
Air Panas tidak larut tidak larut

Dari hasil uji kelarutan dapat disimpulkan bahwa kurkumin hasil


penelitian secara kualitatif memiliki karakteristik yang sarna dengan kurkumin
standar. Perbedaan kelarutan dalam petroleum eter disebabkan karena kurkumin
hasil penelitian tidak mumi (max. 96,86%) sedangkan kurkumin standar memiliki
kemumian 100% sehingga dapat disimpulkan bahwa senyawa non kurkumin yang
yang ikut terekstrak merupakan senyawa yang larut ~alam petroleum eter dan
diduga senyawa tersebut adalah resin, dan minyak atsiri yang masih tertinggal.
BABIV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
I. Pelarut etanol 95% merupakan pelarut yang baik untuk mengekstrak
kurkumin dalam rimpang kunyit dengan metoda soxhlet
2. Jenis pelarut berpengaruh nyata terhadap rendemen dan kadar kurkumin
hasil ekstraksi dengan metoda soxhlet
3. Bentuk irisan rimpang kunyit tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen
dan kadar kurkumin hasil ekstraksi dengan metoda soxhlet

4.2 Saran
Saran yang dapat diberikan untuk penelitian mendatang adalah:
l. Metoda analisis kimia yang Iebih akurat sangat diperlikan untuk
menganalisis komposisi kurkumin yang dihasilkan, misalnya kronatografi
gas.
2. Variabellain yang dimungkinkan mempengaruhi hasil ekstraksi kurkumin
perlu diteliti lebih lanjut, misalnya rasio pelarut terhadap umpan,
temperatur ekstraksi, dan waktu ekstraksi.
3. Proses penganagan kurkumin hasil ekstraksi agar tidak rusak perlu
dipertimbangkan dan diteliti, misalnya temperatur penyimpanan, kemasan
penyimpanan, dan cara pengemasan.

15
.," "
_- .;t'·' . '" ," ,~~~

DAFTAR PUSTAKA
~~
I. AOAC, "Official Methods ofAnalysis of the Association of Official
Analytical Chemist", AOAC Inc., Virginia, USA, (1984)
2. Darwis, A.B.D., Madjo Indo, dan S. Hasityah, "Tumbuhan Obat Famili
Zingiberaceae ", Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri,
Bogor, (1991)
3. Departemen Kesehatan, "Kodeks Makanan Indonesia tentang Bahan
Tambahan Makanan", Departemen Kesehatan RI, Jakarta, (1979)
4. Departemen Pertanian, "Tanaman Empon-empon ", Balai Informasi
Pertanian, Surabaya, (1990)
5. Enie A. Basrah, "Zat Pewrna Makanan dan Peraturan Pemakaiaannya",
Media Teknologi Pangan, BBIHP, Bogor, vol.2, No.2, (1986), ha1.44-49
6. "Food Chemical Codex", National Academy os Science, New York,
(1979)
7. Krishnamurthy, N., A.G.Mathew,E.S. Nambudiri, S., Shivashankar, Y.S.
Lewis, dan C.p. Natarajan, "Oil and Oleoresin ojTurmeric "Central
Plantation Corps Research Inst., Mysore, (1976)
8. Liang, O.B., Y.Absarton, T.Widjaja, dan S. Puspa, "Beberapa Aspek
Isolasi, Identifikasi, dan Penggunaan Komponen-komponen Curcuma
xanthorrhiza dan Curcuma domestica Val., Proseding Simposium
Nasional Temulawak, Lembaga PEnelitian UNPAD, Bandung, (1985)
9. Matoni, Georg. P, "Aspect of the Processing of Curcuma domestica
Valenton into Pharmaceutical Raw Material
10. Moesdarsono dan Suhirman, "Sumber-sumber Kurkumin Asal Tumbuhan
di Jabar".
I I. Narayanan, C.S., K.Najaraman, B. Sankharikuthy, dan A.A. Mathew,
"The Colouring Principle of Turmeric ", Proceeding of the National
Seminar on Ginger and Turmeric Cilicuta, Central Plantation Corps
Research Inst., Kerala, (1980)

16
17

12. Natarajan, C.P. dan Y.S. Lewis, "Technology ojGinger and Turmeric",
Proceeding of the National Seminar on Ginger and Turmeric Cilicut:a,
Central Plantation Corps Research Inst., Kerala, (1980)
13. Puseglove, J.W., Brown, E.G., Green, C.L., Robbins, S.RJ., Spices 2nd ed,
Longman Inc., New York, (1981)
14. Rismunandar, "Rempah-rempah Komoditi Ekspor Indonesia" Sinar Baru,
Bandung, (1988)
15. Sabel and Warren, "Theory and Practice of Oleoresin Extraction",
Proceeding of Conference of Spice, Tropical Product Instrument, London,
(1973)
16. Sthal, W.H., "Oleoresin Quality Analysis Fact or Fancy", Proceeding of
Conference of Spice, Tropical Product Instrument, London, (1973)
17. Sthecher, "The Merck Index and Encyclopedia of Chemical and Drug ",
Merc and Co., New York, (1968)
18. Sumangat, Djajeng, Anggraeni, dan M.P. Laksmanahardja, "Kunyit
Perkemban Penelitian Pasca Panen Tanaman Remah dan Oba", Balai
Penelitian Tanaman Industri, Bogor, vol. X, No.2, (1994), hal. 34-42
19. Widyastuti, "Pengaruh Perbandingan Serbuk Kunyit dengan Pelarut dan
Lama Ekstraksi Terhadap Produk Kurkumin ",IPB, Bogor, (1989)

Anda mungkin juga menyukai