Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFARMASI

KECEPATAN DISOLUSI INTRINSIK


1. Tujuan
Mempelajari pengaruh keadaan bahan (baku) obat yaitu Theophyline
Anhidrat terhadap kecepatan disolusi intrinsiknya sebagai preformulasi untuk
bentuk sediaannya.
2. Prinsip
Berdasarkan kecepatan disolusi yang berbanding lurus dengan luas
permukaan bahan obat yaitu Theophyline Anhidrat dan kelarutannya.
3. Teori
Pelepasan zat aktif dari suatu produk obat sangat dipengaruhi oleh sifat
fisikokimia zat aktif dan bentuk sediaan. Ketersediaan zat aktif biasanaya
ditetapkan oleh kecepatan pelepasan zat aktif dari bentuk sediaannya. Pelepasan
zat aktif dari bentuk sediaan biasanya ditentukan oleh kecepatan melarutnya
dalam media sekelilingnya (Amir, 2007). Kadar obat dalam darah pada sediaan
peroral dipengaruhi oleh proses absorpsi dan kadar obat dalam darah ini
menentukan efek sistemiknya. Obat dalam bentuk sediaan padat mengalami
berbagai tahap pelepasan dari bentuk sediaan sebelum diabsorpsi. Tahapan
tersebut meliputi disintegrasi, deagregasi dan disolusi.
Kecepatan obat mencapai sistem sirkulasi dalam proses disintegrasi, disolusi
dan absorpsi, ditentukan oleh tahap yang paling lambat dari rangkaian di atas yang
disebut dengan rate limiting step. Kecepatan pelepasan obat sediaan lepas lambat,
yaitu kecepatan disolusi dianggap selalu lebih lambat daripada kecepatan
absorpsi, atau dengan kata lain kecepatan disolusi merupakan rate limiting step.
Pengaturan absorpsi sistemik obat bentuk sediaan lepas lambat dapat
dilakukan dengan mengatur kecepatan disolusi. Supaya partikel padat terdisolusi
maka molekul solut pertama-tama harus memisahkan diri dari permukaan padat,
kemudian bergerak menjauhi permukaan memasuki pelarut. Tergantung pada
kedua proses ini dan bagaimana cara proses transpor berlangsung maka perilaku
disolusi dapat digambarkan secara fisika. Dari segi kecepatan disolusi yang
terlibat dalam zat murni, ada tiga dasar model fisika yang umum:
a. Model lapisan difusi (diffusion layer model).
1

Model ini pertama kali diusulkan oleh Nerst dan Brunner. Pada permukaan
padat terdapat satu lapis tipis cairan dengan ketebalan, merupakan komponen
kecepatan negatif dengan arah yang berlawanan dengan permukaan padat. Reaksi
pada permukaan padat-cair berlangsung cepat. Begitu model solut melewati antar
muka liquid film-bulk film, pencampuran secara cepat akan terjadi dan gradien
konsentrasi akan hilang. Karena itu kecepatan disolusi ditentukan oleh difusi
gerakan Brown dari molekul dalam liquid film.
b. Model barrier antar muka (interfacial barrier model).
Model ini menggambarkan reaksi yang terjadi pada permukaan padat dan
dalam hal ini terjadi difusi sepanjang lapisan tipis cairan. Sebagai hasilnya, tidak
dianggap adanya kesetimbangan padatan-larutan, dan hal ini harus dijadikan
pegangan dalam membahas model ini. Proses pada antar muka padat-cair
sekarang menjadi pembatas kecepatan ditinjau dari proses transpor. Transpor yang
relatif cepat terjadi secara difusi melewati lapisan tipis statis (stagnant).
c. Model Dankwert (Dankwert model).
Model ini beranggapan bahwa transpor solut menjauhi permukaan padat
terjadi melalui cara paket makroskopik pelarut mencapai antar muka padat-cair
karena terjadi pusaran difusi secara acak (Martin et al, 1990).
Disolusi didefinisikan sebagai suatu proses melarutnya zat kimia atau
senyawa obat dari sediaan padat ke dalam suatu medium tertentu. Laju disolusi
suatu obat adalah kecepatan perubahan dari bentuk padat menjadi terlarut dalam
medianya setiap waktu tertentu. Jadi disolusi menggambarkan kecepatan obat
larut dalam media disolusi. Kecepatan disolusi merupakan kecepatan zat aktif
larut dari suatu bentuk sediaan utuh/pecahan/partikel yang berasal dari bentuk
sediaan itu sendiri. Kecepatan disolusi zat aktif dari keadaan polar atau dari
sediaannya didefinisikan sebagai jumlah zat aktif yang terdisolusi per unit waktu
di bawah kondisi antar permukaan padat-cair, suhu dan kompisisi media yang
dibakukan. Kecepatan pelarutan memberikan informasi tentang profil proses
pelarutan persatuan waktu. Hukum yang mendasarinya telah ditemukan oleh
Noyes dan Whitney sejak tahun 1897 dan diformulasikan secara matematik
sebagai berikut :
dc
=K . S .(CsC )
dt

(1)

dc / dt = kecepatan pelarutan ( perubahan konsentrasi per satuan waktu )


2

Cs

= kelarutan (konsentrasi jenuh bahan dalam bahan pelarut )

Ct

= konsentrasi bahan dalam larutan untuk waktu t

= konstanta yang membandingkan koefisien difusi, voume larutan


jenuh dan tebal lapisan difusi

Persamaan (1) memperlihatkan bahwa kecepatan disolusi berbanding lurua


dengan luas permukaan bahan padat dan kelarutannya. Persamaan ini sebenarnya
merupakan turunan dari persamaan Fick pertama, yang secara matematis
dinyatakan dengan:
J =D

(2)

Dengan J = fluks bahan obat, yaitu jumlah obat yang per satuan waktu
melalui suatu satuan luas dengan arah tegak lurus (mg cm-2 det -1)
D = Koefisiensi distribusi
c
x

= Gradient kadar

Pada jarak (x) = h cm dan permukaan bahan obat yang terdisolusi, akan
berlaku persamaan :
c
t

CCs
h

(3)

Jika persamaan (3) dimasukkan ke dalam persamaan (2) diperoleh persamaan:


J= -

D(CCs)
h

(4)

Selanjutnya persamaan (4) dapat diubah menjadi:


dm
D(CCs)
=
dts
h
dm
dt
dC
dt

(5)

CCs

=
D

V . dC
dt

D(CCs)
V .h.K

(6)

(7)

Pada persamaan (7), jika D/V.h diganti dengan K (karena masing-masing


merupakan tetapan), maka hasilnya akan identik dengan persaman (1).
Dari persamaan di atas dinyatakan bahwa tetapnya luas permukaan dan
konstannya suhu, menyebabkan kecepatan pelarutan tergantung dari gradien
konsentasi antara konsentrasi jenuh dengan konsentrasi pada waktu (Shargel,
1988).
Pada peristiwa melarut sebuah zat padat disekelilingnya terbentuk lapisan
tipis larutan jenuhnya, darinya berlangsung suatu difusi suatu ke dalam bagian
sisa dari larutan di sekelilingnya. Untuk peristiwa melarut di bawah pengamatan
kelambatan difusi ini dapat menjadi persamaan dengan menggunakan hukum
difusi. Dengan mensubtitusikan hukum difusi pertama Ficks ke dalam persamaan
Hernsi Brunner dan Bogoski, dapat memberikan kemungkinan perbaikan
kecepatan pelarutan secara konsentrat.
Kecepatan pelarutan berbanding lurus dengan luas permukaan bahan padat,
koefisien difusi, serta berbanding lurus dengan turunnya konsentrasi pada waktu t.
Kecepatan pelarutan ini juga berbanding terbalik dengan tebal lapisan difusi.
Pelepasan zat aktif dari suatu produk obat sangat dipengaruhi oleh sifat
fisikokimia zat aktif dan bentuk sediaan. Ketersediaan zat aktif ditetapkan oleh
kecepatan pelepasan zat aktif dari bentuk sediaan, dimana pelepasan zat aktif
ditentukan oleh kecepatan melarutnya dalam media sekelilingnya (Tjay, 2002).
Lapisan difusi adalah lapisan molekul-molekul air yang tidak bergerak oleh
adanya kekuatan adhesi dengan lapisan padatan. Lapisan ini juga dikenal sebagai
lapisan yang tidak teraduk atau lapisan stagnasi. Tebal lapisan ini bervariasi dan
sulit untuk ditentukan, namun umumnya 0,005 cm (50 mikron) atau kurang (Tjay,
2002).
Hal-hal dalam persamaan Noyes Whitney yang mempengaruhi kecepatan
melarut:
1.
2.
3.
4.
5.

Kenaikan dalam harga A menyebabkan naiknya kecepatan melarut


Kenaikan dalam harga D menyebabkan naiknya kecepatan melarut
Kenaikan dalam harga Cs menyebabkan naiknya kecepatan melarut
Kenaikan dalam harga Ct menyebabkan naiknya kecepatan melarut
Kenaikan dalam harga d menyebabkan naiknya kecepatan melarut
Hal-hal lainnya yang juga dapat mempengaruhi kecepatan melarut adalah :

1. Naiknya temperatur menyebabkan naiknya Cs dan D.


4

2. Ionisasi obat (menjadi spesies yang lebih polar) karena perubahan pH akan
menaikkan nilai Cs (Ansel, 1989)
Laju disolusi obat secara in vitro dipengaruhi beberapa faktor, antara lain:
a. Sifat fisika kimia obat.
Sifat fisika kimia obat berpengaruh besar terhadap kinetika disolusi. Luas
permukaan efektif dapat diperbesar dengan memperkecil ukuran partikel. Laju
disolusi akan diperbesar karena kelarutan terjadi pada permukaan solut. Kelarutan
obat dalam air juga mempengaruhi laju disolusi. Obat berbentuk garam, pada
umumnya lebih mudah larut dari pada obat berbentuk asam maupun basa bebas.
Obat dapat membentuk suatu polimorfi yaitu terdapatnya beberapa kinetika
pelarutan yang berbeda meskipun memiliki struktur kimia yang identik. Obat
bentuk kristal secara umum lebih keras, kaku dan secara termodinamik lebih stabil
dari pada bentuk amorf, kondisi ini menyebabkan obat bentuk amorf lebih mudah
terdisolusi daripada bentuk kristal.
b. Faktor alat dan kondisi lingkungan.
Adanya perbedaan alat yang digunakan dalam uji disolusi akan menyebabkan
perbedaan kecepatan pelarutan obat. Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi
kecepatan pelarutan obat, semakin cepat pengadukan maka gerakan medium akan
semakin cepat sehingga dapat menaikkan kecepatan pelarutan. Selain itu
temperatur, viskositas dan komposisi dari medium, serta pengambilan sampel juga
dapat mempengaruhi kecepatan pelarutan obat.
c. Faktor formulasi.
Berbagai macam bahan tambahan yang digunakan pada sediaan obat dapat
mempengaruhi kinetika pelarutan obat dengan mempengaruhi tegangan muka
antara medium tempat obat melarut dengan bahan obat, ataupun bereaksi secara
langsung dengan bahan obat. Penggunaan bahan tambahan yang bersifat hidrofob
seperti magnesium stearat, dapat menaikkan tegangan antar muka obat dengan
medium disolusi. Beberapa bahan tambahan lain dapat membentuk kompleks
dengan bahan obat, misalnya kalsium karbonat dan kalsium sulfat yang
membentuk kompleks tidak larut dengan tetrasiklin. Hal ini menyebabkan jumlah
obat terdisolusi menjadi lebih sedikit dan berpengaruh pula terhadap jumlah obat
yang diabsorpsi (Martin et al,1990).

Menurut sumber lain, yang mempengaruhi kecepatan disolusi terbagi menjadi


tiga.
Yaitu:
a. Faktor intrinsik obat
Luas permukaan spesifik partikel, distribusi ukuran partikel, bentuk partikel,
polimorfi, bentuk asam, basa, garam.
b. Faktor lingkungan medium
Temperatur, viskositas cairan, konsentrasi partikel yang terdisolusi, kecepatan
mengalirnya cairan, komposisi medium disolusi : pH, kekuatan ionisasi, tegangan
permukaan.
c. Faktor Teknologi
Perbedaan metode yang digunakan dalam produksi turut mempengaruhi
disolusi obat. Demikian pula pengunaan bahan-bahan tambahan dalam produksi.
Contoh bahan tambahan sering digunakan pensuspensi yang akan menurunkan
laju disolusi karena kenaikan adalah kekentalan. Contoh lain adalah bahan pelicin
yang bersifat hidrofob karena mampu menolak air sehingga menurunkan laju
disolusi obat (Isfilawati Z,2009).
Uji hancur pada suatu tablet didasarkan pada kenyataan bahwa, tablet itu
pecah menjadi partikel-partikel kecil, sehingga daerah permukaan media pelarut
menjadi lebih luas, dan akan berhubungan dengan tersedianya obat dalam cairan
tubuh. Namun, sebenarnya uji hancur hanya menyatakan waktu yang diperlukan
tablet untuk hancur di bawah kondisi yang ditetapkan. Uji ini tidak memberikan
jaminan bahwa partikel-partikel itu akan melepas bahan obat dalam larutan
dengan kecepatan yang seharusnya. Oleh sebab itu, uji disolusi dan ketentuan uji
dikembangkan bagi hampir seluruh produk tablet. Laju absorpsi dari obat-obat
bersifat asam yang diabsorpsi dengan mudah dalam saluran pencernaan sering
ditetapkan dengan laju larut obat dalam tablet (Voigt, 1995).
Agar diperoleh kadar obat yang tinggi di dalam darah, maka kecepatan obat
dan tablet melarut menjadi sangat menentukan. Karena itu, laju larut dapat
berhubungan langsung dengan efikasi (kemanjuran) dan perbedaan bioavaibilitas
dari berbagai formula. Karena itu, dilakukannya evaluasi mengenai apakah suatu
tablet melepas kandungan zat aktifnya atau tidak bila berada di saluran cerna,
menjadi minat utama dari para ahli farmasi (Voigt, 1995).
Diperkirakan bahwa pelepasan paling langsung obat dari formula tablet
diperoleh dengan mengukur bioavaibilitas in vivo. Ada berbagai alasan mengapa
6

penggunaan in vivo menjadi sangat terbatas, yaitu lamanya waktu yang diperlukan
untuk merencanakan, melakukan, dan mengitepretasi; tingginya keterampilan
yang diperlukan bagi pengkajian pada manusia; ketepatan yang rendah serta
besarnya penyimpangan pengukuran; pemakaian manusia sebagai obyek bagi
penelitian yang nonesensial; besarnya biaya yang diperlukan; dan keharusan
menganggap adanya hubungan yang sempurna antara manusia yang sehat dan
tidak sehat yang digunakan dalam uji. Dengan demikian, uji disolusi secara in
vitro dipakai dan dikembangkan secara luas, dan secara tidak langsung dipakai
untuk mengukur bioavabilitas obat, terutama pada penentuan pendahuluan dari
faktor-faktor formulasi dan berbagai metoda pembuatan yang tampaknya akan
mempengaruhi bioavaibilitas. Seperti pada setiap uji in vitro, sangat penting untuk
menghubungkan uji disolusi dengan tes bioavaibilitas in vitro. Ada dua sasaran
dalam mengembangkan uji disolusi in vitro yaitu untuk menunjukkan :
1. Penglepasan obat dari tablet kalau dapat mendekati 100%
2. Laju penglepasan obat seragam pada setiap batch dan harus sama dengan laju
penglepasan dari batch yang telah dibuktikan bioavaibilitas dan efektif secara
klinis (Shargel, 1988).
Tes kecepatan melarut telah didesain untuk mengukur berapa kecepatan zat
aktif dari satu tablet atau kapsul melarut ke dalam larutan. Hal ini perlu diketahui
sebagai indikator kualitas dan dapat memberikan informasi sangat berharga
tentang konsistensi dari batch satu ke batch lainnya. Tes disolusi ini didesain
untuk membandingkan kecepatan melarutnya suatu obat, yang ada di dalam suatu
sediaan pada kondisi dan ketentuan yang sama dan dapat diulangi (Shargel, 1988).
Kecepatan disolusi sediaan sangat berpengaruh terhadap respon klinis dari
kelayakan sistem penghantaran obat. Disolusi menjadi sifat sangat penting pada
zat aktif yang dikandung oleh sediaan obat tertentu, dimana berpengaruh terhadap
kecepatan dan besarnya ketersediaan zat aktif dalam tubuh. Jika disolusi makin
cepat, maka absorbsi makin cepat. Zat aktif dari sediaan padat (tablet, kapsul,
serbuk, seppositoria), sediaan system terdispersi (suspensi dan emulsi), atau
sediaan-sediaan semisolid (salep, krim, pasta) mengalami disolusi dalam
media/cairan biologis kemudian diikuti absorbsi zat aktif ke dalam sirkulasi
sistemik (Voigt, 1995).

Kecepatan disolusi dalam berbagai keadaan dapat menjadi tahap pembatasan


kecepatan zat aktif ke dalam cairan tubuh. Apabila zat padat ada dalam saluran
cerna, mama terdapat dua kemungkinan tahap pembatasan kecepatan zat aktif
tersebut, yaitu :
1.
2.

Zat aktif mula-mula harus larut


Zat aktif harus dapat melewati membrane saluran cerna (Voigt, 1995).
Analisis kecepatan disolusi zat aktif dari sediaannya merupakan analisis yang

penting dalam pengujian mutu untuk sediaan-sediaan obat. Analisis disolusi telah
masuk persyaratan wajib USP untuk persyaratan tablet dan kapsul, sejak tahun
1960. Berbagai studi telah berhasil dalam korelasi disolusi invivo dengan disolusi
invitro. Namun, disolusi bukan merupakan suatu peramal koefisien terapi, tetapi
disolusi lebih merupakan parameter mutu yang dapat memberikan informasi
berharga tentang ketersediaan hayati dari suatu produk (Voigt, 1995).
Pengembangan dan penggunaan uji disolusi invitro untuk mengevaluasi dan
menggambarkan disolusi dan absorbsi invitro bertujuan :
a.

Untuk mengetahui kepentingan bahwa sifat-sifat fisikokimia yang ada dalam


model disolusi dapat berarti atau berpengaruh dalam proses invivo apabila

b.

dikembangkan suatu model yang berhasil meniru situasi invivo


Untuk menyaring zat aktif penting dikaitkan dengan formulasinya dengan

sifat disolusi dan absorbsinya sesuai.


c. Sistem uji disolusi invitro dapat digunakan sebagai prosedur pengendalian
mutu untuk produk akhir.
d. Menjamin kesetaraan hayati (bioekivalen) dari batch yang berbeda dari
bentuk sediaan solid apabila korelasi antara sifat disolusi dan ketersdiaan
e.

hayati telah ditetapkan.


Metode yang baik sekali dan handal untuk memantau proses formulasi dan

f.

manufaktur.
Penetapan kecepatan disolusi intrinsik berguna untuk mengetahui sifat

disolusi zat aktif yang baru.


g. Agar sistem disolusi invitro bernilai maka system harus meniru secara dekat
sistem invivo sampai tingkat invitro-invivo yang konsisten tercapai. Oleh
karena itu keuntungan dalam biaya, tenaga kerja, kemudahan dapat diberikan
dengan penggunaan sistem (Ansel, 1989).
Disolusi dapat terjadi langsung pada permukaan tablet, dari granul-granul bila
mana tablet telah pecah atau dari partikel-partikel halus bilamana granul-granul
8

telah pecah. Pada tablet yang tidak berdesintegrasi, kecepatan disolusinya


ditentukan oleh proses disolusi dan difusi. Namun demikian, bagi tablet yang
berdesintegrasi, profil disolusinya dapat menjadi sangat berbeda tergantung dari
apakah desintegrasi atau disolusinya yang menjadi penentu kecepatan (Ansel,
1989).

4. Bahan dan Alat Percobaan


Timbangan analitik, alat-alat gelas, tabung disolusi, thermostat dengan
penangas air, penyangga (holder), sempel (theofilin hidrat), motor pemutar,
stopwatch, spektrofotometer UV, media (HCL 0,2), penangas air.
5. Prosedur
Pembuatan Larutan Baku Teofilin, dibuat larutan baku teofilin, ditimbang 50
mg serbuk teofilin dilarutkan dengan NaOH 1 N dalam labu ukur 100ml (500
ppm). Setelah ditambahkan larutan NaOH, teofilin tersebut tidak larut semua,

maka dibantu dengan alat ultrasonic. Dilakukan pengecekan absorbansi, setelah


didapat absorbansi dengan rentang ideal (0,2 0,8) selanjutnya dibuat 6 variasi
konsentrasi ( 14ppm, 12ppm, 10ppm, 8ppm, 6ppm, 4ppm ) dan di cek kembali
absorbansi larutan. Dibuat kurva baku.
Sempel ditimbang sebanyak 200 mg,sebelumnya media (HCL 0,2N)
dipanaskan menggunakan penangas air, sempel dimasukkan ke dalam tabung
disolusi lalu media yang tadi dipanaskan dimasukan kedalam tabung disolusi
sebanyak 500ml. Alat disolusi di set dengan kecepatan putaran 50 rpm dan
waktu 60 menit, alat disolusi di aktifkan, lalu sempel hasil diambil tiap selang
waktu tertentu (menit ke-5, 10, 20,30,45 dan 60). Setelah didapat larutan hasil
disousi ditentukan kadarnya dengan menggunakan alat spektrofotometri Uv-Vis.

6. Data Percobaan, Perhitungan, dan Grafik


6.1. Kurva Baku Teofilin
Tabel 6.1.1 Kurva Baku Teofilin

Konsentrasi (PPM)
2
4
6
8
10
12
14

10

Absorbansi
0,247
0,369
0,45
0,56
0,639
0,74
0,859

Absorbansi
1
0.8
0.6

f(x) = 0.05x + 0.16


R = 1
Absorbansi
Linear (Absorbansi)

Absorbansi 0.4
0.2
0
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Konsentrasi (ppm)

Gambar 6.1.1 Grafik Kurva Baku Teofilin

6.2 Sampel Kelompok 1


Tabel 6.2.1 Data Anhidrat Kelompok 1

Waktu (menit)
5
10
20
30
45
60

Absorbansi
0,112
0,070
0,062
0,056
0,052
0,045

ppm
0,905
1,755
1,917
2,038
2,119
2,261

Tabel 6.2.2 Data % Terdisolusi

Mg
terdisolusi
0,452
0,878
0,959
1,019
1,060
1,131

Faktor
koreksi
0,000
0,005
0,009
0,010
0,010
0,011

Mg terdisolusi setelah
koreksi
0,452
0,882
0,967
1,029
1,070
1,141

11

%
terdisolusi
0,452
0,882
0,967
1,029
1,070
1,141

6.3 Sampel Kelompok 3


Tabel 6.3.1 Data Anhidrat Kelompok 3

Waktu (menit)
5
10
20
30
45
60

Absorbansi
0,105
0,062
0,048
0,049
0,047
0,050

ppm
1,047
1,917
2,200
2,180
2,221
2,160

Tabel 6.3.2 Data % Terdisolusi

Mg
terdisolusi
0,523
0,959
1,100
1,090
1,110
1,080

Faktor
koreksi
0,000
0,005
0,010
0,011
0,011
0,011

Mg terdisolusi setelah
koreksi
0,523
0,964
1,110
1,101
1,121
1,091

%
terdisolusi
0,523
0,964
1,110
1,101
1,121
1,091

6.4 Sampel Kelompok 4


Tabel 6.4.1 Data Monohidrat Kelompok 4

Waktu (menit)
5
10
20
30
45
60

Absorbansi
0,114
0,075
0,062
0,054
0,049
0,061

ppm
0,864
1,654
1,917
2,079
2,180
1,937

Tabel 6.4.2 Data % Terdisolusi

Mg
terdisolusi
0,432
0,827

Faktor
koreksi
0,000
0,004

Mg terdisolusi setelah
koreksi
0,432
0,831

12

% disolusi
0,432
0,831

0,959
1,039
1,090
0,969

0,008
0,010
0,010
0,011

0,967
1,049
1,100
0,980

0,967
1,049
1,100
0,980

6.5 Sampel Kelompok 5


Tabel 6.5.1 Data Monohidrat Kelompok 5

Waktu (menit)
5
10
20
30
45
60

Absorbansi
0,105
0,052
0,050
0,047
0,045
0,063

ppm
1,047
2,119
2,160
2,221
2,261
1,897

Tabel 6.5.2 Data % Terdisolusi

Mg
terdisolusi
0,523
1,060
1,080
1,110
1,131
0,948

Faktor
koreksi
0,000
0,005
0,011
0,011
0,011
0,011

Mg terdisolusi setelah
koreksi
0,523
1,065
1,091
1,121
1,142
0,960

% disolusi
0,523
1,065
1,091
1,121
1,142
0,960

6.6 Data perbandingan % terdisolusi


Tabel 6.6.1 Perbandingan % terdisolusi Teofilin Anhidrat dan Monohidrat

Waktu (menit)
5
10
20
30
45
60

Teofilin Monohidrat (%)


0.488

Teofilin Anhidrat
(%)
0.478

0.923

0.948

1.039

1.029

1.065

1.085

1.096

1.121

1.116

0.970

13

Grafik Perbandingan Teofilin Monohidrat dan Anhidrat


1.200
1.000
Monohidrat (%)
Anhidrat (%)

0.800
% terdisolusi 0.600
0.400
0.200
0.000
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu(menit)

Gambar 6.6.1 Grafik Perbandingan Teofilin Anhidrat dan Teofilin Monohidrat

7. Pembahasan

14

Praktikum kali ini, dilakukan pengujian disolusi intrinsik terhadap bahan


baku obat yaitu Theophylline anhidrat dan Theophylline hidrat dengan tujuan
mengetahui pengaruh keadaan bahan obat terhadap kecepatan disolusi
intrinsiknya sebagai preformulasi untuk bentuk sediaannya. Laju disolusi intrinsik
dapat didefinisikan sebagai laju disolusi dari suatu zat aktif murni yang diperoleh
dengan menjaga secara konstan kondisi-kondisi yang bisa mempengaruhi laju
disolusi zat tersebut, yaitu dengan luas permukaan, suhu, laju pengadukan, pH,
dan kekuatan ionik dari medium disolusi yang digunakan.
Yang pertama dilakukan yaitu pembuatan dari kurva baku yang digunakan
untuk perhitungan konsentrasi cuplikan. Theophylline standar yang digunakan
dalam pembuatan kurva baku, theophlline standar dilarutkan dengan NaOH dalam
100 ml, hal ini dilakukan karena theophyline yang sukar larut dalam air dan
mudah larut dalam alkali hidroksida. Dalam pembuatan kurva baku dibutuhkan
minimal 6 variasi konsentrasi agar pembuatan kurva yang lebih akurat, dan
absorbansi yang dihasilkan harus berada dalam rentang 0,2 sampai 0,8 sesuai
dengan hukum Lambert-Beer karena dalam rentang tersebut merupakan batas
ketelitian alat yang optimum, dan pada absorbansi tersebut dapat diperoleh
konstrasi yang lebih akurat dibandingkan dengan pembuatan di bawah 6 variasi
konsentrasi. Kemudian diperoleh absorbansi dari 6 variasi konsentrasi 2 ppm, 4
ppm, 6 ppm, 8 ppm, 10 ppm, 12 ppm, dan 14 ppm dan menghasilkan persamaan y
= 0,0494x + 0,1567 dengan R2 0,9974.
Kemudian dilakukan uji disolusi terhadap theopylline hidrat sebanyak 100
mg dengan media disolusi yang digunakan adalah HCl sebanyak 500 ml dengan
suhu yang digunakan yaitu 370C. Hal ini bertujuan agar suhu percobaan sama
dengan suhu tubuh normal sehingga sesuai dengan obat yang bekerja dalam
keadaan tubuh yang sesungguhnya. Serbuk theopylline dimasukkan terlebih
dahulu ke dalam tabung yang kemudian dimasukkan media disolusi HCl, hal yang
dilakukan tersebut bertujuan agar serbuk kontak langsung dengan media. Metode
yang digunakan dalam pengujian ini adalah metode dayung berputar. Alat disolusi
diatur dengan perputaran sebesar 50 rpm, perputaran alat ini diumpamakan
sebagai gerakan peristaltik usus yang terdapat di dalam tubuh. Pada saat yang
bersamaan waktu dihitung, setelah 5 menit larutan yang terdapat dalam tabung

15

disolusi diambil sebanyak 5 ml dengan alat suntik yang dipasangkan alat


penyaring atau membran filter, penggunaan membran filter ini bertujuan untuk
menyaring partikel-partikel yang mungkin terdapat dalam larutan dan
meminimalkan faktor kesalahan yang terjadi dalam pengukuran. Kemudian
larutan HCl tanpa zat aktif ditambah sebanyak 5 ml ke dalam tabung disolusi,
begitu juga dengan menit-menit berikutnya yang dilakukan dengan penambahan
HCl setelah pengambilan cuplikan. Hal ini diibaratkan dalam tubuh manusia,
ketika ada cairan yang keluar maka akan segera tergantikan. Cuplikan diambil
pada menit ke-5, ke-10, ke-20, ke-30, ke-45, dan ke-60. Dalam pengambilan
cuplikan harus diperhatikan pada saat pengambilan ditempat yang sama. Jika
diambil ditempat yang berbeda dari sebelumnya kemungkinan akan menghasilkan
konsentrasi yang berbeda pula sehingga pada pengukuran hasil yang diperoleh
tidak akurat.
Cuplikan yang telah diambil kemudian satu persatu diukur besar
absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan panjang
gelombang 272 nm. Setelah pengukuran menggunakan spektrofotometri UV-Vis
selesai, didapatkan nilai absorbansi dan dihitung %disolusi dari masing-masing
bahan baku Theophylline anhidrat maupun Theophylline hidrat tersebut.
Theophylline hidrat dan theophylline anhidrat terdapat perbedaan dalam
strukturnya. Theophylline hidrat mengandung struktur air didalamnya dan
theophylline anhidrat tidak mempunyai struktur air di dalamnya. Bentuk hidrat
biasanya dapat meningkatkan kecepatan disolusi karena adanya struktur air maka
dapat memperluas permukaannya pada saat kontak dengan medium disolusi.
Dari hasil pengamatan yang didapat % disolusi theophyllin anhidrat lebih
baik dalam proses disolusinya dibandingkan dengan theopyllin hidrat. Seharusnya
% disolusi theopylline hidrat lebih baik dibandingkan theopylline anhidrat, karena
pada theophyllin hidrat mengandung gugus air sehingga ketika dimasukkan dalam
media disolusinya air tidak lagi menyerap air untuk pecah. Sedangkan pada
theophyllin anhidrat yang tidak memiliki gugus air sehingga pada saat dimasukan
dalam media terlebih dahulu harus menyerap air lalu setelah itu pecah dan mulai
terdisolusi.

16

Adanya ketidaksesuaian data ini kemungkinan disebabkan saat pengambilan


cuplikan menit ke-60, hal ini dilihat %disolusi yang turun yang disebabkan
pengambilan cuplikannya tidak sesuai dengan menit yang telah ditentukan.
8. Kesimpulan
Dari praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa disolusi intrinsik senyawa
theofilin anhidrat lebih baik dibandingkan dengan senyawa theofilin hidrat, dilihat
dari grafik perbandingan theofilin hidrat dan theofilin anhidrat.

17

9. Daftar Pustaka
Amir, Syarif.dr, dkk.2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi kelima. Gaya Baru.
Jakarta.
Ansel, C Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi keempat.
Penerjemah Farida Ibrahim. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Martin, Alfred et al. 1990. Farmasi Fisik Edisi Ketiga Jilid I. Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia
Martin, Alfred et al. 1990. Farmasi Fisik Edisi Ketiga Jilid II. Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia
Shargel, Leon, dan Andrew B.C.Y.U. 1988. Biofarmasi dan Farmakokinetika
Terapan.

Edisi II. Penerjemah Dr. Fasich, Apt. dan Dra. Siti

Sjamsiah, Apt. Airlangga University Press. Surabaya.


Tjay, Hoan Tan dan Kirana Rahardja. 2002. Obat-obat Penting Khasiat,
Penggunaan, dan Efek-efek Sampingnya. Edisi kelima. Cetakan kedua. PT.
Elex
Media Komputindo Kelompok Gramedia. Jakarta: Voigt, 1995. Buku Pelajaran
Teknologi Farmasi. Universitas Gadjah Mada Press. Yogyakarta.

18