Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No.

2, Juli-Desember 2018

TAFSIR MUQARAN IBNU KATSIR DAN AL-MARAGHI


Q.S. AL-ISRA’: 1

Nasokah, M.Ag

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UNSIQ Jawa Tengah


Jl. KH. Hasyim Asy'ari Km. 03, Wonosobo, Jawa Tengah

Abstract
Tafsir Muqaran adalah penafsiran al-Qur’an yang membandingkan penafsiran dari
beberapa mufasir. Lafadz muqarran berasal dari kata arab yakni: (‫ )املقارنــة‬yang berarti
perbandingan.• Metode tafsir al-muqarran yang dimaksudkan penulis disini adalah
sebagaimana yang diketahui oleh al-Farmawi yakni suatu metode tafsir al-Qur’an
dengan mengemukakan ayat-ayat al-Qur’an yang ditulis oleh sejumlah para mufasir,
dimana seorang mufasir menghimpun sejumlah ayat-ayat al-Qur’an, kemudian menulis
kaji dan teliti penafsiran sejumlah mufasir mengenai ayat tersebut melalui kitab-kitab
tafsir mereka. Apakah mereka penafsir dari generasi salaf atau khalaf, apakah mereka
itu tafsir bi al-matsur, atau tafsir bi ra’yi.•• Dalam hal ini penulis akan membandingkan
antara tafsir Ibnu Katsir dengan al-Maraghi tentang Q.S. al-Isra’: 1. Dari metode tafsir
al-muqarran disini penulis berharap bisa meneliti dan berusaha membuat bandingan arah
dan kecenderungan antara tafsir ibnu katsir dan maraghi dan berusaha menganalisa apa
yang menjadi background mereka, sehingga kecenderungan mereka dapat dilihat dengan
jelas apakah hanya cenderung dengan aspek i’rab dan balaghah, kisah dan peristiwa
yang irrasional tanpa dalil aqli dan naqli, atau kecenderungan pada salah satu madzhab
ataukah mereka terpengaruh dengan ide-ide ilmu alam atau teori-teori ilmiah lainnya.
Kata Kunci: Tafsir Muqaran, Ibnu Katsir, Imam al-Maraghi, al-Isra’: 1
Nasokah, M.Ag

A. PENDAHULUAN definisi yang lebih umum dan yang mencakup


Kata tafsir berasal dari al-fasr yang segala aspek pengetahuan apa saja yang dapat
berarti menjelaskan atau mengungkapkan. dimanfaatkan dalam rangka memahami maksud-
Adapula yang mengatakan asalnya adalah dari maksud yang terkandung dalam kitab suci al-
kata tafsirah yaitu alat yang diugunakan oleh Qur’an, adalah sebagaimana yang dikatakan
dokter untuk memeriksa penyakit pasiennya.1 oleh Dr. az-Zahaby dengan merumuskan sebagai
Tafsir dari segi bahasa berarti “menjelaskan atau berikut:
menerangkan” seperti pemakaian: ‫علــم يحبــث عــن مراداللــه تعــاىل بقدرالطاقــة البرشيــة فهــو‬
‫َو َل يَأْت ُون ََك بِ َثَلٍ إِ َّل ِجئْ َن َاك بِالْ َح ِّق َوأَ ْح َس َن تَف ِْس ًريا‬ ‫شــامل لــكل مــا يتوقــف عليــه فهــم املعنــى وبيــان املــراد‬
Artinya: Tidaklah orang kafir itu datang Artinya: “Tafsir adalah pengetahuan yang
kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, membahas maksud-maksud Allah SWT yang
melainkan kami datangkan kepadamu sesuatu terkandung dalam al-Qurán sesuai dengan
yang benar atau yang paling baik penjelasannya. kemampuan manusia, maka dia mencukupkan
(Q.S. al-Furqan/ 25: 33). sekalian (pengetahuan) untuk memahami makna
Dari segi istilah dapat kita kemukakan2 : dan penjelas dari maksud (Allah SWT) itu.”
Dengan demikian tafsir itu tidak hanya
‫علــم يحبــث بــه كيفيــة النطــق بألفــاظ القــرآن ومدلوالتهــا‬
terbatas pada pengetahuan tentang bahasa al-
‫واحكامهــا االفراديــة والرتكيبيــة ومعانيهــا التــى تحمــل عليهــا حالــة‬ Qur’an, asbab an-nuzul, nasikh mansukh,
‫الرتكيــب وتتــات لذالــك‬ melainkan juga segala apa yang dihasilkan
oleh akal pikiran manusia, baik pengetahuan
Artinya: “Tafsir adalah pengetahuan yang
bidang sosial maupun ilmu pengetahuan yang
membahas bagaimana caranya mengucapkan
lafadz-lafadz al-Qurán membahas sesuatu dapat dimanfaatkan utnuk menggali pengertian-
yang ditunjuk oleh lafadz-lafadz itu, hukum- pengertian yang terdapat dalam kitab suci al-
hukumnya pada waktu dia menjadi kalimat Qur’an.
tunggal dan waktu berada dalam susunan Sedang lafadz muqarran berasal dari kata
kalimat dan makna-makna yang dikandungnya arab yakni: (‫ )المقارنــة‬yang berarti perbandingan.3
dan yang menyempurnakannya. Metode tafsir al-muqarran yang dimaksudkan
Menurut hemat penulis bahwa definisi penulis disini adalah sebagaimana yang diketahui
diatas cenderung mengartikan tafsir dari oleh al-Farmawi yakni suatu metode tafsir al-
sudut yang dikehendaki oleh bahasa saja Qur’an dengan mengemukakan ayat-ayat al-
yang mencakup masalah qiraat (pengucapan Qur’an yang ditulis oleh sejumlah para mufasir,
lafadz al-Qur’an), lughat (bahasa), nahwu dimana seorang mufasir menghimpun sejumlah
sorof (gramatika), sastra, badi’, bayan, majaz, ayat-ayat al-Qur’an, kemudian menulis kaji dan
dan ditambah dengan soal-soal sabab an- teliti penafsiran sejumlah mufasir mengenai
nuzul, nasikh mansukh dan lain-lain. Adapun ayat tersebut melalui kitab-kitab tafsir mereka.
Apakah mereka penafsir dari generasi salaf atau
1 Baca/lihat Daratul Ma’arifil Islamiyah, dibawah
artikel “tafsir” Al-Itqan II : 173. 3 A.W. Munawir, Kamus Al-Munawir Arab-
2 Baca Al-Tafsir wa Al-Mufassirun 1 : 14-15, Al— Indonesia, (Penerbit: pustaka progressif, Surabaya, 1997),
Burhan 1 : 13-14. hlm 1114

44 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 2, Juli-Desember 2018 ISSN : 2615-5680


Tafsir Muqaran Ibnu Katsir Dan Maraghi Q.S. Al Isra' : 1

khalaf, apakah mereka itu tafsir bi al-matsur, ia terlibat dalam penelitian untuk menetapkan
atau tafsir bi ra’yi.4 Dalam hal ini penulis akan hukum terhadap seorang zindik yang didakwa
membandingkan antara tafsir Ibnu Katsir dengan menganut faham hulul (inkarnasi). Penelitian itu
al-Maraghi tentang Q.S. al-Isra’: 1. Dari metode diprakarsai oleh gubernur Suriah Altunbuga al-
tafsir al-muqarran disini penulis berharap bisa Nasiri diakhiri pada tahun 741 H atau 1341 M.
meneliti dan berusaha membuat bandingan arah Dalam bidang tafsir, pada tahun 1366 ia
dan kecenderungan antara tafsir ibnu katsir diangkat menjadi guru besar oleh Gurbernur
dan maraghi dan berusaha menganalisa apa Mankali Bugha di masjid Ummayah Damascus.
yang menjadi background mereka, sehingga Dalam ilmu tafsir, ia mempunyai metode
kecenderungan mereka dapat dilihat dengan jelas tersendiri, menurutnya tarsir yang paling benar
apakah hanya cenderung dengan aspek i’rab dan adalah:
balaghah, kisah dan peristiwa yang irrasional
tanpa dalil aqli dan naqli, atau kecenderungan a. Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an sendiri
pada salah satu madzhab ataukah mereka b. Bila penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an
terpengaruh dengan ide-ide ilmu alam atau teori- tidak di dapatkan maka al-Qur’an harus
teori ilmiah lainnya. di tafsirkan dengan hadist nabi, menurut
B. SIRAH al-Qur’an sendiri Nabi saw memang
diperintahkan untuk menerangkan isi al-
1. Ibnu Katsir
Qur’an itu.
Imam Ibnu Katsir dilahirkan di Basyra, 700
H/ 1300 M, Damaskus, Sya’ban 774 Februari c. Kalau yang kedua tidak didapatkan, maka
1373. Nama lengkapnya adalah Imaduddin al-Qur’an harus di tafsirkan oleh pendapat-
Isma’il Ibn Umar Ibn Katsir. Ia seorang ulama pendapat para sahabat, karena merekalah
yang terkenal dalam bidang tafsir, hadis, sejarah orang yang paling mengetahui konteks
dan juga fikih. Ia mendengar hadis dari ulama- sosial turunnya al-Quran. Dan
ulama Hijaz dan mendapat ijazah dari al-Wani d. Jika yang ketiga juga tidak didapatkan,
serta mendapat asuhan dari ahli ilmu hadis pendapat tabi’in perlu diambil.
terkenal di Suriah, Jamaluddin al-Mizi (W. 742 H/
Karyanya dalam bidang tafsir ini adalah
1342 M), mertuanya sendiri. Ayahnya meninggal
tafsir Al-Qur’an Al karim dalam sepuluh jilid.
pada waktu ia masih berusia 6 tahun, oleh karena
Pengaruh kitab tafsir ini sangat besar dan sampai
itu sejak tahun 706 H/ 1306 M ia hidup bersama
sekarang masih banyak digunakan sebagai
kakeknya di Damaskus. Di sanalah ia mulai
rujukan. Ia juga menulis buku berjudul Fada’il
belajar. Guru pertamanya adalah Burhanuddin
Al-Qur’an (Keutamann al-Qur’an) yang berisi
al-Farazi (660 H/ 1328 M) yang menganut
ringkasan sejarah al-Qur’an. 5
madzhab Syafi’i. Tidak lama setelah itu ia ada
dibawah pengaruh Ibn Taimiyah (W. 728 H/ 2. Al-Maraghi
1328 M) untuk jangka waktu cukup panjang, ia Imam al-Maraghi dilahirkan di Maraghah,
hiduop di Surian sebagai orang sederhada dan Mesir pada tahun 1881, ia berasal dari keluarga
tidak populer. Popularitasnya dimulai ketika
5 DEPAG RI, Ensiklopedia Islam, 2 Fas-Kal,
4 Abdul Al-Hayy Al- Farmawi, Metode Tafsir (Penerbit : Pt Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1994), hlm.
Maudhu’iy, ( penerbit : LISK : Jakarta, 1994), hlm. 30 156-158

ISSN : 2615-5680 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 2, Juli-Desember 2018 45


Nasokah, M.Ag

ulama yang intelek, yang nama lengkapnya hubunganya dengan kehidupan sosial dan
Syekh Muhammad Musthafa Al-Maraghi. pentingnya kedudukan akal dalam menafsirkan
Al-Maraghi Kecil oleh orang tuanya, Al-quran. dalam bidang ilmu tafsir, ia memiliki
disuruh belajar al-Qur’an dan bahasa arab karya yang sampai kini menjadi literatur wajib
dikota kelahiranya dan selanjutnya memasuku diberbagai perguruan tinggi islam di seluruh
pendidikan dasar menengah. Terdorong oleh dunia, yaitu tafsir Al-Maraghi yang ditulisnya
keinginan agar al-Maraghi kelak menjadi ulama selama 10 tahun tafsir tersebut terdiri dari 30 juz,
yang terkenal, maka, orang tuanya menyuruh telah diterjemahkan kedalam beberapa bahasa,
al-Maraghi untuk melanjutkan studinya di al- termasuk bahasa indonesia.
Azhar. Disinilah dia mendalami bahasa arab, Metode yang digunakan dalam
tafsir, hadis, fikih, akhlak, dan ilmu falak. Di penafsiranya dapat ditimjau dari dua segi. Dari
antara gurunya adalah Syekh Muhammad segi urutan pembahasanya, al-maraghi dapat
Abduh, Syekh Muhammad Hasan al-Adawi, dikatakan memakai metode tahlili sebab pada
Syekh Muhammad Bahis Al-Mutbi dan Syekh mulanya ia menuturkan ayat-ayat yang dianggap
Muhammad Rifaí Al-Fayumi. Dalam masa satu kelompok, lalu menjelaskan pengertian
studi telah terlihat kecerdasan al-Maraghi yang kata-kata (tafsir al-mufradat), maknanya secar
menonjol, sehingga ketika ia menyelesaikan ringkas dan asbab al-nuzul serta munasabahnya
studinya pada tahun 1904, ia tercatat sebagai (kesesuaian dan kesamaan). Pada bagian akhir
alumnus terbaik dan termuda. ia memberikan penafsiran yang lebih rinci
Tamat pendidikanya, ia menjadi guru mengenai ayat tersebut.
dibeberapa sekolah menengah. Kemudian ia Namun pada sisi lain, bila ditinjau dari
diangkat menjadi direktur sebuah sekolah guru orientasi pembahasan dan model bahasa yang
di Fayum, kira-kira 300 km disebelah barat daya digunakan, maka dapat dikatakan tafsir al-
Kairo. Pada masa selanjutnya semaki mapan, Maraghi memakai metode adab al-ijtimaí sebab
baik sebagai birokrat maupun sebagi intelektual di uraikan dengan bahasa yang indah dan menarik
muslim. Ia menjadi kadi (Hakim) di Sudan denga berorientasi pada sastra, kehidupan budaya
sampai menjabat Qadi al-Qudat hingga tahun dan kemasyarakatan, sebagai suatu pelajaran
1919. Kemudian ia kembali ke Mesir tahun bahwa al-Qur’an diturunkan senagai petunjuk
1920 dan menduduki kepala Makamah Tinggi dalam kehidupan individu maupun masyarakat.
Syari’ah. Pada bulan mei 1928 ia diangkat Dr. Muhammad Quraisy Shihab, dosen ahli tafsir
menjadi rektor al-Azhar. Pada waktu itu ia baru di UIN Syarif Hidayatullah, jakarta mengatakan
berumur 47, sehingga tercatat sebagai rektor bahwa: antara Abduh, Rasyid Ridha dan al-
termuda sepanjang sejarah Universitas al-Azhar. Maraghi, meskipun ada perbedaan, tetapi lebih
Sebagai ulama, al-Maraghi memiliki menonjol persamaanya dalam menerapkan tafsir
adab Al-ijtima’i.
kecerdasan bukan hanya kepada bahasa arab,
tetapi juga kepada ilmu tafsir dan minatnya Dalam melihat kecenderungannya pada
itu melebar sampai ilmu fikih. Pandangan- bidang fikih, bukunya al-Tafh al-Mubin fi
pandaganya tentang islam terkenal tajam Tabaqat al-Usuliyyin yang menguraikan tabaqat
menyangkut penafsiran al-Qur’an dan (tingkatan) ulama ushul cukup dijadoikan sebagai

46 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 2, Juli-Desember 2018 ISSN : 2615-5680


Tafsir Muqaran Ibnu Katsir Dan Maraghi Q.S. Al Isra' : 1

alasan. Pandangannya yang cukup penting C. TAFSIR Q.S. AL-ISRA’: 1


mengenai posisi akal dalam memahami Islam 1. Menurut Ibnu Katsir
dapat dilihat ketika memberi pengantar buku
Hayat Muhammad (biografi Nabi Muhammad ‫ــا ِمــ َن الْ َم ْســج ِِد الْ َحــ َر ِام ِإ َل‬ ً ْ‫ــد ِه لَي‬ِ ْ‫س ٰى ِب َعب‬َ ْ َ‫َّــذي أ‬
ِ ‫ُســبْ َحا َن ال‬
Saw), karya Muhammad Husain Haikal. Ia َ ‫الْ َم ْس ـج ِِد ْالَقْـ‬
‫ـى الَّـ ِـذي بَا َركْ َنــا َح ْولَ ـ ُه لِ ُ ِنيَ ـ ُه ِم ـ ْن آيَاتِ َنــا إِنَّ ـ ُه ُه ـ َو‬
menulis “bagi al-Qur’an rasio harus menjadi
‫الســ ِمي ُع الْبَ ِصــ ُر‬
َّ
juru penengah, sedang yang harus menjadi dasar
ilmu adalah buktinya. Al-Qur’an mencela sikap Al-Maragi adalah seorang ulama yang
meniru-niru, buta dan mereka-reka yang hanya produktif dalam menyampaikan pemikirannya
didasarkan pada kebenaran.” Lebih lanjut ia lewat tulisan-tulisa Artinya: “Maha Suci Allah,
mengatakan “eksperimen dan penyelidikan yang telah memperjalankan hamba-Nya,
yang sempurna ialah hasil dari suatu observasi. pada suatu malam hari, dari Masjid al-Haram
Semua itu bagi kita bukan barang baru. Akan ke Masjid al-Aqsa yang telah Kami berkahi
tetapi cara-cara lama baik dalam teori maupun sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya
praktik yang subur didunia timur hanyalah cara- sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.
cara taqlid dengan mengabaikan peranan rasio. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi
Sesudah kemudian oleh orang barat dikeluarkan Maha Melihat.”
menjadi bentuk yang lebih matang, kitapun lalu Allah SWT menyatakan ke-Maha Sucian
mengambil dari sana, dan kita menganggapnya Asma-Nya dengan berfirman ‫ُســبْ َحا َن‬ agar
sebagai suatu yang baru. manusia mengabdi kesuciannya dari sifat-
Al-Maragi adalah seorang ulama yang sifat yang tidak layak dan meyakini sifat-sifat
produktif dalam menyampaikan pemikirannya keagungan-Nya, yang tiada taranya, yang Maha
lewat tulisan-tulisannya yang terbilang banyak, Kuasa atas segala sesuatu yang tidak mampu
sebab disamping kedua bukunya tersebut kecuali diri-Nya. Tiada Tuhan selain Allah,
diatas masih terdapat sejumlah tulisannya, ‫ــد ِه‬ َ ْ َ‫َّــذي أ‬
ِ ‫س ٰى ِب َع ْب‬ ِ ‫ ال‬yang telah memperjalankan
dianntaranya: ulum al-Balaghah, Hidayah al- hamba Nya yakni Muhammad saw ‫ــا‬ ً ‫ لَ ْي‬diwaktu
Talib, Athzib at-Taudih, Buhus wa Ara, Tarikh sebagian malam ‫ ِمــ َن الْ َم ْســج ِِد الْ َحــ َر ِام‬yakni masjid
Ulum al-Balaghah wa Tafsir ‘rif bi Rijaliha, Makkah al-Mukarramah ‫ْــى‬ َ ‫ إِ َل الْ َم ْســج ِِد ْالَق‬yaitu
Mursyid al-Tullab, al-Mujaz fi al-Adab al- berada di Bait al-Maqdis yang menjadi turunnya
Arabi, Al-Mujaz fi Umum al-Usuh, al-Dinayat wahyu kepada nabi-nabi, mulai zaman nabi
wa al-Akhlaq, al-Hisbah fi al-Islam, al-Rifq bi Ibrahim as, dan yang menjadi tempat peribadatan
al-Hayawan fi al-Islam, Syarh Salasin Hadisan, para nabi dan tempat tinggal mereka. Firman
Tafsir Juz Innama al-Sabil, Risalah fi Zaujat al- ِ ‫ الَّـ‬Yang subur tanahnya
Allah SWT ‫ـذي بَا َركْ َنــا َح ْولَ ـ ُه‬
Nabi, Risalah Isbat Ruýah al-Hilal fi Ramadhan, dengan menghasilkan palawija dan buah-buahan
al-Khutbah wa al-Khubata fi Daulatal-
‫ لِ ُنِيَــ ُه‬agar kami perlihatkan kepadanya yakni
Umawiyah wa al-Abbasiyah, al-Muthola’ah al-
Muhammad saw ‫ ِمــ ْن آيَاتِ َنــا‬yakni tanda-tanda
Arabiyah li al-Madaris al-Sudaniyah. 6
kebesaran-Nya, seperti firman Allah SWT
ِ َ‫لَ َق ْد َرأَ ٰى ِم ْن آي‬
‫ات َربِّ ِه الْك ْ َُب ٰى‬
6 DEPAG RI, Ensiklopedia Islam, Jilid : 3 Fas-
Kal, (Penerbit : Pt Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1994),
hlm. 164-166

ISSN : 2615-5680 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 2, Juli-Desember 2018 47


Nasokah, M.Ag

Dan akan dibicarakan oleh hal tersebut oleh orang-orang musyrik dari penduduk
dari hadis-hadis nabi Muhammad saw. Allah Makkah tentang diperjalankannya Muhammad
berfirman ‫الســ ِمي ُع الْ َب ِصــ ُر‬ dari Makkah ke Bait al-Muqaddas dan Maha
َّ ‫ إِنَّــ ُه ُهــ َو‬yakni mendengar
dari perkataan hamba-Nya baik yang mukmin Melihat apa yang engkau lakukan, tidak ada
maupun yang kafir, baik yang shalihin maupun satu perkarapun mengenai itu yang samar bagi
yang mukadzibin. Allah SWT. Dan tidak ada sesuatupun yang
tersembunyi dari Dia di langit maupun di bumi.
2. Menurut Al-Maraghi
Ilmu Allah Maha Meliputi, kuasa menghitung
َ ْ َ‫ُسـ ْب َحا َن الَّـ ِـذي أ‬
‫س ٰى ِب َع ْبـ ِـد ِه لَ ْيـ ًـا ِمـ َن الْ َم ْسـج ِِد الْ َح َر ِام إِ َل الْ َم ْسـج ِِد‬ bilangannya dan waspada terhadap mereka dan
akan memberi balasan kepada mereka, sesuai
‫ْالَق َْص‬
dengan yang patut mereka terima.
Maha Suci Allah yang telah 3. Tafsir Muqarran Ibnu Katsir dan Ibnu Al-
memperjalankan hamba-Nya, yaitu Muhammad Maraghi Q.S. Al-Isra’: 1
saw, pada bagian dari malam dari Masjid al-
Imam Ibnu Katsir dalam menafsiri ayat
Haram ke Masjid al-Muqaddas sampai kepada
al-Isra’ tersebut, terlihat dalam menafsiri lafadz
malam itu juga, dan Maha Suci Allah dari apa
‫ ُســ ْب َحا َن‬ia menafsiri: “agar supaya manusia mau
yang dikatakan orang-orang musyrik, bahwa
mengakui kesucian Allah dari sifat-sifat yang
Dia memiliki sekutu diantara makhluk-Nya, dan
tidak layak dan meyakini sifat-sifat keagungan
bahwa Dia mempunyai seorang istri dan seorang
serta ke-Maha Esaan Allah atas segala sesuatu,
anak.
yang ditutup dengan pernyataan pasrah diri
‫ال َِّذي بَا َركْ َنا َح ْولَ ُه‬ dengan ucapan tiada Tuhan selain Allah.” Imam
Mustafa al-Maraghi dalam menafsiri lafadz
Yang kami jadikan berkah disekelilingnya ‫ ُســبْ َحا َن‬disamping menyucikan sifat-sifat Allah,
bagi penduduk-penduduknya untuk dia juga menentang dari pernyataan orang-orang
menghidupkan mereka, makanan, tanaman, dan musyrik yang menyatakan bahwa Dia (Allah)
ladang mereka: mempunyai sekutu diantara makhluk-Nya dan
bahwa Dia mempunyai seorang istri dan seorang
‫لِ ُنِيَ ُه ِم ْن آيَاتِ َنا‬
anak.
Supaya Kami perlihatkan kepada hamba ِ ‫ ال‬Ibnu Katsir
Pada kalimat ‫َّــذي بَا َركْ َنــا َح ْولَــ ُه‬
Kami Muhammad saw itu, diantara pelajaran- menafsiri kalimat tersebut dengan yang subur
pelajaran dan bukti-bukti Kami yang memuat tanahnya dengan yang menghasilkan palawija
petunjuk yang terang dan dalil yang pasti, dan buah-buahan. Sedangkan al-Maraghi
yang menunjukkan keesaan, keagungan, dan menafsirinya dengan menekankan kemanfaatan
kekuasaan Kami: sumber daya manusia untuk mengelola dan
memelihara tanah yang subur tersebut guna
‫الس ِمي ُع الْبَ ِص ُري‬
َّ ‫إِنَّ ُه ُه َو‬
kemakmuran serta mendapatkan keberkahan.
Sesungguhnya Tuhan yang telah ‫ لِ ُ ِنيَــ ُه ِمــ ْن آيَاتِ َنــا‬Ibnu Katsir menafsirinya:
memperjalankan hamba-Nya itu adalah Tuhan “agar Kami perlihatkan kepadanya (Muhammad)
yang Maha Mendengan akan apa yang dikatakan berupa tanda-tanda kebesaran-Nya.” Dengan

48 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 2, Juli-Desember 2018 ISSN : 2615-5680


Tafsir Muqaran Ibnu Katsir Dan Maraghi Q.S. Al Isra' : 1

diperkuat dengan hadis-hadis antara lain: binatang putih lebih besar dari himar yang
dari Imam Abu Abdullah al-Bukhari berkata: lebih kecil dari bagal. Ia melangkahkan kakinya
saya diceritai dari Ibn Abdillah Aziz, ia dari sejauh pandangan mata. Kemudaian saya
Sulaiman dia adalah Ibn Bilal dari Syekh Ibn mengendarainya, lalu ia membawaku sehingga
Abdillah berkata: “saya mendengan dari Anas sampai di Bait al-Maqdis. Kemudian saya
Ibn Malik pada malam dijalankannya Rasullah mengikatnya pada tempat para nabi mengikatkan
saw dari Masjid al-Haram datanglah kepadanya kendaraannya. Kemudian saya bersholat dua
tiga orang pada saat sebelum turunnya wahyu, rakaat didalamnya, lalu saya keluar, kemudian
sedangkan Rasul pada waktu itu sedang tidur di jibril membawa kepadaku sebuah piala yang
Masjid al-Haram. Kemudian berkatalah orang berisi minuman keras (khamr) dan sebuah lagi
yang pertama: siapakah dia ini? Kemudian berisi susu: lalu saya pilih yang berisi susu,
orang kedua menjawab: dia adalah orang lantas Jibril berkata:”engkau telah memilih fitrah
yang terbaik itu. Diantara mereka setelah itu sebagai pilihan yang benar.” (H.R. Ahmad) 8
berkatalah orang ketiga: ambillah orang yang Al-Maraghi menafsirkannya dengan
terbaik itu. Sehingga pada malam itu nabi tidak perkataan yang lebih padat dengan
mengetahui siapakah itu, sehingga mereka menyatakannya: supaya Kami perlihatkan
datang kepada nabi dimalam yang lain dalam kepada hamba Kami Muhammad itu diantara
keadaan matanya tertidur, sedangkan hatinya pelajaran-pelajaran dan bukti-bukti Kami yang
tidak tidur. Demikianlah para nabi, meskipun memuat petunjuk atas keesaan, keagungan dan
mata mereka terpejam, namun hati mereka kekuasaan Kami.
tidaklah tidur. Namun sesudah itu rombongan
itu tadi tidaklah berbicara sedikitpun kepada ‫الس ِمي ُع الْ َب ِص ُري‬
َّ ‫إِنَّ ُه ُه َو‬
nabi, sehingga saatnya mereka membawa nabi Ibnu Katsir menafsirinya agak simpel
dan meletakkannya disekitar sumur zam-zam. dan padat dengan pernyataannya: Allah
Kemudian Jibrillah yang menguasai diri nabi, mendengan dari perkataan hamba-Nya baik
lalu Jibril membelah bagian tubuh antara leher yang mukmin maupun yang kafir, baik yang
sampai hatinya, sehingga kosonglah dadanya. sholihin maupun yang mukadzibin. Sedangkan
Sesudah itu Jibril mencuci hati nabi dengan air al-Maraghi menafsirinya dengan lafadz ‫إِنَّــ ُه‬
zam-zam dengan tangannya, sehingga bersihlah yang ada ta’aluq (hubungannya) dengan lafadz
hati beliau. Kemudian Jibril membawa talam sebelumnya yaitu yang artinya “Sesungguhnya
yang terdapat didalamnya bejana dari emas yang Tuhan yang telah memperjalankan hamba-Nya,
berisi iman dan hikmah, kemudian dituangkanlah adalah Tuhan yang Maha Mendengan akan a-a
isi bejana itu memenuhi dada beliau dan urat- yang dikataka oleh orang-orang musyrik dari
urat tenggorokannya. (H.R. Bukhari) 7 penduduk Makkah tentang diperjalankannya
Begitu juga H.R. Ahmad dari Anas Ibn Muhammad dari Makkah ke Bait al-Muqaddas
Malik yang artinya: “bahwa Rasulullah saw dan maka melihat apa yang engkau lakukan,
bersabda: didatangkan kepadaku Buraq yaitu tidak ada satu perkataan pun mengenai hal itu
yang samar bagi Allah, dan tidak ada perkara
7 Imam Abi Fada’ Al-Hafidz Ibn Katsir, Tafsir Al-
Qur’an Ibnu Katsir, Juz 111, (Penerbit: Nurul Ilmiyah, 8 DEPAG RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid,
Birut, Cairo, 1995) hlm. 3-4 (Penerbit : Universitas Islam Indonesia, 1995) hlm. 518.

ISSN : 2615-5680 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 2, Juli-Desember 2018 49


Nasokah, M.Ag

yang tersembunyi baik dilangit maupun dibumi. Adapun kecenderungan Imam Mustafa
Ilmu Allah Maha Meliputi, kuasa menghitung al-Maraghi dalam menafsir ayat ‫َّــذي‬ ِ ‫ُســبْ َحا َن ال‬
bilangannya dan kuasa terhadap mereka dan ‫ــد ِه‬ َ ْ َ‫ أ‬tampak jelas dengan rasional yang
ِ ‫س ٰى ِب َع ْب‬
al-Maraghi menutupnya dengan ancaman memaparkan ide-ide ilmu alam, teori-teori
Allah yaitu dengan pernyataannya Allah akan ilmiah dan ide-ide filsafat dengan pernyataannya
memberi balasan kepada mereka, sesuai dengan “ mensucikan dan mengagungkan sifat-sifat
yang patut mereka terima.” Allah, juga menentang dari pernyataan orang-
D. ANALISA orang musyrik yang menyatakan bahwa Dia
(Allah) mempunyai sekutu diantara makhluk-
Pada malam tanggal 27 Rajab tahun XI
Nya dan Allah mempunyai seorang istri dan
daripada kerasullan nabi Muhammad, terjadi
seorang anak.”
peristiwa yang mengejutkan, dimana ketika Rasul
sedang tidur dirumah Ummi Hani’ binti Abu ِ ‫ ال‬Al-
Adapun pada kalimat: ‫َّــذي بَا َركْ َنــا َح ْولَــ ُه‬
Thalib, salah seorang mukminat dari keluarga Maraghi menafsirinya dengan “menekankan
beliau. Pada waktu itu beliau sembahyang isya kemanfataan sumber daya manusia untuk
lalu tidur, setelah hari menjelang subuh beliau mengelola dan memelihara tanah yang subur
ceritakan kepada Ummi Hani’ bahwa tadi malam tersebut, untuk kemakmuran serta mendapatkan
beliau diperjalankan dari Masjid al-Haram yakni keberkahan” dengan demikian al-Maraghi
Makkah al-Mukarramah, ke Masjid al-Aqsa, di cenderung dalam menafsirinya dengan
Palestina. Al-Aqsa artinya yang jauh. Perjalanan intelektual.
biasa dengan kaki atau unta dari Makkah ke Ibnu Katsir dan al-Maraghi dalam menafsiri
Palestina biasanya 40 hari.9 mi’raj, sepakat dengan memaparkan perbedaan
Imam Ibn Katsir dalam menafsiri al-Qur’an para ulama dengan kecenderungannya bahwa
surat al-Isra’: 1, kecenderungan bermadzhab mi’raj dilakukan dengan ruh dan jasad beliau
(Syafi’iyah) terlihat dengan pernyataannya dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan
tidur dengan alasan sebagai berikut:
dalam menafsirkan kalimat ‫ـد ِه‬ َ ْ َ‫ُسـ ْب َحا َن الَّـ ِـذي أ‬
ِ ‫س ٰى ِب َع ْبـ‬
“agar supaya manusia mau mengakui kesucian 1. Kata ‫ ُســ ْب َحا َن‬menunjukkan adanya peristiwa
Allah dari sifat-sifat keagungan serta ke-Maha yang hebat, seumpama Nabi itu di Isra’
Kuasaam Allah atas segala sesuatu, kemudian dan Mi’rajkan dalam keadaan tidur
diakhiri dengan ucapannya yaitu kepasrahan tidaklah sepatutnya diungkapkan dengan
kepada Allah.” Begitu juga dalam menafsirkan menggunakan ayat ayang didahulukan
ِ ‫ ال‬Ibnu Katsir dalam
kalimat ‫َّــذي بَا َركْ َنــا َح ْولَــ ُه‬ dengan tasbih
menafsirinya tampak jelas kecenderungannya
2. Andai Isra’ dan Mi’raj itu dilakukan dengan
dengan kontekstual, i’rab dan balaghah, serta
keadaan tidur tentu orang Quraisy tidak
banyak mengemukakan kisah dengan peristiwa
dengan serta merta mendustakannya, juga
yang irrasional yang terjadi pada peristiwa
banyaknya orang-orang muslim yang
mi’raj Rasulullah saw.
menjadi murtas kembali, lataran adanya
berita tersebut, menunjukkan peristiwa
tersebut bukanlah peristiwa yang biasa.
9 Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz XY, (Penerbit: PT
Lagipula kata-kata Ummu Hani’ yang
Pustaka Panji Mas, Jakarta, 1982) hml.8

50 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 2, Juli-Desember 2018 ISSN : 2615-5680


Tafsir Muqaran Ibnu Katsir Dan Maraghi Q.S. Al Isra' : 1

melarang Nabi menceritakannya kepada 2. Keluarga Abu Bakar ra. berkata:


siapapun agar mereka tidak mendustakannya, ‫ما فقد جسد رسول الله ﷺ ولكن ارسى بروحه‬
juga menguatkan bahwa Isra’ dan Mi’raj itu
dilakukan dengan ruh dan jasad. Peristiwa Artinya: Aisyah pernah berkata:
diberi gelarnya Abu Bakar dengan “al- “Jasad Rasulullah saw (pada saat Isra’)
Shidiq” karena dia membenarkan Nabi Isra’ tidaklah lenyap, akan tetapi ruhnyalah yang
dan Mi’raj dengan ruh dan jasadnya. di Isra’kan.”

3. Firman Allah ‫ ِب َع ْبــ ِد ِه‬menunjukkan suatu 3. Bahwa al-Hasan berkata: “Bahwa yang
kesatuan yang berat antara ruh dan jasad. dimaksud dengan ru’yah dipakai khusus
untuk orang tidur”
4. Perkataan Ibn Abbas bahwa orang-orang
Arab kerap kali dalam menggunakan kata Penulis sepakat seperti yang dikatakan
ru’ya dalam arti penglihatan mata, seperti oleh al-Maraghi didalam tafsirnya,
dalam firman Allah: mengemukakan beberapa kecaman terhadap
alasan yang dikemukakan oleh orang-orang yang
ِ ‫ َو َما َج َعلْ َنا ال ُّر ْؤيَا الَّ ِتي أَ َريْ َن َاك إِال ِفتْ َن ًة لِل َّن‬...
...‫اس‬ berpendidikan bahwa Nabi melakukan Isra’ dan
Artinya: “Dan Kami tidak menjadikan Mi’raj dengan ruhnya saja, sebagai berikut:
mimpi yang telah Kami perlihatkan 1. Pendapat Mu’awiyah ada kelemahannya,
kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi karena pada waktu mu’awiyah belum lagi
manusia.” (Q.S. 17: 60) masuk Islam, akan tetapi dia masih didalam
5. Nabi diperlihatkan pada waktu Isra’ keadaan musyrik, sebab itu, riwayatnya
Mi’raj adalah berarti penglihatan mata tidak boleh diterima.
yang mungkin terjadi karena kecepatan 2. Riwayat Aisyah mendapat kecaman-
yang serupa telah dibuktikan oleh manusia kecaman dari para muhadisin karena pada
dengan teknologi modern. saat itu Aisyah masih kecil dan belum
Adapula segolongan mufasir yang lain menjadi istri Rasulullah.
berpendapat bahwa Isra’ dan Mi’raj dilakukan
nabi dengan ruhnya saja, dengan menguatkan
pendapatnya antara lain sebagai berikut:
1. Mu’awiyah ibn Abi Sufyan apabila ditanya
tentang Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad
saw beliau menjawab
‫كان رؤيا من الله صادقة‬
Artinya: “Isra’ nabi itu adalah mimpi
yang benar yang datangnya dari Allah.”

ISSN : 2615-5680 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 2, Juli-Desember 2018 51


Nasokah, M.Ag

E. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA


Bahwa dalam mengkaji al-Qur’an surat al- Al- Farmawi, Abdul Al-Hayy. 1994. Metode
Isra’ ada dua hal yang penting: Tafsir Maudhu’iy. Jakarta: LISK

1. Isra’ adalah perjalanan malam yang Al-Suyuti, Jalaludin. Daratul Ma’arifil Islamiyah,
dilakukan oleh nabi Muhammad saw dari dibawah artikel “tafsir” Al-Itqan II : 173.
Masjid al-Haram ke Bait al-Muqaddas di DEPAG RI. 1994. Ensiklopedia Islam, 2 Fas-
Palestina Kal. 1994. Jakarta: Pt Ichtiar Baru Van
Hoeve
2. Mi’raj yaitu naiknya beliau ke langit dunia
(yang terdekat) kemudian ke Musytawa __________. Ensiklopedia Islam Jilid : 3 Fas-
(Sidrat al-Muntaha). Kal. 1994. Jakarta: Pt Ichtiar Baru Van
Hoeve
Adapula beberapa hal yang dibicarakan
oleh para ulama yaitu tentang tempat Isra’, __________. Al-Qur’an dan Tafsirnya. 1995.
Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia
waktunya dan apakah Isra’ dilakukan dengan
ruh dan jasad nabi atau hanya ruhnya saja. Hamka. Tafsir Al-Azhar, Juz XY. 1982. Jakarta:
PT Pustaka Panji Mas
1. Segolongan ulama berpendapat bahwa Isra
dilakukan dari Masjid al-Haram. Sementara Ibn Katsir, Imam Abi Fada’ Al-Hafidz. 1995.
itu adapula yang mengatakan bahwa beliau Tafsir Al-Qur’an Ibnu Katsir, Juz 111.
saw, diisra’kan dari rumah Ummu Hani’ Cairo: Nurul Ilmiyah, Birut, Cairo
binti Abi Thalib. Munawir, A.W. 1997. Kamus Al-Munawir Arab-
Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif
2. Adapun mengenai waktunya, terjadi pada
17 Rabi’ul Awal setahun sebelum hijrah. Al-Maraghi, Imam Mustafa. T.T. Tafsir al-
Sedang menurut suatu riwayat dari Anas dan Maraghi Juz III. Kairo: Dar al-Ihya
Hasan al-Bisri, bahwa peristiwa itu terjadi Al-Zahabi, Muhammad Husain. T.T. Al-Tafsir
sebelum Muhammad diangkat sebagai wa Al-Mufassirun 1 : 14-15, Al—Burhan
Rasul. 1 : 13-14.
3. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa Isra’
itu dilakukan dengan ruh dan tubuh beliau
saw dalam keadaan jaga, bukan dalam tidur.
Demikianlah final paper yang penilis
sampaikan. Kurang dan lebihnya harap maklum
adanya.

52 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 2, Juli-Desember 2018 ISSN : 2615-5680