Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat dan
hidayahNya sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik, meskipun penulis sangat
menyadari masih banyak kekurangan baik dari segi isi maupun sistematika.

Makalah ini berisi tentang Penyakit Menular Seksual, pengertian, jenis-jenis PMS, gejala,
pengobatan dan cara pencegahan penyakit menular seksual guna untuk menurunkan
morbiditas dan mortalitas penduduk.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat membantu menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca maupun penulis. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis
harapkan dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah mendatang.

Pare-Pare, September 2019

1
DAFTAR ISI

KATA PEGANTAR…..…………………………………………………………….......... 1

DAFTAR ISI ...................................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang ………………………………………………………………….... 3


2. Rumusan Masalah ………………………………………………………………... 3
3. Tujuan Penulisan …………………………………………………………………. 3
4. Manfaat Penulisan………………………………………………………………… 3

BAB II PEMBAHASAN

1. Pengertian PMS…………………….…………………………………………….....4
2. Jenis –jenis PMS…………………………………………………….……………... 4
3. HIV/AIDS………………………………………………….………………………. 4
4. Gonorea…………………………………………………………………………….. 6
5. Sifilis………………………………………………………………………………... 7
6. Human Papillomavirus (HPV).................................................................................. 8
7. Chlamydia....................................................................................................................9
8. Trikomoniasis............................................................................................................. 11
9. Tinea Cruris.............................................................................................................. 12
10. Herpes Genital...................................................................................................... 13
11. Candidiasis......................................................................................................... 14
12. Situasi PMS dan HIV/AIDS di Indonesia....................................................................15
13. Peran gender dalam masalah PMS dan HIV-AIDS di Indonesia.................................15
14. Ayat Al-Qur’an tentang penyakit menular seksual......................................................17

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan ……………………………………….....……………………………. 10
2. Saran …………………………………………….……………………………..….. 10

DAFTAR PUSTAKA

2
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Penyakit menular seksual akan lebih beresiko bila melakukan hubungan seksual dengan
berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal. PMS dapat menyebabkan
infeksi alat reproduksi yang harus dianggap serius. Bila tidak diobati secara tepat, infeksi
dapat menjalar dan menyebabkan penderitaan, sakit berkepanjangan, kemandulan dan
bahkan kematian. Wanita lebih beresiko untuk terkena PMS lebih besar daripada laki-laki
sebab mempunyai alat reproduksi yang lebih rentan. Dan seringkali berakibat lebih parah
karena gejala awal tidak segera dikenali, sedangkan penyakit melanjut ke tahap
lebih parah.

Penyakit menular seksual merupakan penyakit dengan tingkat mortalitas yang tinggi
disetiap tahunnya. Sampai tahun 2012 organisasi kesehatan dunia (WHO) mencatat
jumlah penderita penyakit menular seksual khususnya HIV/AIDS di seluruh dunia
meningkat hingga mencapai 5,2 juta jiwa. Makassar menduduki peringkat ke teratas di
Sulawesi Selatan. Usaha yang dilakukan pemerintah melalui Departemen Kesehatan RI
dan lembaga-lembaga lainnya dalam mengurangi penderita PMS dilakukan melalui
edukasi dan promosi yaitu penyuluhan melalui kampanye, media massa dan penyebaran
leaflet. Tetapi usaha tersebut masih saja kurang atau belum menurunkan angka mortalitas
Penyakit Menular Seksual.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalahnya :
1. Apakah defenisi Penyakit Menular Seksual ( PMS )
2. Jenis-jenis PMS, gejala, pengobatan dan cara pencegahannya

3. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui defenisi Penyakit Menular Seksual ( PMS )
2. Untuk mengetahui jenis-jenis PMS, gejala, pengobatan dan cara
pencegahannya.

4. Manfaat penulisan
1. Manfaat Ilmiah
Makalah ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan yang
dapat menambah wawasan khususnya mengenai Penyakit Menular Seksual
2. Manfaat bagi penulis
Sebagai aplikasi ilmu dan pengalaman berharga serta dapat menambah
wawasan ilmiah dan pengetahuan penulis serta sebagai sumbangan yang
diharapkan dapat bermanfaat untuk pembaca

3
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Penyakit Menular Seksual ( PMS )

Penyakit Menular Seksual (PMS) adalah penyakit yang menyerang manusia dan binatang
melalui transmisi hubungan seksual,seks oral dan seks onal.Pada zaman dulu, penyakit
kelamin ( veneral disease ) berasal dari kata venus ( dewi cinta ). Saat itu, penyakit
kelamin yang dikenal adalah sifilis dan gonore. Sedangkan istilah PMS baru dikenal
setelah ditemukannya jenis penyakit kelamin selain kedua jenis penyakit di atas. PMS
dikenal pula dengan sebutan penyakit akibat hubungan seksual ( PHS ) atau sexually
transmittied diseases ( STD ). Penyakit ini menjangkit alat ( organ ) reproduksi laki-laki
atau perempuan terutama akibat dari hubungan seksual dengan orang yang sudah
terjangkit penyakit kelamin. Defenisi lain PMS merupakan penyakit yang terjadi akibat
adanya infeksi mikroorganisme patogen di area kelamin.

2. Jenis jenis penyakit menular seksual (PMS)

Ada berapa jenis jenis penyakit menular seksual yang terjadi saat sekarang yaitu
HIV/AIDS,Gonorea dan Sifilis berikut penjelasan yang lebih lengkapnya

3. HIV/AIDS
 Pengertian HIV
HIV singkatan dari Human Immunodeficiensy Virus yaitu sejenis virus
yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Virus HIV akan
masuk dalam sel darah putih dan merusaknya sehingga sel darah putih
yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap infeksi akan menurun
jumlahnya. Akibatnya sistem kekebalan tubuh menjadi lemah dan
penderita mudah terkena berbagai penyakit. Dimana kondisi ini disebut
AIDS.
 Pengertian AIDS
AIDS singkatan dari Acquired Immune Defeciency Syndrom yaitu
kumpulan gejala penyakit yang didapat akibat menurunnya sistem
kekebalan tubuh yang disebab
kan oleh HIV. Ketika individu sudah tidak memiliki sistem kekebalan
tubuh, maka semua penyakit dapat masuk ke dalam tubuh dengan
mudah. Oleh karena itu sistem kekebalan tubuhnya menjadi sangat
lemah maka penyakit yang tadinya tidak berbahaya akan menjadi sangat
lemah
 Cara penularan HIV
Dengan cara hubungan seksual ( sperma dan cairan vagina ), darah atau
produk darah ( luka, jarum suntik dan infus )
 Fase/tahapan perubahan HIV/AIDS
Orang yang sudah terinfeksi HIV biasanya sulit dibedakan dengan orang
yang sehat dimasyarakat. Mereka masih melakukan aktivitas seperti
biasa, badan terlihat sehat, dan masih bekerja dengan baik. Untuk
sampai pada fase AIDS seseorang telah terinfeksi HIV akan melewati
beberapa fase.

4
I. Fase pertama : masa jendela ( window period )Pada awal
terinfeksi ciri-cirinya belum dapat dilihat meskipun yang
bersangkutan melakukan tes darah, karena pada fase ini sistem
antibodi terhadap HIV belum terbentuk, tetapi yang
bersangkutan sudah dapat menulari orang lain. Masa ini
berlangsung 1-6 bulan.
II. Fase kedua: Umur infeksi 2-10 tahun setelah terinfeksi HIV.
Pada fase ini individu sudah positif HIV tetapi belum
menampakkan gejala sakit. Kemungkinan mengalami gejala-
gejala ringan, seperti flu ( biasanya 2-3 hari dan sembuh sendiri )
III. Fase ketiga : Mulai muncul gejala-gejala awal penyakit, belum
disebut sebagai gejala AIDS, tetapi sistem kekebalan tubuh
mulai berkurang. Gejala yang berkaitan dengan HIV antara lain
1) Keringat yang berlebihan di malam hari
2) Diare terus menerus
3) Pembengkakan kelenjar getah bening
4) Flu tidak sembuh-sembuh
5) Nafsu makan berkurang
6) Berat badan menurun
IV. Fase ke empat : Sudah masuk pada tahap AIDS. AIDS baru
dapat terdiagnosis setelah kekebalan tubuh sangat berkurang
dilihat dari jumlah sel T ( dibawah 2.001 mikro liter ) dan timbul
penyakit tertentu yang disebut dengan infeksi opurtunistik, yaitu
1) Kanker khususnya kanker kulit yang disebut sarcoma
kaposi
2) Infeksi paru-paru yang menyebabkan radang paru-paru
dan kesulitan bernapas ( TBC umumnya diderita oleh
pengidap AIDS )
3) Infeksi usus yang menyebabkan diare parah selama
berminggu-minggu
4) Infeksi otak yang menyebabkan kekacauan mental, sakit
kepala dan sariawan
 Pencegahan HIV/AIDS

I. Meningkatkan ketahanan keluarga melalui pesan kunci (ABCDE )


II. Abstinensia : Tidak melakukan hubungan seksual sebelum
menikah
III. Be faithful : Setia pada pasangan yang sah ( suami-istri)
IV. Condom : menggunakan kondom apabila salah satu pasangan
berisiko terkena HIV/AIDS
V. Drugs : hindari pemakaian narkoba
VI. Equipment : Mintalah peralatan yang steril
VII. Pencegahan penularan melalui darah
1) Skrining darah donor dan produk darah
2) Menggunkan alat suntik dan dan alat lain yang stril
3) Berhati-hati pada saat menangani segala hal yang tercemar
oleh darah segar
VIII. Pencegahan penularan dari ibu ke anak

5
1) Pemeriksaan dan konseling ibu hamil
2) Pemberian obat antiretroviral bagi ibu hamil yang
mengidap HIV/AIDS
IX. menjaga kebersihan alat reproduksi
X. Memeriksakan diri segera bila ada gejala-gejala HIV/AIDS
4. Gonorea
 Pengertian Gonorea
Gonorea adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh
Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher
rahim, rektum dan tenggorokan atau bagian putih mata (konjungtiva)
dengan masa inkubasi antara 2-10 hari setelah masuk kedalam tubuh
 Tanda dan gejala

1. Pada pria
1) Rasa nyeri pada saat kencing
2) Keluarnya nanah kental berwarna kuning kehijauan
3) Ujung penis berwarna merah dan bengkak
2. Pada wanita
1) Keputihan kental berwarna kekuningan
2) Rasa nyeri dirongga panggul
3) Komplikasi
4) Bartholinitis
5) PID
6) Infertilitas
7) Infeksi mata pada bayi yang baru dilahirkan dan dapat
mengakibatkan kebutaan
 Pencegahan
I. Tidak melakukan hubungan seksual baik vaginal, anal dan
oral dengan orang yang terinfeksi.
II. Pemakaian Kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat
menghilangkan sama sekali risiko penularan penyakit ini
III. Menghindari hubungan seksual sampai pengobatan antibiotik
selesai.
IV. Sarankan juga pasangan seksual kita untuk diperiksa guna
mencegah infeksi lebih jauh dan mencegah penularan
 Pengobatan
I. Gonore biasanya diobati dengan suntikan tunggal seftriakson
intramuskuler atau dengan pemberian antibiotik per-oral
selama 1 minggu (biasanya diberikan doksisiklin).
II. Pada pasien dewasa pengobatannya dengan
Ceftriaxone(Rocephin) 250 mg IM dan doksisiklin 100 mg
2x/hari selama 7 hari
III. Regimen alternatif meliputi pemberian : spektinomisin 2 g IM
dan doksisiklin 100 mg, Siprofloksasin 0,5 g atau norfloksasin
0,8 mg per oral 1x/hari dam doksisiklin 100 mg, cefotakcim 1
g atau seftrisoksim 0,5 g IM dan doksisiklin 100 mg,
probenecid 1 g 1x/hari

6
IV. Jika gonore telah menyebar melalui aliran darah, biasanya
penderita dirawat di rumah sakit dan mendapatkan antibiotik
intravena (melalui pembuluh darah, infus).

5. Sifilis
 Pengertian Sifilis
Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh
Treponema pallidum. Penyakit ini sangat kronis, bersifat sistemik dan
menyerang hampir semua alat tubuh.
 Penyebab
Sifilis disebabkan oleh Treponema Pallidum. Treponema Pallidum
termasuk golongan Spirochaeta dan genus treponema yang berbentuk
seperti spiral dengan panjang antara 5- 20 mikron dan lebar 0,1- 0,2
mikron, mudah dilihat dengan mikroskop lapangan gelap akan nampak
seperti spiral yang bisa melakukan gerakan seperti rotasi. Organisme ini
bersifat anaerob mudah dimatikan oleh sabun, oksigen, sapranin, bahkan
oleh Aquades. Didalam darah donor yang disimpan dalam lemari es
Treponema Pallidum akan mati dalam waktu tiga hari tetapi dapat
ditularkan melalui tranfusi mengunakan darah segar.
 Tanda dan gejala
Stadium I ( fase primer ) : 2-4 minggu, adanya erosi, ulkus
Stadium II ( fase sekunder ) : 6-14 minggu. Gejala adalah merasa tidak
enak badan (malaise), kehilangan nafsu makan, mual, lelah, demam dan
anemia
Stadium III ( fase laten ) 3-10 th
Masa inkubasi
1. Tahap1
9-90 hari setelah terinfeksi. Timbul: luka kecil, bundar dan tidak sakit
chancre- tepatnya pada kulit yang terpapar/kontak langsung dengan penderita.
Chancre tempat masuknya penyakit hampir selalu muncul di dalam dan sekitar
genetalia, anus bahkan mulut. Pada kasus yang tidak diobati (sampai 1 tahun
berakhir), setelah beberapa minggu, chancre akan menghilang tapi bakteri
tetap berada di tubuh penderita.
2. Tahap2
1-2 bulan kemudian, muncul gejala lain: sakit tenggorokan, sakit pada bagian
dalam mulut, nyeri otot, demam, lesu, rambut rontok dan terdapat bintil.
Beberapa bulan kemudian akan menghilang. Sejumlah orang tidak mengalami
gejala lanjutan.
Tahap3
Dikenal sebagai tahap akhir sifilis. Pada fase ini chancre telah menimbulkan
kerusakan fatal dalam tubuh penderita. Dalam stase ini akan muncul gejala:
kebutaan, tuli, borok pada kulit, penyakit jantung, kerusakan hati, lumpuh dan
gila
 Cara penularan
Penularan biasanya melalui kontak seksual, tetapi ada beberapa contoh
lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan melalui
ibu ke anak dalam uterus). Luka terjadi terutama pada alat kelamin
eksternal, vagina, anus, atau di dubur. Luka juga dapat terjadi di bibir
dan dalam mulut, Wanita hamil dengan penyakit ini dapat terbawa ke

7
bayi. Spirochaeta penyebab sifilis dapat ditularkan dari satu orang ke
orang yang lain melalui hubungan genito-genital (kelamin-kelamin)
maupun oro-genital (seks oral). Infeksi ini juga dapat ditularkan oleh
seorang ibu kepada bayinya selama masa kehamilan.
 Pencegahan
I. Tidak berganti-ganti pasangan
II. Berhubungan seks yang aman dengan menggunakan
kondom dan harus selektif memilih pasangan
III. Menghindari penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan
transfusi darah yang sudah terinfeksi
 Pengobatan
Sifilis dapat diobati dengan penisilin atau antibiotik lainnya. Menurut
statistik, perawatan dengan pil kurang efektif dibanding perawatan
lainnya, karena pasien biasanya tidak menyelesaikan pengobatannya.
Cara terlama dan masih efektif adalah dengan penyuntikan procaine
penisilin secara IM (procaine untuk mengurangi rasa sakit).Orang yang
kontak dengan pasien sifilis dini ( primer, sekunder dan laten ) harus
diobati dengan salah satu regimen berikut :
I. Benzathin penisilin G 24 U secara IM
II. Tetrasiklin hidroklorid 500 mg 4x/hari atau doksisiklin 100 mg
2x/hari selama 14 hari
III. Eritromisin 500 mg 4x/hari selama 15 hari ( jika alergi penisilin,
tetrasiklin)

6.Human Papillomavirus (HPV)

 Pengertian Human Papillomavirus (HPV)


Human Papillomavirus (HPV) adalah penyakit yang disebabkan oleh
virus dengan nama yang sama yaitu, HPV yang ditularkan melalui
kontak seksual. Sebagian besar HPV tidak memiliki gejala sehingga
orang tidak tahu mereka memgidap HPV.
Ada sekitar 40 jenis HPV genital. Beberapa jenis dapat menyebabkan
kanker serviks pada wanita dan juga dapat menyebabkan kanker lain
pada pria dan wanita. Jenis HPV lainnya dapat menyebabkan kutil
kelamin pada pria dan wanita.Kebanyakan orang yang mengidap HPV
tidak pernah mengalami gejala atau masalah kesehatan.
 Cara Mengatasinya
Pada perempuan dan laki-laki, HPV bisa menyebabkan kanker anus dan
kanker mulut/tenggorokan (orofaringeal). HPV juga dapat menyebabkan
kanker serviks, vulva, dan vagina pada wanita; dan kanker penis pada
pria.Bagi wanita, pemeriksaan tersedia untuk mendeteksi sebagian
besar kasus kanker serviks dengan Pap Smear. Sayangnya, tidak ada
pemeriksaan rutin untuk kanker terkait HPV lain untuk perempuan atau
laki-laki, dan kanker ini dapat menyebabkan rasa sakit, penderitaan, atau
bahkan kematian. Itulah sebabnya vaksin yang mencegah sebagian besar
jenis kanker ini sangat penting.

8
 Pencegahan
Anda dapat mencegah HPV dengan Vaksin HPV. Vaksin HPV
mencegah infeksi dari jenis HPV yang paling berbahaya. Vaksin HPV
aman, efektif, dan dapat melindungi orang dari sebagian besar kanker
yang disebabkan oleh HPV dan kutil kelamin.

7.Chylamydia

 Pengertian chylamydia
Klamidia atau chlamydia adalah infeksi menular seksual yang
disebabkan oleh bakteri bernama Chlamydia trachomatis. Penyakit ini
bisa menyerang baik pria maupun wanita melalui kontak seksual.
Klamidia dapat menginfeksi serviks (leher rahim), anus, saluran
kencing, mata, dan tenggorokan. Penyakit ini termasuk yang tidak
begitu sulit diobati jika langsung ditangani di masa-masa awal
kemunculannya. Namun, jika dibiarkan chlamydia bisa menyebabkan
masalah kesehatan serius.
Pasalnya, penyakit kelamin ini bisa menyebabkan kerusakan serius dan
permanen pada sistem reproduksi wanita. Akibatnya, wanita yang
terserang chlamydia berisiko sulit hamil.
 Gejala
Chlamydia termasuk ke dalam infeksi menular seksual yang jarang
disadari. Pasalnya, penyakit ini sering kali tidak menunjukkan tanda dan
gejal di awal kemunculannya.Tanda dan gejala biasanya muncul satu
hingga dua minggu setelah terpapar infeksi. Namun tanda ini pun sering
kali ringan dan hilang begitu saja sehingga tak begitu dihiraukan.
Adapun berbagai tanda dan gejala yang biasanya muncul akan berbeda
pada pria dan wanita, berikut selengkapnya:
Gejala klamidia pada wanita
I. Sakit perut bawah
II. Keputihan yang jauh lebih banyak dari biasanya dengan warna
yang cenderung kuning serta berbau busuk
III. Perdarahan yang terjadi di antara siklus haid
IV. Demam ringan
V. Sakit saat seks
VI. Perdarahan setelah berhubungan seks
VII. Rasa terbakar saat buang air kecil
VIII. Buang air kecil lebih sering
IX. Pembengkakan di vagina atau sekitar anus
X. Iritasi di rektum

Gejala klamidia pada pria

I. Rasa sakit dan terbakar saat buang air kecil

9
II. Penis mengeluarkan cairan berupa nanah, cairan yang encer,
atau putih dan kental seperti susu
III. Testis bengkak dan nyeri saat ditekan
IV. Iritasi pada rektum
Berbagai gejala ini tidak selalu muncul pada orang yang
terinfeksi klamidia. Ada orang yang bahkan tidak memiliki
gejala sama sekali. Jika Anda mengalami satu atau lebih
gejala, termasuk yang tidak disebutkan di atas, segera
konsultasikan ke dokter.
 Penyebab
Klamidia disebabkan oleh bakteri yang disebut Chlamydia trachomatis.
Infeksi ini dapat menyebar dengan mudah melalui seks vagina, oral, dan
anal.
Seorang wanita tetap bisa terkena penyakit ini meski pasangannya tidak
ejakulasi saat seks. Pasalnya, tak hanya lewat air mani, bakteri juga
terdapat dalam cairan praejakulasi.
Selain itu, jika sudah pernah memiliki infeksi ini, risiko untuk terkena
kembali sangat mungkin. Hal ini biasanya terjadi ketika Anda
melakukan seks tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi.
Dikarenakan penyakit ini sering kali tidak menunjukkan gejala, orang
yang telah terinfeksi bisa dengan mudah menularkan ke pasangannya
tanpa disadari.
Jika Anda adalah seorang ibu hamil yang mengidap klamidia, Anda juga
dapat menyebarkan infeksi ini ke bayi saat melahirkan. Penyakit ini
nantinya bisa menyebabkan pneumonia atau infeksi mata serius pada
buah hati Anda.Oleh karena itu, jika seorang ibu memiliki klamidia
selama kehamilan, diperlukan tes 3 hingga 4 minggu setelah perawatan
untuk memastikan kondisinya.
 Pengobatan
Klamidia dapat diobati dengan antibiotik. Dokter akan menyesuaikan
dosis obat dengan keparahan kondisi. Biasanya antibiotik yang
diberikan berbentuk pil. Dosis yang diberikan bisa satu kali setiap hari
atau beberapa kali sehari dalam 5 hingga 10 hari.Doxycycline menjadi
antibiotik yang biasanya diresepkan dokter pada pasien. Pastikan untuk
menghabiskan antibiotik sesuai anjuran dokter. Hal ini dilakukan untuk
mencegah Anda terkena infeksi kembali dan bakteri resisten terhadap
antibiotik.Selain doxycycline, dokter biasanya memiliki beberapa
alternatif antibiotik terutama untuk wanita hamil. Ini karena doxycycline
atau tetracycline bisa menyebabkan masalah perkembangan tulang dan
gigi bayi. Azithromycin termasuk salah satu obat yang terbukti aman
dan efektif untuk wanita hamil.Berikut ini beberapa antibiotik alternatif
yang juga direkomendasikan oleh Centers Disease for Control and
Prevention untuk mengobati klamidia, yaitu:

10
I. Erythromycin
II. Levofloxacin
III. Ofloxacin
Dalam kebanyakan kasus, infeksi biasanya akan sembuh
dalam waktu satu sampai dua minggu. Selama waktu
pengobatan itu, Anda bisa tidak diperbolehkan berhubungan
seks untuk mencegah penyebarannya.Dokter juga akan
menyarankan pasangan Anda untuk mendapatkan
pengobatan yang sama meski tidak memiliki gejala. Jika
tidak, infeksi bisa bolak balik muncul antara Anda dan
pasangan.Namun, meski klamidia telah diobati, tubuh tidak
kebal terhadap bakteri ini. Artinya setelah sembuh Anda
masih bisa terinfeksi lagi di masa mendatang jika terus
melakukan hal berisiko.

8.Trikomonisi

 Pengertian Trikomoniasis
Trikomoniasis adalah penyakit infeksi pada alat kelamin yang
disebarkan melalui hubungan seksual. Penyakit ini merupakan yang
paling umum dari kelompok infeksi menular seksual (IMS). Infeksi ini
tidak fatal tetapi dapat memicu komplikasi, seperti ketidaksuburan,
infeksi jaringan kulit vagina (selulitis) pada wanita. Pada pria,
menyebabkan tersumbatnya uretra. Infeksi pada masa kehamilan dapat
mengakibatkan kelahiran prematur dan berat badan bayi yang ringan.
 Gejala
Wanita dapat mengalami gejala umum, seperti bau pada vagina atau
cairan vagina berwarna hijau, cairan berbuih, rasa gatal, dan bengkak
pada vagina. Gejala lain berupa rasa sakit saat berhubungan seksual,
pada pelviks dan saat buang air kecil.
Kebanyakan pria tidak memiliki gejala. Ketika gejala terjadi, gejala
yang muncul adalah sulit buang air kecil, sakit saat buang air kecil, dan
rasa panas saat buang air kecil.Jika Anda merasa gelisah terhadap suatu
gejala, silakan konsultasikan dengan dokter Anda.
 Penyebab
Penyakit ini disebabkan oleh parasit protozoa yang disebut Trichomonas
vaginalis, yang ditemukan di manapun.Trichomonas
vaginalis ditularkan selama berhubungan seksual. Periode inkubasi dari
parasit ini belum dapat ditetapkan secara pasti, tetapi biasanya sekitar 5
hingga 28 hari
 Pengobatan
I. Hindari kontak seksual selama pengobatan
II. Pastikan melakukan hubungan seksual yang aman. Gunakan
kondom lateks jika terdapat kemungkinan adanya penyakit
menular seksual dari pasangan Anda
III. Kurangi jumlah pasangan seksual Anda. Semakin banyak
pasangan Anda, semakin besar risiko Anda tertular penyakit
kelamin
11
 Gejala
Wanita dapat mengalami gejala umum, seperti bau pada vagina atau
cairan vagina berwarna hijau, cairan berbuih, rasa gatal, dan bengkak
pada vagina. Gejala lain berupa rasa sakit saat berhubungan seksual,
pada pelviks dan saat buang air kecil.
Kebanyakan pria tidak memiliki gejala. Ketika gejala terjadi, gejala
yang muncul adalah sulit buang air kecil, sakit saat buang air kecil, dan
rasa panas saat buang air kecil.
Terdapat kemungkinan beberapa tanda dan gejala yang tidak disebutkan
di atas. Jika Anda merasa gelisah terhadap suatu gejala, silakan
konsultasikan dengan dokter

9.Tinea Cruris

 Pengertian Tinea Cruris


Tinea cruris adalah infeksi jamur pada kulit di pangkal paha, area
genital, paha bagian dalam atas atau bokong dan menyebabkan ruam
bentuk cincin di daerah yang terinfeksi. Penyakit ini paling sering terjadi
di tempat yang panas, kondisi lembap.
 Gejala
I. Gatal dan nyeri di daerah yang terinfeksi.
II. Ruam cincin terjadi pada pangkal paha, lipatan kulit, paha
bagian dalam, atau bokong. Ruam biasanya tidak terjadi pada
skrotum atau penis.
III. Tepi ruam sangat berbeda dan mungkin bersisik atau
memiliki benjolan yang terlihat seperti lecet.
IV. Pusat ruam memiliki warna merah-coklat.
 Penyebab
Tinea cruris sering disebabkan oleh organisme jamur yang biasanya
tumbuh di daerah yang hangat dan lembap. Jamur yang menyebabkan
tinea cruris paling sering merupakan akibat dari:
I. Memakai pakaian basah, lembap, atau pakaian yang belum
dicuci (seperti pakaian dalam atau pendukung atletik).
II. Berbagi handuk yang terinfeksi jamur
III. Jarang mandi, terutama setelah berolahraga atau berkeringat
berat dari pekerjaan
IV. Menyentuh orang yang terinfeksi
V. Anda juga dapat dengan mudah terinfeksi jamur yang
biasanya hidup pada permukaan basah seperti lantai di kamar
mandi umum atau kamar ganti.
VI. Tertular dari binatang yang terinfeksi.
 Pengobatan
Sebagian besar, tinea cruris dapat diobati di rumah dengan krim anti
jamur, semprotan dan bubuk yang dijual bebas. Tapi, jika Anda tidak
yakin tentang kondisi Anda, mintalah dokter untuk memeriksanya.
Untuk pengobatan tinea cruris, ikuti langkah berikut:
I. Cuci ruam dengan sabun dan air. Menyebar krim antijamur di
atas ruam. Oleskan krim di luar tepi ruam
II. Gunakan krim antijamur atau bubuk yang
mengandung terbinafine, miconazole, clotrimazole atau nama-

12
nama merek termasuk Lamisil, Lotrimin, Micatin, dan Monistat.
Produk ini bisa dibeli tanpa resep. Ikuti petunjuk pada paket, dan
jangan berhenti menggunakan obat hanya karena gejala telah
hilang. Jika gejala tidak membaik setelah 2 minggu, hubungi
dokter Anda.
III. Anda harus meminum obat antijamur oral. Obat ini biasanya
harus digunakan untuk waktu yang lama, bahkan mungkin
berbulan-bulan.

10.Herpes Genital

 Pengertian
Herpes kelamin atau herpes genital adalah penyakit menular seksual pada
pria dan wanita, yang menyebabkan luka melepuh di area kelamin. Namun,
penderita herpes genital juga bisa tanpa gejala.
Karena herpes genital bisa tidak menimbulkan gejala, banyak penderita
yang tidak sadar bahwa dirinya terkena penyakit ini. Oleh karena itu,
perilaku seksual yang aman perlu dilakukan untuk mencegah penularan
penyakit yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV) ini.
 Gejala
Herpes genital sering kali tidak menimbulkan gejala. Namun jika
muncul, gejala yang terlihat berupa luka lepuh di area kelamin. Luka
tersebut biasanya terasa sakit dan gatal. Gejala ini dapat kambuh
beberapa kali dalam setahun. Namun seiring terbentuknya sistem
kekebalan tubuh terhadap virus herpes, frekuensi kekambuhannya akan
berkurang.
 Penyebab
Virus herpes simpleks (HSV) adalah penyebab dari penyakit herpes
genital atau herpes kelamin. Penyebaran HSV paling sering terjadi
melalui hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi virus ini. Selain
itu, herpes genital dari ibu hamil juga dapat ditularkan kepada bayi yang
dikandungnya.
 Pengobatan
Penderita herpes genital perlu diberikan obat antivirus. Obat antivirus ini
bermanfaat untuk memperpendek durasi kemunculan gejala dan
mencegah penularan penyakit kepada orang lain. Namun, obat antivirus
tidak bertujuan untuk menghilangkan virus herpes dari dalam tubuh,
karena sampai saat ini, belum ada obat yang dapat membunuh virus
herpes.
Penderita yang terinfeksi HSV disarankan untuk memberitahu
pasangannya, agar pasangannya juga memeriksakan diri ke dokter.
 Pencegahan
Upaya untuk mencegah penularan herpes genital adalah senantiasa
melakukan hubungan seksual yang aman dengan tidak bergonta-ganti
pasangan. Jika pernah mengalami herpes genital, sebaiknya bicarakan
kondisi ini kepada pasangan dan sarankan pasangan untuk melakukan
pemeriksaan agar dapat segera diobati jika tertular.

13
11.Candidiasis

 Pengertian
Candidiasis adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh jenis jamur yaitu
Candida, atau Candida albicans. Candidiasis dapat mempengaruhi area
kelamin, mulut, kulit, dan darah. Selain itu, obat-obatan dan kondisi
kesehatan tertentu dapat menyebabkan lebih banyak jamur yang
tumbuh, terutama di area tubuh yang hangat dan lembap. Candidiasis
pada vagina disebut yeast vaginitis dan candidiasis pada mulut dikenal
sebagai thrush. Gejala candidiasis bervariasi tergantung pada area
infeksi. Anda mungkin memiliki bagian kulit berwarna merah atau putih
yang menyebabkan gatal dan iritasi. Tanda-tanda lainnya meliputi
kesulitan menelan atau rasa sakit.
Candidiasis dapat menyebabkan rasa tidak nyaman namun tidak
membahayakan nyawa. Ada beberapa bentuk candidiasis yang serius
dan memerlukan pengobatan medis, seperti candidiasis yang masuk ke
aliran darah, yang juga dikenal sebagai candidemia atau candidiasis
invasif.
 Gejala
I. Area kulit. Anda mungkin memiliki bagian kulit berwarna merah
atau putih yang gatal, perih, dan meradang.
II. Area genital. Pada wanita, infeksi jamur pada vagina dapat
mengakibatkan gejala rasa gatal yang ekstrem, kemerahan, serta
rasa sakit pada area vagina. Cairan vagina terlihat berwarna putih
dan kental. Pada pria, gejala dapat meliputi rasa sakit, gatal, dan
perih pada ujung penis. Pria dan wanita dapat merasakan sakit
saat berhubungan seks.
III. Mulut dan kerongkongan. Sering disebut thrush, dapat
menghasilkan bercak-bercak putih pada lidah dan mulut. Gusi
juga dapat menjadi bengkak dengan luka berwarna merah dan
putih. Candida esophagitis yang mempengaruhi kerongkongan
dapat menyebabkan rasa sakit dan kesulitan saat menelan.
IV. Aliran darah dan organ lainnya. Dikenal sebagai candidemia,
dapat mengakibatkan demam dan menggigil.
 Penyebab
Penyebab utama candidiasis adalah jamur Candida atau Candida
albicans. Jamur ini ditemukan hampir di mana saja, termasuk tubuh
Anda. Jamur bertumbuh di area di mana terdapat kelembapan dan panas,
seperti area genital dan area tertentu pada kulit. Jamur dapat bertumbuh
pada orang dengan sistem imun yang lemah, seperti wanita hamil, orang
dengan diabetes, atau HIV atau AIDS. Mengonsumsi antibiotik dalam
jangka panjang dapat membunuh bakteri alami yang berada di tubuh
Anda, membuat Candida bertumbuh.
 Pengobatan
I. Lakukan kebersihan gigi yang baik. Sikat gigi setidaknya 2 kali
sehari dan floss 1 kali sehari. Ganti sikat gigi dengan sering
sampai infeksi pulih. Jangan bergantian sikat gigi.
II. Kumur dengan air garam hangat. Larutkan ½ sendok teh garam
(2,5 mL) dengan 1 cup (235 mL) air hangat. Kumur dan buang
larutan, jangan ditelan.

14
III. Gunakan nursing pads jika Anda menyusui dan memiliki infeksi
jamur. Gunakan pad untuk membantu mencegah penyebaran
jamur ke pakaian Anda. Pilihlah pad yang tidak terbuat dari
plastik, yang dapat menjadi tempat bertumbuhnya candida. Jika
Anda tidak menggunakan pad sekali pakai, cuci nursing pad dan
bra dengan air panas dengan pemutih.
IV. Jaga kadar gula. Pastikan kadar gula darah Anda terkendali, jika
Anda memiliki diabetes.
V. Hindari potensial iritan. Iritan seperti sabun dengan pewangi,
shower gel, deodoran, tisu basah dan pembersih vagina dapat
menyebabkan atau memperburuk infeksi.
VI. Hindari penggunaan pakaian yang ketat. Pakaian dalam, legging,
dan celana yang ketat dapat membuat area genital lembap,
mengakibatkan infeksi.

12.Situasi PMS dan HIV/AIDS di Indonesia

Beberapa studi epidemiologi yang pernah dilakukan di Indonesia memperlihatkan bahwa


prevalensi HIV/AIDS rendah dan beberapa PMS, seperti chlamidia, cukup problematik. Dari
penelitian ini juga terungkap bahwa beberapa kegiatan surveilans sentinel sedang berjalan
yang seringkali tumpang tindih.Pekerja seks di Surabaya misalnya mengeluhkan bahwa
mereka dites oleh beberapa tim peneliti yang berbeda. Dalam meninjau kegiatan-kegiatan
HIV/AIDS dan PMS yang ada, ditemukan 2 bidang yangmasih lemah yaitu advokasi dan
pengembangan kebijakan strategi. Pengembangan penelitian sebaiknya diarahkan untuk
memperbaiki 2 bidang penting ini. Penelitian-penelitian berikut sebaiknya
mengkombinasikan metode kualitatif dan kuantitatif, tetapi bukan merupakan kombinasi
antara penelitiasn epidemiologi dengan penelitian sosial /behavorial karena bisa
menimbulkan persoalan. Orang akan cemas atau khawatir karena adanya komponen
surveilans dan mungkin tidak akan terbuka dan jujur dalam penelitian behavioral atau
peiilaku. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kegiatan dan penelitian
tentang PMS dan HIV/AIDS. Pertama, masalah etika yang menyangkut kerahasiaan dan
anonimitas dalam penelitian, termasuk akuntabilitas dan transparansi. Kedua, aspek gender
yang belum nampak kuat dalam berbagai kegiatan PMS dan HIV/AIDS yang ada sekarang.
Organisasi-organisasi perempuan banyak yang masih manganggap bidang ini tidak sebagai
prioritas. Ketiga, proses partisipatoris yaitu dengan melibatkan kelompok sasaran, misalnya
pekerja seks atau waria dan juga LSM, dalam perencanaan program. Keempat,
pengembangan jaringan di antara lembaga pemerintah, LSM dan universitas yang bergerak
daiam kesehatan reproduksi untuk mengurangi tumpang tindih kegiatan, bahkan konflik.
Kelima, pengembangan self-help activities di dalam kelompok sasaran, misalnya kelompok
Berdaya

13. Peran gender dalam masalah PMS dan HIV-AIDS di Indonesia

Di masyarakat, jender menentukan bagaimana dan apa yang harus diketahui oleh laki-laki
dan perempuan mengenai masalah seksualitas, termasuk perilaku seksual, kehamilan dan
penyakit menular seksual (PMS). Konstruksi sosial mengenai atribut dan peran feminin ideal
menekankan bahwa ketidaktahuan seksual, keperawanan, dan ketidaktahuan perempuan
mengenai masalah seksual merupakan tanda kesucian.

15
Data juga menunjukkan bahwa perbedaan definisi budaya diaplikasikan kepada laki-laki yang
diharapkan lebih berpengetahuan dan berpengalaman sehingga mengambil posisi sebagai
pengambil keputusan dalam masalah seksual. Penelitian juga membuktikan bahwa pandangan
jender ini merupakan bagian dari proses sosialisasi sejak kanak-kanak dan bagaimana
harapan mengenai pengetahuan ini tertanam di antara laki-laki dan perempuan. Misalnya
kemampuan remaja perempuan untuk mencari informasi atau membicarakan mengenai seks
dibatasi oleh norma budaya yang kuat mengenai keperawanan. Remaja perempuan takut
mencari informasi mengenai seks atau kondom menjadikan mereka dianggap aktif seksual
tanpa memandang aktivitas seksual yang sebenarnya. Juga, jika keluarga mereka mengetahui
bahwa mereka mencari pelayanan seksual, maka keperawananannya akan dipertanyakan.

Akibatnya, perempuan tidak mendapat informasi yang cukup mengenai reproduksi dan seks.
Contohnya, remaja perempuan banyak yang tidak mengetahui tubuh mereka sendiri,
kehamilan, kontrasepsi dan PMS. Perempuan miskin dari sebuah negara berkembang
menyatakan bahwa mereka tidak mendapatkan informasi apapun tentang seks sebelum
pengalaman pertama mereka. Kurangnya informasi ini membatasi kemampuan perempuan
untuk melindungi diri mereka sendiri dari HIV, serta malah menimbulkan ketakutan di antara
perempuan mengenai penggunaan kondom. Hal itu terjadi karena dalam sebuah studi
ditemukan bahwa perempuan takut memakai kondom karena takut tertinggal di dalam vagina,
lalu pindah ke kerongkongan. Ketakutan lainnya dalam memakai kondom adalah apabila
kondom ditarik keluar maka organ reproduksinya akan turut terlepas. Studi lain menunjukkan
bahwa kurangnya informasi mengenai tubuh mereka membatasi kemampuan perempuan
untuk mengenali gejala gangguan pada organ reproduksinya akibat PMS.

Walaupun tidak ada data pasti mengenai bagaimana perbedaan jender mempengaruhi
pengetahuan mengenai pelayanan HIV/AIDS, fakta di lapangan menunjukkan adanya
perbedaan jender dalam sikap mengenai konsep sakit-sehat secara umum. Misalnya, sebuah
studi di India menemukan bahwa seorang perempuan cenderung menerima gatal, panas, dan
keputihan yang merupakan gejala PMS sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan
reproduksi mereka.

Sikap dan Perilaku

Perilaku tidak akan berubah tanpa upaya mengubah sikap perempuan dan laki-laki terhadap
peran jender karena hal itu berkaitan dengan seksualitas dan risiko seksual terkena HIV.
Norma dan harapan jender yang diakibatkan oleh pengetahuan perempuan dan laki-laki
mengenai risiko seksual dan pencegahan HIV sangat berkait dengan sikap dan perilaku yang
menambah risiko individu mereka terhadap HIV dan diperburuk dengan kemampuan mereka
untuk mengurangi dampak penyakit. Contohnya pada budaya di mana keperawanan sangat
dihargai, penelitian menemukan bahwa remaja perempuan melakukan perilaku seksual
alternatif untuk melindungi keperawanan, walaupun malah menempatkannya berisiko terkena
HIV. Misalnya, dengan melakukan anal seks, selain untuk menjaga keperawanan juga untuk
mencegah kehamilan pada pasangan belum menikah.

Temuan lainnya juga menyatakan bahwa remaja perempuan yang masih perawan menjadi
berisiko tinggi karena laki-laki menganggap keperawanan perempuan yang menandakan
kepolosan dan kepasifan mereka sebagai sesuatu yang erotis. Dalam kaitannya dengan
penularan HIV/AIDS, keperawanan juga merupakan simbol kebersihan dan kesucian,
sehingga bebas dari penyakit. Di daerah di mana prevalensi HIV/AIDS tinggi, laki-laki yang

16
lebih tua mencari gadis yang jauh lebih muda, karena dipercaya, bahwa sebagai perawan,
mereka bebas dari HIV, dan dapat dibayar dengan uang atau hadiah.

Pada budaya di mana perempuan disosialisasikan untuk menyenangkan laki-laki dan berada
di bawah kuasa laki-laki, terutama dalam hubungan seksual, perempuan kadang berada dalam
hubungan seksual berisiko tinggi yang mereka anggap dapat memuaskan laki-laki. Misalnya,
dengan memasukkan benda asing ke dalam vagina untuk memperkuat liang vaginanya agar
menambah kenikmatan laki-laki selama hubungan seksual. Benda itu misalnya ramuan, akar,
bedak gosok yang dapat menyebabkan radang, luka dan lecet sehingga meningkatkan risiko
tertular HIV. Pemakaian benda tersebut juga untuk mengeringkan liang vagina mereka karena
jika terlalu basah maka dianggap merupakan gejala adanya PMS yang dapat menunjukkan
ketidaksetiaan mereka.

Manifestasi lain dari kuasa laki-laki adalah hubungan seksual tanpa ikatan resmi, yang diakui
merupakan hambatan untuk memperkecil risiko mereka dari infeksi HIV. Paksaan dalam
berhubungan seksual pada remaja perempuan berkaitan dengan kehamilan remaja. Sedangkan
pada perempuan dewasa, hal itu berkaitan dengan masalah nyeri panggul kronis dan masalah
kebidanan-kandungan lainnya dan psikologis. Pada sebuah studi di Afrika Selatan, ditemukan
bahwa 30% anak perempuan yang sudah berhubungan seksual, 30% hubungan seksual
pertama mereka terjadi di bawah paksaan, 71% di luar kehendak mereka, dan 11%
diperkosa.

Data-data tersebut menunjukkan bagaimana pengetahuan, sikap dan perilaku seksual laki-laki
dan perempuan sangat dipengaruhi oleh norma jender dan harapan-harapan, serta bagaimana
peran jender berkontribusi terhadap risiko individu untuk terkena infeksi HIV.

14. Ayat Al-Qur’an tentang penyakit menular seksual

َّ ‫ب ا ْلفَأ ْ َل ال‬
‫صا ِل َح‬ ُّ ‫ َوأ ُ ِح‬, َ‫ َوالَ ِطيَ َرة‬,‫عد َْوى‬
َ َ‫ ال‬: ‫بي‬ َّ ‫ قَا َل‬: ‫ع َْن أَبِ ْي ُه َر ْي َرةَ قَا َل‬
ُّ ِِ ‫الن‬
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: “Tidak ada penyakit menular dan
thiyarah (merasa sial dengan burung dan sejenisnya), dan saya menyukai ucapan yang
baik”.

(Muslim: 2223)

17
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

PMS merupakan penyakit yang terjadi akibat adanya infeksi mikroorganisme patogen
di area kelamin. Macam-macam penyakit menular seksual yaitu HIV/AIDS, Gonorea
dan Sifilis. Cara pencegahan penyakit menular seksual yaitu dengan tidak berganti-
ganti pasangan ( setia pada pasangan ), selalu menggunakan kondom, tidak
melakukan hubungan seksual sebelum menikah, tidak menggunakan narkoba (jarum
suntik secara bergantian), selalu menggunakan peralatan medis yang steril, menjaga
personal hygine dan yang terpenting menjaga akhlak dan meningkatkan keimanan

2. Saran

1) Bagi Petugas kesehatan


Asuhan yang diberikan pada penderita penyakit menular seksual baik itu HIV/AIDS,
gonorea dan sifilis khususnya klien wanita tidak hanya berfokus pada aspek biologis
saja tetapi juga harus memperhatikan aspek psikologis, soaial dan spiritual serta
hubungan Interpersonal. Ini dalam rangka untuk meningkatkan perawatan secara
holistik pada penderita PMS
2) Bagi Keluarga dan Orang Terdekat
Agar senantiasa mengikuti pelatihan dalam merawat penderita PMS sehingga kualitas
hidup baik penderita maupun keluarga yang hidup dengan PMS khususnya wanita
semakin baik.Memberikan support dan dukungan kepada keluarga yang terkena PMS
dan Senantiasa menjaga kebersihan diri, lebih baik mencegah dari pada mengobati

18
DAFTAR PUSTAKA

Kumalasari, Intan. Andyantoro, Iwan. Kesehatan Reproduksi untuk Kebidanan dan


Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta. 2012

Malik SR, Amin S, Anwar AI. Amiruddin. Penyakit Menular Seksual. Makassar: Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin; 2004.

Manuaba, IGB. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. EGC.
Jakarta;1998.

Nugroho, Taupan. Buku Ajar Ginekologi untuk Kebidanana. Muha Medika. Yogyakarta.
2010

Nurrachma, Elly. Jurnal Faktor Pencegahan HIV/AIDS. Fakultas Kesehatan jurusan


Keperawatan. Universitas Indonesia.2009

Widyatun, Diah. Penyakit Menular Seksual. Jurnal Bidan Diah. 2012

19
MAKALAH
“Penyakit Menular Seksual”

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 9
NAMA ANGGOTA:

 NUR APNI
 NUR AZIZAH AMALIA

KELAS : 1.B
FAKULTAS : ILMU KESEHATAN
DOSEN PENGAMPU : AYU DWI PUTRI RUSMAN, SKM, M.PH

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PARE PARE


TAHUN AKADEMIK 2019/2020

20