Anda di halaman 1dari 16

Analisa Kasus "Setya Novanto

sebagai Pelanggaran Kode Etik Pejabat DPR RI"

Kronologi Pertemuan Maroef Sjamsoeddin, Setya Novanto dan Reza Chalid

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin membeberkan kronologi


pertemuan dengan Ketua DPR Setya Novanto dan pengusaha M Reza Chalid. Khusus
dengan Setya, ada tiga kali pertemuan. Bagaimana kronologinya?

Dari penjelasan Maroef di sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), Kamis


(3/12/2015), sedikitnya ada tiga kali pertemuan antara dirinya dengan Setya Novanto.
Berawal dari pertemuan di DPR sampai akhirnya di Ritz Carlton pada 8 Juni 2015 lalu
yang direkam oleh Maroef.

Sejak awal, ada yang aneh dengan Setya Novanto. Mulai dari meminta pertemuan
pertama dilakukan empat mata, sampai mengajak pengusaha Reza Chalid saat
bertemu Maroef.

Bagaimana kronologi lengkapnya? Berikut cerita detail Maroef soal pertemuan tersebut:

Januari 2015

Maroef baru diangkat sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia. Oleh komisaris
PT Freeport Indonesia, Marzuki Darusman, dia diminta bertemu dengan Ketua DPR,
Setya Novanto. Dalam ceritanya, Maroef juga mengatakan sempat diajak bertemu saat
Setya belum menjadi ketua DPR, namun batal.

Untuk melaksanakan pertemuan itu, Maroef kemudian membuat permohonan


kunjungan juga ke DPD dan MPR. Dasarnya, untuk alasan kesopanan.

April 2015

Maroef memulai rangkaian kunjungan pertemuan dengan DPR, DPD dan MPR. Di
kunjungan ke pimpinan DPD dan MPR, Maroef membawa staf dan diterima oleh
sejumlah pimpinan lain. Namun, khusus saat berkunjung ke ruangan Setya Novanto,
dia diminta untuk masuk sendiri.

"Saat saya akan masuk ke ruangannya, salah satu stafnya bilang melalui sespri saya
bilang staf saya tidak boleh masuk," cerita Maroef yang menyebut pertemuan itu
berlangsung selama 45 menit. Saat itu, mereka membahas profil perusahaan Freeport
dan kontribusi Freeport terhadap masyarakat Papua.

Menjelang akhir pertemuan, Setya mengatakan kepada Maroef: "kapan-kapan ketemu


lagi ya? Kita ngopi-ngopi". Maroef pun menjawab iya dengan alasan menghormati
petinggi negara. Saat itu, Setya juga menyebut akan mengajak kawannya, namun tidak
disebutkan siapa.

Awal Mei 2015

Maroef mendapat SMS dari Setya Novanto. Isinya: "bisa saya call?". Dengan alasan
menghargai petinggi negara, Maroef kemudian yang menelepon Setya. Dalam
pembicaraan itu, Setya menanyakan kemungkinan adanya pertemuan lanjutan setelah
di ruangan Ketua DPR. Saat itu, Maroef mengatakan hal itu akan diatur oleh stafnya.

13 Mei 2015

Akhirnya, pertemuan pun digelar pada 13 Mei 2015. Setya Novanto yang menentukan
tempatnya, yakni di Hotel Ritz Carlton lantai 21, di sebuah ruang rapat. Staf Setya
Novanto yang mengurus pertemuan bernama Dina.

Sesampainya di hotel, Maroef dijemput oleh staf Setya Novanto ke lantai atas. Kala itu,
dia datang terlambat karena baru kembali dari Bandung.

Di ruang rapat lantai 21, sudah menunggu Setya Novanto dan seorang pengusaha
minyak bernama Reza Chalid. Saat itu, Setya Novanto memperkenalkan Reza sebagai
kawannya. Maroef menyebut, itu adalah pertama kalinya dia bertemu Reza.

Suasana pertemuan saat itu berlangsung santai. Maroef menyebut Reza Chalid
pembawaannya sangat 'humble' dalam berkomunikasi. Mereka bertemu selama satu
jam, bicara soal peluang bisnis Freeport dan lain-lainnya. Ketika itu, belum ada
pembicaraan mendalam soal smelter dan kontrak karya, walaupun sempat disinggung
sekilas.

Usai pertemuan, Maroef merasa ada yang aneh dengan pertemuan tersebut. Mereka
malah membahas bisnis. Terlebih lagi, pembicaranya adalah seorang ketua DPR dan
pengusaha. Dia heran, kenapa Setya tidak mengajak anggota atau ketua Komisi VII
DPR, sebagai bidang yang mengurusi energi.

Tak lama setelah pertemuan, Reza Chalid sempat mengirim pesan singkat pada
Maroef. Isinya "M Reza Chalid". Tapi saat itu, tak langsung ditanggapi oleh Maroef.

8 Juni 2015

Pada bulan Juni Maroef menerima SMS dari Reza Chalid untuk mengadakan
pertemuan dengan Setya Novanto. Untuk memastikan pertemuan ini memang
diprakarsai oleh Setnov, dirinya menghubungi staf Setya Novanto yang mengkonfirmasi
kebenaran jadwal pertemuan tersebut yang diatur pada tanggal 8 Juni 2015.

Pertemuan kemudian diatur kembali oleh Setya Novanto lewat stafnya. Lokasinya,
sama dengan pertemuan kedua, yakni di Hotel Ritz Carlton lantai 21. Ketika itu, Maroef
datang hampir bersamaan dengan Setya Novanto.

Sebelum pertemuan dimulai, ada salah seorang staf Reza Chalid yang menyampaikan
ke Maroef bahwa Reza akan terlambat. Saat itu, Maroef merasa heran, mengapa Reza
kembali ikut pertemuan. Akhirnya, dia berinisiatif untuk merekam pertemuan karena
tahu bakal berhadapan dengan dua orang.

"Waktu saya masuk HP saya sudah saya taruh di atas meja sudah dalam posisi
merekam. Poisisi duduk meja yang mulia adalah kepala meja duduk ketua DPR, bisa
untuk 12 orang mejanya. Saya duduk di sebelah kiri dan sebalah kanan Riza Chalid.
HP ditaruh di atas meja dalam posisi on. Tidak ada berhenti sedikit pun selama
pembicaraan," kata Maroef.

Rekaman dalam pertemuan itu berlangsung selama 1 jam 30 menit. Maroef mengaku
tidak pernah menghentikan rekaman. Dia mengkonfirmasi bahwa rekaman itu sama
dengan yang diperdengarkan di MKD, Rabu (2/12) malam kemarin. Isinya soal
permintaan saham sampai pencatutan nama presiden dan wakil presiden.

Selama proses pembicaraan, Maroef merasa apa yang disampaikan Setya Novanto
dan Reza sudah melebar. Bahkan cenderung tidak pantas. Akhirnya, Maroef berusaha
menyudahi pertemuan itu, namun dengan cara sopan.

"Saya berdiri saya sambil bilang terima kasih waktunya," ucapnya.

Juni 2015

Setelah pertemuan itu, Maroef melapor kepada Jim Bob sebagai atasannya di Freeport.
Mantan wakil kepala BIN itu mengatakan ada permintaan saham dari Reza dan Setya
untuk proyek PLTA. Keduanya juga menjanjikan bisa membantu Freeport terkait urusan
perpanjangan kontrak karya.

Reaksi Jim Bob pun cukup keras. Dia menolak mentah-mentah permintaan itu. Bahkan
sempat mengatakan: "kalau kamu mau masukkan saya ke penjara, lakukan."

Selanjutnya, Maroef melapor kepada Sudirman Said. Sampai akhirnya rekaman itu
diserahkan secara utuh pada bulan Oktober 2015 dan akhirnya kelakuan Setya
Novanto dilaporkan ke MKD.

16 November 2015: Menteri ESDM Sudirman Said laporkan SN ke MKD


Sudirman melaporkan anggota DPR berinisial SN tersebut yang diduga sebagai Ketua
DPR Setya Novanto ke MKD hari ini. Namun Sudirman menolak menyebut nama Setya
Novanto secara terang-terangan.

"Saya dalam pertemuan dengan Majelis Kehormatan DPR telah menjelaskan nama,
waktu, dan tempat kejadian dan pokok pembicaraan yang dilakukan oleh oknum salah
satu anggota DPR dengan pimpinan PT Freeport Indonesia agar ditindaklanjuti," kata
Sudirman.

Sore harinya, Jusuf Kalla dijadwalkan menerima Ketua DPR RI Setya Novanto di
Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Berdasarkan informasi dari situs resmi Sekretariat Wakil Presiden pada Senin, Setya
Novanto menemui Kalla pada pukul 15:00 WIB.

Namun Setya membantah tudingan tersebut. "Saya selaku pimpinan DPR tidak pernah
membawa nama Presiden dan mencatut nama Presiden," katanya kepada media.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said membeberkan
kronologi pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden dalam perpanjangan kontrak
PT Freeport Indonesia (PTFI).
Sebelumnya, Sudirman mengungkapkan ada oknum anggota Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR) RI yang mencatut nama Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan Wakil
Presiden Jusuf Kalla untuk memuluskan renegosiasi kontrak PT Freeport Indonesia (PT
FI) di Papua.

"Seolah-olah Presiden minta saham. Wapres juga dijual namanya. Saya sudah
laporkan kepada keduanya. Beliau-beliau marah karena tak mungkin mereka
melakukan itu," kata Sudirman, seperti dikutip media.
"Keduanya (Presiden dan Wapres) sangat marah. Pak Jokowi mengatakan, ‘Ora
sudi'. Ora sudi kan ungkapan Jawa yang sangat dalam," kata Sudirman.

17 November 2015: Menkopulhukam Luhut disebut terkait

Selain Setya, nama Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar
Panjaitan disebut mengetahui saham yang akan diberikan untuk Presiden Jokowi dan
Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Dalam transkrip rekaman tersebut, pengusaha bernama Reza yang hadir bersama
Setya Novanto menyebutkan keterlibatan Luhut dalam besaran saham untuk
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Rencananya, mereka mencari referensi yang dapat bekerjasama dengan PT. Freeport
Indonesia. Dalam skenario ini Freeport hanya akan memiliki saham sebesar 51 persen.

"Nomininya Pak ... Dari Pak Luhut. Saham itu juga memang kemauannya Pak Luhut,
gitu. Cari reefrensi Freeport dari pengusaha seperti yang dulu dilakukan oleh kita
kepada pengusaha," bunyi transkrip tersebut.
Setya Novanto diminta mundur sementara

Direktur Advokasi Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) Ronald
Rofiandri mendesak Setya Novanto mengundurkan diri sementara sebagai Ketua DPR
RI untuk mempermudah proses pemeriksaan oleh MKD.

"Kami mendesak terlapor, Setya Novanto, untuk secara sementara mengundurkan diri
dari jabatan Ketua DPR sampai ada putusan tetap dari MKD," kata Ronald, Selasa.

Sementara itu, usai bertemu Setya di kantornya kemarin, Kalla menyatakan akan
menunggu proses lebih lanjut di DPR.

"Kan sudah di mana-mana disebut, ya kita menunggu proses di DPR dulu. Itukan tahap
pertama," kata Kalla.
19 November 2015: Luhut bantah catut nama Jokowi
"Saya enggak ada waktu untuk gitu-gituan," kata Luhut dalam konferensi pers di
kantornya.

Luhut juga membantah ada pertemuan antara dia dengan pihak Freeport. "Tidak
pernah," ujarnya.

Selain Luhut, nama Deputi I Kepala Staf Kepresidenan Darmawan Prasodjo juga
disebut. Saat itu ia adalah anak buah Luhut, saat ia menjabat sebagai Kepala Staf
Kepresidenan.
23 November 2015: MKD mulai rapat internal proses dugaan pelanggaran kode
etik Setya

Rapat kasus dugaan pelanggaran kode etik Setya dijadwalkan akan digelar internal
oleh MKD hari ini.
Namun, belakangan muncul sebuah petisi di Change.org yang meminta agar sidang
MKD DPR dibuka untuk umum.
“Sidang terbuka adalah jalan yang baik bagi pengembalian nama baik institusi legislatif
Indonesia,” tulis inisiator petisi, Kurnia Ramadhana, seorang relawan yang
mengatasnamakan kelompok Gerakan Turun Tangan Medan.

Apa hasilnya?

Alih-alih memutuskan nasib Setya Novanto hari ini, anggota dan pimpinan MKD justru
mempermasalahkan keabsahan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman
Said sebagai pelapor kasus ini.

Ketua Mahkamah Surahman Hidayat menuturkan, keabsahan pelapor itu tercantum


dalam pasal 5 bab IV Peraturan Tata Beracara Mahkamah.
"Apa eksekutif boleh melaporkan legislatif, apalagi Ketua DPR," kata dia di usai rapat.

MKD selanjutnya akan mengadakan rapat lagi besok dan memanggil ahli hukum untuk
mendalami peraturan tersebut.

MKD juga mempermasalah keabsahan barang bukti. Wakil Ketua Mahkamah


Hardisoesilo menyebut laporan dan barang bukti berbeda. Durasi rekaman tertulis 120
menit di laporan tapi durasi barang bukti hanya 11 menit 38 detik.
"Rekaman ini seperti terpotong dan tidak bisa dijadikan barang bukti," katanya.
MKD sidang perdana kasus SN, diupayakan digelar terbuka
Majelis Kehormatan Dewan akan menggelar sidang pertama dugaan ketua DPR Setya
Novanto (Setnov) memalak 20 persen saham perseroan dan meminta jatah 49 persen
saham proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Urumuka, Papua pada PT
Freeport Indonesia (PTFI) dengan mencatut nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan
Wapres Jusuf Kalla (JK), hari ini. Dalam sidang pertama itu, Wakil Ketua MKD Junimart
Girsang akan menguatkan usulan agar sidang perkara Setnov bisa digelar secara
terbuka.

"Tidak perlu didesak (sidang terbuka) karena memang tata acara kita mengatur tentang
itu. MKD diberikan peluang untuk membuka sidang sifatnya terbuka. Kalau sidang
terbuka rakyat harus tahu proses persidangan. Dari awal saya ditunjuk ke MKD, saya
sudah sarankan agar semua sidang MKD terbuka, kecuali asusila atau anak-anak,"
kata Junimart di Kompleks Parlemen DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (23/11).

Ada beberapa keputusan yang akan diambil oleh MKD hari ini. Hal tersebut akan
dibahas dalam rapat internal.

"Yang pertama, apakah hasil verifikasi sudah bisa kita tingkatkan menjadi alat bukti ke
persidangan. Yang kedua bagaimana sifat persidangan apakah terbuka atau tertutup.
Ini nanti harus kita tetapkan," tuturnya.
2 Desember: Kesaksian Sudirman Said di MKD

Sidang di MKD hari ini mendengarkan kesaksian pelapor, yakni Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral Sudirman Said.
Sudirman memberikan bukti berupa transkrip rekaman dan rekaman utuh pada MKD.

"Pertemuan berlangsung tiga kali. Transkrip yang saya sampaikan adalah transkrip
ketiga," kata Sudirman dalam sidang.

Menurut Sudirman, pertemuan berlangsung di sebuah hotel di kawasan Pasific Place,


Sudirman, Jakarta. Penginisiasi pertemuan adalah Setya Novanto dan Riza Chalid.
Rekaman tersebut berdurasi 1 jam 27 menit.

Sidang berjalan dengan diwarnai interupsi para anggota MKD.

"Kenapa saya melaporkan ini? Karena kami sedang menjaga sektor yang kami urus
agar praktik-praktik semacam ini tidak terulang. Kita tahu bahwa Freeport sedang
dalam proses negosiasi, sementara itu ada pejabat negara yang seolah-olah bisa
mengambil solusi tapi sambil mengulurkan tangan meminta sesuatu," kata Sudirman.
"Pak Setya Novanto seolah-olah bisa mengatur sesuatu yang bukan urusannya," kata
Sudirman.

Anggota MKD Syarifuddin Suding bertanya mengenai alasan Sudirman Said


mengancam "harkat dan martabat" Setya.

"Kenapa Anda melaporkan ke MKD?" tanya Syarifuddin.

"Saya menteri dan jika saya tahu pejabat negara membawa-bawa nama Presiden yang
adalah lambang negara maka itu sama dengan merendahkan negara ini," kata
Sudirman.
Dia menyatakan sudah melaporkan kejadian ini pada Presiden dan Wakil Presiden.
Syarifuddin bertanya kenapa tidak lapor ke penegak hukum? Sudirman menjelaskan
bahwa dia tidak punya wewenang menilai apakah ini adalah pelanggaran hukum.

Berikut cuplikan percakapan Sudirman dengan anggota MKD:

Anggota MKD A. Bakrie (Fraksi PAN): Rekaman ini sudah lama, kenapa baru
disampaikan, apakah Anda ada agenda lain? Ada nama kolega Anda Pak Luhut,
kenapa Anda begitu nafsunya mengadukan Setya Novanto?
Sudirman: Saya hanya melakukan professional judgement, karena saya mendapat
laporan. Mengenai dalam rekaman ada pihak-pihak lain, itu saya serahkan pada
pimpinan saya yaitu Presiden dan Wakil Presiden yang saya yakin punya kebijakan
untuk menindaklanjutinya.

A. Bakrie: Kalau saya minta sekarang, apakah ada bukti lain?

Sudirman: Saya melaporkan pembicaraan yang berpotensi melanggar kode etik, jadi
buktinya catatan dan rekaman pembicaraan itu.

Anggota MKD Marsiaman Saragih (Fraksi PDI-P): Apakah Anda yakin tetap lanjut?
Tidak ada niat mencabut atau minta maaf kepada bangsa Indonesia karena ini sudah
mau akhir tahun?

Sudirman: Ini bukan urusan pribadi, saya tidak punya masalah apa-apa. Kami tetap
berteman tapi masalah ini harus tetap jadi masalah kenegaraan.

Marsiaman: Pak Sudirman ini mau pinjam tangan ya biar kami yang mengerjakan
maunya beliau ini. Kenapa rekamannya tidak diberikan semuanya.

Sudirman: Saya tidak punya niat apapun. Rekaman yang lain berisi hal yang terlalu
luas di luar bidang saya. Saya merasa tidak mau masuk ke wilayah luas.
3 Desember: Kesaksian Presdir Freeport Maroef Sjamsoeddin: 'Setya Novanto
tidak minta saham'

Anggota MKD memanggil Presiden Direktur PT FI Maroef Sjamsoeddin untuk memberi


kesaksian.

Maroef mengatakan bahwa yang meminta saham PT FI bukan Setya Novanto,


melainkan Muhammad Riza Chalid, seorang pengusaha.

"Tidak ada permintaan saham dari SN, tapi MR," kata Maroef dalam sidang.
Maroef juga mengaku telah menyerahkan telepon genggam yang digunakan untuk
merekam percakapannya dengan Setya ke Jaksa Agung.

"Saya semalam sudah dimintai keterangan Jaksa Agung dan Jaksa Agung Muda
Pidana Khusus. Telepon genggam yang saya gunakan saat merekam sudah diminta
tim penyidik Kejaksaan," kata Maroef.
Ia mengaku sengaja merekam pembicaraan antara dirinya dengan Setya dan Riza.
"HP saya taruh di atas meja dan posisi merekam. Posisi duduk saya, duduk di kirinya
Ketua DPR dan sebelah kanannya Riza. HP saya taruh di meja dalam posision," kata
Maroef.

Namun ia mengaku tidak pernah mengedarkan atau menyebarkan rekaman itu kepada
media.

Maroef bantah dijadikan Bos Freeport untuk urus perpanjangan kontrak

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin dicecar habis-habisan


oleh anggota MKD. Dalam sidang tersebut, Maroef yang memiliki latar belakang militer
itu ditanya soal kerja utamanya di perusahaan asal Amerika Serrikat itu.

Anggota MKD Akbar Faizal awalnya bertanya apakah Maroef pernah menduduki
jabatan lain selain di kemiliteran sebelum jadi bos Freeport. Hal ini karena tiba-tiba
seorang Waka BIN bisa duduk menjadi CEO di sebuah perusahaan multinasional
sekelas Freeport.

"Apakah salah satu tugas bapak untuk memperpanjang kontrak karya?" tanya Akbar
dalam sidang MKD di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (3/12).

"Tidak ada, saya secara profesional," jawab Maroef.

Akbar juga mencecar Maroef soal Freeport yang ngotot minta kekhususan. Padahal
Indonesia sudah memiliki UU Minerba dimana seluruh perusahaan asing harus tunduk
dan tidak ada lagi kontrak karya yang diperpanjang. Tetapi Freeport ngotot minta
kontrak karya dengan Indoensia diperpanjang.

"Yang mulia, ini bukan kekhususan, hanya saja perhitungan bisnis PT Freeport
menanamkan investasi yang besar. Sebelum proses produksi ada persiapan panjang
sebelum proses berproduksi, proses nya bisa 5 sampai 10 tahun persiapannya," jawab
Maroef.
4 Desember: MKD akan panggil Setya Novanto hari Senin

MKD dijadwalkan akan memeriksa Setya dalam sidang hari Senin, 7 Desember,
mendatang.

"Rapat internal tertutup MKD untuk menyusun jadwal berikutnya diwarnai perdebatan
siapa yang akan dipanggil berikutnya. Akhirnya diputuskan akan memanggil Setya
Novanto pada sidang MKD berikutnya," kata Wakil Ketua MKD Junimart Girsang,
Jumat, 4 Desember, dini hari.

Keputusan MKD memanggil Setya setelah meminta keterangan dari Presiden Direktur
PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, Kamis, dan Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral Sudirman Said, pada Rabu.

Sebelumnya, pengusaha Muhammad Riza Chalid juga dipanggil bersamaan dengan


Maroef, namun tidak hadir dengan alasan sedang berada di luar negeri.
7 Desember: Sidang Setya Novanto tertutup

Anggota MKD dari Fraksi Partai Nasdem mengonfirmasi bahwa sidang MKD dengan
agenda meminta penjelasan Setya, dipastikan dilaksanakan tertutup.

Petugas pengamanan dalam (Pamdal) sendiri membuat pagar betis di depan ruang
MKD. Mereka berjumlah sekitar 50 orang.

Sidang MKD hari ini dipimpin Kahar Muzakir dari Partai Golkar, partai yang sama
dengan Setya.

Menurut anggota MKD lainnya, Dimyati Natakusumah, sidang mendengarkan


keterangan Setya dinyatakan ditutup atas permintaan yang bersangkutan.

Padahal sebelumnya, anggota MKD lainnya dari Fraksi PDI-P, Junimart Ginsang,
mengatakan bahwa sidang akan dibuat terbuka, mengingat pemanggilan dua saksi
sebelumnya — Presdir PT FI Maroef Sjamsoeddin dan Menteri ESDM Sudirman Said
— dilakukan terbuka dan disiarkan langsung oleh televisi.

"Pada dua persidangan MKD sebelumnya berlangsung secara terbuka, kalau sekarang
berlangsung tertutup tentu akan menjadi janggal dan menjadi pertanyaan publik," kata
Junimart, Senin pagi.
Setya tak bisa menerima aduan Sudirman

Anggota MKD, Guntur Sasono, mengatakan Setya tidak bisa menerima apa yang
disampaikan pengadu, dalam kasus ini adalah Menteri ESDM Sudirman Said.
“Kita dengar pembelaan beliau. Beliau tidak bisa menerima apa yang disampaikan oleh
pengadu. Kan beliau punya hak juga untuk membela,” kata Guntur, saat rehat sidang
MKD.

Setya mengatakan rekaman yang diberikan Sudirman Said tidak sah. Ia juga menilai
bahwa dirinya memiliki hak legal standing bahwa rekaman itu diambil tanpa izin dan
melanggar hukum.
14 Desember: 3 anggota MKD di konpers Luhut dinilai langgar kode etik

Kehadiran tiga anggota MKD dalam konferensi pers Menkopolhukam Luhut Panjaitan
dinilai sebagai pelanggaran kode etik.

Sebelumnya Rappler laporkan bahwa Kahar Muzakkir, Ridwan Bae, dan Adies
Kadir hadir dalam konferensi pers Luhut di kantornya, pada Jumat, 11 Desember, lalu.
Ketiganya adalah kader Fraksi Partai Golkar.

"Kami dalam rapat pimpinan memutuskan undangan via fax dari sekretariat Pak Luhut,
tidak datang," kata Wakil Ketua MKD Junimart Girsang, Senin.

Menurut Junimart, MKD sudah memutuskan melalui rapat pimpinan untuk tidak hadir
meski diundang oleh Luhut.
Alasannya? Untuk menjaga independensi.
14 Desember: Riza Chalid mangkir dari sidang MKD untuk kedua kali

Pengusaha Riza Chalid dilaporkan tak akan menghadiri sidang MKD hari ini. Ia
dijadwalkan tiba di Gedung DPR pukul 10:30 pagi. Hingga tak kunjung tiba pada pukul
11:00 sidang MKD pun ditutup.

"Sudah kita tutup sidangnya, beliau (Riza Chalid, Red) tidak datang," kata anggota
MKD Junimart Girsang.

Ini adalah kali kedua Riza mangkir dari pemanggilan MKD. MKD akan melaksanakan
rapat internal untuk putuskan apakah akan memanggil paksa Riza atau tidak, jika ia
tetap mangkir pada pemanggilan ketiga.

Agenda lain MKD hari ini adalah pemanggilan terhadap Menteri Koordinator Politik,
Hukum, dan Keamanan Luhut Panjaitan.

14 Desember 2015: Luhut semprot anggota MKD: Mohon komentar yang Mulia
diukur!

Menko Polhukam, Luhut Binsar Pandjaitan, masih memberikan keterangan di hadapan


majelis Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) soal dugaan pelanggaran etik Ketua
DPR, Setya Novanto. Luhut ditanya seputar isi rekaman yang namanya disebut
sebanyak 66 kali.

Beberapa pertanyaan anggota MKD langsung dijawab tegas Luhut. Luhut juga tak
segan menjawab ketus pertanyaan yang dianggapnya tak substantif.

Seperti saat ditanya anggota MKD dari Fraksi PAN, A Bakri. Bakri bertanya soal
pembicaraan Luhut yang mengaku bertemu dengan Jokowi tadi malam.

"Pak Luhut akhir-akhir ini marah, Pak Jokowi marah, apakah dalam pertemuan tadi
malam tak membahas soal masalah ini (kontrak Freeport). Rasanya tak mungkin, tapi
ya tidak apa-apa," kata Bakri, di ruangan sidang MKD, Gedung DPR, Senin (14/12).

Luhut semula diam mendadak melakukan instruksi. "Instruksi pimpinan, saya di sini
disumpah, mohon komentar yang mulia diukur, jangan sampai pertanyaan yang mulia
membuat saya melanggar sumpah," ucap Luhut tegas.

Tak bisa konfirmasi pernyataan yang sebut namanya, Luhut akui belum dengar
rekaman

Menkopolhukam Luhut Panjaitan mengaku belum sempat mendengar rekaman ataupun


membaca transkrip yang beredar di media. Dalam rekaman tersebut, nama Luhut
disebut sebanyak 66 kali.

"Saya tidak ambil pusing mengenai itu, sampai hari ini saya belum membaca bahkan
mendengar rekaman tersebut," kata Luhut. Menurutnya, ia hanya baru mendengar
mengenai rekaman tersebut melalui berita di televisi secara sekilas saat ia sedang
berolahraga di atas treadmill.

Luhut juga mengaku bahwa ia tidak pernah membicarakan masalah Freeport dengan
Setya Novanto maupun Riza Chalid.

16 Desember: Setya Novanto mundur, sidang ditutup

Sidang MKD hari ini akan memutuskan nasib Ketua DPR Setya Novanto. Namun
sidang kalah cepat. Setya Novanto mengundurkan diri sebagai ketua DPR terlebih
dahulu.

Setya Novanto resmi mundur dari ketua DPR

Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) memastikan Setya Novanto mundur dari jabatan
Ketua DPR. Keputusan itu terhitung dimulai hari ini.
Hal itu dibacakan Ketua MKD Surahman Hidayat dalam sidang putusan pelanggaran
etika Setya.

"Terhitung sejak Rabu 16 Desember 2015, dinyatakan berhenti dari ketua DPR periode
2014-2019," kata Surahman di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (16/12).

Atas mundurnya Setya, kata Surahman, maka sidang dugaan pelanggaran etik Setya
dinyatakan ditutup. Artinya tidak ada lagi pembahasan tentang kasus ini.

"Sidang dinyatakan ditutup," tegasnya.

Seperti diketahui, Setya Novanto menyerahkan surat pengunduran diri sebagai ketua
DPR ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Hasil sidang, 10 anggota MKD
memberikan sanksi sedang, sedangkan 7 anggota meminta sanksi berat.

Pelanggaran berat:
Sufmi Dasco Ahmad (Gerindra): Meskipun ada ketidaksesuaian alat bukti, ini dugaan
pelanggaran etik berat.
Supratman (Gerindra): Ini pelanggaran berat, harus bentuk panel.
Adies Kadir Karding (Golkar): Pelanggaran berat. Harus bentuk panel.
Ridwan Bae (Golkar): Pelanggaran berat
Achmad Dimyati Natakusumah (PPP): Sanksi berat.

Muhammad Prakosa (PDIP): Setya Novanto terbukti melanggar kode etik dengan
kategori berat.
Kahar Muzakir (Golkar)

Pelanggaran sedang:
Junimart Girsang (PDIP): pelanggaran etik sedang
Sarifuddin Suding (Hanura): pelanggaran etik sedang.
Ahmad Bakrie (PAN): Setya Novanto melanggar etika dan sanksi sedang, diberhentikan
dari ketua.
Sukiman (PAN): Setya Novanto harus diberi sanksi sedang. Sudirman Said harus
direshuffle.
Maman Imanulhaq (PKB): Sanksi sedang pada Setya Novanto.
Victor Laiskodat (NasDem): Sanksi sedang, dicopot dari jabatannya sebagai Ketua
DPR.
Guntur Sasono (Demokrat): Sanksi sedang
Darizal Basir (Demokrat): Sanksi sedang
Risa Mariska (PDIP): Sanksi sedang
Surahman Hidayat (PKS)
Analisa Kasus

Panggung politik yang dipertontonkan para politisi di DPR RI sungguh menarik


perhatian publik. Ada kegaduhan ketika para elit politik yang duduk di Mahkamah
Kehormatan Dewan (MKD) untuk menentukan putusan apakah ada pelanggaran etika
atau tidak yang dilakukan Ketua DPR RI Setya Novanto. Bahkan dalam perjalanan
sidang hingga detik-detik melakukan putusan, salah satu anggota mahkamah
kehormatan Akbar Faizal diberhentikan sebagai anggota MKD secara mendadak.
Begitu juga dalam tahapan sidang mendengar keterangan saksi-saksi dan pelapor,
sempat muncul sikap kontradiktif hingga mengarahkan kesalahan kepada pelapor yang
menteri ESDM Sudirman Said.

Di luar dugaan sebelumnya, ternyata mayoritas anggota Mahkamah Kehormatan


Dewan menilai Setya Novanto telah terbukti melanggar kode etik, baik sedang maupun
berat dan meminta dicopot dari Ketua DPR. Bahkan perwakilan partai Golkar di MKD
memberikan pendapat sanksi berat.Anggota Mahkamah Kehormatan Dewan Junimart
Girsang berpendapat, Ketua DPR Setya Novanto terbukti telah melakukan pelanggaran
kode etik. Ini menyusul pertemuannya dengan pengusaha Riza Chalid dan Presiden
Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, saat mencatut nama Presiden dan
Wapres demi mendapat saham PT Freeport. Atas hal tersebut, anggota Fraksi PDI
Perjuangan itu beranggapan Novanto layak dijatuhi sanksi sedang.

Menurut Girsang, selama persidangan etik berlangsung setidaknya telah


terungkap enam fakta. Pertama, Menteri ESDM Sudirman Said telah diambil
keterangannya secara terbuka di bawah sumpah sebagai pengadu. Kedua, MKD telah
meminta keterangan kepada Maroef secara terbuka di bawah sumpah sebagai saksi.
Ketiga, Novanto sebagai teradu telah diambil keterangannya secara tertutup di bawah
sumpah. Keempat, MKD telah meminta keterangan dari Menkopolhukam Luhut Binsar
Panjaitan sebagai saksi. Kelima, pemutaran rekaman percakapan pertemuan 8 Juni
2015 yang berasal dari Sudirman. Keenam, pemutaran salinan rekaman dari Maroef.

Dengan demikian, MKD telah menerima fakta atas peristiwa terkait perpanjangan
kontrak Freeport yang bukan menjadi tugas dan wewenang Setya Novanto. Atas
pertimbangan tersebut, ada tiga pertimbangan yang diambil, yakni keterangan yang
diperoleh MKD dari Maroef Sjamsoeddin telah sesuai dengan isi rekaman. Telah
terbukti terjadi pertemuan pada 8 Juni lalu. Kemudian Setya Novanto terbukti
mencampuri fungsi dan tugas eksekutif.
Sempat muncul usulan yakni pencopotan jabatan Setya Novanto harus melalui
mekanisme panel. Pembentukan panel ini diatur dalam Peraturan DPR nomor 2 tahun
2015, tentang Tata Beracara MKD. Di dalam Pasal 19 ayat 3 disebutkan dalam hal
terjadi pelanggaran kode etik berat, maka MKD harus membentuk panel. Panel terdiri
dari gabungan tiga anggota MKD dan empat anggota unsur masyarakat. Pembentukan
panel ini dinilai upaya untuk mengulur waktu. Pun demikian putusan MKD hari ini
mempunyai makna luas. Masyarakat merasa terpuaskan dengan sanksi yang diberikan
kepada Novanto. Apalagi sidang dilakukan terbuka untuk umum.

Putusan Mahkamah Kehormatan Dewan telah jelas dan tegas yang sifatnya
mengikat. Bukan lagi imbauan. Begitu juga sikap Setya Novanto sebagai negarawan di
detik-detik terakhir pembacaan putusan Novanto dengan sikap kesatria mengundurkan
diri sebagai Ketua DPR RI. Karena jika menunggu panel hanya menentukan gradasi,
sementara hasil putusan mahkamah sudah jelas, yakni mencopot jabatan Setya
Novanto sebagai Ketua DPR RI. Ibarat pepatah mengatakan, “jangan bersembunyi di
balik telunjuk” bermakna kesalahan yang sudah diketahui publik tidak lagi bisa ditutup-
tutupi.

Sikap MKD ini sekaligus mengembalikan marwah legislatif dari noda-noda yang
dilakukan oknum-oknum anggota Dewan. Sehingga kepercayaan masyarakat terhadap
lembaga legislatif sebagai lembaga penyalur aspirasi dan mengemban amanah kembali
pulih. Begitu juga dalam menjaga marwah bangsa di mata dunia. Karena persoalan ini
juga menjadi perhatian asing. Apalagi melibatkan nama Presiden dan Wakil Presiden.
Hendaknya juga Mahkamah Kehormatan Dewan tidak lagi memperpanjang birokrasi
dalam “mengeksekusi” putusannya. Semua persoalan sudah terang benderang dan
sudah terjawab pertanyaan yang selama ini dinanti-nanti publik, walaupun Setya
Novanto sudah mengundurkan diri, tapi proses pelanggaran etik ini tidak dihentikan dan
ditingkatkan statusnya. Apalagi Kejaksaan Tinggi kini menunggu hasil MKD dalam
menindaklanjuti pelanggaran pidana dalam kasus ini.
Dampak Kasus ini terhadap:
- Dampak Etika

Dampak Etika terhadap masyarakat ialah ketidak percayaan masyarakat kepada


para pejabat di Indonesia. Bukan tidak mungkin Pemerintahan pada Era pasangan Joko
Widodo - Jusuf Kalla bisa disebut gagal apabila kebanyakan para petinggi jabatan
publik masih tergiur dengan uang panas.
- Dampak Politik dan Hukum

Sedangkan dampak Politik dan Hukum terhadap kasus tersebut ialah PT


Freeport Indonesia telah mencoba melanggar Hukum dengan mencoba menggunakan
jalan pintas dengan cara melobby para petinggi jabatan publik untuk memuluskan
niatnya agar tetap dapat memperpanjang kontraknya di Indonesia yang seharusnya
negosiasi kontrak itu sendiri baru dapat terlaksana pada tahun 2019. Jika lobby
perpanjangan kontrak itu terlaksana maka dapat mengakibatkan kerugian bagi
Indonesia karena PT Freeport tetap bercokok di negeri ini. Terutama kesejahteraan
masyarakat Papua itu sendiri.