Anda di halaman 1dari 8

RESUME ELECTRO CONVULSIF THERAPY (ECT) PADA PASIEN Tn.

R DI
RUANG IRAWAN RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG

Disusun oleh :

NUR SOFI WAHYUNI 1703047

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA

SEMARANG

2019
2

RESUME ELECTRO CONVULSIF THERAPY (ECT)


PADA PASIEN DENGAN HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG IRAWAN
RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG

Nama perawat yang mengkaji : Nur Sofi Wahyuni


Unit : Rawat
Ruang :R8
Tanggal masuk rumah sakit : 29 – 11 - 2019
Tanggal pengkajian : Selasa, 03 Desember 2019
Cara pengkajian : Rekam medis dan wawancara kepada klien

A. PENGKAJIAN
I. Identitas Pasien
Nama : Tn. R
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 29 tahun
Tempat,tanggal lahir : Grobogan, 04 - 04 -1990
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Swasta
Status Perkawinan : Duda
Agama : Islam
Alamat : Kapung tanggungharjo, grobogan
II. Alasan Masuk
pasien mengatakan satu minggu sebelum masuk rumah RSJ pasien merasa
mendengar suara atau bisikan yang menyuruh pasien untuk selalu sholat. Serimg
melamun dan berbicara sendiri. Pasien sering mondar - mandir dan berteriak-teriak
saat mendengar bisikan.
III. Faktor Predisposisi
Pasien mengatakn karena ada bisikan marah – marah sehingga pasien gelisah.

2
3

IV. Pemeriksaan Fisik


a. Tanda Vital :
 TD : 110 / 70 mmHg
 N : 80 x / m
 S : 36° C
 RR : 24 x / m
b. Antropometri
 BB : 63 Kg
 TB : 168 cm
V. .Pengkajian Psikososial

a. Genogram Keterangan

Laki – laki

Perempuan

Pasien

Garis Pernikahan

VI. Aspek Medis


a. Diagnosa Medis : Skezofrenia Paranoid
b. Terapi Medis : - Stelozi 2 x 5 mg
- Clozapin 2 x 25 mg

VII. Pengertian ECT


ECT adalah suatu tindakan terapi dengan menggerakan aliran listrik dan
menimbulkan kejang pada pada penderita baik tonik maupun klonik. Tindakan ini
adalah bentuk terapi pada klien dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda
yang ditempelkan pada pelipis klien untuk membangkitkan kejang grandmall.

VIII. Indikasi ECT


Indikasi terapi kejang listrik adalah klien depresi pada psikosa manik depresi. Klien
schizofrenia stupor katatonik dan gaduh gelisah katatonik. ECT lebih efektif dari
3
4

antidepresan untuk klien depresi dengan gejala psikotik (waham, paranoid, dan gejala
vegetatif), berikan antidepresan saja (imipramin 200-300 mg/hari selama 4 minggu)
namun jika tidak ada perbaikan perlu dipertimbangkan tindakan ECT. Mania
(gangguan bipolar manik) juga dapat dilakukan ECT, terutama jika litium karbonat
tidak berhasil. Pada klien depresi memerlukan waktu 6-12x terapi untuk mencapai
perbaikan, sedangkan pada mania dan katatonik membutuhkan waktu lebih lama yaitu
10-20x terapi secara rutin. Terapi ini dilakukan dengan frekuensi 2-3 hari sekali. Jika
efektif, perubahan perilaku mulai kelihatan setelah 2-6 terapi.

IX. Kontra Indikasi


a. Peningkatan tekanan intra kranial (karena tumor otak, infeksi SSP).
b. Keguguran pada kehamilan, gangguan sistem muskuloskeletal (osteoartritis berat,
osteoporosis, fraktur karena kejang grandmal).
c. Gangguan kardiovaskuler: infark miokardium, angina, hipertensi, aritmia dan
aneurisma.
d. Gangguan sistem pernafasan, asma bronkial.
e. Keadaan lemah.

X. Peran Perawat
Perawat sebelum melakukan terapi ECT, harus mempersiapkan alat dan
mengantisipasi kecemasan klien dengan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan.

XI. Persiapan Alat


Adapun alat-alat yang perlu disiapkan sebelum tindakan ECT, adalah sebagai berikut:
a. Konvulsator set (diatur intensitas dan timer.
b. Tounge spatel atau karet mentah dibungkus kain.
c. Kain kasa.
d. Cairan Nacl secukupnya.
e. Spuit disposibel.
f. Obat SA injeksi 1 ampul.
g. Tensimeter.
h. Stetoskop.
i. Slim suiger.
j. Set konvulsator.
4
5

XII. Tindakan ECT


a. Pra ECT
Pemeriksaan ECT Non Premedikasi
Tanggal : 03 Desember 2019
Waktu : 08:30 WIB.
ECT : Ke .

Lampiran :
- Berkas RM terkait.
- Permintaan tindakan tertulis dari DPJP.
- Inform Consent ECT.
- Hasil pemeriksaan penunjang.
Darah rutin, Elektrolit (natrium, natrium, clorida).
Kimia Klinis (GDS, SGOT, SGPT, Ureum, Creaatinin), EKG, Vital Sign.
- Puasa 6 jam.
- Lepas perhiasan soflen, gigi palsu.

b. Intra ECT
- PF dan pemeriksaan penunjang.
- Buat pasien merasa aman dan nyaman.
- Posisikan pasien tidur terlentang.
- Pasang electroda ECT pada bitemparalis dan electroda EEG pada osfrontalis.
- Pasang bite block pada mulut pasien untuk melindungi gigi agar bibir dan
lidah tidak tergigit.
- Pegang setiap persendian yang rawan terjadi dislokasi, ikuti gerak motoric.
- Dokter memastikan pasien siap di berikan ECT.
Hasil :
- Lama kejang : 2 menit
- Durasi :
- Energy :
5
6

- Dynamic impedance :

c. Post ECT
- Pasien tampak bingung.
- Pasien tampak gelisah.
- Pasien direstrain.
- Pasien dipindahkan ke ruangan.
- Pasien dibiarkan sampe sadar penuh dan tidak merasa pusing lagi.

6
iii
4