Anda di halaman 1dari 23

Case Report Session

HIPERTENSI

Disusun oleh:
Mutia Sari Amanda 1840312013
Hagi Jiwandana 1840312014

Preseptor:
dr. Ida Rahmah Burhan, MARS

KEPANITERAAN KLINIK FOME III


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PUSKESMAS BELIMBING
2019
BAB 1

PENDAHULUAN

Hipertensi merupakan peningkatan tekanan pembuluh darah yang persisten ditandai

dengan tekanan sistolik ≥140 mmHg dan/atau tekanan diastolik ≥90 mmHg.1,2

Hampir 1 milyar orang diseluruh dunia memiliki tekanan darah tinggi. Hipertensi

adalah salah satu penyebab utama kematian dini diseluruh dunia. Hipertensi membunuh

hampir 8 miliyar orang setiap tahun di dunia dan hampir 1,5 juta orang setiap tahunnya di

kawasan Asia Timur-Selatan. Sekitar sepertiga dari orang dewasa di Asia Timur-Selatan

menderita hipertensi.1,2

Komplikasi hipertensi menyebabkan sekitar 9,4 kematian di seluruh dunia setiap

tahunnya. Hipertensi menyebabkan setidaknya 45% kematian karena penyakit jantung dan

51% kematian karena penyakit stroke. Kematian yang disebabkan oleh penyakit

kardiovaskuler, terutama penyakit jantung koroner dan stroke diperkirakan akan terus

meningkat mencapai 23,3 juta kematian pada tahun 2030.1,2

Pendekatan nonfarmakologis merupakan penanganan awal sebelum penambahan

obat-obatan hipertensi, disamping perlu diperhatikan oleh seorang yang sedang dalam terapi

obat. Sedangkan pasien hipertensi yang terkontrol, pendekatan nonfarmakologis ini dapat

membantu pengurangan dosis obat pada sebagian penderita. Oleh karena itu, modifikasi

gaya hidup merupakan hal yang penting diperhatikan, karena berperan dalam keberhasilan

penanganan hipertensi.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Hipertensi merupakan peningkatan tekanan pembuluh darah yang persisten ditandai

1,2
dengan tekanan sistolik ≥140 mmHg dan/atau tekanan diastolik ≥90 mmHg.

2.2 Epidemiologi

Hampir 1 milyar orang diseluruh dunia memiliki tekanan darah tinggi. Hipertensi

adalah salah satu penyebab utama kematian dini diseluruh dunia. Hipertensi membunuh

hampir 8 miliyar orang setiap tahun di dunia dan hampir 1,5 juta orang setiap tahunnya di

kawasan Asia Timur-Selatan. Sekitar sepertiga dari orang dewasa di Asia Timur-Selatan

1,2
menderita hipertensi.

Komplikasi hipertensi menyebabkan sekitar 9,4 kematian di seluruh dunia setiap

tahunnya. Hipertensi menyebabkan setidaknya 45% kematian karena penyakit jantung dan

51% kematian karena penyakit stroke. Kematian yang disebabkan oleh penyakit

kardiovaskuler, terutama penyakit jantung koroner dan stroke diperkirakan akan terus

1,2
meningkat mencapai 23,3 juta kematian pada tahun 2030.

2.3 Etiologi

Berdasarkan penyebabnya, 80-95% penderita hipertensi digolongkan sebagai

hipertensi primer atau esensial yaitu ketika penyebab hipertensi tidak dapat diidentifikasi

(idiopatik) dan sebagian besar merupakan interaksi yang kompleks antara genetik dan

5
interaksi lingkungan.

Sementara itu 5-20% lainnya digolongkan sebagai hipertensi sekunder, yang

diakibatkan adanya penyakit yang mendasari seperti gangguan ginjal, gangguan adrenal,
penyempitan aorta, obstructive sleep apneu, gangguan neurogenik, endokrin, dan obat-

4
obatan.

2.4 Klasifikasi

Penentuan derajat hipertensi dilakukan berdasarkan rata-rata dari dua atau lebih

pengukuran tekanan darah (dalam posisi duduk) selama dua atau lebih kunjungan pasien

6
rawat jalan. Klasifikasi hipertensi dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel 1. Klasifikasi hipertensi4

Klasifikasi Tekanan darah sistolik Tekanan darah diastolik


(mmHg) (mmHg)
Normal < 120 dan < 80
Pre-hipertensi 120 – 139 atau 80 -89
Hipertensi tingkat 1 140 –159 atau 90 – 99
Hipertensi tingkat 2 ≥ 160 atau ≥ 100

2.5 Faktor risiko

Terdapat beberapa gaya hidup yang berperan sebagai faktor risiko berkembangnya

hipertensi, termasuk diantaranya adalah: konsumsi makanan yang mengandung banyak

garam dan lemak, sedikit sayur dan buah, penggunaan alkohol hingga di tingkat yang

membahayakan, kurangnya aktivitas fisik, serta pengelolaan stress yang rendah. Gaya hidup

tersebut juga sangat dipengaruhi oleh kondisi pekerjaan dan kehidupan individu.1

Faktor risiko di atas, lebih lanjut lagi dapat dibedakan menjadi dua yakni faktor yang

dapat dan tidak dapat dikendalikan.

I. Faktor yang tidak dapat dikendalikan

a. Usia

Risiko kejadian hipertensi akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

Pada umur 25-44 tahun prevalensi hipertensi sebesar 29%, pada umur 45-64 tahun sebesar

51% dan pada umur >65 tahun sebesar 65%. Peningkatan tekanan darah dapat terjadi seiring
dengan bertambahnya usia, disebabkan oleh perubahan struktur pada pembuluh darah besar,

7,8
sehingga lumen menjadi lebih sempit dan dinding pembuluh darah menjadi lebih kaku.

b. Jenis Kelamin

Prevalensi hipertensi lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita, dengan

peningkatan risiko sebesar 2 kali lipat untuk peningkatan tekanan darah sistolik. Pria lebih

banyak mengalami kemungkinan hipertensi dari pada wanita, seringkali dipicu oleh perilaku

tidak sehat (merokok dan konsumsi alkohol), depresi dan rendahnya status pekerjaan,

7
perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan dan pengangguran.

c. Riwayat Keluarga

Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi akan meningkatkan risiko kejadian

hipertensi terutama pada hipertensi primer. Keluarga yang memiliki hipertensi dan penyakit

jantung meningkatkan risiko hipertensi 2-5 kali lipat. Jika kedua orang tua menderita

hipertensi, kemungkinan anaknya menderita hipertensi sebesar 45%, sedangkan jika hanya

salah satu dari orang tuanya yang menderita hipertensi maka kemungkinan anaknya

8
menderita hipertensi sebesar 30%.

d. Genetik

Seorang penderita yang mempunyai sifat genetik hipertensi primer (esensial) apabila

dibiarkan secara alamiah tanpa intervensi terapi, akan menyebabkan hipertensinya

8
berkembang dan dalam waktu sekitar 30-50 tahun akan timbul manifestasi klinis.

II. Faktor yang dapat dikendalikan

a. Kebiasaan Merokok
Semakin lama seseorang merokok dan semakin banyak rokok yang dihisap maka

kejadian hipertensi akan semakin meningkat. Zat-zat kimia beracun, seperti nikotin dan

karbon monoksida yang diisap melalui rokok, yang masuk kedalam aliran darah dapat

merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri dan mengakibatkan proses aterosklerosis dan

hipertensi. Selain itu merokok juga meningkatkan denyut jantung dan kebutuhan oksigen

untuk disuplai ke otot jantung. Merokok pada penderta hipertensi akan semakin

9
meningkatkan risiko kerusakan pada pembuluh darah arteri.

b. Konsumsi Garam

Garam merupakan faktor yang sangat penting dalam patogenesis hipertensi.

Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan pada suku bangsa dengan asupan garam yang

minimal. Asupan garam kurang dari 3 gram tiap hari akan mengurangi risiko kejadian

hipertensi, sedangkan jika asupan garam antara 5-15 gram perhari prevalensi hipertensi

meningkat menjadi 15-20 %. Pengaruh asupan terhadap timbulnya hipertensi terjadi melalui

peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah. Garam menyebabkan retensi

cairan dalam tubuh, sehingga akan meningkatkan volume dan tekanan darah. Konsumsi

garam yang dianjurkan tidak lebih dari 6 gram/hari setara dengan 110 mmol natrium atau

9
2400 mg/hari.

c. Kebiasaan Konsumsi Minum Minuman Beralkohol

Alkohol juga dihubungkan dengan hipertensi. Mekanisme peningkatan tekanan darah

akibat alkohol masih belum jelas. Namun diduga, peningkatan kadar kortisol dan

peningkatan volume sel darah merah serta kekentalan darah merah berperan dalam

9,10
menaikkan tekanan darah.

d. Olahraga
Kurangnya aktifitas fisik meningkatkan risiko menderita hipertensi karena

meningkatkan risiko kelebihan berat badan. Orang yang tidak aktif juga cenderung

mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi sehingga otot jantungnya harus

bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Makin keras dan sering otot jantung harus

10
memompa, makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri.

e. Psikososial dan stress

Stress atau ketegangan jiwa dapat merangsang kelenjar adrenal melepaskan hormon

adrenalin dan memicu jantung berdenyut lebih cepat dan kuat, sehingga meningkatkan

tekanan darah. Jika keadaan ini berlangsung terus menerus maka tubuh akan berusaha

10
mengadakan penyesuaian sehingga timbul kelainan organis atau perubahan patologis.

f. Hiperlipidemia/hiperkolesterolemia

Kelainan metabolisme lemak (lipid) ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol

total, trigliserida, kolesterol LDL dan atau penurunan kolesterol HDL darah. Kolesterol

merupakan faktor penting dalam terjadinya aterosklerosis yang mengakibatkan peningkatan

10
resistensi perifer sehingga meningkatkan tekanan darah.

g. Obesitas

Obesitas meningkatkan risiko terjadinya hipertensi karena beberapa sebab. Makin

besar massa tubuh, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan

makanan ke jaringan tubuh. Ini berarti volume darah yang beredar melalui pembuluh darah

menjadi meningkat sehingga memberi tekanan lebih besar pada dinding arteri. Kelebihan

berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut jantung dan kadar insulin dalam darah.

10
Peningkatan insulin menyebabkan tubuh menahan natrium dan air.

2.6 Patofisiologi
11
Gambar 2. Patofisiologi hipertensi

Tekanan yang dibutuhkan untuk mengalirkan darah melalui sistem sirkulasi

dilakukan oleh aksi memompa dari jantung (cardiac output/CO) dan resistensi vaskular

(peripheral vascular resistance). Fungsi kerja masing-masing penentu tekanan darah ini

dipengaruhi oleh interaksi dari berbagai faktor yang kompleks. Hipertensi sesungguhnya

merupakan abnormalitas dari faktor-faktor tersebut, yang ditandai dengan peningkatan curah

11
jantung dan / atau ketahanan periferal.

Cardiac output berhubungan dengan hipertensi, peningkatan cardiac output secara

logis timbul dari dua jalur, yaitu baik melalui peningkatan cairan (preload) atau peningkatan

kontraktilitas dari efek stimulasi saraf simpatis. Tetapi tubuh dapat mengkompensasi agar

11
cardiac output tidak meningkat yaitu dengan cara meningkatkan resistensi perifer.

Selain itu konsumsi natrium berlebih dapat menyebabkan hipertensi karena

peningkatan volume cairan dalam pembuluh darah dan preload, sehingga meningkatkan

11
cardiac output.
Gambar 3. Peran natrium dan kalium dalam patofisiologi hipertensi12

2.7 Diagnosis

Evaluasi pasien hipertensi mempunyai tiga tujuan:

1. Mengidentifikasi penyebab hipertensi.

2. Menilai adanya kerusakan organ target dan penyakit kardiovaskuler, beratnya

penyakit, serta respon terhadap pengobatan.

3. Mengidentifikasi adanya faktor risiko kardiovaskuler yang lain atau penyakit

penyerta, yang ikut menentukan prognosis dan ikut menentukan panduan pengobatan.13

Data yang diperlukan untuk evaluasi tersebut diperoleh dengan cara anamnesis,

pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang. Peninggian

tekanan darah kadang sering merupakan satu-satunya tanda klinis hipertensi sehingga

diperlukan pengukuran tekanan darah yang akurat.


2.7.3 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang sebagai evaluasi inisial pada penderita hipertensi meliputi

pengurukan fungsi ginjal, elektrolit serum, glukosa puasa, dan lemak dapat diulang kembali

setelah pemberian agen antihipertensi dan selanjutnya sesuai dengan indikasi klinis.

Pemeriksaan laboratorium ekstensif diperlukan pada pasien dengan hipertensi yang resisten

6,14
terhadap obat dan ketiga evaluasi klinis mengarah pada bentuk kedua dari hipertensi.

Tabel 3. Pemeriksaan Penunjang sebagai evaluasi awal 6,14

Sistem Pemeriksaan
Ginjal Urinanalisis mikroskopik, eksresi albumin, serum BUN
dan/atau kreatinin
Endokrin Serum natrium, kalium, kalsium, dan TSH
Metabolik Glukosa puasa atau HbA1c, profil lipid (kolesterol
total, HDL dan LDL, trigliserida)
Lainnya Darah lengkap, rontgen dan elektrokardiogram

2.8 Tatalaksana

2.8.1 Tatalaksana Farmakologis

Terdapat beberapa rekomendasi menurut JNC VIII untuk menangani hipertensi,

beberapa rekomendasi tersebut antara lain:

Rekomendasi 1: Pada populasi umum, terapi farmakologik mulai diberikan jika

tekanan darah sistolik ≥150 mmHg atau jika tekanan darah diastolik ≥90 mmHg pada

kelompok usia ≥60 tahun dengan target terapi adalah tekanan darah sistolik <150 mmHg dan

tekanan darah diastolik <90 mmHg.

Rekomendasi 2: Pada kelompok usia < 60 tahun, terapi farmakologik mulai

diberikan jika tekanan darah diastolik ≥90 mmHg dengan target terapi adalah tekanan darah

diastolik <90 mmHg (untuk kelompok usia 30-59 tahun).


Rekomendasi 3: Pada kelompok usia <60 tahun, terapi farmakologik mulai diberikan

jika tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dengan target terapi adalah tekanan darah sistolik

<140 mmHg.

Rekomendasi 4: Pada kelompok usia ≥18 tahun dengan gagal ginjal kronis terapi

farmakologik mulai diberikan jika tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah

diastolik ≥90 mmHg dengan target terapi adalah tekanan darah sistolik <140 mmHg dan

tekanan darah diastolic <90 mmHg.

Rekomendasi 5: Pada kelompok usia ≥18 tahun dengan diabetes melitus terapi

farmakologik mulai diberikan jika tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah

diastolik ≥90 mmHg dengan target terapi adalah tekanan darah sistolik <140 mmHg dan

tekanan darah diastolic <90 mmHg.

Rekomendasi 6: Pada populasi bukan kulit hitam, termasuk penderita diabetes

melitus, terapi inisial dapat menggunakan diuretik-thiazide, penghambat kanal kalsium,

angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACEI) atau angiotensin receptor blocker (ARB).

Rekomendasi 7: Pada populasi kulit hitam, termasuk penderita diabetes melitus

terapi inisial dapat menggunakan diuretik-thiazide atau penghambat kanal kalsium.

Rekomendasi 8: Pada kelompok usia ≥18 tahun dengan gagal ginjal kronis terapi

antihipertensi harus menggunakan ACEI atau ARB untuk memperbaiki outcomepada ginjal.

(Terapi ini berlaku untuk semua pasien gagal ginjal kronis dengan hipertensi tanpa

memandang ras ataupun penderita diabetes melitus atau bukan.)

Rekomendasi 9: Tujuan utama dari penanganan hipertensi adalah untuk mencapai

dan mempertahankan tekanan darah yang ditargetkan. Apabila target tekanan darah tidak

tercapai setelah 1 bulan pengobatan maka dosis obat harus ditingkatkan atau ditambahkan

dengan obat lainnya dari golongan yang sama (golongan diuretic-thiazide, CCB, ACEI, atau

ARB). Jika target tekanan darah masih belum dapat tercapai setelah menggunakan 2 macam
obat maka dapat ditambahkan obat ketiga (tidak boleh menggunakan kombinasi ACEI dan

ARB bersamaan). Apabila target tekanan darah belum tercapai setelah menggunakan obat

yang berasal dari rekomendasi 6 karena ada kontraindikasi atau diperlukan >3 jenis obat

untuk mencapai target tekanan darah maka terapi antihipertensi dari golongan yang lain

3
dapat digunakan.

Untuk terapi farmakologis, berikut adalah beberapa jenis obat serta dosisnya yang

dapat digunakan.

Tabel 4. Obat anti hipertensi


2.8.2 Tatalaksana Non Farmakologis

Pendekatan nonfarmakologis merupakan penanganan awal sebelum penambahan

obat-obatan hipertensi, disamping perlu diperhatikan oleh seorang yang sedang dalam terapi

obat. Sedangkan pasien hipertensi yang terkontrol, pendekatan nonfarmakologis ini dapat

membantu pengurangan dosis obat pada sebagian penderita. Oleh karena itu, modifikasi

gaya hidup merupakan hal yang penting diperhatikan, karena berperan dalam keberhasilan

penanganan hipertensi. Pendekatan nonfarmakologis dibedakan menjadi beberapa hal:

I. Menurunkan faktor risiko yang menyebabkan aterosklerosis.

Berhenti merokok penting untuk mengurangi efek jangka panjang hipertensi karena

asap rokok diketahui menurunkan aliran darah ke berbagai organ dan dapat meningkatkan

beban kerja jantung. Selain itu pengurangan makanan berlemak dapat menurunkan risiko

aterosklerosis. Berdasarkan hasil penelitian eksperimental, sampai pengurangan sekitar 10

kg berat badan berhubungan langsung dengan penurunan tekanan darah rata-rata 2-3 mmHg

15
per kg berat badan.

II. Olahraga dan aktifitas fisik

Selain untuk menjaga berat badan tetap normal, olahraga dan aktivitas fisik teratur

bermanfaat untuk mengatur tekanan darah, dan menjaga kebugaran tubuh. Olahraga seperti

jogging, berenang baik dilakukan untuk penderita hipertensi. Dianjurkan untuk olahraga

teratur, minimal 3 kali seminggu, dengan demikian dapat menurunkan tekanan darah

walaupun berat badan belum tentu turun. Melakukan aktivitas secara teratur (aktivitas fisik

aerobik selama 30-45 menit/hari) diketahui sangat efektif dalam mengurangi risiko relatif

hipertensi hingga mencapai 19% hingga 30%.

Olahraga yang teratur dibuktikan dapat menurunkan tekanan perifer sehingga dapat

menurunkan tekanan darah. Olahraga dapat menimbulkan perasaan santai dan mengurangi
berat badan sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Yang perlu diingat adalah bahwa

11
olahraga saja tidak dapat digunakan sebagai pengobatan hipertensi.

III. Perubahan pola makan

a. Mengurangi asupan garam

Pada hipertensi derajat I, pengurangan asupan garam dan upaya penurunan berat

badan dapat digunakan sebagai langkah awal pengobatan hipertensi. Nasihat pengurangan

asupan garam harus memperhatikan kebiasaan makan pasien, dengan memperhitungkan

11
jenis makanan tertentu yang banyak mengandung garam.

b. Diet rendah lemak jenuh

Lemak dalam diet meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis yang berkaitan

dengan kenaikan tekanan darah. Penurunan konsumsi lemak jenuh, terutama lemak dalam

makanan yang bersumber dari hewan dan peningkatan konsumsi lemak tidak jenuh

secukupnya yang berasal dari minyak sayuran, biji-bijian dan makanan lain yang bersumber

11
dari tanaman dapat menurunkan tekanan darah.

c. Memperbanyak konsumsi sayuran, buah-buahan dan susu rendah lemak.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa beberapa mineral bermanfaat mengatasi

hipertensi. Kalium dibuktikan erat kaitannya dengan penurunan tekanan darah arteri dan

mengurangi risiko terjadinya stroke. Selain itu, mengkonsumsi kalsium dan magnesium

bermanfaat dalam penurunan tekanan darah. Banyak konsumsi sayur-sayuran dan buah-

buahan mengandung banyak mineral, seperti seledri, kol, jamur (banyak mengandung

kalium), kacang-kacangan (banyak mengandung magnesium). Sedangkan susu dan produk

11
susu mengandung banyak kalsium.

IV. Menghilangkan stress


Stres menjadi masalah bila tuntutan dari lingkungan hampir atau bahkan sudah

melebihi kemampuan kita untuk mengatasinya. Cara untuk menghilangkan stres yaitu

perubahan pola hidup dengan membuat perubahan dalam kehidupan rutin sehari-hari dapat

13
meringankan beban stres.

2.9 Komplikasi

I. Jantung

Penyakit jantung merupakan penyebab yang tersering menyebabkan kematian pada

pasien hipertensi. Penyakit jantung hipertensi merupakan hasil dari perubahan struktur dan

6
fungsi yang menyebabkan pembesaran jantung kiri, disfungsi diastolik, dan gagal jantung.

II. Otak

Hipertensi merupakan faktor risiko yang penting terhadap infark dan hemoragik

otak. Sekitar 85 % dari stroke karena infark dan sisanya karena hemoragik. Insiden dari

stroke meningkat secara progresif seiring dengan peningkatan tekanan darah, khususnya

pada usia > 65 tahun. Pengobatan pada hipertensi menurunkan insiden baik stroke iskemik

6
ataupun stroke hemorgik.

III. Ginjal

Hipertensi kronik menyebabkan nefrosklerosis, penyebab yang sering terjadi pada

renal insufficiency. Pasien dengan hipertensif nefropati, tekanan darah harus 130/80 mmHg

6
atau lebih rendah, khususnya ketika ada proteinuria.

2.10 Pencegahan

Pencegahan dan kontrol dari hipertensi membutuhkan dukungan politik sebagai

peran dari pemerintah dan para pembuat kebijakan. Petugas kesehatan, komunitas peneliti

akademis, lembaga masyarakat, sektor privat, serta keluarga dan penderita hipertensi sendiri

semuanya ikut berperan.


BAB 3

LAPORAN KASUS

STATUS PASIEN

1. Identitas Pasien

● Nama : Ny. A

● Umur : 63 tahun

● Pekerjaan : IRT

● Pendidikan : SMP

2. Keluhan Utama

● Nyeri kepala sejak 3 hari yang lalu.

3. Riwayat Penyakit Sekarang

● Nyeri kepala sejak 3 hari yang lalu. Nyeri kepala dirasakan diseluruh bagian kepala

belakang, terasa berdenyut.

● Tengkuk terasa berat dan tegang sejak 3 hari yang lalu.. Keluhan sudah sering

dirasakan oleh pasien sejak 3 tahun yang lalu. Pasien sudah dikenal hipertensi sejak

2016, tetapi pasien tidak teratur meminum obat, hanya meminum obat bila terasa

gejala saja.

● Nyeri dada tidak ada

● Sesak nafas tidak ada

● Riwayat sembab di kaki tidak ada

● Riwayat sering haus, sering lapar, dan sering BAK tidak ada

● Riwayat kesemutan dan kebas tidak ada

● BAK dan BAB tidak ada keluhan


● Riwayat pandangan-pandangan mata kabur tidak ada

● Demam tidak ada

4. Riwayat Penyakit dahulu

● Riwayat hipertensi (+) sejak 3 tahun yll, tidak terkontrol.

● Riwayat DM tidak diketahui

● Riwayat dislipidemia tidak diketahui

5. Riwayat Penyakit Keluarga

● Tidak ada keluarga pasien memiliki riwayat sakit hipertensi

● Riwayat DM pada keluarga tidak ada

● Tidak ada anggota keluarga dengan keluhan yang sama

6. Riwayat Pengobatan

● Pasien telah dikenal hipertensi sejak tahun 2017 dan biasanya mendapatkan obat

Amlodipin 1X 10 mg. Pasien tidak teratur kontrol dan berobat. Obat diminum hanya

saat terasa gejala.

7. Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi, Kejiwaan, dan Kebiasaan

● Pasien seorang ibu rumah-tangga, dengan aktifitas fisik ringan-sedang

● Pasien sering memakan tinggi garam seperi ikan asin, makanan bersantan, dan

makanan yang digoreng.

● Pasien tidak merokok dan tidak meminum alkohol

8. Pemeriksaan Fisik

Status Generalis
-Keadaan Umum : Baik
-Kesadaran : CMC
-Nadi : 85x/ menit
-Nafas : 18x/menit

-Suhu : 37 0C
-TD :154/ 81 mmHg
-BB : 44 kg TB : 142 cm
2
-IMT : 21,82 kg/m

- Mata : Konjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterik


- KGB : tidak ada pembesaran KGB
Thorax
- Paru
Inspeksi : simetris kiri = kanan
Palpasi : fremitus kiri = kanan
Perkusi : sonor
Auskultasi : suara nafas vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-)
- Jantung
Inspeksi : Iktus tidak terlihat
Palpasi : Iktus teraba LMCS RIC V
Perkusi : Batas-batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : Irama teratur, bising (-)
Abdomen
Inspeksi : tidak tampak membuncit, Distensi (-),
Palpasi : Hepar/Lien tidak teraba, NT(-), NL (-),
Perkusi : Tympani
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Alat Kelamin :tidak diperiksa
Anus dan rektum :tidak diperiksa
Ekstremitas
Edema : tidak ada
Varises: tidak ada
Suhu raba : akral hangat, CRT <2 detik
9. Laboratorium
Tidak ada pemeriksaan

10. Diagnosis Kerja

Hipertensi stage I

11. Diagnosis Banding

Tidak ada

12. Tatalaksana

 Non farmakologis

- Modifikasi faktor risiko : diet rendah garam, kurangi makanan bersantan dan

digoreng, olahraga teratur

- Kontrol ke yankes secara teratur

- Istirahat yang cukup

● Farmakologis

- Amlodipin 1x 5 mg

13. Prognosis

● Quo ad Vitam : Bonam

● Quo ad Sanationam : Malam

● Quo ad Fuctionam : Bonam


BAB 4

DISKUSI

Seorang pasien usia 63 tahun datang dengan keluhan nyeri kepala sejak 3 hari yang lalu,

penyebab sakit kepala sangat luas, pada pasien jua terdapat rasa berat dan tegang di tengkuk

yang merupakan salah satu gejala hipertensi. Pasien berusia 63 tahun yang merupakan faktor

resiko hipertensi, prevelensi hipertensi berkisar 51% dan meningkat sesuai usia.

Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga sehingga pasien memiliki aktifitas fisik

ringan-sedang, kurangnya aktifitas fisik menyebabkan timbunan lemak semakin banyak. Pasien

memiliki kebiasaan makan makanan berlemak, berminyak dan asin yang juga merupakan faktor

resiko hipertensi yang menyebabkan prevaensi hipertensi meningkat menjadi 15-20%.

Pada anamesis pasien tidak menunjukan adanya gejala komplikasi hipertensi seperti

penyakit jantung, neuropati, nefropati, maupun retinopati akibat hipertensi. Pasien juga tidak

memiliki gejala klinis Diabetes yang merupakan penyakit yang sering menyertai hipertensi.

Pemeriksaan fisik pada pasien menunjukan tekanan darah 154/81 mmhg menurut definisi

JNC 8 pasien ini sudah termasuk hipertensi stage 1 pasien memiliki tekanan darah sistole antara

140-159 mmHg. Pasien memiliki indeks masa tubuh kategori termasuk normoweight.

Pada pasien juga tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan mata, jantung, maupun

ekstremitas hal ini menunjukan belum ada komplikasi yan terjadi mada pasien atau telah terjadi

komplikasi namun masih bersifat asimptomatik.

Pada pasien tidak dilakukan pemeriksaan penunjang, pemeriksaan yang seharusnya

dilakukan adalah pemeriksaan kolestrol dan gula darah karena merupakan faktor resiko dan

penyakit yang sering terjadi berbarengan dengan hipertensi.


Tatalaksana non farmakolois yang diberikan pada pasien antara lain modifikasi faktor

risiko : diet rendah garam, olahraga teratur, istirahat yang cukup, hindari stress dan kontrol ke

yankes secara teratur.

Pemilihan pengobatan pasien dengan menggunakan amlodipin sesuai dengan

rekomendasi JNC 8. Pengukuran kembali dan evaluasi terapi harus dilakukan setiap bulan

apabila setelah diberikan obat dari tiga golongan dan dosis sudah dititrasi naik namun pasien

tidak berobat teratur sehingga sulit untuk memantau apakah pasien sudah mencapai target

tekanan darah yang diinginkan. Pada pasien juga harus dikontrol efek samping pengobatan.
DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization (WHO). A Global Brief on Hypertension: Silent


Killer, Global Public Health Crisis [Internet]. 2013
2. Krishnan A, Garg R, Kahandaliyanage A. Hypertension in the South-East Asia
Region: an overview. Regional Health Forum. 2013; 17(1): 7-14.
3. James PA, Oparil S, Carter BL et al. 2014 Evidence-Based Guideline for the
Management of High Blood Pressure in Adults Report From the Panel Members
Appointed to the Eighth Joint National Committee (JNC 8). JAMA: 2013.
4. Chobanian AV, Bakris GL, Black HR, Cushman WC, Green LA, Izzo JL, et al.
Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. Hypertension. 2003; 42:
1206–52.
5. Cowley AW Jr. The genetic dissection of essential hypertension. Nat Rev Genet.
2006 Nov; 7(11):829–40. [PMID: 17033627].
6. Kasper, Braunwald, Fauci, et al. Harrison’s principles of internal medicine 17th
edition. New York: McGrawHill: 2008.
7. Setiawan, Zamhir. Karakteristik sosiodemografi sebagai faktor resiko hipertensi
studi ekologi di pulau Jawa tahun 2004 [Tesis].Jakarta: Program Studi
Epidemiologi Program Pasca Sarjana FKM-UI; 2006.
8. Hasurungan, JA.Faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada lansia
di Kota Depok tahun 2002 [Tesis]. Jakarta:Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia; 2002.
9. Thomas M. Habermann, , Amit K. Ghosh. Mayo Clinic Internal Medicine
Concise Textbook. 1st edition. Canada: Mayo Foundation for Medical Education
and Research: 2008.
10. Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular Departemen Kesehatan RI.
Pedoman Teknis Penemuan dan Tatalaksana Penyakit Hipertensi. 2006.
th
11. Norman M. Kaplan. Kaplan's Clinical Hypertension 9 edition. Philadelphia,
USA: Lippincott Williams & Wilkins: 2006.
12. Horacio J, Nicolaos E. Sodium and Potassium in the Pathogenesis of
Hypertension. N Engl J Med 2007; 356: 1966-78.
13. Rahajeng E, Tuminah S. Prevalensi Hipertensi dan Determinannya di Indonesia.
Majalah Kedokteran Indonesia: 2009; 59 (12): 580-7.
14. Kenning I, Kerandi H, Luehr D, Margolis K, O’Connor P, Pereira C, Schlichte A,
Woolley T. Institute for Clinical Systems Improvement. Hypertension Diagnosis
and Treatment. Updated November 2014.
15. Basuki B, Setianto B. Age, body posture, daily working load – past
antihypertensive drugs and risk of hypertension: a rural Indonesia study. Med J
Indon. 2001; 10(1): 29-33.