Anda di halaman 1dari 31

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


ASI merupakan makanan pertama dan utama bagi bayi yang bernilai gizi tinggi
serta terjangkau. Pola pemberian ASI yang dianjurkan ialah pemberian ASI segera atau
30 menit hingga satu jam setelah melahirkan, selanjutnya pemberian ASI saja atau
menyusui secara ekslusif hingga bayi usia enam bulan dan pemberian makanan tambahan
setelah umur enam bulan serta tetap memberian ASI diteruskan sampai umur dua tahun
(UNICEF/WHO/IDAI, 2005;22).
Pemberian ASI kepada bayi bukan saja memberikan kebaikan bagi bayi tapi juga
keuntungan untuk ibu, proses menyusui menguntungkan ibu dengan terdapatnya
lactational infertility, hingga memperpanjang child spacing (Pudjiadi, 2000). ASI adalah
sumber nutrisi alamiah yang memiliki kandungan gizi yang cukup diperlukan bayi untuk
pertumbuhan enam bulan pertama. Selain itu, ASI mengandung antibodi dari ibu yang
penting bagi imunitas bayi. Bayi yang tidak mendapat ASI atau mendapat ASI tidak
eksklusif memiliki risiko terkena penyakit lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapat
ASI eksklusif.
Berdasarkan data PIS-PK (Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan
Keluarga) desa Oluhuta cakupan Puskesmas Kabila, pemberian ASI Eksklusif untuk bayi
usia 0-6 bulan merupakan indikator kedua terendah dari 12 indikator. Tercatat hanya
41,2% bayi yang mendapat ASI Eksklusif.
Kurangnya pemberian ASI eksklusif disebabkan oleh banyak faktor. Beberapa di
antaranya adalah pengetahuan ibu, ibu yang bekerja, dan volume ASI. Gencarnya
promosi susu formula serta dukungan dari keluarga, masyarakat, dan tenaga medis juga
berpengaruh terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Salah satu penyebab
rendahnya pemberian ASI eksklusif yaitu kurangnya pengetahuan ibu yang berdampak
pada perilaku ibu dalam menyusui. Untuk mengubah perilaku ibu dalam pemberian ASI
tersebut diperlukan banyak upaya, salah satunya melalui pendidikan kesehatan (Penkes).
Pemberian Penkes tentang ASI eksklusif mampu merubah perilaku, sikap ibu dalam

1
menyusui dan dapat menambah pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif (Winarsih,
Resnayati, & Susanti, 2007, hlm.50).
1.2 Rumusan Masalah
Mengidentifikasi indikator yang mempengaruhi rendahnya ASI ekslusif pada bayi
usia 0 – 6 bulan di desa Oluhuta wilayah kerja Puskesmas Kabila pada tahun 2018.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi indikator yang mempengaruhi
rendahnya ASI ekslusif pada bayi usia 0 – 6 bulan pada tahun 2018 di desa Oluhuta
wilayah kerja Puskesmas Kabila.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi Pencapaian ASI Eksklusif di di desa Oluhuta wilayah kerja
Puskesmas Kabila pada tahun 2018.
2. Mengidentifikasi jumlah ibu pada indikator umur dengan ASI eksklusif dan tidak
ASI eksklusif di desa Oluhuta wilayah kerja Puskesmas Kabila pada tahun 2018.
Mengidentifikasi jumlah ibu pada indikator status pendidikan dengan ASI eksklusif
dan tidak ASI eksklusif di desa Oluhuta wilayah kerja Puskesmas Kabila pada
tahun 2018.
3. Mengidentifikasi jumlah ibu pada indikator status pekerjaan dengan ASI eksklusif
dan tidak ASI eksklusif di desa Oluhuta wilayah kerja Puskesmas Kabila pada
tahun 2018.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Bagi Peneliti
1. Menambah wawasan dan pengetahuan ASI Esklusif pada bayi usia 0 – 6 bulan.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan
pengetahuan bagi peneliti selanjutnya.

2
1.4.2 Bagi Puskesmas
1. Menjadi salah satu masukan sebagai bahan informasi petugas kesehatan
Puskesmas.
2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk penelitian selanjutnya di
Puskesmas.

1.4.3 Bagi Masyarakat


Memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat tentang pengaruh ASI
Esklusif pada bayi usia 0 – 6 bulan.

3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Air Susu Ibu (ASI)


2.1.1 Pengertian ASI
Air Susu Ibu adalah suatu emulsi dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam
anorganik yang disekresi oleh kelenjar mamae ibu, yang berguna sebagai makanan bagi bayi
yang mengandung nutrisi-nutrisi dasar dan elemen dengan jumlah yang sesuai, untuk
pertumbuhan bayi yang sehat. ASI tidak memberatkan fungsi traktus digestivus dan ginjal yang
belum berfungsi baik pada bayi yang baru lahir. Karena ASI sangat mudah dicerna sistem
pencernaan bayi yang masih rentan, bayi mengeluarkan lebih sedikit energi dalam mencerna ASI,
sehingga ia dapat menggunakan energi selebihnya untuk kegiatan tubuh lainnya, pertumbuhan
dan perkembahan organ sehingga dapat menghasilkan pertumbuhan fisik yang optimum
(Pudjiadi, 2005).

2.1.2 Volume ASI


Pada minggu bulan terakhir kehamilan, kelenjar-kelenjar pembuat ASI mulai
menghasilkan ASI. Apabila tidak ada kelainan, pada 4 hari pertama sejak bayi lahir akan
dapat menghasilkan 100-300 ml ASI dalam sehari, dari jumlah ini akan terus bertambah
sehingga mencapai sekitar 300-450 ml/hari pada waktu bayi mencapai usia minggu
kedua. Pada hari ke-10 sampai seterusnya volume bervariasi yaitu 300–850 ml/hari
tergantung pada besarnya stimulasi saat laktasi. Volume ASI pada tahun pertama adalah
400–850 ml/hari, tahun kedua 200–400 ml/hari, dan sesudahnya 200 ml/hari
(Manajemen laktasi, 2004).

2.1.3 Komposisi ASI


Komposisi ASI berubah menurut stadium penyesuaian sesuai dengan kebutuhan
bayi pada saat itu. ASI yang dihasilkan sampai minggu pertama (kolostrum)
komposisinya berbeda dengan ASI yang dihasilkan kemudian (ASI peralihan dan ASI
matur). ASI yang dihasilkan ibu yang melahirkan kurang bulan komposisinya berbeda

4
dengan ASI yang dihasilkan oleh ibu melahirkan cukup bulan. Demikian pula komposisi
ASI yang dihasilkan saat bayi mulai menyusui dan akhir fase menyusui.
Menurut stadium laktasinya, terdapat tiga bentuk ASI dengan karakteristik dan
komposisi berbeda yaitu:
a. Stadium Kolostrum
Di sekresi pada 4 hari pertama setelah persalinan yang diproduksi sebesar 150–
300 ml/hari. Komposisi kolostrum ASI lebih banyak mengandung protein dibandingkan
ASI matur, tetapi berlainan dengan ASI matur dimana protein yang utama adalah casein,
pada kolostrum protein yang utama adalah globulin, khususnya tinggi dalam level
immunoglobulin A (IgA), yang membantu melapisi usus bayi yang masih rentan dan
mencegah kuman memasuki bayi. IgA ini juga mencegah alergi makanan. Kolostrum
juga berfungsi sebagai pencahar (pembersih usus bayi) yang membersihkan mekonium
sehingga mukosa usus bayi yang baru lahir segera bersih dan siap menerima makanan
selanjutnya. Jumlah energi dalam kolostrum hanya 58 kalori/100 ml
b. ASI transisi / peralihan
ASI yang diproduksi pada hari ke-5 sampai pada hari ke-10. Jumlah volume ASI
semakin meningkat tetapi komposisi protein semakin rendah, sedangkan lemak dan
hidrat arang semakin tinggi, hal ini untuk memenuhi kebutuhan bayi karena aktivitas
bayi yang mulai aktif dan bayi sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan. Pada masa
ini pengeluaran ASI mulai stabil.
c. ASI matang / matur
adalah ASI yang dikeluarkan pada hari ke-10 sampai seterusnya dengan volume
bervariasi yaitu 300–850 ml/hari tergantung pada besarnya stimulasi saat laktasi. ASI
matur merupakan nutrisi bayi yang terus berubah disesuaikan dengan perkembangan
bayi sampai 6 bulan. Setelah 6 bulan bayi mulai dikenalkan dengan makanan
pendamping selain ASI.

5
Tabel 1 Ringkasan perbedaan antara ASI, Susu Sapi, Susu formula
Properti ASI Susu Sapi Susu Formula
Kontaminasi bakteri Tdk ada Mungkin ada Ada bila dicampurkan
Anti Infeksi Ada Tidak ada Tidak ada
Faktor pertumbuhan Ada Tidak ada Tidak ada
Jumlah sesuai dan Terlalu banyak dan Sebagian diperbaiki
mudah dicerna sukar dicerna
Kasein: whey 40:60 Kasein: whey 80:20 Disesuaikan dengan
Protein
ASI
Whey : alfa Whey:
betalactoglobulin
- Cukup asam lemak - Kurang ALE -Kurang ALE
esensial (ALE), DHA - Tidak ada lipase -Tidak ada DHA dan
Lemak
/ AA AA
- Mengandung lipase - Tdk ada lipase
Jumlah kecil tapi Banyak tidak dapat Ditambahkan ekstra
Zat besi mudah dicerna diserap dengan baik tidak diserap dengan
baik
Vitamin Cukup Tidak cukup vit A,C Vitamin ditambahkan
Cukup Perlu tambahan Mungkin perlu
Air
tambahan
Sumber: Konseling menyusui: Pelatihan untuk tenaga kesehatan : kerjasama
WHO/UNICEF/BK.PP.ASI /2000

Dari beberapa penelitian telah dibuktikan bahwa komposisi ASI yang diproduksi
oleh ibu yang melahirkan bayi kurang bulan (ASI prematur) berbeda dengan ASI yang
diproduksi oleh ibu yang melahirkan bayi cukup bulan (ASI matur). Pada bayi yang lahir
sebelum waktunya (preterm) ASI yang dihasilkan ibu memiliki kuantitas IgA, laktoferin
dan lysozym yang lebih banyak dibandingkan ASI dari ibu yang melahirkan tepat waktu
karena kondisi bayi masih belum dalam keadaan optimal untuk beradaptasi dan lebih
rentan terhadap permasalahan kesehatan (Neonatal division AIIMS, 2005).
Selanjutnya komposisi ASI yang dihasilkan saat bayi mulai menyusu dan akhir
fase menyusu. Pada awal fase menyusu ASI (5 menit pertama) yang dikeluarkan disebut

6
foremilk, air susu encer dan bening yang hanya mengandung
sekitar 1 – 2g/dl lemak, susu ini berasal dari payudara yang berisi, air susu yang encer ini
akan membantu memuaskan rasa haus bayi waktu mulai menyusui. Air susu berikutnya
disebut hindmilk yang merupakan ASI yang dihasilkan pada saat akhir menyusui (setelah
15-20 menit), air susu yang kental dan putih ini berasal dari payudara yang keriput/mulai
kosong, mengandung sedikitnya tiga sampai empat kali lebih banyak lemak. Ini akan
memberikan sebagian besar energi yang dibutuhkan oleh bayi, sehingga penting
diperhatikan agar bayi, banyak memperoleh air susu ini (Mizuno, K. et al., 2008).

2.1.4 Zat Gizi dalam ASI


1. Karbohidrat
Karbohidrat dalam ASI yang utama adalah laktosa, yang jumlahnya berubah-ubah
setiap hari menurut kebutuhan tumbuh kembang bayi. Misalnya hidrat arang dalam
kolostrum untuk tiap 100 ml ASI adalah 5,3 gram, dan dalam ASI peralihan 6,42 gram,
ASI hari ke-9 adalah 6,72 gram; ASI hari ke 30 adalah 7 gram. Rasio jumlah laktosa
dalam ASI dan PASI adalah 7:4 yang berarti ASI terasa lebih manis dibandingkan
dengan PASI, kondisi ini yang menyebabkan bayi yang sudah mengenal ASI dengan baik
cenderung tidak mau minum PASI.
Produk dari laktosa adalah galaktosa dan glukosamin. Galaktosa merupakan
nutrisi vital untuk pertumbuhan jaringan otak dan juga merupakan nutrisi medula
spinalis, yaitu untuk pembentukan myelin (pembungkus sel saraf). Laktosa meningkatkan
penyerapan kalsium dan magnesium yang sangat penting untuk pertumbuhan tulang,
terutama pada masa bayi untuk proses pertumbuhan gigi dan perkembangan tulang. Hasil
pengamatan yang dilakukan terhadap bayi yang mendapat ASI ekslusif menunjukkan
rata-rata pertumbuhan gigi sudah terlihat pada bayi berumur 5 atau 6 bulan, dan gerakan
motorik kasarnya lebih cepat.
Laktosa oleh fermentasi di dalam usus akan diubah menjadi asam laktat. Asam
laktat ini membuat suasana di usus menjadi lebih asam. Kondisi ini sangat
menguntungkan karena akan menghambat pertumbuhan bakteri yang berbahaya dan
menjadikan tempat yang subur bagi bakteri usus yang baik yaitu lactobacillus bifidus
karena proses pertumbuhan dibantu oleh glukosamin (Pudjiadi, 2004)

7
2. Protein
Protein dalam ASI merupakan bahan baku pada pertumbuhan dan perkembangan
bayi. Protein ASI sangat cocok karena unsur protein didalamnya hampir seluruhnya
terserap oleh sistem pencernaan bayi. Hal ini disebabkan karena protein ASI merupakan
kelompok protein Whey, protein yang sangat halus, lembut, dan mudah dicerna
sedangkan komposisi protein yang ada di dalam susu sapi adalah kasein yang kasar
bergumpal dan sangat sukar dicerna oleh bayi.
3. Lemak
Jenis lemak yang ada dalam ASI mengandung lemak rantai panjang yang
merupakan lemak kebutuhan sel jaringan otak dan sangat mudah dicerna serta
mempunyai jumlah yang cukup tinggi. Docosahexaenoic acid (DHA) dan Arachidonic
acid (AA) merupakan asam lemak tak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids)
yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak (myelinasi) yang optimal. Jumlah DHA
dan AA dalam ASI sangat mencukupi untuk menjamin pertumbuhan dan kecerdasan
anak. Selain itu DHA dan AA dalam tubuh dapat disintesa dari substansi prekusornya
yaitu asam linolenat (Omega 3) dan asam linoleat (Omega 6).
Sumber utama kalori dalam ASI adalah lemak. Walaupun kadar lemak dalam
ASI tinggi tetapi mudah diserap oleh bayi karena trigliserida dalam ASI lebih dulu
dipecah menjadi asam lemak dan gliserol oleh enzim lipase dalam ASI. (Dadhich, J.P.,
Dr. 2007).
4. Mineral
Zat besi dan kalsium didalam ASI merupakan mineral yang sangat stabil dan
jumlahnya tidak dipengaruhi oleh diet ibu. Walaupun jumlah kecil tidak sebesar susu sapi
tetapi dapat diserap secara keseluruhan dalam usus bayi. Berbeda dengan susu sapi yang
jumlahnya tinggi namun sebagian besar harus dibuang melalui sistem urinaria maupun
pencernaan karena tidak dapat dicerna. Kadar mineral yang tidak dapat diserap akan
memperberat kerja usus bayi untuk mengeluarkan, menganggu keseimbangan dalam usus bayi,
dan meningkatkan pertumbuhan bakteri yang merugikan yang akan mengakibatkan kontraksi
usus bayi tidak normal sehingga bayi kembung, gelisah karena konstipasi atau gangguan
metabolisme.

8
5. Vitamin
Vitamin K yang berfungsi sebagai katalisator pada proses pembekuan darah terdapat
dalam ASI dalam jumlah yang cukup. Namun pada minggu pertama usus bayi belum mampu
membentuk vitamin K, sedangkan bayi setelah persalinan mengalami pendarahan perifer yang
perlu dibantu dengan pemberian vitamin K untuk proses pembekuan darah. Dalam ASI vitamin
A, D, C ada dalam jumlah yang cukup, sedangkan golongan vitamin B kecuali riboflavin dan
pantotenik sangat kurang. Tetapi tidak perlu ditambahkan karena bisa diperoleh dari menu yang
dikonsumsi ibu.

Tabel 2. Komposisi Kolostrum dan ASI (setiap 100 ml)


Zat Gizi Satuan Kolostrum ASI
Energi Kkal 58,0 70
Laktosa Gr 5,3 7,3
Casein Mg 140 187
Protein Gr 2,3 0,9
Lemak Gr 2,9 4,2
Kalsium Mg 39 35
Zat besi Mg 70 100
Fosfor Mg 14 15
Vitamin A g 151 75
Vitamin B1 g 1,9 14
Vitamin B2 g 30 40
Vitamin B12 g 0,05 0,1

2.1.5 Kandungan Antibodi dalam ASI


ASI mengandung macam-macam substansi anti infeksi yang melindungi bayi
terhadap infeksi terutama bilamana kebersihan lingkungan tidak baik. Faktor-faktor
proteksi dalam ASI tersebut dapat dilihat dari tabel berikut :

9
Tabel 3 Komponen unggul yang terkandung dalam ASI yang dapat melindungi bayi dari
berbagai penyakit
NO Komposisi Peranan
1. Faktor bifidus Mendukung proses perkembangan bakteri yang
menguntungkan dalam usus bayi untuk mencegah
pertumbuhan bakteri yang merugikan seperti E.
Coli patogen
2. Laktoferin & Transferin Mengikat zat besi sehingga zat besi tidak
digunakan oleh bakteri patogen untuk
pertumbuhannya.
3. Laktoperoksidase Bersama dengan peroksidase hidrogen dan ion
tiosianat membantu membunuh Streptococcus
4. Faktor Antistaphilococcus Menghambat pertumbuhan Staphilococcus
patogen.
5. Sel limfosit dan makrofag Mengeluarkan zat anti bodi untuk meningkatkan
imunitas terhadap penyakit.
6. Komplemen Memperkuat Fagosit
7. Imunoglobulin Memberikan kekebalan terhadap infeksi
8. Lizosim Memiliki fungsi bakteriostatik terhadap
enterobakteri dan bakteri gram negatif
9. Interferon Menghambat pertumbuhan virus
10. Faktor pertumbuhan epidermis Membantu pertumbuhan selaput usus bayi
sebagai perisai untuk menghindari zat-zat
merugikan yang masuk ke peredaran darah.
Sumber: Karyadi, 2003

2.1.6 Manfaat ASI


ASI sebagai makanan utama bayi mempunyai manfaat terhadap bayi, antara lain
sebagai berikut :
1. ASI sebagai makanan alamiah yang baik untuk bayi, mudah dicerna dan memiliki
komposisi, zat gizi yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan
pencernaan bayi.

10
2. ASI mengandung laktosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan susu buatan.
Didalam usus laktosa akan difermentasi menjadi asam laktat yang bermanfaat
untuk:
- menghambat pertumbuhan bakteri yang bersifat patogen.
- Merangsang pertumbuhan organisme mikroorganisme yang dapat menghasilkan
asam organik dan mensintesa beberapa jenis vitamin.
- Memudahkan penyerapan berbagai jenis mineral seperti calsium, magnesium.
3. ASI mengandung zat pelindung (antibodi) yang dapat melindungi bayi selama 0-6
bulan pertama
4. ASI tidak mengandung beta–lactoglobulin yang dapat menyebabkan alergi pada
bayi.
5. ASI eksklusif sampai enam bulan menurunkan resiko sakit jantung anak pada masa
dewasa.
Selain memberikan kebaikan bagi bayi, menyusui bayi juga memberikan manfaat
pada ibu, yaitu :
1. Mencegah perdarahan pasca persalinan dan mempercepat kembalinya rahim ke
bentuk semula.
2. Mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum hamil.
3. Menunda kesuburan. Pemberian ASI dapat digunakan sebagai cara mencegah
kehamilan. Namun, ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu: bayi belum diberi
makanan lain; bayi belum berusia enam bulan; dan ibu belum haid.
4. Menimbulkan perasaan dibutuhkan dan memperkuat hubungan batin antara ibu dan
bayi.
5. Mengurangi kemungkinan kanker payudara pada masa yang akan datang.

Manfaat lain dari pemberian ASI pada bayi untuk keluarga, antara lain adalah
sebagai berikut:
1. Aspek ekonomi, ASI tidak perlu dibeli, sehingga dana yang seharusnya
digunakan untuk membeli susu formula dapat digunakan untuk keperluan lain.
2. ASI sangat praktis karena dapat diberikan dimana saja dan kapan saja.

11
3. Mengurangi biaya pengobatan. Bayi yang mendapat ASI jarang sakit,
sehingga dapat menghemat biaya untuk berobat.

2.2 Laktasi
2.2.1 Fisiologi Laktasi
Laktasi atau menyusui yaitu proses produksi, sekresi, dan pengeluaran ASI.
Proses laktasi dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah faktor hormonal.
Mulai dari bulan ketiga kehamilan, tubuh wanita memproduksi hormon yang
menstimulasi munculnya ASI dalam sistem payudara progesteron, estrogen, prolaktin,
oksitosin, human placental lactogen (HPL)
Pada bulan kelima dan keenam kehamilan, payudara siap memproduksi ASI. Pada
fase terakhir kehamilan, payudara wanita memasuki fase Laktogenesis I. Saat itu
payudara memproduksi kolostrum, yaitu berupa cairan kental yang kekuningan. Pada saat
itu, tingkat progesteron yang tinggi mencegah produksi ASI sebenarnya.
Saat melahirkan, keluarnya plasenta menyebabkan turunnya tingkat hormon
progesteron, estrogen, dan HPL secara tiba-tiba, namun hormon prolaktin tetap tinggi.
Hal ini menyebabkan produksi ASI besar-besaran yang dikenal dengan fase Laktogenesis
II. Apabila payudara dirangsang, level prolaktin dalam darah meningkat, memuncak
dalam periode 45 menit, dan kemudian kembali ke level sebelum rangsangan tiga jam
kemudian. Keluarnya hormon prolaktin menstimulasi sel di dalam alveoli untuk
memproduksi ASI, dan hormon ini juga keluar dalam ASI itu sendiri. Penelitian
mengindikasikan bahwa level prolaktin dalam susu lebih tinggi apabila produksi ASI
lebih banyak, yaitu sekitar pukul 2 pagi hingga 6 pagi, namun level prolaktin rendah saat
payudara terasa penuh. Proses laktogenesis II dimulai sekitar 30-40 jam setelah
melahirkan, tetapi biasanya para ibu baru merasakan payudara penuh sekitar 50-73 jam
(2-3 hari) setelah melahirkan. Artinya, memang produksi ASI sebenarnya tidak langsung
setelah melahirkan.
Sistem kontrol hormon endokrin mengatur produksi ASI selama kehamilan dan
beberapa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil, sistem
kontrol autokrin dimulai. Fase ini dinamakan Laktogenesis III. Pada tahap ini, apabila
ASI banyak dikeluarkan, payudara akan memproduksi ASI dengan banyak pula.

12
Penelitian berkesimpulan bahwa apabila payudara dikosongkan secara menyeluruh juga
akan meningkatkan taraf produksi ASI. Dengan demikian, produksi ASI sangat
dipengaruhi seberapa sering dan seberapa baik bayi menghisap, dan juga seberapa sering
payudara dikosongkan. Terdapat dua refleks pada ibu yang sangat penting dalam proses
laktasi yaitu :
a. Refleks prolaktin
Dalam puting susu terdapat banyak ujung saraf sensoris. Bila ini dirangsang,
maka timbal impuls yang menuju hipotalamus selanjutnya ke kelenjar hipofisis anterior
sehingga kelenjar ini mengeluarkan hormon prolaktin, hormon inilah yang berperan
pada produksi ASI. Prolaktin dibentuk lebih banyak pada malam hari.
b. Refleks Aliran (let down reflex)
Rangsangan puting susu tidak hanya diteruskan sampai ke kelenjar hipofisis
anterior, tetapi juga ke kelenjar hipofisis posterior, yang mengeluarkan hormon
oksitosin. Hormon ini berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di dinding
alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI dipompa keluar. Oksitosin juga memacu
kontraksi otot rahim sehingga involusi makin cepat dan baik. Tidak jarang perut ibu
terasa mulas pada hari-hari pertama menyusui dan ini adalah mekanisme alamiah untuk
kembalinya rahim ke bentuk semula (Guyton, 2003).

13
2.2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Produksi ASI
 Makanan Ibu
Makanan yang dikonsumsi ibu dalam masa menyusui tidak secara langsung
mempengaruhi mutu ataupun jumlah air susu yang dihasilkan. Namun jika
makanan ibu terus-menerus tidak mengandung cukup zat gizi yang diperlukan
tentu pada akhirnya kelenjar-kelenjar pembuat air susu dalam payudara ibu tidak
akan dapat bekerja dengan sempurna, dan akhirnya akan berpengaruh terhadap
produksi ASI.

14
 Ketentraman Jiwa dan Pikiran
Ibu yang selalu dalam keadaan gelisah, kurang percaya diri dan rasa tertekan dan
berbagai bentuk ketegangan emosional, mungkin akan gagal dalam menyusui
bayinya.
 Penggunaa Alat Kontrasepsi yang mengandung estrogen dan progesteron
Bagi ibu yang dalam menyusui tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi pil
yang mengandung hormon estrogen, karena hal ini dapat mengurangi jumlah
produksi ASI bahkan dapat menghentikan produksi ASI secara keseluruhan oleh
karena itu alat kontrasepsi yang paling tepat digunakan adalah alat kontrasepsi
dalam rahim (AKDR) yaitu IUD atau spiral. Karena AKDR dapat merangsang
uterus ibu sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan hormon oksitosin
yang dapat merangsang produksi ASI.
 Kurang sering menyusui atau memerah payudara
 Apabila bayi tidak bisa menghisap ASI secara efektif, antara lain akibat:
o Struktur mulut dan rahang yang kurang baik
o Teknik perlekatan yang salah
 Kelainan endokrin ibu (jarang terjadi)
 Jaringan payudara hipoplastik

2.3 ASI Eksklusif


Yaitu memberikan ASI saja selama bayi berumur 0-6 bulan. ASI tanpa bahan makanan
lain dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan sampai usia sekitar enam bulan, setelah itu ASI
hanya berfungsi sebagai sumber protein, vitamin dan mineral utama untuk bayi yang mendapat
makanan tambahan yang tertumpu pada beras. Pengenalan makanan tambahan dimulai pada usia
enam bulan dan bukan empat bulan, karena pertama dari hasil penelitian jumlah komposisi ASI
masih cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi apabila ASI diberikan secara tepat dan
benar sampai bayi berumur enam bulan.
Dari segi kebutuhan cairan dan energi, bayi usia 6 bulan dengan berat badan ideal 7,5 kg
membutuhkan intake cairan sebesar 750 ml/hari, dengan kebutuhan kalori 750kkal/hari, serta
protein 18,75 gr/hari. Ibu dengan bayi usia 6 bulan ASI yang diproduksi 300-850 ml/hari dengan
kandungan kalori sebesar 70kkal dan protein sebesar 1,3gram tiap 100ml ASI. Karena itu selama

15
kurun waktu 6 bulan ASI mampu memenuhi kebutuhan gizi bayi. Setelah 6 bulan volume
pengeluaran ASI menjadi menurun dan sejak saat itu kebutuhan gizi tidak lagi dapat dipenuhi
oleh ASI saja dan harus mendapat makanan tambahan.
Pada saat bayi berumur enam bulan sistem pencernaannya mulai matur. Setelah berumur
enam bulan usus bayi mampu menolak faktor alergi ataupun kuman yang masuk. Hal ini
dikarenakan pori-pori jaringan usus bayi yang pada awalnya berongga seperti saringan pasir yang
memungkinkan bentuk protein ataupun kuman akan langsung masuk dalam sistem peredaran
darah dan dapat menimbulkan alergi, akan tertutup rapat setelah bayi berumur enam bulan
(Manajemen laktasi, 2004).

Tabel 4 Kebutuhan cairan, kalori dan protein bayi menurut U/BB


Kebutuhan per hari
Umur Cairan (ml) Kalori (kkal) Protein (gr)
1 bulan ± 500 ± 350 8,75
3 bulan ± 600 ± 600 15
4 bulan ± 650 ± 650 16,25
5 bulan ± 700 ± 700 17,5
6 bulan ± 750 ± 750 18,75
7 bulan ± 800 ± 800 20
8 bulan ± 850 ± 850 21,25
9 bulan ± 900 ± 900 22,5
10 bulan ± 950 ± 950 23,75
11 bulan ± 1000 ± 1000 25
12 bulan ± 1050 ± 1050 26,25
2 tahun ± 1600 ± 1600 32
Sumber: Karyadi, 2003

2.4 Manfaat ASI Eksklusif


Bagi bayi, ASI merupakan sumber nutrisi yang ideal dengan komposisi seimbang
dan mencukupi kebutuhan tumbuh bayi hingga usia 6 bulan. Kandungan zat protektif
dalam ASI juga meningkatkan daya tahan tubuh bayi dari infeksi.

16
Bagi ibu, menyusui dapat merangsang kontraksi rahim sehingga mengurangi
perdarahan setelah melahirkan. Menyusui juga dapat berperan sebagai kontrasepsi alami.
Selama ibu memberikan ASI eksklusif, 98% ibu tidak hamil pada 6 bulan pertama setelah
melahirkan dan 96% tidak hamil hingga bayi berusia 12 bulan. Menyusui juga
mengurangi risiko terjadinya kanker payudara dan ovarium pada ibu. Selain itu,
pemberian ASI juga lebih praktis dan ekonomis.

2.5 Praktek Pemberian ASI Eksklusif


Langkah menyusui yang benar:
1. Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit dan dioleskan pada puting susu dan
areola (daerah hitam sekitar puting susu). Cara ini bermanfaat untuk menjaga
kelembapan putting susu
2. Bayi diletakkan menghadap perut atau payudara ibu
a. Ibu duduk atau berbaring santai. Bila duduk, sebaiknya menggunakan kursi
yang rendah agar kaki ibu tidak tergantung dan punggung ibu dapat bersandar
pada sandaran kursi
b. Bayi dipegang dengan satu lengan, kepala bayi diletakkan pada lengkung siku
ibu dan bokong bayi terletak pada lengan. Kepala bayi tidak boleh tertengadah
dan bokong bayi ditahan dengan telapak tangan ibu
c. Satu tangan bayi diletakkan di belakang badan ibu dan yang lainnya di depan
d. Perut bayi menempel pada badan ibu, kepala bayi menghadap payudara
e. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
3. Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari lain menopang di bawah.
Jangan menekan puting susu atau aerola saja.
4. Bayi diberi rangsangan membuka mulut dengan cara:
a. Menyentuh pipi bayi dengan puting susu
b. Menyentuh sisi mulut bayi
5. Setelah bayi membuka mulut, dekatkan kepala bayi ke payudara ibu dengan
puting dan aerola dimasukkan ke mulut bayi
a. Usahakan sebagian besar aerola dapat masuk ke dalam mulut bayi sehingga
putting susu berada di bawah langit-langit mulut bayi, dan lidah bayi akan

17
menekan ASI keluar dari tempat penampungan ASI yang terletak di bawah
aerola
b. Setelah bayi mulai menghisap, payudara tidak perlu dipegang atau disangga
lagi

Apabila satu payudara sudah kosong, sebaiknya ganti menyusui pada payudara
yang lain. Untuk menyusui berikutnya, mulai dari payudara yang belum
terkosongkan (yang terakhir dihisap). Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan
sedikit dan dioleskan pada puting susu dan aerola, kemudian biarkan mengering
dengan sendirinya.
Pemberian ASI pada bayi sebaiknya tidak dijadwalkan dan dilakukan setiap
saat bayi membutuhkan. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan
karena sebab lain. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara dalam waktu
sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam.
Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola menyusui yang teratur dan akan mempunyai
pola tertentu setelah 1-2 minggu.

18
BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di seluruh desa Oluhuta dengan survey dari rumah ke
rumah pada bulan Agustus - Oktober 2018 bersamaan dengan kegiatan Program
Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK).

3.3 Populasi dan Sampel


Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki anak berusia 7-23 bulan di desa
Oluhuta wilayah lingkungan kerja Puskesmas Kabila.

3.4 Alat Penelitian


Wawancara dengan seluruh ibu yang memiliki anak usia 7-23 bulan pada saat
kunjungan rumah di desa Oluhuta.

3.5 Metode Pengumpulan Data


3.5.1 Data Sekunder
Data tersier diperoleh dari Puskesmas Kabila yaitu data yang telah terkumpul dari
program PIS-PK mengenai demografi penduduk desa Oluhuta, pendidikan terakhir
ibu, pekerjaan ibu, usia ibu dan jumlah anak berusia 7-23 bulan yang mendapatkan
ASI ekslusif

19
3.6 Prosedur Penelitian

Mendata jumlah ibu yang memiliki anak berusia 7-23 bulan di desa
Oluhuta wilayah Puskesmas Kabila pada bulan Agustus – Oktober 2018

Didapatkan total jumlah ibu yang memiliki anak berusia 7-23 bulan di
wilayah Puskesmas kelurahan Kabila kemudian dijadikan sebagai populasi
penelitian

Mengumpulkan data dari ibu yang memiliki anak usia 7-23 bulan pada
saat kunjungan rumah PIS-PK

Analisis data

20
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Profil Komunitas Umum (Puskesmas Kabila)


Puskesmas Kabila merupakan salah satu Puskesmas yang ada di wilayah Kabupaten
Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Cakupan lingkungan kerja wilayah Puskesmas
Kabila terdiri dari 12 desa yaitu: Dutohe, Dutohe Barat, Oluhuta, Oluhuta Utara,
Padengo, Pauwo, Poowo, Poowo Barat, Talango, Tanggilingo, Toto Selatan, dan
Tumbihe. Berikut luas wilayah masing-masing desa dengan rincian luas wilayah,
jumlah penduduk dan KK :

Luas wilayah Jumlah Jumlah


Nama Desa
km-2 penduduk KK
Dutohe 17,55 1180 333

Dutohe Barat 14,08 1788 543

Talango 10,12 1425 397

Tanggilingo 17,39 1935 535

Toto Selatan 18,34 1844 473

Tumbihe 10,56 2511 709

Oluhuta 26,58 1916 559

Oluhuta Utara 5,05 1072 317

Padengo 15,81 2747 851

Pauwo 15,81 3405 936

Poowo 21,08 1727 469

Poowo Barat 21,08 1581 435

4.2 Data Demografis


Jumlah Penduduk lingkungan wilayah kerja Puskesmas Kabila adalah 23.295
jiwa. Jumlah penduduk di desa Oluhuta Kecamatan Kabila Tahun 2018 dari Data
Kependudukan dan Pencatatan Sipil (dukcapil) Oluhuta sejumlah 1.916 jiwa.

21
Jumlah Penduduk wilayah kerja Puskesmas Kabila

1581 1180
Dutohe
1788
1727 Dutohe Barat
Talango
1425
Tanggilingo

3405 Toto Selatan


1935 Tumbihe
Oluhuta
Oluhuta Utara
1844
Padengo
2747 Pauwo
Poowo
2511
1072 Poowo Barat
1916

4.3 Data Kesehatan Masyarakat (Primer)


4.3.1 Pencapaian ASI Eksklusif di desa Oluhuta

Perbandingan ASI ekslusif pada bayi usia 0 - 6 bulan di


desa Oluhuta
20

15

10

0
Asi Eksklusif Tidak Asi Ekslusif

Jumlah seluruh anak berusia 7-23 bulan di desa Oluhuta adalah 17 jiwa
Jumlah anak berusia 7-23 bulan yang mendapat asi ekslusif adalah 7 jiwa (41,2%)

22
4.3.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia Ibu
Kelompok Usia Frekuensi Persentase (%)
20-35 tahun 13 76,47
> 35 tahun 4 23,53
Jumlah 17 100

Dari hasil penelitian, diperoleh data bahwa kelompok ibu berusia 20-35 tahun
memiliki frekuensi terbanyak yaitu 13 orang (76,47%), diikuti dengan kelompok usia
lebih dari 35 tahun sebanyak 4 orang (23,53%).

4
20-35 tahun
3 > 35 tahun

0
ASI Eksklusif Tidak ASI Eksklusif

Diperoleh data bahwa kelompok ASI eksklusif pada ibu berusia 20-35 tahun
memiliki frekuensi terbanyak yaitu 5 orang (71,42%), diikuti dengan kelompok usia lebih
dari 35 tahun sebanyak 2 orang (28,57%). Sedangkan pada kelompok Tidak ASI
eksklusif pada ibu berusia 20-35 tahun memiliki frekuensi yaitu 6 orang (60%), diikuti
dengan kelompok usia lebih dari 35 tahun sebanyak 4 orang (40%).
Umur adalah faktor yang menentukan pemberian ASI dari segi produksi. Ibu yang
berusia 19-23 tahun pada umumnya dapat menghasilkan cukup ASI dibandingkan dengan
yang berusia lebih tua karena fisiologis tubuh yang masih baik.

23
4.3.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendidikan Terakhir Ibu
Pendidikan Terakhir Frekuensi Persentase (%)
SD 4 23,53
SMP 2 11,76
SMA 9 52,94
Perguruan Tinggi 2 11,76
Jumlah 17 100

Dari hasil penelitian, didapatkan data bahwa ibu dengan pendidikan terakhir SMA
memiliki frekuensi terbanyak yaitu 9 orang (52,94%), diikuti dengan pendidikan terakhir
SD sebanyak 4 orang (23,53%), SMP 2 orang (11,76%), dan Perguruan Tinggi 2 orang
(11,76%).

10
9
8
Perguruan tinggi
7
6 SMA
5 SMP
4 SD
3
2
1
0
ASI eksklusif tidak ASI eksklusif

Diperoleh data pada kelompok ASI eksklusif pendidikan yang terbanyak adalah
SMA yaitu sekitar 5 orang (71.42%). Sebagaimana umumnya, tingkat pendidikan
mempengaruhi kemudahan mendapatkan informasi yang akhirnya mempengaruhi
perilaku seseorang.

24
4.3.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Status Pekerjaan Ibu
Status Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)
Tidak bekerja 12 70,59
Bekerja 5 29,41
Jumlah 17 100

Dari hasil penelitian diperoleh angka yang lebih tinggi pada ibu yang tidak
bekerja yaitu sebanyak 12 orang (70,59%), sedangkan ibu yang bekerja sebanyak 5 orang
(29,41%).
12

10

6 Tidak bekerja
Bekerja

0
ASI eksklusif tidak ASI eksklusif

Didapatkan data pada kelompok ASI eksklusif ibu yang tidak bekerja sebesar
57.14% dan pada kelompok tidak asi eksklusif ibu yang tidak bekerja sebesar 80%.
Status pekerjaan ibu merupakan faktor pendukung pemberian ASI, di mana ibu yang
tidak bekerja akan lebih mudah dalam memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu yang
bekerja. Hal ini dikarenakan ibu yang tidak melakukan pekerjaan di luar rumah akan
memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk menyusui bayinya dibandingkan dengan
ibu yang bekerja di luar rumah. Sebenarnya ibu yang bekerja masih dapat memberikan
ASI kepada bayinya dengan memerah ASI baik menggunakan alat/pompa maupun
tangan, kemudian disimpan dan dapat diberikan pada bayi selama ibu bekerja.

25
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:
1. Jumlah ibu yang masuk dalam kelompok ASI eksklusif di desa Oluhuta adalah 7
orang (41.2%) sedangkan yang tidak ASI eksklusif adalah 10 orang (58.8%)
2. Berdasarkan usia, kelompok ibu yang berusia 20-35 tahun memiliki frekuensi
sebanyak 13 orang (76,47%) dan usia lebih dari 35 tahun sebanyak 4 orang
(23,53%). Pada ibu yang berusia 20-35 tahun, yang masuk dalam kelompok ASI
eksklusif berjumlah 5 orang (71,42%), sedangkan pada kelompok usia lebih dari
35 tahun berjumlah 2 orang (28,57%). Pada ibu berusia 20-35 tahun yang masuk
dalam kelompok ASI eksklusif berjumlah 6 orang (60%), sedangkan kelompok
usia lebih dari 35 tahun sebanyak 4 orang (40%).
3. Berdasarkan status pendidikan, jenjang pendidikan terakhir SMA sebanyak 9
orang (52,94%), pendidikan terakhir SD sebanyak 4 orang (23,53%), SMP 2
orang (11,76%), dan Perguruan Tinggi 2 orang (11,76%). Pada kelompok ASI
eksklusif, status pendidikan terakhir SMA terbanyak yaitu 5 orang (71.42%),
4. Berdasarkan status pekerjaan, kelompok ibu yang tidak bekerja berjumlah 12
orang (70,59%), sedangkan ibu yang bekerja sebanyak 5 orang (29,41%). Pada
kelompok yang tidak bekerja didapatkan jumlah ibu dalam kelompok ASI
eksklusif sebanyak 4 orang sedangkan yang tidak ASI eksklusif sebanyak 8 orang.
Pada kelompok yang bekerja didapatkan jumlah ibu dalam kelompok ASI
eksklusif sebanyak 3 orang sedangkan yang tidak ASI eksklusif sebanyak 2 orang.

5.2 Saran
1. Pembentukan program mengenai ASI Eksklusif meliputi dokter/bidan desa
dengan kemampuan konseling dan dievaluasi secara rutin tiap bulannya untuk
memonitor kembali perkembangan peningkatan cakupan indikator ASI Eksklusif
pada PISPK.

26
2. Pendataan tiap bulan ibu yang baru selesai melahirkan dan ibu sudah mendekati
waktu persalinan untuk dijadwalkan mengikuti program kelas ASI Eksklusif.
3. Pembentukan kader Manajemen laktasi di desa Oluhuta yang dibina langsung
oleh bidan desa Oluhuta.
4. Penyuluhan secara rutin dan berkala di tiap posyandu di wilayah kecamatan
kabila mengenai ASI Eksklusif kepada bidan desa, kader – kader desa, ibu hamil,
ibu menyusui berserta suami.
5. Dibukanya kelas Ibu hamil dan menyusui dimana diajarkan di dalam nya manfaat
pemberiaan ASI, kerugian yang didapatkan jika tidak memberikan ASI, teknik
pijat ASI, makanan yang dapat menambah ASI, teknik menyusui yang baik dan
benar, dan cara penyimpanan ASI.
6. Bekerja sama dengan bagian kebidanan di RS Toto dalam pendataan Ibu yang
baru melahirkan untuk di didaftarkan dalam kelas ibu hamil dan tidak
memberikan susu formula pada bayi baru lahir.
7. Pembagian leaflet atau brosur mengenai ASI Eksklusif dimana terdapat jenis
makanan yang dapat meningkatkan ASI, teknik pijat ASI, dan seberapa banyak
bayi menyusu sesuai usia nya.
8. Pemberian buku saku ASI atau ibu menyusui pada bidan desa/kader manajemen
laktasi.

27
DAFTAR PUSTAKA

Arafah, Nur. 2010 Gambaran Perilaku Ibu Menyusui Tentang Pemberian Asi Eksklusif
Di Kecamatan Sibolga Selatan Kota Sibolga Tahun 2008. Medan: FK USU
Arifin, Siregar.2004. Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor-Faktor yang
Mempengaruhinya. Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Medan: FK USU
BPNI. 2007. Production of breastmilk, establishing breastfeeding skills and the
composition of breastmilk. http://www.bpni.com
Dadhich, J.P., Dr. 2007. Successful Infant and Young Child Feeding.
http://www.bpni.org/Presentation/Successful_Exclusive_Breastfeeding.pdf
Emilia, Rika. 2009. Pengaruh Penyuluhan Asi Eksklusif Terhadap Pengetahuan Dan
Sikap Ibu Hamil Di Mukim Laure-E Kecamatan Simeulue Tengah Kabupaten
Simeulue (Nad) Tahun 2008 . Medan: FKM USU
Linkages. 2002. Pemberian ASI eksklusif: Satu-satunya sumber cairan yang dibutuhkan
bayi usia dini. Academy for educational. http://www.linkagesproject.org
Nelson E Waldo.2007.Text Book of Paediatric 18th edition. Philadelphia: Saunders
Purwanti, 2004. Konsep Penerapan ASI ekslusif, Buku Kedokteran. Jakarta : EGC
Puskesmas Kabila. 2017. Profil Puskesmas Kabila. Bone bolango.
Safitri Dian.2007. Dasar-Dasar Pemberian Susu Formula Pada Bayi,
http://www.babycenter.com/refcap/baby/babyfeeding/9195.html
USAID Linkages Project, 2004. Exclusive Breastfeeding: The Only Water Source Young
Infants Need - Frequently Asked Questions, Washington DC.
U.S. Department of Health and Human Services on Women’s Health. 2007. An Easy
Guide to Breastfeeding. http://www.womenshealth.gov/pub/BF.General.pdf
WHO. 2001. The Optimal Duration of Exclusive Breastfeeding. Geneva: Department of
Nutrition for Health and Development (NHD)

28
LAMPIRAN

Lampiran 1. Buku saku ASI Eksklusif untuk bidan

29
30
31