Anda di halaman 1dari 4

MICROBIOLOGIC SPECTRUM OF ACUTE AND

CHRONIC DACRYOCYSTITIS

Eshraghi, B., Abdi, P., Akbari, M., Fard, M.A. Microbiologi spectrum of acute and chronic
dacryocystitis. International Journal Ophthalmolgy. 2014;7(5):864-867.

Penulis : Bahram Esharghi, Parisa Abdi, Mohammadreza Akbar, Masoud Aghsaci Fard

Present by :
Samuel Sebastian Sirapanji
406148009

2017
RESUME JOURNAL

Judul : Microbiologi spectrum of acute and chronic dacryocystitis. International Journal


Ophthalmolgy

Penulis : Bahram Esharghi, Parisa Abdi, Mohammadreza Akbar, Masoud Aghsaci Fard

Sumber : Eshraghi, B., Abdi, P., Akbari, M., Fard, M.A. Microbiologi spectrum of acute and
chronic dacryocystitis. International Journal Ophthalmolgy. 2014;7(5):864-867.

Latar Belakang : Pada kondisi dibawah normal, mukosa dari sakus lakrimal memiliki
resisten tinggi terhadap infeksi. Bagaimanapun, infeksi pada sakus dan dakriosistitis dapat
dipicu oleh obstruksi bagian distal duktus nasolakrimal. Dakriosistitis dibagi dalam 2 jenis.
Dakriosistitis akut merupakan inflamasi akut dari sakus lakrimal dengan nyeri tekan dan
eritem dari lapisan jaringan dan 23% dengan abses lakrimal. Dakriosistitis kronik lebih
sering daripada dakriosistitis akut dan memiliki beberapa tingkat dari manifestasinya seperti
epifora, sekret mukus, konjungtiva hiperemis dan konjungtivitis kronis. Alasan perbedaan
manifestasinya mungkin berhubungan dengan patogenesis dari dakriosistitis dan ada pola dari
variasi geografi di mikrobiologi dari dakriosistitis akut dan kronis. Selain itu, patologi hidung
yang berbeda tampaknya memiliki peran dalam perkembangan dakriosistitis.
Ada beberapa studi relatif tentang karakteristik mikrobiologi dari infeksi sakus lakrimal.
Kebanyakan dari penelitian tersebut telah mempelajari tipe spesifik infeksi, dan hanya
beberapa penelitian yang memiliki perbandingan infeksi akut dan kronis. Bakteri gram positif
telah mendominasi banyak penelitian, tetapi beberapa penelitian terbaru menunjukkan
peningkatan frekuensi bakteri gram negatif. Oleh karena itu, ada kekhawatiran tentang
perubahan arah gejala dalam spektrum mikrobiologi pada dakriosistitis.

Tujuan : Mengetahui organisme penyebab penyakit dakriosistitis akut dan kronis agar dapat
memilih antibiotik yang lebih efektif.

Metodologi : Penelitian retrospektif dari 100 pasien yang dipresentasikan klinik optalmik
plastik dari tertiary eye care mulai dari bulan Mei 2011 hingga April 2013 dengan
dakriosistitis akut dan kronis ditinjau untuk demografi dan profil mikrobiologi. Hasil kultur
dan organisme yang diisolasi dilakukan pencatatan.
Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Inklusi : semua yang menderita dakriosistitis akut maupun kronis, usia 5-86 tahun. Jenis
kelamin laki-laki dan perempuan,

Eksklusi : Semua kasus pseudoepifora dan epifora yang disebabkan selain dari obstruksi
duktus nasolakrimal, pasien dengan riwayat infeksi sebelumnya, pembedahan maksilofasial,
atau trauma maksilofasial dan pasien yang memakai antibiotik topikal atau sistemik 1 minggu
sebelum saat mereka mengunjungi rumah sakit.

Hasil : Terdapat 60% pasien dakriosistitis akut dan 40% pasien dakriosistitis kronik. Rasio
perempuan terhadap laki-laki 1,78. Usia rata-rata dari pasien adalah 44 tahun. Organisme
gram positif yang biasa diisolasi dilaporkan sebanyak 54%, dan jenis organisme yang paling
sering diisolasi adalah S. Aureus (26%). Persentase kultur bakteri gram positif lebih tinggi
pada dakriosistitis kronik dibanding yang akut (82% vs 48% dari kultur positif; p=0,003).
Juga pada kultur positif dakriosistitis akut, ditemukan spesies gram negatif 52% dari mata,
tetapi pada dakriosistitis kronik hanya 18%.

Kesimpulan : Bakteri gram negatif, sampel kultur negatif, organisme yang lebih virulen
sering pada dakriosistitis akut dibanding yang kronik. Hasil dari penelitian ini memiliki
hubungan yang signifikan pada treatment pasien dengan dakriosistitis.

Rangkuman dan Hasil Pembelajaran : Telah dilakukan penelitian pada 100 pasien dari
Mei 2011 hingga April 2013 dengan penyakit dakriosistitis. Metodologi penelitian yang
digunakan adalah penelitian retrospektif. Dan tujuan penelitian ini untuk mengetahui bakteri
penyebab dari penyakit dakriosistitis baik akut maupun yang kronis agar dapat memilih
pengobatan antibiotik yang efektif. Adapun kriteria yang dapat dimasukkan dalam penelitian
ini adalah semua yang menderita dakriosistitis akut maupun kronik, berusia 5 – 86 tahun,
jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Untuk pasien dengan semua kasus pseudoepifora dan
epifora yang disebabkan selain dari obstruksi duktus nasolakrimal, pasien dengan riwayat
infeksi sebelumnya, pembedahan maksilofasial, atau trauma maksilofasial dan pasien yang
memakai antibiotik topikal atau sistemik 1 minggu sebelum saat mereka mengunjungi rumah
sakit, tidak dapat dimasukkan ke dalam kriteria penelitian ini.
Dari hasil skrining pada 100 pasien yang ikut dalam penelitian ini didapatkan 60% pasien
dengan dakriosistitis akut dan 40% pasien dengan dakriosistitis kronik. Dan rasio
perbandingan perempuan terhadap laki-laki adalah 1,78. Dengan usia rata-rata partisipan
adalah 44 tahun.
Hasil yang didapatkan adalah resiko terjadinya dakriosistitis tersebut pada usia pertengahan
atau usia tua dan lebih banyak mengenai kaum perempuan. Dakriosistitis akut lebih sering
pada pasien berusia kurang dari 30 tahun.
Dilakukan analisis mikrobiologi pada sekret yang diambil dari setiap pasien, dengan cara
kultur spesimen. Setiap spesimen yang dikultur, setiap hari diobservasi selama 7 hari. Dan
didapatkan hasil bahwa pada dakriosistitis akut, bakteri yang paling sering adalah bakteri
gram negatif. Sedangkan bakteri yang paling sering pada dakriosistitis kronik adalah bakteri
gram positif.