Anda di halaman 1dari 18

TUGAS AGAMA ISLAM

Dosen : Arifin S.PdI.,M.Si

Disusun
Sri Murtini
182432033

Prodi Diploma III Keperawatan


Universitas Sembilan Belas November Kolaka
Kolaka
2018

i
KATA PENGANTAR

          Segala puji dan syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena berkat rahmat dan bimbingan-Nya makalah ini dapat diselesaikan sesuai
dengan rencana. Makalah yang berjudul “Pengunaan Bahasa Indonesia yang baik
dan benar ” Ini sebagai pemenuhan tugas dari Dosen Pembina Bahasa Indonesia.

          Selama penyusunan makalah ini banyak kendala yang dihadapi, namun


berkat bimbingan serta bantuan dari berbagai pihak semua kendala tersebut dapat
teratasi. Pada kesempatan ini dengan ketulusan hati kami, kami ingin
menyampaikan rasa terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada yang
terhormat.

Kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis


penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki oleh kami.
Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran


bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi kami sehingga tujuan yang
diharapkan dapat tercapai, Amin.

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .......................................................................................... ii

Daftar Isi .......................................................................................... iii

BAB I

PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
1.1 L. Belakang ............................................................................. 1
1.2 R. Masalah ............................................................................. 2
1.3 Tujuan ............................................................................. 2

BAB II
PEMBAHASAN .......................................................................................... 3
2.1 Pengertian .......................................................................................... 3
2.2 Tata Cara .......................................................................................... 5
2.3 Manfaat .......................................................................................... 9
BAB III .......................................................................................... 13
3.1 Simpulan .......................................................................................... 13
3.2 Saran .......................................................................................... 13
Daftar pustaka ......................................................................................... 14

iii
iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang

Istilah bahasa Indonesia yang baik telah dikenal oleh masyarakat


secara luas dalam kehidupan sehari-hari. Namun pengenalan istilah tidak
menjamin secara komperhensif konsep dan makna istilah bahasa Indonesia
yang baik itu. Hal ini terbukti bahwa masih banyak orang atau masyarakat
berpendapat bahwa bahasa Indonesia yang baik sama dengan bahasa
Indonesia yang baku atau bahasa Indonesia yang benar. Slogan
“pergunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar”, tampaknya mudah
diucapkan, namun maknanya tidak jelas. Slogan tersebut diartikan oleh
sebagian besar masyarakat bahwa di segala tempat kita harus menggunakan
bahasa Indonesia yang baku. Selain itu, masalah lain yang perlu kita soroti
adalah sebagian besar orang terkadang sulit untuk melakukan komunikasi
yang interaktif satu sama lain, bukan berarti karena mereka tidak bisa
berbahasa indonesia yang baku dengan lancar. Bahasa Indonesia yang baku
dan bahasa indonesia yang benar belum tentu dapat menjamin
tersampaikannya maksud dan tujuan kepada lawan bicara. Sehingga
dibutuhkan susunan bahasa indonesia yang fleksibel yang artinya dapat
dengan mudah menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi.

Dengan gambaran kondisi yang demikian itu, dimana pengetahuan


masyarakat masih kurang tepat dan terbatas berkaitan dengan penggunaan
bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam
makalah ini penulis akan membahas tentang pengertian bahasa Indonesia
yang baik, cara berbahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan
sehari-hari, serta manfaat penggunaan bahasa Indonesia.

1
1.2.     Rumusan Masalah

Bahasa Indonesia yang baik merupakan kemampuan berbahasa yang


sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Indonesia yang baik
bukan berarti bahasa Indonesia yang baku, namun merupakan suatu susunan
bahasa yang dikemas secara fleksibel untuk mempermudah berkomunikasi
dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu kita perlu mengetahui dan menguasai
bahasa Indonesia yang baik, dengan mempelajari penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari, serta manfaat
bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.

1.      Apa yang dimaksud dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar ?

2.      Bagaimana cara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar


dalam kehidupan sehari-hari ?

3.      Apa saja manfaat menggunakan bahasa Indonesia ?

1.3.    Tujuan

        1.     Dalam makalah ini terdapat beberapa tujuan yang terdiri yaitu :

        2.     Mengetahui Apa yang dimaksud dengan bahasa Indonesia yang baik


dan benar

        3.     Mengetahui cara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar


dalam kehidupan sehari-hari

        4.     Mengetahui manfaat menggunakan bahasa Indonesia

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. A. Pengertian Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar

Berbahasa Indonesia yang baik adalah berbahasa Indonesia yang


sesuai dengan tempat terjadinya kontak berbahasa, sesuai dengan siapa lawan
bicara, dan sesuai dengan topic pembicaraan. Bahasa Indonesia yang baik tidak
selalu perlu beragam baku. Yang perlu diperhatikan dalam berbahasa Indonesia
yang baik adalah pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan
penutur dan jenis pemakaian bahasa. Orang yang mahir menggunakan
bahasanya sehingga maksud hatinya mencapai sasarannya, apa pun jenisnya
itu, dianggap berbahasa dengan efektif. Pemanfaatan ragam yang tepat dan
serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang
disebut bahasa yang baik atau tepat. Bahasa yang harus mengenai sasarannya
tidak selalu perlu beragam baik (Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia,
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1988, halaman 19). Jadi jika kita
berbahasa benar belum tentu baik untuk mencapai sasarannya, begitu juga
sebaliknya, jika kita berbahasa baik belum tentu harus benar, kata benar dalam
hal ini mengacu kepada bahasa baku. Contohnya jika kita melarang seorang
anak kecil naik ke atas meja, “Hayo adek, nggak boleh naik meja, nanti jatuh!”
Akan terdengar lucu jika kita menggunakan bahasa baku, “Adik tidak boleh
naik ke atas meja, karena nanti engkau bisa jatuh!”. Pemakaian bahasa
Indonesia yang baik perlu memperhatikan pemakaian ragam bahasa yang serasi
dengan sasarannya .(Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, 1988, halaman 20).

Kalau kita cermati kutipan-kutipan di atas tentang apa itu bahasa


Indonesia yang baik, erat sekali hubungannya dengan ragam bahasa. Berarti
untuk lebih memahaminya kita juga perlu tahu apa saja ragam bahasa yang ada
di dalam bahasa Indonesia. Sepertinya perlu pembahasan tersendiri mengenai

3
hal itu. Jadi yang penting dalam masalah “yang baik dan benar” kali ini adalah
kita tetap berbahasa sesuai keadaan, situasi, dengan siapa kita berbicara, dan
untuk tujuan apa kita berbahasa.

Penggunaan bahasa dengan baik menekankan aspek komunikatif


bahasa. Hal itu berarti bahwa kita harus memperhatikan sasaran bahasa kita.
Kita harus memperhatikan kepada siapa kita akan menyampaikan bahasa kita.
Oleh sebab itu, unsur umur, pendidikan, agama, status sosial, lingkungan
sosial, dan sudut pandang khalayak sasaran kita tidak boleh kita abaikan. Cara
kita berbahasa kepada anak kecil dengan cara kita berbahasa kepada orang
dewasa tentu berbeda. Penggunaan bahasa untuk lingkungan yang
berpendidikan tinggi dan berpendidikan rendah tentu tidak dapat disamakan.
Kita tidak dapat menyampaikan pengertian mengenai jembatan, misalnya,
dengan bahasa yang sama kepada seorang anak SD dan kepada orang dewasa.
Selain umur yang berbeda, daya serap seorang anak dengan orang dewasa tentu
saja berbeda. Lebih lanjut lagi, karena berkaitan dengan aspek komunikasi,
maka unsur-unsur komunikasi menjadi penting, yakni pengirim pesan, isi
pesan, media penyampaian pesan, dan penerima pesan. Mengirim pesan adalah
orang yang akan menyampaikan suatu gagasan kepada penerima pesan, yaitu
pendengar atau pembacanya, bergantung pada media yang digunakannya. Jika
pengirim pesan menggunakan telepon, media yang digunakan adalah media
lisan. Jika ia menggunakan surat, media yang digunakan adalah media tulis. Isi
pesan adalah gagasan yang ingin disampaikan kepada penerima pesan.

Marilah kita gunakan contoh sebuah majalah atau buku. Pengirim


pesan dapat berupa penulis artikel atau penulis cerita, baik komik, dongeng,
atau narasi. Isi pesan adalah permasalahan atau cerita yang ingin disampaikan
atau dijelaskan. Media pesan merupakan majalah, komik, atau buku cerita.
Semua bentuk tertulis itu disampaikan kepada pembaca yang dituju. Cara
artikel atau cerita itu disampaikan tentu disesuaikan dengan pembaca yang
dituju. Berarti, dalam pembuatan tulisan itu akan diperhatikan jenis
permasalahan, jenis cerita, dan kepada siapa tulisan atau cerita itu ditujukan.

4
B. Bahasa Indonesia Baku

1. Pengertian

Bahasa Indonesia terdiri atas berbagai ragam, tiap-tiap ragam itu memiliki
kekhasan. Akan tetapi, dari berbagai ragam itu masih dapat dikenali dan
dimengerti sebagai bahasa Indonesia karena masing-masing memiliki ciri umum
yang sama, yang mengacu pada salah satu ragam yang dianggap sebagai
patokannya. Ragam yang dianggap sebagai patokan inilah yang dijadikan tolok
bandingan bagi pemakaian ragam yang lain. Dengan adanya tolok ini orang dapat
mengetahui mana pemakaian bahasa yang benar dan mana yang tidak benar.
Ragam bahasa yang mengemban fungsi sebagai tolok semacam itu disebut dengan
bahasa baku atau bahasa standar. Dengan demikian, bahasa Indonesia baku
merupakan salah satu ragam bahasa Indonesia yang berfungsi sebagai tolok
bandingan bagi pemakaian ragam bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia baku
disebut juga bahasa Indonesia yang formal, yaitu bahasa Indonesia yang
dituturkan dalam situasi resmi.
Secara lebih rinci, ragam bahsa Indonesia baku dipakai dalam situasi
berbahasa sebagai berikut:

1. Untuk komunikasi resmi, seperti dalam upacara-upacara kenegaraan,


rapat-rapat dinas, surat-menyurat resmi,dan sebagainya.
2. Untuk wacana teknis, seperti laporan kegiatan, usulan proyek, lamaran
pekerjaan, karya ilmiah,dan sebagainya.
3. Pembicaraan di depan umum, misalnya pidato, ceramah, khotbah,
pengajaran di sekolah,dan sebagainya.
4. Berbicara dengan orang yang patut dihormati misalnya guru, pejabat
pemerintahan, atasan, atau orang yang belum atau baru saja dikenal.

5
A. Ciri-ciri

Ragam bahasa baku atau standar memiliki tiga ciri yaitu :

1. Kemantapan dinamis

Bahwa bahasa baku haruslah memiliki kaidah dan aturan yang tetap. Baku
atau standar tidak dapat berubah setiao saat,jadi kaidah-kaidah haruslah
konsisten.

2. Kecendekiaan

Bahwa perwujudannya dalam kalimat, paragraph, dan satuan bahasa lain


yang lebih besar mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur,
logis, dan masuk akal.

3. Keseragaman

Bahwa bahasa baku mempraanggapkan, adanya keseragaman kaidah.Akan


tetapi, perlu diingat bahwa yang terjadi adalah penyeragaman kaidah,
bukan penyamaan ragam bahasa, atau penyeragaman ragam/variasi
bahasa.

B. Fungsi

Selain memiliki ciri-ciri, bahasa baku atau standar memiliki berbagai


fungsi. Fungsi yang dimaksud ada empat yaitu:

a. Fungsi pemersatu,
b. Fungsi pemberian kekhasan,
c. Fungsi pembawa kewibawaan, dan
d. Fungsi sebagai kerangka acuan.

2.2. C. Menggunakan Bahasa Indonesia Dalam Kehidupan Sehari-hari

         Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar harus dalam


kehidupan sehari-hari harus sesuai dengan norma kemasyarakatan yang
berlaku. Misalnya dalam situasi nonformal seperti di warung, di pasar, di

6
rumah dan lain- lain hendaknya menggunakan bahasa Indonesia yang tidak
terlalu terikat. Contohnya, “ Berapa nih, Bu, ikannya ? “.

       Sedangkan pada situasi formal seperti kuliah, seminar, rapat dan lain-
lain, menggunakan bahasa Indonesia yang resmi dan formal serta
memperhatikan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku, seperti kaidah ejaan,
kaidah pembentukan kata, kaidah penyusunan kalimat dan kaidah penataan
penalaran. Jika kaidah – kaidah bahasa kurang ditaati, maka pemakaian bahasa
Indonesia tersebut tidak benar atau tidak baku. Jadi, berbahasa Indonesia yang
baik dan benar adalah pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya
dan juga mengikuti kaidah bahasa yang benar. Agar penggunaan bahasa
Indonesia dapat digunakan dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat,
ada beberapa langkah yang perlu dilakukan antara lain sebagai berikut :

1.      Isi atau makna, yaitu berhubungan dengan pikiran, gagasan atau


perasaan yang disampaikan

2.      Keadaan pemakaian bahasa, yaitu yang berhubungan dengan suasana


tempat, atau waktu bahasa

3.      Khalayak/sasaran, yaitu yang berkenaan dengan usia, kelamin,


pendidikan, pekerjaan dan kedudukan

4.      Sarana saluran yang digunakan, umpamanya melalui telepon, radio,


televisi

5.      Cara berhubungan langsung atau tidak langsung, misalnya melalui


forum rapat, televisi, radio, dan surat

       Untuk itu ada baiknya kita tetap harus selalu berbahasa Indonesia yang
baik dan benar yang berarti pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan
sasarannya dan di samping itu mengikuti kaidah bahasa yang benar. Ungkapan
bahasa Indonesia yang baik dan benar sebaliknya mengacu ke ragam bahasa
yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran.

7
       Selain itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat kita
menggunakan bahasa Indonesia yaitu :

1.      Tata bunyi (fonologi), fonologi pada umumnya dibagi atas dua bagian
yang meliputi :

a) Fonetik, adalah ilmu yang menyelidiki dan menganalisa bunyi-bunyi


ujaran yang dipakai dalam tutur, serta mempelajari bagaimana menghasilkan
bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia.
b) Fonemik, adalah ilmu yang mempelajari bunyi atau ujaran yang dalam
fungsinya sebagai pembeda arti.

Kalau dalam fonetik kita mempelajari segala macam bunyi yang dapat
dihasilkan oleh alat ucap serta bagaimana tiap-tiap bunyi itu dilaksanakan,
maka dalam fonemik kita mempelajari dan menyelidiki kemungkinan-
kemungkinan, bunyi-bunyi yang dapat mempunyi fungsi untuk membedakan
arti.

2.      Tata bahasa (kalimat),

Masalah definisi atau batasan kalimat tidak perlu dipersoalkan karena


sudah terlalu banyak definisi kalimat yang telah dibicarakan oleh ahli bahasa.
Yang lebih penting untuk diperhatikan ialah apakah kalimat-kalimat yang klita
hasilkan dapat memenuhi syarat sebagai kalimat yang benar (gramatikal).
Selain itu, apakah kita dapat mengenali kalimat-kalimat gramatikal yang
dihasilkan orang lain. Dengan kata lain, kita dituntut untuk memiliki wawasan
bahasa Indonesia dengan baik agar kita dapat menghasilkan kalimat-kalimat
yang gramatikal dalam komunikasi baik lisan maupun tulis, dan kita dapat
mengenali kalimat-kalimat yang dihasilkan orang lain apakah gramatikal atau
tidak. Suatu pernyataan merupakan kalimat jika di dalam pernyataan itu
terdapat predikat dan subjek. Jika dituliskan, kalimat diawali dengan huruf
kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya. Pernyataan
tersebut adalah pengertian kalimat dilihat dari segi kalengkapan gramatikal
kalimat ataupun makna untuk kalimat yang dapat mandiri, kalimat yang tidak

8
terikat pada unsure lain dalam pemakaian bahasa. Dalam kenyataan pemakaian
bahasa sehari-hari terutama ragam lisan terdapat tuturan yang hanya terdiri dari
atas unsur subjek saja, predikat saja, objek saja, atau keterangan saja.

3.      Kosakata,

Dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, kita dituntut
untuk memilih dan menggunakan kosa kata bahasa yang benar. Kita harus bisa
membedakan antara ragam bahasa baku dan ragam bahasa tidak baku, baik
tulis maupun lisan. Ragam bahasa dipengaruhi oleh sikap penutur terhadap
kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembaca (jika dituliskan).
Sikap itu antara lain resmi, akrab, dingin, dan santai. Perbedaan-perbedaan itu
tampak dalam pilihan kata dan penerapan kaidah tata bahasa. Sering pula raga
mini disebut gaya. Pada dasarnya setiap penutur bahasa mempunyai
kemampuan memakai bermacam ragam bahasa itu. Namun, keterampilan
menggunakan bermacam ragam bahasa itu bukan merupakan warisan
melainkan diperoleh melalui proses belajar, baik melalui pelatihan maupun
pengalaman. Keterbatasan penguasaan ragam/gaya menimbulkan kesan bahwa
penutur itu kurang luas pergaulannya. Jika terdapat jarak antara penutur dengan
kawan bicara (jika lisan) atau penulis dengan pembaca (jika ditulis), akan
digunakan ragam bahasa resmi atau apa yang dikenal bahasa baku. Makin
formal jarak penutur dan kawan bicara, akan makin resmi dan berarti makin
tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah
tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang
digunakan.

9
4.      Ejaan,

Dalam bahasa tulis kita menemukan adanya bermacam-macam tanda


yang digunakan untuk membedakan arti sekaligus sebagai pelukisan atas
bahasa lisan. Segala macam tanda tersebut untuk menggambarkan perhentian
antara , perhentian akhir, tekanan, tanda Tanya dan lain-lain. Tanda-tanda
tersebut dinamakan tanda baca. Ejaan suatu bahasa tidak saja berkisar pada
persoalan bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujaran serta bagaimana
menempatkan tanda-tanda baca dan sebagainya, tetapi juga meliputi hal-hal
seperti: bagaimana memotong-motong suku kata, bagaimana menggabungkan
kata-kata, baik dengan imbuhan-imbuhan maupun antara kata dengan kata.
Pemotongan itu harus berguna terutama bagaimana kita harus memisahkan
huruf-huruf itu pada akhir suatu baris, bila baris itu tidak memungkinkan kita
menuliskan seluruh kata di sana. Kecuali itu, penggunaan huruf kapital juga
merupakan unsur penting yang harus diperhatikan dalam penulisan dengan
ejaan yang tepat. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa keseluruhan
peraturan bagaimana menggambarkan lambing-lambang bunyi-ujaran dan
bagaimana inter-relasi antara lambang-lambang itu (pemisahannya,
penggabungannya) dalam suatu bahasa disebut ejaan.

5.      Makna

Pemakaian bahasa yang benar bertalian dengan ketepatan menggunakan


kata yang sesuai dengan tuntutan makna. Misalnya, dalam bahasa ilmu tidak
tepat digunakan kata-kata yang bermakna konotatif (kata kiasan tidak tepat
digunakan dalam ragam bahasa ilmu). Jadi, pemakaian bahasa yang benar
adalah pemakaian bahasa yang sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa. Kriteria
pemakaian bahasa yang baik adalah ketepatan memilih ragam bahsa yang
sesuai dengan kebutuhan komunikasi. Pemilihan ini bertalian dengan topik
apa yang dibicarakan, tujuan pembicaraan, orang yang diajak berbicara (kalau
lisan) atau orang yang akan membaca (kalau tulis), dan tempat pembicaraan.
Selain itu, bahasa yang baik itu bernalar, dalam arti bahwa bahasa yang kita
gunakan logis dan sesuai dengan tata nilai masyarakat kita.

10
2.3. D. Manfaat Menggunakan Bahasa Indonesia

1.      Mempermudah dalam komunikasi,

Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri.


Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau
dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan
mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang
dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita. Sebagai alat komunikasi,
bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita
dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia
mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan
mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf, 1997 : 4). Pada saat kita
menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan
tertentu, kita ingin dipahami oleh orang lain, kita ingin menyampaikan
gagasan yang dapat diterima oleh orang lain, kita ingin membuat orang lain
yakin terhadap pandangan kita, kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih
jauh lagi, kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal
ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama
kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan
kebutuhan khalayak sasaran kita. Pada saat menggunakan bahasa untuk
berkomunikasi, antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang
kita gunakan mudah dipahami orang lain atau tidak. Oleh karena itu,
seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. Misalnya, kata
makro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu,
namun kata besar atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum.
Kata griya, misalnya, lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumah atau
wisma. Dengan kata lain, kata besar, luas, rumah, wisma, dianggap lebih
komunikatif karena bersifat lebih umum. Sebaliknya, kata-kata griya atau
makro akan memberi nuansa lain pada bahasa kita, misalnya, nuansa
keilmuan, nuansa intelektualitas, nuansa tradisional.

11
2.      Mempermudah kita untuk berintegrasi dan beradaptasi secara sosial,

Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan


pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari
dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar
berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat hanya
dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat
komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya
terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan
semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin
bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia
memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu
dengan masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997 : 5). Cara berbahasa tertentu
selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat integrasi
dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial
tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada
situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang
berbeda pada orang yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang
nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar
pada orang tua atau orang-orang yang kita hormati.

12
BAB III

PENUTUP

3.1. A. Kesimpulan

          Dari uraian diatas kita dapat mengambil kesimpulan, yaitu :

1.       Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yang


pemakaiannya sesuai dengan situasi dan kondisi dengan
memperhatikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan
sasarannya.

2.       Cara menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari


adalah dengan menggunakan bahasa yang baku sesuai dengan kaidah
ejaan atau ejaan yang disempurnakan.

3.      Manfaat yang kita peroleh dari penggunaan bahasa Indonesia yang


baik dan benar adalah mempermudah dalam berkomunikasi dan dapat
mempermudah dalam beradaptasi di lingkungan bermasyarakat.

3.2. B. Saran-Saran

           Berdasarkan kesimpulan diatas, kita harus menggunakan bahasa


Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Dengan
menggunakan bahasa yang baku sesuai dengan kaidah ejaan atau ejaan yang
disempurnakan.

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Alwi, Hasan. Dkk. 2003, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi-2. Jakarta:


Balai Pustaka
2. Arifin, Zaenal, 2006. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akapress
3. Badudu, J.S. 1983. Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar. Jakarta: Gramedia
4. Chaer, Abdul. 2006. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Edisi
Revisi. Jakarta: Rineka Cipta
5. Effendi, S. 1995. Panduan Berbahasa Indonesia Dengan Baik dan Benar.
Jakarta: Pustaka Jaya
6. Kartomihardjo, S. 1988. Bahasa Cermin Kehidupan Masyarakat. Jakarta: P2
LPTK
7. Moeliono, Anton. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka
8. Poerwadarminta, W.J.S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka
9. Prihartini, Niniek. Ejaan Yang Disempurnakan. Surabaya: Mitra Jaya
Compugrafi
10. Sabariyanto, Dirgo. 1999. Kebakuan dan Ketidakbakuan Kalimat dalam
Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Mitra Gama Widya
11. Sugono, Dendy. 1989. Berbahasa Indonesia Dengan Benar. Jakarta:
Priastu
12. Tarigan, Henry Guntur. 1988. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa.
Bandung: Angkasa

14