Anda di halaman 1dari 21

BAB I.

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Studi budaya adalah cara baru untuk ikut terlibat dalam pemekaran budaya. Banyak
mata pelajaran akademik yang telah lama memberikan jalan bagi kita untuk
mempelajari kebudayaan diantaranya antropologi, sejarah, kajian sastra, geografi, dan
sosiologi. Akan tetapi, selama dua atau tiga dekade terakhir, telah ada minat yang
diperbarui dalam studi budaya, muncul sebagai area menarik yang telah memberikan
titik terang baru pada karakter kebudayaan manusia dan menjanjikan adanya potensi
yang sangat besar.Hal ini karena, istilah “kebudayaan” memiliki sejarah dan jangkauan
luas yang telah diwariskan secara turun-menurun dan sangat bernilai harganya. Dari
istilah “kebudayaan” inilah memberikan fokus yang kuat untuk menemukan jati diri dan
eksistensi kebudayaan itu sendiri serta nantinya mampu untuk mengelolanya dengan
keterkaitan siklus kehidupan seiring perkembangan zaman.Indonesia adalah negara
yang kaya akan seni dan budaya.Setiap daerah yang terbentang dari Sabang sampai
Merauke terhampar beribu etnis/adat yang memiliki keunikan dan warna tersendiri
pada wajah Indonesia yang dapat mengangkat Indonesia di mata dunia, terutama pada
seni tradisional yang telah secara turun menurun diwariskan pada generasinya.Indonesia
juga merupakan wisata budaya yang paling banyak diminati oleh negara-negara di
belahan dunia terutama daerah Sumatera Utara.Semuanya merupakan kekayaan yang
dimiliki oleh Indonesia maka sudah sepantasnya kekayaan itu harus tetap dijaga
kelestariannya. Wilayah di Indonesia yang sebagian besar didominasi oleh Suku Batak.
Hampir di semua propinsi ditemui orang-orang bersuku batak ini. Mengenali Suku
Batak yang ada di Sumatera Utara suku yang terkenal dari cara bicaranya yang keras ini
memiliki kebiasaan martarombo, yaitu mencari hubungan saudara dengan marga yang
sama.Maka tak heran jika sistem kekerabatannya sangat erat. Batak adalah nama sebuah
suku bangsa di Indonesia. Suku ini kebanyakan bermukim di Sumatra Utara.Sebagian
orang Batak beragama Kristen dan sebagian lagi beragama Islam. Tetapi dan ada pula
yang menganut agama Malim (pengikutnya biasa disebut dengan Parmalim ) dan juga
penganut kepercayaan animisme (disebut Pelebegu atau Parbegu). Batak merupakan
bagian dari enam ( 6) sub suku yakni: Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun,
Batak Mandailing, Batak Pakpak, Batak Angkola. Keenam suku ini menempati daerah
induk masing- masing di daratan Provinsi Sumatera Utara.Suku Batak Toba berdiam di
Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba Daerah asal kediaman orang Batak dikenal
dengan Daratan Tinggi Karo, Kangkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu, Simalungun,
Toba, Mandailing dan Tapanuli Tengah. Daerah ini dilalui oleh rangkaian Bukit Barisan
di daerah Sumatra Utara dan terdapat sebuah danau besar dengan nama Danau Toba.
Suku Batak memang memiliki banyak tradisi bersejarah yang mulai ada sejak jaman
leluhur dan masih dilestarikan sampai sekarang.Bukan hanya dalam momen tertentu
namun kebudayaan ini masih terus dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian
halnya suku Batak Toba, meskipun merupakan bagian dari enam sub suku Batak, suku
Batak Toba tentunya memiliki kebudayaan sendiri yang membedakannya dari lima sub
suku Batak lainnya.Mengingat cara kita membahas budaya sejauh ini,seiring
perkembangan zaman hingga mencapai di era revolusi industri 4.0 mungkin kita
berpikir bahwa budaya adalah segalanya dan ada dimana-mana, masyarakat Batak Toba
memiliki adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyangya. Adat istiadat ialah
berbagai aktivitas sosial budaya termasuk upacara- upacara kebudayaan yang disepakati
menjadi tradisi dan berlaku secara umum di masyarakat. Sementara tradisi adalah segala
sesuatu seperti adat,kepercayaan, kebiasaan, upacara dan sebagainya yang secara turun
temurun diwariskan. Upacara adat Batak, baik upacara perkawinan (marunjuk), pasahat
sulang-sulangsian pahompu maupun upacara kematian merupakan tradisi nenek moyang
masyarakat Batak yang diwariskan turun- temurun sejak ratusan tahun silam. Bagi
masyarakat Batak Toba, upacara adat yang terpenting adalah perkawinan karena hanya
orang yang sudah kawin berhak mengadakan atau melaksanakan upacara adat lainnya.
Pelaksanaan upacara perkawinan pada masyarakat Batak Toba dianggap sebagai suatu
yang sakral, dimana perkawinan tidak dapat dilaksanakan dengan suka-suka, melainkan
memiliki aturran dan membutuhkan waktu.Tahapan-tahapan pelaksanaan upacara adat
perkawinan masyarakat Batak Toba yakni dimulai dari marhori-hori dinding, marhusip,
martumpol, marhata sinamot, pesta unjuk, paulak une, dan maningkir tangga. Namun
pada saat sekarang ini sudah terjadi perubahan, banyak hal yang sudah dirubah melalui
kesepakatan bersama. Salah satu penyebab perubahan upacara adat perkawinan
masyarakat Batak Toba ialah modernisasi. Modernisasi suatu masyarakat merupakan
suatu poses transformasi yang meliputi segala aspek kehidupan. Dilihat dari segi
kebudayaan, modernisasi dapat diartikan sebagai proses pergeseran sikap dan mentalitas
sebagian warga masyarakat yang disebabkan oleh adanya kebutuhan untuk
menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman masa kini dimana Indonesia telah memasuki
era revolusi industri 4.0. Perkembangan zaman mempengaruhi terjadinya perubahan
dalam setiap bagian upacara adat perkawinan masyarakat BatakToba. Perubahan yang
dimaksud berarti menambah atau mengurangi kewajiban- kewajiban tertentu dalam
upacara perkawinan tersebut. Pelaksanan upacara adat perkawinan masyarakat Batak
Toba dahulu dilaksanakan dalam waktu dan proses yang cukup lama, sekarang
dipersingkat dengan istilah upcara adat ulaon sadari (pesta yang dituntaskan selama satu
hari). Adapun tahapan dalam upacara adat perkawinan dalam bentuk ulaon sadarai
adalah yang dimulai dengan marhusip,martumpol, marhata sinamot, pesta unjuk yang
langsung diikuti oleh acara paulak une dan maningkir tangga. Secara umum tahapan-
tahapan acara adat yang dipersingkat ini jika dilihat dari segi waktu sangat
menguntungkan karena memberikan masyarakat kesempatan untuk mengejar kebutuhan
yang lain. Namun jika ditinjau dari segi pendidikan dan pengetahuan, hal tersebut
merugikan generasi muda sekarang karena dengan dipersingkatnya tahap-tahap
perkawinan menyebabkan generasi muda tidak lagi mengetahui bagaimana seharusnya
tahapan-tahapan perkawinan tersebut yang sesuai dengan nilai- nilai budaya asli Batak
Toba. Benar adanya beberapa pendekatan untuk mempelajari budaya mengambil posisi
seperti itu, hal ini menunjukkan seluruh yang rumit mencakup pengetahuan,
kepercayaan,seni, moral, hukum, kebiasaan, dan kemampuan serta kebiasaan lain
apapun yang diperoleh manusia sebagai tuntutan atas keterkaitan budaya dengan
jalannya pembaharuan besar dan radikal terhadap cara manusia memproduksi segala
sumber daya yang tersedia dan diikuti oleh perubahan besar dalam bidang ekonomi, dan
eksistensi budaya itu sendiri.Tidak terlepas dari unsur-unsur pembentuk tradisi dapat
dikatakan rumit sebab terbentuk dari mekanisme kebahasaan, sistem religi, ilmu
kesenian, metode pengetahuan, sistem masyarakat ataupun organisasi sosial, sistem
mata pencaharian hidup, metode peralatan, serta teknologi dan tehnik yang dimiliki
seiring memasuki era revolusi industri 4.0. Berdasarkan latar belakang masalah inilah
yang mendorong penulis melakukan penelitian dengan mengambil judul : “Modernisasi
Terhadap Upacara Adat Perkawinan Masyarakat Batak Toba Di Kota Medan Di Era
Revolusi Industri 4.0”.
RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah yang ada dalam suatu

penelitian, perlu ditentukan rumusan masalah agar memperjelas masalah yang

akan diteliti serta memberikan arah dan pedoman dalam melakukan penelitian

maka perlu membuat rumusan masalah sebagai berikut :

1. Proses pelaksanaan adat perkawinan masyarakat Batak Toba

2. Jenis- jenis perkawinan pada masyarakat Batak Toba

3. Pihak- pihak yang terlibat dalam perkawinan Batak Toba

4. Perubahan tahapan pelaksanaan tata cara adat perkawinan Batak Toba

5. Dampak modernisasi dalam pelaksanaan perkawinan masyarakat

Batak Toba di era revolusi industri 4.0

TUJUAN PENULISAN

Menetapkan tujuan penelitian merupakan hal yang sangat penting karenasetiap


penelitian harus mempunyai tujuan tertentu, dengan berpedoman pada tujuan akan lebih
mudah mencapai sasaran yang diharapkan. Maka yang menjadi tujuan dalam penelitian
ini adalah:

1. Untuk mengetahui perubahan- perubahan dalam adat perkawinan

masyarakat Batak Toba


2. Untuk mengetahui dampak modernisasi terhadap adat perkawinan

masyarakat Batak Toba di era revolusi industri 4.0

3. Untuk mengetahui tanggapan atau persepsi masyarakat terhadap perubahan

adat perkawinan masyarakat Batak Toba.

MANFAAT PENULISAN

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi penulis dapat menambah wawasan mengenai adat perkawinan

masyarakat Batak Toba

2. Menambah wawasan penulis tentang pengaruh modernisasi terhadap

adat perkawinan masyarakat Batak Toba

3. Memberikan informasi bagi masyarakat mengenai dampak modernisasi

terhadap adat perkawinan pada masyarakat Batak Toba

4. Menambah kajian tentang suatu tradisi dalam konteks Antropologi Sosial

5. Sebagai bahan referensi bagi penelitian berikutnya yang relevan dikemudian

hari.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Di dalam perkembangan Strukturalisme antropologi terdapat tiga tempat dan nama


tokoh ilmuan yang perlu di perhatikan. Pertama Radcliffe Brown dari Inggris,
mengembangkan teori struktural juga fungsional. Ilmuan kedua ialah Levi-Strauss dari
Perancis dan orang ketiga yang menjadi dasar peletakan aliran strukturalisme Leiden
ialah J.P.. B. De Jong dari belanda. Struktur adalah sesuatu yang ditemukan bukan
dibuat, organisasi adalah rancangan manusia. Struktur mengubah dirinya sendiri serta
merujuk kepada sesuatu yang ada di belakangnya, serta muatan rasionalitas laten objek
sasaran.Setelah mengetahui arti terdalam struktur sosial yang kelihatan, sehingga
mampu menciptakan perspektif teoritis untuk diperlukan analisis antropologi dalam
mengungkap bentuk struktur perkawinan yang terdapat di dalam struktur sosial.Jika hal
ini dihubungkan dengan struktur perkawinan, jelas bahwa struktur sosial sangat
menentukkan. Bentuk-bentuk hubunganhubungan sosial seperti sistem adat, sistem
nilai, sistem pertukaran dan perniagaan, sistem kejiwaan, dan sebagainya, selalu
dipengaruhi oleh struktur sosial. Jika struktur sosial setiap bangsa, suku, ras, berbeda,
tentunya sistem-sistemnyapun berbeda (Parsons,1970,Simanjuntak, 2006;7).

Konkret

Konkret adalah bahwa tiap taraf perbuatan atau keinginan atau hubungan-
hubungan tertentu dinyatakan dengan benda yang berwujud. Karena Hukum adat tidak
tertulis, maka coraknya bersifat tradisional dan dinamis.Bangsa lndonesia memandang
bahwa Hukum Adat berasal dari keinginan nenek moyang. Karena itu dalam
melaksanakan hukum, para pelaksana Hukum Adat selalu dipengaruhi oleh anggapan
ini. Keputusan hukum yang telah/pernah dijatuhkan terhadap suatu persoalan
mcmpunyai pengaruh bagi persoalan yang sama yang terjadi dikemudian hari. Jadi
dalam suasana Hukum Adat memang ada kecenderungan untuk memberi keputusan
yang sama bagi persoalan – persoalan yang sama. Inilah yang dimaksud dengan sifat
tradisional Hukum Adat.Keputusan atau penetapan Hukum yang diberikan oleh
pimpinan masyarakat dalam suasana Hukum Adat untuk memecahkan suatu persoalan
atau unluk menetapkan kedudukan hukum dari suatu hal, selalu dilakukan dengan
mempertimbangkan faktor- faktor relevan bagi persoalan yaog bersangkutan. Faktor-
faktor relevan ini sangat ditentukan oleh keadaan sosial yang ada pada saat keputusan
itu dijatuhkan. Karena Hukum Adat tidak tertulis, maka sifatnya mudah menyesuaikan
diri padasetiap situasi. karena itu Hukum Adat bersilat dinarnis. Perkawinan dapat
dipandang sebagai salah satu fenomena sosial-budaya. Sebagai ekspresi budaya, sebuah
perkawinan sebenarnya merupakan juga fenomena kebahasaan, dalam arti bahwa
fenomena tersebut seperti dikemukakan oleh Ahimsa-Putra (1999:89-90)4 dapat dilihat
sebagai suatu tanda perangkat dan simbol yang memiliki makna atau tepatnya diberi
makna baik secara sadar maupun tidak oleh pemberi makna itu sendiri. Dengan
demikian tanpa didasari fenomena itu mengandung pesan-pesan tertentu. Agar pesan-
pesanitu dapat sampai dan dipahami oleh orang lain, maka si pemberi makna harus
menyampaikannya dalam konveksi simbolik tertentu. Semua pesan itu harus
disampaikan dengan mengikuti aturan-aturan pengguna simbol yang ada, yang bersifat
sosial atau kolektif.

Eksistensi

Adaptasi dan Eksistensi Pendekatan adaptasi mengharuskan individu untuk


menyaring manakah perilaku yang harus atau yang tidak harus dia lakukan. Adaptasi
nilai dan norma antarpribadi termasuk antarbudaya sangat ditentukan oleh dua faktor,
yakni pilihan untuk mengadaptasikan nilai dan norma yang fungsional atau mendukung
hubungan antar pribadi (Alo Liliweri, 2007: 63). Eksistensi yang bisa dipahami sebagai
keberadaan, memerlukan ruang dikehidupan individu untuk menjaga self-identity
mereka ditengah kehidupan baru yang mungkin akan berbeda latar belakang dengan
kehidupannya yang sebelumnya (Engkus Kusrwano, 2008: 23).

PEMECAHAN MASALAH

Perkawinan menurut adat masyarakat Batak Toba merupakan sistem perkawinan yang
bersifat endogamy. Perkawinan ini memiliki sebuah aturan dimana individu menikah
dengan pasangan yang berasal dari dalam kelompoknya atau yang berasal dari ras atau
etnis dan agama yang sama.Dalam menjalankan adat perkawinan suku batak sangat
menjunjung tinggi nilai – nilai yang terkandung di dalam proses adat perkawinan,
namun karena dipengaruhi oleh modernisasi sehingga terjadinya transformasi eksistensi
adat perkawinan dimana suku Batak kurang menggunakan kebudayaan tata cara adat
perkawinannya lagi karena adanya pengaruh dari kebudayaan yang modern. Maka
permasalahan pokok yang dibahas adalah perubahan eksistensi adat perkawinan Batak
Toba sebagai akibat adanya modernisasi di era revolusi industri 4.0. Permasalahan itu
perlu diangkat dalam tulisan ini, karena penulis mengharapkan agar eksistensi adat
perkawinan suku Batak Toba tetap terlaksana serta akan tetap tampak pengaktualisasian
struktur dan nilai-nilai adat perkawinan suku Batak Toba secara total hingga di era
revolusi industri 4.0 dengan pelaksanaan Hukum Adat yang ada kecendrungan untuk
memberi keputusan atau penetapan hukum yang diberikan pimpinan masyarakat
keseluruhan hidup orang Batak Toba diatur oleh dan di dalam adat. Fungsi utamnya
adalah untuk menciptakan keteraturan dalam masyarakat , sehingga aktivitas sehari hari
juga diatur dan diukur melalui adat. Oleh karena adat merupakan suatu aturan yang
dihasilkan oleh pendahulunya dan diteruskan secara turun menurun maka aturan yang
disebut adat tersebut akan selalu dipatuhi oleh penerusnya sampai sekarang. Ikatan akan
aturan adat sangat kuat, sehingga jarang sekali masyrakat yang melanggar adat tersebut.
Individu yang melanggar aturan aturan adat akan dikenakan sanksi seperti hukuman
fisik, pengusiran atau divbuang dari tanah adat, tidak diakui sebagai anggota marga, dan
dilarang untuk mengikuti upacara adat dan penerapan teknologi informasi komunikasi
untuk penyebaran eksistensi adat perkawinan suku Batak Toba.
BAB III. METODOLOGI PENULISAN

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh data yang mendalam tentang dampak
modernisasi terhadap upacara adat perkawinan masyarakat Batak Toba.

1. Penentuan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kota Medan, yang mewakili salah satunya yakni
kecamatan Medan Baru. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan atas beberapa
perhitungan. Pertama kota Medan merupakan Ibukota Sumatera Utara, kedua
salah satu penduduk terbesar kota Medan adalah masyarakat Batak Toba, dan
ketiga kota Medan merupakan kota metropolis yang memiliki masyarakat yang
sangat majemuk (heterogen) dengan jumlah masyarakat Batak Toba yang
migrasi ke kota ini sangat tinggi. Dimana kota ini secara terbuka menerima
pengaruh dari luar.

2. Teknik Pengumpulan Data


Pada kegiatan pengamatan ini kami mengamati prosesi
perkawinan yang digelar dengan menggunakan adat Batak
(Mores), mulai pelamaran sampai acara prosesi perkawinan
usai, kegiatan yang dilakukan oleh keluarga dari pemberi
perempuan (Hula-hula), keluarga penerima perempuan
(Boru), sedangkan sesama warga suatu kelompok
kekerabatan (dihitung berdasarkan garis laki-laki) disebut Dongan
Sabuhuta.Dalam penelitian ini peneliti juga menggunakan teknik dokumentasi
untuk melengkapi data yang telah diperoleh dari teknik wawancara dan
observasi, karena hasil penelitian akan lebih kredibel atau dapat dipercaya
dengan dokumentasi yakni mendokumentasikan objek penelitian. Dalam
penelitian ini peneliti melakukan perekaman dan pengambilan gambar upacara
perkawinan masyarakat Batak Toba.
3. Wawancara
Metode wawancara (interview) melalui dua cara yaitu
wawancara pendahuluan dan wawancara mendalam dengan
kelompok kekerabatan Hula-Hula, Boru dan Dongan
Sabuhuta sebagai informan untuk menggali pemikiran dan
pengetahuannya yang berkaitan dengan peran mereka
masing-masing dalam kekerabatan.

4. Teknik Pemilihan Informan


Informan dipilih secara purposive sampling dan snow ball,
wancara ini penelitian menggunakan wawancara mendalam dan wawancara
pendahuluan.Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan kunci,
informan kunci yang dimaksud adalah pengetua-pengetua adat.Dan wawancara
pendahuluan yang dilakukan terhadap informan biasa, informan biasa disini
adalah Kelompok kekerabatan Hula-Hula,Boru, dan Dongan Sabuhuta.
5. Sumber Data
Data yang diperoleh berdasarkan hasil observasi dan wawancara serta
bersumber dari buku-buku referensi budaya Batak Toba dan juga bersumber
dari internet.

6. Teknik analisa data


Data dan informasi yang dikumpulkan melalui pengamatan dan
wawancara, serta buku referensi dianalisis dan di interpretasi makna data yang
disesuaikan dengan teori-teori yang relevan.
BAB IV. PEMBAHASAN

A. Adat Perkawinan Batak Toba


Prinsip perkawinan pada masyarakat Batak Toba adalah conubium
asymentris,dengan ciri-ciri eksogam, tidak boleh saling tukar menukar
perempuan, orang tidak akan mengambil istri dari kalangan kelompok sendiri,
perempuan meninggalkan kelompoknya dan pindah ke kelompok suami. Dia
terus menyandang nama marga ayahnya. Pada dahulu kala, pcrjodohan antara
seorang pemuda dan seorang gadis ditentukan oleh orang tua kedua belah pihak,
sehingga mereka berdua praktis hanya menunggu dan melaksanakan keputusan
dan pilihan orang tuanya. Untuk mewujudkan dan merealisasikan keputusan itu
dengan melaksanakun pertunangao atau dalam bahasa Batak disebut
"Mangalean Tanda" atau “Masijaloan Tanda” berupa pemberian suatu benda
yang menandakan bahwaa di antara mereka, betul telah ada ikatan khusus.
Tanda yang diberikan itu biasanya berupa sarung, ulos, atau bisa Juga berupa
duit, perhiasan dan kalau sekarang ini berupa pertukaran cincin. Setelah acara
"mangalean tanda' atau pertunangan, maka dilanjutkan dengan palua hata atau
melamar,marhusip, marhata sinamot, sibuha buhai, pasu-pasu raja. marunjuk,
paulak une, dan maningkir tangga. Serelah peresmian hubungan cinta antara
seorang pemuda dan seoranr gadis dengan cara "mangalehon tanda' atau
bertunangan. Maka keluarga si pemuda menyuruh Bounya unluk berkunjung ke
kampung si gadis dan bertemu dengan Boru dari pihak keluarga si perempuan
sebagai utusan atau perantara dan disebut 'Domu-domu" untuk melakukan
penjajakan pelamaran secara resmi.Pelanaran itu dilakukan oleh pihak kerabat
laki-laki kepada pihak keluarga perempuan dengan rnemberi tanda lamaran atau
tanda pengikat yang biasanya terdiri daun sirih pinang, uang, bahan makanan,
bahan pakaian dan perhiasan. Khusus untuk orang Batak acara ini disebut patua
hata yang berarti hubungan antara muda-mudi itu ditingkatkan menjadi
sepengetahuan orang tua atau direstui orang tua dan dinamakan Patua hata
(melamar). Sinamot, boli, atau tuhor yang bisa dianalogikan dengan mahar atau
mas kawin merupakan suatu hal yang sangal vital bagi terlaksananya suatu
perkawinan di kalangan orang Batak, sebab terlaksana atau tidaknya pcrkawinan
itu tergantung pada disepakatinya sinamot.Kalau tidak tercapai kesepakatan.
maka perjodohan akan macet dan berhenti sampai di situ, sehingga sinamot
dapat digunakan kerabat pihak si gadis guna menggagalkan perkawinan anaknya
dengan pria yang tidak disukai orang tuanya, dengan cara meminla sinamot yang
sangat tinggi, sehingga tidak bakal terjangkau oleh keluarga pihak pria. Untuk
memanipulasi keadaan seperli itu, maka diadakanlah acara marhusip yrng
bertujuan membicarakan berapa kiranya sinamot yang akan diminta pihak
keluarga si gadis. Acara ini sifalnya semi formal dan dihadiri oleh kalangan
terbatas dari kedua belah pihak serla belum melibatkan orang tua dari calon
pengantin. Utusan dari kedua belah pihak cukup tiga orang, yaitu seorang
saudara dari orang tuanya disertai seorang boru, dan seorang teman
sekampunng. lsi dari Pembicaraan dari kedua belah Pihak belum mengambil
keputusan tetapi dapat digunakan sebagai ancang-ancang, dan karena itu perlu
disaksikan teman sekampung kedua belah pihak.Sehingga sinamot ilu mutlak
harus disepakati dahulu, kemudian bisa dilanjutkan ke tahap unjuk atau
peresmian perkawinan, dan sebaliknya perkawinan itu akan batal dilaksanakan
kalau tidak terdapat kesepakatan mengenai jumlah dari sinamot itu. Biasanya
pembicaraan itu dimulai dari permintaan dari juru bicara keluarga perempuan de
ngan mengutarakan sejumlah ternak,perhiasan,sertu sejumlah uang, Ialu
permintaan itu ditawar oleh juru bicara keluarga laki-laki, kemudian diselingi
oleh seluruh kerabal yang hadir di situ sampai terdapat suatu .jumlah yang
disepakati kedua belah pihak. Dengan demikian sinamot menentukan jadi atau
tidaknya perkawinan itu dilaksanakan, dan sebaliknya perkawinan yang sudah
berlangsung itu bila temyata harus diakhiri dengan perceraian, maka juiur atau
sinamot itu harus dikembalikan bila diminta olch kerabat laki 1aki. Acara
berikutnya adalah "sibuha-buhai". Acara ini merupakan proses jemput pengantin
perempuan dari kediamannya oleh ke luarga pihak pengantin laki-laki. Keiuarga
pihak pengantin Iaki laki membawa makanan khusus yang dihidangkan sebagai
sarapan pagi sebelum acara peresmian perkawinan. Selesai makan maka
rombongan kedua belah pihak menuju ke tempat di tnana acara peresmian
perkawinan itu akan dilaksanakan.Kesempatan makan pagi bersama itu
sekaligus digunakan oleh orang tua pengantin perempuan untuk memberi makan
terakhir kali pengantin perempuun selaku anggota klennya dan pertama kali
pengantin laki-laki selaku menantunya dan acara itu disebut "marmeme atau
mangupa").Setelah selesai disuapi oleh orang tua pengantin perempuan, maka
acara rnakan pcngantin itu dilanjutkan dengan makan berdua dengan cara suap
suapan. Pada tempo dahulu, peresmian perkawinan dilaksanakan oleh Tetua-
tetua adat yang disebut "Raja Bius" yaitu sejumlah tokoh adat dari sernua marga
yanS Inendiami suatu Desa. Kuria atau Nagar-i. Percsmian perkawinan itu
dilakukan oleh raja bius dari kampung pengantin perempuan dan pengantin laki-
laki secara bersama sama. Pernah juga peresm an perkawinan itu dilakukan
olehk Kepala nageri dari kedua pihak pengantin atau kepala nageri yang
bersangkutan jika ternyata kedua pengantin berasal dari desa atau nageri yang
sama. Sesudah agama Kristen menyebar di tanah Batak maka peresmian
perkawinan itu dilakukan di gereja oleh pastor atau pendeta dan sekaligus
dilanjutkan dengan perkawinan menurut aturan negara, yang kemudian
diumumkan Perkawinan "Calalirn Sipil". Untuk malau rrarunjuk merupakan
pesta adat untuk meresmikan perkawinan itu secara adat, agar perkawinan itu
dikelahui oleh seluruh anggota klen dari kedua belah pihak pengantin sekaligus
untuk menyelesaikan segala proses adat yang harus dilalui. Acara ini hiasanya
dllaksanakan di kampung pengantin perempuan dan dilaksanakan di halaman
dimulai dengan seserahan makanan adat yang dinamakan "Tudu-tudu ni
sipanganon.Seserahan dimulai dari kerabat pengantin laki-laki berupa
penyerahan kepala babi atau sapi atau kerbau ditambah dengan bagian bagian
tertentu dari badan hewan itu dan dari pihak kerabat pengantin perempuan
berupa ikan mas besar sebanyak tiga atau lima puluh tujuh ekor yang dimasak
secara khusus unluk dijadikan lauk. Setelah seserahan itu maka acara dilanjutkan
dengan makan bersama seluruh kerabat dan undanngan. Selesai makan, acara
dilanjutkan dengin melunasi mahar yang belum dibayar khususnya Upa Suhut
yang biasanya sengaja tidak dibayarkan semuarnya sewaktu marhata sinamot.
Agar pelunasan itu disaksikan seluruh kerabat. Sesudah mahar dilunasi lalu
dilanjutkan dengan pernberian ulos berupa kain tenun Batak kepada kerabat
pengantin laki-laki. Yang pertama diberi ulos atau diulosi adalah orang tua
pengantin laki laki. Lalu diikuti ke pengantin yang dinamakan ulos hela atau
ulos mantu setelah dilanjutkan dengan pemherian ulos kepada saudara Ayah
nva, anak lelakinya, anak perempuannya dan saudara perempuannya serta
kerabat yang lain yang jumlah keseluruhan ulos itu sekarang ini biasanya
disepakati l7 lembar Pemberian ulos itu disertai dengan penyampaian berkah dan
doa restu yang diucapkan dalam bentuk pepatah atau yang tujunnnya agar yang
diberi ulos orang tuanya mendapat berkah dari Tuhan berupa kesehatan,
kemudahan rejeki, panjang usia, dan kesuksesan dalam hidup, sedangkan khusus
bagi pengantin agar segera memperoleh keturunan dan hidup berbahagia.
sehingga inti dari pemberian ulos itu sebenarnya terletak pada pemberian
berkahnya. Makna daai paulak une sebenernya adalah laporan dari keiuurga
penganlin laki-laki bahwa proses perkawinan itu sudah berlangsung
sebagaimana mestinya. Pada perkawinan jujur, yang dikawinkan adalah seorang
laki-laki lajang dengan seorang gadis perawan. Setelah mereka resmi dinikahkan
dan melaksanakan hubungan suami isteri, maka akan ketahuan apakah pengantin
putri itu rnasih perawan atau tidak. Kalau memang masih perawan, maka
dilakukanlah acara paulak une, sedangkan kalau ridak, maka perkawinan itu
dapat segera diputuskan. Pasangan itu bercerai dan pengantin putri dikembalikan
ke orang tuanya dengan tuntutan agar maharnya dikembalikan. Pelaksanaan
acara paulak une itu berupa kunjungan dari pengantin dan kerabat pengantin laki
laki ke kediaman orang tua pengantin perempuan dengan membawa makanan
adat dan pada kesempatan seserahan makanan itulah kerabat laki-laki
menyampaikan bahwa perkawinan itu sudah berlangsung dengan baik dan
sebagaimana mestinya. Pengantin baru itu untuk sementara tinggal di rurnah
orang tua pengantin laki-laki tetapi tidak lama kemudian mereka terus mencari
dengan menempati rumah baru agar segera membangun rumah tangga sendiri.
Setelah mereka telah pisah rumah, maka datanglah kerabat pengantin perempuan
mengunjungi rumah menantunya dengan membawa ikan mas dan beras mereka
diterima oleh kerabat pihak laki-laki. Kunjungan ini juga bisa dilakukan ke
rumah besannya sebelum pengantin mencari, karena sudah kangen dengan anak
dan menantunya.Selesai acara makan bersarna, keluarga pihak perempuan
menyampaikan nasihat dan petunjuk baga mana cara membangun kcluarga yang
baik agar rumah tangganya selalu harmonis, disayangi keluarga dan lingkungan.

B. Jenis-Jenis Perkawinan Pada Masyarakat Batak Toba

Sejak dulu masyarakat Batak Toba telah terikat oleh adat istiadat mereka,
walaupun adat tersebut tidak tertulis. Keseluruhan hidup orang Batak Toba
diatur oleh dan di dalam adat. Fungsi utamnya adalah untuk menciptakan
keteraturan dalam masyrakat , sehingga aktivitas sehari hari juga diatur dan
diukur melalui adat. tidak lepas dari upacara dan adat perkawinan, yang
bagi masyarakat sub etnis Batak Toba merupakan salah satu peristiwa penting
dalam sejarah hidupnya selain kematian. Adat dan upacara perkawinan tersebut
telah memiliki pola sendiri sejak kedatangan Agama Kristen, yang merupakan
pengaruh yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Toba. Bagi
masyarakat Toba, adat dan upacara perkawinan merupakan cerminan
musyawarah-mufakat yang menghasilkan keadilan, persatuan, saling mengisi,
saling menghargai dan pemberian bekal mengenai hidup dan kehidupan bagi
semua pihak. Masyarakat Toba menerapkan aturan bagi generasi muda yang
akan menetapkan pasangan hidupnya. Aturan tersebut terangkum pada aturan
“kawin pariban” (menikah dengan putri paman dari pihak ibu atau putra bibi dari
pihak ayah). Aturan ini menggambarkan seseorang telah memiliki pasangan
hidup yang ditentukan oleh adat, yaitu harus menikah dengan paribannya.
Terdapat dua jenis “kawin pariban” ,yaitu “ marboru ni tulang” (menikah dengan
putri paman dari pihak ibu) untuk pria dan “maranak ni namboru” (putra bibi
dari pihak ayah) untuk wanita. Bila seorang pria akan menikah, maka ia harus
menikahi putri paman dari pihak ibu. Dan bila seorang wanita ingin menikah , ia
harus menikahi putra bibi dari pihak ayah. Masyarakat Toba juga mengenal
larangan perkawinan sebagai “bora ni namboru”, yaitu perkawinan dengan putri
bibi dari pihak ayah. Aturan ini sangat dipatuhi dan dijungjung tinggi, walaupun
masyarakat adat tidak berada di tanah Toba.

C. Pihak – Pihak yang Terlibat Dalam Perkawinan Batak Toba

Pada masyarakat Batak Toba perkawinan adalah pranata yang menghubungkan


tiga kelompok clan. atau orang-orang yang sa-ompu (satu kakek moyang
bersama, biasanya sampai 3-5 generasi), yang masih dapat
diidentifikasi dengan jelas garis keturunannya, klen kecil ini berada
dalam satu kelompok kekerabatan besar yang dikenal dengan istilah
marga. Klen kecil penerima perempuan (ayah dari pengantin lakilaki) disebut
Boru, klen kecil (ayah) yang memberi anak perempuan disebut Hulahula
sedangkan klen kecil sesama warga suatu kelompok kekerabatan (dihitung
berdasarkan garis laki-laki) disebut Dongan Sabuhuta. Pranata yang
menghubungkan ketiga klen kecil inilaah yang disebut Dalihan Na Tolu
(Tungku Nan Tiga), yang sebenarnya merupakan hubungan besan.7
Kelompok Dongan Sabutuha merupakan kerabat semarga
baik dari kelompok hulahula maupun kelompok Boru, dengan
demikian kelompok Dongan Sabutuha (Teman seperut) merupakan
kelompok yang sangat besar. Di dalam kelompok Dongan Sabutuha
sebenarnya adalagi kelompok kecil, yang hubungan diantara sesamanya lebih
dekat karena asal-usulnya masih dapat ditelusuri dan ini disebut sebagai Dongan
Tubu (teman selahir). Identitas dari Orang Batak yang tergolong ke dalam satu
kesatuan Dalihan Na Tolu ditandai oleh apakah mereka tergolong dalam suatu
satuan upacara adat (Terutama perkawinan, kematian, dan berbagai
permasalahan yang melekat pada peristiwa-peristiwa tersebut). Kedudukan
masing-masing orang, apakah ia dari kelompok Hulahula, Boru, atau Dongan
Sabuhuta menentukan secara jelas peranannya dalam ritual upacara. Bahkan
tempat mereka duduk dalam upacara juga sudah ditetapkan secara jelas
berdasarkan tiga pengelompokkan di atas. Bila ada permasalahan, satuan
upacara ini juga menunjukkan secara jelas, siapa-siapa saja yang diundang untuk
ikut membicarakan dan merumuskannya. Dongan Sabutuha menjadi teman
seiring, dan tcman bekerja sama dalam segala urusan adat. sehirgga yang punya
hajat tinggal men-eikuti scmua acara yang telah diatul olch para saudaranya.
Hulahula nlenjadi orang atau kelompok r-ang dihormati. dimintai pe tuujLrk dan
berkah serta Boru ber pern. \ebagai orang yang disuruh oleh lliiu a-ang melayani
hulahulanya. scrta hertugas untuk menyiapkan seltula sesuatu yang dipe ukrn
dalam suatu perhelatan adnt.

D. Perubahan Tahapan Pelaksanaan Tata Cara Adat Perkawinan Batak Toba

Sebagai seorang dewasa awal, seseorang dituntut untuk mulai memikirkan


hal-hal yang mulai berhubungan dengan pemilihan pasangan hidup. Sebagai
seorang yang bersuku Batak Toba, juga dituntut untuk tetap mematuhi aturan-
aturan adat. Hal ini menyebabkan bila seseorang yang bersuku Batak Toba
ingin memilih pasangan hidup , maka mereka harus bisa memenuhi kriteria adat,
yaitu menikah dengan “ pariban” . namun dewasa ini aturan tersebut kadang
kurang bisa dipatuhi. Banyak hal yang mempengaruhi ketidaktaatan mereka
terhadap adat ,seperti pengaruh adat dan kebiasaan di tempat baru akibat
modernisasi,dan kualitas dan kuantitas pertemuan dengan lawan jenis. Pendapat
senada disampaikan oleh Amang J. Pasaribu
Di kota Medan on ndang natarula be ulaon pamuli anak/ boru songon
najolo. Ala ni bahat ni tingki tu ulaoni, gabe dipersingkat ma dohot
istilah“ulaon sadari”, disi ma paulak une manang maningkir tangga. Alai
ndang nikmat be ulaon on ala ndang piga halak be natinggal mandohoti ulaoni
gabe diangka naumposo ndang diantusi “Aha do Ulaon nadiulahon on”. Di
kotaMedan tidak lagi dilaksanakan acara perkawinan seperti dahulu. Karena
banyak memakan waktu, jadi acara perkawinan dipersingkat menjadiulaon
sadari,di dalam pesta itulah dilaksanakan acarapaulak une atau maningkir
tangga. Tapi tidak bermakna lagi acara tersebut karena tidak banyak lagi orang
yang tinggal untuk mengikuti acara tersebut.Dahulu upacara perkawinan
masyarakat Batak Toba terdiri dari beberapa tahapan yakni dimulai darimarhori-
hori dingding, patua hata, marhusip, marhata sinamot,pestaunjuk, paulak
unedanmaningkir tangga. Namun pada saat sekarang ini sudah terjadi
perubahan, banyak hal yang sudah dirubah melalui kesepakatan bersama.
Adapun tahapan upacara perkawinan Batak Toba yang sering kita jumpai saat
ini adalah dimulai darimarhori- hori dingding, marhusip, martumpol, marhata
sinamot,dan pestaunjukyang langsung dilanjutkan dengan acarapaulak
unedanmaningkir tangga yang sering disebut denganulaon sadari(pesta adat yang
dituntaskan dalam satu hari). Upacara adat perkawinan Batak Toba telah
mengalami perubahan baik dalam sistem upacara maupun tata cara pelaksanaan
upacara tersebut. Adapun penyebab perubahan tersebut ialah modernisasi.
Kehadiran modernisasi telah mengubah penilaian terhadap tata cara dan
kewajiban-kewajiban yang terdapat dalam upacara adat perkawinan Batak Toba.
Pada saat sekarang ini, masyarakat Batak menganggap bahwa adat Batak Toba
terlalu rumit. Pada saat ini upacara adat perkawinan Batak Toba telah berubah.
Adat Batak Toba yang berubah tersebut adalah: Tahapan mangalehon tanda
hata (pemberian tanda burju) sudah jarang dilaksanakan dan telah berubah
menjadi yang disebut tukar cincin dan dilakukan pada saat acara pemberkatan
nikah di gereja.Tahapanmarhori-hori dingdingtidak lagi menjadi suatu
kewajiban bagi masyarakat Batak Toba di KotaMedan. Dahulu pelaksanaan
marhori- hori dingdingdilaksanakan olehboru dari pihak mempelai laki-laki
danborudari pihak mempelai perempuan, kini pelaksanaanya langsung oleh
orangtua kedua calon mempelai.Pelaksanaan Tahapan patua hata dan
marhusip di KotaMedandilaksanakan secara bersamaan yang dahulu tahapan ini
dilaksanakan di waktu yang berbeda. Dan sekarang ini pelaksanaanmarhusipada
yangdilaksanakan secara meriah bila keadaan ekonomi kedua keluarga mapan.
Pelaksanaan acara marhata sinamot di Kota Medan diadakansetelah acara
martumpol dan tahapan maningkir lobu yang biasanya dilakukan setelah acara
marhata sinamot sudah ditiadakan/dihilangkan. Pada upacara adat Batak Toba di
KotaMedan , tahapan paulak une dan maningkir tangga telah dilangsungkan
bersamaan dengan pesta unjuk. Bentuk upacara perkawinan yang demikian
disebut adat ulaon sadari artinya pesta yang dituntaskan selama satu
hari.Pelaksanaan upacara adat Batak Toba di KotaMedanmayoritas dilaksanakan
dalam bentuk ulaon sadari (upacara adat yang dituntaskan dalam satu hari).
Perubahan upacara adat perkawinan Batak Toba menjadi adat ulaon sadari
menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat Batak Toba. Sebagian
masyarakat menyetujui adatulaon sadaridan sebagian lagi menolak terutama
raja-raja adat.

5. Dampak Modernisasi Dalam Pelaksanaan Perkawinan Masyarakat Batak Toba di Era


Revolusi Industri 4.0

Setiadi (2007: 59) menyatakan bahwa modernisasi merupakan salah satu model
kehidupan yang ditandai dengan ciri-ciri, yaitu (1) kesiapan menerima pengalaman baru
dan keterbukaan terhadap inovasi baru, (2) kebutuhan materi menjadi ajang persaingan
keutuhan manusia, (3) modernisasi banyak memberikan kemudahan manusia, (4)
mekanisme masyarakat berubah menuju prinsip dan logika ekonomi serta orientasi
kebendaaan yang berlebihan, (5) kehidupan seseorang perhatian religiusnya dicurahkan
untuk bekerja dan menumpuk harta kekayaan. Kehadiran modernisasi telah membawa
perubahan - perubahan dalam tata cara pelaksanaan upacara adat perkawinan
BatakToba.Modernisasi banyak memberikan kemudahan bagi manusia yang
mengakibatkan berubahnya pola pikir masyarakat Batak Toba yang cenderung
menginginkan hal-hal yangpraktis. Hal ini semakin menimbulkan kesadaran orang
Batak Toba bahwa upacara perkawinan Batak Toba seperti dahulu menghabiskan
banyak waktu dan biaya.Selain itu sudah banyak kesibukan masyarakat Batak Toba
dikotaMedan, yaitu mengejar pekerjaan untuk mempertahankan kehidupannya. Karena
itulah seluruh unsurunsur adat perkaiwnan Batak Tobatidak dapat dipertahankan lagi.
Pelaksanaan upacara perkawinan yang dilakukan dalam satu hari atau yang biasa
disebut denganulaon sadari menyebabkan pergeseran nilaidari ide vital tentang kesucian
perkawinan Batak Toba. Modernisasi telah menyebabkan melonggarnya adat upacara
perkawinan Batak Toba yang dapat membuat kaburnya makna dari tahapantahapan
upacara perkawinan tersebut. Modernisasi juga menimbulkanfenomena baru dalam
pelaksanaan upacara adat perkawinan Batak Toba. Pada masa sekarang ini, dalam suatu
upacara perkawinan masyarakat Batak Toba sering kita dengar istilah “tulangpengganti
atautulangbayaran. Hal ini telah menjadi sesuatu yang wajar bagi masyarakat Batak
Toba di kota Medan, apabila tulangkandung pengantin tidak dapat hadir maka kita dapat
meminta orang lain yang memiliki marga yang sama dengan tulang pengantin untuk
menggantikan kedudukannya. Bilakitamengikutiupacara perkawinan yang terdahulu
akan merugikan kedua belah pihak pengantinkarena selain menyita waktu, tenaga dan
juga memakan biaya yang lebih banyak. Apalagi kalau kediaman pengantin pria dan
wanita tidak satu daerah(berbeda kampung) akan semakin merepotkan bila
upacaraunjuk dipisahkan dengan acara paulak une. Marunjuk ini mengalami perubahan
yang bersifat prinsipil, karena pada acara ini sudah tercakup marhata sinamot, paulek
une dan maningkir taogga. Mar hata sinamot yang aslinya mutlak dilaksanakan sebelum
pemberkatan pernikahan, karena pada dasarnya pembicaraan tentang sina mot sudah
disepakati pada saat marhusip, sehingga marhusip berubah fungsi jadi marhata sinamot.

sepcrti rnarhxta sinamot.Apa yang dibicarakan dan diputuskan Pada acdra marhusiP Persis
slma dcngan yang marhato sinamot. Perbedaan yang teriadi hanya Pada fungsionais adat Yang
hadir Yaitu tanpa kehadiran Tulang dan Yang kedua adul:rh sehabis marhusiP tidak diberikan
panjar, tctapi panjar ilu sehenaroya tetap dibcrikan o rang tua Pengrntin lakil^ki kePa du orang
tua pengantin Perem puxn, cuma tidak di hadapan urnum, sedangkan kalau marhata sinamot
mnka Tulang wajib hadir serta panjar dari sinamot langsung dibetikan serta dinamai "Bohi ni
sinamot". Dengan pelaksanaan marhllsiP seperti itu. maka Praktis acara marhuta sinirmot
menjadi kehilangan a i, hanya sekadar forma_ litas, pengulangan yang lidak Perlu, bahkan
menjadi sandiwara bohoog-bohongan. Pada acara marhusip lidak diberikan Panjar, tetapi
secara tidak resmi tetap diberi pJnJrr.:ehrnggJ pada rcara mlrhata sinanot terjadi sandiwara
dalam menghitung urngnya. Perubahan lainnya adalah di lxnjutkannla ccera marunjuk itu
dengan paulak une yang langsung dilaksanakan di tenlpa! pesta itu. Acara inipun
sifatnya juga hanya fbrmalitas, karena sudah ada pe_ ngakuan bahwa sudah berjalan
dengun baik seluruhnYa, Padahal perbuatan atau Pernyalaan itu dilakukan tanpa
pembuktian arau uji coba yang layak, sehingga kalau ada tuntulan kemudian tentang
kondisi pengantin perempuan sudah tidak berlaku lagi. Demikian juga dengan acara
mxningkir langga atau berkunjung ke lempat tinggal pengantin yang dilaksanakan pada
tempat pesta itu, juga formalitas belaka, sebab yang dikunjungi bukan tempat tinggal
pengantin. Gondang merupakan suatu tradisi masyarakat Batak Toba. Perkataan
gondang berkaitan dengan banyak aspek. Dalam konsep pemikiran masyarakat Batak
Toba perkataan musik memberi arti yang berbeda dengan perkataan gondang.
Walaupun perkataan gondang mempunyai persamaan arti dengan musik, tetapi tujuan
menggunakan perkataan musik dengan gondang tidaklah sama. Perkataan musik
dikaitkan dengan musik modern sedangkan perkataan gondang dikaitkan dengan musik
tradisional. Oleh karena itu, jika dikatakan upacara pesta adat itu diiringi oleh musik
maksudnya adalah iringan musik tiup. Adapun fungsi gondang pada adat horja siriaon
(perkawinan) adalah sebagai bentuk pengumuman kepada masyarakat mengenai proses
perkawinan yang dilaksanakan selain itu juga berfungsi sebagai media pertemuan antar
pemuka atau toko adat Batak sebagai simbol pengesahan bahwa telah dilakukannya
pengangkatan gelar ataupun pembuatan hukum adat, dan sebagai tanda sekaligus
pemberitahuan kepada masyarakat bahwa sedang berlangsungnya acara
adat.modernisasi juga memepengaruhi aspek ini dimana suku Batak didalam
melaksanakan proses adat perkawinannya tidak lagi memakai gondang tetapi memakai
musik modern di dalam proses adat perkawinan tersebut. Modernis juga mempengaruhi
adat perkawinan suku Batak salah satunya adalah proses pemberian ulos. Dalam adat
Batak pemberian ulos merupakan sarana penting untuk menyatakan berkat atau doa
kepada anaknya. karena itu, pemberian ulos baik yang memberi maupun yang
menerimanya tidak sembarang orang.harus orang tua kepada anakanaknya.Ujung dari
ulos selalu banyak rambutnya sehingga disebut’’ulos siganjang/sigondang
rambu’(rambu,benang di ujung ulos yang dibiarkan terurai). Dikarenakan modernis
proses pemberian ulos ini diganti dengan memberikan mempelai baju pernikahan.
Dampak positif modernis yaitu masyarakat suku Batak dapat menerima kebudayaan dari
luar dan dapat ilmu pengetahuan dari sekolah yang ada di desa tersebut, selanjutnya
dampak negatifnya adalah suku tersebut tidak lagi menggunakan kebudayaan tata cara
adat perkawinannya lagi karena adanya pengaruh dari kebudayaan yang modern.

6. Upaya Menajaga Eksistensi Adat Perkawinan Masyarakat Toba di Era Revolusi


Industri 4.0

Hukum adat merupakan hasil pemikiran dar'i bangsa Indonesia yang bilngkil
dan ditnati dalam pergaulan hidup Bangsa Indone sia. karena itu hukum adat itu pasti
dipengaruhi oleh mentalitet dari Bangsa Indonesia itu sendiri. Bertolak dari pernikiran
itu, maka hukum adat perkawiDan masyarakat Batak Toba pasti dipcngaruhi oleh orang
Batak Toba. Mentalitet atau struktur rohani yang menjiwai adat batak. Hukum Adat
yang ada kecendrungan untuk memberi keputusan atau penetapan hukum yang
diberikan pimpinan masyarakat keseluruhan hidup orang Batak Toba diatur oleh dan di
dalam adat. Fungsi utamnya adalah untuk menciptakan keteraturan dalam masyrakat ,
sehingga aktivitas sehari hari juga diatur dan diukur melalui adat. Oleh karena adat
merupakan suatu aturan yang dihasilkan oleh pendahulunya dan diteruskan secara turun
menurun maka aturan yang disebut adat tersebut akan selalu dipatuhi oleh penerusnya
sampai sekarang. Ikatan akan aturan adat sangat kuat, sehingga jarang sekali masyrakat
yang melanggar adat tersebut. Individu yang melanggar aturan aturan adat akan
dikenakan sanksi seperti hukuman fisik, pengusiran atau divbuang dari tanah adat, tidak
diakui sebagai anggota marga, dan dilarang untuk mengikuti upacara adat dan seiring
perkembangan IPTEK penerapan teknologi informasi komunikasi sebagai media untuk
mempermudah berbagai kalangan mengakses eksistensi adat perkawinan suku Batak
Toba, dan kemudian menjadi dukungan bagi masyarakat Batak Toba agar tetap terus
menjaga dan melaksanakan adat-adat yang mencakup perkawinan Batak Toba karena
munculnya anggapan bahwa eksistensi adat perkawinan masyarakat Batak Toba sebagai
identitas sakral yang khas dari suku Batak.
Hasil Dokumentasi Adat Perkawinan Suku Batak Toba di Kota Medan
BAB. V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan beberapa uraian yang telah dibahas di bab-bab terdahulu, dapat


dilihat bahwa adat perkawinan Batak Toba mengalami perubahan. Kebudayaan setiap
kelompok masyarakat selalu bersifat dinamis. Artinya, selalu saja terjadi perubahan
dengan adanya pergeseran, pengurangan, dan penambahan kebudayaan.Dari hasil
penelitian yang didapat melalui observasi ke lapangan serta wawancara dengan berbagai
pihak yang mengetahui tentang upacara adat perkawinan BatakToba, maka peneliti
menarik kesimpulan bahwa perkawinan masyarakat Batak Toba merupakan perkawinan
keluarga. Dilihat dari sudut pelaksanaanya upacara perkawinan melibatkan banyak
pihak, maka prinsip pertanggung jawaban adalah milik kelompok sosial. Keluarga
kedua belah pihak pengantin beserta setiap unsurdalihan na toludari kedua belah
pihakterlibat secara langsung dan bertanggung jawab sesuai dengan kedudukan sosial
adatnya. Upacara adat perkawinan Batak Toba telah mengalami perubahan baik dalam
sistem upacara maupun tata cara pelaksanaan upacara tersebut. Adapun penyebab
perubahan tersebut ialah modernisasi. Kehadiran modernisasi telah mengubah penilaian
terhadap tata cara dan kewajiban-kewajiban yang terdapat dalam upacara adat
perkawinan Batak Toba. Pada saat sekarang ini, masyarakat Batak menganggap bhwa
adat Batak Toba terlalu rumit dalam pelaksanaannya. mi kedua keluarga mapan.
Pelaksanaan acaramarhata sinamotdiKota Medan diadakan setelah acara martumpol dan
tahapan maningkir lobu yang biasanya dilakukan setelah acaramarhata sinamotsudah
ditiadakan/dihilangkan. Pada upacara adat Batak Toba di Kota Medan , tahapan atau
acarapaulak unedan maningkir tangga telah dilangsungkan bersamaan dengan
pestaunjuk. Bentuk upacara perkawinan yang demikian disebut adatulaon sadariartinya
pesta yang dituntaskan selama satu hari.Pelaksanaan upacara adat Batak Toba di
KotaMedanmayoritas dilaksanakan dalam bentuk ulaon sadari (upacara adat yang
dituntaskan dalam satu hari).

B. Saran
Adat perkawinan Batak Toba hendaknya dijaga kelestariannya sebaik mungkin
untuk memperkaya adat. Nilai yang baik dari adat perkawinan di ikuti,dari beberapa tata
cara adat perkawinan Batak Toba sedikit banyaknya pasti ada yang membawa kebaikan.
Hal yang demikianlah sebaiknya kita lestarikan dan dijaga .Sebaiknya kita melestarikan
setiap kebudayaan,tradisi, maupun adat,khususnya adat perkawinan Batak Toba. Kita
harus mempelajari untuk memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar adat
perkawinan suku Batak Toba ini tidak dilupakan dan tidak diabaikan. Untuk tokoh
adat,tokoh masyarakat,dan tokoh agama penjelasan tentang adat perkawinan Batak
Toba ini hendaknya diperjelas agar generasi penerus dapat menjaga dan melestarikan
adat perkawinan suku batak toba. Adat perkawinan Batak Toba ini hendaknya di
beritahukan kepada anak-anak dengan cara di beri pengetahuan tentang adat sejak dini.

Daftar Pustaka

Hutagalung, W.M. ( l96l). Pa.fidld Bdtuk, llrombo doltot Turituriut ni Bangro Bdrdk.
Medan: C .V. Tulus Jaya.

Hadikusuma, H. Hilman (1992) P?ltunkr llnu Hukun Aclat hlr-,nc.ria. Bandung


C.V.Mandar Maju.

Siagian, N4arihot & Robinson Togap (1992). Atlat (Paradaton) Medan. Medan:
Punguan Raja Siagian dohot Boruna di Indonesia bekerja sama C.V.Lopian.

Berutu, L. 1997. Tradisi dan Perubahan. Medan: Monora.

Rajamarpodang, G. DJ. 1992. Dalihan Na Tolu Nilai Budaya Suku Batak. Meda: CV
Armanda.

Sibarani, J. 2005. Pola Penerapan Upacara Adat Perkawinan Masyarakat Batak

Vergouwen, J.C. 1986. Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba. Yogyakarta:
PT.LKiS