Anda di halaman 1dari 13

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

DEPARTEMEN TEKNIK
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL YOGYAKARTA

TUGAS INDIVIDU 1
KULIAH PENGGANTI GEOFISIKA

Disusun Oleh :

Nama : Septian Purnomo Aji


NIM : 410018067
Kelas : 2 (Rabu 09.15-10.55)

Diajukan sebagai tugas mata kuliah Geofisika


Program Studi Teknik Geologi, Departemen Teknik, Institut Teknologi Nasional
Yogyakarta

YOGYAKARTA
2020
1. PENGERTIAN GEOMAGNETIK
Metode magnetik merupakan salah satu metode eksplorasi geofisika yang
dilakukan dengan meninjau hasil pengukuran anomali magnetik. Anomali ini
diakibatkan oleh perbedaan suseptibilitas atau permeabilitas magnetik di satu
daerah dari daerah di sekelilingnya. Intensitas magnetik diukur menggunakan
magnetometer. Variasi intensitas magnetik (anomali) diakibatkan oleh perbedaan
distribusi mineral yang bersifat ferromagnetik, paramagnetik, dan diamagnetik.
Metode ini digunakan pada studi geotermal karena mineral-mineral ferromagnetik
akan kehilangan sifat kemagnetannya bila dipanaskan hingga temperatur tertentu,
sehingga digunakan untuk mempelajari daerah yang kemungkinan memiliki
potensi geotermal. Metode magnetik didasarkan pada pengukuran variasi
intensitas medan magnetik di permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya
variasi distribusi benda termagnetisasi di bawah permukaan bumi(suseptibilitas).

2. HUKUM DASAR GEOMAGNETIK


a. Gaya Magnet (F)
Menurut hukum Coulomb untuk kutub magnetik, jika dua buah kutub magnet
m1 dan m2 yang terpisah sejauh r, maka akan timbul gaya di antara keduanya
sebesar:
F= (m1 m2/µr2)r1
 F = Gaya dalam dyne terhadap m1 dan m2
 µ = Permeabilitas magnet
 r = Jarak antara dua kutub m1 ke m2
Konstanta µ = permeabilitas tergantung sifat magnet dari medium di mana
kutub tadi berada. Satuan kutub magnet m1 dan m2 disebut magnet yang memiliki
daya. Satuan daya atau kekuatan kutub ditentukan F=1 dyne, bila dua satuan
kutub dipisahkan oleh jarak 1 cm, dan berada dalam suatu medium yang non
magnetic misalkan udara, maka µ = 1. Jika muatan yang berinteraksi lebih dari
dua buah, maka gaya magnet totalnya adalah:
Jika kedua benda memiliki arah garis gaya magnet yang berlawanan arah, maka
kedua benda akan saling tarik menarik.

b. Kuat Medan Magnet (H)


Kuat medan magnet yang dinyatakan dengan (H) di suatu titik di definisiksn
sebagai gaya persatuan kutub yang bekerja pada suatu kutub dengan kuat medan
magnet pada titik yang berjarak r dari kutub m adalah:

Medan magnet tersebut umumnya dinyatakan sebagai garis-garis gaya yang


menunjukan medan magnet. Besaran H dinyatakan dalam oersted yaitu dyne
persatuan kutub dan yang dinyatakan dengan jumlah garis gaya magnet. Jadi
makin besar gaya magnet maka makin banyak garis gaya magnet tersebut (dalam
CGS).

c. Momen Magnet (M)


Satuan kutub terdiri dari kutub +m dan –m saling berlawanan arah yang
dipisahkan oleh jarak l, maka moment magnetiknya dapat didefinisikan sebagai
berikut:
 M = F.l
 M = ml r1 = M r1
 +m=-m
d. Intensitas Magnet (I)
Suatu benda magnetik ditempatkan dalam suatu medan magnet luar, maka
benda tersebut akan termagnetisasi oleh medan magnet luar tersebut (terimbas).
Benda yang terimbas oleh medan magnet luar tersebut akan memiliki intensitas
dan arah kutub yang sama dengan medan yang mengimbas. Secara matematik di
definisikan dalam momen magnet persatuan volume, yaitu:

Intensitas magnet selalu mengarah kepada medan magnet yang


mengimbasnya, kekuatannya sama dengan medan yang mengimbasnya.

e. Kerentanan / Magnetik Suseptibility (k)


Suatau benda / material diletakkan pada medan magnet luar (H), maka
intensitas magnetik (I) akan berbanding lurus dengan kuat medan luar yang
menginduksinya. Jadi suseptibilitas dapat diasumsikan sebagai kemampuat suatu
benda / material untuk terinduksi oleh magnet luar, yang didefinisikan sebagai
berikut:

Dimana k=0 untuk ruang hampa.


Dari persamaan di atas, suseptibilitas merupakan besaran yang menyatakan
kemampuan suatu batuan/mineral dalam memberikan respon terhadap medan
magnet luar. Kemampuan suatu benda untuk terinduksi, tergantung pada batuan
atau mineral yang menyusunnya. Dimana “k” dinyatakan dalam satuan “cgs”
sebagai 10-6 emu/ cc atau cgsu.
 1 cgsu = 4µ(10-3) SI 1SI=1/4 µ cgs

f. Induksi Magnet (B)


Kutub magnet pada suatu benda / material yang terimbas oleh medan magnet
luar (H) akan menghasilkan medan magnet itu sendiri H’, kemudian di hubungkan
dengan intensitas magnet I ditunjukan oleh rumus:
 H’=4π I
Induksi magnet (B), didefinisikan sebagai medan magnet total dalam suatu
bidag magnetik. Merupakan penjumlahan dari kuat medan magnet luar dan medan
magnet dalam, dengan rumus:
 B=H+H’ atau B=H+4πI
Dengan menggabungkan persamaan di atas dengan persamaan sebelumnya, maka
diperoleh:
 B=H+4kH = (1+4µk)H maka B=µH
Dimana µ = Permeabilitas medium
Permeabilitas medium merupakan suatu ukuran modifikasi oleh induksi pada
gaya tarik atau gaya tolak antara kutub magnetik.

Dimana: µ = Permeabilitas medium


B = Induksi magnet
H = Medan magnet
K = Kerentanan magnet (Magnetic Suceptibility)

g. Hysteresis Loop (Lengkung hysteresis)


Hysteresis loop ini menunjukan tentang hubungan B dengan H kedua besaran
ini dapat menjadi rumit pada bahan-bahan magnet yang banyak mengandung
mineral-mineral ferromagnetic, seperti di tunjukkan pada gambar berikut ini:

Bila suatau benda magnetik dimagnetisasi, B akan meningkat sesuai dengan


bertambahnya H, sehingga cenderung mendatar karena kejenuhannya. Bila secara
perlahan-lahan medan magnet di tiadakan, penurunan kurva tidak melintasi kurva
yang sebelumnya dan menuju nilai B positif saat H=0. ini di kenal sebagai
magnetisasi sisa (residual magnetism) dari benda tersebut. Ketika H di
kembalikan, maka B menjadi 0 pada H yang negatif, dikenal sebagai gaya
paksaan (coercive force).

3. JENIS JENIS KEMAGNETAN


a. Diamagnetik Batuan diamagnetik mempunyai harga suseptibilitas k negatif,
sehingga intensitas imbasan dalam batuan atau mineral tersebut mengarah
berlawanan dengan gaya medan magnet, seperti yang terlihat pada gambar.
Contoh batuan diamagnetik antara lain : marmer, bismuth dan kuarsa.

b. Paramagnetik Batuan atau mineral paramagnetik mempunyai kerentanan


magnet positif dan akan mengecil sesuai dengan menurunnya suhu, seperti
yang terlihat pada Gambar 8. Sifat-sifat paramagnetik akan timbul bila atom
atau molekul suatu batuan atau mineral memiliki momen magnet pada waktu
tidak terdapat medan luar dan interaksi antara atom lemah. Contoh batuan
paramagnetik antara lain : piroksen, olivine, garnet dan biotit.
c. Ferromagnetik Atom-atom dalam bahan ferromagnetik memiliki momen
magnet dan interaksi antara atom-atom tetangganya begitu kuat sehingga
momen semua atom dalam suatu daerah mengarah sesuai dengan medan
magnet luar yang diimbaskan, seperti yang terlihat pada gambar . Contohnya :
besi, cobalt dan nikel.

d. Antifferomagnetik Suatu bahan atau material akan bersifat antifferomagnetik


pada saat kemagnetan benda ferromagnetik naik sesuai dengan kenaikan
temperatur yang kemudian hilang setelah temperatur mencapai titik Curie,
seperti yang terlihat pada gambar. Contohnya hematite.

e. Ferrimagnetik Bahan-bahan dikatakan ferrimagnetik bila momen magnet pada


dua daerah magnet saling berlawanan arah satu terhadap lainnya, seperti yang
terlihat pada gambar. Harga k cukup tinggi dan bergantung pada temperatur.
Contohnya adalah titanium.

4. ANOMALI MAGNETIK
Dalam geofisika, anomali magnetik atau magnetic anomaly, adalah variasi
lokal medan magnet di dalam Bumi yang dihasilkan dari variasi kimia atau
magnetisme bebatuan. Pemetaan variasi diatas suatu area yang terdapat anomali
magnetik dalam mendeteksi struktur di dalamnya, biasanya dikaburkan oleh
material-material di atasnya.
Anomali magnetik atau magnetic anomaly, dapat pula
mempengaruhi gravity anomaly atau anomali gravitasi, yaitu adalah perbedaan
antara gravitasi observasi dengan nilai yang diprediksi oleh model. Perbedaan
medan gravitasi dapat disebabkan variasi rapat massa batuan dibawah permukaan,
sehingga dalam observasi yang diselidiki adalah perbedaan medan gravitasi antar
titik observasi.
Variasi magnetik yang diketahui terdapat pada jalur pegunungan yang
panjang didasar laut misalnya, biasanya sejajar dengan pegunungan tengah
samudera atau mid-ocean adalah bukti penting yang mendukung teori penyebaran
dasar laut, yang merupakan lempeng lempeng tektonik.
Namun ada beberapa tempat di Bumi yang sangat spesial, jauh dari teori-teori
dan bukti yang selama ini disampaikan para ilmuwan, yaitu keanehan atau
anomali medan magnet di tempat-tempat yang tak biasa.
Anomali magnetik ini dua diantaranya juga mencakup kawasan yang sangat
luas, dan pengaruhnya juga kuat. Berikut adalah dua tempat di Bumi yang
memiliki anomali magnetik terkuat dan terluas di dunia, yang hingga kini
membuat ilmuwan bingung dengan kening berkerut, bagaimana itu bisa terjadi.

5. ALAT AKUISISI GEOMAGNETIK


Peralatan yang digunakan dalam survei geomagnetik ini antara lain :
a. Magnetometer, Terdiri dari dua bagian
 Untuk mengukur medan magnet vertikal : Fluxgate Magnetometer
 Untuk mengukur medan magnet total : Proton Precession
Mgnetometer (PPM)
b. DGPS, untuk posisi stastiun pengukuran secara presisi
c. Peralatan pengukur waktu (jam)
d. Peralatan penunjuk arah (kompas)
e. Peralatan pendukung lainnya (log book)
Data-data yang dicatat dalam survei geomagnetik antara lain :
a. Waktu, meliputi Hari, tanggal dan Jam
b. Data Geomagnetik
 Medan Total, minimal lima kali pengukuran pada setiap titik
pengukuran untuk mengurangi gangguan lokal (Noise).
 Medan Vertikal, dua orientasi yaitu utara-selatan dan timur-barat
dengan masing-masing minimal lima kali pengukuran pada setiap titik
stasiun pengamatan
 Variasi Harian
 Medan Utama Bumi (IGRF)
c. Posisi titik stasiun pengukuran
d. kondisi cuaca dan topografi lapangan
Pengumpulan data bergantung pada target dan kondisi lapangan. Pengukuran
dengan target lokal biasanya dilakukan untuk daerah survei yang tidak terlalu
luas, dengan spasi 50-500 meter, sedang untuk target regional mencakup daerah
yang lebih luas dengan spasi 1-5 km.
Pengukuran didaerah gunungapi, dipuncak dan tubuh gunung dilakukan
dengan spasi 0,5 km atau sekitar 25-30 menit perjalanan (kaki), sedangkan pada
kaki gunung dan sekitarnya spasinya 1-2 km. Untuk target dengan daerah yang
sempit dan topografi yang relatif datar dapat dilakukan dengan spasi 50-100 m
bergantung kepada hasil pengukuran yang diinginkan. Pengumpulan data
dilakukan pada titik yang telah diplotkan grid-nya. Variasi harian dapat diukur
dengan menggunakan Base station PPM.

6. DESAIN SURVEI GEOMANETIK


Berdasarkan hasil analisa bahwa tingkat deteksi untuk besi seberat 45 kg
cukup baik sampai jarak 5 m dari sensor magnetometer, maka desain survei yang
efektif dalam survei pendeteksian ranjau seperti terlihat dalam gambar 7. dan 8.
Digunakan 2 sensor magnetometer G-877 dengan jarak masing-masing sensor 2
meter dan interval lintasan 10 m. Kedalaman sensor magnetometer dipertahankan
untuk tetap berada diatas seabed dengan jarak 1 m
7. KOREKSI PEMPROSESAN GEOMAGNETIK (KOREKSI HARIAN,
KOREKSI IGRF DLL
Untuk memperoleh nilai anomali medan magnetik yang diinginkan, maka
dilakukankoreksi terhadap data medan magnetik total hasil pengukuran pada
setiap titik lokasi ataustasiun pengukuran, yang mencakup koreksi harian, IGRF
dan topografi.
a. Koreksi Harian
Koreksi harian (diurnal correction) merupakan penyimpangan nilai
medanmagnetik bumi akibat adanya perbedaan waktu dan efek radiasi matahari
dalam satuhari.Waktu yang dimaksudkan harus mengacu atau sesuai dengan
waktu pengukuran data medan magnetik di setiap titik lokasi (stasiun pengukuran)
yangakan dikoreksi. Apabila nilai variasi harian negatif, maka koreksi harian
dilakukandengan cara menambahkan nilai variasi harian yang terekan pada waktu
tertentuterhadap data medan magnetik yang akan dikoreksi. Sebaliknya apabila
variasi harian bernilai positif, maka koreksinya dilakukan dengan cara
mengurangkan nilaivariasi harian yang terekan pada waktu tertentu terhadap data
medan magnetik yangakan dikoreksi, datap dituliskan dalam persamaan.
 ΔH = H total ± ΔH harian

b. Koreksi IGRF
Data hasil pengukuran medan magnetik pada dasarnya adalah konstribusi
daritiga komponen dasar, yaitu medan magnetik utama bumi, medan magnetik
luar danmedan anomali. Nilai medan magnetik utama tidak lain adalah niali
IGRF. Jika nilaimedan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi harian, maka
kontribusi medanmagnetik utama dihilangkan dengan koreksi IGRF. Koreksi
IGRFdapat dilakukandengan cara mengurangkan nilai IGRF terhadap nilai medan
magnetik total yangtelah terkoreksi harian pada setiap titik pengukuran pada
posisi geografis yangsesuai. Persamaan koreksinya (setelah dikoreksi harian)
dapat dituliskan sebagai berikut :
 ΔH = H total ± ΔH harian± Hо
Dimana Hо= IGRF
c. Koreksi Topografi
Koreksi topografi dilakukan jika pengaruh topografi dalam survei megnetik
sangat kuat. Koreksi topografi dalam survei geomagnetik tidak mempunyai
aturanyang jelas. Salah satu metode untuk menentukan nilai koreksinya adalah
denganmembangun suatu model topografi menggunakan pemodelan beberapa
prismasegiempat (Suryanto, 1988). Ketika melakukan pemodelan, nilai
suseptibilitasmagnetik (k) batuan topografi harus diketahui, sehingga model
topografi yang dibuat,menghasilkan nilai anomali medan magnetik (ΔH top)
sesuai dengan fakta.Selanjutnya persamaan koreksinya (setelah dilakukan koreski
harian dan IGRF)dapat dituliska sebagai.
 ΔH = H total ± ΔH harian – Hо- ΔH top
Setelah semua koreksi dikenakan pada data-data medan magnetik yang terukur
dilapangan,maka diperoleh data anomali medan magnetik total di topogafi. Untuk
mengetahui polaanomali yang diperoleh, yang akan digunakan sebagai dasar
dalam pendugaan modelstruktur geologi bawah permukaan yang mungkin, maka
data anomali harus disajikan dalam bentuk peta kontur. Peta kontur terdiri dari
garis-garis kontur yang menghubungkan titik-titik yang memiliki nilai anomali
sama, yang diukur dar suatu bidang pembanding tertentu.

8. PETA ANOMALY MAGNETIK


9. FILTER DALAM PEMROSESAN DATA MAGNETIK
Reduksi Ke Kutub (reduction to pole) Reduksi ke kutub adalah salah satu
filter pengolahan data magnetik untuk menghilangkan pengaruh sudut inklinasi
magnetik. Filter tesebut diperlukan karena sifat dipole anomali magnetik
menyulitkan interpretasi data lapangan yang umumnya masih berpola asimetrik.
Hasil dari reduksi ke kutub menunjukan anomali magnetik menjadi satu kutub.
Hal ini ditafsirkan posisi benda penyebab anomali medan magnet berada
dibawahnya (Indratmoko dkk, 2009). Berikut adalah persaman untuk reduksi ke
kutub berdasarkan Blakely tahun 1995:


Dimana

merupakan reduksi ke kutub karena adalah anomali yang akan diukur


pada kutub magnet utara, dimana induksi magnetisasi dan lapangan ambient
keduanya akan diarahkan secara vertikal ke bawah (Gambar 3.5).
Gambar diatas memproyeksikan gambaran sebelum dan sesudah di reduksi ke
kutub, pada gambar sebelah kiri yaitu sebelum direduksi ke kutub, anomali
dipengaruhi oleh dua acuan yang mengakibatkan penggambaran anomalinya
berada pada tengah-tengah antara acuan satu yang keatas dan acuan kedua yang
kearah bawah. Sedangkan pada gambar sebelah kanan adalah penggambaran
anomali yang sudah direduksi ke kutub dimana anomalinya hanya dipengaruhi
oleh satu acuan, sehingga dapat mempermudah dalam pemodelan.