Anda di halaman 1dari 9

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan pertama yang alami untuk bayi.

ASI menyediakan semua energi dan nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk

bulan-bulan pertama kehidupan. Menyusui adalah cara yang sangat baik

dalam menyediakan makanan ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan

bayi yang sehat (Adiningrum, 2014).

Pemberian ASI sangat penting bagi tumbuh kembang yang optimal baik

fisik maupun mental dan kecerdasan bayi. Pemberian ASI ekslusif perlu

mendapat perhatian para ibu, keluarga, masyarakat dan tenaga kesehatan

agar proses menyusui dapat terlaksana dengan baik dan benar. Cara

pemberian makanan pada bayi yang baik dan benar adalah menyusui bayi

secara ekslusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan dan meneruskan

menyusui anak sampai umur 24 bulan. Mulai umur 6 bulan, bayi mendapat

makanan pendamping ASI yang bergizi sesuai dengan kebutuhan tumbuh

kembangnya (Hikmawati, 2014).

Sustainable Development Goals dalam The 2030 Agenda For

Sustainable Development menargetkan pada tahun 2030 dapat mengurangi

angka kematian neonatal paling sedikit 12 per 1.000 kelahiran hidup dan

kematian pada anak di bawah usia 5 tahun paling sedikit 25 per 1.000

kelahiran hidup. Hal tersebut dapat dicapai salah satunya dengan pemberian

ASI eksklusif dilaksanakan dengan baik. Namun, hanya 44 persen dari bayi

baru lahir di dunia yang mendapat ASI dalam waktu satu jam pertama sejak

1
2

lahir, bahkan masih sedikit bayi di bawah usia enam bulan disusui secara

ksklusif (WHO, 2015).

Cakupan pemberian ASI eksklusif di Afrika Tengah sebanyak 25%,

Amerika Latin dan Karibia sebanyak 32%, Asia Timur sebanyak 30%, Asia

Selatan sebanyak 47%, dan Negara berkembang sebanyak 46%. Secara

keseluruhan, kurang dari 40 persen anak di bawah usia enam bulan diberi

ASI Eksklusif. Hal tersebut belum sesuai dengan target WHO yaitu

meningkatkan pemberian ASI eksklusif dalam 6 bulan pertama sampai

paling sedikit 50%. Ini merupakan target ke lima WHO di tahun 2025

(WHO, 2015).

Di Indonesia, bayi yang telah mendapatkan ASI eksklusif sampai usia

enam bulan adalah sebesar 29,5% (Kemenkes RI, 2017). Hal ini belum

sesuai dengan target Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-

2019 yaitu persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI

eksklusif sebesar 50%. Studi pendahuluan yang di lakukan peneliti di desa

Maneron, dari 10 ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan, hanya 3 orang

(30%) yang mendapatkan ASI ekslusif, sementara 7 orang (70%) tidak

mendapatkan ASI ekslusif.

Penyebab rendahnya pemberian asi ekslusif dipengaruhi oleh banyak

faktor diantaranya faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi

pengetahuan ibu, pendidikan ibu, ketersediaan waktu yang dimiliki oleh ibu

untuk memberikan asi ekslusif, serta kesehatan ibu. Faktor eksternal

meliputi pentingnya dukungan yang diberikan oleh suami dan keluarga,


3

dukungan yang diberikan oleh tenaga kesehatan khususnya bidan, besar

kecilnya pendapatan keluarga serta faktor sosial budaya.

Rendahnya pemberian ASI merupakan ancaman bagi tumbuh

kembang anak yang akan berpengaruh pada pertumbuhan dan

perkembangan kualitas sumber daya manusia secara umum (Rahman,

2017). Dampak pemberian ASI ekslusif yang rendah juga akan berpengaruh

pada kerentanan anak pada penyakit, sehingga anak seringkali mudah sakit,

jika anak tidak diberikan ASI maka orang tuapun akan memberikan anak

susu formula, dengan pemberian susu formula ini akan menambah biaya

pengeluaran keluarga, sehingga pengeluaran keluarga akan membengkak

(Seva, D,N, 2017).

Peran konselor tenaga kesehatan terutama bidan sebagai pemberi

dukungan dan motivator sangat penting dalam mempengaruhi pemberian

ASI yang adekuat. Tugas bidan sebagai promotor dalam pencapaian

pemberian ASI ekslusif hendaknya memberi dukungan dalam pemberian

ASI, menjelaskan manfaat pemberian ASI,tanda tanda bayi cukup ASI, ASI

ekslusif, inisiasi menyusui dini (IMD), cara menyusui yang benar dan

masalah dalam menyusui serta cara mengatasinya (Iswari I, 2018).

Dari latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk mengadakan

penelitian tentang sajakah determinan pemberian ASI ekslusif pada balita

stunting di desa Maneron, Kecamatan Sepuluh.


4

1.2 Identifikasi Penyebab Masalah

Faktor internal :
a. Pengetahuan
b. Pendidikan
c. Ketersediaan
waktu
d. Kesehatan ibu

Rendahnya pemberian ASI


ekslusif
Faktor eksternal :
a. Dukungan suami
dan keluarga
b. Dukungan tenaga
kesehatan
c. Pendapatan
keluarga
d. Sosial budaya

Gambar 1.1 Identifikasi penyebab masalah

Sumber : Astutik (2014), Haryono, dan Setianingsih (2014)

Berdasarkan beberapa faktor diatas, maka dibedakan menjadi 2 faktor

yang mempengaruhi keberhasilan ASI eksklusif diantaranya adalah :

1.2.1 Faktor internal

a. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil stimulasi informasi yang

diperhatikan dan diingat. Informasi tersebut bisa berasal dari

pendidikan formal maupun non formal, percakapan, membaca,

mendengarkan radio, menonton televisi, dan pengalaman hidup. Contoh

pengalaman hidup yaitu pengalaman menyusui anak sebelumnya

(Haryono, dan Setianingsih, 2014).


5

b. Pendidikan

Pendidikan mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif, ibu yang

berpendidikan tinggi akan lebih mudah menerima suatu ide baru

dibanding dengan ibu yang berpendidikan rendah. Sehingga promosi

dan informasi mengenai ASI eksklusif dengan mudah dapat diterima

dan dilaksanakan (Haryono, dan Setianingsih, 2014).

c. Ketersediaan waktu

Ketersediaan waktu seorang ibu untuk menyusui secara eksklusif

berkaitan erat dengan status pekerjaannya. Harus kembali bekerja

bukan merupakan alasan untuk tidak memberikan ASI secara eksklusif.

Bagi ibu-ibu yang bekerja, ASI bisa diperah setiap 3 sampai 4 jam

sekali untuk disimpan di dalam lemari pendingin (Haryono, dan

Setianingsih, 2014).

d. Kesehatan ibu

Ibu yang mempunyai penyakit menular, misalnya HIV/AIDS,

TBC, Hepatitis B atau penyakit pada payudara misalnya kanker

payudara dan kelainan puting susu sehingga tidak diperbolehkkan

bahkan tidak dapat menyusui bayinya (Haryono, dan Setianingsih,

2014)

1.2.2 Faktor eksternal

a. Dukungan Suami (Keluarga)

Dukungan dari keluarga termasuk suami, orang tua atau saudara

lainnya sangat menentukan keberhasilan menyusui. Karena pengaruh

keluarga berdampak pada kondisi emosi ibu sehingga secara tidak


6

langsung mempengaruhi produksi ASI. Seorang ibu yang mendapatkan

dukungan dari suami dan anggota keluarga lainnya akan meningkatkan

pemberian ASI kepada bayinya (Astutik, 2014).

b. Dukungan tenaga kesehatan

Petugas kesehatan yang profesional bisa menjadi faktor pendukung

ibu dalam memberikan ASI. Dukungan tenaga kesehatan kaitannya

dengan nasehat kepada ibu untuk memberikan ASI pada bayinya

menentukan keberlanjutan ibu dalam pemberian ASI (Haryono, dan

Setianingsih, 2014).

c. Pendapatan keluarga

Keluarga yang memiliki cukup pangan memungkinkan ibu untuk

memberikan ASI Eksklusif lebih tinggi dibandingkan keluarga yang

tidak memiliki cukup pangan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa

kondisi sosial ekonomi yang saling terkait yaitu pendapatan keluarga

memiliki hubungan dengan keputusan untuk memberikan ASI Eksklusif

bagi bayi (Astutik, 2014).

d. Sosial budaya

Adat budaya akan mempengaruhi dan menentukan ibu untuk

memberikan ASI secara eksklusif. Salah satu adat budaya yang masih

banyak dilakukan di masyarakat yaitu adat selapanan, dimana bayi

diberi sesuap bubur dengan alasan untuk melatih alat pencernaan bayi

(Astutik, 2014).
7

1.3 Batasan Masalah

Dilihat dari hasil identifikasi penyebab masalah maka penulisan

dibatasi pada masalah “determinan pemberian ASI ekslusif pada balita

stunting di desa Maneron, Kecamatan Sepuluh”.

1.4 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penenlitian ini adalah:

Apa sajakah determinan pemberian ASI ekslusif pada balita stunting di desa

Maneron, Kecamatan Sepuluh.

1.5 Tujuan Penelitian

1.5.1 Tujuan Umum

Menganalisa determinan pemberian ASI ekslusif pada balita

stunting di desa Maneron, Kecamatan Sepuluh.

1.5.2 Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang ASI ekslusif di di desa

Maneron, Kecamatan Sepuluh.

b. Mengidentifikasi pendidikan ibu di desa Maneron, Kecamatan

Sepuluh.

c. Mengidentifikasi status pekerjaan ibu di desa Maneron, Kecamatan

Sepuluh.

d. Mengidentifikasi dukungan suami dan keluarga di desa Maneron,

Kecamatan Sepuluh.

e. Mengidentifikasi sosial budaya di desa Maneron, Kecamatan

Sepuluh.
8

f. Menganalisa determinan pemberian ASI ekslusif pada balita stunting

di desa Maneron, Kecamatan Sepuluh.

1.6 Manfaat Penelitian

1.6.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya keilmuan dalam

bidang kesehatan mengenai faktor penyebab rendahnya pemberian ASI

ekslusif pada balita stunting.

1.6.2 Manfaat Praktis

a. Bagi Peneliti

Dapat menambah wawasan peneliti tentang hubungan tingkat

pengetahuan ibu, status pekerjaan ibu, dan dukungan keluarga dengan

pemberian ASI eksklusif dan menerapkan ilmu pengetahuan tentang

metodelogi penelitian.

b. Bagi institusi pendidikan

Dapat menambah informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan

masukan bagi akademik dalam pengembangan pembelajaran dan

bahan acuan untuk penelitian selanjutnya.

c. Bagi masyarakat

Dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang faktor

yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif serta dapat

meningkatkan pemberian ASI eksklusif.


9

1.7 Penelitian terdahulu

Penulis
Judul Variabel Desain
No. dan tahun Hasil
penelitian penelitian penelitian
penelitian
1. Hubungan Helmi Pengeahuan Cross Ada hubungan yang
pengetahu Safitri, dan sectional bermakna antara
an ibu 2017 pemberian pengetahuan ibu
tentang ASI ekslusif tentang ASI ekslusif
ASI dengan pemberian
ekslusif ASI ekslusif
dengan
pemberian
ASI
ekslusif
2. Asi Fariani ASI ekslusif Cross Risiko kejadian
eksklusif Hidayah, dan kejadian sectional stunting pada anak
sebagai 2013 stunting usia 6 – 24 bulan
faktor akan meningkat
risiko sebesar 74% pada
kejadian anak yang tidak
stunting mendapatkan ASI
pada anak eksklusif, tetapi
usia 6 – 24 risiko ini menjadi
bulan tidak bermakna
setelah dilakukan
kontrol terhadap
variabel usia anak,
berat bayi lahir,
tinggi badan ibu dan
status menyusui.