Anda di halaman 1dari 31

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Diabetes Mellitus

a. Definisi

Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen

yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau

hiperglikemia. Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah

tertentu dalam darah. Glukosa dibentuk di hati dan makanan yang

dikonsumsi. Insulin, yaitu suatu hormon yang diproduksi pancreas,

mengendalikan kadar glukosa dalam darah dengan mengatur produksi

dan penyimpanannya (Smeltzer, and Bare, 2013).

Diabetes militus (DM) adalah suatu penyakit kronik yang

kompleks yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein

dan lemak. Berkembangnya komplikasi makrovaskuler,mikrovaskuler

dan neurologis. Diabetes militus digolongkan sebagai penyakit

endrokrin atau hormonal karena gambaran produksi atau penggunaan

insulin (Nurrahmani, 2012).

b. Klasifikasi dan Etiologi

1) Diabetes tipe I

Pada diabetes tipe I terdapat ketidakmampuan untuk

menghasilkan insulin karena ses-sel beta pancreas telah dihancurkan

oleh pancreas autoimun. Hiperglikemia-puasa terjadi akibat produksi

5
6

glukosa yang tidak terukur oleh hati. Disamping itu glukosa yang

berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun

tetap berada dalam darah dan menimbulkan

hiperglikemia postpandrial (sesudah puasa) . Faktor-faktor penyebab

yang terjadi pada diabetes tipe I adalah inveksi virus atau reaksi

autoimun (rusaknya system kekebalan tubuh), yang merusak sel-sel

penghasil insulin yaitu sel-β pada pankreas, secara menyeluruh. Oleh

karena itu pada tipe ini, pankreas tidak dapat menghasilkan insulin.

Untuk bertahan hidup, insulin  harus diberikan dari luar dengan cara

disuntikkan (Kariadi, 2009).

2) Diabetes tipe II

Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang

berhubungan dengan insulin yaitu: resistensi insulin dan gangguan

sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor

khusus pada reseptor tersebut pada permukaan sel. Sebagian akibat

terikatnya insulin dengan reseptor tersebut. Terjadi suatu rangkaian

reaksi dalam metabolism glukosa di dalam sel. Reaksi insulin pada

diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini.Dengan

demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi

pengambilan glukosa oleh jaringan (Kariadi, 2009).

3) Diabetes dan kehamilan

Wanita yang sudah diketahui menderita diabetes sebelum

terjadinya pembuahan harus mendapatkan penyuluhan atau

konseling tentang penatalaksanaan diabetes selama


7

kehamilan.Pengendalian diabetes yang buruk (hiperglikemia) pada

saat pembuahan dapat disertai timbulnya marformasi kongenital.

Karena alasan inilah, wanita yang menderita diabetes harus

mengendalikan penyakitnya dengan baik sebelum konsepsi terjadi

dan sepanjang kehamilannya (Smeltzer, and Bare, 2013).

Diabetes yang tidak terkontrol pada saat melahirkan akan

disertai dengan peningkatan insidens makrosomia janin (bayi yang

sangat besar), persalinan dan kelahiran yang sulit, bedah sesar serta

kelahiran mati (still birth). Disamping itu bayi yang dilahirkan ibu

yang menderita hiperglikemia dapat mengalami hipoglikemia pada

saat lahir.Keadaan ini terjadi karena pancreas bayi yang normal telah

mensekresikan insulin untuk mengimbangi keadaan hiperglikemia

ibu (Smeltzer, , and Bare, 2013).

4) Diabetes gestasional

Terjadi pada wanita yang tidak menderita diabetes sebelum

kehamilannya.Hiperglikemia terjadi akibat sekresi hormon-hormon

plasenta. Semua wanita hamil harus menjalani sekrining pada usia

kehamilan 24 hingga 27 minggu untuk mendeteksi kemungkinan

diabetes. Walaupun begitu, banyak wanita yang mengalami diabetes

gestasional ternyata dikemudian hari akan menderita diabetes tipe II

(Smeltzer, , and Bare, 2013).

5) Diabetes tipe lain

Yang dimaksud diabetes tipe lain adalah diabetes yang tidak

termasuk tipe I atau tipe II yang disebabkan oleh kelainan tertentu.


8

Misalnya, diabetes yang timbul karena kenaikan hormone-hormon

yang kerjanya berlawanan dengan insulin atau hormon-hormon

kontra insulin. Misalnya diabetes yang muncul karena kelebihan

hormon tiroid (Kariadi, 2009).

   Menurut Long (2006) menyebutkan bahwa klasifikasi diabetes

mellitus yaitu:

1) Insulin Dependant Diabetes Mellitus (IDDM)

Defisiensi insulin karena tidak terdapatnya sel-sel langhans

biasanya berhubungan dengan tipe HLA spesifik, predisposisi pada

insulitis fenomena otoimun, cenderung ketosis,terjadi pada semua

usia, umumnya usia muda. Karakteristik IDDM yaitu adanya

kebutuhan akan terapi insulin untuk mempertahankan hidup. Karena

ketergantungan yang sepenuhnya pada insulin eksogen, penderita

IDDM cenderung memiliki keadaan intoleransi glukosa yang lebih

berat dan tidak stabil.Selain itu, mereka cenderung mengalami

komplikasi metabolic akut yang berupa ketosis dan ketoasidosis.

Pada diabetes mellitus tipe I ini terjadi kerusakan sel-sel beta

pangkreas yang diperkirakan terjadi akibat kombinasi faktor genetik,

imunologi dan mungkin juga karena infeksi. Sebagian besar diabetes

mellitus tipe I terjadi sebelum usia 30 tahun, tetapi bisa pula terjadi

pada semua usia. Faktor lingkungan seperti infeksi virus atau faktor

gizi pada  masa kanak-kanak atau dewasa awal menyebabkan sistem

kekebalan menghancurkan sel penghasil insulin.


9

2) Non Insulin Dependant Diabetes Mellitus (NIDDM)

Ketosis resisten, lebih sering pada dewasa,tapi dapat terjadi pada

semua umur, kebanyakan penderita kelebihan berat badan, ada

kecenderungan familial. Mungkin perlu insulin pada saat

hiperglikemik selama stress. NIDDM dapat berhubungan dengan

tingginya kadar insulin yang beredar namun memiliki reseptor

insulin dan postreseptor yang tidak efektif.

2. Luka ganggren (ulcus diabetik)

a. Definisi

Luka gangren adalah luka yang dialami oleh penderita diabetes

pada area kaki dengan kondisi luka mulai dari luka superficial, nekrosis

kulit, sampai luka dengan ketebalan penuh (full thickness), yang dapat

meluas kejaringan lain seperti tendon, tulang dan persendian, jika ulkus

dibiarkan tanpa penatalaksanaan yang baik akan mengakibatkan infeksi

atau gangren.

b. Klasifikasi luka ganggren

1) Ganggren circulatoir.

Tipe ganggren :

a) Ganggren kering.

Penyumbatan arteria terjadi secara perlahan-lahan, mula-

mula terlihat anemis lambat laun akan terjadi mummifikasi.

Akhirnya ekstremitas akan susut, layu, berwarna hitam. Jika

permukaan kulit tidak rusak, biasanya tidak akan kena infeksi.


10

Bentuknya khas dan merupakan akibat penutupan arteria yang

perlaha-lahan tetapi progresif.

b) Ganggren basah.

Merupakan akibat penutupan arteri yang mendadak

terutama pada anggota bawah dimana aliran darah sebelumnya

mencukupi, misalnya terjadi emboli yang akut. Daerah yang

terkena berbercak-bercak dan bengkak. Kulit kerapkali menjadi

melepuh dan menjadi port d’ entre, infeksi kerapkali terjadi

supra infeksi, bisa terjadi melalui daerah yang baru saja

mengalami epidermophyyosis. Sifat khas pada ganggren basah

sebagian disebabkan oleh infeksi sehingga terdapat beberapa

tingkatan infeksi kemerahan, pembengkakan dan edema yang

progresif di atas daerah yang terkena pada jaringan yang

nekrotik oleh karena pembentukkan gas oleh mikroorganisme

meskipun bukan merupakan faktor utama.

2) Ganggren traumatik.

Adalah destruksi jaringan yang disebabkan oleh kontusi

langsung dengan kerusakan pembuluh darah lokal daripada trauma

yang mengenai vasa utama ke ekstremitas. Pada beberapa perlukaan

komplikasi berupa spasme arteri atau oklusi vena, super infeksi

dapat mengakibatkankehilangan ekstremitas, tapi dapat diselamatkan

bila infeksi dapat dicegah. Beberapa kasus ganggren traumatik dapat

mengalami komplikasi ganggren iskemik karena terkenanya arteri

yang besar sehingga diperlukan perbaikan arteri atau amputasi.


11

3) Ganggren bakterial.

Adalah nekrose jaringan akibat bakteri didahului oleh beberapa

derajat ganggren iskemik initial yang mengakibatkan terjadinya

jaringan nekrotik yang penting bagi bakteri untuk tumbuh dengan

cepat.Ada 2 bentuk berlainan dari ganggren bakterial yaitu :

a) Infeksi Clostridium Anaerob dan Ganggren.

b) Harus ditekankan penemuan organisme penghasil spora yang

anaerob termasuk Clostridium Perfringens pada luka tidak ada.

Gambaran klasik infeksi clotridia :

(1) Diffuse Clostridial Myositis (gas ganggren)

(a) Bentuk letal dan fulminan timbul dalam beberapa jam

atau hari setelah terjadi luka. Jika debridement tidak

memadai dapat timbul dalam hari ke – 10 atau ke – 13,

bisa juga terjadi kerusakan arteriil yang tidak diketahui

terutama jika luka dibungkus dengan plester yang

ditekan kuat.

(b) Keadaan umum penderita mendadak berubah dan

merupakan pertanda akan adanya serangan gas ganggren.

(c) Penderita pucat.

(d) Kebiru-biruan.

(e) Gelisah.

(f) Merasa sangat nyeri pada anggota yang terkena.

(g) Temperatur naik ( sub normal).


12

(h) Pada stadium permulaan nadi dan TD tidak

mencerminkan beratnya penyakit tetapi kemudian terjadi

takikardi dan hipertensi, kolaps, sianosis dan dingin pada

ekstremitas. Muka asianotik atau menjadi coklat, pucat

karena hemolisa yang hebat.

(i) Perubahan pada ekstremitas yang bersangkutan adalah

khas, sangat bengkak, edema, berubah warna, mula-mula

berwarna biru atau berbercak kemerahan, pucat seperti

kadaver, bau seperti bau kamar mayat.

(j) Sering merembes sedikit discharge, serosanguineus yang

cair, krepitasi jaringan meluas keseluruh anggota badan

dan merupakan suatu tanda klasik adanya gas dalam

jaringan.

(k) Kerusakan otot yang luas dan kerusakan pembuluh darah

besar, sifat luka mengenai penyediaan darah yang

bersangkutan, toxaemia beratt, pembengkakan yang luas

ditungkai dan perkembangan cepat penyakit tersebut.

(2) Edematus Ganggren

Disebabkan oleh clostridium novyi, tidak dihasilkan

gas tetapi terjadi odem otot yang masif tanpa kerusakan

vaskular primer. Perjalanan penyakit fulminans dan terapi

yang efektif yaitu debridement yang awal dan luas.


13

(3) Localized Clostridium Myositis

Luka yang pertama biasanya terbatas, kerusakan otot

ringan dan terjadi hanya pada sebagian kecil otot dan tidak

terjadi kerusakan pada arteri besar. Didapatkan discharge

serosanguinis cair pada luka. Pada tepi luka terdapat edema,

nyeri tekan, warna kemerahan, pada palpasi sering adanya

krepitasi yang luas sedikit jauh dari luka, kadang-kadang

demam tinggi dan takikardi, penyediaan darah ke

ekstremitas tetap utuh. Daerah tungkai disebelah distal

injeksi tetap hangat dan pulsus perifer tetap normal.

Keadaan ini dapat ditolong dengan eksisi terhadap berkas-

berkas otot yang terkena infeksi dan nekrose.

(4) Clostridial Cellulitis

Suatu infeksi anaerob dijaringan subkutan yang terus

mengadakan perluasan. Pada kasus yang lanjut terjadi edematus,

bengkak dan pucat, warna kulit berubah, nekrotik, krepitasi

terdapat diseluruh ektremitas.

Clostridium Cellulitis merupakan suatu proses yang berkembang

agak lambat, tampak 10 hari atau lebih setelah terjadi luka. Luka

pertama tidak disertai perlukaan muskulus yang luas. Luka

biasanya dipermukaan dan tidak ada kerusakan pembuluh darah

besar.

Pada pemeriksaan menunjukkan adanya sirkulasi yang

sempurna pada ekstremitas. Penyembuhan akan segera terjadi


14

setelah dilakukan drainase dan eksisi jaringan nekrotik

Hiperbarik terapi adalah baik untuk semua infeksi anaerob tetapi

tidak dapat untuk menggantikan debridement yang awal dan

luas terhadap jaringan yang terkena. O2 dapat menghambat

pembentukkan lecithinase oleh clostridia tetapi tidak berefek

terhadap toksin, dapat pula menghambat bakteriaemi tapi juga

tidak berefek terhadap organisme dalam otot yang nekrose dan

abses. Penicillin dosis tinggi untuk menghambat pertumbuhan

organisme lain.

c) Infeksi Streptococcus dan Ganggren.

Dikenal dengan istilah necrotizing erysipelas. Dengan adanya

antibiotoka. Lesi ini jarang diketemukan lagi. Lesi ini dapat

berhubungan dengan infeksi streptococcus yang sekunder

terhadap ulcerasi lokal akibat epidermophytosis. Gambaran

pokok adalah cellulitas yang menyebar dilapisan fasela dan

bukan pada kulit sendiri. Dapat disertai dengan kelemahan

umum yang hebat. Kulit pada ekstremitas terkena menunjukkan

warna suram dan akhirnya bergelembung-gelembung dan terjadi

nekrose.

b.Infeksi Streptococcus dan Ganggren.

Dikenal dengan istilah necrotizing erysipelas. Dengan

adanya antibiotoka. Lesi ini jarang diketemukan lagi. Lesi


15

ini dapat berhubungan dengan infeksi streptococcus yang

sekunder terhadap ulcerasi lokal akibat epidermophytosis.

Gambaran pokok adalah cellulitas yang menyebar dilapisan

fasela dan bukan pada kulit sendiri. Dapat disertai dengan

kelemahan umum yang hebat. Kulit pada ekstremitas

terkena menunjukkan warna suram dan akhirnya

bergelembung-gelembung dan terjadi nekrose.

c.Mycetoma ( Madura Foot )

Adalah lesi karena jamur yang jarang ini supaya

dipertimbangkan kemungkinannya apabila didapati suatu

lesi yang destruktif dengan perkembangan yang lambat dan

tidak nyeri. Terjadi sesudah adanya trauma ringan, seperti

menginjak duri. Mycetoma disebabkan oleh fungus

spesifik, madurella mycetomi, dan disebabkan oleh fungus

lain seperti jenis actinomyces.

Lesi ini dimulai sebagai pembengkakan tanpa rasa nyeri

dengan daerah undurasi lebih dalam dibawahnya.

Perjalanan penyakitnya tidak dapat dihentikan. Kemudian

terjadi destruksi yang progresif pada jaringan lunak dan

tulang, pembengkakan setempat dan tampak ulserasi kecil

dan sinus-sinus., oleh karena rasa nyeri yang minimal,

maka penderita biasanya tetap mampu berdiri meskipun

telah terjadi destruksi kaki sebagian ataupun total.


16

Penyembuhan penyakit ini cukup dengan tindakan excici,

karena sifat perkembangan penyakit itu hanya setempat.

c.

Menurut Putri, R. H, (2016), luka dapat digambarkan sebagai

gangguan dalam kontinuitas sel-sel kemudian diikuti dengan

penyembuhan luka yang merupakan pemulihan kontinuitas tersebut,

luka dapat diklasifikasikan kedalam dua cara : sesuai dengan

mekanisme cedera dan tingkat kontaminasi .

1) Mekanisme Cedera

Luka dapat digambarkan sebagai  :

a) Luka Insisi

Luka insisi dibuat dengan dengan potongan bersih dengan

menggunakan instrument tajam,sebagai contoh luka yang

dibuat  oleh para ahli bedah dalam setiap prosedur operasi.

Luka bersih biasanya ditutup dengan jahitan setelah semua

pembuluh yang berdarah diligasi dengan cermat.

b) Luka Kontusi

Dibuat dengan dorongan tumpul dan ditandai dengan

cedera berat bagian yang lunak, hemoragi dan pembengkakan.

c) Luka Laserasi

Adalah luka dengan tepi yang bergerigi ,tidak teratur,

seperti luka yang dibuat oleh kaca atau goresan kawat.


17

d) Luka Tusuk

Diakibatkan oleh bukaan kecil pada kulit sebagai

contoh,luka yang dibuat oleh peluru atau tusukan pisau.

2) Tingkat Kontaminasi

Luka dapat digambarkan dengan  :

a) Luka Bersih

Adalah luka bersih tidak terinfeksi dimana tidak terdapat

inflamasi dan saluran pernapasan,pencernaan atau saluran

kemih yang tidak terinfeksi.luka bersih biasanya dijahit

tertutup.

b) Luka Kontaminasi Bersih

Adalah luka  bedah di mana saluran pernafasan,

pencernaan atau perkemihan dimasuki dibawah kondisi yang

terkontrol, tidak terdapat kontaminasi yang tidak lazim.

c) Luka Terkontaminasi

Mencakup luka terbuka, baru, luka akibat kecelakaan dan

prosedur  bedah dengan pelanggaran dalam tekhnik aseptik

atau semburan banyak dari saluran gastrointestinal.

d) Luka Kotor atau Terinfeksi

Adalah luka dimana organisme  yang menyebabkan infeksi

pasca operatif terdapat  dalam lapang operatif sebelum

pembedahan.
18

d. Fisiologi Penyembuhan Luka

Menurut Pamungkas, R (2015) fisiologi penyembuhan luka meliputi:

1) Fase Inflamasi

Respon veskular dan selular  terjadi ketika jaringan terpotong

atau mengalami cidera.vasokonstrksi pembuluh terjadi dan bekuan

fibrinoplatelet terbentuk dalam upaya untuk mengontrol perdarahan

.reaksi ini berlangsung dari 5 menit sampai 10 menit dan diikuti

oleh vasodilatasi venula.

2) Fase Proliferatif

Fibroblast memperbnyak diri dan membentuk jaringan –

jaringan untuk sel-sel yang bermigrasi. Sel-sel epitel membentuk

kuncup pada pinggirin luka kuncup ini berkembang menjadi

kapiler,yang merupakan sumber nutrisibagi jaringan granulasi yang

baru.

3) Fase Maturasi

Sekitar 3 minggu setelah cidera, fibroblast mulai

meninggalkan luka, jaringan parut tampak besar, sampai fibril

kolagen menyusun kedalam posisi yang lebih padat. Hal ini sejalan

dengan dehidrasi mengurangi jaringan parut tetapi meninggalkan

kekuatan nya.

e. Bentuk –bentuk Penyembuhan Luka

Menurut Sinaga, Mediana & Tarigan, R. (2012), dalam

penatalaksanaan penyembuhan luka, luka digambarkan sebagai :

1) Penyembuhan Melalui Intense Pertama (penyatuan primer)


19

Luka dibuat secara aseptik,dengan pengerusakan jaringan

minimum,dan penutupan dengan baik seperti dengan  suture,

sembuh dengan sedikit reaksi jaringan melalui intense pertama.

2) Penyembuhan Melalui Intense Kedua (Granulasi)

Pada luka dimana terjadi pembentukan pus (supurasi) atau

dimana tepi luka tidak saling merapat, proses perbaikannya kurang

sederhana dan membutuhkan waktu yang lama.

3) Penyembuhan Melalui Intense Ketiga (suture sekunder)

Jika luka dalam baik yang belum disuture atau terlepas dan

kemudian disuture kembali nantinya, dua permukaan granulasi

yang berlawanan disambungkan.

f. Penatalaksanaan Penyembuhan Luka

Menurut Sinaga, Mediana & Tarigan, R. (2012), sejalan dengan

luka melalui fase-fase penyembuhan,banyak elemen seperti nutrisi yang

adekuat,kebersihan,dan posisi menentukan seberapa cepat proses

penyembuhan terjadi.Faktor-faktor ini dipengaruhi oleh intervensi

keperawatan.

1) Nutrisi

Kadar serum albumin rendah akan menurunkan defusi

(penyebaran) dan membatasi kemampuan netrofil untuk membunuh

bakteri. Oksigen rendah pada tingkat kapiler membatasi profilerasi

jaringan granulasi yang sehat. Defisiensi zat besi dapat

melambatkan kecepatan epitelisasi dan menurunkan kekuatan luka


20

dan kalogen. Jumlah vitamin A dan C zat besi dan tembaga yang

memadai diperlukan untuk pembentukan kalogen yang efektif.

Sintesis kalogen juga tergantung pada asupan protein, karbohidrat,

dan lemak yang tepat. Penyembuhan luka membutuhkan dua kali

lipat kebutuhan protein dan karbohidrat dari biasanya dari segala

usia. Malnutrisi menyebabkan terhambatnya proses penyembuhan

luka dan meningkatkan terjadinya infeksi. Hal ini dapat timbul

karena kurangnya intake nutrisi (misalnya sindrom malabsorpsi).

2) Kebersihan diri/personal hygiene

Kebersihan diri seseorang akan mempengaruhi kebersihan

luka, karena kuman setiap saat dapat masuk melalui luka jika

kebersihan diri kurang.Adanya benda asing, kotoran atau jaringan

nekrotik (jaringan mati) pada luka dapat menghambat

penyembuhan luka, sehingga luka harus dibersihkan atau dicuci

dengan air bersih/Nacl 0,9% dan jaringan nekrotik pada luka

dihilangkan dengan tindakan yang disebut debrideman

(debridement).

3) Posisi

Yang dapat mempercepat proses penyembuhan luka,

vaskularisasi yang baik dapat mempercepat proses penyembuhan

luka, sementara daerah yang memiliki vaskularisasi kurang baik

proses penyembuhan luka akan membutuhkan waktu yang lama.

Luka yang terdapat didaerah yang relative sering bergerak proses

penyembuhan lukanya akan terjadi lebih lama. Pada daerah yang


21

tight (tegang) penyembuhan luka akan lebih lama disbanding

daerah yang loose.

4) Usia

Meningkatnya usia secara biologi akan mempengaruhi fungsi

tubuh seseorang. Proses penyembuhan pada usia tua terhambat

karena terjadinya penyakit misalnya artritis atau keganasan dan

pemakaian terapi obat-obatan. Menurunnya aktifitas dan sumber

keuangan akan menyebabkan menurunnya status nutrisi.

5) Gangguan sensasi dan gerakan

Gangguan aliran darah yang disebabkan oleh tekanan dan

gesekan benda asing pada pembuluh darah kapiler dapat

menyebkan jaringan mati pada tingkat lokal. Gerakan atau

mobilisasi diperlukan untuk membantu sirkulasi khususnya

pembuluh darah balik (vena) pada ekstermitas bawah.

g. Komplikasi Luka

Menurut Sinaga, Mediana & Tarigan, R. (2012), komplikasi luka

meliputi :

1) Hematoma (hemarogi)

Balutan diinspeksikan terhadap hemarogi pada interval yang

sering selama 24 jam setelah pembedahan. Hemoragi ini biasanya

berhenti secara spontan tetapi mengakibatkan pembekuan didalam

luka.

2) Infeksi (sepsis luka)


22

Infeksi luka bedah adalah infeksi nosokomial kedua terbanyak

dirumah sakit selainitu,kebersihan dan disenfeksikan lingkungan

juga penting.

3) Dehisens dan Eviserasi

Komplikasi ini terjadi akibat jahitan terlepas,infeksi dan yang

lebih sering lagi setelah batuk yang kuat atau mengejang.

3. Perawatan Luka Modern

a. Konsep Modern Dressing atau Metode Moisture Balance

Menurut Utomo, A. K. (2015), beberapa macam modern

dreassing yaitu :

1) Dressing berdasarkan evidence based

Dressing yang ideal adalah : mempertahankan lingkungan

lembab pada luka, menyerap eksudat, mengangkat jaringan

mati. Keajaiban moist dressing: absorbent, moisture balance,

debridement, pain control, cost effective. Ada 5 konsep kerja

moist dressing: pembalut luka memberikan kelembaban (wound

hydration dressing) contoh : hydrogel, pembalut luka menjaga

kelembaban (moist retentive dressing) contoh : hydrocolloid

(pasta sheat dan powder), pembalut luka penyerap cairan

(exudate management dressing ). Contoh : hydrofiber (aquacel ,

caltostat, aginate dan foam), Pembalut luka sebagai proses

debridement (debridement wound). Contoh : hydrogel ,trans-

parans film,ekstrak nanas, Pembalut luka sebagai anti


23

mikroba/bakteri. Contoh: supratulle, siver dressing, cutisorb

sorbact, curasalt, anticoat, indosorb

2) Macam produk moist dressing

a) Memberikan kelembaban

(1) Hydrogel

Berbahan dasar gliserin atau air yang di produksi

untuk memberikan kelembaban pada luka. Saat tersedia

dalam bentuk amorphous gel,sheet (lembaran ) dan

impregnated dressing. Contoh :duoderm gel,intraset

gel,suprasorb G. Kelebihan yang dimiliki dressing ini:

memberikan kelembaban, membantu proses autolitik

debridement, mengurangi nyeri, bisa mengisi rongga

dan mudah di bersihkan, bisa mnyerap sedikit eksudat.

Kekurangan dressing ini: memerlukan balutan

sekunder, bisa menyebabkan maserasi di kulit sekitar

luka, dalam bentuk amorphous gel tidak bisa digunakan

untuk mengatasi sinus.

b) Mempertahankan kelembaban

(1) Semi fermiabel film dressing (film)

Terbuat dari polyurethane film yang tipis, melekat

pada kulit dan bisa digunakan sebagai balutan sekunder

ataupun primer. Contoh : opsite,tegaderm,derma film,

suprasob f, leukomed T. Kelebihan yang dimiliki

dressing jenis ini : permiabel untuk gas, memungkinkan


24

terjadi nya penguapan, impermiabel terhadap cairan

dan bakteri, memudahkan melihat kondisi di balik film.

Kekurangan yang dimiliki dressing jenis ini : tidak

menyerap eksudat, tidak sesuai untuk luka dengan

eksudat sedang atau banyak, bila tidak hati-hati dalam

melepas dapat terjadi trauma jaringan

(2) Hydrocoloid

Bahan utama hydrocoloid adalah carboxy

methylcelulose yang bersifat lentur lengket danbisa

berubah kenjadi gel. Indikasi penggunaannya adalah

untuk mempertahankan kelembaban luka. Hydrocolloid

tersedia dalam bentuk sheet, pasta, dan powder

(contoh : suprasorb, duaderm, CGH duederm extra thin,

duederem pasta dll).

Kelebihan yang dimiliki dressing jenis ini :

mempertahankan kelembaban luka, menyerap exudat

dari tingkat minimal sampai sedang,tidak tembus air,

mudah mengikuti kontur tubuh atau luka, mengurangi

nyeri, bisa berfungsi efektif selama 5-7 hari tergantung

pada jumlah eksudat, bisa mengisi rongga luka.

Kekurangan yang dimiliki decreeing ini : tidak bisa

digunakan pada luka infeksi terutama pada jenis bakteri

anaerob, bila menempel pada kulit yang rapuh bia

menumbulkan kerusakan, tepi dressing mudah


25

menggulung (untuk jenis sheet), pada saat pelepasan

bisa tercium bau yang sedikit menyengat.

c) Menyerap cairan (absorben)

(1) Foam

Berbahan polyurethane foam yaitu sel-sel foam

yang terbuka hingga mampu menyerap eksudat dan

menahannya dengan baik tersedia dalam betuk sheet

dan pengisi rongga (filter). Indikasi pengguanaannya

adalah luka dengan  eksudat yang berlebihan contoh:

allevyn non adhesive, allevyn plus, suprasorb PU dll.

Kelebihan yang dimiliki dressing jenis ini : tidak

lengket, menyerap eksudat dengan kapasitas banyak,

tahan air, membantu membentuk lingkungan luka yang

lembab, tidak tembus bakteri.

Kekurangan yang di miliki dressing jenis ini :

lingkungan lembab yang dibentuk oleh foam yang tidak

cukup membantu proses autolysis, sering memerlukam

balutan sekunder, terutama jenis filler.

(2) Calsiun alginate

Terbuat dari polisakarida alami yang bersal dari

rumput laut.memiliki efek hemostasis sehingga mampu

menghentikan perdarahan minor,tidak lengket pada

permukaan luka,menyerap eksudat dan perubahan

menjadi gel kontak dengan jaringan tubuh.tersedia


26

dalam bentuk sheet dan robe. Contoh : kaltostat,

sorbsan, curasorb, comfeel plus, dll. Inidkasinya untuk

luka yang mudah berdarah dan bereksudat.

Kelebihan dreesing ini : membentuk lingkungan

lebab pada luka, menyerap eksudat, mengurangi

nyeri,melembabkan syaraf – syaraf tepi, jarang sekali

menyebabkan alergi, digunkan untuk mengisi rongga

sinus, berefek hemostatis mudah dibersihkan.

Kekurangan dressing ini : memerlukan balutan

sekunder, gel yang terbentuk sering di anggap sebagai

pus atau slough.

(3) Hidrofiber

Terbuat dari serat carboxymethylcellulose yang

mampu menyerap banyak eksudat dan berubah menjadi

gel sehingga tidak menimbulkan trauma jaringan saat

penggantian balutan contoh : aquacel.

Kelebihan dressing ini : mempertahankan

lingkungan lembab pada luka, menahan cairan di dalam

dressing sehingga tidak menimbulkan maserasi, bisa

digunakan pada luka infeksi, lebih menyerap di banding

alginate, tidak terjadi trauma jaringan pada saat

pelepasan, bisa bertahan diluka sampai 7 hari

(tergantung banyaknya eksudat).


27

Kekurangan dressing ini: memerlukan balutan

sekunder, sering menimbulkan keracunan dengan

pus/slogh bisa sudah bercampur dengan eksudat.

d) Proses debridement

(1) Hydrogel

Berbahan dasar gliserin atau air yang di produksi

untuk memberikan kelembaban pada luka.saat tersedia

dalam bentuk amorphous gel, sheet (lembaran) dan

impregnated dressing.contoh :duoderm gel,intraset

gel,suprasorb G

Kelebihan yang dimiliki dressig ini: memberikan

kelembaban, membantu proses autolitik debridement,

mengurangi nyeri, bisa mengisi rongga dan mudah di

bersihkan, bisa mnyerap sedikit eksudat.

Kekurangan dressing ini: memerlukan balutan

sekunder, bisa meneyebabkan maserasi di kulit sekitar

luka, dalam bentuk amorphous gel tidak bisa digunakan

untuk mengatsi sinus

(2) Semi fermiabel film dressing (film)

Terbuat dari polyurethane film yang tipis, melekat

pada kulit dan bisa digunakan sebagai balutan sekunder

ataupun primer.contoh : opsite,tegaderm,derma

film,suprasob f,leukomed T.
28

Kelebihan yang dimiliki dressing jenis ini :

permiabel untuk gas, memungkinkan terjadi nya

penguapan, impermiabel terhadap cairan dan bakteri,

memudahkan melihat kondisi di balik film.

Kekurangan yang dimiliki dressing jenis ini : tidak

menyerap eksudat, tidak sesuai untuk luka dengan

eksudat sedang atau banyak, bila tidak hati-hati dalam

melepas dapat terjadi trauma jaringan.

e) Anti mikroba/kuman/ bakteri

(1) Tulle gras

Berbahan katun atau rayon yang diisi dengan

paraffin lembut. Beberapa tipe tulle gras, selain di

isi paraffin juga di isi dengan anti septic dan anti

biotic.digunakan secara luas untuk luka-luka

superficial akut . contoh : bactigrass, supratule,

daryatule.

Kelebihan dressing ini : memberikan

kelembaban pada luka, paraffin yang ada

mengurangi pelengketan pada luka.

Kekurangan dressing ini: tidak menyerap

eksudat, memerlukan balutan sekunder, jaringan

granulasi bisa masuk ke jaringan –jaringan, dressing

dengan isi antiseptic atau antibiotic tidak lagi di


29

rekomendasikan karena masalah sensivitas dan

resistensi pada bakteri.

(2) Antimikroba dressing

Penggunaan  antibiotic yang berlebihan menjadi

“pisau bermata dua” bagi pengguanaan

nya.kecenderungan resistensi bakteri terhadap

antibiotic sangat meresahkan para professional

dibandingkan kesehatan yang berkembang  pesat

telah mengemukakan dressing anti mikroba dengan

system slow release

(3) Silver

Silver sudah digunakan sejak lama dalam

perawatan luka karena kemampuannya untuk

membunuh kuman.silver yang di lepas ke area yang

lembab bisa meningkatkan kecepatan reepithelisasi

sekitar 40 % di banding dengan antibiotic

.penggunaan silver dressing di batasi 2-4 minggu

contoh : aquasel silver, anticoat.

(4) Cadexomer iodine

Mengandung 0,9 % iodine dan beraksi slow

release (lepas pelan – pelan) di dalam luka

kandungan cadexomer di dalamnya membuat

cadexoder iodine bisa menyerap ekudat dan di saat

bersamaan melepas iodine sedikit demi sedikit


30

secara perlajhan lahan. Aplikasi maksimum di suatu

waktu adalah 50 mg dan tidak lebih dari 150 mg

dalam 1 minggu contoh : iodosorb.

(5) Hypertonic saline impregnated

Kasa yang diisi dengan saline hypertonis dalam

bentuk kering (Kristal) atau basah (cairan).cairan

hipertonis ini membuat dressing bisa di bersihkan

luka melalui aksi osmotic dengan cara membuang

jaringan nekrotik dan eksudat purulen. Indikasi

penggunaaannya untuk luka-luka nekrotik yang

lembab, bereksudat banyak serta luka terinfeksi .

contoh : curasalt.

Kelebihan : agresif debridement (support

autolysis), mengurangi bau, mempertahankan

kelembaban luka, menyerap eksudat, dilaporkan

efektif untuk mengurangi jaringan hiper granulasi

Kekurangan : bisa menyebabkan rasa tidak

nyaman(perih), memerlukan pergantian yang lebih

sering, memerlukan dressing sekunder, tidak

direkomendasikan untuk luka yang mudah berdarah

(6) Hydrofobik

Terbuat dari katun yang dilapisi bahan aktif

dialkycar-bamoilcloride yang bersifat hydrophobic

kuat.sifat ini sama dengan karakteristik bakteri


31

sehingga mereka saling berikatan secara fisika dan

dengan pergantian dressing bakteri yang ada di

permukaan luka jhuga akan terangkat .dressing ini

di gunakan pada luka bersih terkontainasi atau luka

terinfeksi dengan eksudat contoh : cutisorb sorbact

b. Balutan modern

Kemajuan ilmu pengetahuan dalam perawatan luka telah

mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini tidak terlepas

dari dukungan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perkembangan ilmu tersebut dapat dilihat dari banyaknya inovasi

terbaru dalam perkembangan produk bahan pembalut luka modern.

Bahan pembalut luka modern adalah produk pembalut hasil teknologi

tinggi yang mampu mengontrol kelembapan disekitar luka. Bahan

balutan luka modern ini di disesuaikan dengan jenis luka dan eksudat

yang menyertainya (Pamungkas, R. 2015).

Menurut Utomo, A. K. (2015), jenis-jenis balutan luka yang

mampu mempertahankan kelembaban antara lain:

1) Alginat

Alginat banyak terkandung dalam rumput laut cokelat dan

kualitasnya bervariasi.Polisakarida ini digunakan untuk bahan

regenerasi pembuluh darah, kulit, tulang rawan, ikatan sendi dan

sebagainya. Apabila pembalut luka dari alginat kontak dengan

luka, maka akan terjadi infeksi dengan eksudat, menghasilkan

suatu jel natrium alginat. Jel ini bersifat hidrofilik, dapat ditembus
32

oleh oksigen tapi tidak oleh bakteri dan dapat mempercepat

pertumbuhan jaringan baru.Selain itu bahan yang berasal dari

alginat memiliki daya absorpsitinggi, dapat menutup luka,

menjaga keseimbangan lembab disekitar luka, mudah digunakan

bersifat elastis.antibakteri, dan nontoksik.

Alginat adalah balutan primer dan membutuhkan balutan

sekunder seperti film semipermiabel, foam sebagai penutup. Hal

ini disebabkan karena balutan ini menyerap eksudat, memberi

kelembaban, dan melindungi kulit di sekitarnya agar tidak mudah

rusak. Untuk memperoleh hasil yang optimal balutan ini harus

diganti sekali sehari. Balutan ini dindikasi untuk luka superfisial

dengan eksudat sedang sampai banyak dan untuk luka dalam

dengan eksudat sedang sampai banyak sedangkan

kontraindikasinya adalah tidak dinjurkan untuk membalut luka

pada luka bakar derajat III.

2) Hidrogel

Hidrogel tersedia dalam bentuk lembaran (seperti serat kasa,

atau jel) yang tidak berperekat yang mengandung polimer hidrofil

berikatan silang yang dapat menyerap air dalam volume yang

cukup besar tanpa merusak kekompakkan atau struktur bahan. Jel

akan memberi rasa sejuk dan dingin pada luka, yang akan

meningkatkan rasa nyaman pasien. Jel diletakkan langsung diatas

permukaan luka, dan biasanya dibalut dengan balutan sekunder

(foam atau kasa) untuk menyerap eksudat, memberi kelembaban,


33

dan melindungi kulit di sekitarnya agar tidak mudah rusak.Untuk

memperoleh hasil yang optimal balutan ini harus diganti sekali

sehari.Balutan ini dindikasiuntuk luka superfisial dengan eksudat

sedang sampai banyak dan untuk luka dalam dengan eksudat

sedang sampaibanyak sedangkan kontraindikasinya adalah tidak

dinjurkan untuk membalut luka pada luka bakar derajat III.

3) Foam Silikon Lunak

Balutan jenis ini menggunakan bahan silikon yang

direkatkan, pada permukaan yang kontak dengan luka. Silikon

membantu mencegah balutan foam melekat pada permukaan luka

atau sekitar kulit pada pinggir luka. Hasilnya menghindarkan luka

dari trauma akibat balutan saat mengganti balutan,dan membantu

proses penyembuhan. Balutan luka silikon lunak ini dirancang

untuk luka dengan drainase dan luas.

4) Hidrokoloid

Balutan hidrokoloid bersifat”water-loving”dirancang elastis

dan merekat yang mengandung jell seperti pektin atau gelatindan

bahan-bahan absorben atau penyerap lainnya. Balutan hidrokoloid

bersifat semipermiabel, semipoliuretan padat mengandung

partikel hidroaktif yang akan mengembang atau membentuk jel

karena menyerap cairan luka. Bila dikenakan pada luka, drainase

dari luka berinteraksi dengan komponen-komponen dari balutan

untuk membentuk seperti jel yang menciptakan lingkungan yang

lembab yang dapat merangsang pertumbuhan jaringan sel untuk


34

penyembuhan luka. Balutan hidrokoloid ada Hasilnya

menghindarkan luka dari trauma akibat balutan saat mengganti

balutan, dan membantu proses penyembuhan. Balutan luka

silikon lunak ini dirancang untuk luka dengan drainase dan

luas.Balutan jenis ini biasanya diganti satu kali selama 5-7 hari,

tergantung pada metode aplikasinya, lokasi luka, derajat paparan

kerutan-kerutan dan potongan-potongan, dan inkontinensia.

Balutan ini diindikasi kan pada luka pada kaki, luka bernanah,

sedangkan kontraindikasi balutan ini adalah tidak digunakan pada

luka yang terinfeksi.

5) Hidrofiber

Hidrofiber merupakan balutan yang sangat lunak dan bukan

tenunan atau balutanpita yang terbuat dari serat sodium

carboxymethylcellusole, beberapabahan penyerap sama dengan

yang digunakan pada balutan hidrokoloid. Komponen-komponen

balutan akan berinteraksi dengan drainase dari luka untuk

membentuk jel yang lunak yang sangat mudah dieliminasi dari

permukaan luka. Hidrofiber digunakan pada luka dengan drainase

yang sedang atau banyak, dan luka yang dalam dan membutuhkan

balutan sekunder. Hidrofiber dapat juga digunakan pada luka

yang kering sepanjang kelembaban balutan tetap dipertahankan

(dengan menambahkan larutan normal salin). Balutan hidrofiber


35

dapat dipakai selama 7 hari, tergantung pada jumlah drainase

pada luka.

B. Kerangka Konseptual

Diabetes militus

Ulserasi kaki
diabetikum / Rawat luka konvensional
ganggren
Rawat luka balutan modern

Kesembuhan :
- Baik
- Cukup
- Kurang

Gambar 2.1 Kerangka konseptual metode balutan modern pada penyembuhan


luka ganggren

Keterangan

Diteliti
Tidak diteliti

Arah hubungan