Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan
oleh Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini paling sering menyerang
organ paru dengan sumber penularan adalah pasien TB paru Basil Tahun
Asam (BTA) positif (Amin & Bahar,2009).
Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2014
menyebabkan terdapat 9,6 juta kasus TB paru didunia dan 58 % kasus
terjadi didaerah Asia Tenggara dan Afrika. Tiga negara dengan insidensi
kasus terbanyak tahun2014 yaitu India (23%), Indonesia (10%), dan China
(10%). Indonesia sekarang beradapada ranking kedua negara degan beban
TB tertinggi didunia. (WHO,2016)
Penanganan pertama pada kasus ini adalah melakukan penemuan
pasien yang bertujuan untuk mendapatkan pasien TB melalui serangkaian
kegiatan mulaidari penyaringan terhadap terduganya pasien TB sehingga
dapat dilakukan pengobatan agar sembuh sehingga tidak menularkan
penyakitnya kepada orang lain. Penyakit tuberkulosis ini menetao dalam
waktu yanglamajika tidak segera diobati atauditangani, karena penyakit
tuberkulosis ini menyerang sistem pernafasan bawah yaitu bronkus dan
alveoli. Hal ini membuat keterbatasan aktivitas bagi penderita yang
menurunkan kualitas hidupnya (Kemenkes Ri, 2011).
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana konsep anatomi dan fisiologi saluran pernafasan ?
2. Apa pengertian Tuberkulosis paru?
3. Bagaimana etiologi dan faktor resiko Tuberkulosis paru ?
4. Apa klasifikasi penyakit Tuberkulosis paru?
5. Bagaimana patofisiologi penyakit Tuberkulosis paru?
6. Bagaimana manifestasi klinik penyakit Tuberkulosis paru?
7. Bagaimana komplikasi penyakit Tuberkulosis paru?
8. Bagaimana pemeriksaan diagnostic Tuberkulosis paru?
9. Bagaimana penatalaksanaan penyakit Tuberkulosis paru ?
C. Tujuan penulisan
1. Untuk mengetahui konsep anatomi dan fisiologi saluran pernafasan
2. Untuk mengetahui pengertian Tuberkulosis paru
3. Untuk mengetahui egetiologi dan faktor resiko Tuberkulosis paru
4. Untuk mengetahui klasifikasi penyakit Tuberkulosis paru
5. Untuk mengetahui patofisiologi penyakit Tuberkulosis paru
6. Untuk mengetahui manifestasi klinik penyakit Tuberkulosis paru
7. Untuk mengetahui komplikasi penyakit Tuberkulosis paru
8. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic Tuberkulosis paru
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan penyakit Tuberkulosis paru
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Anatomi dan fisiologi sistem pernafasan


1. Anatomi
a. Hidung
Hidung berfungsi sebagai penyaring kotorandan melembabkan serta
menghangatkan udara yang dihirup kedalam paru-paru.
b. Faring
Faring dibagi menjadi tiga bagian yaitu nasofaring, orofaring, dan
laringofaring. Nasofaring adalah suatu jalan udara dan makanan. Orofaring
berfungsi untuk menghancurkan patogen yang masuk ke mukosa.
Laringofaring bagian berfungsi sebagai pembuka jalan menuju laring dan
bagian posteriornya menuju esophagus.
c. Laring
Pada waktu menelan,gerakan laringkeatas, peutupanglotis berperan
untuk mengarahkan makanan dan cairanmasuk kedalam esophagus. Laring
juga melindungi jalan napas bawah dari obstruksibenda asing dan
memudahkan batuk. ( Smelzer & Bare, 2002)
d. Trakea
Trakea hanya merupakan suatu pipapenghubung ke bronkus.
Dimana bentuknya seperti sebuah pohon oleh karena itu disebut pohon
trakeobronkial, tempat trakea bercabangmenjadi bronkus di sebut karina.
e. Bronkus
Bronkus terbagimenjadi 2 cabang,cabang kanan lebih pendek dan
lebih lebar dari bronkus kiri. Hal ini merupakan salah satu sebab mengapa
paru-paru kanan lebih mudah terserang penyakit dan masuknya benda
asing.
f. Bronkiolus
Bronkiolus merupakan cabang dari bronkus. Bronkiolus tidak
diperkuat oleh cincin tulang rawan, tetapi dikelilingi oleh otot polos
sehingga ukurannya dapat berubah.
g. Alveolus

Saluran akhir dari saluran pernafasan yang berupa gelembung-

gelembung udara. Pada bagian alveolus inilah terjadi pertukaran gas

dari dari sel-sel tubuh ke udara bebas terjadi.

h. Paru-paru dan Membran pleura

Paru-paru berada dalam rongga torak, yang terkandung dalam


susunan tulang-tulang iga dan letaknya disisi kiri dan kanan mediastinum
sentral. Setiap paru memiliki apeks dan dasar. Paru-paru dibungkus oleh
pleura yang menempel langsung ke paru, disebut sebagai pleura viseral.
Sedangkan pleura parietal menempelpada dinding rongga dada dalam.
Diantara pleura visceral dan pleura parietal terdapat cairan pleura yang
berfungsi sebagai pelumas sehingga memungkinkan pergerakan dan
pengembangan paru secara bebas tanpa ada gesekan dengan dinding dada. (
Price & Wilson,2006)

2. Fisiologi

Proses fisiologi pernafasan yaitu proses dipindahkan dari udara

kedalam jaringan-jaringan, dan dikeluarkan ke udara ekspirasi,yang


dibagi menjadi 3 prosses ( Price & Wilson,2006), yaitu :

a. Ventilasi

Ventilasi adalah proses masuk dan keluarnya udara dari paru-paru. Udara
bergerak masuk dan keluar paru karena adanya selisih tekanan yang
terdapatantara atmosferdan alveolus akibat kerja mekanik otot-otot. Pada inspirasi
volume toraks bertambah besar karena diafragma turun dan iga terangkat akibat
kontraksi beberapa otot, pada waktuyang bersamaan otot-otot interkostal internal
berkontraksi dan mendorong dinding dada sedikit kearah luar. Dengan gerakan
seperti ini ruang didalam dada meluas, tekanan dalam alveoli menurun dan ini
ruang didalam dada meluas, tekanan dalam alveoli menurun dan udara memasuki
paru-paru.
Pada ekspansi diafragmadan otot-otot interkosta eksterna relaksasi. Pada
waktu otot interkosta eksterna relaksasi,rangka iga turun dan lengkungan
diafragma naik ke atas ke dalam rongga toraks, menyebabkan volume toraks,
menyebabkan volume toraks berkurang, sehingga udara mengalir keluar paru-paru
sampai tekanan jalan nafas dan tekanan atmosfer menjadi sama.

b. Difusi

Difusi merupakan tahap kedua dari proses pernafasan yang merupakan


gerakan diantara udara dan karbon dioksida didalam alveoli dan darah didalam
kapiler sekitarnya. Dalam cara difusi ini gas mengalir dari tempat yang tinggi
tekanan parsialnya ketempat lain yang lebih rendah tekanan partialnya.

c. Transpostasi gas dalam darah

Transpostasi adalah pengankutan oksigen dan karbon dioksida oleh darah.


Oksigen dapatdiangkat dari paru ke jaringan-jaringan melalui dua jalan;secara
fisik larut dalam plasma atau secara kimia berikatandengan hemoglobin(HB)
membentuk oksihemoglobin. Karbon dioksida ditransportasi dalam darahsebagai
natrium bikarbonat dalam dan kalium bikarbonat dalam sel-sel darah merah
dalam larutan bergabung dengan hemoglobindan protein plasma.

B. Pengertian Tuberkulosis paru


Tuberkulosis (TB) paruyaitu penyakit infeksi menular yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Kumanbatang aerobik dan
tahan asam ini, dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit. ( Price
& Wilson,2006)
Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit menular yang paling sering
mengenai parenkim paru,biasanya disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis. (Brunner & Suddarth, 2016)
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
Tuberkulosis paru adalah penyakitinfeksi menular yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis suatu basil yang tahan asam yang menyerang
parenkim paru.
C. Etiologi
Tuberkulosis paru diisebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang
berbentuk batang dan tahan asam dan bersifat aerob. Sifat ini yang
menunjukkan kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan
oksigennya. Sehingga paru-paru merupakan tempat prediksi penyakit
tuberkulosis. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikal paru-paru
lebih tinggi dari bagian lainnya.
Lingkungan juga dapat menyeabakan TB paru, terutama lingkungan
yang padat penduduk, kurang pencahayaan dan sanitasi yang buruk.
pekerjaan juga dapat menjadi penyebab tb seperti pekerja tambang dan jenis
pekerjaan yang terpanjang dengan lingkungan bebas. (Suprapto & Wahid,
2013)
D. Klasifikasi
Klasifikasi TB paru terbagi menjadi3, yaitu:
a. Berdasarkan hasil pemeriksaan sputum
1. Tuberkulosis paru BTA positif
a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS (Sewaktu-Pagi-
Sewaktu) hasilnya BTA positif
b) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgendada
menunjukkan gambaran tuberkulosis paru
2. Tuberkulosis paru BTA negatif
Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan
foto rontgen dada menunjukkan gambaran Tuberkulosis aktif.
( Departemen Kesehatan RI, 2005)
b. Berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya
1. Pasien baru TB : pasien yang belum pernah mendapatkan pengobatan
TB sebelumnya atau sudah pernah menelan OAT namun kurang dari
1 bulan.
2. Pasien yang pernah diobati TB : pasien yang sebelumnya pernah
menelan OAT selama 1 bulan atau lebih
a) Pasien kambuh : pasien tb yang pernah dinyatakan sembuh dan saat
ini didiagnosis tb berdasarkan hasil pemeriksaan bakteriologi atau
klinis.
b) Pasien yang diobati kembali setelah gagal : pasien tb yang pernah
diobati dan dinyatakan gagal pada pengobatan terakhir.
c) Pasien yang diobati setelah putus obat : pasien yang pernah
diobatidan dinyatakan putus obat
c. Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB)
TB dengan resistent terjadi dimana hasil Mycobacterium
tuberculosis resisten terhadap rifampisin dan isoniazid,dengan atau tanpa
OAT lainnya. TB resiste dapat berupa resisten primer dan resisten
sekunder. Resisten primer yaitu resisten yang terjadi pada pasien yang
tidak pernah mendapat OAT sebelumnya. Resisten primer ini dijumpai
pada pasien dengan positif HIV. Sedangkan resisten sekunder yaitu
resisten yang didapat selama terapi padaorangyang sebelumnya sensitif
obat. (Kemenkes RI, 2014)
E. Manifestasi Klinis
Gambaran klinik TB paru dapat dibagimenjadi 2 golongan, gejala
respiratorik dan gejala sistemik (Mutaqqin, 2008), yaitu :
a. Gejala respiratorik, meliputi :
1. Batuk
Gejala batuk timbul paling awal dan merupakan gangguan yang
paling sering dikeluhkan. Mula-mula bersifat non produktif kemudian
berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan.
2. Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin
tampak berupa garis atau bercak-bercak darah, gumpalan darah atau
darah segar dalamjumlah yang banyak. Batukdarah terjadi karena
pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya batuk darah tergantung dari
besar kecilnya pembuluh darah yang pecah.
3. Sesak nafas
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas
atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura,
pneumotoraks, anemia dan lain-lain.
4. Nyeri dada
Nyeri dada pada TB termasuk nyeripleuritik yang ringan. Gejala
initimbul apabila sistem persarafan dipleura terkena.
b. Gejala sistemik meliputi :
1. Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada
sore dan malam hari mirip demam influenza, hilang timbul dan makin
lama makin panjang serangannya sedang masa bebas serangan semakin
pendek.
2. Gejala sistemik lain
Gejala sistemik lain adalah berkeringat di 1/3 malam, anoreksia,
penurunan berat badan secara progresif dimana IMT kurang dari18,5
kg/m3 serta malaise (gejala malaise sering ditemukan berupa : sakit
kepala, meriang, nyeri otot). Timbulnya keluhan biasanya bersifat
gradula muncul dalam beberapa minggu-bulan, akan tetapi penampilan
akut dengan batuk, panas, sesak nafas walaupun jarang dapat timbul
menyerupai gejala pneumonia.
F. Patofisiologi

Tempat masuk kuman Mycrobacterium tuberculosis adalah saluran


pernapasan, saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Namun infeksi
tuberculosis paru terjadi melalui udara yaitu melalui inshalasi dropet yang
mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang
terinfeksi.

Tuberculosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas


diperantarai sel. Sel efektornya adalah makrofag, sedangkan limfosit ( biasanya
sel T ) adalah sel imunoresponsifnya. tipe imunitas seperti ini biasanya local,
melibatkan makrofag, yang diaktifkan ditempat infeksi oleh limfosit dan
limfokinya. Respon ini disebut dengan reaksi hipersensitivitas seluler
( lambat ) basil ini cenderung tertahan di saluran hidung atau cabang besar
bronkus dan kemudian masuk kedalam alveolus.

Setelah berada dalam ruangan alveolus basil tuberkel ini membangkitkan


reaksi peradangan, leukosit polimorfonuklear pada tempat tersebut dan
memfagosit namun tidak membunuh organisma tersebut.

Lesi primer paru-paru dinamakan focus ghon dan gabungan terserangnya


kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon.
Respon lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana
bahan cair lepas kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Bahan tubercular
yang dilepaskan dari dindiing kavitas akan menyebabkan peningkatan produksi
secret akan masuk ke dalam percabangan trakebronkial dan kemudian
dibatukkan.

Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah.


Organisme yang lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah
dalam jumlah kecil dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lain. Jenis
penyebaran ini dikenal sebagai penyebaran limfahematogen, ini terjadi apabila
focus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme masuk
kedalam system vaskuler dan tersebar ke organ-organ tubuh.

G. Komplikasi

Penyakit tuberculosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan


menimbulkan komplikasi. Komplikasi dibagi atas komplikasi dini dan
komplikasi lanjut.

a. Komplikasi dini : pleuritis, efusi pleura, empyema, laryngitis

b. Komplikasi Lnjut : obstruksi jalan nafas SOFT ( Sindrom Obstruksi Pasca


Tuberkulosis ), kerusakan parenkim berat/fibrosis paru, karsinoma paru,
sindrom gagal napas dewasa ( ARDS )

H. Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan Radiologis
Pada saat ini pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang
praktis untuk menemukan lesi tuberculosis. Namun pemeriksaan radiologis
tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis pasti dari tuberculosis
karena penyakit lainnya sering sangat mirip dengan tuberculosis.
1. Foto Thoraks
a) Sering didapatkan bermacam-macam bayangan sekaligus (bayangan
dengan perkapuran, bayangan bentuk oval atau bundar soliter )
b) Bagian atas paru menunjukkan bayangan berupa bercak atau
bermoduler ( pada satu atau kedua sisi )
c) Kavitas ( lubang ) khususnya bila terdapat lebih dari satu lubang
d) Bayangan titik-titik kecil yang tersebar
e) Bayangan yang menetap atau relative menetap setelah beberapa
minggu.

b. Pemeriksaan Laboratorium

1. Sputum

Pemeriksaan sputum sangat penting karena dengan ditemukannya


kuman BTA, diagnosis tuberculosis sudah dapat dipastikan. Disamping
itu pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap
pengobatan yang sudah diberikan.
2. Darah
Pada saat tuberculosis baru mulai ( aktif ) akan didapatkan jumlah
leukosit yang sedikit tinggi. Jumlah limfosit masih dibawah normal.
Laju endapan darah mulai meningkat. Bila penyakit mulai sembuh,
jumlah leukosit kembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi. Laju
endap darah mulai turun kea rah normal lagi.
3. Tes Tuberkulin
Pemeriksaan ini masih banyak dipakai untuk membantu menegakkan
diagnose tuberculosis terutama pada anak-anak balita. Biasanya
dipakai dengan cara mantoux yakni dengan menyuntkan 0,1 cc
tuberculin P.P.D ( Purifed Protein Devirattive ). Tes tuberculin hanya
menyatakan apakah seseorang individu dating atau pernah mengalami
infeksi M. Tuberculoasae, M. Bovis, vaksinasi BCG dan
Mycrobacteria pathogen lainnya.
I. Penatalaksanaan
a. Pencegahan
1. Menghindari kontak dengan penderitatuberkulosis paru BTA positif
2. Vaksinasi BCG
3. Mass Chest X-ray, yaitu pemeriksaan massal terhadap kelompok-
kelompok populasi tertentu.
4. Komunikasi, informasi dan edukatif ( KIE ) tentang penyakit
tuberculosis kepada masyarakat ditingkat puskesmas maupun tingkat
rumah sakit oleh petugas pemerintah maupun petugas LSM
( misalnya Perkumpulan Pemberantas Tuberklosis Paru Indonesia-
PPTI)
b. Pengobatan
Tujuan pengobatan pada penderita TB paru selain untuk
menyembuhkan atau mengobati penderita juga mencegah kematian,
mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah
terjadinya resistensi kuman terhadap OAT.
Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih
dahulu berdasarkan lokasi TB, berat ringannya penyakit, hasil
pemeriksaan bakteriologi, sputum dan pengobatan sebelumnya.
Strategi nasional pengendalian TB dikenal sebagai DOTSC ( Directly
Observed Treatment Short Course ). Terdiri dari 5 komponen yaitu :
1. Adanya komitmen pemerintah untuk mempertahankan control
terhadap TB
2. Diagnosis TB melalui pemeriksaan sputum secara mikroskopik
langsung, sedangkan pemeriksaan penunjang lainnya seperti
pemeriksaan radiologis dan kultur
3. Pengobatan TB dengan panduan OAT jangka pendek dibawah
pengawasan langsung oleh pengawas menelan obat ( PMO ),
khususnya dalam 2 bulan pertama dimana penderita haruus minum
obat setiap hari,syarat PMO :
a. Orang yang dekat dengan penderita ( tinggal satu rumah atau
dekatt dengan rumah pasien ) dikenal, dipercaya dan disegani
oleh pasien
b. Sehat jasmani dan rohani serta dapat membaca menulis
c. Bersedia dengan sukarela membantu pasien TB
d. Mendapat persetujuan dari pasien dengan petugas kesehatan
e. Bersedia dilatih dan mendapat penyuluhan bersama pasien
4. Kesinambungan ketersediaan panduan OAT jangka pendek yang
cukup
5. Pencatatan dan pelaporan yang baku.
BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian

Pasien masuk ke RSUD Dr.M. Yunus Bengkulu pada tanggal 19


Februari 2018 pukul 19.15 ke ruangan Kemuning dengan nomor Register 68
00 22, pasien tersebut di diagnosa Tuberkulosis Paru dengan BTA (+). Pada
tanggal 23 Februari 2018 dilakukan pengkajian keperawatan kepada pasien
untuk melakukan Asuhan Keperawatan.

1. Identitas klien

Seorang pasien menderita Tuberkulosis Paru bernama Tn. M


berusia 35 tahun dengan jenis kelamin laki-laki. Pasien berstatus sudah
menikah, dengan pendidikan pasien tamat SMA, dalam sehari-harinya
pasien menggunakan bahasa Bengkulu untuk berkomunikasi. Pasien
bekerja sebagai karyawan swasta. Alamat pasien jalan rinjani 01 Rt/Rw
11/03 Kota Bengkulu.
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan Utama
Tn. M masuk keruangan Kemuning pada tanggal 19 Februari
2018 jam 19.15 WIB dengan keluhan batuk terus-menerus dan
berdahak.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien mengeluh batuk berdahak yang sulit untuk dikeluarkan
sejak ±3 minggu yang lalu pasien mengatakan faktor penyebab
kemungkinan adalah debu dari tempat dia bekerja (semen). Pada
awalnya paisen mengalami batuk kering kemudian menjadi batuk
berdahak yang terjadi secara terus-menerus. Batuk semakin menjadi
ketika malam hari. Pasien juga mengeluh sesak napas. Sebelum masuk
rumah sakit, pasien hanya beristirahat dan minum obat yang dibeli di
apotek (ambroxol syrup), namun keluhan tersebut tidak kunjung
sembuh sehingga keluarga membawa Tn. M ke RSUD Dr. M Yunus
Bengkulu.
Pada tanggal 20 februari 2018 pasien di lakukan tes Genexpert
dengan hasil positif (+), sehingga Tn. M dirawat di ruang Kemuning
dengan diagnosa Tuberkulosis Paru Positif (TB PARU (+))
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Pasien mengatakan sekitar ±1 tahun yang lalu pernah menderita
TB paru dengan hasil BTA (+), pasien menjalani pengobatan rutin
selama 6 bulan dan selesai pada Januari 2018 dan sudah dinyatakan
sembuh. Tidak ada riwayat alergi terhadap obat.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang memiliki
penyakit TB paru, namun ayah Tn. M tinggal serumah dengan istri
dan anaknya yang berumur 7 tahun, didalam keluarga peralatan makan
digunakan secara bersamaan, dan keluarga Tn.M mengatakan jika
Tn.M batuk dahaknya dibuang di depan rumah.

Genogram
Keterangan :

: Laki-laki : Tinggal serumah


: Perempuan : Pasien
: Laki-laki meninggal : Perempuan meningg

e. Riwayat psikososial dan spiritual


1. Riwayat psikososial
Pasien mengatakan orang paling dekat adalah istr yaitu Ny.K
komunikasi dalam keluarga baik dan keputusan yang di ambil secara
musyawarah dengan anggota keluarga. Pasien mengatakan hubungan dalam
masyarakat terjalin dengan baik. Penyakit yang di alami oleh Tn.M membuat
keluarga cemas. Pasien mengatakan harapannya ingin cepat sembuh dan
pulang kerumah. Istri pasien mengatakan kondisi rumah di area padat
penduduk, sehingga cahaya matahari susah masuk ke dalam rumah, rumah
terisi padat dengan perlengkapan dan rumah terasa pengap.
2. Sistem nilai kepercayaan
Klien mengatakan ketika dirumah jarang sholat 5 waktu dan berdoa,
sejak di rumah sakit klien tidak melakukan sholat karena merasa tubuhnya
lemas.
f. Pola kebiasaan
1. Pola nutrisi dan cairan
a. Sebelum sakit (di rumah)
Pasien mengatakan saat dirumah napsu makannya sudah
berkurang, makan 3x/hari dengan porsi yang sedang sekitar ±9 sendok
makan. Tidak ada diet khusus dan tidak ada penggunaan obat sebelum
makan. Pasien biasanya minum ±4-5 gelas atau (±800 cc).
b. Saat sakit (di rumah sakit)
Pasien mengatakan napsu makannya berkurang, makan 3x/hari
dengan porsi ±4 sendok yang diberikan oleh rumah sakit. Diet yang di
berikan kepada Tn.M adalah Diet TKTP. Pasien tidak menggunakan alat
bantu makan dan ada pemberian obat sebelum makan (obat OAT).
Pasien minum air putih ±3-4 gelas (±650cc) perhari dan ditambah
dengan cairan parenteral yaitu infus RL sebanyak 20 tetes/menit
(±1500cc), injeksi+obat ±15 cc.
2. Pola Eliminasi
a. Sebelum sakit (di rumah)
Pasien mengatakan buang air kecil ±3x/hari, sebanyak ±650 cc,
dan tidak ada keluhan (nyeri). Pasien mengatakan air kencingnya
berwarana kuning. Pasien mengatakan buang air besar ± 1 kali/hari dan
tidak ada keluhan diare atau konstipasi saat buang air besar. Pasien
mengatakan fesesnya lembek berwarna kuning dan tidak ada darah.
b. Saat sakit (di rumah sakit)
Pasien mengatakan ketika di rumah sakit, frekuensi buang air
kecil ± 5 x/hari, sebanyak (±700 cc), pasien mengatakan air kencingnya
berwarna kuning pekat tidak ada alat bantu (kateter). Pasien mengatakan
buang air besar 1 kali dalam 2 hari tidak ada keluhan susah BAB
(konstipasi). Tidak ada penggunaan obat Laxatif.
Cairan masuk = Minum = 650 cc
Infus = 1500 cc
Injeksi+obat = 15 cc
Air metabolisme = 5 × BB
= 5 × 55
= 275 c

Cairan keluar = BAK = 700 cc


BAB = 0 cc
IWL = 15 × 55
= 825 cc
Peningkatan suhu tubuh = IWL + 200 (suhu tubuh-36,8)
= 825 + 200 (38,5 -36,8)
= 1025 (1,7)
= 1742 cc
Balance cairan = Cairan masuk – Cairan keluar
=(minum+infus+injeksiobat+air
metabolisme) – (Bak+Bab + IWL)
= 2440-2442
= ̵2 cc/24 jam
3. Pola Personal Hygiene
a) Sebelum sakit (di rumah)
Pasien mengatakan mandi 2x/hari yaitu pada pagi dan sore hari.
Gosok gigi 2x/hari. Pasien mengatakan setiap hari keramas 1 kali yaitu
pada pagi hari.
b) Saat sakit (di rumah sakit)
Pasien mengatakan tidak pernah mandi hanya di lap 2x/hari yaitu
pagi dan sore tanpa sabun, gosok gigi sebanyak 1x/hari. Selama di rumah
sakit Tn.M tidak pernah keramas.
4. Pola Istirahat dan Tidur
a) Sebelum sakit (di rumah)
Pasien mengatakan jarang tidur siang dikarenakan bekerja dan tidur
malam selama ±4-5 jam/hari di karenakan batuk pada malam hari.
Kebiasaan yang dilakukan sebelum tidur adalah mengobrol dengan
keluarga.
b) Saat sakit (di rumah sakit)
Pasien mengatakan selama di rumah sakit, pasien kurang tidur
dikarenakan batuk, tidur siang selama ±1 jam dan tidur malam ±4-5 jam.
5. Pola aktivitas dan latihan
a) Sebelum Sakit (di rumah)
Pasien mengatakan aktivitas yang dilakukan sehari-hari adalah
bekerja di perusahaan swasta (semen). Pasien mengatakan jarang
berolahraga.
b)Saat Sakit (di rumah sakit)
Pasien mengatakan selama di rumah sakit, aktivitas pasien dibantu
oleh keluarga, di karenakan saat beraktivitas pasien merasa sesak seperti
pergi ke kamar mandi dan duduk lama untuk mengobrol dengan keluarga.
6. Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan
a) Sebelum sakit (di rumah)
Pasien mengatakan sebelum terkena penyakit TB paru seing
merokok, dalam sehari dihabiskan ±1 bungkus atau 12 batang rokok.
Pasien mengatakan tidak minum minuman keras.
b) Saat sakit (di rumah sakit)
Pasien mengatakan setelah dinyatakan sakit tidak pernah lagi merokok.
3. Pengkajian fisik
a. Pengkajian Fisik Umum
Tinggi badan 165 cm, berat badan 55 kg, tekanan darah 100/80
mmHg, nadi 76x/menit, frekuensi nafas 26x/menit, suhu tubuh 38,5°C dan
keadaan umum lemah.
b. Sistem Penglihatan
Posisi mata simetris kiri dan kanan, kelopak mata tidak ada edema
dan nyeri tekan, pergerakan bola mata simetris kiri dan kanan, konjungtiva
ananemis, kornea bening, sclera anikterik, pupil isokor, fungsi penglihatan
baik, tidak ada tanda-tanda radang. Tidak ada pemakaian kaca mata, tidak
ada pemakaian lensa kontak, reaksi terhadap cahaya baik, mengecil saat
terkena cahaya.
c. Sistem Pendengaran
Telinga simetris kiri dan kanan, kondisi telinga tengah utuh, tidak
ada cairan di telinga, tidak ada perasaan penuh di telinga tidak ada tinnitus,
fungsi pendengaran baik. Tidak terdapat gangguan keseimbangan dan
tidak ada pemakaian alat bantu pada sistem pendengaran.
d. Sistem Wicara
Baik, pasien dapat menjawab pertanyaan dengan jawaban yang
seesuai dan jelas.
e. Sistem pernapasan
1. Inspeksi : bentuk dada barel chest, gerakan dada simetris kiri dan kanan,
pasien tampak batuk. Adanya sputum berwarna kuning, konsistensi
kental namun sedikit. Adanya pernapasan pursed lips, tidak ada
penggunaan otot pernapasan yaitu otot sternokleidomastoideus.
Capilarry refill selama 3 detik, frekuensi napas 26x/menit dengan irama
napas teratur. Tidak adanya sianosis central dan perifer serta tidak ada
clubbing finger, pasien terpasang O2 3 liter melalui nasal kanule, pasien
terpasang WSD pada dada bagian kiri, klien tampak sesak setelah dari
kamar mandi dengan frekuensi napas meningkat menjadi 29x/menit.
2. Palpasi : Pada trakea tidak ada deviasi dan ekspansi dada simetris antara
kiri dan kanan namun terjadi penurunan pada ekspansi paru, taktil
fremitus pada bagian kiri lebih redup kiri dari bagian kanan dan semakin
ke bawah semakin meredup.
3. Perkusi : Bunyi perkusi sonor di interkostal 1,2,3,4,5,6 dextra, bunyi
pekak (flatness) di intercostal 1,2,3,4,5,6 sinistra. Pada interkostal 3,4,5
sinistra bunyi perkusi dullness.
4. Auskultasi : Suara napas ronchi pada area lapang paru kanan.
f. Sistem Kardiovaskuler dan Hematologi
a. Inspeksi : Tidak ada sianosis central dan perifer, tidak ada distensi vena
jugularis, dan capilarry refill selama 3 detik.
b. Palpasi : Nadi pasien 76x/menit, suhu tubuh 38,5°C akral kulit hangat,
kelembapan kulit kering dan turgor kulit selama 3 detik.
c. Perkusi : Bunyi dullness pada interkostal 3,4,5 sinistra.
d. Auskultasi : Tekanan darah pasien 100/80 mmHg, bunyi jantung regular
tidak ada bunyi tambahan.
g. Sistem Pencernaan
1. Inspeksi : Gigi tampak kotor, berlubang dan ada caries, mukosa bibir
kering. Abdomen tidak ada lesi dan edema.
2. Auskultasi : Suara bising usus terdengar 11x/menit
3. Perkusi : Abdomen terdengar suara timpani
4. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada abdomen, tidak ada pembesaran
pada hepar dan lien, turgor kulit selama 3 detik
h. Sistem neurologi
Kesadaran compos mentis, GCS 15 (E 4, V 5, M 6) pasien tampak
gelisah, tidak ada keluhan sakit kepala, tidak ada gangguan sistem saraf.
i. Sistem Hematologi
Pasien tampak pucat, tidak ada perdarahan.
j. Sistem Urogenital
Tidak ada perubahan berkemih, frekuensi B.a.k ±5x/hari, warna
kuning pekat, tidak ada distensi kandung kemih, perkusi ginjal tidak ada
nyeri.
k. Sistem Endokrin
Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada
pembesaran kelenjar getah bening, napas tidak berbau keton, tidak ada
luka ganggren.
l. Sistem Intergumen
Turgor kulit selama 3 detik, tekstur kulit kasar, warna kulit sawo
matang, rambut berminyak dan terlihat kotor. Pada tangan kiri pasien
terpasang infus.
m. Sistem Musculoskeletal
Adanya kesulitan dalam pergerakan dikarenakan pemasangan selang
WSD, tidak ada deformitas tulang maupun sendi, tidak adanya edema pada
ekstremitas, tidak ada nyeri tekan pada ekstremitas.
Kekuatan otot

444 444
444 444
4.Data penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
b. Foto thorax
5. Penatalaksanaan
a. Diet
Pasien mendapatkan diet TKTP
b. Terapi obat