Anda di halaman 1dari 6

‫‪Nama : Miftahul Jannah‬‬

‫‪Niss : 18016‬‬

‫‪Kelas : XI A‬‬

‫‪Saat Ketenaran Duniawi Menjadi Tujuan‬‬

‫‪Oleh : Murod Asy Syathiri‬‬

‫ض َّل لَهُ‪ ،‬ومن يُضْ لِلْ ‪ ،‬فَال هَا ِدي‬


‫ت أ ْع َمالِنا‪َ ،‬م ْن يَ ْه ِده هللا فَال ُم ِ‬ ‫إن ال َح ْم َد هلل‪ ،‬نَحْ َمدُه‪ ،‬ونستعينُه‪ ،‬ونستغف ُرهُ‪ ،‬ونعو ُذ به ِمن ُشر ِ‬
‫ُور أنفُ ِسنَا‪َ ،‬و ِم ْن سيئا ِ‬ ‫َّ‬
‫لَهُ‬

‫ورسُولُه‬ ‫ك لَهُ‪ ،‬وأشه ُد َّ‬


‫أن ُم َح َّمدًا ع ْبدُه َ‬ ‫أَ ْشهَ ُد ْ‬
‫أن ال إلَهَ إال هللاُ َوحْ َدهُ ال ش ِ‬
‫َري َ‬

‫صلِّى َعلَى ُم َح َّم ٍد َو َعلَى اَلِ ِه َوأَصْ َحابِ ِه َو َم ْن تَبِ َع هُدًى‬


‫اَللَّهُ َّم َ‬

‫ق تُقَاتِ ِه َوال تَ ُموتُ َّن إِال َوأَ ْنتُ ْم ُم ْسلِ ُمونَ‬


‫يَاأَيُّهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا اتَّقُوا هَّللا َ َح َّ‬

‫ث ِم ْنهُ َما ِر َجاال َكثِيرًا َونِ َسا ًء َواتَّقُوا هَّللا َ الَّ ِذي تَ َسا َءلُونَ بِ ِه َواألرْ َحا َم إِ َّن‬
‫ق ِم ْنهَا زَ وْ َجهَا َوبَ َّ‬ ‫يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا َربَّ ُك ُم الَّ ِذي خَ لَقَ ُك ْم ِم ْن نَ ْف ٍ‬
‫س َوا ِح َد ٍة َو َخلَ َ‬
‫ُ‬ ‫َ‬
‫َ َكانَ َعل ْيك ْم َرقِيبًا‬ ‫هَّللا‬
ِ ‫يَاأَيُّهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا اتَّقُوا هَّللا َ َوقُولُوا قَوْ ال َس ِديدًا * يُصْ لِحْ لَ ُك ْم أَ ْع َمالَ ُك ْم َويَ ْغفِرْ لَ ُك ْم ُذنُوبَ ُك ْم َو َم ْن يُ ِط ِع هَّللا َ َو َرسُولَهُ فَقَ ْد فَا َز فَوْ ًزا ع‬
‫َظي ًما‬

Jama’ah shalat jum’ah yang dirahmati Allah SWT

Khatib mewasiatkan kepada seluruh para jama’ah agar senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepada
Allah Swt. Salah satunya dengan mengikhlaskan seluruh amal perbuatan, yang tidak mengharapkan
apapun dan ridha siapapun kecuali hanya ridha Allah ‫ﷻ‬. Sehingga amal kita diterima di sisi Allah
serta mendapatkan balasan berupa jannah-Nya yang penuh dengan kenikmatan.

Hadirin sidang jama’ah shalat jum’at yang dirahmati Allah SWT

Hari ini kita dihadapkan pada suatu masa, ketika harta, kedudukan, serta pujian manusia menjadi ukuran
kemuliaan dan ketinggian seseorang di hadapan yang lain. Bahwa orang hebat adalah yang terkenal dan
namanya sering disebut di mana-mana, orang sukses adalah orang yang punya kedudukan serta jabatan
tinggi. Orang besar adalah mereka yang selalu bekecukupan harta dan hidup tanpa kesusahan, serta
seabrek indikator-indikator ‘palsu’ dimunculkan untuk merusak pemahaman manusia tentang makna
kesuksesan dan kemuliaan. Supaya manusia tertipu dan lupa pada hakikat ketinggian dan kemuliaan
yang sebenarnya, yakni ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah. “Sesungguhnya yang paling mulia
diantara kamu adalah yang paling bertaqwa (kepada Allah). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
Mahateliti”. (QS al-Hujurat: 13)

Akibatnya, banyak orang yang akhirnya beramal hanya demi mencari ridho dan kerelaan manusia, tanpa
peduli lagi pada pahala dan balasan dari Allah. Asal pekerjaan itu disenangi dan dikagumi serta mulia di
mata manusia, syariat Allah rela dijadikan tumbal. Akhirnya, muncullah golongan manusia yang beramal
supaya dilihat dan dipuji oleh orang lain, atau beramal karena riya’. Mereka berebut agar bisa menjadi
objek pujian dan perhatian manusia dalam setiap amal yang mereka kerjakan. Karena mereka
menganggapnya sebagai upaya ‘mengejar kesuksesan’.

Tanpa disadari, sebenarnya mereka sedang mengejar kesia-siaan. Mereka lupa, bahwa hidup bukan
hanya sekedar untuk mencari pujian dan kebanggaan palsu. Dan lupa, bahwa esensi dari penciptaan
mereka di dunia ini adalah untuk beribadah ikhlas hanya kepada-Nya. Semua perbuatan kita, baik atau
buruk, besar atau kecil pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Bagi mereka yang beramal
karena Allah, Allah sendirilah yang telah menjamin pahala dan balasannya. Lalu, bagaimana mereka
yang beramal dengan menjilat manusia?
Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda, “Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah meskipun ia
memperoleh kebencian dari manusia, maka Allah akan mencukupkan dia dari ketergantungan kepada
manusia. Dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan mendatangkan kemurkaan Allah,
maka Allah akan menyerahkanya kepada manusia.” (HR Tirmidzi).

Imam Muhammad bin Abdurrahman al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi mengatakan, “Maksudnya,
Allah akan menjadikannya berada dibawah kuasa manusia, lalu mereka menyakiti dan menganiayanya.”

Yang menyedihkan, penyakit haus pujian atau riya’ ini ternyata tidak hanya menyerang kalangan awam
saja. Bahkan banyak pengidapnya justru orang-orang yang faham akan bahaya riya’ itu sendiri. Mereka
yang ahli ibadah, para da’i dan mubaligh, thalibul ilmi, serta para penghafal al-qur’an justru lebih
berpotensi besar terjangkiti virus ini. Kuantitas amal shalih yang mereka kerjakan, ternyata membuat
setan tergiur untuk mengggelincirkan kelompok ini, agar keikhlasan mereka pudar, dan ganti beramal
untuk manusia, pujian, serta kedudukan. Seorang da’i akan di hasut setan agar berbuat riya’
memperbagus dakwahnya demi popularitas dan dikatakan sebagai ‘penguasa panggung’. Para penghafal
Al-Qur’an akan diarahkan supaya beramal demi dianggap sebagai ‘orang yang dekat dengan Kitabullah’.
Sedangkan setan akan menghasut para alim ulama agar mereka beramal supaya dielukan sebagai orang
yang ‘fakih dan faham dalam masalah dien’. Wal ‘iyadzu billah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan tentang definisi riya’, “Riya’ adalah ibadahnya
seseorang kepada Allah, akan tetapi ia melakukan dan membaguskannya supaya di lihat dan dipuji oleh
orang lain, seperti dikatakan sebagai ahli ibadah, orang yang khusyu’ shalatnya, yang banyak berinfaq
dan sebagainya.” Intinya dia ingin agar apa yang dikerjakan mendapat pujian dan keridhoan manusia.
Rasulullah menyebut riya’ dengan “syirik kecil”, karena sejatinya pelaku riya’ tidak mutlak menjadikan
amalan tersebut sebagai bentuk ibadah kepada manusia, serta sarana taqarrub kepadanya. Meskipun
begitu, bahayanya tak bisa dianggap sebelah mata.

Jama’ah shalat jum’at yang dirahmati Allah SWT

Jauh-jauh hari Rasulullah sudah memperingatkan kita tentang betapa bahayanya “syirik kecil” ini. Beliau
bersabda,
‫ي‬ ِ ‫ال ال ِّريَا ُء يَقُو ُل هَّللا ُ َع َّز َو َج َّل لَهُ ْم يَوْ َم ْالقِيَا َم ِة إِ َذا ج‬
َ ‫ُز‬ َ ‫ك اأْل َصْ َغ ُر يَا َرس‬
َ َ‫ُول هَّللا ِ ق‬ ُ ْ‫ك اأْل َصْ َغ ُر قَالُوا َو َما ال ِّشر‬
ُ ْ‫إِ َّن أَ ْخ َوفَ َما أَخَافُ َعلَ ْي ُك ْم ال ِّشر‬
ْ ُ ْ َ ْ ُ ُ ْ ُ َّ َ ْ
‫الناسُ بِأ ْع َمالِ ِه ْم اذهَبُوا إِلى ال ِذينَ كنت ْم ت َراءُونَ فِي ال ُّدنيَا فانظرُوا هَلْ تَ ِج ُدونَ ِعن َدهُ ْم َج َزا ًء‬ َ َّ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya: Apa itu
syirik kecil wahai Rasulullah? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Riya’, Allah ‘azza wajalla
berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat semua manusia diberi balasan atas amal-amal mereka:
Temuilah orang-orang yang dulu kau perlihatkan amalmu kepada mereka di dunia, lalu lihatlah apakah
kalian menemukan balasan disisi mereka?” (HR Ahmad)

Imam an-Nawawi dalam kitab Riyadush Shalihin, dalam bab Tahriimur Riya’ (pengharaman riya’)
menyebutkan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah. Dalam hadist tersebut
Rasulullah bersabda tentang tiga orang yang pertama kali di hisab pada hari kiamat. Mereka adalah
orang yang mati syahid dalam pertempuran, seseorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya,
serta orang yang selalu berinfaq di jalan Allah. Setelah mereka dipanggil, maka ditunjukkan kepada
mereka kenikmatan dan pahala yang banyak karena amal shalih yang telah mereka kerjakan. Namun
ternyata pahala mereka musnah, dan ketiganya justru menjadi penghuni neraka, karena ternyata amal
kebaikan yang mereka kerjakan di dunia hanya bertujuan mendapatkan pengakuan dan pujian dari
manusia. Mereka menjual pahala dan kenikmatan akhirat demi manisnya ucapan dan indahnya
pandangan orang lain. Na’udzu billahi min dzalik.

Bagaimana cara kita menjauhi virus yang satu ini? Solusinya adalah dengan berusaha untuk ikhlas di
setiap amal yang kita kerjakan, dan selalu berupaya protektif menjaganya. Karena setan tak akan pernah
menyerah untuk memberikan bisikan-bisikannya demi menggoyahkan dan merusak keikhlasan
seseorang. Agar manusia menjadi budak sesamanya, beramal untuk kepuasan semu, serta
mencampuradukkan tujuan hakiki amal shalih dengan tujuan bathil.

‫ إِنَّهُ ه َُو ْال َغفُوْ ُر ال َّر ِح ْي ُم‬،ُ‫ فَا ْستَ ْغفِرُوْ ه‬. َ‫أَقُوْ ُل قَوْ لِ ْي هَ َذا َوأَ ْستَ ْغفِ ُر هللاَ ْال َع ِظ ْي َم لِ ْي َولَ ُك ْم َولِ َسائِ ِر ْال ُم ْسلِ ِم ْين‬

Khutbah kedua

‫َر ْيكَ لَهُ َوأَ ْشهَ ُد أَ َّن ُم َح ِّمدًا َع ْب ُدهُ َو َرسُوْ لُهُ َو َعلَى آلِ ِه َوأَصْ َحابِ ِه َو َم ْن‬ ِ ‫ أَ ْشهَ ُد أَ ْن الَ إِلَهَ إِالَّ هللاُ َوحْ َدهُ الَ ش‬.‫ اَ ْل َح ْم ُد هَّلِل ِ َح ْمدًا َكثِ ْيرًا َك َما أَ َم َر‬,ِ ‫اَ ْل َح ْم ُد هَّلِل‬
َ
َ‫ق تُقَاتِ ِه َوالَ تَ ُموْ تُ َّن إِالَّ َوأنتُ ْم ُّم ْسلِ ُموْ ن‬ ْ
َّ ‫ فَاتَّقُوا هللاَ َح‬،ِ‫ي بِتَق َوى هللا‬ ِ ْ‫ أُو‬،ِ‫ أَ َّما بَ ْعدُ؛ ِعبَا َد هللا‬،‫تَبِ َعهُ ْم بِإِحْ َسا ٍن إِلَى يَوْ ِم ال ِّد ْي ِن‬
َ ‫ص ْي ُك ْم َوإِيَّا‬
Rasulullah pernah mengajarkan sebuah doa yang dapat kita jadikan perisai dari perbuatan syirik kecil
(Riya’). Beliau bersabda dalam sebuah hadist, “Takutlah kalian terhadap syirik karena dia lebih halus dari
langkah semut.” Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulallah, bagaimana kami harus
menghindarinya, sementara dia lebih halus dari langkah semut?” Maka beliau menjawab: “Berdo’alah
dengan membaca:

َ ‫اللَّهُ َّم إِنَّا نَعُو ُذ بِكَ ِم ْن أَ ْن نُ ْش ِر‬


‫ك بِكَ َش ْيئًا نَ ْعلَ ُمهُ َونَ ْستَ ْغفِرُكَ لِ َما اَل نَ ْعلَ ُم‬

(Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami
ketahui dan kami meminta ampun kepada-Mu terhadap apa yang tidak kami ketahui).” (HR Ahmad)

Sayyid Muhammad Nuh dalam kitabnya at-Taujihaad an-Nabawiyyah memberikan penjelasan, “Agama
Islam melarang dan melawan segala bentuk kesyirikan, sebagaimana yang disebutkan dalam banyak
ayat Al-Qur’an-yang di antaranya adalah syirik kecil-dengan memberikan ancaman dan peringatan,
karena melihat banyaknya manusia yang lalai darinya, meremehkannya, terperosok kedalamnya, dan
terlumuri oleh kenajisan syirik kecil ini. Hadits ini berisikan do’a agar kita terlepas dari penyakit syirik
kecil yang sering menyelinap ke dalam hati tanpa kita sadari dan kemudian merusaknya. Sebagaimana
seorang pencuri yang menyelinap ke rumah korbannya, kemudian mengambil barang-barang yang
dimiliki, sedang pemiliknya sedang terlelap dalam tidur.”

Semoga Allah senantiasa menjaga keikhlasan hati kita dan menjauhkan kita dari beramal karena pujian
dan penglihatan manusia karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui semua yang kita sembunyikan
dalam hati. Dan Allah hanya akan menerima amalan yang ditujukan untuk mencari ridha-Nya semata.

‫إن هللا ومالئكته يصلون على النبي ياأيها الذين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما‬

‫ار ْك َعلَى ُم َح َّم ٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح َّم ٍد َك َما‬ ِ َ‫ َوب‬.‫ك َح ِم ْي ٌد َم ِج ْي ٌد‬ ِ ‫صلَّيْتَ َعلَى إِب َْرا ِه ْي َم َو َعلَى‬
َ َّ‫ إِن‬،‫آل إِ ْب َرا ِه ْي َم‬ َ ‫اَللَّهُ َّم‬
َ ‫ص ِّل َعلَى ُم َح َّم ٍد َو َعلَى آ ِل ُم َح َّم ٍد َك َما‬
‫ك َح ِم ْي ٌد َم ِج ْي ٌد‬َ َّ‫ إِن‬،‫بَا َر ْكتَ َعلَى إِ ْب َرا ِه ْي َم َو َعلَى آ ِل إِ ْب َرا ِه ْي َم‬.

‫اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات األحياء منهم واألموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات‬

َ ‫اللَّهُ َّم إِنَّا نَعُو ُذ بِكَ ِم ْن أَ ْن نُ ْش ِر‬


‫ك بِكَ َش ْيئًا نَ ْعلَ ُمهُ َونَ ْستَ ْغفِرُكَ لِ َما اَل نَ ْعلَ ُم‬
‫ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى االخرة حسنة وقنا عذاب النار‬

‫سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسالم على المرسلين والحمد هلل رب العالمين‬