Anda di halaman 1dari 85

www.pelatihanlingkungan.

com

BERITA NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
No.1815,2014 KEMEN LH. Baku Mutu Air Limbah.
Pencab utan

PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 5 TAHUN 2014
TENTANG
BAKU MUTU AIR LIMBAH

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

Menimba ng : ba hwa untuk melaksa naka n ketentua n Pasal 20 ayat


(5) h u ruf b, Undang-Un dang nomor 32 Tah u n 2009
ten tang Perlin dungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup, perlu menetapkan PeraturanMenteri
Lingkungan Hidup ten tang Pengelolaan Baku Mutu Air
Limbah;
Mengingat : 1. Un dang-Un dang Nomor 32 Tah u n 2009 ten tang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembar Negara Rep ublik Indonesia Tahun 2009
nomor 140);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 ten
tang Pengen dalian Pen cemaran dan /atau Perusakan
Laut (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1999 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3816);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001
tenta ng Pengelolaa n Kualitas Air da n Pengendalia n
Pencemaran Air (Lembaran Negara Republik
2014 , No.1815
2

In don esia Tah u n 2001 Nomor 153, Tambah


an Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4161);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007
tenta ng Pembagia n Urusa n Pemerinta ha n Antara
Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan
Pemerinta h Daera h Kabupaten /Kota (Lembara n
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Ta
mba ha n Lembara n Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 4737);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012
ten tang Izin Lingkungan (Lembaran Negara
Rep ublik Indonesia tahun 2012 nomor 48);
6. Peratu r an Menteri Lingku ngan Hidu p Nomor 12
Ta hun 2006 tenta ng Persyarata n da n Tata Cara
Perizinan Pemb uangan Air Limbah ke Laut;
7. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 1 Tahun 2010 Tentang Tata Laksana
Pengendalian Pencemaran Air;
8. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 16 Tah u n 2010 ten tang Organisasi dan Tata
Kerja Kementerian Lingkungan Hidup sebagaimana
diubah dengan Peraturan Men teri Lingkungan
Hidup Nomor 18 Tahun 2012 tentang Perubahan
a tas Peratura n Menteri Lingkunga n Hidup Nomor
16 Ta hun 2010 tenta ng Orga nisasi da n Tata Kerja
Kementerian Lingkungan Hidup (Berita Negara
Rep ublik Indonesia Tahun 2012 Nomor 1067);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP
TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH.
P asa l 1
1. Industri pelapisan logam adalah industri yang
bergerak dalam bidang pelapisan suatu benda
logam atau plastik dengan logam lain untuk
menghasilka n keta ha na n terhadap korosi a ta u
peningkata n sifa t fisik a ta u meka nik permukaa n
spesifik, seperti konduktivitas elektrik, ketahanan
terhadap kea usa n a ta u pa nas, pelumasa n a ta u
sifat lainnya.
2. In dustri galvanis adalah in dustri yang kh u sus
2014 , No.1815
3

melapiska n loga m besi a ta u baja denga n loga


m seng baik secara elektrokimia a ta u pencelupa n.
3. In dustri minyak goreng adalah in dustri yang
menggunaka n ba ha n baku minyak kelapa sawit
untuk mengh asilkan minyak goreng dengan
menggunakan proses basah ataupun proses kering.
4. Indu stri monosodium glu tamat adalah indu stri
yang mem produksi monosodium glutam at secar a
fermentasi ya ng pada umumnya digunaka n sebagai
penyedap rasa.
5. In dustri inosin monofosfat adalah in dustri yang
memproduksi Inosin Monofosfat secara fermentasi
ya ng merupaka n produk penguat rasa maka na n
dan dapat dikonversi menjadi Guanosin Monofosfat
atau Adenosin Monofosfat.
6. In dustri pengolah an kopi adalah pengolah an biji
kopi menjadi prod uk melip uti kopi b ub uk, kopi
instan, kopi biji matang, kopi tiruan, kopi rendah
kafein, kopi camp ur, kopi celup, ekstrak kopi,
minuman kopi dalam kemasan dan prod uk
tu r u n an lainnya yang digu n akan u n tu k konsum si
ma nusia da n paka n.
7. In dustri elektronika adalah kegiatan ekonomi yang
mengola h ba ha n baku da n /a ta u mema nfaatka n
s umber daya sehingga menghasilkan produk
berupa bara ng da n /ata u jasa industri elektronika
ya ng mempunyai nilai ta mba h a ta u ma nfaat lebih
tinggi.
8. In dustri pengolah an susu adalah in dustri yang
menghasilkan s us u dasar dan memproses nya
sampai tahap paste urisasi maupun memproses nya
secara terpadu untuk menghasilkan s us u cair,
krim, susu kental manis, susu bubuk, keju,
mentega, da n /a ta u es krim.
9. In dustri pengolah an buah- buah an dan /atau sayura
n adala h usa ha da n /a ta u kegiata n pengola ha n
ya ng la ngsung menggunaka n ba ha n baku yang
meliputi buah n an as, buah lainnya, jamur, dan /atau
sayuran jenis lainya.
10. In dustri pengolah an h asil perikan an adalah usaha
da n /a ta u kegiata n di bida ng pengola ha n hasil
2014 , No.1815
4

perika na n meliputi kegiata n pengalenga


n, pembek uan dan /atau pemb uatan tepung ikan.
11. Industri pengola ha n hasil rumput la ut adala h
usa ha da n /a ta u kegiata n di bida ng pengolaha n
rump ut laut menjadi prod uk ak hir berupa bahan
bak u rump ut laut siap olah, prod uk olahan
setenga h jadi da n /ata u produk olaha n siap kons
umsi.
12. Industri pengola ha n kelapa adala h usa ha da n /ata u
kegiatan di bidang pengolahan kelapa untuk
dijadikan prod uk santan, prod uk tep ung, minyak
goreng kelapa, dan /atau produk olah an lainnya
yang digu n akan u n tu k konsum si
manusia dan pakan.
13. Industri pengola ha n daging adala h usa ha da n /ata u
kegiatan pengolahan daging menjadi prod uk ak hir
berupa daging bek u, prod uk olahan setengah jadi,
da n /a ta u ola ha n siap konsumsi.
14. In dustri pengolah an kedelai adalah usah a
da n /a ta u kegiata n ya ng mema nfaatka n kedelai
sebagai bahan bak u utama yang tidak bisa
diga ntika n denga n ba ha n lain.
15. Industri pengola ha n obat tradisional a ta u ja mu
adala h usa ha da n /ata u kegiata n ya ng
mema nfaatka n ba ha n a ta u ra mua n ba ha n ala mi
sebagai obat tradisional a ta u ja mu.
16. Industri peternaka n sapi da n babi adala h usa ha
peternakan sapi dan babi yang dilak ukan di tempat
yang tertentu serta perkembangbiakan ternaknya
dan manfaatnya diatur dan diawasi peternak-
peternak.
17. In dustri petrokimia h ulu adalah in dustri yang
mengola h ba ha n baku berupa senyawa-senyawa
hidrokarbon cair a ta u gas berupa natural
hydrocarbon menjadi senyawa-senyawa kimia
berupa olefin, aromatic dan syngas yang mencakup in
dustri yang mengh asilkan etilen , propilen, butadiene,
benzene, etilbenzene, toluen, xylen, s tyren dan c
umene.
18. Industri gula adala h usa ha da n /atau kegiata n di
bida ng pengolaha n tebu menjadi gula da n
2014 , No.1815
5

tu r u n annya yang digu n akan u n tu k konsum


si ma nusia da n paka n.
19. Industri Gula Rafinasi adala h usaha da n /a ta u
kegiatan yang melakukan proses pengolahan gula
men tah dengan menggunakan proses pengubah Ion
atau sejenis nya.
20. Industri rokok da n /ata u cerutu adala h usa ha
da n /a ta u kegiata n di bida ng pengolaha n tembaka
u da n /a ta u ba ha n ca mpura n lainnya menjadi
rokok da n /a ta u cerutu.
21. Proses primer basah dalam industri rokok
da n /a ta u cerutu adala h
proses pengola ha n cengkeh
da n /a ta u tembaka u ya ng menggunaka n
air dala m proses perenda ma n.
22. Proses primer kering dalam industri rokok
da n /a ta u cerutu adala h proses
pengola ha n cengkeh da n /a ta u
tembaka u ya ng menggunaka n uap untuk
melembabkan olah an cengkeh dan /atau tembaka u.
23. Proses sek under dalam ind ustri rokok dan /atau
cerutu adalah proses lanjutan dari proses primer
pada produksi rokok da n /ata u cerutu ya ng a ntara
lain meliputi proses pelintingan, pengepakan
sampai proses akhir.
24. Industri Oleokimia Dasar adalah industri yang
mem produksi senyawa kimia ber u pa Fatty Acid,
Fatty Alcohol, Alkyl Ester, dan Glycerin.
25. Hotel adalah jenis akomodasi yang
mempergu n akan sebagian atau selu r u h bangu n an
untuk menyediaka n jasa pelaya nan penginapa n
yang dikelola secara komersial yang meliputi hotel
berbintang.
26. Fasilitas pelaya na n kesehata n adala h suatu alat
da n /a ta u tempat ya ng digunaka n untuk
menyelenggaraka n upaya pelaya nan kesehata n,
baik promotif, preventif, k uratif maup un
rehabilitatif ya ng dilakuka n oleh Pemerinta h,
pemerinta h daera h, da n /ata u masyarakat.
27. Ruma h potong hewa n adala h suatu ba nguna n
a ta u kompleks ba nguna n denga n desain da n
kon truksi kh u sus yang memen u hi persyaratan
2014 , No.1815
6

teknis dan higienis tertentu serta digunakan


sebagai tempat pemotongan hewan yang meliputi
pemotonga n, pembersiha n la ntai tempat
pemotongan, pembersih an kandang pen ampungan,
pembersiha n ka nda ng isolasi, da n /ata
u pembersihan isi perut dan air sisa perendaman.
28. Sumber air adala h wada h air ya ng terdapat di a tas
da n di bawa h permukaa n ta na h, termasuk dala m
pengertia n ini akuifer, mata air, sungai, rawa,
da na u, situ, waduk, da n muara.
29. Air limba h adala h sisa dari suatu usa ha da n /ata u
kegiata n ya ng berwujud cair.
30. Air limbah domestik adalah air limbah yang berasal
dari usa ha da n /a ta u kegiata n pemukima n, ruma h
maka n, perka ntora n, perniagaa n, apartemen da n
asra ma.
31. Baku mutu air limba h adala h ukura n batas a ta u
kadar u n su r pencemar dan /atau jumlah u n su r
pencemar ya ng ditengga ng keberadaa nnya dala m air
limba h ya ng aka n dibua ng a tau dilepas ke dala m
media air dari suatu usa ha da n /a ta u kegiata n.
32. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup,
ya ng sela njutnya disebut Amdal, adala h kajia n
mengenai da mpak penting suatu Usa ha da n /a ta u
Kegiata n ya ng direnca naka n pada lingkunga
n hid up yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan ten tang
penyelenggaraan Usah a da n /a ta u Kegiata n.
33. Upaya Pengelolaa n Lingkunga n Hidup da n Upaya
Pema nta ua n Lingkunga n Hidup, ya ng sela njutnya
diseb ut UKL-UPL, adalah pengelolaan dan
pema nta ua n terhadap Usa ha da n /a ta u Kegiata n
yang tidak berdampak penting terhadap lingk ungan
hid up yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan ten tang penyelenggaraan Usah a
da n /a ta u Kegiata n.
34. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan
urusan pemerin tah an di bidang perlin dungan dan
pengelolaan lingkungan hidup.
2014 , No.1815
7

P asa l 2
Peraturan Menteri ini bertujuan untuk memberikan
acuan mengenai baku mutu air limbah kepada:
a. Gubernur dala m menetapka n baku mutu air limba h
ya ng lebih ketat; da n
b. Penyu su n dokum en Am dal, UKL-UPL, atau
dok umen kajianpemb uangan air limbah dalam
menghasilkan baku mutu air limbah yang lebih
spesifik dan /atau ketat dan berdasarkan kondisi
lingkungan setempat.
Pasal 3
(1) Usa ha da n /ata u kegiata n ya ng baku mutu air
limba hnya diatur dala m Peratura n Menteri ini
terdiri dari:
a. industri pelapisan logam dan galvanis;
b. industri penyamakan kulit;
c. industri minyak sawit;
d. industri karet;
e. industri tapioka;
f. in dustri monosodium glutamat dan inosin
monofosfat;
g. industri kayu lapis;
h. industri pengolahan s us u;
i. in dustri min uman ringan;
j. ind ustri sab un, deterjen dan prod uk-prod uk
minyak nabati;
k. industri bir;
l. industri baterai timbal asam;
m. in dustri pengolahan buah- buah an dan /atau
sayura n;
n. in dustri pengolah an h asil perikanan;
o. industri pengolahan hasil rumput la ut;
p. industri pengolahan kelapa;
q. in dustri pengolah an daging;
r. industri pengolahan kedelai;
s. . industri pengolahan
obat tradisional atau jamu;
t. industri peternakan sapi dan babi;
u. in dustri minyak goreng dengan proses basah
2014 , No.1815
8

da n /a ta u kering;
v. industri gula;
w. industri rokok dan /atau cer u tu;
x. industri elektronika;
y. ind ustri pengolahan kopi;
z. industri gula rafinasi;
aa. industri Petrokimia Hulu;
bb. industri rayon;
cc. industri keramik;
dd. industri asam tereftalat;
ee. polyethylene tereftalat;
ff. industri petrokimia hulu;
gg. industri oleokimia dasar;
hh. industri soda kostik /khlor;
ii. ind ustri p ulp dan kertas;
jj. industri ethanol;
kk. industri baterai kering;
ll. industri cat;
mm. industri farmasi;
nn. industri pestisida;
oo. ind ustri p up uk;
pp. industri tekstil;
qq. perhotelan;
rr. fasilitas pelayanan kesehatan;
ss. rumah pemotongan h ewan; dan
tt. domestik, yang melip uti:
1. kawasa n pemukima n, kawasa
n perka ntora n, kawasa n perniagaa n, dan
apartemen;
2. ruma h maka n denga n luas ba nguna n
lebih dari 1000 m 2 (seribu meter persegi);
dan
3. asrama yang berpenghuni 100 (seratus)
ora ng ata u lebih.
(2) Baku mutu air limba h bagi usaha da n /a ta u
kegiata n sebagaima na dimaksud pada ayat (1)
ditetapka n berdasarka n:
a. kema mpua n teknologi pengola ha n air limba
h yang umum digu n akan; dan /atau
www.pelatihanlingkungan.com
9 2 0 1 4 , No.1 8 15

b. d a ya t a m p u n g lin gk u n ga n d i wila ya h u s a h
a d a n / a t a u k egia t a n ,
u n t u k m em p er oleh k on se n t r a s i dan/
a t a u b eb a n p en ce m a r a n p a lin g t in ggi.
(3) Ba k u mu t u a ir lim b a h b a gi u s a h a d a n / a t
a u k egia t a n se b a ga im a n a d im a k s u d p a d a a
ya t (1 ) t er ca n t um d a la m La m p ir a n I s a m p
a i d en ga n La m p ir a n XLVI ya n g m eru p a k a n
b a gia n t id a k t er p is a h k a n d a r i Per a t u r a n Men
t er i in i.
Pa s a l 4
(1) Gu b er n u r ses u a i d en ga n k ewen a n ga nn ya wa
jib m en ja m in d a ya d u k u n g d a n d a ya t a m
p u n g lin gk u n ga n b er d a s a r k a n p eru n t u k a nn
ya t id a k t er la m p a u i a k ib a t d a r i p e la k s
a n aa n u s a h a d a n / a t a u k e gia t a n s e b a ga im a n
a d im a k s u d d a la m Pa s a l 3 a ya t (1 ).
(2) Gu n a m en ja m in t id a k t er la m p a u in ya d a ya d u k
u n g d a n d a ya t a m p u n g, gu b er n u r se b a
ga im a n a d im a k s u d p a d a a ya t (1 ) m ela k u k a n k
a jia n ilm ia h ya n g m emu a t p a lin g s e d ik it :
a. Per h it u n ga n d a ya t a m p u n g m e d ia air ;
b. Pa r a m et er ya n g d it et a p k a nd a n a n gk a b a k
u mu t u air lim b a h ;
c. Ka r a k t er is t ik a ir lim b a h ya n g d ib u a n g;
d. Ka r a k t er is t ik u s a h a d a n / a t a u k e gia t a n ;
e. Da m p a k p em b u a n ga n ;
f. Per a t u r a n p eru n d a n g-u n d a n ga n t er k a it d
en ga n b a k u mu t u air lim b a h ; d a n
g. Rek om en d a s i b a k u mu t u air lim b a h b a ru .
(3) Pela k s a n aa n k a jia n ilm ia h s e b a ga im a n a d im a k
s u d p a d a a ya t (2 ) d ila k u k a n p a lin g s e d ik it 1 (s
a t u ) k a li d a la m 5 (lim a ) t a h u n .
(4) Ha s il k a jia n ilm ia h se b a ga im a n a d im a k s u d p
a d a a ya t (2 ) d igu n a k a n u n t u k m en ya t a k a n :
a. b elum t er la m p a u in ya d a ya duk
ung dan d a ya t a m p u n g; a t a u
b. t ela h t er la m p a u in yad a ya d u k u n g d a n d a
ya t a m p u n g.
(5) J ik a h a s il k a jia n m en u n ju k a n b a k u mu t u a ir
www.pelatihanlingkungan.com
2014 , No.1815
10

limba h ya ng ditetapka n dala m Peratura n Menteri ini


menyebabka n daya dukung da n daya ta mpung beban
pencemaran belum terlampaui sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) huruf a, gubernur sesuai dengan
kewenangannya men etapkan nilai baku
mutu air limba h ya ng sa ma denga n Peratura n
Menteri ini.
(6) Jika hasil kajia n menunjuka n baku
mutu air limba h ya ng ditetapka n dala m Peratura n
Menteri ini menyebabka n daya dukung da n daya ta
mpung beba n pencemara n tela h terla mpa ui
sebagaima na dimaksud pada ayat (4) huruf b,
gubernur sesuai dengan kewen angannya wajib
menetapkan nilai baku mutu air limbah yang lebih
spesifik dan /atau lebih ketat dari baku
mutu air limbah dalam Peraturan Menteri ini.
Pasal 5
Terhadap baku mutu air limba h ya ng ditetapka n oleh
gubernur sebagaima na dimaksud dala m Pasal 4 ayat
(5) dan ayat (6), bupati /walikota wajib
menggunakannya dalam men erbitkan izin
pembuangan air limbah ke s umber air, kec uali
diperoleh baku mutu lain yang lebih ketat dari hasil
kajia n dokumen lingkunga n a ta u kajia n pembua nga n
air limbah ke sumber air.
Pasal 6
(1) Dalam hal gubernur belum melakukan kajian
ilmia h da n /a ta u menetapka n baku mutu air
limbah yang lebih spesifik dan /atau lebih ketat
sebagaima na dimaksud dala m Pasal 4,
bupati /walikota dalam menerbitkan izin
pembua nga n air limba h ke sumber air wajib
menggunaka n baku mutu lebih ketat ya ng
diperoleh dari hasil kajian dokumen lingkungan
a ta u kajia n pembua nga n air limba h ke sumber air.
(2) Dalam hal air limbah dibuang ke laut, Menteri
dala m menerbitka n izin pembua nga n air limba h ke
laut wajib menggunakan baku mutu air limbah
yang diperoleh dari hasil kajian dok
umen lingkunga n a ta u kajia n pembua nga n air limba
h ke laut.
2014 , No.1815
11

Pasal 7
(1) Baku mutu air limba h bagi usa ha da n /a ta
u kegiata n sebagaima na dimaksud dalam Pasal 3 ayat
(1) ditinjau paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima)
tah u n .
(2) Peninja ua n sebagaima na dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dengan kajian ilmiah mengen ai:
a. kema mpua n daya ta mpung beba n pencemara
n air; da n /a ta u
b. perkembangan teknologi yang lebih baik.
Pasal 8
Jika in dustri pengolah an buah- buah an dan /atau sayura
n sebagaima na dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) hur uf m
melakukan:
a. satu jenis kegiatan pengolah an, wajib memen u hi
baku mutu air limba h sebagaimana terca ntum
dala m Lampira n XIII bagia n A Peratura n Menteri
ini;
b. kegiatan pengolah an gabungan, wajib memen u hi
baku mutu air limba h sebagaimana terca ntum dala
m La mpira n XIII bagia n B Peratura n Menteri ini;
atau
c. pengola ha n air limba h secara terpusat di wilaya h
kawasan industri, wajib memenuhi baku mutu air
limba h sebagaima na terca ntum dala m Lampira n
XIII bagian C Peraturan Menteri ini.
Pasal 9
Jika industri pengolahan hasil perikanan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf n melakukan:
a. satu jenis kegiatan pengolah an, wajib memen u hi
baku mutu air limba h sebagaimana terca ntum
dala m Lampira n XIV bagia n A Peratura n Menteri
ini;
b. kegiatan pengolah an gabungan, wajib memen u hi
baku mutu air limba h sebagaimana terca ntum
dala m La mpira n XIV bagia n B Peratura n Menteri
ini; atau
c. pengola ha n air limba h secara terpusat di wilaya h
kawasan industri, wajib memenuhi baku mutu air
2014 , No.1815
12

limba h sebagaima na terca ntum dala m Lampira


n XIV bagia n C Peratura n Menteri ini.
Pasal 10
Jika industri gula sebagaima na dimaksud dala m Pasal
3 ayat (1) huruf v memiliki kapasitas prod uksi:
a. k urang dari 2500 (d ua rib u lima ratus) ton teb u per
hari, wajib memenuhi baku mu tu air lim bah
sebagaima na terca ntum dala m La mpira n XXII
bagia n A Peratura n Menteri ini;
b. a ntara 2500 (dua ribu lima ratus) ton sa mpai dengan
10.000 (sep uluh rib u) ton teb u per hari wajib
memenuhi baku mu tu air lim bah sebagaima na
terca ntum dala m La mpira n XXII
bagia n B Peratura n Menteri ini; ata u
c. lebih dari 10.000 (sep uluh rib u) ton teb u per hari,
wajib memenuhi baku mu tu air lim
bah sebagaima na terca ntum dala m La
mpira n XXII
bagia n C Peratura n Menteri ini.
Pasal 11
Jika industri rokok da n /a ta u cerutu sebagaima na
dimaksud dala m Pasal 3 ayat (1) huruf w ya ng sumber
air limba hnya berasal dari:
a. proses primer basah dan proses sekunder, termas uk
ya ng ha nya berasal dari proses primer basa h, wajib
memenuhi baku mu tu air limbah sebagaimana
terca ntum dala m La mpira n XXIII bagia n A
Peraturan Menteri ini;
b. proses primer basah dan proses sekunder, termas uk
ya ng ha nya berasal dari proses primer basa
h, dengan air limbah domestik, wajib memenuhi bak u
mutu air limba h sebagaima na terca ntum dala m
Lampiran XXIII bagian B Peraturan Menteri ini;
c. proses primer kering dan /atau proses sekunder, ter
m asuk industri rokok dan /atau cer u tu tanpa
cengkeh, wajib memenuhi baku mutu air limbah
sebagaima na terca ntum dala m Lampira n XXIII
bagia n C Peratura n Menteri ini;
d. proses primer kering dan /atau proses sekunder,
ter m asuk industri rokok dan /atau cer u tu tanpa
cengkeh, dengan air limbah domestik, wajib
memenuhi baku mu tu air limbah sebagaimana
13

terca ntum dala m Lampira n XXIII bagia n D


Peraturan Menteri ini.
Pasal 12
Jika fasilitas pelaya na n kesehata n sebagaima
na dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf rr melakukan:
a. pengolahan limbah domestik, wajib memenuhi bak u
mutu air limba h sebagaima na terca ntum dala m
Lampiran XLIV bagian A Peraturan Menteri ini;
b. pengola ha n limba h ba ha n berba haya da n beracun,
wajib memenuhi baku mu tu air lim
bah sebagaima na terca ntum dala m La
mpira n XLIV
bagia n B Peratura n Menteri ini; ata u terca n t um …

c. melakukan pengolahan limbah domestik dan limbah


bah an berbah aya dan beracun, wajib memen u
hi baku mu tu air lim bah sebagaim ana tercantum
dala m Lampira n XLIV bagia n A da n bagia n B
Peraturan Menteri ini.
Pasal 13
(1) Dala m hal Industri Baterai Timbal Asa
m sebagaima na dimaksud dala m pasal 3 ayat (1)
huruf a:
a. Tela h beroperasi pada saat ditetapka nnya
Per aturan Menteri ini, berlaku baku mu tu air
limba h sebagaima na terca ntum dalam la mpira n
XII bagia n A ya ng merupaka n bagia n tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini;
b. Tela h beroperasi pada saat ditetapkan Peratura n
Men teri ini dan akan men ambah kan unit baru,
ter hadap unit bar u berlaku baku mu tu air
limba h sebagaima na terca ntum dalam la mpira n
XII bagian B yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(2) Dala m hal Industri Baterai Timbal Asa m
sebagaima na dimaksud dala m pasal 3 ayat (1)
huruf a direncanakan akan beroperasi setelah
ditetapkannya Peraturan Menteri ini, berlak u bak u
mutu air limba h sebagaima na terca ntum
dala m
la mpira n XII bagia n B ya ng merupaka n bagia
n tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(3) Industri Baterai Timbal Asa m sebagaima na
2014 , No.1815
14

dimaksud pada ayat (1) huruf a wajib memenuhi


baku mutu air limba h sebagaimana terca ntum
dala m Lampira n XII bagia n B ya ng merupaka
n bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri
ini, paling la ma 3 (tiga) ta hun sejak Peratura
n Menteri ini diundangkan.
Pasal 14
(1) Dala m hal usa ha da n /ata u kegiata n belum
memiliki baku mutu air limbah yang ditetapkan,
berlaku baku mu tu air lim bah sebagaimana
tercantum dalam Lam pir an XLVII yang mer u pakan
bagia n tidak terpisa hka n dari Peratura n Menteri ini.
(2) Baku mutu air limba h usa ha da n /a ta u kegiata n
sebagaima na dimaksud pada ayat (1) berlaku dengan
keten tuan:
a. jika air limba h ya ng dibua ng ke bada n air
penerima sungai kelas I maka usa ha da n /ata u
kegiatan terseb ut mengik uti bak u mutu
air limbah golongan I dalam tabel baku mutu
air limba h bagi usa ha da n /a ta ukegiata n ya
ng belum memiliki baku mutu air limbah yang
ditetapka n sebagaima na terca ntum dala
m La mpiran XLVII;
b. jika kand ungan BOD k urang dari 1.500 pp m
(seribu lima ratus parts per million ) dan COD
k urang dari 3.000 pp m (tiga rib u parts per
million ) pada air limbah sebelum dilak ukan
pengola ha n, maka diberlakuka n baku mutu air
limbah golongan I dalam tabel baku mutu air
limba h bagi usa ha da n /a ta u kegiata n ya ng
belum memiliki baku mutu air limbah yang
ditetapka n sebagaima na terca ntum dala m
Lampira n XLVII, wala upun bada n air
penerimanya bukan s ungai kelas I;
c. jika kandungan BOD lebih dari 1.500 (seribu
lima ratus parts per million ) dan /atau COD lebih
dari 3.000 pp m (tiga rib u parts per million ) pada
air limbah sebelum dilak ukan pengolahan, dan
bada n air penerima nya buka n sungai kelas I
maka diberlakuka n baku mutu air limba h
golongan II dalam tabel baku mutu air limbah
bagi usa ha da n /ata u kegiata n ya ng belum
2014 , No.1815
15

memiliki baku mutu air limbah yang ditetapkan


sebagaima na terca ntum dala m Lampira n XLVII.
Pasal 15
(1) Dala m hal usa ha da n /ata u kegiatan ya ng belum
memiliki baku mutu air limbah yang ditetapkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 sudah
beroperasi, dapat mengurangi parameter
pemeriksaan ses uai dengan alur diagram
pengura nga n para meter pemeriksaa n sebagaima na
terca ntum dala m Lampira n XLVII bagia n B denga n
ketentuan:
a. konsentrasi pencemar dalam aliran keluar IPAL
selalu lebih kecil dari 25% (dua puluh lima
persen) dan /atau selalu lebih kecil dari 75% (tuju
h pulu h lima persen) u n tu k aliran masu k IPAL
dari baku mutu sebagaima na terca ntum
dala m La mpira n XLVII; da n
b. melakuka n a nalisa para meter air limba h
sebagaimana dimaksud pada huruf a paling
sedikit 10 (sepulu h) kali berurutan dan selu r u h
data dik ump ulkan paling lama dalam waktu 5
(lima) tahun.
(2) Dala m hal usa ha da n /ata u kegiatan ya ng belum
memiliki baku mutu air limbah yang ditetapkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 belum
beroperasi, dapat mengurangi parameter
pemeriksaan sebagaimana tercantum dalam
Lampiran XLVII dengan keten tuan:
a. telah melakukan kajian air limbah yang
dih asilkan untuk pen en tuan golongan
penggunaa n sebagaima na terca ntum dala m
La mpiran XLVII;
b. melakuka n kajia n untuk menentuka n
para meter kunci terka ndung air limba h ya ng
meliputi :
1) bahan bak u yang digunakan;
2) proses yang terjadi;
3) prod uk yang dihasilkan;
4) Identifikasi setiap senyawa yang terkandung
dalam a ngka 1, 2 dan 3 di atas.
2014 , No.1815
16

c. konsentrasi pencemar dala m alira n keluara n


IPAL selalu lebih kecil dari 25% (dua puluh lima
persen) dan /atau selalu lebih kecil dari 75%
(tuju h pulu h lima persen) u n tu k aliran
masuka n IPAL dari baku mutu sebagaima na
terca ntum dala m Lampira n XLVII; dan
d. kajia n sebagaima na dimaksud pada huruf b
dilak ukan terhadap seluruh parameter
sebagaima na terca ntum dala m La mpira n XLVII
sebanyak 5 (lima) kali berturut-turut dengan
renta ng a ntar penga mata n paling cepat satu
minggu dikum pulkan dalam waktu paling lama
satu tahun.
(3) Pemeriksaan parameter sebagaimana dimaks ud
pada ayat (1) huruf a dan huruf b, dan ayat (2)
h u ruf c dan h u ruf d dilakukan di laboratorium
terakreditasi.
Pasal 16
Setiap usa ha da n /a ta u kegiatan sebagaima
na dimaksud dalam pasal 3 ayat (1) wajib:
a. melakuka n pema nta ua n kualitas air limba h paling
sedikit 1 (satu) kali setiap bulannya ses uai dengan para
meter ya ng tela h ditetapka n dala m izin
pembuangan air limbah;
b. melaporka n hasil pema nta ua n sebagaima
na dimaksud pada huruf a sek urang-k urangnya 3
(tiga) b ulan sekali kepada penerbit izin pemb uangan
air limba h, denga n tembusa n kepada
Menteri da n gubern u r sesuai dengan kewen
angannya.
c. lapora n hasil pema nta ua n sebagaima na dimaksud
pada huruf b paling sedikit memuat:
1. catata n debit air limba h haria n;
2. ba ha n baku da n /ata u produksi senyata
nya h arian;
3. kadar parameter bak u mutu limbah cair; dan
4. penghitungan beban air limbah.
d. lapora n sebagaima na dimaksud pada huruf c
disusun berdasarka n format pelapora n
sebagaima na Lampira n XLVIII Peratura n Menteri ini.
2014 , No.1815
17

Pasal 17
Pada saat Peratura n Menteri ini mulai berlaku:
1. . Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 51 Tahun 1995 Tentang Baku Mutu
Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri;
2. . Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 52 Tahun 1995 Tentang Baku Mutu
Limbah Cair Bagi Kegiatan Hotel;
3. . Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 58 Tahun 1995 Tentang Baku Mutu
Limbah Cair Bagi Kegiata n Ruma h Sakit;
4. . Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 09 Tahun 2007 Tentang Baku Mutu
Limbah Cair Bagi Industri Rayon;
5. . Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 122 Tahun 2004 Tentang Baku
Mutu Air Limba h Bagi Usa ha da n /ata u Kegiata
n Industri Pup uk;
6. . PeraturanMenteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 02 Tahun 2006 Tentang Baku Mutu Air
Limbah Rumah Potong Hewan;
7. . Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 05 Tahun 2007 Tentang Baku Mutu
Air Limba h Bagi Usa ha da n /ata u Kegiatan Pengola
ha n Bua h-bua ha n da n /ata u Sayura n;
8. . Peraturan Menteri Negara Lingkungan Nomor
06 Tahun 2007 Tentang Baku Mutu Air Limbah
Bagi In dustri Pengolahan Perikanan;
9. . Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 08 Tahun 2007 Tentang Baku
Mutu Air Limba h Bagi Usa ha da n /ata u Kegiata
n Industri Petrokimia H ulu;
10. . Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 10 Tahun 2007 Tentang Baku
Mutu Air Limba h Bagi Usa ha da n /ata u Kegiata
n Industri Purified Terephthalic Acid Dan Poly
Ethylene Terephthalate;
11. . Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Baku Mutu
Air Limba h Bagi Usa ha da n /ata u Kegiatan Pengola
ha n
2014 , No.1815
18

Rum pu t Lau t;
12. . Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 16 Tahun 2008 Tentang Baku
Mutu Air Limba h Bagi Usa ha da n /ata u Kegiata
n Industri Ker amik;
13. . Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Baku Mutu Air
Limba h Ola ha n Kelapa;
14. . Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Baku Mutu Air
Limba h Ola ha n Daging;
15. . Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 15 Tahun 2008 Tentang Baku Mutu Air
Limbah Industri Olahan Kedelai;
16. . Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 9 Tahun 2009 Tentang Baku
Mutu Air Lim bah Industri Jamu;
17. . Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Baku Mutu
Air Limba h Industri Bagi Usa ha da n /ata u Kegiata n
Peternaka n Sapi da n Babi;
18. . Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 04 Tahun 2010 Tentang Baku Mutu
Air Limba h Industri Bagi Usa ha da n /ata u Kegiata n
In dustri Minyak Goreng;
19. . Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 05 Tahun 2010 Tentang Baku Mutu
Air Limba h Industri Bagi Usa ha da n /ata u Kegiata n
Industri G ula; dan
20. . Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 06 Tahun 2010 Tentang Baku Mutu
Air Limba h Industri Bagi Usa ha da n /ata u Kegiata n
Ind ustri Rokok dan /atau Cerutu;
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.
Pasal 18
Peratura n Menteri ini mulai berlaku pada ta
nggal diundangkan.
2014 , No.1815
19

Agar setiap orang mengetah uinya, memerin tah kan


pengundangan Peraturan Men teri ini dengan penempata
nnya dala m Berita Negara Republik In don esia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 15 Oktober 2014
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP
REPUBLIK INDONESIA,

BALTHASAR KAMBUAYA

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 25 Oktober 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

YASONNA H. LAOLY
2014 , No.1815
20
2014 , No.1815
21
2014 , No.1815
22
2014 , No.1815
23
2014 , No.1815
24
2014 , No.1815
25
2014 , No.1815
26
2014 , No.1815
27
2014 , No.1815
28
2014 , No.1815
29
www.pelatihanlingkungan.com
2014 , No.1815
30
2014 , No.1815
31
2014 , No.1815
32
2014 , No.1815
33
2014 , No.1815
34
2014 , No.1815
35
2014 , No.1815
36
2014 , No.1815
37
2014 , No.1815
38
2014 , No.1815
39
2014 , No.1815
40
2014 , No.1815
41
2014 , No.1815
42
www.pelatihanlingkungan.com
43 2 0 1 4 , No.1 8 15
www.pelatihanlingkungan.com
2014 , No.1815
44
2014 , No.1815
45
2014 , No.1815
46
2014 , No.1815
47
2014 , No.1815
48
2014 , No.1815
49
2014 , No.1815
50
2014 , No.1815
51
2014 , No.1815
52
2014 , No.1815
53
2014 , No.1815
54
2014 , No.1815
55
2014 , No.1815
56
2014 , No.1815
57
2014 , No.1815
58
2014 , No.1815
59
2014 , No.1815
60
2014 , No.1815
61
2014 , No.1815
62
2014 , No.1815
63
2014 , No.1815
64
2014 , No.1815
65
2014 , No.1815
66
2014 , No.1815
67
2014 , No.1815
68
2014 , No.1815
69
2014 , No.1815
70
2014 , No.1815
71
2014 , No.1815
72
2014 , No.1815
73
2014 , No.1815
74
2014 , No.1815
75
2014 , No.1815
76
2014 , No.1815
77
2014 , No.1815
78
2014 , No.1815
79
2014 , No.1815
80
2014 , No.1815
81
2014 , No.1815
82
2014 , No.1815
83
2014 , No.1815
84
2014 , No.1815
85