Anda di halaman 1dari 3

Dasar teori

1.    Klasifikasi
Klasifikasi Tumbuhan Salam
Adapun klasifikasi dari tanaman salam ini sebagai berikut:

 Kingdom: Plantae (Tumbuhan)


 Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan p dengan pembuluh)
 Super Divisi: Spermatophyta (Mampu menghasilkan biji)
 Divisi: Magnoliophyta (Memiliki kemampuan berbunga)
 Kelas: Magnoliopsida (memiliki keping dua atau dikotil)
 Sub Kelas: Rosidae
 Ordo: Myrtales
 Famili: Myrtaceae (dari suku jambu-jambuan)
 Genus: Syzygium
 Spesies: Syzygium polyanthum Wigh Walp

Kandungan kimia daun salam

Kemampuan yang dimiliki daun salam, tentunya tidak terlepas dari zat dan senyawa
didalamnya, diantaranya serat, minyak asiri, sitral, tannin, flavonoid, metal kavikol, lemak
jenuh, pufa, dan mufa. Daun ini juga mengandung vitamin A, B, C, dan D, serta kalsium, zat
besi, kalium, dan magnesium.

2.   Tujuan Ekstraksi


Tujuan dari ekstraksi adalah untuk menarik bahan atau zat-zat yang dapat larut dalam
bahan yang tidak larut dengan menggunakan pelarut cair (Tobo, 2001).
Ekstraksi didasarkan pada perpindahan massa komponen zat padat ke dalam pelarut
dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka, kemudian berdifusi ke dalam
pelarut dan setelah pelarut diuapkan maka zat aktifnya akan diperoleh (Adrian, 2000).
Tujuan Ekstraksi yaitu penyarian komponen kimia atau zat-zat aktif dari bagian
tanaman obat, hewan dan beberapa jenis hewan termasuk biota laut. Komponen kimia yang
terdapat pada tanaman, hewan dan beberapa jenis ikan pada umumnya mengandung senyawa-
senyawa yang mudah larut dalam pelarut organik (Adrian, 2000).
Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman adalah pelarut organik
akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat
aktif akan larut dalam pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar
sel dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan
zat aktif di dalam dan di luar sel (Adrian, 2000).
.    Jenis-jenis Ekstraksi
Jenis ekstraksi bahan alam yang sering dilakukan adalah (Tobo, 2001) :
a.    Secara panas seperti refluks dan destilasi uap air karena sampel langsung dipanaskan dengan
pelarut; dimana umumnya digunakan untuk sampel yang mempunyai bentuk dan dinding sel
yang tebal.
b.    Secara dingin misalnya maserasi, perkolasi, dan soxhlet. Dimana untuk maserasi dilakukan
dengan cara merendam simplisia, sedangkan soxhlet dengan cara cairam penyari dipanaskan
dan uap cairan penyari naik ke kondensor kemudian terjadi kondensasi dan turun menyari
simplisia.
Maserasi
Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana, yang dilakukan dengan cara
merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar
terlindung dari cahaya (Adrian, 2000).
Maserasi dapat dilakukan modifikasi misalnya yaitu dengan cara:

Digesti
Digesti adalah cara maserasi dengan menggunakan pemanasan lemah, yaitu pada suhu 40 –
50oC. Cara maserasi ini hanya dapat dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya tahan
terhadap pemanasan.
Dengan pemanasan akan diperoleh keuntungan antara lain
a. kekentalan pelarut berkurang, yang dapat mengakibatkan berkurangnya lapisan-
lapisan batas,
b. daya melarutkan cairan penyari akan meningkat, sehingga pemanasan tersebut
mempunyai pengaruh yang sama dengan pengadukan,
c. koefisien difusi berbanding lurus dengan suhu absolut dan berbanding terbalik dengan
kekentalan, hingga kenaikan suhu akan berpengaruh pada kecepatan difusi. Umumnya
kelarutan zat aktif akan meningkat bila suhu dinaikkan
d. jika cairan penyari mudah menguap pada suhu yang digunakan maka perlu dilengkapi
dengan pendingin balik,sehingga cairan akan menguap kembali kedalam bejana.