Anda di halaman 1dari 9

Undescencus Testis atau Undescended testis ke bagian bawah dinding skrotum yang pada

Testicle minggu-minggu terakhir intrauterin akan


Embriologi berkontraksi dan menarik testis ke skrotum. Posisi
Ketika mesonepros mengalami degenerasi, suatu testis saat turun berada di posterior processus
ligamen yang disebut gubernakulum akan turun pada vaginalis (retroperitoneal) sekitar 4 minggu
masing-masing sisi abdomen dari pole bawah gonal kemudian (umur 32 minggu) testis masuk skrotum.
melintas oblik pada dinding abdomen (yang kelak Ketika turun, testis membawa serta duktus deferens
menjadi kanalis inguinalis) dan melekat pada dan vasanya sehingga ketika testis turun, mereka
labioscrotal swelling ( yang kelak menjadi skrotum terbungkus oleh perluasan dinding abdomen.
atau labia majora). Kemudian kantong peritoneum Perluasan fascia transversalis membentuk fascia
yang disebut processus vaginalis berkembang pada spermatica interna, m. obliqus abdominal
masing-masing sisi ventral gubernakulum dan membentuk fascia kremaster dan musculus
mengalami herniasi melalui dinding abdomen bawah kremaster dan apponeurosis m. obliqus abdomenus
sepanjang jalur yang dibentuk oleh gubernakulum. eksternal membentuk fascia spermatica externus di
Masing-masing processua vaginalis membawa dalam skrotum. Masuknya testis di skrotum di ikuti
perluasan dari lapisan pembentuk dinding abdomen, dengan kontraksi kanalis inguinalis yang
bersama-sama membentuk funikulus spermatikus. menyelubungi funikulus spermatikus. Selama
Lubang yang ditembus oleh processus vaginalis pada periode perinatal processus vaginalis mengalami
fascia transversalis menjadi anulus inguinalis obliterasi, mengisolasi suatu tunica vaginalis yang
internus, sedang lubang pada aponeurosis m. membentuk suatu kantong yang menutupi testis.
obliquus abdominis externus membentuk anulus
inguinalis eksternus. Pada umumnya testis turun pada skrotum secara
sempurna pada akhir tahun pertama. Kegagalan testis
Sekitar minggu ke-28 intrauterine, testis turun dari turun tetapi masih pada jalur normalnya disebut
dinding posterior abdomen menuju anulus inguinalis UDT. Testis dapat berada sepanjang jalur penurunan.
internus. Perubahan ini terjadi akibat pembesaran ( Gb IA ) Kadang setelah melewati canalis
ukuran pelvis dan pemanjangan ukuran tubuh, inguinalis testis menyimpang dari jalur yang
karena gubernakulum tumbuh tidak sesuai seharusnya, dan menempati lokasi abnormal. Hal ini
proporsinya, mengakibatkan testis berubah posisi, disebut testis ektopik. Testis bisa terletak di
jadi penurunannya adalah proporsi relatif terhadap interstitial (superfisial dari m. obliquus abdominis
pertumbuhan dinding abdomen. Peranan externus) di paha sisi medial, dorsal penis atau
gubernakulum pada awalnya adalah membentuk kontralateralnya. Diduga disebabkan oleh bagian
jalan untuk processus vaginalis selama pembentukan gubernakulum yang melewati lokasi abnormal, dan
kanalis inguinalis, kemudian gubernakulum juga testis kemudian mengikutinya. (Lihat gambar 1B) .
sebagai jangkar/ pengikat testis ke skrotum. Massa
gubernakulum yang besar akan mendilatasi jalan
testis, kontraksi, involusi, dan traksi serta fiksasi
pada skrotum akan menempatkan testis dalam
kantong skrotum. Ketika tesis telah berada di
kantong skrotum gubernakulum akan diresorbbsi
(Backhouse, 1966) Umumnya dipercaya bahwa
gubenakulum tidak menarik testis ke skrotum.
Perjalanan testis melalui kanalis inguinalis dibantu
oleh peningkatan tekanan intra abdomen akibat dari
pertumbuhan viscera abdomen.

Mekanisme yang berperan dalam proses turunnya


testis belum sepenuhnya dimengerti, dibuktikan Gambar. True UDT dan ectopic
untuk turunnya testis ke skrotum memerlukan aksi
androgen yang memerlukan aksis hipotolamus- Kriptorkismus berasal dari kata cryptos (Yunani)
hipofise-testis yang normal. Mekanisme aksi yang berarti tersembunyi dan orchis (latin) yang
androgen untuk merangsang turunnya testis tidak berarti testis. Nama lain dari kriptorkismus adalah
diketahui, tetapi diduga organ sasaran androgen undescended testis, tetapi harus dijelaskan lanjut
kemungkinan gubernakulum, suatu pita apakah yang di maksud kriptorkismus murni, testis
fibromuskuler yang membentang dari pole bawah ektopik, atau pseudokriptorkismus. Kriptorkismus
murni adalah suatu keadaan dimana setelah usia satu Hormon gonadotropin maternal yang inadequat
tahun, satu atau dua testis tidak berada didalam menyebabkan desensus inkomplet. Hal ini
kantong skrotum, tetapi berada di salah satu tempat memperjelas kasus kriptorkismus bilateral pada bayi
sepanjang jalur penurunan testis yang normal. prematur ketika perkembangan gonadotropin
Sedang bila diluar jalur normal disebut testis ektopik, maternal tetap dalam kadar rendah sampai 2 minggu
dan yang terletak di jalur normal tetapi tidak didalam terakhir kehamilan. Tetapi teori ini sulit diterapkan
skrotum dan dapat didorong masuk ke skrotum serta pada kriptorkismus unilateral. Tingginya
naik lagi bila dilepaskan disebut pseudokritorkismus kriptorkismus pada prematur diduga terjadi karena
atau testis retraktil tidak adequatnya HCG menstimulasi pelepasan
testosteron masa fetus akibat dari imaturnya sel
Epidemiologi Leydig dan imaturnya aksis hipothalamus-hipofisis-
Besar insidensi UDT berbeda pada tiap-tiap umur. testis. Dilaporkan suatu percobaan menunjukkan
Bayi baru lahir (3 – 6%), satu bulan (1,8%), 3 bulan desensus testis tidak terjadi pada mamalia yang
(1,5%), Satu tahun (0,5 – 0,8%). Bayi lahir cukup hipofisenya telah diangkat .
bulan 3% diantaranya kriptorkismus, sedang lahir Rasfer et al (1986) memperlihatkan penurunan testis
kurang bulan sekitar 33% . Pada berat badan bayi dimediasi oleh androgen yang diatur lebih tinggi
lahir (BBL) dibawah 2000 gram insidensi UDT 7,7% oleh gonadotropin pituitary. Proses ini memicu kadar
BBL 2000-2500 (2,5%), dan BBL diatas 2500 dihidrotestotsteron yang cukup tinggi, dengan hasil
(1,41%) Insidensi kriptorkismus unilateral lebih testis mempunyai akses yang bebas ke skrotum .
tinggi dibanding kriptorkismus bilateral. Sedang Toppari & Kaleva menyebut defek dari aksis
insidensi sisi kiri lebih besar (kiri 52,1% vs kanan hipotalamus-pituitary-gonadal akan mempengaruhi
47,9%). Di Inggris, insidensinya meningkat lebih turunnya testis. Hormon utama yang mengatur testis
dari 50% pada kurun waktu 1965 – 1985. di FKUI – adalah LH dan FSH yang doproduksi oleh sel
RSUPCM kurun waktu 1987 – 1993 terdapat 82 basofilik di pituitary anterior yang diatur oleh
anak kriptorkismus, sedang di FKUSU – RSUP. LHRH. FSH akan mempengaruhi mempengaruhi sel
Adam Malik Medan kurun waktu 1994 – 1999 sertoli, epitel tubulus seminiferus. Kadar FSH naik
terdapat 15 kasus. pada kelainan testis
Kriptorkismus yang disertai defisiensi gonadotropin
Etiologi dan adrenal hipoplasia kongenital mungkin
Penyebab pasti kriptorkismus belum jelas. Beberapa berhubungan dengan sifat herediter. Corbus dan
hal yang berhubungan adalah O’Connor, Perreh dan O’Rourke melaporkan
A. Abnormalitas gubernakulum testis beberapa generasi kriptorkismus dalam satu
Penurunan testis dipandu oleh gubernakulum. Massa keluarga2. Juga ada penelitian yang menunjukkan tak
gubernakulum yang besar akan mendilatasi jalan aktifnya hormon Insulin Like Factor 3 ( Insl3) sangat
testis, kontraksi, involusi, dan traksi serta fiksasi mempengaruhi desensus testis . Insl3 diperlukan
pada skrotum akan menempatkan testis dalam untuk diferensiasi dan proliferasi gubernakulum.
kantong skrotum. Ketika tesis telah berada di Faktor lain yang diduga berperan ialah berkurangnya
kantong skrotum gubernakulum akan diresorbsi stimulating substances yang diproduksi oleh nervus
(Backhouse, 1966) Bila struktur ini tidak terbentuk genitofemoralis
atau terbentuk abnormal akan menyebabkan Faktor Resiko
maldesensus testis. Karena penyebab pasti kriptorkismus tidak jelas,
B. Defek intrinsik testis maka kita hanya dapat mendeteksi faktor resikonya.
Maldesensus dapat disebabkan disgenesis gonadal Antara lain :
dimana kelainan ini membuat testis tidak sensitif 1. BBLR (kurang 2500 mg)
terhadap hormon gonadotropin. Teori ini merupakan 2. Ibu yang terpapar estrogen selama trimester
penjelasan terbaik pada kasus kriptorkismus pertama
unilateral. Juga untuk menerangkan mengapa pada 3. Kelahiran ganda (kembar 2, kembar 3)
pasien dengan kriptorkismus bilateral menjadi steril 4. Lahir prematur (umur kehamilan kurang 37
ketika diberikan terapi definitif pada umur yang minggu)
optimum. Banyak kasus kriptorkismus yang secara 5. Berat janin yang dibawah umur kehamilan.
histologis normal saat lahir, tetapi testisnya menjadi 6. Mempunyai ayah atau saudara dengan riwayat
atrofi / disgenesis pada akhir usia 1 tahun dan jumlah UDT
sel germinalnya sangat berkurang pada akhir usia 2
tahun.
C.Defisiensi stimulasi hormonal / endokrin PATOGENESIS
Skrotum adalah regulator suhu yang efektif untuk Major , 1974 membagi kriptorkismus (dalam
testis, dimana suhu dipertahankan sekitat 1 derajat pengertian umum) membagi menjadi
Celsius (1,8 derajat Fahrenheit) lebih dingin 1. Retensio Testis (dystopy of testicle) à
dibanding core body temperature. Sel Diklasifikasikan sesuai tempatnya
spermatogenesis sangat sensitif terhadap temperatur a. Abdominal testicle (retensi abdominal)
badan. Mininberg, Rodger dan Bedford (1982) 1. Canalicular testicle (retensio
mempelajari ultrastruktur kriptorkismus dan canalicularis superior et inferior): testis
mendapatkan perubahan pada kurun satu tahun benar-benar tak teraba
kehidupan. Pada umur 4 tahun didapatkan deposit 2. Inguinal testicle ( retensio
kolagen masif. Kesimpulan mereka adalah testis inguinalis) : testis teraba di depan anulus
harus di skrotum pada umur 1 tahun inguinalis eksternus
3. Testis reflexus (superfisial
Penelitian biopsi testis kriptorkismus menunjukkan inguinal ectopy): bentuk paling umum.
bukti yang mengagetkan dimana epitel germinativum Testis sebenarnya tidak melenceng dari
dalam testis tetap dalam ukuran normal untuk 2 alur normal. Gubernakulum memandu
tahun pertama kehidupan. Sementara umur 4 tahun testis menuju bagian bawah skrotum.
terdapat penurunan spermatogonia sekitar 75 % Testis hanya bertempat di anterior
sehingga menjadi subfertil / infertile aponeurosis muskulus obliquus
abdominis eksternus dan sesungguhnya
Setelah umur 6 tahun tampak perubahan nyata. ini bukan suatu testis ektopik
Diameter tubulus seminiferus mengecil, jumlah 2. The True Ectopic Testis
spermatogonia menurun, dan tampak nyata fibrosis Di sini testis melewati canalis inguinalis tetapi
di antara tubulus testis. Pada kriptorkismus kemudian menempati daerah perineum, suprapubic
pascapubertas mungkin testis berukuran normal, dorsal pangkal penis, bawah kulit pangkal femur sisi
tetapi ada defisiensi yang nyata pada komponen medial.
spermatogenik sehingga pasien menjadi infertil . 3. The Floating Testicle
Untungnya sel leydig tidak dipengaruhi oleh suhu Pada anak-anak kontraksi muskulus kremaster dapat
tubuh dan biasanya ditemukan dalam jumlah normal mengangkat testis dari posisis normal menuju
pada kriptorkismus. Sehingga impotensi karena kanalis inguinalis. Refleks ini dipicu oleh rangsang
faktor endokrin jarang terjadi pada kriptorkismus dingin atau sentuhan. Jangan keliru menganggap
Penelitian dengan biopsi jaringan testis yang posisi ini dengan retensi testis. Tipe ini dibagi
mengalami kriptorkismus menunjukkan tidak terjadi menjadi :
abnormalitas kromosom. Maldescensus dan a. The Slidding Testicle ( Uper retractile type)
degenerasi maligna tidak dapat disebabkan karena Testis dapat teraba dengan baikdari midskrotum ke
defek genetik pada testis yang mengalami UDT atas sampai di depan aponeurosis muskulus obliquus
abdominis eksternus di atas anulus inguinalis
Klasifikasi eksternus.
Kriptorkismus dapat diklasifikasikan berdasar b. The Pendulant testicle (Lower Retractile Type)
etiopatogenesis dan lokasi. Berdasar etiopatogenesis Testis bergerak bolak-balik antar bagian terbawah
kriptorkismus dapat dibagi menjadi : skrotum dan anulus inguinalis eksternus.
Mekanik/anatomik : perlekatan, kelainan kanalis
inguinalis Diagnosis
1. Endokrin/hormonal: kelainan aksis Anamnesis
hipotalamus-hipofise-testis
Diagnosis UDT dapat dibuat oleh orangtua anak atau
2. Disgenesis : kelainan interseks multipel
dokter pemeriksa pertama. Umumnya diawali
3. Herediter/genetik
orangtua membawa anak ke dokter dengan keluhan
Berdasarkan lokasi :
skrotum anaknya kecil. Dan bila disertai dengan
1. Skrotum tinggi (supraskrotal) : 40%
hernia inguinalis akan dijumpai pembengkakan atau
2. Intrakanalikuli (inguinal) : 20 %
nyeri berulang pada skrotum. Anamnesis ditanyakan
3. Intraabdominal (abdomen) : 10 %
:
4. Terobstruksi : 30%
1. Pernahkah testis diperiksa, diraba
Ada juga yang membagi lokasi sebagai berikut : (1)
sebelumnya di skrotum.
intraabdominal (2) Inguinal (3) Preskrotal (4)
2. Ada tidaknya kelainan kongenital yang lain,
Skrotal (5). Retraktil
seperti hipospadia, interseks, prunne belly
syndroma, dan kelainan endokrin lain
3. Ada tidaknya riwayat UDT dalam keluarga dengan anomali lain seperti interseksual,
Tanda kardinal UDT ialah tidak adanya satu atau dua prone belly syndrome
testis dalam skrotum. Pasien dapat mengeluh nyeri
testis karena trauma, misal testis terletak di atas Pemeriksaan Penunjang
simpisis ossis pubis. Pada dewasa keluhan UDT Dilakukan bila testis impalpable atau meragukan
sering dihubungkan dengan infertilitas beberapa modalitas penunjang diperlukan.
1. Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan Fisik 2. Merupakan modalitas pertama dalam
1. Penentuan lokasi testis menegakkan kriptorkismus.
Beberapa posisi anak saat diperiksa : supine, —————————————————————
squatting, sitting . Pemeriksaan testis harus Alasan :
dilakukan dengan tangan hangat. Pada posisi a. Sekitar 72% kriptorkismus terletak
duduk dengan tungkai dilipat atau keadaan relaks intrakanalikuler sehingga aksesibilitas USG cukup
pada posisi tidur. Kemudian testis diraba dari baik
inguinal ke arah skrotum dengan cara milking. b. Non invasif
Bisa juga dengan satu tangan di skrotum c. Mudah didapat
sedangkan tangan yang lain memeriksa mulai dari d. Praktis/mudah dijadwalkan
daerah spina iliaka anterior superior menyusuri e. Murah
inguinal sampai kantong skrotum. Hal ini
mencegah testis retraksi karena pada anak refleks Pada USG testis prepubertas mempunyai gambaran
muskulus kremaster cukup aktif yang ekhogenitas derajat ringan sampai sedang, dan testis
menyebabkan testis bergerak ke atas / retraktil dewasa ekhogenitas derajat sedang.
sehingga menyulitkan penilaian. USG hanya efektif untuk mendeteksi testis di kanalis
Penentuan posisi anatomis testis sangat penting inguinalis ke superfisial, dan tidak dapat mendeteksi
sebelum terapi karena berhubungan dengan testis di intraabdominal 8 Di luar negeri
keberhasilan terapi. Testis retraksi tidak perlu keberhasilannya cukup tinggi (60-65%), sementara
terapi. Testis yang retraktil sudah turun saat lahir, FKUI hanya 5,9%3. Hal ini dipengaruhi oleh
tetapi pada pemeriksaan tidak ditemukan di dalam pengalaman operator.
skrotum kecuali anak relaks. 1. CT Scan
Merupakan modalitas kedua setelah USG. CT
Scan dapat mendeteksi testis intraabdominal.
2. Penentuan apakah testis palpabel Akurasi CT Scan sama baiknya dengan USG
1. Testis teraba pada testis letak inguinal. Sedang testis letak
Bila testis palpable beberapa kemungkinan intraabdominal CT Scan lebih unggul ( CT Scan
antara lain : (1) testis retraktil (2) UDT (3) 96% vs USG 91%). False positif / negatif
Testis ektopik (4). Ascending Testis biasanya akibat pembesaran limfonodi. Dapat
Syndroma . Ascending Testis Syndroma dibedakan dengan testis karena adanya lemak di
ialah testis dalam skrotum /retraktil, tetapi sekeliling limfonodi.
menjadi lebih tinggi karena pendeknya 1. MRI
funikulus spermatikus. Biasanya baru Dapat mendeteksi degenerasi maligna pada
diketahui pada usia 8 -10 tahun. Bila testis kriptorkismus. Kelemahannya loop usus dan
teraba maka tentukan posisi, ukuran, dan limfonodi dapat menyerupai kriptorkismus
konsistensi. Bandingkan dengan testis 1. Angiografi
kontralateralnya. Akurat tetapi invasif sehingga tidak disukai.
2. Bila impalpable testis Venografi Gadolium dengan MRI lebih akurat
Kemungkinannya ialah : (1) intrakanalikuler, dibanding MRI tunggal
(2) intraabdominal, (3) Atrofi testis , (4)
Agenesis. Kadang di dalam skrotum terasa Penanganan
massa seperti testis atrofi. Jaringan ini Tujuan dari penanganan UDT adalah :
biasanya gubernakulum atau epididimis dan 1. Meningkatkan vertilitas
vas deferens yang bisa bersamaan dengan 2. Mencegah torsio testis
testis intraabdominal. Impalpable testis 3. Mengurangi resiko cidera khususnya bila
biasanya disertai hernia inguinal. Pada testis terletak di tuberkulum pubik
bilateral impalpable testis sering berkaitan 4. Mengkoreksi kelainan lain yang menyertai,
seperti hernia
5. Mencegah / deteksi awal dari keganasan Berdasar waktu : akhir injeksi, 1 bulan, 3 bulan, 3
testis bulan, 6 bulan, dan 12 bulan. Berdasar posisi :
6. Membentuk body image respon komplet bila testis berada di skrotum,
Terapi non Bedah sedang respon inkomplet bila testis posisi inguinal
Berupa terapi hormonal. Terapi ini dipilih untuk rendah Efek samping bersifat reversibel. Ujud
UDT bilateral palpabel inguinal. Tidak diberikan kelainan berupa bertambah ukuran testis,
pada UDT unilateral letak tinggi atau intraabdomen. pembesaran penis, ereksi, meningkatnya rugositas
Efek terapi berupa peningkatan rugositas skrotum, skrotum, tumbuhnya rambut pubis hiperpigmentasi
ukuran testis, vas deferens, memperbaiki suplay dan gangguan emosi
darah, dan diduga meningkatkan ukuran dan panjang Terapi Bedah
vasa funikulus spermatikus, serta menimbulkan efek Tujuan pembedahan adalah memobilisasi testis,
kontraksi otot polos gubernakulum untuk membantu adequatnya suplay vasa spermatika , fiksasi testis
turunnya testis. Dianjurkan sebelum anak usia 2 yang adequat ke skrotum, dan operasi kelainan yang
tahun , sebaiknya bulan 10 – 24. Di FKUI terapi menyertainya seperti hernia.
setelah usia 9 bulan karena hampir tidak dapat lagi
terjadi penurunan spontan. Indikasi pembedahan :
Hormon yang diberikan : 1. Terapi hormonal gagal
a. HCG 2. Terjadi hernia yang potensial menimbulkan
Hormon ini akan merangsang sel Leydig komplikasi
menproduksi testosteron. Dosis : Menurut Mosier 3. Dicurigai torsio testis
(1984) : 1000 – 4000 IU, 3 kali seminggu selama 4. Lokasi intraabdominal atau di atas kanalis
3 minggu. Garagorri (1982) : 500 -1500 IU, inguinalis.
intramuskuler, 9 kali selang sehari. Ahli lain 5. Testis ektopik
memberikan 3300 IU, 3 kali selang sehari untuk Tahapan :satu tahap atau 2 tahap tergantung vasa
UDT unilateral dan 500 IU 20 kali dengan 3 kali spermatika apakah panjang atau pendek.
seminggu. Injeksi HCH tidak boleh diberikan tiap
hari untuk mencegah desensitisasi sel Leydig Tekinik operasi pada UDT :
terhadap HCG yang akan menyebabkan 1. Orchydopexy Standar
steroidogenic refractoriness. Prinsip dari orchidopexy meliputi 3 tahap
Hindari dosis tinggi karena menyebabkan efek 1. Funikulolisis
refrakter testis terhadap HCG, udem interstisial Adalah pelepasan funikulus spermatikus dari
testis, gangguan tubulus dan efek toksis testis. musculus kremester dan memungkinkan dapat
Kadar testosteron diperiksa pre dan post unjeksi, memperpanjang ukurannya. Vasa testicularis di
bila belum ada respon dapat diulang 6 bulan bebaskan sejauh mungkin ke retroperitoneal dan
berikutnya. Kontraindikasi HCG ialah UDT dimobilisasi lebih ke medial yang akan
dengan hernia, pasca operasi hernia, orchydopexy, meluruskan dan memperpanjang vasa. Terdapat
dan testis ektopik. Miller (16) memberikan HCG kesulitan ketika memobilisasi vasa diatas vasa
pada pasien sekaligus untuk membedakan antara iliaca komunis
UDT dan testis retraktil. Hasilnya 20% UDT Beberapa metode yang digunakan untuk
dapat diturunkan sampai posisi normal, dan 58% menurunkan testis ke skrotum antara lain
retraktil testis dapat normal. Ombredonne, Bevas, Torek, Cobot – Nesbit,
b. LHRH Longord, Gersung, Denis Browne. George Major
Dosis 3 x 400 ug intranasal, selama 4 minggu. menolak metode Mauclain (menurunkan testis ke
Akan menurunkan testis secara komplet sebesar kontralateral), juga tidak setuju UDT bilateral
30 – 64 %. dikerjakan sekaligus dalam satu tahap oleh karena
c. HCG kombinasi LHRH ancaman infeksi dari kesulitan fiksasi pada
Dosis : LHRH 3 x 400 ug, intranasal, 4 minggu . septum skrotum
Dilanjutkan HCG intramuskuler 5 kali pemberian Funikulolisis dikerjakan melalui insisi inguinal
selang sehari. Usia kurang 2 tahun : 5 x 250 ug, 3 tinggi dan testis diturunkan dengan bantuan
-5 tahun : 5 x 500 ug, di atas 5 tahun : 5x1000 ug. tarikan tali (benang) transcrotal ke paha Bila
Respon terapi : penurunan testis 86,4%, dengan pasien UDT disertai hernia inguinalis, kantung
follow up 2 tahun kemudian keberhasilannya hernia kanan dibebaskan dari ligasi seproximal
bertahan 70,6%. mungkin, kantong vaginalis propria pada testis
dan epidedimis dipertahankan, karena serosa yang
Evaluasi terapi.
membungkus testis itu penting bagi - kemudian vasa spermatika interna dapat
spermatogenesis. dibebaskan secara retroperitoneal ke kranial
Teknik funikulolisis menurut Beran (1903) sampai melewati vasa iliaka
memotong vasa testis bila vasa tersebut sangat - setinggi promontorium vasa akan menyilang
pendek dan diharapkan vaskularisasi yang adequat ureter. Hati-hati dalam membebaskannya
dari vasa vas defferens. Tetapi teknik ini kurang 2.Pemindahan testis ke dalam skrotum
bagus dengan alasan maturasi normal memerlukan (transposisi)
suplay vaskuler yang optimal. Bagian skrotum yang akan ditempati testis telah
Teknik operasi orchydopexy standar kosong dan menjadi lebih kecil dibanding ukuran
Akses : Menurut Ombredonne lebih normal. Regangkan dinding skrotum dengan
menguntungkan dengan insisi inguinal tinggi diseksi jari-jari sehingga menciptakan suatu
yang memungkinkan mobilisasi vaskuler ruangan. Traksi ditempatkan pada gubernakulum
retroperitoneal dan menempatkan testis pada Testis yang telah bebas dan funikulus
skrotum. spermatikusnya cukup panjang, ditempatkan pada
Funikulolisis : skrotum, bukan ditarik ke skrotum.
- setelah diseksi aponeurosis m. obliqus 3. fiksasi testis dalam skrotum
abdominis eksternus dan membebaskan anulus Adalah hal prinsip bahwa testis berada di skrotum
inguinal eksternus dengan hati-hati untuk bukan karena tarikan dan testis tetap berada di
menghindari udema testis habitat barunya, sehingga menjadi kurang tepat
- pisahkan (split) dinding kanalis sesuai arah bila keberadaan testis di skrotum itu karena
seratnya sampai dengan anulus inguinalis tarikan dan fiksasi testis.
eksternus Fiksasi testis tetap diperlukan.
- bebaskan funikulus spermatikus dan testis - Untuk mengikatnya tembuskan benang pada
beserta tunikanya dari fascia dan muskulus stumb ligamentum hunteri pada pole bawah testis
kremaster dengan benang nonabsorpable dan meninggalkan
- Pada kasus UDT dengan hernia, pemisahan ujung benang yang panjang
tunika vaginalis funikulus spermatikus secara - perlebar skrotum dengan 2 jari, dengan bantuan
hati-hati dengan menghindari cedera vasa dan jarum reverdin yang ditembuskan dari kulit
ductus deferens, dimana hal ini akan skrotum sisi luar dan mengambil ujung benang
memperpanjang rentang funikulus panjang tadi dan keluarkan lagi jarum .
- sisihkan m. Oliqus Abdominis Internus dan m. - Fiksasi kedua ujung benang pada sisi medial
Transversus Abdominis dengan retraktor ke paha
kraniomedial - Teknik lain yang sering di pakai adalah tehnik
- diseksi funikulus spermatikus ke kranial sampai ombredanne yang menempatkan testis pada
dengan lateral dari vasa epigastrika inferior skrotum kontralateral dan mengikatnya pada
- bila belum cukup panjang untuk memungkinkan septum scroti.
testis ke skrotum tanpa tegang, vasa epigastrika
inferior dipotong, sehingga funikulus spermatikus
dapat digeser lebih ke medial. Bila hal ini belum
dapat panjang berarti funikulus spermatikusnya
memang pendek
- sering kantong hernia kongenital atau prosesus 1. Stephen Flower Orchidopexy
vaginalis persisten menghambat mobilisasi Merupakan modifikasi orchidopexy standar.
funikulus, maka lepaskan kantong secara hati-hati Ketika arteri testikulariss tak cukup panjang
dan ligasi tinggi. Bila peritoneum terbuka jahit mencapai skrotum, arteri testikularis diligasi.
secara atraumatik Jadi testis hanya mengandalkan arteri vas
- pembebasan diatas akan lebih mudah bila deferens.
gubernakulum dipotong lebih dulu kemudian 2. Orchydopexy bertahap
dilanjut dengan pembebasan testis 1. Bedah : Testis dibungkus dengan
- mobilisasi lanjut ke arah retroperitoneal lembaran silastic dan difiksasi ke pubis pada
dilakukan dengan memotong m. obliqus tahap I. Setelah 6-8 bulan dilakukan tahap II
abdominis internus dan m. transversus abdominis berupa eksplorasi dan memasukkan testis ke
ke arah kranio lateral atau melepaskan skrotum
ligamentum inguinalis 2. Laparoskopi : Menjepit arteri testikularis
dengan laparoskopi dikerjakan pada tahap I
intuk UDT tipe abdomen. Setelah 6-8 bulan unilateral. Dan menduga bahwa ada abnormalitas
dikerjakan Stephen Flower Orchydopexy. bilateral testis pada UDT unilateral
3. Autotransplantasi
Pembuluh darah testis dilakukan anastomosis Psikologis
pada vasa epigastrika inferior dengan teknik Timbul perasaan rendah diri fisik atau seksual akibat
mikrovaskuler. body image yang muncul. Biasanya terjadi saat
4. Protesis Testis menginjak usia remaja (adoloscence) orang tua
Pemasangan implant testis silastik untuk biasanya mencemaskan akan fertilitas anaknya.
knyamanan, kosmetik, dan psikis.

Komplikasi
Praoperasi Pasca Operasi
1. Hernia Inguinalis 1. Infeksi
Sekitar 90% penderita UDT mengalami hernia Sangat jarang bila tindakan a/antiseptik baik,
inguinalis lateralis ipsilateral yang disebabkan diseksi yang smooth dan gentle akan
oleh kegagalan penutupnan processus vaginalis. . meminimalkan terjadinya hematom
Hernia repair dikerjakan saat orchydopexy . 2. Atropi Testis
Hernia inguinal yang menyertai UDT segera Karena funikulolisis tak adequat, traksi testis
dioperasi untuk mencegah komplikasi berlebihan, atau torsio funikulus spermatikus saat
2. Torsio Testis tranposisi testis ke skrotum
Kejadian torsio meningkat pada UDT, diduga
dipengaruhi oleh dimensi testis yang bertambah PROGNOSIS
sesuai volume testis. Juga dipengaruhi Menurut Docimo 10 kesuksesan operasi UDT letak
abnormalitas jaringan penyangga testis sehingga distal anulus inguinalis internus sebesar 92%, letak
testis lebih mobil inguinal (89%), orchidopexy teknik mikrovaskuler
3. Trauma testis T (84%), orchidopexy abdominal standar (81%) staged
Testis yang terletak di superfisial tuberkulum Fowler-Stephens orchidopexy (77%), Fowler-
pubik sering terkena trauma Stephens orchidopexy standar (67%)
4. Keganasan UDT biasanya turun spontan tanpa intervensi pada
Insiden tumor testis pada populasi normal 1 : tahun pertama kehidupan. Resiko terjadinya
100.000, dan pada UDT 1 : 2550. Testis yang keganasan lebih tinggi di banding testis normal.
mengalami UDT pada dekade 3-4 menpunyai Fertilitas pada UDT bilateral: 50% punya anak,
kemungkinan keganasan 35-48 kali lebih besar . sedang UDT unilateral 80%
UDT intraabdominal 6 kali lebih besar terjadi
keganasan dibanding letak intrakanalikuler. Jenis
neoplasma pada umumnya ialah seminoma. Jenis
ini jarang muncul sebelum usia 10 tahun. Karena
alasan ini maka ada pendapat yang mengatakan
UDT usia diatas 10 tahun lebih baik dilakukan
orchydectomy dibandingkan orchydopexy(4).
Menurut Gilbert & Hamilton sekitar 0,2 – 0,4 %
testis ektopik menjadi ganas. Sedang testis
dystopik angka keganasannya 8-15%. Campbell
menyebut 0,23% untuk ektopik testis dan 11%
untuk dystopik testis. Sementara UDT
intrabdominal keganasan 5% dan inguinal 1,2%.

Infertilitas
Penyebabnya ialah gangguan antara germ cell .
Infertilitas UDT bilateral 90%, sedang UDT
unilateral 50% (2). Lipschultz, 1976 menunjukkan
adanya spermatogenesis yang abnormal post
orchydopexy pada laki-laki umur 21-35 tahun UDT