Anda di halaman 1dari 3

A.

Tinjauan Literatur

Terdapat berbagai faktor yang menjelaskan pilihan karier siswa dalam


berbagai hal profesi yakni dengan menggunakan beberapa teori. Terutama, the Trait
and Factor Theory (TFT) atau teori sifat dan teori factor, the Theory of Reasoned
Action (TRA), dan the Theory of Planned Behavior Earlier (TPB) atau teori perilaku
terencana sebelumnya. TFT menyarankan bahwa pilihan karir seseorang tergantung
pada kepuasan maksimal individu dalam berharap untuk memperoleh karirnya
(Ginzberg et al., 1951). TRA memprediksi bahwa sikap seseorang terhadap perilaku
dan persepsi norma – norma sosial mempengaruhi perilakunya, dengan demikian
pengaruh pribadi maupun sosial menentukan niat individu untuk melakukan tindakan
tertentu (Jackling dan Keneley, 2009; Porter dan Wolley, 2014). TPB meningkatkan
TRA untuk memasukkan control yang dirasakan sebagai faktor tambahan yang
mempengaruhi perilaku.

Studi sebelumnya mengidentifikasi kepuasan kerja, pekerjaan yang menantang


secara intelektual, peluang untuk maju, remunerasi financial dan potensi pendapatan,
status sosial, keamanan kerja dan prospek pekerjaan sebagai faktor keyakinan
perilaku yang memengaruhi pilihan siswa untuk mengambil jurusan akuntansi
(Ahmed et al., 1997; Felton et al.,1994; Hermanson et al., 1995; Paolillo dan Estes,
1982; Tan dan Laswad, 2005; Felton et al., 1996). Ahmed et al. (1997) menemukan
bahwa siswa yang mengambil jurusan akuntansi lebih rendah dalam factor intrinsik,
seperti kepuasan kerja, peluang menjadi kreatif dan tantangan intelektual terkait
dengan kurikulum akuntansi. Jackling dan Keneley (2009) menemukan akuntansi di
Australia memandang faktor terkait pasar dan faktor ekstrinsik. Mahasiswa akuntansi
mengenali norma sosial positif yang lebih besar daripada siswa non akuntansi (Cohen
dan Hanno, 1993; Tan dan Lasswad, 2006), dan pengaruh orang tua yang paling
penting dalam memengaruhi keputusan siswa untuk mengejar akuntansi (Allen, 2004;
Felton et al.,1994). Hal tersebut sejalan dengan temuan Allen (2004). Tan dan Laswad
(2006) di Universitas Selandia Baru menemukan bahwa kelompok referensi
menentukan niat siswa untuk jurusan akuntansi atau disiplin bisnis lainnya. Dandy
dan Nettebeck (2002) menyarankan bahwa latar belakang pendidikan orang tua
memengaruhi pemilihan siswa. Sosial lainnya termasuk kelompok serta guru, teman
atau rekan kerja (Auyeung dan Sands,1997) dan pemerintah (Birrell,2006). Wen et al.
(2015) menganalisis factor-faktor memengaruhi perguruan tinggi Cina, niat siswa
mengejar profesi akuntan public bersertifikat Cina. Survei 288 siswa, mereka
menemukan bahwa minat tulus, kemandirian, professional dalam tempat kerja dan
kesulitan yang dirasakan dalam mempertahankan sertifikasi merupakan factor yang
memengaruhi niat siswa untuk mengejar CPA.

Faktor-faktor yang memengaruhi keputusan individu untuk mengejar profesi


akuntansi pada dasarnya bersifat intrinsik (Sugahara et al., 2009). Hal tersebut
berbanding terbalik dengan penelitian Tan dan Laswad, 2005). Menurut Felton et al
(1994) bahwa calon profesi akuntansi (CA) lebih peduli dengan pendapatan jangka
panjang yang baik dan peluang pasar kerja yang menjanjikan, sementara siswa dengan
karir non akuntansi lebih mementingkan penghasilan awal yang tinggi dan imbalan
instrinsik dari pekerjaan. Ahmed et al. (1997) menemukan bahwa siswa yang berniat
mengejar karir CA lebih mementingkan keuangan dan pekerjaan. Gitis (2007)
meningkatkan penggunaan Behavioral Decision Theory (BDT) atau teori keputusan
perilaku, digunakan dalam bidang medis untuk menunjukkan bahwa orang yang
rasional bertindak sebagai respons terhadap kepercayaan, preferensi dan kendala yang
berkaitan dengan tindakan yang akan dilakukan. Bidang medis menggunakan BDT
atau Teori Keputusan Perilaku untuk memprediksi perilaku pasien (Gintis, 2007;
Verbeke dan Viaene, 1999). Teori keputusan perilaku dan pilihan karir akuntansi
menerapkan BDT pada pilihan individu untuk mengejar kualifikasi CPA.

B. Ringkasan, Kesimpulan dan Implikasi Temuan

Tujuan utama penelitian ini untuk menilai factor-faktor yang terkait niat siswa
untuk mengejar atau tidak mengejar kualifikasi CPA di Ghana. Studi ini menemukan
bahwa kepercayaan siswa, preferensi mereka untuk kualifikasi CPA, IPK dan jenis
jurusan akademik memiliki hubungan positif dan signifikan dengan niat mereka untuk
mengejar kualifikasi BPA di Ghana. Sebagian besar sampel siswa dengan niat untuk
mengejar kualifikasi CPA (47,89%) lebih suka berafiliasi dengan ACCA
dibandingkan dengan badan akuntansi professional lainnya. Kualifikasi CIMA
merupakan pilihan yang tidak disukai siswa yang memiliki niat mengejar kualifikasi
CPA di Ghana. Hanya 7,02% dari sampel siswa lebih suka berafiliasi dengan badan
professional CIMA.

Temuan dari penelitian ini memiliki implikasi: Pertama, temuannya


menunjukkan bahwa siswa yang mengambil jurusan akuntansi di tingkat universitas
memiliki niat lebih besar untuk mengejar kualifikasi CPA. Kedua, perhatian serius
diberikan untuk mengembangkan kepercayaan diri siswa menanamkan semangat
“bisa melakukan” didalamnya. Ketiga, hasil menunjukkan beberapa implikasi untuk
berbagai badan akuntansi professional. CIMA adalah pilihan yang paling tidak
disukai di kalangan mahasiswa. Sebagian besar siswa lebih suka berafiliasi dengan
ACCA dibandingkan dengan yang lainnya karena mereka menganggap sertifikasi
ACCA diakui global dan memiliki prospek pekerjaan yang lebih baik secara local
maupun internasional. ICAG meningkatkan keanggotaannya dikalangan mahasiswa.

Keterbatasan dalam penelitian ini: Pertama, mahasiswa bisnis dari satu


universitas negeri di Indonesia berpartisipasi dalam penelitian ini. Hal ini dapat
memengaruhi interpretasi dan generalisasi hasil penelitian. Kedua, hasil harus
ditafsirkan dengan hati-hati karena niat dapat berubah seiring berjalannya waktu.
Studi selanjutnya juga dapat dieksplorasi sarana pendekatan kualitatif. Faktor lain
yang mungkin terkait dengan niat siswa untuk mengejar BPA dalam konteks Ghana.