Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Home Care


Home care adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif
yang diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk
meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan atau memaksimalkan tingkat
kemandirian dan meminimalkan akibat dari penyakit (Depkes, 2012).
Neis dan Mc. Ewen (2010) menyatakan home care adalah system dimana pelayanan
kesehatan dan pelayanan sosial diberikan dirumah kepada orang-orang cacat atau orang-
orang yang harus tinggal dirumah karena kondisi kesehatannya.
Menurut Amerika Medicine Association, home care merupakan penyedian peralatan
dan jasa pelayanan keperawatan kepada pasien di rumah yang bertujuan untuk
memulihkan dan mempertahankan secara maksimal tingkat kenyamanan dan kesehatan.
Dalam kasus apapun efektifitas perawatan berbasis rumah membutuhkan upaya kolaboratif
pasien, keluarga, dan profesional.
Home care dalam keperawatan medikal bedah merupakan bentuk asuhan
keperawatan dewasa secara holistic yang bukan merupakan bagian dari sebuah rumah
sakit, bagi pasien yang mengalami gangguan fisiologis baik yang sudah atau terprediksi
mengalami gangguan baik karena adanya penyakit, trauma atau kecacatan. Asuhan
keperawatan meliputi perlakuan terhadap individu untuk memperoleh kenyamanan,
membantu individu dalam meningkatkan dan mempertahankan kondisi sehatnya,
mengupayakan pemuliham sampai klien dapat mencapai kapasitas produktif tertingginya,
serta membantu klien menghadapi kematian secara bermartabat .
B. Kasus Keperawatan Medikal Bedah dengan Pasien Pasca Stroke
Menurut Sudarsini (2017) masalah-masalah yang terjadi pada pasien stroke antara lain:
1. Kelemahan otot pada bagian tubuh yang terkena
2. Adanya gangguan keseimbangan
3. Adanya gangguan postur
4. Adanya gangguan pernafasan
5. Adanya atrofi
6. Adanya gangguan fungsional
C. Rencana Keperawatan pada Pasien Pasca Stroke
1) Pengkajian
1. Kelainan system saraf bisa menimbulkan berbagai macam gejala, diantaranya:
a. Nyeri kepala
b. Kejang, pingsan, gerakan aneh
c. Pening atau vertigo
d. Masalah penglihatan
e. Kelainan pennciuman atau penglihatan
f. Kesulitan berbicara
g. Kesulitan menelan
h. Kesulitan berjalan
i. Ekstremitas lemah
j. Gangguan sensori
k. Gerakan involunter dan tremor
l. Masalaha pengendalian sfinkter (buang air besar atau kecil)
m. Gangguan fungsi mental luhur, seperti bingung atau perubahan kepribadian
2. Pemeriksaan fisik
a. Bagaimana tingkat kesadaran pasien, tentukan dengan skor koma Glasgow
b. Pandanglah pasien, apakah ada kelainan postur yang jelas, pengecilan otot atau
tremor?
c. Periksa ekstremitas atas:
1) Lakukan inspeksi untuk mencari pengecilan otot yang jelas, tremor,
fasikulasi, deformitas, dan perubahan warna kulit.
2) Periksa kekuatan, bandingkan kedua lengan. Gunakan skala MRC:
0 = lumpuh sempurna
1 = masih terlihat kontraksi
2 = gerak aktif tanpa gravitasi
3 = bergerak melawan arah
4 = bergerak melawan tahanan
5 = kekuatan normal
3) Periksa koordinasi dengan tes telunjuk-hidung, gerak cepat jari-jari, gerak
cepat bergantian (jika ada kesulitan = disdiadokokinesis pada gangguan
serebelum)
4) Periksa reflek dengan ketukan biseps, triseps dan supinator

5) Periksa sensasi. Tes raba halus, tusuk jarum, rasa getar, rasa posisi sendi, dan
reaksi panas/dingin.

a. Periksa ekstremitas bawah


1) Lakukan inspkesi
2) Periksa kekuatan, bandingkan kedua sisi.
3) Periksa koordinasi
4) Periksa sensasi
b. Periksa saraf kranial
1) Olfaktorius, periksa sensasi penghidu di kedua lubang hidung
2) Optikus, periksa ketajaman penglihatan, periksa lapang pandang, periksa reaksi
cahaya langsung dan tak langsung serta akomodasi
3) Okulomotorius, troklearis, dan abdusen, Cari adanya ptosis (sebelah atau kedua
kelopak mata menutup) Periksa adanya nigtagmus, tanyakan adanya
penglihatan ganda .
4) Trigeminus, Periksa sensasi wajah terhada raba halus dan tusuk jarum.
Periksa kekuatan otot pengunyah dna temporalis
Tes reflek kornea
Tes ketuk rahang
5) Fasialis, Periksa oto otot ekspresi wajah (angkat alis, tutup mata kuat kuat,
tunjukan gigi)
6) Vesibulokoklearis, Tes pendengaran, lakukan tes rine dan tes weber
Tes keseimbangan (berdiri dengan mata tertutup, berjalan sepanjang garis
lurus)
7) Vagus dan glosofaringeus, Periksa gerak palatum
Periks reflek muntah dan batuk
8) Aksesorius, Periksa kekuatan otot sternomastoideus dan mengangkat bahu
9) Hipoglosus, Periksa lidah untuk mencari pengecilan otot, fasikulasi dan uji
kekuatan
10) Tes fungsi mental luhur
Nilailah kemampuan berbicara
Periksa ingatan
Nilailah kemampuan pemahaman (Sumber : jonathan Gleadle)

2) Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan fungsi neurologis
2. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan efek kerusakan pada hemisfer
bahasa atau wicara (kiri atau kanan)
3. Kurang perawatan diri berhubungan dengan gangguan mobilitas fisik dan gangguan
proses kognitif.
4. Resiko tinggi terhadap cidera yang berhubungan dengan defisit lapang pandang
motorik atau persepsi.
3) Intervensi
1. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan fungsi neurologis
Tujuan : Mempertahankan/ meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang
terkena atau kompensasi.
Intervensi :
a. Kaji kemampuan fungsional dan beratnya kelainan
b. Pertahankan kesejajaran tubuh (gunakan papan tempat tidur, matras udara atau
papan baku sesuai indikasi
c. Balikkan dan ubah posisi tiap 2 jam
d. Tinggikan ekstremitas yang sakit dengan bantal
e. Lakukan latihan rentang gerak aktif atau pasif untuk semua ekstremitas setiap 2
jam sampai 4 jam
f. Berikan dorongan tangan, jari-jari dan latihan kaki
g. Bantu pasien dengan menggunakan alat penyokong sesuai indikasi
h. Berikan dorongan kepada pasien untuk melakukan aktivitas kebutuhan sehari-hari
i. Mulai ambulasi progresif sesuai pesanan bantu untuk duduk dalam posisi
seimbang mulai dari prosedur pindah dari tempat tidur ke kursi untuk mencapai
keseimbangan.

2. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan efek kerusakan pada hemisfer


bahasa atau wicara (kiri atau kanan)
Tujuan :pasien dapat mengindikasikan pemahaman tentang masalah komunikasi,
pasien dapat membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan
Intervensi :
a. kaji kemampuan berbicara, mendengar, menulis, membaca dan memahami
b. Buat semua upaya untuk memahami komunikasi pasien, mendengar dengan penuh
perhatian, ulangi pesan pasien kembali pada pasien untuk memastikan pengertian,
abaikan ketidaktepatan penggunaan kata, jangan memperbaiki kesalahan, jangan
pura-pura mengerti bila tidak mengerti, minta pasien untuk mengulang.
c. Gunakan strategi untuk memperbaiki pemahaman pasien, dapatkan pengetahuan
pasien sebelum bicara padanya, panggil dengan menyebutkan nama pasien,
lakukan pola bicara yang konsisten, gunakan sentuhan dan perilaku untuk
berkomunikasi dengan tenang
d.  Ajarkan pasien tehnik untuk memperbaiki wicara, instruksikan bicara lambat dan
dalam kalimat pendek pada awalnya, tanyakan pertanyaan yang dapat dijawabnya
ya atau tidak
e. Kolaborasikan dengan praktis bicara untuk mengevaluasi pasien dan merancang
rencana

3. Kurang perawatan diri berhubungan dengan gangguan mobilitas fisik dan gangguan
proses kognitif.
Tujuan :Pasien dapat menolong diri sendiri sesuai kondisinya, dan dapat
mengungkapkan kebutuhannya.
Intervensi :
a. Kaji derajat ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas perawatan diri (mandi,
makan, toile training)
b. beri perawatan kulit selama 4-5 jam, gunakan lotion yang mengandung minyak,
inspeksi bagian di atas tulang yang menonjol setiap hari untuk mengetahui adanya
kerusakan
c. Beri hygiene fisik total, sesuai indikasi, sisi rambut setiap hari, kerams setiap
minggu sesuai indikasi
d. Beri oral hygiene setiap 4-8 jam, sikat gigi, bersihkan membran mukosa dengan
pembilas mulut, jaga agar kuku tetap terpotong rapi dan bersih
e. Perbanyak masukan cairan sampai 2000 ml/hari kecuali terhadap kontra indikasi
f. Pastikan eliminasi yang teratur

4. Resiko tinggi terhadap cidera yang berhubungan dengan defisit lapang pandang
motorik atau persepsi
Tujuan :pasien dapat terhindar dari resiko cedera atau terjatuh
Intervensi :
a. Kaji suhu air mandi dan bantalan pemanas sebelum digunakan dengan
menggunakan termometer bila ada
b. Kaji ekstremitas setiap hari terhadai cidera yang tidak terdeteksi
c. Lakukan tindakan yang mengurangi bahaya lingkungan : orientasi pasien dengan
lingkungan sekitarnya, instruksikan pasien untuk menggunakan bel pemanggil
untuk meminta bantuan, pertahankan tempat tidur dan posisi rendah dengan atau
semua bagian pengaman tempat tidur terpasang
d. Pertahankan kaki tetap hangat dan kering serta kulit dilemaskan dengan lotion
e. Konsul dengan ahli terapi dengan pelatihan postur
f. Ajarkan pasien dengan keluarga untuk memaksimalkan keamanan di rumah.

D. Prosedur Home Care dengan Pasien Pasca Stroke


1. Akupuntur
2. Terapi Massage
3. Infra Red
4. Latihan Bobath
E. Teori Keperawatan
Konsep keperawatan yang dikembangkan dalam armogena care yaitu menggunakan
Model keperawatan Virgina Henderson, dimana merupakan pelaksanaan aktivitas guna
mendukung kesehetan individu dengan di dasari 14 kebutuhan dasar manusia yang
berorientasi pada 4 kategori yaitu sebagai beikut:
1. Biologis
a. Bernapas secara normal
b. Makan dan minum dengan cukup
c. Membuang kotoran tubuh
d. Bergerak dan menjaga posisi yang diinginkan
e. Tidur dan istirahat
f. memilih pakaian yang sesuai
g. menjaga suhu tubuh tetap dalam batas normal
h. menjaga tubuh tetap bersih dan terawat
i. menghindari bahaya lingkungan yang bisa melukai
2. Psikologis
a. Berkomunikasi dengan orang lain dalam mengungkapkan emosi dan pendapat
b. Belajar mengetahui atau memuaskan rasa penasaran
3. Sosiologis
a. Bekerja dengan tata cara yang mengandung unsur prestasi
b. Bermain atau terlibat dalam berbagai kegiatan rekreasi
4. Spiritual
beribadah sesuai dengan keyakinan