Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

            Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena
dengan izin dan ridho-Nya makalah ini dapat kami rampungkan. Sholawat dan
salam semoga tetap dilimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. yang
telah membawa kedamaian dan rahmat bagi semesta alam.
            Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok dari mata kuliah
“ pengembangan peserta didik”. Kami berharap makalah ini sedikit banyaknya
memberikan manfaat khususnya bagi penyusun sendiri umumnya bagi semuanya.
            Akhirnya kepada Allah jua kami memohon maaf, kalau sampai terjadi
kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Besar harapan kami
atas masukan guna perbaikan isi materi dari makalah ini.
Semoga apa yang kami susun bermanfaat.
Amien ya Robbal’alamin.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................1
A.    Latar Belakang..............................................................................................1
B.     Rumusan Masalah.........................................................................................1
C.     Tujuan...........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................2
A.    Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan................................................2
B.     Karakteristik pertumbuhan dan Perkembangan Remaja...............................4
BAB III PENUTUP.............................................................................................14
A.    Kesimpulan..................................................................................................14
B.     Saran............................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................15

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Masa remaja sering disebut masa transisi. Sebab, di masa ini seseorang
beralih dari masa anak-anak ke masa dewasa. Masa ini terjadi pada usia belasan.
Banyak sekali perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang perubahan fisik.
Remaja terlibat dalam jaringan teman sebaya yang sangat kuat selama
menggali jati diri mereka. Di masa ini, selain mengalami perubahan pada diri
seseorang yang menginjak remaja, juga terjadi perkembangan-perkembangan
terutama dari sisi psikologis. Pada, tahap perkembangan remaja ini terdapat
beberapa teori perkembangan remaja termasuk konsep, tahap dan karakteristik
remaja. Secara keseluruhan, teori-teori ini membantu untuk melihat keseluruhan
mengenai remaja.

B.     Rumusan Masalah
1. Bagaimana remaja dalam pertumbuhan dan perkembangan remaja?
2. Bagaimana pertumbuhan fisik masa remaja?

C.    Tujuan
1. Untuk mengetahui remaja dalam pertumbuhan dan perkembangan
remaja
2. Untuk mengetahui pertumbuhan fisik remaja

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan


Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua proses yang dialami oleh
remaja secara kontinue.  pertumbuhan dan perkembangan adalah proses yang
saling berhubungan tak bisa dilepaskan dari kehidupan remaja.Pertumbuhan
merupakan proses yang berkaitan dengan dengan perubahan kuantitatf yang
mengacu pada jumlah besar serta luas yang bersifat konkret yang biasanya
menyangkut ukuran dan struktur biologis. Pertumbuhan adalah proses perubahan
dari segi fisik yang berlangsung normal dalam perjalanan wakt tertentu. Dalam
setiap pertumbuhan bagian – bagian tubuh memiliki tempo kecepatan yang
berbeda – beda. Misalnya pertumbuhan alama kelamin pria, pada masa anak-anak
alat kelamin tumbuh lambat namun setelah pubertas mengalami percepatan.
Sebaliknya pertumbuhan susunan saraf pusat mengalami percepatan saat masa
anak-anak namun setelah masa pubertas relatig lambat bahkan terhenti. Faktor –
Faktor yang mempengaruhi Pertumbuhan yang kurang normal pada organisme
a. Faktor – faktor yang terjadi sebelum lahir. Misalnya Pada saat masa  kehamilan
seorang ibu dan janin mengalami kekurangan nutrisi , Kercaunan, TBC dan
sebagainya
b. Faktor ketika lahir. Salah satunya yaitu pendarahan pada otak bayi intracranial
haemorage disebabkan oleh tekanan dinding rahim sewaktu ia dilahirkan dan
oleh efek susunan saraf pusat, karena proses kelahiran bayi dilakukakan
dengan bantuan tangver-lossing
c. Faktor yang dialami bayi setelah lahir antara lain oleh karena pengalaman
traumatik pada kepala, kepala bagian dalam terluka karena kepala bayi / Janin
terpukul , atau mengalami serangan sinar matahari dan sebagainyayayasan
perawatan bayi dan lain-lain

2
d. Faktor Psikologis antara lain oleh karena bayi ditinggalkan bibu, ayah atau
kedua orang tuanya . Sebab lain ialah anak dititipkan pada suatu lembaga
seperti rumah sakit, rumah yatim piatu sehingga mereka kurang sekali
mendapatkan perwatan jasmaniah dan cinta kasih sayang orang tua. Anak –
anak tersebut mengalami kehampaan psikis ( innatie psikis )
Spiker (1966) mengumukakan dua macam pengerian yang harus
dihubungkan dengan perkembangan yakni
1. Ortogenetik yang berhubungan dengan perkembangan sejak
terbentuknya   indivdu yang baru dan seterusnya sampai dewasa
2. Filogenetik yakni perkembangan dari asal usul manusia sampai sekarang
ini. Perkembangan perubahan fungsi sepanjang masa hidupnya
menyebabkan perubahan tingkah laku dan perubahan ini juga tersedia
sejak permulaan adanya manusia. Jadi perkembangan Ortogenetik
mengarah ke suatu tujuan khusus sejalan dengan perkembangan evolusi
yang mengarah kepada kesempurnaaan manusia

B. karakteristik pertumbuhan dan perkembangan remaja


1. Konsep Pengertian Remaja
Fase remaja adalah masa transisi atau peralihan dari akhir masa kanak-
kanak menuju masa dewasa. Dengan demikian, pola pikir dan tingkah lakunya
merupakan peralihan dari anak-anak menjadi orang dewasa (Damaiyanti, 2008).
a.    Remaja menurut hukum
Usia minimal untuk perkawinan menurut undang-undang disebutkan 16 tahun
untuk wanita dan 19 tahun untuk pria (pasal 7 undang-undng) no. 1/1974 tentang
perkawinan). Walaupun undang-undang tidak menganggap mereka yang diatas 16
tahun (untuk wanita) dan 19 tahun (untuk laki-laki) sebagai bukan anak-anak lagi,
tetapi mereka juga belum dianggap dewasa penuh, sehingga masih diperlukan izin
dai orang tua untuk mengawinkan mereka. Waktu antara 16 dan 19 tahunsampai
22 tahun ini disejajarkan dengan pengertian “remaja” dalam ilmu-ilmu sosial lain.
b.      Remaja ditinjau darimsudut perkembangan fisik

3
Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu yang terkait, remaja dikenal sebagai
suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai
kematangannya.
Remaja berarti tumbuh kearah kematangan baik secara fisik maupun
kematangan sosial psikologisnya. Dalam hubungan dengan kematangansosial
psikologis masih sulit mencari definisi yang bersifat universal.
c.   Batasan remaja menurut WHO
remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan di mana :
1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-
tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan
seksual.
2) Individu mengalamiperkembangan psikologi dan pola identifikasi dari
kanak-kanak menjadi dewasa.
3) Terjadi peralihan ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada
keadaan yang relatif lebih mandiri (Muangman, yang dikutip oleh
Sarlito 1991:9)
d.  Remaja ditinjau dari faktor sosial psikologis
Salah satu ciri remaja disamping tanda-tanda seksualnya adalah:
“perkembangan psikologis dan pada identifikasi dari kanak-kanak menjadi
dewasa”. Puncak perkembangan jiwa itu ditandai dengan adanya proses
perubahan kondisi “entropy” ke kondisi “negen-tropy” (Sarlito,1991: 11)
Entropy adalah keadaan manusia dimana kesadaran manusia masih belum
tersusun rapi. Walaupunisinya sudah banyak (pengetahuan, perasaan, dan
sebagiannya), namun isi-isi tersebut belum saling terkait dengan baik, sehingga
belum bisa berfungsi secara maksimal.
Negentropy adalah keadaan dimana isi kesdaran tersusun dengan baik,
pengetahuan yang satu terkait dengan perasaan atau sikap.
Fisik atau konflik-konflik dalam diri remaja yang seringkali menimbulkan
masalah itu, tergantung sekali pada keadaan masyarakat dimana remaja yang
bersangkutan tinggal.
e.  Definisi remaja untuk masyarakat Indonesia

4
Menurut Sarlito (1991), tidak ada profil remaja Indonesia yang seragam
dan berlaku secara Nasional.
Sebgai pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan kebatasan
usia 11-24 tahun dan belum menikah
Bigot, Khonsta, dan Palland mengemukakan bahwa masa pubertas berada
dalam usia antara 15-18 tahun, dan masa adolescence dalam usia 18-21 tahun.
Menurut Hurlock (1964) rentangan usia remaja itu antara 13-21 tahun, yang
dibagi pula dalam usia remaja awal 13 atau 14 sampai 17 tahun dan remaja akhir
17 samapai 21 tahun.
Seorang remaja berada pada batas peralihan kehidupan anak dan dewasa.
Tubuhnya sudah kelihatan “dewasa”, akan tetapi bila diperlakukan seperti orang
dewasa ia gagal menunjukkan kedewasaannya. Pada remaja sering terlihat adanya
1)      Kegelisahan.
2)      Pertentangan.
3)      Berkeinginan besar untuk mencoba segala hal yang ia belum ketahui.
4)      Keinginan menjelajah alam sekitar yang lebih luas.
5)      Mengkhayal dan berfantasi.
6)      Aktivitas berkeompok.
2. Tahap Perkembangan Remaja
Tahap perkembangan remaja dimulai dari fase praremaja sampai dengan
fase remaja akhir berdasarkan pendapat  Sullivan (1892-1949). Pada fase-fase ini
terdapat beragam ciri khas pada masing-masing fase.
1.   Fase Praremaja
Periode transisi antara masa kanak-kanak dan adolesens sering sikenal
sebagai praremaja oleh profesional dalam ilmu perilaku (Potter&Perry, 2005).
Menurut Hall seorang sarjana psikologi Amerika Serikat, masa muda (youth or
preadolescence) adalah masa perkembangan manusia yang terjadi pada umur 8-12
tahun.
Fase praremaja ini ditandai dengan kebutuhan menjalin hubungan dengan
teman sejenis, kebutuhan akan sahabat yang dapat dipercaya, bekerja sama dalam
melaksanakan tugas, dan memecahkan masalah kehidupan, dan kebutuhan dalam

5
membangun hubungan dengan teman sebaya yang memiliki persamaan, kerja
sama, tindakan timbal balik, sehingga tidak kesepian (Sunaryo,2004:56).
Tugas perkembangan terpenting dalam fase praremaja yaitu,belajar
melakukan hubungan dengan teman sebaya dengan cara berkompetisi,
berkompromi dan kerjasama.
2.   Fase Remaja Awal (early adolescence)
Fase remaja awal merupakan fase yang lanjutan dari praremaja. pada fase
ini ketertarikan pada lawan jenis mulai nampak. Sehingga, remaja mencari suatu
pola untuk memuaskan dorongan genitalnya. Menurut Steinberg (dalam Santrock,
2002: 42) mengemukakan bahwa masa remaja awal adalah suatu periode ketika
konflik dengan orang tua meningkat melampaui tingkat masa anak-anak.
Sunaryo (2004:56) berpendapat bahwa, hal terpenting pada fase ini, antara
lain:
1) Tantangan utama adalah mengembangkan aktivitas heteroseksual.
2) Terjadi perubahan fisiologis.
3) Terdapat pemisahan antara hubungan erotik yang sasarannya adalah lawan
jenis dan keintiman dengan jenis kelamin yang sama.
4) Jika erotik dan keintiman tidak dipisahkan, maka akan terjadi hubungan
homoseksual.
5) Timbul banyak konflik akibat kebutuhan kepuasan seksual, keamanan dan
keakraban.
6) Tugas perkembangan yang penting adalah belajar mandiri dan melakukan
hubungan dengan jenis kelamin yang berbeda.
3.   Fase Remaja Akhir
Fase remaja akhir merupakan fase dengan ciri khas aktivitas seksual yang
sudah terpolakan. Hal ini didapatkan melalui pendidikan hingga terbentuk pola
hubungan antarpribadi yang sungguh-sungguh matang. Fase ini merupakan
inisiasi ke arah hak, kewajiban, kepuasan, tanggung jawab kehidupan sebagai
masyarakat dan warga negara.
Sunaryo (2004:57) mengatakan bahwa tugas perkembangan fase remaja
akhir adalah economically, intelectually, dan emotionally self sufficient.

6
4. Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja
a. Perkembanang Biologis
Perubahan fisik yang terjadi pada remaja terlihat pada saat masa pubertas
yaitu meningkatnya tinggi dan berat badan serta kematangan sosial. Diantara
perubahan fisik itu, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja
adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin panjang dan tinggi).
Selanjutnya, mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada
wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang
tumbuh (Sarwono, 2006: 52).
Selanjutnya, Menurut Muss (dalam Sunarto & Agung Hartono, 2002: 79)
menguraikan bahwa perubahan fisik yang terjadi pada anak perempuan yaitu;
perertumbuhan tulang-tulang, badan menjadi tinggi, anggota-anggota badan
menjadi panjang, tumbuh payudara.Tumbuh bulu yang halus berwarna gelap di
kemaluan, mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimum setiap
tahunnya, bulu kemaluan menjadi kriting, menstruasi atau haid, tumbuh bulu-bulu
ketiak.
Potter & Perry (2005:535) juga mengatakan bahwa setelah pertumbuhan
awal jaringan payudara, puting dan areola ukurannya meningkat. Proses ini
sebagian dikontrol oleh hereditas, mulai pada paling muda usia 8 tahun dan
mungkin tidak komplet dalam usia 10 tahun. Kadar estrogen yang meningkat juga
mulai mempengaruhi genital. Uterus mulai membesar dan terjadi peningkatan
lubrikasi vaginal, hal tersebut bisa terjadi secara spontan atau akibat perangsangan
seksual. Vagina memanjang, dan rambut pubis dan aksila mulai tumbuh.
Sedangkan pada anak laki-laki peubahan yang terjadi  antara lain;
pertumbuhan tulang-tulang, tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus, dan
berwarna gelap, awal perubahan suara, ejakulasi (keluarnya air mani), bulu
kemaluan menjadi keriting, pertumbuhan tinggi badan mencapai tingkat
maksimum setiap tahunnya, tumbuh rambut-rambut halus diwajaah (kumis,
jenggot), tumbuh bulu ketiak, akhir perubahan suara, rambut-rambut diwajah

7
bertambah tebal dan gelap, dan tumbuh bulu dada. Kadar testosteron yang
meningkat sitandai dengan peningkatan ukuran penis, testis, prostat dan vesikula
seminalis.
Perry&Potter (2005:690) mengungkapkan bahwa empat fokus utama
perubahan fisik adalah :
1. Peningkatan kecepatan pertumbuhan skelet, otot dan visera
2. Perubahan spesifik-seks, seperti perubahan bahu dan lebah pinggul
3. Perubahan distribusi otot dan lemak
4. Perkembangan sistem reproduksi dan karakteristik seks sekunder.
Pada dasarnya perubahan fisik remaja disebabkan oleh
kelenjar pituitary dan kelenjar  hypothalamus.  Kedua kelenjar itu masing-masing
menyebabkan terjadinya pertumbuhan ukuran tubuh dan merangsang aktifitas
serta pertumbuhan alat kelamin utama dan kedua pada remaja (Sunarto & Agung
Hartono, 2002:94).
b. Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2002: 15) pemikiran operasional formal
berlangsung antara usia 11 sampai 15 tahun. Pemikiran operasional formal lebih
abstrak, idealis, dan logis daripada pemikiran operasional konkret. Piaget
menekankan bahwa bahwa remaja terdorong untuk memahami dunianya karena
tindakan yang dilakukannya penyesuaian diri biologis. Secara lebih lebih nyata
mereka mengaitkan suatu gagasan dengan gagasan lain. Mereka bukan hanya
mengorganisasikan pengamatan dan pengalaman akan tetapi juga menyesuaikan
cara berfikir mereka untuk menyertakan gagasan baru karena informasi tambahan
membuat pemahaman lebih mendalam.
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2003: 110) secara lebih nyata pemikiran
opersional formal bersifat lebih abstrak, idealistis dan logis. Remaja berpikir lebih
abstrak dibandingkan dengan anak-anak misalnya dapat menyelesaikan persamaan
aljabar abstrak. Remaja juga lebih idealistis dalam berpikir seperti memikirkan
karakteristik ideal dari diri sendiri, orang lain dan dunia. Remaja berfikir secara
logis yang mulai berpikir seperti ilmuwan, menyusun berbagai rencana untuk

8
memecahkan masalah dan secara sistematis menguji cara pemecahan yang
terpikirkan.
Dalam perkembangan kognitif, remaja tidak terlepas dari lingkungan
sosial. Hal ini menekankan pentingnya interaksi sosial dan budaya dalam
perkembangan kognitif remaja
c. Perkembangan Sosial
Potter&Perry (2005:535) mengatakan bahwa perubahan emosi selama
pubertas dan masa remaja sama dramatisnya seperti perubahan fisik. Masa ini
adalah periode yang ditandai oleh mulainya tanggung jawab dan asimilasi
penghargaan masyarakat.
Santrock (2003: 24) mengungkapkan bahwa pada transisi sosial remaja
mengalami perubahan dalam hubungan individu dengan manusia lain yaitu dalam
emosi, dalam kepribadian, dan dalam peran dari konteks sosial dalam
perkembangan. Membantah orang tua, serangan agresif terhadap teman sebaya,
perkembangan sikap asertif, kebahagiaan remaja dalam peristiwa tertentu serta
peran gender dalam masyarakat merefleksikan peran proses sosial-emosional
dalam perkembangan remaja. John Flavell (dalam Santrock, 2003: 125) juga
menyebutkan bahwa kemampuan remaja untuk memantau kognisi sosial mereka
secara efektif merupakan petunjuk penting mengenai adanya kematangan dan
kompetensi sosial mereka.
Pencarian identitas diri merupakan tugas utama dalam perkembangan
psikososial adelesens. Remaja arus membentuk hubungan sebaya yang dekat atau
tetap terisolasi secara sosial (Potter&Perry, 2005:693). Pencarian identitas diri ini
meliputi identitas seksual, identitas kelompok, identitas keluarga, identitas
pekerjaan, identitas kesehatan dan identitas moral.
3.     Ciri Khas Remaja
a.         Hubungan dengan Teman Sebaya
Menurut Santrock (2003: 219) teman sebaya (peers) adalah anak-anak atau
remaja dengan tingkat usia atau tingkat kedewasaan yang sama. Jean Piaget dan
Harry Stack Sullivan (dalam Santrock, 2003: 220) mengemukakan bahwa anak-
anak dan remaja mulai belajar mengenai pola hubungan yang timbal balik dan

9
setara dengan melalui interaksi dengan teman sebaya. Mereka juga belajar untuk
mengamati dengan teliti minat dan pandangan teman sebaya dengan tujuan untuk
memudahkan proses penyatuan dirinya ke dalam aktifitas teman sebaya yang
sedang berlangsung. Sullivan beranggapan bahwa teman memainkan peran yang
penting dalam membentuk kesejahteraan dan perkembangan anak dan remaja.
Mengenai kesejahteraan, dia menyatakan bahwa semua orang memiliki sejumlah
kebutuhan sosial dasar, juga termasuk kebutuhan kasih saying (ikatan yang aman),
teman yang menyenangkan, penerimaan oleh lingkungan sosial, keakraban, dan
hubungan seksual.
Pada saat remaja, seseorang memperoleh kebebasan yang lebih besar dan
mulai membangun identitasnya sendiri. Secara emosional, mereka menjalin
hubungan yang lebih dekat dengan kelompoknya dibandingkan keluarga. Krisis
identitas ini membuat remaja mengalami rasa malu, takut, dan gelisah yang
menimbulkan gangguan fungsi di rumah dan di sekolah (Potter&Perry, 2010).
Namun, dalam beberapa hal, remaja mengalami ketegangan baik akibat tekanan
kelompoknya, maupun perubahan psikososial. Sehingga remaja cenderung
melakukan tindakan yang dapat mengurangi ketegangan tersebut, misalnya
merokok dan memakai obat-obatan.
Ada beberapa beberapa strategi yang tepat untuk mencari teman menurut
Santrock (2003: 206) yaitu :
a) Menciptakan interaksi sosial yang baik dari mulai menanyakan nama, usia,
dan aktivitas favorit.
b) Bersikap menyenangkan, baik dan penuh perhatian.
c) Tingkah laku yang prososial seperti jujur, murah hati dan mau bekerja
sama.
d) Menghargai diri sendiri dan orang lain.
e) Menyediakan dukungan sosial seperti memberikan pertolongan, nasihat,
duduk berdekatan, berada dalam kelompok yang sama dan menguatkan
satu sama lain dengan memberikan pujian.
Ada beberapa dampak apabila terjadi penolakan pada teman sebaya.
Menurut Hurlock (2000: 307) dampak negatif dari penolakan tersebut adalah :

10
a). Akan merasa kesepian karena kebutuhan social mereka tidak terpenuhi.
b). Anak merasa tidak bahagia dan tidak aman.
c). Anak mengembangkan konsep diri yang tidak menyenangkan, yang dapat
menimbulkan penyimpangan kepribadian.
d). Kurang mmemiliki pengalaman belajar yang dibutuhkan untuk menjalani proses
sosialisasi.
e). Akan merasa sangat sedih karena tidak memperoleh kegembiraan yang dimiliki
teman sebaya mereka.
f).Sering mencoba memaksakan diri untuk memasuki kelompok dan ini akan
meningkatkan penolakan kelompok terhadap mereka semakin memperkecil
peluang mereka untuk mempelajari berbagai keterampilan sosial.
g). Akan hidup dalam ketidakpastian tentang reaksi social terhadap mereka, dan ini
akan menyebabkan mereka cemas, takut, dan sangat peka.
h).Sering melakukan penyesuaian diri secara berlebihan, dengan harapan akan
meningkatkan penerimaan sosial mereka.
Sementara itu, Hurlock (2000: 298) menyebutkan bahwa ada beberapa
manfaat yang diperoleh jika seorang anak dapat diterima dengan baik. Manfaat
tersebut yaitu:
a) Merasa senang dan aman.
b) Mengembangkan konsep diri menyenangkan karena orang lain mengakui
mereka.
c) Memiliki kesempatan untuk mempelajari berbagai pola prilaku yang
diterima secara sosial dan keterampilan sosial yang membantu
kesinambungan mereka dalam situasi sosial.
d) Secara mental bebas untuk mengalihkan perhatian meraka ke luar dan
untuk menaruh minat pada orang atau sesuatu di luar diri mereka.
e) Menyesuaikan diri terhadap harapan kelompok dan tidak mencemooh
tradisi sosial.
b.     Hubungan dengan Orang Tua Penuh Konflik
Hubungan dengan orang tua penuh dengan konflik ketika memasuki masa
remaja awal. Peningkatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu

11
perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif yang meliputi peningkatan
idealism dan penalaran logis, perubahan sosial yang berfokus pada kemandirian
dan identitas, perubahan kebijaksanaan pada orang tua, dan harapan-harapan yang
dilanggar oleh pihak orang tua dan remaja.
Collins (dalam Santrock, 2002: 42) menyimpulkan bahwa banyak orang
tua melihat remaja mereka berubah dari seorang anak yang selalu menjadi
seseorang yang tidak mau menurut, melawan, dan menantang standar-standar
orang tua. Bila ini terjadi, orang tua cenderung berusaha mengendalikan dengan
keras dan member lebih banyak tekanan kepada remaja agar mentaati standar-
standar orang tua.
Dari uraian tersebut, ada baiknya jika kita dapat mengurangi konflik yang
terjadi dengan orang tua dan remaja. Berikut ada beberapa strategi yang diberikan
oleh Santrock, (2002: 24) yaitu : 1) menetapkan aturan-aturan dasar bagi
pemecahan konflik. 2) Mencoba mencapai suatu pemahaman timbale balik. 3)
Mencoba melakukan corah pendapat (brainstorming). 4) Mencoba bersepakat
tentang satu atau lebih pemecahan masalah. 5) Menulis kesepakatan. 6)
Menetapkan waktu bagi suatu tindak lanjut untuk melihat kemajuan yang telah
dicapai.
  Keingintahuan  tentang seks yang tinggi
Seksualitas mengalami perubahan sejalan dengan individu yang terus
tumbuh dan berkembang (Potter&Perry,2010:30). Setiap tahap perkembangan
memberikan perubahan pada fungsi dan peran seksual dalam hubungan. Masa
remaja merupakan masa di mana individu menggali orientasi seksual primer
mereka lebih banyak daripada masa perkembangan manusia lainnya.
Remaja menghadapi banyak keputusan dan memerlukan informasi yang
akurat mengenai topik-topik seperti perubahan tubuh, aktivitas seksual, respons
emosi terhadap hubungan intim seksual, PMS, kontrasepsi, dan kehamilan
(Perry&Potter, 2010:31). Informasi faktual ini dapat datang dari rumah, sekolah,
buku atau pun teman sebaya. Bahkan informasi seperti ini pun,remaja mungkin
tidak mengintergrasikan penhgetahuan ini ke dalam gaya hidupnya. Mereka
mempunyai orientasi saat ini dan rasa tidak rentan. Karakteristik ini dapat

12
menyebabkan mereka percaya bahwa kehamilan atau penyakit tidak akan terjadi
pada mereka, dan karenanya tindak kewaspadaan tidak diperlukan. Penyuluhan
kesehatan harus diberikan dalam konteks perkembangan ini (Potter&Perry,
2005:535).
  Mudah stres
Menurut Potter&Perry (2005:476), Selye (1976) berpendapat bahwa stres
adalah segala situasi dimana tuntutan non-spesifik mengharuskan seorang
individu untuk berespons atau melakukan tindakan.
Stres dapat menyebabkan perasaan negatif. Umumnya, seseorang dapat
mengadaptasi stres jangka panjang maupun jangka pendek sampai stres tersebut
berlalu. Namun, jika adaptasi itu gagal dilakukan, stres dapat memicu berbagai
penyakit.
Remaja juga sangat rentan dengan strea. Sebab, di masa ini seseorang akan
memiliki keinginan serta kegiatan yang sangat banyak. Namun, apabila keinginan
dan kegiatan itu tidak berjalan atau tidak terwujudkan sebagaimana mestinya,
remaja cenderung menjadikan hal tersebut sebagai beban pikiran mereka.
Sehingga remaja mudah mengalami stres. Untuk mengobati itu, remaja menghibur
diri atau meminimalisisr stres mereka dengan berkumpul atau bersenang-senang
dengan teman sebayanya.

13
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri seseorang dalam rentang
masa kanak-kanak sampai masa dewasa. Pada masa ini, pola pikir dan tingkah
laku remaja sangat berbeda pada saat masih kanak-kanak. Hubungan dengan
kelompok (teman sebaya) lebih erat dibandingkan hubungan dengan orang tua.
Teori-teori perkembangan remaja antara lain, teori psikoanalisa, teori psikososial,
teori kognitif serta teori tingkah laku dan belajar sosial. Tahap perkembangan
remaja dimulai dari fase praremaja, remaja awal, dan remaja akhir. Karakteristik
pertumbuhan dan perkembangan remaja antara lain, perubahan fisik yang terjadi
pada remaja terlihat pada saat masa pubertas yaitu meningkatnya tinggi dan berat
badan serta kematangan sosial, remaja berfikir secara logis dan transisi sosial
remaja mengalami perubahan dalam hubungan individu dengan manusia lain.
Sementara itu, ciri khas remaja adalah hubungan dengan teman sebaya lebih erat,
hubungan dengan orang tua penuh konflik, keingintahuan seks yang tinggi, dan
mudah stres.

B.     Saran
Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja menimbulkan
berbagai konflik batin maupun psikis. Orang tua harus benar-benar memahami
konsekuensi perubahan pada remaja. Sementara itu, perawat dapat dijadikan
tempat konseling untuk remaja sebagaimana peran perawat dan sebagai perawat
yang menghadapi permasalahan remaja senantiasa memberikan bimbingan atau
konseling yang baik atau yang tidak memojokkan remaja tersebut dalam masalah
yang dihadapinya.

14
DAFTAR PUSTAKA

Damaiyanti, Mukhripah. 2008. Komunikasi Terapeutik dalam Praktik


Keperawatan. Bandung:Refika Aditama.
Dorland, W.A. Newman. 2011. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta:EGC.
Potter, Patricia A. dan Anne Griffin P. 2005. Fundamental Keperawatan Vol.1.
Jakarta: EGC.
Potter, Patricia A. dan Anne Griffin P. 2010. Fundamental Keperawatan Buku 2.
Jakarta: Salemba Medika.
Sunaryo. 2004. Psikologi untuk keperawatan. Jakarta:EGC.

15