Anda di halaman 1dari 19

“ UJI EFEKTIVITAS GETAH PEPAYA (Carica papaya L.

) DENGAN

PADUAN POLYVINYL ALCOHOL (PVA)-GLYCOLIC ACID (GA) SEBAGAI

BAHAN BAKU BENANG JAHIT OPERASI YANG ABSORBABLE”

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar


Sarjana Sains pada Fakultas sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Oleh:

SUSI SUSANTI
NIM: 60400117042

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2020
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis kulit normal akibat proses
patalogis dari internal dan eksternal yang mengenai organ tertentu. Penjahitan luka
adalah cara yang dilakukan untuk menutup luka. Benang jahit operasi yang
digunakan dalam menjahit luka antara lain benang terserap (absorbable suture) yang
dapat diserap oleh jaringan. Contoh absorbable suture yakni catgut. Benang ini
memiliki beberapa kelemahan yakni mudah larut dalam cairan dan memerlakukan
penanganan simpul khusus. Selain itu jika pasien mengalami demam, infeksi,
defisiensi protein, atau apabila luka operasi dalam kondisi basah akan menyebabkan
kecepatan penyerapannya bertambah. Akibatnya terjadi komplikasi post operasi,
karena kekuatan benang berkurang sebelum jaringan mengalami penyembuhan.

Benang jahit operasi yang absorbable memberikan kontribusi sementara


sampai luka dapat sembuh dengan cukup baik dan mampu untuk menahan tegangan
normal. Para ilmuan mencoba mengembangkan pembuatan benang jahit operasi yang
dapat diserap tubuh (absorbable). Namun memiliki kelemahan yakni menimbulkan
reaksi inflamasi, pemrosesan yang rumit dan masih sedikitnya industry yang
memproduksi benang jahit operasi yang absorbable ini membuat Indonesia masih
harus mengimport benang jahit tersebut dari luar negeri (Satrio, 2012).

Menurut Nurjannah (2015) penggunaan benang jahit operasi sintetik yang


berasal dari Cina, India dan Eropa umumnya memiliki harga yang relative mahal.
Sehingga, dokter mulai beralih menggunakan benang jahit operasi yang terbuat dari
usus hewan. Proses pembuatan benang jahit operasi yang ada di pasaran hingga saat
ini masih diragukan kehalalannya, karena bahan baku pembuatannya menggunakan
usus babi yang tentu bagi umat islam adalah haram hukumnya.
Pembuatan benang jahit membutuhkan bahan polimer sebagai komponen
penyusunnya. Asam glikolat (glycolic acid) yang memiliki sifat regenerasi sel kulit
mati dan membantu mempercepat penyembuhan luka. Satrio dkk. (2012) membuat
benang jahit dari getah pisang yang memiliki sifat dingin, cepat kering dan menutup
luka. Pengujian tarik diperoleh nilai sebesar 2,386 GPa, uji kelarutan pada larutan
PBS larut dalam waktu 10 hari. Uji FT-IR menunjukkan gugus fungsi karbonil dan
gugus alkane. Nurjannah (2015) juga membuat benang jahiyt dengan menggunakan
getah jarak yang mengandung senyawa anti radang, anti nyeri dan memiliki
kemampuan cepat menutup luka. Uji kelarutan getah jarak larut lebih lama
dibandingkan menggunakan getah pisang yang larut dalam waktu 12 hari. Gugus
fungsi yang terbentuk sama yaitu gugus karbonil dan gugus alkana.

Salah satu tanaman obat yang memiliki banyak khasiat, yaitu papaya. Papaya
(carica papaya L) merupakan tanaman obat yang berasal dari Amerika Tengah, yang
kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Afrika dan Nigeria.
Manfaat papaya (Carica papaya L.) telah terkenal diseluruh dunia, baik buah, bunga,
daun ataupun getahnya. Npepayaberisi dua komponen bioaktif utama, yaitu papain
dan kimopapain yang digunakan sebagai bahan tekstil dan penyamakan (Brocklehurts
& Salih. 1985).

Getah papaya memiliki zat yang berkhasiat seperti enzim papain, asm amino,
saponin, alkaloid, flavonoid, tanin dan komponen fenol yang lain digunakan untuk
mengobati demam malaria, Diabetes Mellitus (Ayoola & Adeyey. 2010). Kandungan
papain dalam papaya (Carica Papaya L.) sudah banyak dikembangkan. Enzim papain
yang terkandung dalam getah sangat baik untuk mempercepat dan melarutkan sel-sel
mati yang melekat pada kulit sehingga dapat memuluskan kulit yang terkena luka.
Saponin adalah salah satu senyawa yang memacu pembentukan kolagen, yaitu protein
struktur yang berperan dalam proses penyembuhan luka. Flavonoid mempunyai
aktivitas sebagai antiseptic (Harborne, 1987).
Berdasarkan manfaat dan kandungan yang efektif pada papaya( Carica papaya
L.), penelitian ini dapat meyakinkan pandangan masyarakat mengenai manfaat getah
papaya (Carica Papaya L.) yang berguna untuk proses mempercepat penyembuhan
luka.

1,2 Rumusan Masalah

1. Bagaimna gugus fungsi yang terbentuk dari panduan getah papaya dan PVA-
GA?
2. Bagaimna kuat tarik dari paduan getah papaya dan PVA-GA?
3. Bagaimana kelarutan getah papaya dan PVA-GA dalam NaCI 0,9% ?
4. Bagaimana aktivitas antibakteri dari paduan getah papaya dan PVA- GA
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui gugus fungsi yang terbentuk dari panduan getah papaya
dan PVA-GA?
2. Untuk mengetahui sifat kuat tarik dari paduan getah papaya dan PVA-GA?
3. Untuk mengetahui kelarutan getah papaya dan PVA-GA dalam NaCI 0,9% ?
4. Untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari paduan getah papaya dan PVA-
GA?
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan nilai yang positif terhadap
pembuatan benang jahit yang absorbable dari getah papaya. Adapun manfaat secara
khusus yaitu:
1. Menambah khazanah ilmu pengetahuan mengenai getah papaya (Carica
papaya L.) sebagai tanaman obat tradisional yang mempunyai khasiat untuk
menyembuhkan luka.
2. Informasi yang berkaitan dengan getah papaya dapat dijadikan referensi untuk
pembuatan benang jahit yang absorbable dan dapat dijadikan acuan pada
penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Luka

Rusaknya struktur dan fungsi anatomis kulit normal akibat proses patalogis
dari internal dan eksternal yang mengenai organ tertentu disebut luka beberapa efek
akan muncul, diantaranya hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ, respon strss
simpatis, pendarahan dan pembekuan darah, kontaminasi bakteri, dan kematian sel (
Trubus, 2008).

Luka diklasifikasikan dalam 2 bagian, yaitu luka akut dan luka kronis. Luka
akut merupakan luka trauma yang biasanya segera mendapat penanganan dan
biasanya dapat sembuh dengan baik bila tidak terjadi komplikasi. Kriteria luka akut
seperti luka baru, mendadak dan penyembuhannya sesuai dengan waktu yang
diperkirakan. Seperti luka sayat, luka bakar, luka tusuk, luka operasi (luka jagit).
Luka kronik adalah luka yang berlangsung lama atau sering timbul kembali (rekuren),
terjadi gangguan pada proses penyembuhan yang desebabkan oleh masalah
multifactor dari penderita. Pada luka kronik gagal sembuh pada waktu yang
diperkirakan, tidak bere4spon baik terhadap terapi dan memiliki tendensi untuk
timbul kembali. Seperti ulkus decubitus, ulkus diabetik, ulkus venous(Istiqomah,
2012).

Factor-faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka dibagi menjadi 2


jenis yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Factor intrinsic meliputi gangguan kardiovaskuler,
malnutrisi, gangguan metabolik dan endokrin, penurunan daya tahan terhadap infeksi,
usia dan kondisi lokal yang merugikan pada tempat luka (misalnya, eksudat yang
berlebihan, dehidrasi, infeksi luka, trauma kambuhan, penurunan suhu luka, pasokan
darah yang buruk, edema, hipoksia lokal, jaringan nekrotik, pengelupasan jaringan
yang luas, produk metabolic yang berlebihan, dan benda asing). Sementara factor
ekstrinsik meliputi pengkajian luka yang tidak tepat, penggunaan bahan perawatan
luka primer yang tidak sesuai, dan teknik penggantian balutan yang ceroboh)
(Morrison, 2004).

2.1.1 Klasifikasi Penyembuhan Luka


Menurut (Sjamsuhidajat, 2005) beberapa klasifikasi dalam penyembuhan luka
sebagai berikut:
a. penyembuhan primer dilakukan bila luka bersih, tidak terinfeksi dan dijahit
dengan baik.
b. Penyembuhan sekunder, luka dibiarkan terbuka, luka terisi jaringan granulasi
epitel ; menutup granulasi mulai dari pinggir, terisi penuh dengan jaringan
granulas, granulasi ditutup oleh epitel, proses perupaan kembali disertai
pengerutan.
c. Penyembuhan primer tertunda atau penyembuhan dengan jahitan tertunda
dengan luka dibiarkan terbuka, setelah beberapa hari ada granulasi baik tanpa
gejala dan tanda infeksi.
d. Debridemen, luka kasar atau kotor, pembersihan dan pembilasan debridemen
yang terdiri atas pembuangan segala jaringan yang kotor termasuk pinggir
luka, jahitan lapis demi lapis, penyembuhan primer.

2.1.2 proses penyembuhan luka


Tahapan penyembuhan luka (Gitarja, 2008) menjelaskan tahapan atau fase
penyembuhan luka dimulai dari fase inflamasi yang dimulai sejak terjadinya luka
sampai hari ke-5. Setelah terjadinya luka, pembuluh darah yang putus mengalami
konstriksi dan retraksi disertai reaksi hemostasis karena agregasi trombosit yang
bersama jala fibrin membekukan darah. Komponen hemostatis ini akan melepaskan
dan mengaktifkan sitokin yang melipoti Epidermal Growth Factor (EGF), Insulin-like
Growth Factor (IGF), plateled- derived Growth Factor (PDGF) dan transforming
Growth Factor beta (TGF-B) yang berperan untuk terjadinya kemotaksis netrofil,
makrofag, mast sel, endothelial dan fibroblast. Keadaan ini disebut fase inflamasi.
Pada fase ini kemudian terjadi vasodilatasi dan akumulasi lekosit polymorphonuclear
(PMN).
Fase proliferasi atau rekontruksi : berlangsung dari akhir masa inflamasi
sampai kira-kira minggu ke-3. Fase ini ditandai dengan adanya proliferasi
sel/pembelahan sel. Peran fibroblast sangat besar untuk menghasilkan struktur protein
yang digunakan selama proses rekontruksi jaringan. Pada saat terjadi luka fibroblast
akan aktif ke jaringan sekitar luka dan berproliferasi mengeluarkan beberapa
substansi seperti kolagen, elastin, hyaluronic acid, fibronectin, dan proteoglycans
untuk rekontruksi jaringan baru. Pada fase ini juga terjadi proses pembentukan
kapiler baru dalam luka atau disebut angiogenesis. Fibroblast dan angiogenesis
merupakan proses yang terintegrasi dan dipengaruhi oleh substansi yang dikeluarkan
oleh platelet dan makrofag (growth factor). Proses selanjutnya adalah epitelisasi,
karena fibroblast mengeluarkan Karatinocyte Growth factor (KGF). Fase proliferasi
akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen telah terbentuk, terlihat proses
kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai growth factor.

Gambar 2.1 Fase penyembuhan luka (Gitarja, 2008)


2.2 Benang Jahit
Benang jahit digunakan untuk menyatukan jaringan tubuh selama tindakan
operasi. Banyak bahan yang telah digunakan untuk jahitan, yang mencakup linen,
katun, berbagai plastic, perak dan baja tahan karat. Benang diikat langsung pada
ujung jarum sekali pakai, karena jarum lebih kecil daripada benang dan menimbulkan
sedikit trauma ditarik bila melewati jaringan ( Sabiston, 1995).
Benang ideal harus cukup kuat sehingga hanya dibutuhkan utas yang halus
untuk menyatukan jaringan, mengurangi jumlah benda asing yang tertinggal di dalam
tubuh. Benang harus mudah dimanipulasdi dan disimpul serta terabsorbsi dan hilang
segera setelah jaringan sembuh dan mencapai kekuatan normal. Benang juga harus
memiliki koefesien gesek yang cukup tinggi untuk mendapat jahitan yang kuat
dengan jumlah sesedikit mungkin, serta tetap cukup rendah agar dapat meluncur
melalui jaringan tanpa mencederai jaringan sekitarnya. Benang yang benar-benar
ideal masih belum ditemukan (Sabiston, 1995).
Menurut Dudley et al.(2000), benang jahit operasi dibedakan menjadi dua
yakni benang serap (absorbable suture) dan benag yang tidak diserap (non absorbable
suture). Ada dua mekanisme enzimatik, misalnya terjadi pada catgut dan kolagen.
Enzim proteolitik dalam lisosom akan menghancurkan benang. Kedua, mekanisme
hidrolisa yang berefek pada air dalam benang. Gangguan pada air benang akan
menyebabkan benang lebih rapuh lalu hancur. Hidrolisa akan meningkat dengan
perubahan pH. Pemiliha benang desesuaikan dengan organ yang akan dijahit dengan
mempertimbangkan waktu panyerapannya.
Benang dapat diklasifikasi sebagai (1) bahan alamiah seperti „catgut‟, sutera, atau
kawat; atau (2) bahan sintetik seperti (a) kolagen sintetik (asam poliglikolat,
poliglatin), yang dapat terabsorbsi , atau (b) berbagai palstik yang tidak terabsorbsi,
seperti poliamida (nilon), polyester (Dacron) dan polyolefin (polietilen, polipropilen).
2.2.1 karakteristik Benang Operasi
Pemilihan jenis benang jahit ditentukan 3 hal yaitu jenis bahannya,
kemampuan tubuh untuk menyerapnya dan susunan filamennya. Bahan yang dapat
diserap melalui reaksi enzimatik pada cairan tubuh kini banyak dipakai. Benang yang
tidak dapat diserap oleh tubuh terbuat umumnya dari bahan yang tidak menimbulkan
reaksi jaringan karena bukan merupakan bahan biologi. Benang ini dapat berasal dari
sutera yang sangat kuat dan liat, dari kapas yang kurang kuat dan mudah terurai, dan
dari polyester yang merupakan bahan sintetik yang kuat dan biasanya dilapisi Teflon.
Selain itu terdapat juga benang nilon yang sangat inert dan baja yang terbuat dari baja
tahan karat. Karena tidak dapat deserap maka benangf akan tetap berada di jaringan
tubuh. Benang jenis ini biasanya digunakan pada jaringan yang sukar sembuh. Bila
terjadi infeksi akan berbentuk fistel yang baru dapat sembuh setelah benang yang
bersifat benda asing dekeluarkan (Sjamsuhidayat, 2005).
Ukuran benang dinyatakan dalam satuan baku eropa atau dalam satuan metric.
Ukuran terkecil standar eropa adalah 11,0 dan terbesar adalah ukuran 7. Ukuran
benang merupakan salah satu factor yang menentukan kekuatan jahitan. Oleh karena
itu pemilihan ukuran benang untuk menjahit luka bedah bergantung pada jaringan apa
yang dijahit dan dengan pertimbangan factor kosmetik. Sedangkan kekuatan jahitan
ditentukan oleh jumlah jahitan, jarak jahitan, dan jenis benangnya. Pada wajah
digunakan ukuran yang kecil (5,0 atau 6,0). Ukuran benang umumnya 5/0-1
tergantung jenis operasi. Jaringan lebih tebal atau banyak kolagen, benang lebih besar
dan jarum lebih tebal. Ukuran benang <6/0 (diameter rambut manusia).
Table 2.1 karakteristik benang operasi (Sjamsuhidajat, 2005).
Lokasi penjahitan Jenis benang Ukuran
Fasia Semua 2,0-1
Otot Semua 3,0-0
Kulit Tak diserap 2,0-6,0
Lemak Terserap 2,0-3,0
Hepar Kromik catgut 2,0-0
Ginjal Semua catgut 4,0
Pancreas Sutera atau kapas 3,0
Usus halus Catgut, sutera, kapas 2,0-3,0
Usus besar Kromik catgut 4,0-0
Tendon Tak diserap 5,0-3,0
Kapsul sendi Tak diserap 3,0-2,0
Peritoneum Kromik catgut 3,0-2,0
Bedah mikro Tak diserap 7,0-11-0

2.2.2 Benang Jahit Operasi Yang Absorbable


Benang jahit operasi adalah benda asing yang ditanamkan kedalam jaringan
tubuh manusia. Benang jahit operasi yang ideal memiliki karakteristik sebagai
berikut:
1. Steril
2. Bahan yang digunakan dalam prosedur pembedahan
3. Meminimalisir reaksi negative dari jaringan (nonelektrolytic, noncapillary,
nonallergenic, noncarcinogenic)
4. Mudah dalam penanganan
5. Terbukti aman
6. Kekuatan tarik tinggi
7. Tahan terhadap infeksi
Benang jahit operasi yang absorbable memberikan kontribusi sementara
sampai luka dapat sembuh dengan cukup baik dan mampu untuk menahan sampai
luka dapat sembuh dengan cukup baik dan mampu untuk menahan tegangan normal.
Penyerapan terjadi melalui degradasi enzimatik bahan alami dan oleh hidrolisis dalam
bahan sintesis. Hidrolisis menyebabkan reaksi jaringan kurang dari degradasi
enzimatik (John, 1970).
2.3 Teksonomi Tanaman Pepaya
Papaya (Carica papaya L.) berasal dari family Caricaceae. Papaya merupakan
tanaman obat yang memiliki pertumbuhan yang cepat dan masa hidup yang pendek,
tetapi dapat memproduksi buah hmpir lebih dari 20 tahun (Dick, 2003). Menurut
sejarahnya, tanaman papaya berasal dari Amerika Tengah. Tu,mbuhan papaya
biasanya tumbuh di daerah India Utara, Filipina, Srilamka, India, Bangladesh,
Malaysia, dan di Negara tropical. Banyak sekali bagian dari papaya yang bernilai
komwrsial. Bagian berbeda dari tumbuhan papaya (buah, daun, getah, dan biji) bisa
dimakan dan bisa dijadikan obat untukberbagai penyakit. Dalam beberapa studi, daun
papaya terbukti sebagai antisikling, dan efektif melawan ulcer gastrik pada tikus,
sedangkan bunga papaya terbukti memiliki aktivitas antibakteri (Halim, et al, 2011).
Kedudukan tanaman papaya dalam sistematik (taksonomi) tumbuhan
diklasifikasikan sebagai berikut :

Gambar 2.2 Tanaman papaya (www.kesehatanpedia.com)


Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Sub-Divisi : Angiosperma ( Biji tertutup)
Kelas : Dicotyledonae (Biji berkeping dua)
Ordo : Caricales
Famili : Caricaceae
Spesies : Carica papaya L. (Rukmana, 1995)
Nama umum papaya di dunia “pawpaw” amun di berbagai Negara memiliki
nama yang beragam. Misalnya di Malaysia disebut “Betik” (Tree-melon), dan di
Indonesia popular dengan nama “papaya” (Rukmana, 1995). Bentuk dan susunan
tubuh bagian luar tanaman papaya termasuk tumbuhan perdu yang umur sampai
berbunganya dikelompokkan sebagai tanaman buah-buahan semusim, namun dapat
tumbuh setahun atau lebih. System perakarannya memiliki akar tunggang dan akar-
akar cabang yang tumbuh mendatar ke semua arah pada kedalaman 1 meter atau lebih
dan menyebar sekitar 60-150 cm atau lebih dari pusat batang tanaman (Rukmana,
1995).
Batang tanaman papaya berbentuk bulat lurus berbuku-buku (beruas-ruas), di
bagian tengahnnya berongga, dan tidak berkayu. Ruas-ruas batang merupakan tempat
melekatnya tangkai daun yang panjang, berbentuk bulat, dan berlubang. Daun papaya
bertulang menjari (palminervus) dengan warna permukaan atas hijau-tua, sedangkan
warna permukaan bagian bawah hiaju muda (Rukmana, 1995).
Hampir semua bagian tanaman papaya dapat dimanfaatkan, mulai dari daun,
batang, akar, maupun buah. Getah papaya yang paling banyak terkandung didalam
buah papaya jenis papaya Bangkok. Getah papaya yang seting disebut sebagai papain
dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan., antara lain: penjernih bir,
pengempuk daging, bahan baku industry penyamak kulit, serta digunakan dalam
industry farmasi dan kosmetik (kecantikan). Papain merupakan enzim proteolitik,
yaitunenzim yang dapat mengurangi dan memecah protein.
Tumbuh-tumbuhan memliki peranan penting dalam kehidupan manusia yang
bermanfaat sebagai makanan dan obat-obatan. Hal ini menunjukkan bahwa segala apa
yang tercipta ada manfaatnya dan itu semua merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah.
AL-Qur‟an menyebutkan sejumlah buah-buahan yang oleh ilmu pengetahuan modern
ditegaskan memiliki khasiat untuk mencegah beberapa jenis penyakit. Di dalam al-
Qur‟an di jelaskan pada surah: an-Nahl ayat 11:
              

  

“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma,
anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan”.(Q.S an-
Nahl ayat 11).

Ayat tersebut diperkuat oleh hadits yang artinya :


“ sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan pula obat
bersamanya (hanya saja) tidak mengetahui orang yang tidak mengetahuinya dan
mengetahui orang yang mengetahuinya” (HR. Ahmad 1/377, 413 dan 453 dan hadits
ini dishahihkan dalam Ash-Shahihah n0. 451).

Ayat diatas mengandung makna bahwa Allah SWT telah menumbuhkan


berbagai macam tumbuhan yang mempunyai manfaat yang begitu besar bagi
manusia, yaitu salah satunya dapat dimanfaatkan sebagai obat berbagai macam
penyakit, dan ini merupakan anugerah Allahn SWT yang harus dipelajari dan
dimanfaatkan. Allah menciptakan beragam jenis buah, setiap jenis memiliki rasa dan
harum tersendiri meskipun semuanya tumbuh ditanah yang sama dan dialiri dengan
air yang sama. Allah menciptakan tatanan ini dan memperlihatkannya kepada
manusia agar mereka mengambil hikmah dan mensyukuri-Nya (Harun Yahya, 2004).

2.3.1 Kandungan Kimi Pada Getah Pepaya


Getah papaya cukup banyak mengandung enzim yang bersifat proteolitik
(pengurai protein). Sehingga tepung getah papaya terkandung enzim-enzim protease
yaitu papain dan kimopapain. Kadar papain dan kimopapain dalam buah papaya
muda berturut-turut 10% dan 45%. Lebih dari 50 asam amino terkandung dalam
getah papaya kering itu antara lain asam aspartate, treonim, serin, asam glutamate,
prolin, glisin, 7 alanin, valine, isoleusin, leusin, tirosin, phenilalanin, histidin, lysine,
arginine, tritopan, dan sistein. Papain merupakan satu dari enzim paling kuat yang
dihasilkan oleh seluruh bagian tanaman papaya kecuali biji dan akar. Buah
merupakan bagian tanaman yang menghasilkan getah paling banyak (Warisno, 2003).
Getah papaya termasuk enzim proteolitik dimana dapat memecah senyawa protein
menjadi pepton. Contoh enzim proteolitik lainnya adalah bromeilin pada nanas, renin
pada sapid an babi. Pemakaiannya masih jarang lantaran sulit diekstrak dan
aktivasnya lebih rendah dibanding papain.

2.4 Fourier Transform Infra Red (FTIR)


Spektroskopi FTIR adalah teknik pengukuran untuk mengumpulkan spectrum
inframerah. Energi yang diserap sampel dan berbagai frekuensi sinar inframerah
direkam, kemudian diteruskan ke interferometer. Sinar pengumpulan sampel diubah
menjadi interferogam. Perhitungan secara matematika fourier Transform untuk sinyal
disebut akan menghasilkan spectrum yang identik pada spektroskopi inframerah.
Spektroskopi FTIR merupakan spektroskopi inframerah yang dilengkapi dengan
transformasi fourier untuk detensi dan analisis hasil spektrumnya. Inti spektroskopi
FTIR adalah interferometer Michelson yaitu alat untuk menganalisis frekuensi dalam
sinyal gabungan (Chatwal, 1985).
Spectrum inframerah tersebut dihasilkan dari transmisi cahaya yang melewati sampel,
pengukuran intensitas cahaya dan detector dan dibandingkan dengan intensitas tanpa
sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Spectrum inframerah yang diperoleh
kemudian di plot sebagai intensitas fungsi energy, panjang gelombang atau bilangan
gelombang. Analisis gugus fungsi suatu sampel dilakukan dengan membandingkan
pita absorbsi yang terbentuk pada spktrum infra merah memggunakan table korelasi
dan menggunakan spectrum senyawa pembanding yang sudah diketahui ( Griffiths,
1975).
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat


Waktu : Bulan Mei 2020-sampai selesai
Tempat : Universitas Islam Negeri Makassar
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah :
1. Pisau
2. Spatula
3. Beaker Glass
4. Gelas Ukur
5. Cawan Petri
6. Oven
7. Wadah Plastik
8. Magnetik stirrer
9. Timbangan milligram
10. Uninersal Tensile Strength
11. Spektrofotometer inframerah
12. Autoklaf
13. Tissue
14. Erlenmeyer
15. Blue tip
3.3.2 bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Getah papaya
2. Aquadest
3. Glycolid acid
4. Polyvinyl alcohol
5. Normal Salin (NaCI) 0,9 %
6. 6. Bakteri Staphylococcus aureus
7. Mueller-Hinton Agar (MHA)
3.3 prosedur penelitian
3.3.1 Pengambilan Getah Pepaya
a. penyadapan getah papaya dilakukan dengan mencari buah yang masih muda,
yang berumur sekitar 2,5-3 bulan.
b. waktu menyadap dilakukan pada pagi hari yaitu sebelum matahari terbit
sekitar pukul 05.30-08.00 atau pada sore hari sebelum matahari terbenam
yaitu sekitar pukul 17.30-18.30
c. alat sadap ditorehkan pada kulit buah mulai dari pangkal menuju ujung buah
sedalam 1-2 mm dengan jarak antar torehan 1-2 cm atau dengan batasan
hingga 5 torehan per buah.
d. wadah plastic dipasang di sekitar buah sebagai tempat untuk menampung
getah, dan wadah harus sudah terpasang sebelum buah ditoreh.
e. setiap buah yang disadap tidak lebih 7 kali sebelum buah dibiarkan matang
untuk dikonsumsi buahnya.
3.3.2 pembuatan benang jahit
a. langkah pertama dengan menyiapkan semua bahan-bahan yang dibutuhkan,
seperti getah papaya yang sudah diperoleh dari proses penyadapan, aquadest,
polyglycolid acid, dan polivinil alcohol.
b. PVA 1,75 gram (Polyvinil Alcohol) ditimbang kemudian dimasukkan ke
dalam 2,5 ml aquadest dan diaduk secara homogeny atau merata di atas
magnetic stirrer de3ngan temperature 90 derajat Celsius dan kecepatan putar
700 rpm selama 1 jam.
c. C. Glicolic acid sebanyak 1.5 gram dicampurkan ke dalamPVA yang sudah
homogen, kemudian diaduk secara homogeny atau merata di atas magnetik
stirrer dengan temperature 90 derajat Celsius dengan putaran 700 rpm.
d. Getah papaya dengan variasi konsentrasi 6.25, 7.5, 8.75, 10, 11, 25, dan 12.5
(ml) dicampurkan ke dalam 25 ml PVA dan GA kemudian diaduk sampai
terbentuk pasta di atas magnetic stirrer dengan temperatur 90 derajat Celsius
dengan putaran 700 rpm selama kurang lebih 1 jam.
e. larutan yang sudah terbentuk pasta dituang pada cetakan lalu dibentuk
menjadi benang dan dikeringkan
f. uji kelarutan dengan menggunakan NaCI 0,9 % karena cairan tersebut
menyerupai cairan tubuh manusia, dan uji tarik.
g. dianalisa dari hasil yang didapatkan.
3.4 teknik pengambilan dan analisis Data
3.4.1 Teknik Pengambilan Data
Setelah terbentuk pasta yang sudah dibentuk benang, kemudian dilakukan
karakterisasi dengan beberapa metode, diantaranya:
1. Uji FTIR
Sampel dibentuk lapisan tipis setelah itu sampel dimasukkan kedalam tabung
perangkat FTIR dan disinari untuk mendapatkan gugus fungsi yang terkandung dalam
sampel. Hasil pengamatan uji FTIR ini berupa grafik yang nanti akan dianalisis jenis
senyawa yang terbentuk, ikatan, intensitas dan banyaknya serapan yang terjadi pada
panjang gelombang tertentu.
2. Uji Tarik
Sampel dibentuk seperti pada gambar 3.1 kemudian diuji dengan menggunakan
universal tensilestrengh pada gambar 3.2. ketebalan sampel dikukur pada 3 titik dan
diuji tarik dengan cara kedua ujung dijepit mesin penguji tensile. Sehingga diperoleh
panjang awal dan panjang akhir.
3. Uji Kelarutan
Uji kelarutan dilakukan untuk mengetahui waktu sampel larut dalam larutan NaCI 0,9
% yang diasumsikan sama dengan waktu yang dibutuhkan oleh benang jahit operasi
yang absorbable untuk larut dalam jaringan tubuh kita secara sempurna. Dan untuk
mengetahui perubahan bentuk dan warna pada larutan NaCI 0,9 %.
4. Uji Antibakteri
Aktivitas antibakteri dilakukan dengan bakteri staphylococcus aureus
menggunakan metode kertas cakram yang diinjeksi dengan sampel. Selanjutnya
kertas cakram yang sudah tercampur dengan sampel diletakkan pada cawan petri
yang sudah diisi dengan bakteri. Pengamatan dilakukan setelah 24 jam bakteri
didiamkan di autoklaf.
3.5 Diagram Alir Penelitian

Persiapan alat dan bahan

1,75 gr PVA 1,5 gr Glycolid acid

Dilarutkan dalam 25 ml aquadest

Diaduk dengan putaran 700 rpm selama


dan dipanaskan suhu 90 derajat Celsius
kurang lebih 1 jam.

Ditambahkan getah papaya variasi


konsentrasi 6.25, 7.5, 8.785, 10, 11.25,
dan 12.5 (ml) dalam 25 ml PVA -GA

Dihomogenkan dan dicetak

Benang jahit

Uji FT-IR Uji Kuat Tarik Uji Kelarutan Aktivitas antibakteri

ANALISA HASIL

SELESAI