Anda di halaman 1dari 19

UJI EFEKTIVITAS BIJI PEPAYA SEBAGAI BIOABSORBEN PENJERNIH

MINYAK KELAPA BEKAS (Cocos nucefera L)

Proposal

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Sains

Jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi

UIN Alauddin Makassar

Oleh:

ANITA PURNAMASARI
60400117004

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2020
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di dalam Al-Qur‟an, Allah SWT mengemukakan tentang tumbuh-tumbuhan
yang bermanfaat. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surah Luqman ayat 10:

Artinya: “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia
meletakan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak
menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis
binatang. Dan kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya
segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik (QS. Luqman :10)”.
Ayat di atas menjelaskan bahwa Dia-lah yang menurunkan hujan dari langit
dan menumbuhkan bermacam-macam tumbuhan yang baik dan bermanfaat untuk
kehidupan manusia dan makhluk lainnya di muka bumi. Tumbuh-tumbuhan
merupakan rezeki anugerah dari Allah SWT untuk manusia, hewan dan makhluk
lainnya.
Berdasarkan firman-Nya makna “arab” tumbuh-tumbuhan yang baik menurut
Al Qurtubhi adalah yang memiliki warna dan bentuk. Sedangkan menurut Tafsir Ibnu
Katsir tumbuhan yang baik yaitu indah dipandang. Sesungguhnya dengan ayat di atas
Allah SWT menjelaskan bahwa Allah Maha Kuasa atas alam semesta antara lain
dengan menumbuhkan tumbuhan yang baik atau bermanfaat bagi manusia. Satu
diantara tumbuhan bermanfaat itu adalah tumbuhan yang dapat digunakan sebagai
kebutuhan sehari-hari misalnya daging buah pepaya yang dapat diolah menjadi selai
(untuk kue).
Perubahan sifat fisik dan kimia minyak goreng (kelapa) terjadi setelah
penggunaan berkali-kali dengan suhu yang cukup tinggi. Minyak menjadi cepat
berasap, berbusa dan meningkatkan warna coklat serta flavor yang tidak enak.
Karakteristik minyak goreng ditentukan oleh kadar air, bilangan asam, bilangan
peroksida dan kerapatan jenis bahan. Peningkatan asam lemak yang terbentuk dari
hasil reaksi hidrolisis akibat dari keberadaan air dalam minyak pada suhu yang tinggi
sehingga menyebabkan terbentuknya senyawa hasil oksidasi lemak dan minyak yang
membentuk gugus fungsional aldehid dan keton sebagai indikasi terjadi ketengikan
(rancidity) pada minyak goreng. Minyak goreng berfungsi sebagai penghantar panas,
penambah rasa gurih dan penambah nilai gizi/kalori bahan pangan. Penggunaan
minyak bekas penggorengan pada makanan yang dikonsumsi akan menganggu
kesehatan seperti penyakit kanker, penumpukan Trans Fatty Acid (TFA) di dalam
pembuluh darah dan penurunan nilai cerna lemak dan minyak sehingga menurunkan
kecerdasan generasi berikutnya.
Pada tahun 2014, indonesia merupakan penghasil buah pepaya yang cukup
besar yaitu 840,112 ton/tahun. Biji pepaya merupakan sampah pertanian yang bisa
dijadikan sebagai bioabsorben dengan biaya yang sangat murah. Nilai ekonomis dari
limbah biji pepaya sampai saat ini masih sangat kurang efisien, padahal biji pepaya
mengandung beberapa senyawa-senyawa aktif seperti alkaloid, flavoid, glikosida
antrakinon, tanin, titerpenoid/steroid dan saponin. Selain itu, biji pepaya juga
memiliki unsur paling penting sebagai bioabsorben.
Adsorben atau bioabsorben dapat digunakan untuk mengembalikan mutu
minyak goreng. Bioabsorben dihasilkan dari bahan yang mengandung karbon
berfungsi sebagai purifikasi atau pemisah komponen pada fase gas atau cairan.
Bioabsorben merupakan suatu zat padat yang dapat digunakan untuk menyerap
komponen tertentu dari suatu fasa fluida. Pemanfaatan bioabsorben untuk menyerap
gugus fungsi pada minyak untuk pemurnian minyak goreng sangat potensial.
Peningkatan kualitas minyak goreng dengan karbon aktif melalui proses adsorpsi
yang menyerap zat warna, suspensi koloid hasil degradasi minyak.
Penelitian mengenai bioabsorben biji pepaya telah banyak dilakukan seperti
penelitian mengenai pembuatan bioabsorben biji pepaya untuk penyerapan methyl
blue, dengan ukuran partikel 60 mesh aktivator 98%. Kapasitas absorpsi dengan
metode Langmuir sebesar 55,557 mg. Kemudian pembuatan bioabsorben juga
dilakukan untuk penyerapan cristal violet, ukuran partikel 60 mesh dengan aktivator
98%, diperoleh luas permukaan 1,38 m2/g. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti
tertarik melakukan penelitian dengan Judul Uji Efektivitas Biji Pepaya sebagai
Bioabsorben Penjernih Minyak Kelapa. Diharapkan Penelitian ini bisa menjadi
informasi untuk masyarakat bahwasannya buah pepaya tidak hanya dikonsumsi
sebagai buah meja saja tetapi sebagai makanan yang benilai gizi dan protein yang
tinggi serta dapat diolah menjadi bioabsorben penjernih minyak kelapa.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana efektifitas
penggunaan bioabsorben dari biji pepaya untuk memurnikan minyak goreng bekas ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan
bioabsorben dari biji pepaya untuk memurnikan minyak goreng bekas.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini yaitu untuk memberikan informasi kepada
masyarakat bahwa ekstrak biji Pepaya (Carica Papaya L) dapat dimanfaatkan sebagai
bioabsorben Penjernih Minyak goreng bekas.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pepaya (Carica Papaya L)


Keanekaragaman tumbuhan juga telah dijelaskan dalam Al-Qur‟an. Allah
SWT menjelaskan tentang keanekaragaman tumbuhan dalam surah An-Nahl ayat 11:

Artinya: “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun,
kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS: An-
Nahl :11)
M.Quraish shihab telah mentafsirkan dengan menyatakan bahwa Dia yakin
Allah swt, menumbuhkan bagi kaum dengannya, yakni dengan air hujan itu tanaman-
tanaman; dari yang paling cepat layu sampai dengan yang paling panjang usianya dan
paling banyak manfaatnya. Dia menumbuhkan zaitun, salah satu pohon yang paling
panjang usianya, demikian juga kurma, yang dapat dimakan mentah atau matang,
mudah dipetik dan sangat bergizi lagi berkalori tinggi, juga anggur yang dapat kamu
jadikan makanan yang halal dari segala macam atau sebagian buah-buahan.
Sesungguhnya pada yang demikian, yakni ada curahan hujan dan akibatnya itu benar-
benar ada tanda yang sangat jelas bahwa yang mengaturnya seperti itu adalah Maha
Esa lagi Maha Kuasa. Tanda itu berguna bagi kaum yag memikirkan. Betapa tidak,
sumber airnya sama, tanah tempat tumbuhnya berdempet, tetapi ragam dan rasanya
berbeda-beda.”
Ayat di atas ditafsirkan bahwasannya manusia perlu mengetahui macam
tanaman dan juga buah-buahan ciptaan Allah, yaitu agar manusia dapat menunjukkan
akan kekuasaan Allah SWT. Dengan kita mengetahui ciptaan-Nya, khususnya pada
buah-buahan, kita dapat memanfaatkan tanaman atau pun buah-buahan itu untuk
berbagai kepentingan makhluk hidup lainnya.
“Ibnu katsir juga mentafsirkan bahwasanya Allah menumbuhkan semuanya
dari bumi dengan air yang sama, tetapi hasilnya berbeda jenis, rasa, warna dan beda
bentuknya. Petunjuk dan buku tersebut menyatakan bahwa sesungguhnya semua itu
adalah tanda (kekuasaan Allah SWT)”.
Tafsir ibnu katsir di atas menjelaskan bahwa kekuasaan Allah memang nyata
bahwasannya Allah menumbuhkan tanaman di bumi ini dari air yang sama, akan
tetapi hasil dari warna, jenis dan rasa berbeda-beda. Hal ini bukti akan petunjuk dan
kekuasaan Allah SWT. Tafsir-tafsir dan penjelasan di atas telah dijelaskan akan
kekuasaan Allah. Bahwasannya sebagai hamba Allah kita harus menjaga dan juga
memanfaatkan alam dengan sebaik-baiknya dan mengembangkan menjadi sesuatu
yang bermanfaat. Salah satunya yaitu memanfaatkan buah pepaya untuk diolah
menjadi material yang bermanfaat dan bernilai tinggi.
Tanaman Carica Papaya yang berasal dari Amerika Tengah termasuk tanaman
perdu dengan batang tunggal, tidak berkayu, berbentuk silindris serta memiliki
rongga. Pohon pepaya mempunyai akar yang kuat dan tinggi sekitar 5-10 meter.
Pohon pepaya tidak memiliki cabang, daunnya termasuk daun tunggal dengan ujung
yang meruncing dan tepi yang bergerigi. Biji pepaya memiliki warna yang hitam,
bagian dalam keriput dan dilapisi dengan kulit ari berwarna bening yang sifatnya
seperti agar. Hampir seluruh masyarakat Indonesia mengenal dan menyukai buah
pepaya karena rasanya yang manis, memiliki manfaat untuk kesehatan serta harganya
yang terjangkau. Buah pepaya merupakan salah satu tanaman tahunan sehingga buah
pepaya dapat berbuah setiap saat (Hilda Awaliah, 2020).
Nama pepaya dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Belanda, “papaja”
yang sebelumnya diambil dari bahasa Arawak, „papaya‟. Dalam bahasa Jawa pepaya
disebut “kates” dan dalam bahasa Suda disebut “gedang”. Sebutan lain untuk pepaya
yaitu:
Kalimantan : pisang malaka, banda, manjan
Nusa tenggara : Kalujawa, padu
Sulawesi : kapalay, kaiki, unti jawa
Sumatera : peute, betik, ralempaya punti kayu
Penyebaran tanaman pepaya bersamaan dengan pelayaran bangsa portugis di
abad ke-16 ke berbagai benua dan Negara, termasuk Benua Afrika dan Asia. Sekitar
abad ke-17, tanaman ini tumbuh di daerah tropis termasuk Indonesia dan berkembang
bersamaan dengan kehadiran Belanda (Rani Agustin, 2018).
Kingdom Plantae
Divisio Spermatophyta
Kelas Angiospermae
Ordo Caricales
Famili Caricaceae
Genus Carica
Spesies Carica Papaya L

Gambar 1. Pohon Pepaya (Carica Papaya L)


(Sumber: Rani Agustin, 2018)
Tabel 2.1 Analisis Komposisi Buah dan Daun Pepaya
Unsur Komposisi Buah Masak Buah Mentah Daun
Energi (kalori) 46 26 79
Air (g) 86,7 92,3 75,4
Protein (g) 0,5 2,1 8
Lemak (g) - 0,1 2
Karbohidrat (g) 12,2 4,9 11,9
Vitamin A (IU) 365 50 18250
Vitamin B (mg) 0,04 0,02 0,15
Vitamin C (mg) 78 19 140
Kalsium (mg) 23 50 353
Besi (mg) 1,7 0,4 0,8
Fosfor (mg) 12 16 63
Tanaman pepaya mengandung bahan kimia yang bermanfaat baik itu pada
organ daun, getah maupun biji dan kandungan kimia dari tanaman pepaya dapat
dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.2 Kandungan Kimia Tanaman Pepaya


No Organ Kandungan Senyawa
1 Daun Enzim papain, alkaloid karpaina, pseudo-karpaina,
glikosid, karposid dan saponin, sakarosa, dekstrosa dan
levulosa, alkaloid karpaina mempunyai efek seperti
digitalis
2 Buah Β-karotena, pektin, d-galaktosa, l-arabinosa, papain,
papayatimin papain serta fitokinase
3 Biji Glukosida kakirin dan karpain. Glukosa kakarin berkhasiat
sebagai obat cacing, peluruh haid serta peluruh kentut
(karminatif)
4 Getah Papain, kemokapain, lisosim, lipase, glutamin dan
siklotransferase

2.2 Kandungan Kimia Biji Pepaya (Carica Papaya L)


Tanaman pepaya memiliki berbagai kandungan senyawa aktif secara biologis
pada setiap bagian tubuhnya. Hampir pada seluruh bagian tanaman pepaya
mempunyai kandungan kimia papain kecuali pada akarnya. Senyawa yang
terkandung dalam biji pepaya antara lain: fosfotidikolin, kardiolipin, karpain, benzil
isotiosinat, benzil glukosinolat, betasitostenol, caricin, enzim mirosin, papain,
kimopapain, caricain dan glikosinendolpeptidase yang merupakan proteinase yang
sudah banyak diteliti. Minyak biji pepaya diketahui mengandung asam-asam lemak
seperti asam oleat, asam palmitat, asam linoleat dan asam stearat. Oleh karena itu,
manfaat biji pepaya sangat banyak digunakan dalam bidang medis.
Biji pepaya mengandung senyawa kimia yang berfungsi sebagai antibakteri
seperti alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin yang dapat menghambat pertumbuhan
bakteri. Biji pepaya juga memiliki manfaat sebagai antifungsi, memiliki kemampuan
sebagai antimalaria, antiparasit, melindungi ginjal dari toksin penyebab gagal ginjal
dan dapat membunuh Trichomonas vaginalis. Beberapa senyawa diketahui memiliki
kelarutan yang baik dalam air, senyawa tersebut adalah thiourea, karpain, karbohidrat
dan protein.
Biji pepaya merupakan limbah pertanian yang dapat dijadikan sebagai
absorben dengan biaya yang relatif murah. Biji pepaya juga memiliki kandungan
karbon yang tinggi sehingga biji pepaya dapat digunakan sebagai absorben
(bioabsorben). Semakin tinggi kandungan karbon, semakin baik kemampuannya
sebagai absorben (Deriva Dwi Kalsasin, 2014).
Gambar 2. Morfologi buah dan biji pepaya
(Sumber: Deriva Dwi Kalsasin, 2014)
2.3 Enzim Papain
Enzim memiliki tenaga katalitik yang jauh lebih besar dari katalisator sintetik.
Enzim mempercepat reaksi kimia tanpa pembentukan produk samping. Aktivitas
katalitik enzim bergantung pada integritas strukturnya sebagai protein. Contohnya
jika enzim direaksikan dengan asam kuat atau diinkurbasi dengan tripsin yaitu
perlakuan yang akan memotong rantai polipeptida sehingga terjadi konfirmasi
struktur yang dapat menyebabkan aktivitas katalitiknya hilang. Selanjutnya perlakuan
panas dan perlakuan pH yang jauh menyimpang dari keadaan normalnya juga akan
menghilangkan aktivitas katalitiknya. Enzim yang bekerja sebagai katalis dalam
reaksi hidrolisis protein disebut enzim proteolitik atau protease. Oleh karena yang
dipecah adalah ikatan pada rantai peptida, maka disebut juga peptidase (Hikmatul
Ihromil, 2016).
Salah satu contoh enzim adalah papain, yaitu enzim yang terdapat pada
tanaman pepaya (Carica Papaya L). Secara umum yang dimaksud dengan enzim
papain adalah suatu enzim yang telah dimurnikan maupun yang masih kasar. Papain
murni biasanya berupa kristal yang berbentuk kasar, amor atau granula, berwarna
putih sampai coklat muda, kadang-kadang putih keabuan dan agak higroskopis.
Papain merupakan enzim protease yang terkandung dalam getah pepaya, baik dalam
buah, batang dan daunnya. Enzim papain yang berkemampuan memecahkan molekul
protein ini menjadi suatu produk yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia,
baik di rumah tangga maupun industri (Hikmatul Ihromil, 2016).
Papain berbentuk tepung, warnanya putih sampai putih kekuningan dengan
rasa dan bau yang khas, mudah larut dalam air, gliserin dan dalam larutan alkoholik
yang konsentrasinya rendah. Akan tetapi papain tidak dapat larut dalam pelarut
organik. Dalam bentuk tepung, papain murni akan tetap stabil aktifitas enzimnya
selama beberapa jam pada suhu pemanasan 105°C. Dalam larutan papain akan tetap
aktif pada suhu rendah atau suhu pemasakan dan tidak mengalami penguraian setelah
1-2 jam pada suhu 70°C, bahkan pada suhu 90°C masih tetap besar keaktifannya
(Hikmatul Ihromil, 2016).
Papain dalam kebutuhan rumah tangga digunakan sebagai bahan tambahan
untuk pemurnian. Papain juga dapat digunakan sebagai bahan penghancur sisa atau
buangan hasil industri pengalengan ikan menjadi bubur ikan atau konsentrat protein
hewani. Adapun beberapa manfaat lain dari papain tersebut antara lain:
1. Bahan pencucian kain sutera (deterjen) untuk membuang serat yang berlebihan
2. Bahan pencuci lensa sehingga menjadi lembut
3. Bahan pelarut gelatin dalam proses perolehan kembali (recovery) perak dari film
yang sudah tidak terpakai
4. Bahan perenyah pada pembuatan kue kering seperti carcker
5. Bahan penjernih pada pembuatan minuman teh
6. Bahan penggumpal susu pada pembuatan keju

2.4 Minyak Kelapa


Minyak kelapa merupakan salah satu hasil olahan dari buah kelapa. Minyak
kelapa secara fisik berwujud cairan yang berwarna bening sampai kuning kecoklatan.
Di daerah tropis, minyak kelapa berbentuk cair pada suhu 26-35°C, tetapi berubah
menjadi lemak beku jika suhunya turun. Minyak kelapa berdasarkan kandungan asam
lemak digolongkan ke dalam minyak asam laurat karena kandungan asam lauratnya
paling besar jika dibandingkan dengan asam lemak lainnya. Asam lemak jenuh yang
terkandung dalam minyak kelapa adalah asam lemak jenuh rantai sedang dan pendek
yang sangat mudah dicerna dan diserap oleh tubuh. Saat ini minyak kelapa memiliki
peran lebih terhadap kesehatan dibandingkan minyak nabati yang lain dan telah
digunakan sebagai obat, biasanya disebut sebagai minyak kelapa murni. Minyak
kelapa digunakan sebagai media penukar panas terkendali sehingga bahan makanan
yang digoreng akan kehilangan sebagian besar air yang dikandungnya dan menjadi
kering. Minyak kelapa juga dapat memberikan rasa, warna dan aroma yang spesifik
pada bahan makanan (Hikmatul Ihromil, 2016).
Minyak kelapa yang berkualitas adalah minyak kelapa yang tidak dihasilkan
melalui proses refining, deodorizing dan bleaching (RDB) yang artinya bahwa
minyak ini diproses dipabrik dengan diberi bahan kimia untuk memurnikan (Refined
= R), memutihkan (Bleaching = B) dan menghilangkan aroma yang kurang sedap
(Deodorizing). Minyak kelapa tidak mudah tengik karena mengandung asam lemak
jenuh yang tinggi sehingga proses oksidasi tidak mudah terjadi. Namun, bila kualitas
minyak kelapa rendah, proses ketengikan akan berjalan lebih awal. Hal ini
disebabkan oleh pengaruh oksigen, keberadaan air dan mikroba yang akan
menguraikan kandungan asam lemak menjadi komponen yang lain (Hikmatul
Ihromil, 2016).
Tabel 2.3 Kualitas minyak kelapa yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia
Kualitas Minyak Standar Nasional Indonesia
a. Karakteristik Identitas
Densitas 0,915-0,920
Indeks Refraktif 0,1-0,5
Bilangan Penyabunan 4,1-11
Bilangan iod 0,2-0,5
Bilangan asam 13
Bilangan Polenske 13-18
b. Karakteristik Kualitas
Warna Jernih atau bening
Asam lemak bebas (FFA) Maksimal 0,5%
Bilangan Peroksida Maksimal 5,0
Total Plate Count <10 cfu

2.5 Bioabsorben
Adsorpsi adalah suatu proses pemisahan dimana suatu fluida (adsorbat)
berpindah ke permukaan zat padat yang menyerap (biosorben) yang terjadi karena
adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan padatan yang tidak seimbang.
Hal ini menciptakan daerah padat pada molekul cairan yang membentang beberapa
diameter molekuler di dekat permukaan (fase terjerap). Untuk campuran
multikomponen, komponen tertentu dari campuran (bahan terjerap yang dipilih)
berkumpul pada permukaan akibat adanya perbedaan kekuatan tarik cairan-padat
diantara komponen-komponen. Fasa terjerap ini memiliki komposisi yang berbeda
dari fasa cairan bulk yang menjadi dasar pemisahan dengan teknologi adsorpsi.
Mekanisme yang terjadi pada proses adsorpsi dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Molekul-molekul adsorbat berpindah dari fase bagian terbesar larutan ke
permukaan interface, yaitu lapisan film yang melapisi permukaan biosorben.
2. Molekul adsorbat dipindahkan dari permukaan ke permukaan luar dari
biosorben.
3. Molekul-molekul adsorbat dipindahkan dari permukaan luar biosorben
menyebar menuju pori-pori biosorben. Fase ini disebut dengan difusi pori.
4. Molekul adsorbat menempel pada permukaan pori-pori biosorben
Proses adsorpsi pada biosorben, seringkali diberikan perlakukaan awal untuk
meningkatkan nilai luas permukaannya, karena luas permukaan biosorben merupakan
salah satu sifat utama untuk mempengaruhi proses adsorpsi. Luas permukaan
biosorben semakin besar maka semakin besar pula daya adsorpsinya. Luas
permukaan total mempengaruhi kapasitas adsorpsi total sehingga meningkatkan
efektifitas biosorben dalam penyisihan senyawa organik dalam air buangan. Ukuran
partikel tidak terlalu mempengaruhi luas permukaan total sebagian besar meliputi
pori-pori partikel karbon. Luas permukaan biosorben umumnya berkisar antara 300 –
3000 m2/g dan ini terkait denga struktur pori pada biosorben tersebut. Struktur pori
menyebabkan ukuran molekul teradsorpsi terbatas, sedangkan bila ukuran partikel
tidak masalah, kuantitas bahan yang diserap dibatasi oleh luas permukaan biosorben.
Bilangan iodin merupakan parameter utama yang digunakan untuk melihat
karakteristik dari biosorben maupun karbon aktif. Bilangan ini sering ditulis dengan
satuan mg/g. Bilangan ini mengukur kandungan mikropori dengan cara menyerap
iodin dari larutan. Bilangan iodin merupakan parameter dasar yang paling penting
yang digunakan untuk karakterisasi yang menunjukkan biosorben. Iodin merupakan
ukuran pada tingkat keaktifannya. Berdasarkan standar kualitas biosorben menurut
SNI penetapan daya serap biosorben terhadap iodium merupakan persyaratan umum
untuk menilai kualitas biosorben yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan
biosorben untuk menyerap zat dengan ukuran molekul yang lebih kecil. Standar
bilangan iodin menurut SNI 06-3730-1995 yaitu ≥ 760 mg/g. Semakin besar angka
iod yang dihasilkan maka semakin besar kemampuan dalam mengadsorpsi adsorbat
atau zat terlarut. Salah satu cara dalam menganalisis daya serap biosorben terhadap
iod adalah dengan cara metode titrasi iodometri (Indra Ranita dkk, 2017).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Oktober 2020 di Laboratoium Kimia
Fisika Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1) Oven
2) Blender
3) Erlenmeyer
4) Neraca analitik
5) Kertas saring
6) Pengaduk
7) Termometer
8) Pipet tetes
9) Desikator
10) Beaker glass
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1) Minyak goreng bekas
2) Biji pepaya
3) Larutan H2SO4
4) Aquadest
5) Etanol
6) NaOH
3.3 Prosedur Penelitian
3.3.1 Pembuatan Bioabsorben biji Pepaya
Biji pepaya dicuci dengan air bersih, kemudian dididihkan selama 8 jam
untuk menghilangkan aril gelatin transparan. Setelah dididihkan 8 jam, kemudian
disaring dan dicuci dengan akuades. Setelah dicuci, dikeringkan dengan oven
pada suhu 60°C selama 48 jam untuk menghilangkan lemak. Biji pepaya yang
telah dikeringkan kemudian dihaluskan dan diayak untuk mendapatkan ukuran
yang seragam. Serbuk biji pepaya (adsorben) disimpan ke dalam pengering
dingin.
3.3.2 Aktivasi Bioabsorben biji Pepaya
Bioabsorben biji Pepaya diaktivasi secara kimia dengan asam sulfat
konsentrasi 10% dan dicuci dengan aquades lalu dikeringkan dengan oven selama
12 jam pada suhu 105°C.
3.3.3 Pengujian Bioabsorben biji Pepaya untuk merekondisi Mutu Minyak
goreng bekas
Penyiapan sampel minyak goreng bekas penggorengan dipakai sebagai
bahan uji masing-masing sebanyak 100 ml. Kemudian sampel bahan uji
diperlakukan dengan bioabsorben biji pepaya yang disesuaikan dengan faktor
perlakuan I (A) yaitu angka rasio dari jumlah bioabsorben terhadap volume
minyak goreng bekas pada beberapa level yaitu; A1=5%, A2=10%, A3=15%,
A4=20% (b/v). Efektivitas kinerja bioabsorben diukur melalui pengamatan
terhadap beberapa parameter mutu minyak goreng bekas setelah melalui kontak
bioabsorben biji pepaya dengan minyak goreng bekas dan lama waktu sebagai
faktor perlakuan II yaitu; L1=2, L2=4, L3=6, dan L4=8 hari.
3.4 Tabel pengamatan
Tabel 4.1 Pengaruh rasio jumlah Bioabsorben biji Pepaya dengan volume minyak
goreng bekas terhadap mutu minyak goreng
Organoleptik
Rasio absorben warna Minyak
Bilangan
biji pepaya Bilangan Kadar Air (kuning pucat,
Peroksida
dengan volume Asam (%) Minyak (%) kuning, kuning
(%)
minyak goreng kecoklatan dan
coklat)
A1= 5%
A2= 10%
A3= 15%
A4= 20%

Tabel 4.1 Pengaruh lama waktu kontak Bioabsorben biji Pepaya dengan volume
minyak goreng bekas terhadap mutu minyak goreng
Lama waktu Organoleptik warna
kontak Bilangan Kadar Air Minyak (kuning
Bilangan
bioabsorben Peroksida Minyak pucat, kuning,
Asam (%)
dengan (%) (%) kuning kecoklatan
minyak goreng dan coklat)
L1= 2 hari
L2= 4 hari
L3= 6 hari
L4= 8 hari
3.5 Diagram Alir Penelitian

Mulai

Identifikasi Masalah

Persiapan Alat dan


Bahan

Pembuatan
Bioabsorben

Aktivasi
Pengeringan Menghaluskan Tahap
bioabsorben Biji
Biji Pepaya Biji Pepaya Pengujian
Pepaya

Analisis Data

Hasil
&
Pembahasan

Selesai
DAFTAR PUSTAKA

Agustin, Rani. 2018. Pengaruh Penambahan Pepaya (Carica Papaya L) terhadap


kualitas Abon Ayam (Gallus gallus domestica). Lampung: Universitas Islam
Negeri Raden Intan

Ihromil, Hikmatul. 2016. Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Enzim Papain Kasar dari
Daun Pepaya (Carica Papaya L) dan lama Pemeraman terhadap Rendeman
dan Kualitas Minyak Kelapa (Cocos nucefera L). Malang: Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim.

Kalsasin, Dwi Deriva. 2014. Pemanfaatan Perasan Biji Pepaya (Carica Papaya)
untuk mencegah infestasi Argulus Pada Ikan Maskoki (Carassius auratus).
Surabaya: Universitas Airlangga.

Nusa Iqbal, Muhammad. 2009. Penggunaan Biosorben Biji Pepaya untuk


Merekondisi Kualitas Minyak Jelantah. Sumatera Utara: Universitas
Muhammadiyah Sumut.

Ranita, Indra. 2017. Pembuatan Bioabsorben dari biji Pepaya (Carica Papaya L)
untuk Penyerapan Zat Warna). Sumatera Utara: Departemen Teknik Kimia.

Zustriani Karunia, Anita. 2019. Pengaruh Aktivasi Adsorben Biji Pepaya terhadap
Adsorpsion logam besi (Fe) dan Tembaga (Cu) dalam air Limbah. Semarang:
Universitas Islam Negeri Wali Songo.