Anda di halaman 1dari 5

ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA

TUGAS INDIVIDU

HEMODIALISIS

DI SUSUN OLEH :

ANGGIT PRAMITA SARI

1801046

DOSEN PEMBIMBING :

MIRA FEBRINA,M.Sc.,Apt

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU

YAYASAN UNIV RIAU

2019
Pengertian Hemodialisis

Hemodialisis berasal dari kata “hemo” artinya darah, dan “dialisis ” artinya


pemisahan zat-zat terlarut. Hemodialisis berarti proses pembersihan darah dari zat-
zat sampah, melalui proses penyaringan di luar tubuh. Hemodialisis
menggunakan ginjal buatan berupa mesin dialisis. Hemodialisis dikenal secara awam dengan
istilah ‘cuci darah.

Hemodialisa atau hemodialisis merupakan terapi cuci darah di luar tubuh. Terapi ini
umumya dilakukan oleh pengidap masalah ginjal yang ginjalnya sudah tak berfungsi dengan
optimal. Pada dasarnya, tubuh mansua memang mampu mencuci darah secara otomatis, tapi
bila terjadi masalah pada ginjal, kondisinya akan lain lagi.

Ketika ginjal gagal melakukan pembersihan, terjadilah penumpukan limbah, racun,


dan cairan pada darah. Kondisi ini berisiko membahayakan kesehatan tubuh secara
keseluruhan. Jika fungsi ginjal hilang sebanyak 85-90 persen, maka diwajibkan untuk
melakukan cuci darah agar terhindar dari beragam komplikasi yang fatal.
Tentu saja dibutuhkan penilaian dari dokter dan serangkaian tes medis untuk
menentukan perlu atau tidaknya seseorang melakukan cuci darah. Ada beberapa hal yang
menjadi tolak ukur, yaitu kadar kreatinin dan ureum dalam darah, kecepatan ginjal menyaring
darah, kemampuan tubuh mengatasi kelebihan air, dan keluhan tertentu yang mengacu pada
gangguan jantung, pernapasan, perut, atau kebas di kaki.
Ginjal sendiri merupakan organ yang punya peran amat vital dalam tubuh. Organ ini
bertanggung jawab untuk penyaringan darah.  Selain membersihkan darah dalam tubuh,
ginjal juga membentuk zat-zat yang menjaga tubuh agar tetap sehat. Namun, pada pengidap
penyakit ginjal kronis atau gagal ginjal, organ ini sudah tidak bisa berfungsi dengan baik.

Hemodialisa ini umumnya dilakukan oleh mereka yang mengidap penyakit jantung
kronis atau gagal ginjal. Pada pengidap gagal ginjal, hemodialisa ini dilakukan karena ginjal
sudah tak bisa berfungsi dengan baik lagi. Dengan kata lain, bila penyakit ginjal sudah sangat
parah, melewati titik ketika ginjal tak sanggup lagi bekerja dengan optimal, maka seseorang
memerlukan hemodialisa.

Dalam proses dialisis, darah akan dipompa melalui selang darah menggunakan mesin
dialisis melewati filter khusus yang disebut ‘dialyzer’ (juga disebut ginjal buatan) untuk
mengeluarkan produk-produk limbah kemudian darah yang sudah melalui proses filtrasi akan
dikembalikan ke tubuh.Berikut ini adalah cara kerjanya ginjal sehat dibandingkan dengan
proses Hemodialisis:

GINJAL SEHAT  HEMODIALYSIS


Darah mengalir ke ginjal Darah dikeluarkan dari tubuh melalui selang darah
menggunakan mesin dialisis kemudian bersirkulasi ke Ginjal
buatan (Dializer)
Filter kecil yang disebut Sebuah dialyzer menarik limbah melalui filter ke dialisat
‘nephrons’ menarik keluar
limbah
Darah bersih akan mengalir Darah yang sudah bersih setelah melalui proses dialisis akan
keluar dari ginjal dipompa oleh mesin dialisis untuk kembali ke dalam tubuh.
Cairan dan limbah keluar Cairan dan Limbah hasil dari proses dialisis akan melalui
dari tubuh melalui air proses pembuangan yang sudah diprogram oleh mesin
kencing dialisis
Proses pembersihan darah Proses pembersihan darah biasanya hanya terjadi saat proses
Terjadi 24 jam per hari dialisis dilakukan di unit dialisis (selama 4 jam dengan
frekuensi 3 kali seminggu)

Cara Kerja Hemodialisis


Prinsip dari Hemodialisis adalah dengan menerapkan proses osmotis dan ultrafiltrasi
pada ginjal buatan, dalam membuang sisa-sisa metabolisme tubuh. Pada hemodialisis darah
dikeluarkan dari tubuh penderita dan diedarkan dalam sebuah mesin di luar tubuh, sehingga
cara ini memerlukan jalan keluar-masuk aliran darah. Untuk itu dibuat jalur buatan di antara
pembuluh arteri dan vena atau disebut fistula arteriovenosa melalui pembedahan. Lalu
dengan selang darah dari fistula, darah dialirkan dan dipompa ke dalam mesin dialisis. Untuk
mencegah pembekuan darah selama proses pencucian, maka diberikan obat antibeku
yaitu Heparin.

Sebenarnya proses pencucian darah dilakukan oleh tabung di luar mesin yang


bernama dialiser. Di dalam dialiser, terjadi proses pencucian, mirip dengan yang berlangsung
di dalam ginjal. Pada dialiser terdapat 2 kompartemen serta sebuah selaput di tengahnya.
Mesin digunakan sebagai pencatat dan pengontrol aliran darah, suhu, dan tekanan.
Aliran darah masuk ke salah satu kompartemen dialiser. Pada kompartemen lainnya
dialirkan dialisat, yaitu suatu cairan yang memiliki komposisi kimia menyerupai cairan tubuh
normal. Kedua kompartemen dipisahkan oleh selaput semipermeabel yang mencegah dialisat
mengalir secara berlawanan arah. Zat-zat sampah, zat racun, dan air yang ada dalam darah
dapat berpindah melalui selaput semipermeabel menuju dialisat. Itu karena, selama
penyaringan darah, terjadi peristiwa difusi dan ultrafiltrasi. Ukuran molekul sel-sel dan
protein darah lebih besar dari zat sampah dan racun, sehingga tidak ikut menembus selaput
semipermeabel. Darah yang telah tersaring menjadi bersih dan dikembalikan ke dalam tubuh
penderita. Dialisat yang menjadi kotor karena mengandung zat racun dan sampah, lalu
dialirkan keluar ke penampungan dialisat.
Difusi adalah peristiwa berpindahnya suatu zat dalam campuran, dari bagian pekat ke
bagian yang lebih encer. Difusi dapat terjadi bila ada perbedaan kadar zat terlarut dalam
darah dan dalam dialisat. Dialisat berisi komponen seperti larutan garam dan glukosa yang
dibutuhkan tubuh. Jika tubuh kekurangan zat tersebut saat proses hemodialisis, maka difusi
zat-zat tersebut akan terjadi dari dialisat ke darah.
Ultrafiltrasi merupakan proses berpindahnya air dan zat terlarut karena
perbedaan tekanan hidrostatis dalam darah dan dialisat. Tekanan darah yang lebih tinggi dari
dialisat memaksa air melewati selaput semipermeabel. Air mempunyai molekul sangat kecil
sehingga pergerakan air melewati selaput diikuti juga oleh zat sampah dengan molekul kecil.
Kedua peristiwa tersebut terjadi secara bersamaan. Setelah proses penyaringan dalam
dialiser selesai, maka akan didapatkan darah yang bersih. Darah itu kemudian akan dialirkan
kembali ke dalam tubuh.
Rata-rata tiap orang memerlukan waktu 9 hingga 12 jam dalam seminggu untuk
menyaring seluruh darah dalam tubuh. Tapi biasanya akan dibagi menjadi tiga kali pertemuan
selama seminggu, jadi 3 - 5 jam tiap penyaringan. Tapi hal ini tergantung juga pada tingkat
kerusakan ginjalnya.

Persiapan Cuci Darah


Persiapan cuci darah dilakukan beberapa minggu sebelum prosedur ini pertama kali
dilaksanakan. Pasien perlu dibuatkan akses pembuluh darah agar memudahkan darah untuk
masuk dan keluar tubuh. Terdapat 3 jenis akses pembuluh darah yang bisa dibuat oleh dokter
bedah pada tubuh pasien, yaitu:

 Fistula arteri-vena (cimino). Cimino merupakan saluran buatan yang


menghubungkan antara arteri dan vena, pada lengan yang lebih jarang digunakan.
Cimino merupakan jenis akses yang paling sering disarankan karena keamanan dan
efektivitasnya yang lebih baik dibanding jenis akses lainnya.
 Cangkok arteri-vena. Cangkok arteri vena dilakukan dengan menyambungkan
antara arteri dan vena dengan menambahkan selang sintetis fleksibel. Metode akses
ini dilakukan jika pembuluh darah pasien terlalu kecil sehingga sulit untuk dibentuk
fistula.
 Kateter hemodialisis. Terdapat 2 jenis kateter yang digunakan sebagai akses, yaitu:
o Kateter non cuffed atau yang biasa disebut kateter double lumen, merupakan
akses yang dibuat bagi pasien yang membutuhkan cuci darah dalam keadaan
darurat. Dokter akan memasukkan kateter plastik steril ke dalam vena besar di
leher atau di lipat paha. Kateter biasanya hanya bersifat sementara (kurang
dari 3 minggu) dan akan diangkat ketika pasien sudah tidak diharuskan
menjalani cuci darah, atau sudah memiliki akses yang lebih permanen, seperti
cimino.
o Kateter cuffed (tunnelling) merupakan kateter yang ditempatkan di bawah
kulit lalu dihubungkan ke vena besar. Tergantung dari jenis
kateter, tunnelling dapat bertahan hingga 1-2 tahun. Hal ini dilakukan bila
cimino atau cangkok arteri-vena tidak dapat dilakukan atau belum siap
digunakan.