Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): 222-229, Agustus 2016 Rani Fatmaningsih et. al.

PERFORMA AYAM PEDAGING PADA SISTEM BROODING KONVENSIONAL DAN


THERMOS

Broiler Performance in Conventional Brooding System and Thermos

Rani Fatmaningsiha, Riyantib, Khaira Novab


a
The Student of Department of Animal Husbandry Faculty of Agriculture Lampung University
b
The Lecture of department of Animal Husbandry Faculty of Agriculture Lampung University
Departement of Animal Husbandry, Faculty of Agriculture Lampung University
Soemantri Bojonegoro No. 1 Gedong Meneng Bandar Lampung 35145
e-mail: rfatmaningsih@gmail.com

ABSTRACT

This study aims to determine the best performance of broiler in the conventional brooding system
and the thermos. The research was conducted from December 4, 2015 - January 3, 2016 , in the
Experiment Farm PT Ramajaya. Material research is a broiler strain new lohmann aged 0 --14 days as
many as 2000 individuals. Experiments based on case studies. The study used two experimental brooding
systems, namely P1 : Conventional brooding system; P2 : Thermos brooding system. The results showed
that the performance of ayam pedaging in thermos brooding system such as feed intake, body weight and
feed conversion is better than the performance of the conventional brooding system .

Keywords : Broiler, Brooding Systems, Performance

PENDAHULUAN WHUMDGL SHUEDQ\DNDQ VHO DWDX ³hyperplasia´


Perbanyakan sel ini meliputi perkembangan
Ayam pedaging merupakan salah satu saluran pencernaan, perkembangan saluran
sumber protein hewani yang dibutuhkan pernapasan, dan perkembangan sistem
masyarakat. Menurut kecepatan kekebalan. Keberhasilan masa brooding ini
pertumbuhannya, periode pemeliharaan ayam sangat dipengaruhi oleh suhu, kelembapan,
pedaging dibagi menjadi dua yaitu periode dan kualitas udara dalam kandang.
starter dan finisher. Periode starter dimulai Suhu dan kelembapan kandang yang
umur 1--21 hari dan periode finisher dimulai seragam pada saat masa brooding akan
umur 22--35 atau sesuai umur dan bobot menghasilkan performa ayam pedaging yang
potong yang diinginkan (Murwarni, 2010). baik. Pemeliharaan periode brooding adalah
Fase hidup awal ayam pedaging terjadi pada 14 hari, dengan pengaturan suhu 30--320 C dan
dua minggu pertama yang merupakan masa kelembapan 60--80% (Setiawan dan Sujana,
kritis ayam pedaging. Oleh sebab itu, ayam 2009). Dewasa ini, perkembangan teknologi
pedaging memerlukan perhatian yang intensif. yang semakin meningkat menyebabkan
Masa kritis tersebut ialah masa brooding. terciptanya sistem baru untuk masa brooding
Masa brooding adalah periode yaitu sistem brooding thermos. Sistem
pemeliharaan dari DOC (day old chick ) hingga brooding thermos merupakan proses brooding
umur 14 hari (atau hingga pemanas tidak yang menggunakan tirai di dalam dan di luar
digunakan). Baik tidaknya performa ayam di kandang sehingga suhu dan kelembapan
masa selanjutnya seringkali ditentukan dari kandang dapat terjamin konstan. Umumnya
bagaimana pemeliharaan di masa brooding. peternak ayam pedaging di Indonesia masih
Satu hal yang patut diperhatikan oleh peternak menggunakan metode brooding konvensional
ialah kesalahan manajemen pada periode ini yaitu dengan membuat lingkaran-lingkaran dari
seringkali tidak bisa dipulihkan (irreversible) bahan seng kemudian dilengkapi satu buah
dan berdampak negatif terhadap performa brooder sebagai pengatur suhu dan
ayam di periode pemeliharaan berikutnya. kelembapan kandang.
Brooding bertujuan untuk menyediakan Berdasarkan uraian di atas, terdapat dua
lingkungan yang nyaman dan sehat secara sistem brooding berbeda yang memiliki
efisien dan ekonomis bagi anak ayam sehingga kelemahan dan kelebihan masing-masing.
menunjang pertumbuhan optimal. Pada saat Namun, dua sistem brooding tersebut belum
anak ayam berumur 0 sampai 14 hari, akan diketahui perfoma ayam pedaging pada fase

222
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): 222-229, Agustus 2016 Rani Fatmaningsih et. al.

tersebut. Oleh karena itu, peneliti merasa


penting untuk melakukan penelitian mengenai
performa ayam pedaging pada sistem brooding
konvensional dan sistem brooding thermos.

MATERI DAN METODE (a) (b)


Gambar 1. Tata letak sistem brooding (a =
Materi sistem brooding konvensional; b =
Alat yang digunakan pada penelitian ini sistem brooding thermos)
adalah kandang panggung dengan luas 30x8 m,
2 thermohygrometer untuk mengukur suhu dan Peubah yang Diamati
kelembapan, 2 timbangan digital untuk Peubah yang diamati pada penelitian ini
menimbang DOC ayam pedaging dan ransum, meliputi:
40 tempat makan dan minum ayam pedaging,1 a. Konsumsi ransum
chick guard besar,2 brooder ( gassolex ), Konsumsi ransum (g/ekor/minggu)
1 kalkulator untuk menghitung, dan alat tulis dihitung berdasarkan selisih antara jumlah
untuk mencatat data. ransum akhir minggu yang diberikan (g)
Bahan yang digunakan adalah DOC dengan sisa ransum pada awal minggu (g)
ayam pedaging strain new lohmann umur 0 -- (Rasyaf, 2011). Perhitungan dilakukan setiap
14 hari sebanyak 2.000 ekor dengan rata-rata satu minggu pemeliharaan hingga minggu
berat tubuh 52 ± 1,7 gram. Ransum yang ketiga dengan mengumpulkan semua sisa
digunakan adalah ransum komersil 8201 super ransum kemudian menimbang sisa ransum.
dengan bahan pakan antara lain: jagung,
bungkil kacang kedelai, bungkil kacang tanah, b. Pertambahan berat tubuh
tepung ikan, tepung daging dan tulang, dedak Pertambahan berat tubuh
padi, dedak gandum, minyak nabati, tepung (g/ekor/minggu) dihitung setiap minggu pada
batu, vitamin, mineral, dan antioksidan. semua sampel berdasarkan selisih berat tubuh
Ransum tersebut produksi PT Malindo ayam pedaging akhir minggu (g) dengan berat
Feedmill, Tbk dengan kandungan nutrisi tubuh awal minggu (g) (Rasyaf, 2011).
seperti tertera pada Tabel 4. Perhitungan dilakukan setiap satu minggu
pemeliharaan hingga minggu ketiga.
Tabel 4. Kandungan nutrisi ransum Perhitungan dilakukan dengan menimbang
Kandungan nutrisi Persentase (%) setiap ekor ayam pedaging pada setiap petak
yang diambil secara acak kemudian hasil
Protein Min 21.0 dirata-ratakan.
Serat Max 4.0
Lemak Min 4.0 c. Konversi ransum
Air Max 14 Konversi ransum dihitung berdasarkan
Abu Max 6.5 jumlah ransum yang dikonsumsi selama
Kalsium 0.9--1.1 seminggu dibagi dengan pertambahan berat
Fosfor 0.7--0.9 tubuh pada minggu yang sama (Rasyaf, 2011).
Sumber : PT Malindo, 2015 Perhitungan konversi ransum dilakukan setiap
satu minggu pemeliharaan sampai minggu
Metode ketiga.
Penelitian ini dilakukan berdasarkan
studi kasus. menggunakan dua sistem brooding Analisis Data
berbeda P1 : Sistem brooding konvensional Data yang diperoleh dianalisis secara
yaitu sistem brooding yang biasa peternak deskriptif. Data ditabulasi kemudian disajikan
terapkan dengan ¾ bagian dinding atas terbuka, dalam bentuk diagram batang.
P2 : Sistem brooding thermos yaitu sistem
brooding dengan dinding yang lebih tertutup HASIL DAN PEMBAHASAN
dan dipasang tirai ganda. Gambar 1
memperlihatkan sistem brooding konvensional Sistem brooding konvensional
dan sistem brooding thermos : merupakan sistem brooding tradisional yang
menggunakan pembatas berupa lingkaran dari
bahan seng di dalam kandang dan terdapat satu
indukan brooder) yang mengatur suhu dan
kelembapan serta terdapat tirai penutup dari

223
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): 222-229, Agustus 2016 Rani Fatmaningsih et. al.

luar kandang. Tirai bagian atas pada sistem dalam tubuh ayam mengalami perkembangan
brooding ini memiliki celah terbuka yang pada fase starter. Mulai dari organ
digunakan untuk pertukaran udara. pencernaan, organ pernapasan, sistem
Sistem brooding thermos merupakan kekebalan tubuh, kerangka tubuh ayam
sistem brooding yang menggunakan sumber (tulang), dan juga yang tidak kalah penting
panas lebih besar dan dapat menyebarkan adalah organ reproduksi. Pertumbuhan ayam
panas keseluruh ruangan. Sistem ini pedaging, organ pencernaan akan berkembang
menggunakan pembatas berupa tirai dari dalam pesat pada umur 2--14 hari dan enzim-enzim
kandang dan luar kandang sehingga suhu dan pencernaan mulai disekresikan dan berfungsi
kelembapan tetap terjamin tanpa ada pengaruh secara optimal pada umur 4--21 hari. Organ
dari lingkungan luar kandang kemudian panas pernapasan berkembang pesat pada umur 4--14
yang dihasilkan akan tetap terjaga di area hari, sedangkan sistem kekebalan tubuh
brooding. Pengaturan suhu dan kelembapan berfungsi optimal pada umur 7 hari
pada sistem ini harus terkontrol dikarenakan (Medion, 2006).
pada siang hari saat suhu lingkungan tinggi Perbedaan konsumsi ransum pada
akan menyebabkan keadaan suhu kandang studi kasus ini diduga disebabkan oleh suhu
meningkat yang akan mengakibatkan ayam dan kelembapan dalam sistem brooding.
pedaging stres. Suhu dan kelembapan minggu pertama sistem
brooding konvensional yaitu 31,190 C dan
Perbandingan Sistem Brooding terhadap 57,81% sedangkan sistem brooding thermos
Konsumsi Ransum yaitu 33,430 C dan 56,95 % . Suhu dan
Konsumsi ransum ayam pedaging pada sistem kelembapan yang nyaman akan memberikan
brooding dapat dilihat pada Gambar 2. dampak positif pada konsumsi ransum ayam
pedaging. Menurut Nova et al. (2014)
1500
kebutuhan suhu selama pemeliharaan ayam
g/ekor/minggu

973,82 1.091,31 pedaging pada minggu pertama yaitu 330C.


1000 Suhu sistem brooding thermos terlihat lebih
optimal dibandingkan dengan sistem brooding
500 289,23 298
172,77 179,9 konvensional. Hal ini diduga karena sistem
0 brooding thermos terdapat pemasangan tirai
ganda, yang dapat memberi kontribusi untuk
Brooding Brooding thermos
konvensional mengatur keadaan suhu dan kelembapan yang
minggu 1 minggu 2 minggu 3 dibutuhkan ayam pedaging.

b. Konsumsi Ransum Minggu ke-2


Gambar 2. Konsumsi ransum ayam pedaging Konsumsi ransum ayam pedaging
minggu ke-2 (Gambar 2) pada brooding
a. Konsumsi Ransum Minggu ke-1 thermos lebih tinggi dibandingkan dengan
Rata-rata konsumsi ransum ayam brooding konvensional. Rata-rata konsumsi
pedaging minggu pertama pada sistem ransum ayam pedaging pada brooding thermos
brooding konvensional sebesar 172,77 sebesar 298 g/ekor sedangkan konsumsi
g/ekor/minggu dan pada sistem brooding ransum ayam pedaging pada brooding
thermos sebesar 179,9 g/ekor/minggu. konvensional sebesar 289,23 g/ekor.
Berdasarkan Gambar 2 rata-rata konsumsi Tingkat konsumsi ransum ayam
ransum ayam pedaging minggu pertama pada pedaging yang berbeda pada kasus ini diduga
brooding thermos lebih tinggi dibandingkan dipengaruhi oleh kemampuan individu dalam
dengan konsumsi ransum brooding mencerna makanan serta kondisi lingkungan
konvensional. Rata-rata konsumsi ransum dalam kandang. Kondisi lingkungan dapat
brooding thermos yaitu 179,9 g/ekor/minggu dilihat berdasarkan suhu dan kelembapan
lebih mendekati standar performa ayam dalam kandang. Suhu dan kelembapan minggu
pedaging sebesar 200 g/ekor/minggu (PT kedua sistem brooding konvensional ialah
Japfa Comfeed, 2012). 27,520C dan 65,29% sedangkan sistem
Ransum yang dikosumsi ayam brooding thermos ialah 28,430C dan 64,10%.
pedaging pada minggu pertama digunakan Menurut Nova et al. (2014), kebutuhan suhu
untuk pertumbuhan organ vital. Pertumbuhan pemeliharaan ayam pedaging minggu kedua
ayam pedaging saat masa brooding berjalan yaitu 27--280C. Suhu pada kedua sistem
dengan cepat apabila ransum yang brooding terlihat lebih nyaman. Suhu dan
dibutuhkan tercukupi. Semua organ vital kelembapan yang nyaman akan mendorong

224
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): 222-229, Agustus 2016 Rani Fatmaningsih et. al.

ayam pedaging mengonsumsi ransum lebih brooding thermos yaitu 28,08 0C dan 65,79%.
banyak sehingga pertumbuhan ayam pedaging Suhu minggu ketiga sesuai dengan penelitian
akan lebih cepat. Anwar (2014) bahwa pemeliharaan ayam
Fenomena pada minggu kedua pedaging pada perlakuan 3 jenis litter
memperlihatkan bahwa suhu kandang yang berbeda umur 14--26 hari menghasilkan rata-
sesuai dengan kebutuhan hidup akan membuat rata suhu di dalam kandang yaitu 28,83 0C.
ayam pedaging lebih nyaman dalam Suhu akhir pemeliharaan cenderung sama
mengonsumsi ransum. Beda hal dengan antarkandang dikarenakan tirai yang
kondisi suhu yang meningkat maupun terpasang sudah seragam dan hampir
berkurang akan membuat ayam pedaging seluruhnya dilepas. Hal ini untuk menjaga
mudah stres. Menurut Wijayanti (2011), ayam kondisi litter dalam kandang. Apabila suhu
akan mengalami stres pada suhu 320C dengan dan kelembapan dalam kandang tinggi akan
tanda penurunan konsumsi ransum. menyebabkan litter lembab dan akan
memproduksi amonia lebih tinggi yang
c. Konsumsi Ransum Minggu ke-3 akhirnya menganggu performa ayam
Hasil rata-rata konsumsi ransum ayam pedaging.
pedaging minggu ketiga pada sistem
brooding konvensional dan sistem brooding Perbandingan Sistem Brooding terhadap
thermos yaitu 973,82 dan 1.091,31 Pertambahan Berat Tubuh
g/ekor/minggu. Perbedaan konsumsi ransum Pertambahan berat tubuh diperoleh dari
antarsistem brooding sangat terlihat pada penimbangan bobot badan pada minggu akhir
minggu ketiga. Perbedaan ini disebabkan kemudian dikurang dengan bobot badan
oleh adanya pengaruh peningkatan konsumsi minggu lalu. Pertambahan berat tubuh minggu
dari awal pemeliharaan, berat tubuh, suhu dan pertama dapat dilihat pada Gambar 3.
kelembapan kandang, serta keadaan fisiologis
ayam pedaging. Konsumsi ransum dari awal 675,25 761,59
800
g/ekor/minggu

pemeliharaan memengaruhi konsumsi ransum


600 362,33 430
diakhir pemeliharaan. Konsumsi ransum
400 172,95 183,06
selama pemeliharaan terus mengalami
200
peningkatan pada sistem brooding thermos
0
dan sistem brooding konvensional. Fadilah
(2004) menyatakan setiap minggunya ayam Brooding Brooding
mengonsumsi ransum lebih banyak konvensional thermos
dibandingkan dengan minggu sebelumnya.
Berat tubuh awal pemeliharaan sangat minggu 1 minggu 2 minggu 3
berpengaruh terhadap tingkat konsumsi, berat
tubuh yang besar akan mampu mengonsumsi
ransum dalam jumlah banyak dibandingkan Gambar 3. Pertambahan berat tubuh
dengan berat tubuh yang kecil. Rata-rata berat
tubuh awal pada sistem brooding konvensional a. Pertambahan Berat Tubuh Minggu ke-1
yaitu 51,78 g/ekor dan sistem brooding Hasil penelitian menunjukkan bahwa
thermos yaitu 52,45 g/ekor. Menurut Bell dan pertambahan berat tubuh minggu ke-1 untuk
Weaver (2002), konsumsi ransum tiap ekor sistem brooding konvensional yaitu 172,95
ternak berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh berat g/ekor/minggu, sedangkan untuk sistem
tubuh, tingkat produksi, tingkat cekaman, brooding thermos yaitu 183,06 g/ekor/minggu.
aktivitas ternak, mortalitas, kandungan energi Pertambahan berat tubuh ayam pedaging
dalam pakan dan suhu lingkungan. Ditambah dipengaruhi oleh tingkat konsumsi ransum
dengan pendapat Wahju (2004) bahwa serta kondisi suhu dan kelembapan kandang,
konsumsi ransum meningkat diiringi dengan sebagaimana pendapat Wahju (1997),
peningkatan berat tubuh ayam karena ayam pertumbuhan (pertambahan berat tubuh) yang
berberat tubuh besar mempunyai kemampuan cepat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
menampung makanan lebih banyak. lain konsumsi ransum, suhu lingkungan, dan
Suhu dan kelembapan merupakan strain ayam.
faktor yang sering memengaruhi tingkat Konsumsi ransum minggu pertama pada
konsumsi ransum. Hasil penelitian brooding konvensional yaitu 172,77
menunjukkan suhu dan kelembapan rata-rata g/ekor/minggu menghasilkan pertambahan
minggu ketiga pada brooding konvensional berat tubuh sebesar 172,95 g/ekor/minggu,
yaitu 27,880 C dan 66,08% sedangkan sedangkan pada brooding thermos konsumsi

225
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): 222-229, Agustus 2016 Rani Fatmaningsih et. al.

ransum minggu pertama yaitu 179,9 dapat disebabkan oleh aliran angin yang
g/ekor/minggu menghasilkan pertambahan kencang dan langsung mengenai tubuh ayam.
berat tubuh sebesar 183,06 g/ekor/minggu. Apabila keadaan ini berlansung selama
Ransum yang dikonsumsi dimanfaatkan untuk pemeliharaan maka akan menganggu fase
hidup pokok, produksi, dan reproduksi. hidup ayam pedaging berikutnya.
Apabila kebutuhan hidup pokok terpenuhi Rata-rata suhu dan kelembapan kandang
maka ransum dimanfaatkan untuk kebutuhan minggu kedua sistem brooding konvensional
produksi ayam pedaging sehingga bobot tubuh ialah 27,520C dan 65,29% sedangkan sistem
ayam pedaging akan naik setelah itu ransum brooding thermos ialah 28,430C dan 64,10%.
dimanfaatkan untuk kebutuhan reproduksi. Hasil penelitian Wijayanti (2011) menunjukkan
Suhu lingkungan merupakan salah satu bahwa ayam pedaging fase starter umur 5--20
faktor yang berpengaruh terhadap pertambahan hari pada suhu 28ºC rata-rata pertambahan
berat tubuh melalui konsumsi ransum. Rata- berat tubuhnya sebesar 166 g/ekor/minggu,
rata suhu lingkungan minggu pertama pada sedangkan pada suhu 32ºC rata-rata
brooding konvensional yaitu 31,190C dan pertambahan berat tubuhnya sebesar 148,1
57,81% sedangkan sistem brooding thermos g/ekor/minggu. Hal ini disebabkan oleh ayam
yaitu 33,430 C dan 56,95 % (Tabel 11). pada suhu 32ºC mengalami cekaman panas
Menurut Nova et al. (2014), kebutuhan suhu yang mengakibatkan menurunnya nafsu makan
selama pemeliharaan ayam pedaging pada yang berpengaruh pada pertambahan bobot
minggu pertama yaitu 330C. badan. Berbeda dengan penelitian ini rata-rata
Pertambahan berat tubuh sistem pertambahan berat tubuh dengan suhu 28,430C
brooding thermos dengan suhu 33,430C lebih rata-rata pertambahan berat tubuhnya yaitu
tinggi dibandingkan dengan pertambahan berat 430,1 g/ekor/minggu lebih tinggi dibandingkan
tubuh brooding konvensional dengan suhu dengan suhu 27,520C rata-rata pertambahan
31,190C. Hal ini diduga disebabkan oleh berat tubuhnya yaitu 362,33/ekor/minggu. Hal
keadaan suhu pada brooding thermos sesuai ini diduga disebabkan oleh keadaan suhu
dengan kebutuhan ayam pedaging sehingga normal 280C merupakan suhu yang dibutuhkan
tingkat konsumsi ransum meningkat dan ayam pedaging saat umur 2 minggu. Menurut
berdampak positif pada pertambahan berat Nova et a., (2014), kebutuhan suhu
tubuh. Pada brooding konvensional memiliki pemeliharaan ayam pedaging minggu kedua
suhu kandang sebesar 31,190C lebih rendah yaitu 27-280C.
dari suhu yang dibutuhkan ayam pedaging. Selain dipengaruhi oleh suhu dan
Akibatnya energi yang dihasilkan dari kelembapan, pertambahan berat tubuh
konsumsi ransum digunakan untuk melawan dipengaruhi juga oleh konsumsi ransum ayam
suhu kandang yang rendah, dan energi yang pedaging, konsumsi ransum yang tinggi akan
diperoleh terbuang sia-sia serta tidak dapat menghasilkan pertambahan berat tubuh yang
digunakan untuk pertumbuhan. Hal ini terbukti maksimal. Hal ini sesuai pendapat Wahju
dengan pertambahan berat tubuh yang rendah. (2004) yang menyatakan bahwa konsumsi
meningkat dengan peningkatan berat tubuh
b. Pertambahan Berat Tubuh Minggu ke-2 ayam karena ayam berberat tubuh besar
Pertambahan berat tubuh minggu ke-2 mempunyai kemampuan menampung makanan
menunjukkan bahwa rata-rata brooding lebih banyak. Pendapat ini diperkuat oleh
konvensional sebesar 362,33 g/ekor/minggu standar produksi yang dikeluarkan PT Japfa
lebih rendah dibandingkan dengan brooding Comfeed (2012), konsumsi ransum setiap ekor
thermos yaitu 430,1 g/ekor/. Perbedaan ini mengalami peningkatkatan dari 0--5 minggu
disebabkan oleh kondisi suhu dan kelembapan masing-masing yaitu 0 g, 180 g, 550 g, 1.180 g,
saat masa brooding. Menurut Medion (2006), 2.180 g, dan 3.670 g. Blakely dan Blade
suhu kandang yang terlalu panas atau dingin (1998) menjelaskan bahwa tingkat konsumsi
menyebabkan gangguan kesehatan dan ransum akan memengaruhi laju pertumbuhan
pertumbuhan pada anak ayam. Suhu yang dan bobot akhir karena pembentukan bobot,
dingin menyebabkan anak ayam bergerombol bentuk dan komposisi tubuh pada hakekatnya
mendekati brooder dan malas beraktivitas, adalah akumulasi ransum yang dikonsumsi ke
termasuk makan dan minum. Secara fisiologis, dalam tubuh ternak.
suhu yang dingin dapat menyebabkan
penyempitan pembuluh darah paru-paru c. Pertambahan Berat Tubuh Minggu ke-3
sehingga kerja paru-paru terganggu. Hal ini Pertambahan berat tubuh ayam
akan memicu hidrop ascites (perut kembung). pedaging akan selalu mengalami peningkatan
Penyempitan pembuluh darah paru-paru juga pada setiap fasenya. Minggu ketiga atau fase

226
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): 222-229, Agustus 2016 Rani Fatmaningsih et. al.

finisher merupakan hasil akhir produksi ayam a. Konversi Ransum Minggu ke-1
pedaging. Pada fase ini tingkat keberhasilan Konversi ransum minggu ke-1 pada
pemeliharaan terlihat dari pertambahan berat brooding konvensional 1,01 lebih tinggi
tubuh akhir ayam pedaging yang akan dijual. dibandingkan dengan konversi ransum
Rata-rata pertambahan berat tubuh brooding brooding thermos 0,99. Angka konversi
konvensional sebesar 675,25 g/ekor/minggu ransum yang tinggi pada minggu pertama
dan brooding thermos sebesar 761,59 menunjukkan bahwa ransum yang digunakan
g/ekor/minggu (Gambar 4). untuk pertambahan berat tubuh kurang ideal,
Berdasarkan Gambar 4 pertambahan karena Standar performa rata-rata konversi
berat tubuh di kedua sistem brooding belum ransum pemeliharaan minggu ke-1 yaitu 0,90
sesuai dengan standar performa mb 202 new (PT Japfa Comfeed, 2012). Angka konversi
lohmann. Menurut PT Japfa (2012), brooding thermos lebih efisien dan mendekati
pertambahan berat tubuh minggu ke 1, 2, dan 3 standar performa. Hal ini diduga disebabkan
masing-masing yaitu 200 g/ekor , 500 g/ekor , oleh tingkat konsumsi ransum dan
dan 960 g/ekor. Hal ini diduga disebabkan pertambahan berat tubuh yang tinggi
oleh beberapa faktor genetik dan lingkungan. sehingga nilai konversi ransum rendah.
Faktor genetik dapat dimungkinkan Wijayanti (2011) menyatakan tinggi rendahnya
pada kualitas DOC awal pemeliharaan kurang angka konversi ransum disebabkan oleh adanya
baik serta keadaan lingkugan yang kurang selisih yang semakin besar atau kecil pada
nyaman sehingga performa yang dihasilkan perbandingan antara ransum yang dikonsumsi
kurang dari standar. Amrullah (2004) dengan pertambahan berat tubuh yang dicapai.
menyatakan bahwa performa dapat dilihat Tingginya konversi ransum menunjukkan
melalui perkembangan dan pertumbuhan ayam bahwa pertambahan berat tubuh yang rendah
yaitu diketahui dengan cara melakukan akan menurunkan nilai efisiensi penggunaan
penimbangan berat tubuh ayam setiap minggu ransum.
sehingga akan diketahui rata-rata berat tubuh
hariannya. Ayam yang memiliki fisik yang b. Konversi Ransum Minggu ke-2
baik menandakan tingkat pertumbuhannya Konversi ransum minggu ke-2 untuk
bagus dan akan menghasilkan performa yang brooding thermos (0,7) lebih efisien
baik. Performa ayam pedaging akan berbeda dibandingkan dengan brooding konvensional
akibat perbedaan ketinggian atau suhu (0,82) dan standar performa konversi ransum
lingkungan sekitar kandang. rata-rata konversi ransum minggu kedua
selama pemeliharaan minggu kedua yaitu 1,1
Perbandingan Sistem Brooding terhadap (PT Japfa Comfeed, 2012).
Konversi Ransum Nilai konversi ransum minggu kedua
Konversi ransum adalah perbandingan yang lebih efisien dibandingkan dengan standar
jumlah konsumsi ransum pada satu minggu performa new lohmann disebabkan oleh
dengan penambahan berat tubuh yang dicapai kemampuan ayam pedaging yang baik dalam
pada minggu itu, bila rasio kecil berarti mengubah ransum menjadi pertambahan berat
pertambahan berat tubuh ayam memuaskan tubuh. Ayam pedaging memiliki daya adaptasi
atau ayam makan dengan efisien. Konversi terhadap lingkungan yang kurang baik, artinya
ransum hasil penelitian ditampilkan pada sangat mudah terpengaruh dengan kondisi yang
Gambar 3. kurang kondusif. Suhu dan kelembapan akan
berpengaruh signifikan terhadap perkembangan
1,46 1,44 dan pertumbuhan ayam pedaging. .
2,00 1,010,82 0,990,70 Rata-rata suhu dan kelembapan minggu
1,00 kedua pada sistem brooding konvensional ialah
0,00 27,520C dan 65,29% dan sistem brooding
Brooding Brooding thermos ialah 28,430C dan 64,10%. Kondisi
konvensional thermos suhu dikedua sistem brooding menghasilkan
nilai konversi ransum sebesar 0,7 dan 0,82.
minggu 1 minggu 2 minggu 3 Jika penelitian ini dibandingkan dengan
penelitian Wijayanti (2011) dengan perlakuan
suhu 28ºC dan 32ºC pemeliharaan ayam
Gambar 4. Konversi ransum pedaging selama fase starter lebih rendah yaitu
1,6 dan 1,3. Menurut pendapat Nova et
al.,(2014), kebutuhan suhu pemeliharaan ayam
pedaging minggu kedua yaitu 27--280C.

227
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): 222-229, Agustus 2016 Rani Fatmaningsih et. al.

Jika ayam pedaging dalam keadaan akan memengaruhi tingkat kesehatan ayam
zona nyaman maka performa yang dihasilkan pedaging dan berdampak negatif terhadap
akan baik. Apabila suhu dan kelembapan performa ayam pedaging.
kurang dari zona nyaman akan membuat ayam
pedaging merasa kurang nyaman sehingga SIMPULAN DAN SARAN
menyebabkan terjadinya perubahan fungsi
fisiologis didalam tubuh, yang efeknya Simpulan
berpengaruh pada rendahnya konsumsi ransum Performa ayam pedaging yang
sehingga efisiensi penggunaan ransum menjadi dihasilkan pada sistem brooding thermos lebih
berkurang. Hal ini terjadi karena ransum yang tinggi dibandingkan dengan sistem brooding
masuk dalam tubuh tidak digunakan untuk konvensional.
pertumbuhan melainkan digunakan untuk
mengatasi stres. Saran
Perusahaan dan peternak ayam pedaging
c. Konversi Ransum Minggu ke-3 dapat menerapkan sistem brooding thermos
Rata-rata konversi ransum minggu karena menghasilkan performa lebih tinggi
ke-3 brooding thermos 1,44, lebih efisien dibandingkan dengan sistem brooding
dibandingkan dengan brooding konvensional konvensional. Selain itu, sistem brooding
1,46. Konversi ransum yang efisien thermos tidak membutuhkan biaya yang tinggi.
menunjukkan bahwa kualitas dan kuantitas
ransum yang digunakan terjamin baik sehingga DAFTAR PUSTAKA
tingkat konsumsi ransum ayam pedaging jadi
baik dan berdampak pada pertambahan berat Amrullah, I. K. 2004. Nutrisi Ayam Ayam
tubuh yang optimal. pedaging. Cetakan Ketiga. Lembaga
Konversi ransum minggu ke-2 dan ke- Satu Gunung Budi, Bogor.
3 yaitu 0,7 dan 1,44 tidak sesuai dengan Anwar, R. 2014. Pengaruh Penggunaan Litter
standar karakteristik produksi new lohmann Sekam Padi, Serutan Kayu, Dan Jerami
yang dikeluarkan oleh PT Japfa Comfeed Padi Terhadap Performa Ayam
(2012), konversi ransum minggu kedua dan pedaging Di Closed House. Skripsi.
ketiga masing-masing adalah 1,1 dan 1,29. Fakulatas Pertanian. Universitas
Konversi ransum minggu kedua jauh lebih baik Lampung
dibandingkan dengan standar karakteristik new Bell, D.D and W. D. Weaver Jr. 2002.
lohmann yang dikeluarkan oleh PT Japfa. Hal Commercial Chicken Meat and Egg
ini diduga ayam pedaging mampu dengan baik Production. Fifth edition. USA:
mengubah ransum menjadi bobot tubuh. Springer Science+Business Media, Inc.
Adapun nilai konversi ransum minggu ketiga Blakely, J dan D. H. Bade, 1998. Ilmu
jauh lebih tinggi dari standar karakteristik. Hal Peternakan. Edisi Keempat.
ini artinya ayam pedaging tidak mampu Penterjemah B. Srigandono. Gadjah
mengubah ransum menjadi bobot tubuh dengan Mada University Press. Yogyakarta.
baik, serta penggunaan ransum yang kurang Fadilah. 2004. Panduan Mengelola Peternakan
efisien. Ayam Ayam pedaging Komersial.
Menurut pendapat Lohman (1986), Cetakan Pertama. Agromedia Media
faktor yang memengaruhi besar kecilnya Pustaka. Jakarta
konversi ransum adalah penyakit, tata laksana Lohman, T.G. 1986. Ayam pedaging
pemeliharaan, suhu lingkungan, dan kepadatan Management Program. Lohman
kandang. Ayam pedaging dengan performa Cuxhaven
yang baik akan mampu mengubah ransum Medion. 2006. Saat masa awal menjadi
menjadi bobot tubuh dengan optimal. Salah penentu. http://info.medion.co.id
satu faktor yang memengaruhi tingginya nilai (diakses pada 23 Mei 2016)
konversi ransum minggu ketiga yaitu Medion. 2014. Manajemen Brooding.
manajemen pemeliharaa pada keadaan litter. http://info.medion.co.id ( diakses pada
Keadaan litter minggu ke-3 pada kedua system 29 November 2015).
brooding cenderung lebih lembab karena Murwani, R. 2010. Ayam pedaging Modern.
tingkat konsumsi ransum ayam pedaging lebih CV Widya Karya . Semarang.
tinggi sehingga akan menghasilkan ekskreta Nova, K., T. Kurtini, dan Riyanti. 2014. Buku
lebih banyak. Hal ini akan membuat litter Ajar Manajemen Usaha Ternak Unggas.
lembab sehingga litter akan memproduksi Universitas Lampung. Bandar
amonia lebih banyak. Kelembapan yang tinggi Lampung.

228
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): 222-229, Agustus 2016 Rani Fatmaningsih et. al.

PT. Japfa comfeed Indonesia Tbk, 2012. MB


202 (Pedaging) dan MB 404 (Petelur).
Poultry breeding division.
Rasyaf, M. 2011. Beternak Ayam Petelur.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Setiawan, Idan E. Sujana. 2009. BobotAkhir,
Persentase Karkas dan Lemak
Abdominal Ayam Ayam pedaging yang
Dipanen Pada Umur Yang Berbeda.
Seminar Nasional. Fakultas Peternakan
UNPAD.
Wahju, J. 2004. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan
ke-5. Gadjah Mada University
Press.Yogyakarta.
Wijayanti, R. P. 2011. Pengaruh Suhu Kandang
yang Berbeda terhadap Performans
Ayam Pedaging Periode Starter. Jurnal
Penelitian.Fakultas Peternakan.
Universitas Brawijaya. Malang.

229