Anda di halaman 1dari 4

EPIDEMIOLOGI

ANALISIS KASUS VIRUS SARS

OLEH :

 DESY ANGGRIANI NAIBORHU


 DAME ELA SIHOMBING
 AGUSTINA GABRIELLA NAHAMPUN
 ETI MORINA BARUS
 ELSINA MANIK

TINGKAT II B

AKEDEMI KEBIDANAN
MITRA HUSADA MEDAN
2013
Virus SARS Lebih Bahaya dari Flu Babi
Jakarta, Flu babi (H1N1) memang lebih banyak menelan korban jiwa dibanding
penyakit sindrom pernafasan akut parah atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).
Namun dari sisi keganasan dan kemudahan penyebarannya, SARS lebih berbahaya dari flu
babi.

Kemunculan SARS memang sebentar, namun penyakit SARS tidak bisa dianggap sepele.
Kasus infeksi SARS pertama kali ditemukan di Provinsi Guangdong, China pada November
2002. Pada Februari 2003 virus telah menyebar secara global sehingga dalam kurun waktu 3-
4 bulan sudah menginfeksi 8.096 orang dan menewaskan 774 jiwa.

Sementara itu hingga Desember 2009, World Health Organisation (WHO) mencatat total
kasus kematian akibat flu babi sebanyak 11.749 jiwa. Meski jumlah kematian akibat flu babi
lebih banyak daripada penyakit SARS, namun ilmuwan sepakat virus SARS lebih berbahaya.
Pakar biomedik, Dr Andi Yasmon, SPi, M.Biomed mengatakan banyak ilmuwan yang
berspekulasi virus ini akan muncul lagi dalam bentuk yang berbeda karena kemudahannya
melakukan mutasi dan jumping hospes (perpindahan inang) antar spesies.

"Kita tinggal tunggu waktunya saja karena menurut teori virologi, virus yang masuk kategori
zoonist (bisa berpindah dari hewan ke manusia) akan terus bermutasi dan akan muncul lagi
walaupun sudah pernah dimusnahkan. Akan selalu ada emerging virus," jelas Dr Andi di
sela-sela acara sidang disertasinya yang digelar di FKUI Salemba, Jakarta, Selasa
(29/12/2009).

SARS disebabkan oleh virus baru yang merupakan anggota Coronavirus dan gejalanya tidak
banyak berbeda dengan flu burung atau babi, yaitu demam tinggi, sulit bernafas tapi disertai
dengan batuk kering dan gejala pneumonia (radang paru-paru).

"Tapi virus ini lebih berbahaya, bahkan dari flu babi. Itu karena virus ini gampang terbawa
udara dan bisa bertahan lama sekitar 2-3 minggu dalam tubuh dan bisa menular pada
manusia," kata Andi yang baru mendapat gelar doktor di bidang ilmu biomedik di Universias
Indonesia.

Berbeda dengan manusia yang tingkat mutasinya sangat rendah, makhluk hidup yang
bernama virus justru memiliki kemampuan mutasi yang sangat tinggi.

"Proses sintesis DNA pada virus tidak punya program perbaikan jika terjadi kesalahan
sintesis, jadi kalau salah ya sudah tidak bisa diapa-apakan lagi dan muncullah virus baru.
Bayangkan kalau sistem DNA manusia sama seperti virus, bisa-bisa tangan ada di kepala dan
kepala ada di kaki. Jadi beruntunglah menjadi manusia," ujar Andi.
(fah/ir)

ANALISIS

GEJALA
Mula-mula gejalanya mirip seperti flu dan bisa mencakup: demam, myalgia, lethargy, gejala
gastrointestinal, batuk, radang tenggorokan dan gejala non-spesifik lainnya. Satu-satunya gejala
yang sering dialami seluruh pasien adalah demam di atas 38 °C (100.4 °F). Sesak napas bisa
terjadi kemudian.

Gejala tersebut biasanya muncul 2–10 hari setelah terekspos, tetapi sampai 13 hari juga pernah
dilaporkan terjadi. Pada kebanyakan kasus gejala biasanya muncul antara 2–3 hari. Sekitar 10–
20% kasus membutuhkan ventilasi mekanis.

TANDA FISIK

Awalnya tanda jasmani tidak begitu kelihatan dan mungkin tidak ada. Beberapa pasien akan
mengalami tachypnea dan crackle pada auscultation. Kemudian, tachypnea dan lethargy
kelihatan jelas.

INVESTIGASI

Kemunculan SARS pada Sinar X di dada (CXR) bermacam-macam bentuknya. Kemunculan


patognomonic SARS tidak kelihatan tetapi biasanya dapat dirasakan dengan munculnya lubang
di beberapa bagian di paru-paru. Hasil CXR awalnya mungkin lebih kelihatan.

Jumlah Sel darah putih dan platelet cenderung rendah. Laporan awal mengindikasikan jumlah
neutrophilia dan lymphopenia yang cenderung relatif — disebut demikian karena angka total sel
darah putih cenderung rendah. Hasil laboaratorium lainnya seperti naiknya kadar lactate
dehydrogenase, creatinine kinase dan C-Reactive protein.

TES DIAGNOSIS

Proses indentifikasi dan sequencing' DNA coronavirus pada 12 April 2003 berhasil
memproduksi beberapa alat tes diagnosis yang sekarang sedang diuji untuk kelayakan pakai.

Tiga kemungkinan tes diagnosis telah tersedia, masing-masing dengan kelemahannya. Yang
pertama, sebuah tes ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) mendeteksi antibodi SARS
dengan baik namun hanya dapat dilakaukan setelah 21 hari dari kemunculan gejala. Yang kedua
berupa immunofluorescence assay yang dapat mendeteksi antibodi 10 hari setelah kemunculan
gejala namun memakan waktu dan tenaga karena membutuhkan mikroskop immunofluorescence
dan operator yang pengalaman. Yang terakhir adalah tes PCR (polymerase chain reaction) yang
bisa mendeteksi materi genetik virus SARS di darah, sputum, sampel tisu dan stool. Tes PCR
hingga kini sangat spesifik namun sangat tidak sensitif. Artinya sebuah tes positif PCR sangat
mengindikasikan si pasien terinfeksi SARS; hasil negatif tidak berarti si pasien tidak mengidap
SARS.

WHO telah mempublikasikan petunjuk menggunakan tes diagnosis tersebut [4].

Hingga kini belum ada tes pemeriksaan SARS yang cepat dan penelitian masih berjalan.

DIAGNOSIS

Sebuah kasus SARS yang mencurigakan adalah seorang pasien yang mengalami:

1. salah satu dari gejala-gejala termasuk demam dengan suhu 38 °C atau lebih DAN
2. pernah mengalami
1. kontak dengan seseorang yang didiagnosis mengidap SARS pada kurun waktu 10 hari
terakhir ATAU
2. mengunjungi salah satu dari daerah yang teridentifikasi oleh WHO sebagai area dengan
transmisi lokal SARS (daerah itu pada 10 Mei 2003 [5] adalah sebagian kawasan
Tiongkok, Hong Kong, Singapura dan provinsi Ontario, Kanada).
Sebuah kasus kemungkinan SARS mempunyai gejala-gejala di atas berikut hasil sinar-
X pada dada yang positif menderita atypical pneumonia atau sindrom pernapasan panik.

Dengan kemajuan tes diagnosis coronavirus yang menyebabkan SARS, WHO telah
menambah kategori "SARS menurut hasil laboratorium" untuk pasien yang sebenarnya masuk
kategori "kemungkinan" namun belum/tidak mengalami perubahan pada sinar x di dada tetapi
hasil diagnosis laboratorium positif menderita SARS menurut salah satu dari tes yang
diperbolehkan (ELISA, immunofluorescence atau PCR).

TINGKAT KEMATIAN

Tingkat kematian bervariasi di setiap negara dan organisasi peliput. Pada awal Mei,
supaya konsisten dengan metrik yang sama pada penyakit lain, WHO dan CDC AS mengutip
7%, atau jumlah kematian dibagi dengan kasus kemungkinan, sebagai tingkat kematian SARS.
Yang lainnya lebih setuju dengan figur 15% yang didapat dari jumlah kematian dibagi dengan
jumlah yang telah sembuh atau meninggal, dengan alasan lebih mencerminkan situasi
sebenarnya secara akurat. Tatkala wabah berlanjut tingkat kematian mancapai 10%.

Salah satu alasan mengapa mengukur jumlah kematian sulit ialah angka infeksi dan
angka kematian meningkat pada kadar yang sama sekali berbeda. Sebuah kemungkinan
penjelasan mencakup infeksi sekunder sebagai agen penyebab penyakit (Lihat analisis Eric
Lerner), tetapi apapun penyebabnya, angka kematian sudah pasti akan berubah.

Kematian berdasarkan grup usia terhitung 8 Mei 2003 adalah di bawah 1% untuk orang
usia 24 atau lebih muda, 6% untuk mereka yang berusia 25-44, 15% pada usia 45-64 dan lebih
dari 50% untuk yang berusia lebih dari 65. [6]

Sebagai perbandingan, kasus tingkat kematian influenza biasanya sekitar 0.6% (terutama
pada lansia) tetapi dapat naik hingga 33% pada epidemi lokal yang parah dari mutasi baru.
Tingkat kematian jenis pneumonia menular dasar sekitar 70%.

PENGOBATAN

Antibiotik masih belum efektif. Pengobatan SARS hingga kini masih bergantung pada
anti-pyretic, supplemen oksigen dan bantuan ventilasi.Kasus SARS yang mencurigakan harus
diisolasi, lebih baiknya di ruangan tekanan negatif, dengan kostum pengaman lengkap untuk
segala kontak apapun dengan pasien.

Awalnya ada dukungan anekdotal untuk penggunaan steroid dan antiviral drug ribavirin,
namun tidak ada bukti yang mendukung terapi ini. Sekarang banyak juru klinik yang mencurigai
ribavirin tidak baik bagi kesehatan.Ilmuwan kini sedang mencoba segala obat antiviral untuk
penyakit lain seperti AIDS, hepatitis, influenza dan lainnya pada coronavirus.

Ada keuntungan dari penggunaan steroid dan immune system modulating agent lainnya
pada pengobatan pasien SARS yang parah karena beberapa bukti menunjukkan sebagian dari
kerusakan serius yang disebabkan SARS disebabkan oleh reaksi yang berlebihan oleh sistem
kekebalan tubuh terhadap virus. Penelitian masih berlanjut pada area ini.

Pada Desember 2004, laporan menyebutkan para peneliti Tiongkok telah menemukan sebuah
vaksin SARS yang telah diujicoba pada 36 sukarelawan, 24 diantaranya menghasilkan antibodi
virus SARS.