Anda di halaman 1dari 3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI

Varisela atau chickenpox merupakan eksantem akut yang menular yang sering terjadi
pada anak-anak dan merupakan hasil dari infeksi primer pada individu yang rentan yang
disebabkan oleh virus varisela zoster (VZV). Pada anak normal, gejala sistemik umumnya
ringan dan jarang terjadi komplikasi yang serius. Sedangkan pada orang dewasa dan orang
dengan imunokompromais, varisela lebih berhubungan dengan komplikasi yang mengancam
jiwa (Freedberg et al., 2003).

2.2 EPIDEMIOLOGI

Di Eropa dan Amerika Utara, 90% kasus terjadi pada anak di bawah umur 10 tahun dan
kurang dari 5% terjadi pada umur di atas 15 tahun. Data National Health Interview Survey
(NHIS) mengindikasikan insiden sebanyak 15 kasus per 1000 populasi per tahun dengan
insiden tertinggi 90 kasus per 1000 populasi per tahun pada anak umur 5 sampai 9 tahun
(Freedberg et al., 2003).

Varisela sangat menular. Pada negara tropis dan semitropis, usia rata-rata varisela lebih
tinggi dan kerentanan orang dewasa terinfeksi VZV primer secara signifikan lebih tinggi
daripada negara beriklim. Sekitar 87% kasus menyerang saudara penderita yang rentan di
rumah dan 70% menyerang pasien yang rentan di rumah sakit. Rute utama terjadinya varisela
diduga melalui saluran respiratori, tetapi infeksi juga dapat tersebar melalui kontak langsung.
Krusta varisela tidak infeksius dan durasi infektivitas droplet yang mengandung virus cukup
terbatas (Freedberg et al., 2003).

2.3 ETIOLOGI

Virus varisela zoster atau VZV termasuk dalam famili herpesvirus.

2.4 PATOGENESIS

Jalur masuk VZV adalah melalui mukosa saluran respiratori atas dan orofaring.
Multiplikasi inisial pada jalur masuk ini menghasilkan diseminasi sejumlah kecil virus
melalui darah dan limfatik. Virus ini dibersihkan di sistem retikuloendotelial, lokasi utama
replikasi virus selama periode inkubasi (Freedberg et al., 2003).

Infeksi inkubasi sebagian terdiri dari perlindungan bawaan host seperti interferon dan
dengan perkembangan respon imun. Sekitar 2 minggu setelah infeksi, viremia sekunder serta
gejala dan lesi mulai muncul. Virus bersirkulasi di leukosit mononuklear, terutama di
limfosit. Respon imun host yang efektif membatasi viremia dan progresi lesi varisela di kulit
dan organ lainnya. Imunitas humoral terhadap VZV melindungi dari varisela. Imunitas
seluler terhadap VZV berkembang selama perjalanan varisela, menetap selama beberapa
tahun, dan melindungi dari infeksi yang lebih berat (Freedberg et al., 2003).

2.5 MANIFESTASI KLINIS

Pada anak-anak yang lebih muda, gejala prodromal tidak umum terjadi. Pada anak-anak
yang lebih tua dan dewasa, ruam muncul dengan didahului demam 2-3 hari, menggigil,
malaise, sakit kepala, anoreksia, dan pada beberapa pasien batuk (Freedberg et al., 2003).

Pada orang yang tidak tervaksinasi, ruam mulai muncul di wajah dan kulit kepala dan
menyebar dengan cepat ke badan dan ekstremitas. Ciri lesi varisela yang mencolok adalah
progresnya yang cepat dari makula berwarna kemerahan menjadi papul, vesikel, pustul, dan
krusta. Ukuran vesikel varisela berkisar 2-3 mm dan berbentuk elips. Vesikel awal dikelilingi
oleh eritema ireguler yang memberikan tampakan “dewdrop on a rose petal”. Cairan
vesikular kemudian menjadi keruh dengan adanya sel inflamatori dan berubah menjadi
pustul. Lesi tersebut kemudian kering dan menjadi krusta. Krusta terkelupas dengan
sendirinya dalam 1-3 minggu. Lesi penyembuhan dapat meninggalkan bercak hipopigmentasi
yang menetap selama beberapa minggu hingga bulan (Freedberg et al., 2003).

Vesikel juga berkembang di membran mukosa mulut, hidung, faring, laring, trakea,
traktus gastrointestinal, traktus urinaria, dan vagina. Vesikel mukosa ini ruptur dengan cepat
dan dapat ditemukan ulserasi dengan diameter 2-3 mm (Freedberg et al., 2003).

Demam biasanya menetap selama lesi baru masih muncul dan tingginya suhu
berhubungan dengan beratnya ruam. Demam dapat tidak muncul pada kasus yang ringan dan
dapat meninggi hingga 40,50C pada kasus yang berat dengan ruam ekstensif. Demam yang
memanjang atau rekuren dapat mengindikasikan adanya infeksi bakteri sekunder atau
komplikasi lainnya. Gejala pruritus yang mengganggu biasanya muncul pada fase vesikular
(Freedberg et al., 2003).
2.6 DIAGNOSIS KLINIS

Varisela dapat didiagnosis berdasarkan penampakan dan evolusi karakteristik ruamnya.


Diagnosis laboratorik yang dapat dilakukan adalah tes Tzanck dengan mengorek dasar
vesikel dan diberi pewarnaan Giemsa. Hasil yang didapat adalah multinucleated giant cells
dan sel epitelial yang terdiri dari intranuklear asidofilik (Freedberg et al., 2003).

2.7 TATALAKSANA

Pada anak-anak normal, varisela umumnya dapat sembuh sendiri. Kompres dingin atau
pemberian lotion calamine dapat meringankan gatal. Krim dan lotion yang mengandung
kortikosteroid tidak perlu digunakan. Antipiretik dapat diberikan untuk meringankan demam
(Freedberg et al., 2003).

Regimen antivirus yang dapat diberikan pada orang dewasa adalah asiklovir dengan dosis
800 mg yang diminum 5 kali sehari selama 7 hari. Untuk anak-anak, dosis asiklovir yang
diberikan adalah 20mg/kgBB yang diminum 4 kali sehari selama 5 hari (Freedberg et al.,
2003).