Anda di halaman 1dari 12

OTT KB DI MASA PANDEMI COVID 19

PELAYANAN KB DENGAN SISTEM OPERASI TANGKAP TANGAN SASARAN UNTUK MENCEGAH


TERJADINYA BABY BOOM DI PASCA PANDEMI COVID 19

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Indonesia memiliki kecenderungan menurun dari tahun ke
tahun. Kebijakan pemerintah untuk menekan LPP dengan adanya program Keluarga Berencana
(KB) yang diluncurkan pada tahun 1980-an menunjukan hasil yang positif.

Namun merebaknya wabah Covid-19 menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya jumlah


kelahiran akibat terhambatnya layanan kontrasepsi selama pandemi.

Dilansir dari data Biro Pusat Statistik (BPS), Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Indonesia
hingga akhir 2017 lalu berada di angka 1,36 persen.

Melihat angka ini, laju pertumbuhan penduduk Indonesia memiliki kecenderungan menurun dari
tahun ke tahun. Kebijakan pemerintah untuk menekan LPP dengan adanya program Keluarga
Berencana (KB) yang diluncurkan pada tahun 1980-an menunjukkan hasil.

Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Indonesia memiliki kecenderungan menurun dari tahun ke
tahun. Kebijakan pemerintah untuk menekan LPP dengan adanya program Keluarga Berencana
(KB) yang diluncurkan pada tahun 1980-an menunjukan hasil yang positif.

Namun merebaknya wabah Covid-19 menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya jumlah


kelahiran akibat terhambatnya layanan kontrasepsi selama pandemi.

Dilansir dari data Biro Pusat Statistik (BPS), Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Indonesia
hingga akhir 2017 lalu berada di angka 1,36 persen.

Melihat angka ini, laju pertumbuhan penduduk Indonesia memiliki kecenderungan menurun dari
tahun ke tahun. Kebijakan pemerintah untuk menekan LPP dengan adanya program Keluarga
Berencana (KB) yang diluncurkan pada tahun 1980-an menunjukkan hasil.
Pemerintah sendiri melalui BKKBN menargetkan TFR menjadi 2,26 anak per
wanita di tahun 2020. Sementara ASFR (Age Specific Fertility
Rate) kelompok 15-19 tahun ditargetkan turun menjadi 25/1000 kelahiran di
tahun 2020.

Namun meski menunjukan hasil yang positif pada 2 indikator di atas,


beberapa indikator lain menunjukan pencapaian di bawah target. Seperti
penggunaan alat kontrasepsi atau contraceptive prevalensi rate (CPR) masih
rendah. Saat ini, jumlah peserta KB aktif baru 57,2 persen dari targetnya 61,2
persen.

Menurut Professor DR. dr. Dwiana Ocvyanti SpOG, MPH, Koordinator


Pendidikan Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI)-
POGI, masih rendahnya pemahaman masyarakat secara umum tentang
konsep perencanaan keluarga menjadi salah satu masalah dalam program
perencanaan keluarga.

“Tentunya masalah yang selalu kita hadapi dalam konsep perencanaan


keluarga adalah masih rendahnya pemahaman masyarakat secara umum
tentang konsep perencanaan keluarga apalagi mengkaitkan untuk kualitas
generasi mendatang yang lebih baik” kata Dwiana Ocvyanti dalam webinar
“Antisipasi Baby Boom Pasca Pandemi” melalui aplikasi Zoom yang
diselenggarakan Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia
(HOGSI), Sabtu (2/5).

Dwiana menambahkan ada semacam trauma di sebagian masyarakat, dimana


konsep KB diartikan dengan penggunaan kontrasepsi bukan perencanaan
keluarga untuk kualitas kehidupan yang lebih baik.

Untuk itu diperlukan pemahaman secara holistik dalam upaya komunikasi


terkait perencanaan keluarga. Ia menyarankan agar sosialisasi lebih digiatkan
lagi dengan menggunakan saluran-saluran digital seperti media sosial agar
tetap dapat menjangkau masyarakat di saat pembatasan sosial seperti
sekarang.

“Seperti sekarang dalam Covid sekalipun harusnya bisa diintegrasikan,


sekarang banyak modul-modul tentang kebersihan dan sebagainya harusnya
kita bisa menitipkan pesan-pesan kontrasepsi atau perencanaan keluarga di
dalamnya” ungkap Dwiana.
Dampak Pandemi Covid-19

Merebaknya wabah Covid-19 di seluruh dunia termasuk Indonesia


mempengaruhi berbagai aspek, tak terkecuali pada pelayanan Program
Keluarga Berencana yang dijalankan BKKBN.

Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menjelaskan bahwa pandemi
Covid-19 sangat berdampak terhadap Kegiatan Pelayanan KB yang dijalankan
BKKBN.

Menurutnya dengan kondisi layanan normal maka jumlah kelahiran sekitar


4,7 juta di tahun 2020. Namun dengan adanya pandemi dan layanan yang
terhambat maka potensi terjadinya kelahiran atau kehamilan yang tidak
diinginkan akan meningkat.

Pelayanan KB yang sangat berdampak akibat wabah Covid-19 ini dikarenakan


KB sendiri pelayanannya yang ada sekarang adalah dengan baksos, sosialisasi
oleh Penyuluh Keluarga Berencana, dan juga kader-kader. Jadi sangat full
kontak atau people to people contact atau person to person. Sehingga ketika
ada physical distancing atau social distancing maka jelas akan menurun
pelayanan itu,” jelas Ketua BKKBN Hasto Wardoyo dalam webinar “Antisipasi
Baby Boom Pasca Pandemi”.

Hal itu berimbas pada penurunan peserta KB, menurut Hasto terdapat
penurunan peserta KB pada bulan Maret 2020 apabila dibandingkan dengan
bulan Februari 2020 di seluruh Indonesia. Pemakaian IUD pada Februari
2020 sejumlah 36.155 turun menjadi 23.383. Sedangkan implan dari 81.062
menjadi 51.536, suntik dari 524.989 menjadi 341.109, pil 251.619 menjadi
146.767, kondom dari 31.502 menjadi 19.583, MOP dari 2.283 menjadi 1.196,
dan MOW dari 13.571 menjadi 8.093.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan adanya lonjakan kelahiran bayi


atau baby boom pasca pandemi Covid-19. Untuk itu BKKBN melakukan
sejumlah upaya untuk memastikan keberlangsungan penggunaan alat dan
obat kontrasepsi selama masa pandemi. Antara lain dengan pelayanan KB
bergerak seperti mengunjungi pasangan usia subur.
Penyuluhan 

Selain itu juga mengoptimalkan peran Penyuluh Keluarga Berencana (PKB),


meluncurkan Informasi keluarga berencana yang masif dalam bentuk vlog dengan
melibatkan publik figur, berkoordinasi dengan bidan untuk pelayanan KB, dan
mendorong rantai pasok alat kontrasepsi hingga ke akseptor secara gratis.

Semua kegiatan tersebut dilakukan dengan tetap menjalankan protokol kesehatan


yang ditetapkan selama pandemi, menggunakan APD, masker dan menjaga jarak
fisik.

Dengan upaya-upaya tadi BKKBN berharap dapat mengantisipasi peningkatan angka


kelahiran pasca pandemi Covid-19. [au/as]

Newest
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengantisipasi
adanya ledakan angka kelahiran atau baby boom yang terjadi saat pandemi virus
Corona atau Covid-19.
Kekhawatiran adanya ledakan angka kelahiran itu disebabkan karena penurunan
penggunaan KB selama pandemi Covid-19.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan terdapat penurunan peserta KB pada


bulan Maret dibandingkan Februari 2020 di seluruh Indonesia. Penggunaan alat
kontrasepsi dalam rahim atau biasa disebut IUD pada Februari sejumlah 36.155 turun
menjadi 23.383 di bulan Maret.

Baca Juga : Pemerintah Diminta Pastikan Ketersediaan Alat Kontrasepsi


Selama Pandemi Covid-19

Kemudian, KB implan dari 81.062 turun menjadi 51.536, KB suntik dari 524.989
menjadi 341.109, KB metode pil dari 251.619 menjadi 146.767.

Selanjutnya, penggunaan kondom dari 31.502 menjadi 19.583, vasektomi untuk pria
dari 2.283 menjadi 1.196, dan tubektomi untuk wanita dari 13.571 menjadi 8.093.

Menurut Hasto dampak dari pandemi Covid-19 juga berakibat kepada penurunan
aktivitas dalam beberapa kelompok kegiatan program KB serta penurunan mekanisme
operasional di lini lapangan, termasuk di Kampung KB.

Dia mengatakan banyak para akseptor KB yang merasa takut ketika hendak mengakses
pelayanan KB di masa pandemi.

Dia menjelaskan, pelayanan KB sangat terdampak oleh Covid-19 karena pelyananan


yang ada sekarang adalah dengan Baksos, sosialisasi oleh penyuluh KB, dan juga
kader-kader. 

“Oleh sebab itu pelayanan KB ini sangat kontak secara penuh atau people to people
contact atau person to person. Sehingga ketika ada physical distancing atau social
distancing maka jelas akan menurun pelayanan itu,” ujar Hasto dalam keterangan
resmi, Minggu (3/5/2020).

Untuk mengantisipasi ledakan angka kelahiran, Hasto membuat beberapa langkah yaitu
mulai dari melakukan pembinaan kesertaan ber-KB dan pencegahan putus pakai
melalui berbagai media terutama media daring. 
Kemudianm melakukan analisis melalui kader institusi masyarakat pedesaan untuk
mengetahui jumlah dan persebaran pasangan usia subur yang memerlukan pelayanan
suntik KB, pil KB, IUD dan implan, mendistribusikan kontrasepsi ulangan pil dan
kondom.

Selanjutnya, persiapan dan pelaksanaan kegiatan pelayanan KB serta pembinaan


kesertaan ber-KB termasuk KIE dan Konseling menggunakan media daring dan
medsos atau kunjungan langsung dengan memperhatikan jarak ideal, dan bidan
berperan sebagai pengawas dan pembina dalam hal distribusi alat kontrasepsi yang
dilakukan oleh PKB/PLKB.

Hasto berharap besar kepada para provider kesehatan seperti para bidan dan dokter
untuk terus memberikan masukan dan kritik atas kebijakan-kebijakan yang telah
BKKBN buat selama pandemi Covid-19.

Hal ini dikarenakan untuk mengantisipasi gelombang baby boom baru di masa yang


akan datang serta permasalahan-permasalahan kependudukan lainnya yang telah
disebutkan di atas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :


bkkbn
Covid-19 yang telah menyebar di 28 provinsi per Jumat (27/3/2020) membuat BKKBN
mengubah cara komunikasinya dengan penyuluh/petugas lapangan KB (PLKB) dan
kader sukarelawan di seluruh Indonesia. Meski penyebaran virus memaksa
masyarakat untuk selalu jaga jarak, penyuluhan keluarga berencana  (KB) harus tetap
berjalan.

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo mengatakan, penyuluhan KB harus tetap berjalan


meskipun di tengah kondisi social distancing yang dianjurkan pemerintah. Ia meminta
para PLKB dan kader agar selama bekerja dari rumah atau work from
home memanfaatkan berbagai media komunikasi yang ada.

"Teman penyuluh KB saya berharap bisa memanfaatkan waktu yang ada


dengan work from home, harus tetap aktif dan harus bisa hadir melalui berbagai
media komunikasi yang ada, untuk berkomunikasi dan menyampaikan program
kepada masyarakat, misalnya melalui WhatsApp group,” kata Hasto pada live
streaming tentang peran penyuluh KB/PLKB dalam pencegahan Covid-19 dari Kantor
BKKBN, Jakarta, Jumat (27/3/2020).

Baca Juga: Social Distancing, Pegawai BKKBN Kerja dari Rumah


Hasto mengatakan, segala bentuk pertemuan memang tidak disarankan lagi untuk
mencegah penyebaran Covid-19. Karena itu untuk para penyuluh sedang disiapkan
metode e-learning atau pembelajaran jarak jauh untuk meningkatkan dan
memperkuat jejaring para penyuluh KB.

"Saya instruksikan setiap PLKB baik PNS dan Non PNS agar membuatkan group
sebanyak-banyak dengan kader dan masyarakat sebagai media untuk mengedukasi
cara pencegahan terhadap Covid-19,” kata Hasto.

Hasto mengatakan, suasana wabah atau bencana saat ini harus dibalik menjadi
sebuah kesempatan. Seluruh civitas BKKBN dari pusat sampai ke daerah harus
membangun jejaring kerjasama multi level networking. Setelah wabah sudah
berakhir, jejaring ini sudah dapat terbentuk kuat sehingga bisa dimanfaatkan untuk
pembelajaran banyak hal.

Baca Juga: Wapres Minta BKKBN Prioritaskan Penurunan  Stunting

Menurut Hasto, masyarakat butuh empati. Kalau hanya penyuluhan tanpa


membayangkan menjadi masyarakat itu sendiri akan sulit. Saat penyuluhan, PLKB
dan kader harus terlebih dahulu menunjukkan rasa empati pada masyarakat.
Mengenali terlebih dahulu, lalu memahami kebutuhan dan aspirasi mereka, sehingga
pesan KB yang disampaikan bisa relevan.

Diketahui, BKKBN bekerjasama dengan lembaga non pemerintah JHCCP saat ini
juga tengah mengembangkan konten-konten yang efektif untuk digunakan para
penyuluh KB/PLKB dalam mengedukasi kader dan masyarakat melalui media daring
terutama selama masa Covid-19.

JAKARTA -- Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


(BKKBN) mencatat pemasangan alat kontrasepsi keluarga berencana
selama masa pandemi Covid-19 menurun hampir 50 persen. Sekretaris
Jenderal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Budi
Wiweko mengatakan pemerintah perlu membuat kebijakan khusus untuk
menyesuaikan kondisi yang ada saat ini.

Menurutnya, kondisi yang ada saat ini merupakan situasi yang luar biasa.
Oleh karenanya, dibutuhkan kebijakan yang baru dan sesuai dengan yang
sedang terjadi di masyarakat saat ini.

Sebenarnya, lanjut Budi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah
terkait menjaga agar tidak ada kenaikan tiba-tiba jumlah kelahiran
pascapandemi. Cara pertama adalah mengonversi metode kontrasepsi
jangka pendek menjadi jangka panjang.

"Saya kira yang menjadi sebuah alternatif untuk kita sampaikan kepada
masyarakat, pertama adalah tetap dianjurkan agar para akseptor KB ini
menggunakan satu konversi pada metode kontrasepsi jangka panjang," kata
Budi, dihubungi Republika.co.id, Ahad (3/5).

Alat kontrasepsi jangka pendek yakni pil atau kondom. Sementara jangka
panjang termasuk suntik implan dan IUD. Pada masa pandemi seperti saat
ini, suntik bisa diganti dengan implan yang bisa bertahan sampai tiga tahun
atau spiral yang bisa bertahan hingga lima tahun.

Cara kedua, lanjut Budi, bagi mereka yang tidak mau beralih pada metode
kontrasepsi jangka panjang, dianjurkan agar bisa memilih kontrasepsi yang
dilakukan sendiri. Contohnya adalah dengan meminum pil KB.

"Pil KB kan tidak perlu melakukan kunjungan. Sekali datang dia bisa
mengambil pil untuk tiga bulan, bahkan enam bulan sekaligus. Itu sangat
mungkin dilakukan," kata dia menjelaskan.

Selanjutnya adalah cara yang ketiga, yaitu memanfaatkan edukasi melalui


telekonsultasi atau telemedis. Melalui cara tersebut, fasilitas layanan
kesehatan (fasyankes) harus mengedukasi masyarakat, yakni perempuan
usia subur mengenai pentingnya kontrasepsi.

Pada masa pandemi ini, masyarakat diminta untuk tidak banyak pergi dan
berkumpul. Terkait hal ini, sebenarnya bisa dilakukan pengaturan agar para
klien KB ini tidak datang secara bersamaan atau melakukan antrean panjang.

Antrean klien KB ke Fasyankes bisa diatur sesuai dengan protokol kesehatan


yang berlaku. Jumlah masyarakat yang datang juga bisa dibatasi agar tidak
terlalu menumpuk dan berisiko meningkatkan penularan Covid-19. Pilihan ini
juga bisa dikombinasikan dengan telekonsultasi dan telemedis.
Ia menegaskan, pemahaman mengenai kontrasepsi ini sangat penting
dijelaskan kepada masyarakat. Sebab, apabila tidak dilakukan sosialisasi
yang baik bukan tidak mungkin Indonesia akan menghadapi masalah lain
pascapandemi yaitu angka kehamilan yang tidak terkendali.

"Angka kehamilan yang tidak terkendali, atau total fertility rate kita yang sudah
mulai turun ke 2,23 menjadi naik kembali. Ini terlalu risky buat kesehatan
reproduksi," kata Budi menegaskan.

Sebelumnya, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana


Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengungkapkan, pihaknya telah
menghimpun data jumlah pemasangan alat KB yang menurun selama wabah
Covid-19. "Setiap bulan kami mengumpulkan data penggunaan alat KB
seperti susuk, pil dan trennya menurun hampir 50 persen. Kalau penurunan
penggunaan alat KB terus terjadi dalam tiga bulan maka angka kehamilan
bisa naik 10 hingga 20 persen," kata dia.

Padahal, pihaknya mendorong pasangan suami istri (pasutri) untuk menunda


kehamilan di masa pandemi ini. Sebab, kehamilan selama wabah virus ini
bisa menyebabkan beberapa hal. Termasuk penurunan daya tahan tubuh
yang bisa mengakibatkan rentan terinfeksi Covid-19. 

 Laju pertumbuhan penduduk Indonesia memiliki kecenderungan menurun dari tahun


ke tahun. Kebijakan pemerintah untuk menekan LPP dengan adanya program Keluarga
Berencana (KB) yang diluncurkan pada tahun 1980-an menunjukan hasil yang positif.

Namun merebaknya wabah Covid-19 menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya


jumlah kelahiran akibat terhambatnya layanan kontrasepsi selama pandemi.

Dilansir dari data Biro Pusat Statistik (BPS), Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP)
Indonesia hingga akhir 2017 lalu berada di angka 1,36 persen.

Melihat angka ini, laju pertumbuhan penduduk Indonesia memiliki kecenderungan


menurun dari tahun ke tahun. Kebijakan pemerintah untuk menekan LPP dengan
adanya program Keluarga Berencana (KB) yang diluncurkan pada tahun 1980-an
menunjukkan hasil.

BACAAN LAINNYA
Seperti India, Sri Lanka Stigmatisasi Muslim Pakai Corona
Pigai Tuding Kader PDIP Abal-abal, Anak Buah Megawati: Dasar Penilaiannya Apa?
Baju APD Buatan Indonesia Lolos ISO 16604 Class 3
DPR Aceh minta Pemprov tes swab COVID-19 massal
Ratusan Sekolah di Korsel Kembali Ditutup

Slogan Dua Anak Cukup yang dicanangkan Orde Baru masih populer sampai sekarang.
(Foto: Humas BKKBN).

Pada tahun 1971-1980 pertumbuhan penduduk Indonesia masih cukup tinggi sekitar
2,31 persen. Pertumbuhan penduduk ini kemudian mengalami penurunan yang cukup
tajam hingga mencapai 1,49 persen pada kurun waktu 1990-2000. Penurunan ini antara
lain disebabkan berkurangnya tingkat kelahiran sebagai dampak peran serta
masyarakat dalam program KB. Data terakhir (2000-2017) laju pertumbuhan penduduk
Indonesia kembali turun menjadi 1,36 persen.

Program Keluarga Berencana yang dijalankan Badan Koordinasi Keluarga Berencana


Nasional (BKKBN) selama ini memberikan hasil yang cukup baik dalam mengendalikan
angka kelahiran. Hal ini terlihat dengan menurunnya angka kelahiran total atau Total
Fertility Rate (TFR) sesuai hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017.
Angka fertilitas total merupakan jumlah anak rata-rata yang akan dilahirkan seorang
wanita pada akhir masa reproduksinya.
Tahun 2017 Total Fertility Rate di Indonesia menurun menjadi sekitar 2,4 anak per
wanita, dari sebelumnya 2,6 anak per wanita pada Tahun 2013. Angka 2,4 anak per
wanita, artinya seorang wanita di Indonesia rata-rata melahirkan 2,4 anak selama
hidupnya. Dengan angka kelahiran pada wanita rentang usia 15-19 tahun mencapai
36/1000 kelahiran dari sebelumnya 46/1000 kelahiran.
Pemerintah sendiri melalui BKKBN menargetkan TFR menjadi 2,26 anak per wanita di
tahun 2020. Sementara ASFR (Age Specific Fertility Rate) kelompok 15-19 tahun
ditargetkan turun menjadi 25/1000 kelahiran di tahun 2020.
Namun meski menunjukan hasil yang positif pada 2 indikator di atas, beberapa indikator
lain menunjukan pencapaian di bawah target. Seperti penggunaan alat kontrasepsi
atau contraceptive prevalensi rate (CPR) masih rendah. Saat ini, jumlah peserta KB aktif
baru 57,2 persen dari targetnya 61,2 persen.
Menurut Professor DR. dr. Dwiana Ocvyanti SpOG, MPH, Koordinator Pendidikan
Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI)-POGI, masih rendahnya
pemahaman masyarakat secara umum tentang konsep perencanaan keluarga menjadi
salah satu masalah dalam program perencanaan keluarga.

Koordinator Pendidikan HOGSI-POGI Prof DR dr Dwiana Ocvyanti SpOG MPH.PNG


(Foto: screenshot)

“Tentunya masalah yang selalu kita hadapi dalam konsep perencanaan keluarga
adalah masih rendahnya pemahaman masyarakat secara umum tentang konsep
perencanaan keluarga apalagi mengkaitkan untuk kualitas generasi mendatang yang
lebih baik” kata Dwiana Ocvyanti dalam webinar “Antisipasi Baby Boom Pasca
Pandemi” melalui aplikasi Zoom yang diselenggarakan Himpunan Obstetri dan
Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI), Sabtu (2/5).

Dwiana menambahkan ada semacam trauma di sebagian masyarakat, dimana konsep


KB diartikan dengan penggunaan kontrasepsi bukan perencanaan keluarga untuk
kualitas kehidupan yang lebih baik.

Untuk itu diperlukan pemahaman secara holistik dalam upaya komunikasi terkait
perencanaan keluarga. Ia menyarankan agar sosialisasi lebih digiatkan lagi dengan
menggunakan saluran-saluran digital seperti media sosial agar tetap dapat menjangkau
masyarakat di saat pembatasan sosial seperti sekarang.

“Sepert

 sekarang dalam Covid sekalipun harusnya bisa diintegrasikan, sekarang banyak


modul-modul tentang kebersihan dan sebagainya harusnya kita bisa menitipkan pesan-
pesan kontrasepsi atau perencanaan keluarga di dalamnya” ungkap Dwiana.

Dampak Pandemi Covid-19


Merebaknya wabah Covid-19 di seluruh dunia termasuk Indonesia mempengaruhi
berbagai aspek, tak terkecuali pada pelayanan Program Keluarga Berencana yang
dijalankan BKKBN.

Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menjelaskan bahwa pandemi Covid-19
sangat berdampak terhadap Kegiatan Pelayanan KB yang dijalankan BKKBN.

Menurutnya dengan kondisi layanan normal maka jumlah kelahiran sekitar 4,7 juta di
tahun 2020. Namun dengan adanya pandemi dan layanan yang terhambat maka
potensi terjadinya kelahiran atau kehamilan yang tidak diinginkan akan meningkat.

Kepala BKKBN dr.Hasto Wardoyo Sp.OG. (Foto: screenshot)

“Pelayanan KB yang sangat berdampak akibat wabah Covid-19 ini dikarenakan KB


sendiri pelayanannya yang ada sekarang adalah dengan baksos, sosialisasi oleh
Penyulu