Anda di halaman 1dari 13

JPSD Vol. 7 No.

1, Juni 2020
ISSN 2540-9093

PERAN SEKOLAH INKLUSI DALAM MENGOPTIMALKAN KEMANDIRIAN DAN KARAKTER


ANAK AUTISME PADA SEKOLAH INKLUSIF BUAH ATI
Asep Supena1, Riska Novalia2, Hiznu Sobar3, Raka Ismaya4, Yufiarti5

Program Studi Pendidikan Dasar Universitas Negeri Jakarta, Indonesia

Email: asepsupena@unj.ac.id1 riskanovalia1128@gmail.com2, sobarhiznu@gmail.com3, rakaismayaraka@gmail.com4, yufiarti@unj.ac.id5

Abstrak : Sekolah Inklusi memiliki peranan yang penting bagi Anak Autis . Sekolah inklusi adalah salah satu cara bagi Anak
Autism juga orang tua siswa dalam mengembangkan potensi diri untuk lebih maju dan mandiri sehingga menunjang kemandirian
dan menumbuhkan sifat percaya diri pada anak Autis dengan disesuaikan kemampuan yang dimilikinya. Penelitian ini bertujuan
untuk melakukan studi terhadap dalam Mengoptimalkan Kemandirian pada Anak Autis di Sekolah Inklusif Buah Ati di Kabupaten
Bekasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model analisis interaktif. Teknik keabsahan data
menggunakan teknik triangulasi data dan sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) peran pendidikan yang diterapkan di SD
inklusi Buah Ati meliputi nilai-nilai karakter religius, jujur, bersahabat, toleransi, mandiri, peduli lingkungan, peduli sosial,
menghargai prestasi dan tanggung jawab, (2) peran pendidikan karakter anak berkebutuhan khususpada SD inklusi di Kabupaten
Bekasi dalam penerapannya menggunakan strategi terintegrasi dalam pembelajaran, pengembangan diri, dan program inklusi, (3)
kendala yang dihadapi guru-guru SD inklusi Buah Ati di Kabupaten Bekasi dalam peran pendidikan karakter antara lain keterbatasan
kemampuan siswa anak berkebutuhan khusus, keterbatasan pengetahuan guru tentang anak berkebutuhan khusus, kurang terbukanya
orang tua siswa terhadap perkembangan anak, dan keterbatasan tenaga dan waktu guru serta banyaknya beban kerja.

Kata Kunci : Sekolah Inklusi , Anak Autis , Kemandirian, Pendidikan Karakter

Abstract : Inclusion Schools have an important role for Autistic Children. Inclusion schools are one way for Autism Children as well
as parents of students to develop their potential to be more advanced and independent so as to support independence and foster self-
confidence in Autistic children by adjusting their abilities. This study aims to conduct a study of Optimizing Independence in Autistic
Children in Buah Ati Inclusive Schools in Bekasi District. This research uses a qualitative approach. Data collection methods used in
this study were interviews, observation and documentation study. Data analysis was performed using an interactive analysis model.
The data validity technique uses data and source triangulation techniques. The results showed that (1) the role of education
implemented in Buah Ati inclusion elementary school included the values of religious character, honest, friendly, tolerance,
independent, caring for the environment, caring for social, respecting achievement and responsibility, (2) the role of children's
character education with special needs in inclusive elementary schools in Bekasi in their application using integrated strategies in
learning, self-development, and inclusive programs, (3) the obstacles faced by Buah Ati inclusive elementary school teachers in
Bekasi in the role of character education include the limited ability of students of children with special needs , limited teacher
knowledge about children with special needs, lack of parents' openness to children's development, and limited teacher energy and time
and the amount of workload.

Keywords: Inclusion Schools, Autistic Children, Independence, Character Education

JPSD Vol. 4 No. 1, Juni 2020 Riska, Raka & Hiznu


ISSN 2540-9093
1. PENDAHULUAN
Sekolah Inklusi bagi Anak Autis merupakan pendidikan tidak boleh lagi melihat latar belakang
salah satu cara bagi mereka dalam mengembangkan peserta didiknya baik berkenaan dengan kemampuan
potensi diri untuk lebih maju dan mandiri sehingga intelektualitas akademiknya, kelemahan fisiknya,
menunjang kemandirian dan menumbuhkan sifat maupun mentalitas dan emosi. Dengan menyatukan ke
percaya diri pada anak berkebutuhan khusus dengan dalam ruang kelas yang sama, akan memberikan
disesuaikan kemampuan yang dimilikinya [1]–[3]. pengertian kepada peserta didik bahwa dalam
Realitanya, anak Autis yang memiliki kelainan fisik, kehidupan akan ditemuai banyak sekali perbedaan.
mental atau sosial sering dianggap sebelah mata, Perbedaan-perbedaan itu hendaknya tidak dijadikan
karena kekurangan yang mereka miliki. Sehingga sebagai hambatan, melainkan sebuah kenyataan yang
mereka merasa kurang percaya diri ketika dihadapkan harus dihadapi dan dihormati. Itulah realitas
dengan pendidikan yang harus mereka tempuh [4]–[6]. kehidupan yang harus dialami bersama. Kondisi dan
Adanya kesenjangan masyarakat dalam melihat antara situasi pembelajaran yang majemuk ini dapat menjadi
anak yang normal dengan anak autis, sehingga media pendidikan karakter yang sangat efektif bagi
pengaruh lingkungan masyarakat begitu kurang positif semua peserta didik.
dan akhirnya menjadi tambahan beban bagi anak Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk
berkebutuhan khusus. Dengan pandangan yang seperti membentuk pola sifat atau karakter mulai dari usia
itu, pendidikan luar biasa tampil sebagai salah satu dini, agar karakter baik tersebut tertanam dan
solusinya. mengakar pada jiwa anak [11]–[13]. Pendidikan
Masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan pada karakter adalah pendidikan yang tidak hanya
anak Autis yaitu kemandirian sehingga mereka berorientasi pada aspek kognitif saja, akan tetapi lebih
kurang begitu memanfaatkan kemampuan yang berorientasi pada proses pembinaan potensi yang ada
dimilikinya [7]–[9]. Padahal setiap anak itu pasti dalam diri anak, dikembangkan melalui pembiasaan
memiliki kelebihan yang ada dalam diri mereka. sifat-sifat baik yaitu berupa pengajaran nilai-nilai
Mengajarkan kemandirian pada anak Autis sangat karakter yang baik [14], [15]. Selain itu dapat
penting, pastinya memiliki kelebihan. Cara dalam ditanamkan nilai karakter yang lainnya seperti
mengajarkan kemandirian pada anak Autis yaitu 1) religius, mandiri, jujur, tanggung jawab dan lain
menanamkan manfaat komunikasi bagi anak Autis , 2) sebagainya. Dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan
bangun kedekatan, 3) perbanyak kosa kata, 4) ciptakan tersebut, guru perlu memperhatikan unsur-unsur
suasana yang menyenangkan, dan 5) gunakan terbentuknya karakter.
Augmentative Alternative Communication [10]. Melihat hal tersebut ternyata dalam pelaksanaan
Dengan memberi layanan pendidikan, lembaga pendidikan karakter di sekolah inklusi masih banyak
JPSD Vol. 4 No. 1, Juni 2020 Riska, Raka & Hiznu
ISSN 2540-9093
kendala yang dihadapi. Kenyataan dilapangan karakter sesuai dengan kemampuan sumber daya yang
menunjukkan bahwa sekolah masih mengalami dimiliki maupun sarana dan prasarana yang ada.
kesulitan untuk menyusun konsep pendidikan karakter Berdasarkan uraian di atas maka rumusan-masalah
bagi peserta didik. Beberapa guru juga masih dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah peran
mengalami kendala dalam menanamkan nilai karakter pendidikan karakter dalam mengoptimalkan
pada anak yang berbeda-beda. Walaupun demikian kemandirian pada anak Autis di Sekolah inklusif Buah
pihak sekolah masih tetap melaksanakan pendidikan Ati?

2. Studi Literatur
2.1 Pendidikan Karakter tindakan terikat dengan nilai dan norma. Pendidikan
Pendidikan karakter dipahami sebagai upaya karakter dapat dilakukan melalui tiga hal, yaitu: (1)
penanaman kecerdasan dalam berpikir [16], [17], mengintegrasikan butir-butir nilai karakter ke dalam
penghayatan dalam bentuk sikap, dan pengamalan seluruh mata pelajaran, muatan lokal dan kegiatan
dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai pengembangan diri, (2) pembiasaan dalam kehidupan
luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam sehari-hari di sekolah/madrasah (pelayanan,
interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, antar sesama, pengelolaan dan pengajaran), dan (3) meningkatkan
dan lingkungannya. Nilai-nilai tersebut, antara lain: kerjasama antara sekolah/madrasah, orang tua peserta
kejujuran, kemandirian, sopan santun, kemuliaan didik, dan masyarakat dalam hal
sosial, kecerdasan berfikir, termasuk kepekaan membudayakan/membiasakan nilai-nilai karakter di
intelektual dan berfikir logis. lingkungan sekolah/ madrasah, lingkungan rumah dan
Rizwan dan Masrur mengatakan character lingkungan masyarakat.
determines someone’s private thoughts and someone’s Namun, strategi penerapan pendidikan karakter
action done. Good character is the inward motivation tersebut ternyata belum terlaksana dengan baik di
to do what is right, according to the highest standard beberapa sekolah dan madrasah. Sebab, fokus
of behaviour, in every situation [18], [19]. sebagian lembaga pendidikan dewasa ini masih pada
Bahwasanya pendidikan karakter mengajarkan pembekalan ilmu pengetahuan dan skill untuk bekerja
kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu sehingga peserta didik mampu bersaing dan
individu untuk hidup dan bekerja bersama sebagai mempertahankan hidupnya. Sedangkan pembentukan
keluarga, masyarakat, dan bernegara dan membantu watak, karakter atau akhlak, nyaris hampir tidak
membuat keputusan yang dipertanggungjawabkan. diperhatikan dan inilah pendidikan yang selama ini
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti terlupakan [20]–[22], padahal karakter inilah yang
yang melibatkan aspek pengetahuan, perasaan dan menentukan pada arah masa depan yang lebih cerah
JPSD Vol. 4 No. 1, Juni 2020 Riska, Raka & Hiznu
ISSN 2540-9093
dan lebih baik. Suatu sekolah/madrasah akan Kemandirian dalam belajar diartikan sebagai
mengalami keterpurukan disebabkan karena tidak aktivitas belajar yang berlangsungnya lebih didorong
memiliki karakter yang baik. Hal itulah yang oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri, dan tanggung
mengakibatkan bangsa ini terpuruk dan tidak keluar jawab sendiri dari pembelajar [26]–[28]. Kemandirian
dari krisis multidimensi. disini, berarti lebih ditekankan pada individu yang
Atas dasar itu, pendidikan karakter bukan sekedar belajar dan kewajibannya dalam belajar dilakukan
mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, secara sendiri dan sepenuhnya dikontrol sendiri.
lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan Belajar mandiri yaitu metode belajar dengan
kebiasaan (habitualisasi) tentang hal mana yang baik kecepatan sendiri, tanggung jawab sendiri, dan belajar
sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) yang berhasil [29], [30]. Jadi, berhasil tidaknya dalam
tentang mana yang benar dan salah, mampu belajar semuanya ditentukan oleh pribadi tersebut.
merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa Seorang siswa yang memiliki kemandirian belajar
melakukannya (psikomotor). Dengan kata lain, bukan berarti siswa diasingkan dari teman belajarnya
pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan dan gurunya, namun siswa mampu menunjukkan
saja aspek “pengetahuan yang baik (moral knowing), peningkatan kemandirian belajar tersebut dalam
akan tetapi juga “merasakan dengan baik atau loving proses pembelajaran. Hal terpenting dalam proses
good (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral belajar mandiri yaitu melihat peningkatan kemampuan
action). Pendidikan karakter menekankan pada habit dan ketrampilan siswa dalam proses belajar mengajar
atau kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan dan tanpa bantuan orang lain [31]–[33]. Dalam belajar
dilakukan. Dengan demikian, jelaslah sudah landasan mandiri siswa akan berusaha sendiri memahami isi
dan alasan penerapan pendidikan karakter di pelajaran, jika mendapat kesulitan barulah siswa
Indonesia. mendiskusikannya dengan guru.
Dari beberapa definisi tersebut, maka dapat
2.2 Kemandirian disimpulkan bahwa kemandirian belajar merupakan
Kemandirian yaitu sikap penting yang harus dimiliki sikap individu khususnya siswa dalam pembelajaran
seseorang supaya mereka tidak selalu bergantung yang mampu secara individu untuk menguasai
dengan orang lain [23]–[25]. Sikap tersebut bisa kompetensi, tanpa tergantung dengan orang lain dan
tertanam pada diri individu sejak kecil. Di sekolah tanggung jawab. Siswa tersebut secara individu
kemandirian penting untuk seorang siswa dalam memiliki sikap tanggung jawab, tidak tergantung
proses pembelajaran. Sikap ini diperlukan setiap siswa orang lain, percaya diri dan mampu mengontrol
agar mereka mampu mendisiplinkan dirinya dan dirinya sendiri. Kemandirian belajar ini sangat
mempunyai tanggung jawab.
JPSD Vol. 4 No. 1, Juni 2020 Riska, Raka & Hiznu
ISSN 2540-9093
diperlukan siswa agar pencapaian prestasi belajar
dapat optimal.
3. METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini sekolah dasar inklusi mulai dari karakteristik,
adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan implementasi, dan kendala yang dihadapi; 2) data
tujuan untuk mengungkap secara rinci dan menyeluruh sekunder diperoleh dari arsip dan dokumen dan
tentang peran pendidikan karakter dalam sumber data yang lainnya seperti foto, perangkat
mengoptimalkan kemandirian pada anak berkebutuhan pembelajaran, dan program pembelajaran individual.
khusus di Sekolah inklusif Buah Ati. Penelitian ini Pada penelitian kualitatif instrumen atau alat
dilaksanakan di Kabupaten Bekasi, sebagai latar penelitian yang digunakan adalah peneliti itu sendiri,
penelitian yang hendak diteliti adalah sekolah inklusi sehingga dalam penelitian ini instrumen penelitian
Buah Ati. Pertimbangan tempat penelitian memilih yang digunakan yaitu peneliti itu sendiri. Agar
disekolah dasar tersebut, karena menurut pengamatan memperoleh data yang diharapkan, teknik
dan penelitian awal sudah mewakili seluruh sekolah pengumpulan data pada penelitian ini adalah
dasar sebagai penyelenggara sekolah inklusi. observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis
Sumber data dalam penelitian kualitatif inidipilih keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan
secara purposive dengan menentukan sumber data derajat kepercayaan dengan triangulasi teknik (data
dengan pertimbangan tertentu. Jenis data dalam yang diperoleh melalui wawancara dicari
penelitian ini dibedakan menjadi dua jenis yaitu; 1) kebenarannya dengan observasi dan dokumentasi) dan
data primer yang diperoleh dari verbal atau kata-kata triangulasi sumber.
lisan dan perilaku/tindakan manusia yang dilakukan
dalam peran pendidikan karakter anak Autis di
4. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Peran pendidikan karakter merupakan ciri khas dalam mampu memahami, merasakan, dan mengajarkan
pelaksanaan pendidikan karakter. Karakter sekaligus nilai-nilai kebajikan.
dikembangkan melalui tahap pengetahuan menuju Pendidikan karakter yang selama ini dilaksanakan
kebiasaan. Diperlukan tiga komponen karakter yang SD inklusi seperti yang sudah diungkapkan oleh guru-
baik (component of good character) yaitu moral guru lebih menekankan pada pembiasaan sehingga
knowing atau pengetahuan tentang moral, moral bisa menumbuh kembangkan kemandirian yang
feeling atau perasaan tentang moral dan moral action dimiliki anak berkebutuhan khusus. Bentuk
atau perbuatan bermoral. Tujuannya agar peserta didik pembiasaan atau pembudayaan dijadikan rutinitas
yang selalu diasah pada peserta didik. Kegiatan yang
JPSD Vol. 4 No. 1, Juni 2020 Riska, Raka & Hiznu
ISSN 2540-9093
dilakukan berupa kegiatan rutin misalnya bersalaman, dalam menumbuh kembangkan kemandirian yang
mengucapkan salam sebelum memasuki ruangan, dimiliki anak yangAutis .
berdoa, dan datang tepat waktu ke sekolah. Dalam hal
ini juga diperlukan adanya keteladanan guru yang Hasil kajian menunjukkan bahwa peran pendidikan
memberikan contoh-contoh positif pada siswa. Bentuk karakter bagi anak berkebutuhan khusus dari
lainnya berupa pengkondisian lingkungan sekolah perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi masih terdapat
seperti adanya poster kata-kata bijak, lingkungan yang kendala yang dihadapi oleh guru.
hijau, serta tempat sampah yang memadai sehingga
tercipta lingkungan yang bersih. 4.1 Perencanaan Pendidikan Karakter
Melalui kegiatan-kegiatan tersebut dan kondisi Proses perencanaan pendidikan karakter yang akan
lingkungan yang memadai maka anak menjadi dilakukan dalam buku panduan pelaksanaan
nyaman dan terbiasa melakukan kegiatan yang positif pendidikan karakter dijelaskan bahwa sekolah harus
sehingga bisa muncul rasa mandiri siswa dalam melakukan analisis konteks kondisi satuan pendidikan,
mengerjakan berbagai macam tidakan yang baik. menyusun satuan rencana aksi sekolah, membuat
Berdasarkan hasil observasi dan studi dokumentasi SD program perencanaan dan pelaksanaan pendidikan
inklusi Buah Ati Kabupaten Bekasi melaksanakan karakter serta memasukan karakter utama, dan
pendidikan karakter melalui membuat perencanaan pengkondisian. Proses
pembiasaan/pembudayaan baik kepada siswa perencanaan yang dikembangkan di SD inklusi
berkebutuhan khusus maupun siswa reguler. meliputi rapat kerja guru, sosialisasi ke stakeholder
Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan sekolah, dan menyusun RPP yang memuat nilai-nilai
pendidikan karakter telah teridentifikasi 18 nilai yang karakter.
bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan
pendidikan nasional, yaitu: Religius, Jujur, Toleransi, 4.2 Pelaksanaan Pendidikan Karakter
Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Pelaksanaan pendidikan karakter sudah menjadi tugas
Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah satuan pendidikan yangdidalamnya terdapat kepala
Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat/Komunikatif, sekolah, guru, dan karyawan. Maka dari itu proses
Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, pendidikan karakter perlu dilaksanakan secara
Peduli Sosial, dan Tanggung Jawab. Meskipun telah bersama-sama. Proses pelaksanaan pendidikan
terdapat 18 nilai pembentuk karakter bangsa, namun karakter pada SD inklusi Buah Ati di Kabupaten
satuan pendidikan dapat menentukan prioritas Bekasi dilakukan melalui beberapa cara, diantaranya
pengembangannya. Karakteristik pendidikan yang terintegrasi dalam pembelajaran, pengembangan 2
diterapkan di SD inklusi meliputi nilai-nilai karakter diri, dan program pendidikan inklusi.
JPSD Vol. 4 No. 1, Juni 2020 Riska, Raka & Hiznu
ISSN 2540-9093
Secara umum guru-guru SD inklusi Buah Ati di ekstrakurikuler. Berikut ini tabel hasil pengembangan
Kabupaten Bekasi mengatakan bahwa pendidikan diri pada SD inklusi Buah Ati di Kabupaten Bekasi.
karakter diterapkan melalui matapelajaran kepada Data Tabel 1 menunjukkan pada SD inklusi Buah
anak reguler dan anak Autis . Dalam proses Ati di Kabupaten Bekasi sebenarnya sesuai dengan
pembelajaran tidak ada perbedaan dalam menanamkan bidang pengembangan di SD yaitu pembentukan
nilai-nilai karakter antara anak reguler dan anak perilaku melalui pembiasaan dan pengembangan
berkebutuhan khusus. Hal ini disebanak berkebutuhan kemampuan dasar, penerapan nilai sudah dilakukan.
khusuan karena dalam proses pembelajaran terdapat Kegiatan-kegiatan pembiasaan tersebut semakin
guru pembimbing khusus bagi anak berkebutuhan dikuatkan dan juga dilakukan melalui program
khusus. Guru pembimbing khusus berfungsi sebagai pendidikan inklusi yang dikhususkan bagi anak Autis .
guru yang membimbing dan memahamkan anak 4.3 Evaluasi Pendidikan Karakter
berkebutuhan khusus apabila terdapat hal yang belum Hasil kajian menunjukkan bahwa evaluasi pendidikan
jelas disampaikan oleh guru kelas. karakter dilakukan melalui tahap penentuan indikator
Dinyatakan dalam buku panduan pelaksanaan keberhasilan dan melaksanakan tindak lanjut.
pendidikan karakter yang dikeluarkan oleh Berdasarkan analisis data, dalam pelaksanaan
kemendiknas bahwa pengembangan diri merupakan penilaian penyelenggaraan pendidikan karakter di SD
kerangka pengembangan pendidikan karakter peserta inklusi Buah Ati di Kabupaten Bekasi, sekolah
didik yang memuat didalamnya pengembangan menggunakan beberapa pedoman penilaian. Pedoman
budaya sekolah sebagai pusat kegiatan belajar. penilain merupakan instrumen yang digunakan dalam
Kegiatan pengembangan diri di SD inklusi dilakukan sebuah penilaian. Terdapat dua pedoman penilaian
dengan proses pembiasaan/pembudayaan pada peserta yang digunakan di SD inklusi Buah Ati di Kabupaten
didik. Bentuk-bentuk pengembangan diri yang Bekasi. Diantaranya yaitu penilaian antar teman dan
dilakukan diantaranya kegiatan rutin, keteladanan, observasi berdasarkan pedoman PPI atau IEP
pengkondisian, kegiatan terprogram, dan (Education Program Individual).

JPSD Vol. 4 No. 1, Juni 2020 Riska, Raka & Hiznu


ISSN 2540-9093
Tabel 1
Kegiatan Pengembangan kemandirian
Jenis
Pengembangan Nilai yang ditanamkan Strategi
Kemandirian
Rutin Religius, semangat Melaksanakan kegiatan rutin siswa dengan baik untuk
kebangsaan, cinta tanah air, menanamkan nilai karakter pada siswa (upacara, berbaris,
disiplin, rasa hormat, dan berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, piket kelas,
tanggung jawab pemeriksaan kesehatan, mengucap salam)
Pengkondisian Peduli lingkungan, patuh pada Kepala sekolah dan guru memberikan keteladanan
aturan, bertanggung jawab, sehingga menjadi panutan bagi siswa (datang lebih awal,
disiplin selalu berkata baik, kebersihan dan kerapian, kasih sayang
perhatian dll)
Terprogram Religius, semangat Melaksanakan kegiatan yang diprogramkan sekolah seperti
kebangsaan, cinta tanah air, peringatan hari besar nasional dan keagamaan, dan kelas
peduli sosial, dan tanggung inklusi bagi anak berkebutuhan khusus
jawab
Ekstrakurikuler Religius, kerjasama percaya Melaksanakan kegiatan ekstra kurikuler secara rutin sesuai
diri, mandiri, toleransi, program sekolah yang telah ditetapkan (seni musik,
bersahabat, bertanggung menggambar,menari, BTA, pramuka, drumband, dll)
jawab

Sekolah menggunakan pedoman penilaian antar dapat mengurangi objektifitas guru dalam menilai
teman untuk mengatahui karakter masing-masing siswa anak Autis .
siswa menurut orang lain. Penilaian antar teman ini Pedoman yang kedua yaitu menggunakan PPI atau
melatih siswa untuk mengembangkan potensi IEP dengan cara mengobservasi siswa setiap hari.
personalitinya dan membangun rasasosial pada siswa. Guru setiap tiga bulan sekali menyusun PPI untuk
Siswa diminta berkomunikasi dan memberikan menentukan fokus karakterapa saja yang akan
penilaiannya terhadap teman mereka secara bebas ditanamkan pada siswa anak berkebutuhan khusus.
berdasarkan apa yang mereka tahu. Pedoman penilaian PPI atau IEP ini khusus disusun untuk anak
ini sudah tepat dilakukan dalam penyelenggaraan berkebutuhan khusus. Di dalam PPI terdapat indikator
pendidikan karakter di sekolah. Selain itu hal ini juga penilaian karakter siswa anak berkebutuhan khusus,

JPSD Vol. 4 No. 1, Juni 2020 Riska, Raka & Hiznu


ISSN 2540-9093
misalnya sopan santun,menyayangi teman, mandiri karakter pada siswa anak berkebutuhan khusus kurang
dan sebagainya. maksimal.
Penanaman karakter di SD Inklusi juga tidak lepas Dalam hal ini, tidak seharusnya keterbatasan siswa
dari peran atau pendampingan kepala sekolah terhadap anak Autis menjadi kendala dalam pelaksanaan
keterlaksanaannya pendidikan karakter. Dari hasil pendidikan karakter di SD Inklusi. Siswa anak
kajian, pendampingan kepala sekolah dalam berkebutuhan khusus dengan semua keunikannya
penyelenggaraan pendidikan karakter berjalan dengan memiliki keterbatasan dan kelebihan tersendiri yang
baik. Walaupun pendampingan tersebut tidak memang hal itu sudah menjadi bawaan sejak lahir.
dilakukan dengan jangka waktu yang jelas. Guru Sehingga guru seharusnya memahami karakteristik
mengungkapkan bahwa kepala sekolah kadang-kadang semua siswa anak autis , sehingga guruakan dapat
masuk kelas untuk mengamati aktivitas guru dan menemukan cara yang tepat untuk menanamkan
siswa. karakter pada masing-masing siswa anak
Peran kepala sekolah sebagai pemimpin sangatlah berkebutuhan khusus. Guru perlu lebih mempelajari
penting dalam melaksanakan pendidikan karakter di teori-teori psikologi peserta didik, terutama siswa anak
SD Inklusi. Segala upaya dan strategi yang inovatif berkebutuhan khusus. Dengan demikian, keterbatasan
dari kepala sekolah akan menentukan keberhasilan peserta didik tidak lagi dianggap menjadi kendala.
dari penerapan pendidikan karakter di sekolahnya. Kendala yang kedua yaitu keterbatasan
Dalam hal ini termasuk melakukan pendampingan pengetahuan guru tentang siswa anak Autis . Hal ini
yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap guru. terjadi karena kompetensi guru dalam bidang
Apabila kepala sekolah rutin dalam melakukan akademik terbatas. Tertulis pada Undang-Undang RI
pendampingan, maka pelaksanaan pendidikan karakter No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan dosen dalam
akan lebih maksimal lagi. Bab IV Bagian kesatu pasal 8, bahwa “Guru wajib
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, memiliki kualifikasi, kompetensi, dan sertifikat
terdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki
menerapkan pendidikan karakter di SD Inklusi kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan
Kabupaten Bekasi. Kendala-kendala tersebut yaitu nasional”. Seorang guru harus memiliki kompetensi
kemampuan siswa anak berkebutuhan khusus yang agar dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya
terbatas sehingga membuat guru harus lebih ekstra dengan baik. Dalam hal ini guru harus memiliki
dalam menanamkan karakter. Dengan keterbatasan kompetensi pengetahuan dan kualifikasi pendidikan
tersebut, guru menjadi menyadari keterbatasan waktu yang sesuai.
dan tenaga guru sehingga kegiatan penanaman SD Inklusi menerapkan pembelajaran
yangdilakukan bersama-sama antara siswa normal dan
JPSD Vol. 4 No. 1, Juni 2020 Riska, Raka & Hiznu
ISSN 2540-9093
siswa anak Autis . Berarti, sekolah dengan didukung anak Autis . Dengan keterbatasan tersebut guru masih
pemerintah wajib menyediakan guru berkualifikasi dituntut beban kerja yang banyak, sehingga guru
pendidikan khusus dan psikolog untuk membantu kurang maksimal dalam menanamkan karakter bagi
siswa anak Autis mencapai kompetensi yang siswa anak berkebutuhan khusus. Masih berkaitan
maksimal. Sehingga sekolah tidak kesulitan dalam dengan kendala sebelumnya, guru juga memiliki
menentukan treatment atau tindakan yang tepat, dalam keterbatasan pengetahuan dalam hal strategi dan
hal ini karakter. pendekatan penanganan terhadap siswa anak Autis .
Kendala yang ketiga yaitu kurang terbukanya orang Upaya yang sebaiknya dilakukan adalah dengan cara
tua siswa terhadap perkembangan dan sejarah menambah tenaga guru pendamping khusus dan
kelahiran anaknya. Orang tua masih menganggap hal psikolog sehingga kendala tersebut tidak dialami.
mengenai penyebab anaknya memiliki kompetensi Namun, hal tersebut berkaitan dengan anggaran
dibawah normal adalah hal yang rahasia dan sekolah. SD Inklusi yang berstatus negeri, hanya
menjadikan orang tua malu. Padahal informasi ini mengandalkan bantuan dari pemerintah untuk
menjadikan sekolah dapat menentukan treatment atau memberi honor bagi guru pendamping khusus yang
tindakan yang tepat bagi siswa anak Autis . Untuk bukan merupakan Pegawai Negeri Sipil. Agar
mengatasi kendala ini, sebaiknya sekolah lebih kebutuhan guru pendamping khusus terpenuhi, maka
memberikan pemahaman bagi orang tua untuk terbuka pemerintah sebaikanya memberikan bantuan tambahan
terhadap sekolah. Informasi tersebut bukan sebuah aib untuk kesejahteraan guru pendamping khusus di SD
yang harus ditutupi, namun hal tersebut membantu Inklusi Buah Ati.
perkembangan anaknya dikemudian hari.
Kendala selanjutnya yaitu keterbatasan tenaga dan
waktu guru dalam menanamkan karakter bagi siswa

5. CONCLUSION
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan maka terintegrasi dalam pembelajaran, pengembangan diri,
dapat disimpulkan bahwa: (1) peran pendidikan yang dan program inklusi, (3) kendala yang dihadapi guru-
diterapkan di SD inklusi Buah Ati meliputi nilai-nilai guru SD inklusi Buah Ati di Kabupaten Bekasi dalam
karakter religius, jujur, bersahabat, toleransi, mandiri, peran pendidikan karakter antara lain keterbatasan
peduli lingkungan, peduli sosial, menghargai prestasi kemampuan siswa anak Autis , keterbatasan
dan tanggung jawab, (2) peran pendidikan karakter pengetahuan guru tentang anak Autis (SDM guru
anak Autis khusus pada SD inklusi di Kabupaten belum memenuhi), kurang terbukanya orang tua siswa
Bekasi dalam penerapannya menggunakan strategi
JPSD Vol. 4 No. 1, Juni 2020 Riska, Raka & Hiznu
ISSN 2540-9093
terhadap perkembangan anak, dan keterbatasan tenaga 4, no. 8, pp. 41–45, 2018.
G. E. Fitzsimons, “Adults Learning Mathematics :
dan waktu guru serta banyaknya beban kerja.
transcending boundaries and barriers in
Berdasarkan simpulan di atas, saran yang berikan an uncertain world,” vol. 14, pp. 41–52,
2019.
adalah (1)perlu adanya peningkatan SDM guru dalam
L. Winnaar, F. Arends, and U. Beku, “Reducing
memahami anak berkebutuhan khusus dengan cara bullying in schools by focusing on
school climate and school socio-
pelatihan maupun workshop pendidikan, agar
economic status,” South African J.
pelaksanaan pendidikan karakter yang diterapkan Educ., vol. 38, no. October, pp. 1–10,
2018.
menjadi lebih optimal, (2) adanya upaya yang lebih
A. Veloo, H. N. Krishnasamy, and R. Md-Ali,
kreatif dari guru-guru di SD inklusi dalam “Teachers’ Knowledge and Readiness
towards Implementation of School
menanamkan nilai-nilai karakter pada anak reguler
Based Assessment in Secondary
dan anak Autis secara lebih nyata, (3) adanya Schools,” Int. Educ. Stud., vol. 8, no.
11, p. 193, 2015.
kerjasama yang baik antara pihak sekolah dengan
Ş. Ş. İlik and R. K. Er, “Evaluating Parent
orang tua siswa dalam keterlaksanaannya pendidikan Participation in Individualized
Education Programs by Opinions of
karakter bagi anak berkebutuhan khusus, (4) Perlu
Parents and Teachers,” J. Educ. Train.
adanya pembatasan dalam penerimaan siswa baru Stud., vol. 7, no. 2, p. 76, 2019.
B. Baharuddin and J. Dalle, “Transforming
anak Autis .
learning spaces for elementary school
children with special needs,” J. Soc.
Stud. Educ. Res., vol. 10, no. 2, pp.
DAFTAR PUSTAKA 344–365, 2019.
V. Argyropoulos, A. Hathazi, and M. Nikolaraizi,
J. Lundqvist, M. Westling Allodi, and E. Siljehag, “Undergraduate Student Education
“Values and Needs of Children With Programs Regarding Braille Literacy: A
and Without Special Educational Needs Transnational Comparative Study,”
in Early School Years: A Study of High. Educ. Stud., vol. 9, no. 4, p. 44,
Young Children’s Views on What 2019.
Matters to Them,” Scand. J. Educ. Res., E. E. Biggs, E. W. Carter, J. L. Bumble, K.
vol. 63, no. 6, pp. 951–967, Sep. 2019. Barnes, and E. L. Mazur, “Enhancing
B. M. Edwards, D. Cameron, G. King, and A. C. Peer Network Interventions for
McPherson, “How Students without Students With Complex
Special Needs Perceive Social Communication Needs,” Except.
Inclusion of Children with Physical Child., 2018.
Impairments in Mainstream Schools: A S. Sudirman, “The 21st-Century Teacher:
Scoping Review,” Int. J. Disabil. Dev. Teacher’s Competence Within the
Educ., vol. 66, no. 3, pp. 298–324, May Character Education Framework
2019. Towards A Cultural-Oriented
Suharti, Hapidin, and A. Supena, “The Development and Promoting
Importance of Pre-Reading Ability in Tolerance,” Int. Educ. Stud., vol. 12,
Early Childhood: Between Theory and no. 8, p. 21, 2019.
Reality,” Int. J. Adv. Sci. Res. Eng., vol.

JPSD Vol. 4 No. 1, Juni 2020 Riska, Raka & Hiznu


ISSN 2540-9093
G. T. Demir, “The Relation Between Scouting p. 283, 2016.
and Character Education in The S. Musa, “Developing Educational Computer
Context of ‘The Book of The Wolf Animation Based on Human
Puppies’ Published In The Journal Personality Types,” Eur. J. Contemp.
‘Çocuk Dünyasi,’” J. Educ. Black Sea Educ., vol. 11, no. 1, pp. 52–71, 2015.
Reg., vol. 4, no. 2, pp. 71–84, 2019. M. Meir, “A framework for helping teachers
S. Suhartini, B. Sekarningrum, M. M. Sulaeman, interrupt oppression in their
and W. Gunawan, “Social construction classrooms,” J. Multicult. Educ., vol.
of student behavior through character 13, no. 1, pp. 94–105, Jan. 2019.
education based on local wisdom,” J. J. DiNapoli, “Persevering toward What?
Soc. Stud. Educ. Res., vol. 10, no. 3, pp. Investigating the Relationship between
276–291, 2019. Ninth-grade Students’ Achievement
Ş. Firat Durdukoca, “Identifying the Attitudes and Goals and Perseverant Actions on an
Views of Social Sciences Teachers Algebraic Task,” Int. Electron. J. Math.
toward Values Education in Turkey,” Educ., vol. 14, no. 3, pp. 435–453,
World J. Educ., vol. 9, no. 1, p. 103, 2019.
2019. A. Elekaei, H. H. Tabrizi, and A. Chalak,
M. Mislia, A. Mahmud, and D. Manda, “The “Distance education and vocabulary
Implementation of Character Education podcasting tasks: Attitude in focus,”
through Scout Activities,” Int. Educ. Turkish Online J. Distance Educ., vol.
Stud., vol. 9, no. 6, p. 130, 2016. 20, no. 2, pp. 105–120, 2019.
S. Ben-porath and G. Dishon, “Education From S. Sadaghian and S. S. Marandi, “Using
the Situationist Critique,” Philos. Inq. WebQuests as idea banks for fostering
Educ., vol. 23, no. 1, pp. 22–37, 2015. autonomy in online language courses,”
M. Irmscher, “The Interface Function of Thinking CALL communities Cult. – short Pap.
Styles between Personality and from EUROCALL 2016, vol. 2016, no.
Intelligence,” World J. Educ., vol. 9, 2016, pp. 403–407, 2016.
no. 1, p. 79, 2019. M. Crosslin, J. T. Dellinger, S. Joksimović, V.
S. Rizwan and R. Masrur, “Standard Based Three Kovanović, and D. Gašević,
Dimensional Capacity Development of “Customizable modalities for
In-Service Secondary School individualized learning: Examining
Teachers.,” Bull. Educ. Res., vol. 40, patterns of engagement in dual-layer
no. 3, pp. 31–44, 2018. MOOCS,” Online Learn. J., vol. 22,
G. Slušnienė, “Possibilities for Development of no. 1, pp. 19–38, 2018.
Emotional Intelligence in Childhood in A. Csizmadia, B. Standl, and J. Waite,
the Context of Sustainable Education,” “Integrating the constructionist learning
Discourse Commun. Sustain. Educ., theory with computational thinking
vol. 10, no. 1, pp. 133–145, 2019. classroom activities,” Informatics
M. Özbaş and D. Mukhatayeva, “Views of pre- Educ., vol. 18, no. 1, pp. 41–67, 2019.
service teachers related to the J. Naidoo and V. Paideya, “Exploring the
development of pedagogical formation possibility of introducing supplemental
training and design competences,” instruction at secondary school level,”
Univers. J. Educ. Res., vol. 6, no. 6, pp. South African J. Educ., vol. 35, no. 2,
1207–1215, 2018. pp. 1–10, 2015.
K. Ulusoy, “Target Values in the History Course A. Kundu, “Blended Learning in Indian
Curricula during the Republican Elementary Education: Problems and
Period,” J. Educ. Learn., vol. 6, no. 1, Prospects.,” J. Online Learn. Res., vol.
JPSD Vol. 4 No. 1, Juni 2020 Riska, Raka & Hiznu
ISSN 2540-9093
4, no. 2, pp. 199–227, 2018.
G. I. Smirnova and V. G. Katashev, “A study
module in the logical structure of
cognitive process in the context of
variable-based blended learning,” Eur.
J. Contemp. Educ., vol. 6, no. 1, pp.
48–56, 2017.
I. Tosuncuoglu, “Place of critical thinking in
EFL,” Int. J. High. Educ., vol. 7, no. 4,
pp. 26–32, 2018.
L. Gao, “Study on Teaching College English
Writing Based on Lexical Chunks,”
English Lang. Teach., vol. 12, no. 9, p.
1, 2019.

JPSD Vol. 4 No. 1, Juni 2020 Riska, Raka & Hiznu


ISSN 2540-9093