Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

BAYI BARU LAHIR

OLEH :

GUSTI AYU TRIANA UTARI

NIM : P07120320036

PROFESI NERS A/SEMESTER I

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2020

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN


BAYI BARU LAHIR
A. Konsep Dasar
1. Pengertian Bayi Baru Lahir (Neonatus atau Neonatal)
Bayi baru lahir adalah bayi dari lahir sampai usia 4 minggu, biasanya
lahir pada usia kehamilan 38 minggu sampai 42 minggu (Wong, 2003).
Bayi Baru Lahir (BBL)/ Neonatus/ Neonatal adalah hasil konsepsi yang
baru keluar dari rahim seorang ibu melalui jalan kelahiran normal atau dengan
bantuan alat tertentu dengan periode sejak bayi lahir sampai 28 hari pertama
kehidupan. Bayi baru lahir fisiologis adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37-
42 minggu dan berat badan lahir 2500-4000 gram. (Depkes RI, 2007).
Selama beberapa minggu, neonatus mengalami masa transisi dari
kehidupan intrauterin ke extrauterine dan menyesuaikan dengan lingkungan
yang baru. Masa bayi baru lahir (Neonatal) dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :
a. Periode Partunate, dimana masa ini dimulai dari saat kelahiran sampai
15 dan 30 menit setelah kelahiran
b. Periode Neonate, dimana masa ini dari pemotongan dan pengikatan tali
pusar sampai sekitar akhir minggu kedua dari kehidupan pascamatur.
Jadi asuhan keperawatan pada bayi baru lahir adalah asuhan
keperawatan yang diberikan pada bayi yang baru mengalami proses kelahiran
dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uteri kekehidupan ekstra
uteri hingga mencapai usia 37-42 minggu dan dengan berat 2.500-4.000 gram.

2. Klasifikasi Bayi
1) Bayi Aterm
a. Berat badan : 2500 – 4000 gram
b. Panjang badan : 48 – 52 cm
c. Lingkar dada : 30 – 38 cm
d. Lingkar kepala : 33 – 35 cm
e. Detak jantung pada menit pertama 180 kali/menit, kemudian pada
menit berikutnya menurun menjadi 120-140 kali/menit.
f. Pernapasan pada menit pertama 80 kali/menit, menurun menjadi 40
kali/menit.
g. Warna kulit kemerahan dan licin, karena jaringan subcutan terbatas
dan diliputi verniks caseosa.
h. Rambut lanugo telah terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna.
i. Kuku agak panjang dan lemas.
j. Pada bayi perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora, pada
bayi laki-laki testis sudah turun.
k. Refleks morro sudah baik, apabila diletakkkan sebuah benda ditelapak
tangan, bayi akan menggenggamnya.
l. Eliminasi baik, urine dan mekonium akan keluar dalam waktu 24 jam
pertama.
m. Umur kehamilan 37-42 minggu.
2) Bayi Prematur
a. Berat badam kurang dari 2.499 gram.
b. Organ-organ tubuh imatur.
c. Umur kehamilan 28-36 minggu.
3) Bayi Postmatur
a. Biasanya lebih berat dari bayi aterm.
b. Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi aterm.
c. Kuku-kuku panjang.
d. Rambut kepala agak tebal.
e. Umur kehamilan lebih dari 42 minggu.

3. Ciri-ciri Bayi Baru Lahir (Keilly P, 2002)


a. Berat Badan 2.500 – 4.000 gram
b. Panjang Badan 48 – 52 gram
c. Lingkar dada 30 38 cm
d. Lingkar kepala 33 – 35 cm
e. GDS 45 g/dl – 130 g/dl
f. Bunyi jantung dalam menit pertama - tama ± 180 x/menit lalu menurun
120 – 140 x/menit
g. Pernafasan pada menit –menit pertama ± 140 x/menit
h. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan sub kutan cukup dan
diliputi vernik caseosa
i. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna
j. Kuku agak panjang dan lemas
k. Genetalia perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora
untuk laki-laki testis sudah menurun
l. Reflek hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
m. Graps reflek baik, bila diletakan suatu benda diatas tangan bayi akan
menggenggam
n. Reflek moro sudah baik, urin dan mekoneum akan keluar dalam 24
jam pertama, mekoneum hitam kecoklatan.

4. Pemeriksaan Diagnostik
1) Pemeriksaan jumlah sel darah putih (SDP)
Jumlah sel darah putih 18.000/mm³, neutrofil meningkat sampai 23.000-
24.000/mm³ hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis).
2) Pemeriksaan hemoglobin (Hb)
Kadar hemoglobin 15-20 g/dl (kadar lebih rendah sehubungan dengan
anemia atau hemolisis berlebihan).
3) Hematokrit (Ht)
Kadar hematokrit 43%-61% (peningkatan sampai 65% atau lebih
menandakan polisitemia; penurunan kadar menunjukkan anemia atau
hemoragi prenatal/perinatal.
4) Essai inhibisi Guthrie
Tes untuk melihat adanya metabolit fenilalanin, manandakan
fenilketonuria (PUK)
5) Pemeriksaan bilirubin total
Terdapat 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl 1 sampai 2 hari
kehidupan, dan 12 mg/dl pada 3 sampai 5 hari kehidupan.
6) Pemeriksaan dektrosik
Tetes glukosa pertama selama 4-6 jam pertama setelah kelahiran rata-rata
40 sampai 50 mg/dl, meningkat 60 sampai 70 mg/dl pada gari ketiga.
5. Penatalaksanaan Medis
1. Pencegahan infeksi
a. Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan
bayi
b. Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum
dimandikan
c. Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem,
gunting, penghisap lendir DeLee dan benang tali pusat telah
didesinfeksi tingkat tinggi atau steril.
d. Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan
untuk bayi, sudah dalam keadaan bersih. Demikin pula dengan
timbangan, pita pengukur, termometer, stetoskop.
2. Melakukan penilaian
a. Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernafas tanpa kesulitan
Jika bayi tidak bernapas atau bernapas megap – megap atau lemah
maka segera lakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir.
b. Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas.
3. Pencegahan kehilangan panas
a. Evaporasi
Penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh
bayi sendiri karena setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan.
b. Konduksi
Kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi
dengan permukaan yang dingin, seperti meja, tempat tidur, timbangan
yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas
tubuh bayi bila bayi diletakkan di atas benda-benda tersebut.
c. Konveksi
Kehilangan panas tubuh terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang
lebih dingin, seperti ruangan yang dingin, adanya aliran udara dari
kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi, atau pendingin
ruangan.
d. Radiasi
Kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda
– benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari suhu tubuh
bayi, karena benda – benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi
(walaupun tidak bersentuhan secara langsung)
Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya berikut :
a. Keringkan bayi dengan seksama
Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan
rangsangan taktil untuk membantu bayi memulai pernapasannya.
b. Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat
Ganti handuk atau kain yang telah basah oleh cairan ketuban dengan
selimut atau kain yang baru (hangat, bersih, dan kering).
c. Selimuti bagian kepala bayi
Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yg relatif luas dan bayi
akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
d. Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan
mencegah kehilangan panas. Sebaiknya pemberian ASI harus dimulai
dalam waktu satu (1) jam pertama kelahiran
e. Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir
Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya,
sebelum melakukan penimbangan, terlebih dahulu selimuti bayi
dengan kain atau selimut bersih dan kering. Berat badan bayi dapat
dinilai dari selisih berat bayi pada saat berpakaian/diselimuti dikurangi
dengan berat pakaian/selimut. Bayi sebaiknya dimandikan sedikitnya
enam jam setelah lahir.

6. Komplikasi pada Bayi Baru Lahir


Beberapa kelainan yang dapat ditemukan pada bayi baru lahir, yaitu :
1) Labioskizis/Labiopalatoskizis
Labioskizis/Labiopalatoskizis yaitu kelainan kotak palatine (bagian depan
serta samping muka serta langit-langit mulut) tidak menutup dengan
sempurna.
2) Meningokel
Meningokel merupakan penyakit kongenital dari kelainan embriologis
yang disebut Neural tube defect (NTD). Meningokel disebabkan oleh banyak
faktor dan melibatkan banyak gen (multifaktoral dan poligenik). Banyak
sekali penetitian yang mengungkap bahwa sekitar tujuhpuluh persen kasus
NTD dapat dicegah dengan suplementasi asam fclai, sehingga defisiensi asam
folat dianggap sebagai salah satu faktor penting dalam teratogenesis
meningokel.
3) Ensefalokel
Ensefalokel adalah suatu kelainan tabung saraf yang ditandai dengan
adanya penonjolan meningens (selaput otak) dan otak yang berbentuk seperti
kantung melalui suatu lubang pada tulang tengkorak. Ensefalokel disebabkan
oleh kegagalan penutupan tabung saraf selama perkembangan janin.
4) Hidrosefalus
Hidrosefalus (kepala air, istilah yang berasal dari bahasa Yunani: “hydro”
yang berarti air dan “cephalus” yang berarti kepala; sehingga kondisi ini
sering dikenal dengati “kepala air”) adalah penyakit yang terjadi akibat
gangguan aliran cairan di dalam otak (cairan serebro spinal). Gangguan itu
menyebabkan cairan tersebut bertambah banyak yang selanjutnya akan
menekan jaringan otak di sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital.
5) Fimosis
Fimosis adalah penyempitan pada prepusium. Kelainan ini juga
menyebabkan bayi atau anak sulit berkemih.
6) Atresia Esofagus
Atresia esofagus adalah esofagus/kerongkongan yang tidak terbentuk
secara sempurna, kerongkongan menyempit dan buntu tidak tersambung
dengan lambung sebagaimana mestinya. Atresia esofagus merupakan suatu
kelainan bawaan pada saluran pencernaan yang diseababkan karena
penyumbatan bagian proksimal esofagus sedangkan bagian distal
berhubungan dengan trakea.
7) Obstruksi Billiaris
Obstruksi billiaris adalah tersumbatnya saluran kandung empedu karena
terbentuknya jaringan fibrosis.
7. Pathwa Bayi baru lahir

Perubahan fisiologis

Sistem Respirasi Sistem Kardiovaskular Sistem GI Termoregulasi Pemotongan tali pusat

Asam lambung ↓ Adaptasi hangat ke Port de entry bakteri


Hipoksia, tekanan Alveolus terisi O2
pada rongga dada, dingin (kehilangan
penumpukan CO2, panas)
Kolik Risiko infeksi
perubahan suhu
Resistensi
vascular paru ↓
Distress di antara Meningkatkan panas Kegagalan
Merangsang saraf
waktu makan peningkatan panas
pernapasan Resistensi
vascular paru ↓
Non shivering
Tidak ada Pernapasan Risiko Defisit Nutrisi termogenesis Hipotermia
surfaktan pertama bayi Tekanan a.
pylmonalis ↓
Pembakaran
Aktivitas otot
Alveolus tdk brown fat
Pengeluaran
Tekanan atrium
berfungsi cairan paru
kanan ↓
Menangis, menggigil
Cairan pada
Pola napas jalan napas Alirah darah paru Tekanan atrium
tidak efektif masuk jantung kiri tdk adekuat

Bersihan jalan
Tekanan atrium kiri ↑ Foramen ovale Percampuran Hipoksia Perfusi jaringan
napas tidak
tdk menutup darah jaringan tidak efektif
efektif
Penutupan foramen ovale
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas
1) Identitas Bayi
2) Identitas Ibu, meliputi :
Nama, umur, alamat, agama, status perkawinan, pendidikan,
pekerjaan.
3) Identitas Penanggung Jawab
b. Status Gravida Ibu
1) Paritas
2) Usia kehamilan
3) Presentasi bayi
4) Pemeriksaan antenatal
c. Riwayat Persalinan
1) BB dan TB Ibu
2) Tempat persalinan
3) Tanda-tanda vital Ibu
a) Tekanan darah
b) Nadi
c) Respirasi
d) Suhu
4) Proses persalinan
a) Kala I
b) Kala II
c) Kala III
d) Kala IV
e) Komplikasi
f) Kondisi ketuban
d. Keadaan Bayi saat Lahir
1) Tanggal lahir
2) Jenis kelamin bayi
3) Kelahiran
4) Keadaan plasenta
a) Berat
b) Ukuran
c) Kelainan
5) Keadaan tali pusar
a) Panjang
b) Jumlah pembuluh darah
c) Kelainan
e. Pengkajian Fisik
1) Pengukuran antopometri
a) Berat badan
b) Panjang badan
c) Lingkar kepala
d) Lingkar dada
e) Lingkar lengan atas
f) Lingkar perut
2) Penampilan kulit
3) Pemeriksaan fisik
a) Kepala
b) Mata
c) Hidung
d) Telinga
e) Mulut
f) Leher
g) Dada
h) Abdomen
i) Punggung
j) Genetalia
k) Ekstremitas
4) Status nutrisi
5) Status eliminasi
6) Status neurologi
7) Refleks
a) Refleks rooting dan sucking
b) Refleks menggenggam
c) Refleks moro
d) Refleks stepping
e) Refleks proteksi
f) Refleks batuk, bersin, menguap, berkedip
g) Refleks babinski
8) Pemeriksaan Penunjang

1. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko cedera pada janin
2. Risiko ikterik neonatus
3. Ikterik neonatus
4. Risiko infeksi
5. Risiko hipotermia
2. Rencana Keperawatan

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi (SIKI)


(SLKI)
1 Risiko Cedera pada Janin Setelah dilakukan tindakan Pemantauan Denyut Jantung Janin
Definisi : beresiko mengalamibahaya atau keperawatan selama ... x ... jam  Identifikasi status obstetrik
kerusakan fisikpada janin selama proses diharapkan dapat mengatasi risiko
 Periksa denyut jantung selama 1 menit
kehamilan dan persalinan. cedera pada janin dengan kriteria hasil
Faktor risiko : :  Monitor denyut jantung janin
 Besarnya ukuran janin Tingkat Cedera
 Monitir tanda vital ibu
 Malposisi janin  Tidak mengalami perdarahan
(5)  Jelaskan tujuan dan prosedur Pemantauan
 Induksi persalinan
 Persalinan lamakala I, II dan III  Denyut jantung janin dalam  Memberikan oksigen 4-6L/menit melalui nasal
 Disfungsi Uterus batas normal (120-160x/menit) kanul jika tali pusat masih berdenyut.
 Kecemasan yang berlebihan tentang (5)
 Posisikan ibu trendelenburg atau knee chest.
proses persalinan  Frekuensi pernafasan cukup
 Riwayat persalinan sebelumnya Pengukuran Gerakan Janin
baik (5)
 Identifikasi pengetahuan dan kemampuan ibu
 Usia ibu (<15 tahun atau > 35 tahun)
 Tali pusat janin berdenyut (5) menghitung gerakan janin
 Paritas banyak
 Efek metode/intervensi bedah selama  Monitor gerakan janin
persalinan  Hitung dan catat gerakan janin (minimal 10 kali
 Nyeri pada abdomen gerakan dalam 12 jam)
 Nyeri pada jalan lahir  Berikan oksigen 2-3 L/menit jika gerakan janin
 Penggunaan alat bantu persalinan belum mencapai 10 kali dalam 12 jam
 Kelelahan  Anjurkan posisi miring kiri saat menghitung
 Merokok gerakan janin, agar janin dapat memperoleh

 Efek agen farmakologis oksigen dengan meningkatkan sirkulasi

 Pengaruh budaya fetornaternal.

 Pola makan tidak sehat


 Faktor ekonomi
 Konsumsi alkohol
 Terpapar agen teratogen
Kondisi klinis terkait
 Ketuban pecah sebelum waktunya
 Infeksi
 Penyakit penyerta (asma, hipertensi,
penyakit menular seksual, AIDS)
 Masalah kontraksi
 Efek pengobatan ibu
2 Risiko Ikterik Neonatus Setelah dilakukan intervensi selama Perawatan Bayi
Definisi: … x … jam maka Integrasi Kulit dan Observasi
Berisiko mengalami kulit dan membran Jaringan meningkat, dengan kriteria  Monitor tanda –tanda vital bayi ( terutama suhu
mukosa neonates menguning setelah 24 jam hasil: 36,5⸰C -37,5 ⸰C)
kelahiran akibat bilirubin tak terkonjugasi  Elastisitas meningkat (5) Terapeutik
masuk ke dalam sirkulasi.  Hidrasi meningkat (5)  Mandikan bayi dengan suhu ruangan 21-24 ⸰C
 Perfusi jaringan meningkat (5)  Mandikan bayi dalam waktu 5-10 menit dan 2
Faktor Risiko:  Kerusakan jaringan menurun (5) kali dalam sehari
 Penurunan berat badan abnormal >7-  Kerusakan lapisan kulit menurun  Rawat tali pusat secata terbuka ( tali pusat tidak
8% pada bayi baru lahir yang menyusu (5) di bungkus apapun)
ASI, >15% pada bayi cukup bulan.  Bersihkan pangkal tali pusat dengan lidi kapas
 Nyeri menurun (5)
 Pola makan tidak ditetapkan dengan yang telah diberi air matang
 Perdarahan menurun (5)
baik  Kenakan popok bayi di bawah umbilikus jika tali
 Kemerahan menurun (5)
 Kesulitan transisi ke kehidupan ekstra pusat belum terlepas
 Hematoma menurun (5)
uterin  Lakukan pemijatan bayi
 Pigmentasi abnormal menurun
 Usia kurang dari 7 hari  Ganti popok bayi jika basah
(5)
 Keterlambatan pengeluaran feses  Kenakan pakaian bayi dalam balutan katun
 Jaringan parut menurun (5)
(mekonium)  Nekrosis menurun (5) Edukasi
 Prematuritas (<37 minggu)  Abrasi kornea menurun (5)  Anjurkan ibu menyusui sesuai kebutuhan bayi
 Suhu kulit membaik (5)  Ajarkan ibu cara merawat bayi di rumah
Kondisi Klinis Terkait:  Sensasi membaik (5)  Ajarkan cara pemberian makanan pendamjping
 Neonatus  Tekstur membaik (5) ASI pada bayi >6 bulan
Bayi prematur Pertumbuhan rambut membaik (5)
Perawatan Neonatus
Observasi
 Identifikasi kondisi awal bayi setelah lahir
misalnya kecukupan bulan, air ketuban jernih
atau bercampur meconium, menangis spontan,
tonus otot
 Monitor tanda vital bayi ( terutama suhu)
Terapeutik
 Lakukan inisiasi menyusui dini (IMD) segera
setelah bayi lahir
 Berikan vitamin K 1mg intramuskuler untuk
mencegah pendarahan
 Mendikan selama 5-10 menit, minimal 1 kali
sehari
 Mandikan dengan air hangat (36-37 derajat
celcius)
 Gunakan sabun yang mengandung provitamin
B5
 Oleskan baby oil untuk mempertahankan
kelembapan kulit
 Rawat tali pusat secara terbuka ( tidak
dibungkus)
 Bersihkan tali pusat dengan air steril atau air
matang
 Kenakan pakaian dari bahan katun
 Selimuti untuk mempertahankan kehangatan dan
mencegah hipotermia
 Ganti popok segera jika basah
Edukasi
 Anjurkan tidak membubuhi apapun pada tali
pusat
 Anjurkan ibu menyusui bayi setiap 2 jam
 Anjurkan menyendawakan bayi setelah di susui
 Anjurkan ibu mencuci tangan sebelum
menyentuh bayi

3 Ikterik Neonatus Setelah dilakukan tindakan Manajemen Hipovolemia


keperawatan selama …...x…... menit Observasi:
Definisi: diharapkan integritas kulit dan  monitor ikterik pada sclera dan kulit bayi
Kulit dan membrane mukosa neonates jaringan meningkat dengan kriteria  identifikasi kebutuhan cairan sesuai dengan usia
menguning setelah 24 jam kelahiran akibat hasil: gestasi dan berat badan
bilirubin tidak terkonjunggasi masuk  elastisitas (5)  monitor suhu dan tanda vital setiap 4 jam sekali
kedalam sirkulasi  hidrasi (5)  monitor efek samping fototerapi
 perfusi jaringan (5) Terapeutik
Penyebab:  suhu kulit (5)  siapkan lampu fototerapi dan inkobator
 Penurunan berat badab abnormal  sensasi (5)  lepaskan pakaian bayi kecuali popok
 Pola makan tidak ditetapkan dengan  tekstur (5)
 berikan penurup mata pada bayi
baik
 ukur jarak antara lampu dan permukaan kulit bayi
 Kesulitan transisi ke kehidupan ekstra
 ganti segera alas dan popok bayi jika BAK dan
uterin
BAB
 Usia kurang dari 7 hari
 Keterlambatan pengeluaran feses Edukasi
Gejala dan Tanda Mayor:  Anjurnkan ibu menyusui sekitar 20-30 menit
Subjektif  Anjurkan ibu menyusui sesering mungkin
- Kolaborasi
Objektif:  Kolaborasi pemeriksaan darah vena bilirubin
 Profil darah abnormal direk dan indirek
 Membrane mukosa kuning
 Kulit kuning Perawatan Bayi

 Sclera kuning Observasi:


 Monitor tanda-tanda vital bayi

Gejala dan Tanda Minor


Subjektif; Terapeutik
-  Memandikan bayi dengan suhu ruangan 21-24 0C
Objektif:  Rawat tali pusat secara terbuka
-  Lakukan pemijatan bayi
Kondisi Klinis Terkait:  Ganti popok bayi jika basah
 Neonates Edukasi
 Bayi prematur  Anjurkan ibu menyusui sesuai kebutuhan bayi
 Ajarkan ibu merawat bayi di rumah

4 Resiko Infeksi (D.0142) Setelah diberikan asuhan keperawatan Pencegahan Infeksi


Definisi : beresiko mengalami peningkatan selama …x...jam diharapkan dapat Observasi
terserang organisme patogenik mengatasi Resiko Infeksi dengan  Monitor tanda dan gejela infeksi local dan
Faktor Resiko : kriteria hasil: sitemik
 Penyakit kronis (mis. Diabetes Tingkat infeksi Terapeutik
militus)  Kebersihan tangan meningkat (5)  Batasi jumlah pengunjung
 Efek prosedur invasive  Kebersihan badan meningkat (5)  Berikan perawatan kulit pada area edema
 Malnutrisi  Nafsu makan meningkat (5)  Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan
 Peningkatan paparan organisme  Demam menurun (5) pasien dan lingkungan pasien
pathogen lingkungan  Kemerahanmenurun (5)  Pertahankan kondisi aseptik pada pasien
 Ketidakadekuatan pertahanan tubuh  Nyeri menurun (5) beresiko tinggi
primer  Bengkak menurun (5) Edukasi
 Vesikel menurun (5)  Jelaskan tanda dan gejala infeksi
 Gangguan peristaltic
 Cairan berbau busuk menurun (5)
 Kerusakan integritas kulit  Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar
 Sputum berwarna hijau menurun
 Perubahan sekresi pH  Ajarkan etika batuk
(5)
 Penurunan kerja silialis  Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka
 Ketuban pecah lama  Drainase purulenmenurun (5) oprasi
 Ketuban pecah sebelum  Pluria menurun (5)  Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
waktunya  Periode malaise menurun (5)  Anjurkan meningkatkan asupan cairan
 Merokok  Periode menggigil menurun (5)

 Status cairan tubuh  Letargi menurun (5) Kolaborasi


 Ketidakadekuatan pertahanan tubuh  Gangguan kognitif menurun (5) Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu
sekunder  Kadar sel darah putih membaik
(5)
 Penurunan hemoglobin
 Kultur darah membaik (5)
 Imununosupresi
 Kultur urine membaik (5)
 Leukopenia
 Kultur sputum membaik (5)
 Supresi respon inflamasi
 Kultur area luka membaik (5)
 Faksinasi tidak adekuat
Kultur feses membaik (5)
Kondisi klinis terkait :
 AIDS
 Luka bakar
 Penyakit paru obstruktif kronis
 Diabetes militus
 Tindakan infasif
 Kondisi penggunaan terapi steroid
 Penyalahgunaan obat
 Ketuban pecah sebelum waktunya
(KPSW)
 Kanker
 Gagal ginjal
 Imunosupresi
 Lymphedema
 Leukositopenia
Gangguan fungsi hati
5 Risiko hipotermia (D. 0140) Setelah diberikan asuhan keperawatan Manajemen hipotermia (I. 4507)
Definisi: selama …x...jam diharapkan dapat Observasi:
Berisiko mengalami kegagalan mengatasi Resiko Infeksi dengan  Monitor suhu tubuh
termoregulasi yang dapta mengakibatkan kriteria hasil:  Identifikasi penyebab hipotermia (mis. Terpapar
suhu tubuh berada di bawah rentang normal. Termoregulasi neonatus suhu lingkungan rendah, pakaian tipis,
 Menggigil menurun (5)
kerusakan hipotalamus, penurunan laju
Faktor Risiko:  Akrosianosis menurun (5)
metabolism, kekurangan lemak subkutan)
 Berat bada ekstrem  Piloereksi menurun (5)
 Monitor tanda dan gejala akibat hipotermia
 Kerusakan hipotalamus  Konsumsi oksigen menurun (5) (hipotermia ringan: takipnea, disartria, mengigi,
 Konsumsi alkohol  Kutis memorata menurun (5) hipertensi, diuresis; hipotermia sedang: aritmia,
 Kurangnya lapisan lemak subkutan  Dasar kuku sianotik menurun (5) hipotensi, apatis, koagulopati, refleks menurun;

 Suhu lingkungan rendah  Suhu tubuh meningkat (5) hipotermia berat: oliguria, refleks menghilang,

 Malnutrisi  Suhu kulit meningkat (5) edema paru, asam-basa abnormal)


Terapeutik:
 Pemakaian pakaian yang tipis  Frekuensi nadi meningkat (5)
 Sediakan lingkungan yang hangat (mis. Atur
 Penurunan laju metabolism  Kadar glukosa darah meningkat
suhu ruangan, inkubator)
 Terapi radiasi (5)
 Ganti pakaian dan/atau linen yang basah
 Tidak beraktivitas  Pengisi kapiler meningkat (5)
 Lakukan penghangatan pasif (mis. Selimut,
 Transfer panas (mis. Konduksi, konveks,  Piloereksi meningkat (5)
menutup kepala, pakaian tebal)
evaporasi, radiasi)  Ventilasi meningkat (5)
 Lakukan penghangatan aktif eksternal (mis.
 Trauma
Kompres hangat, botol hangat, selimut hangat,
 Prematuritas
perawatan metode kangguru)
 Penuaan
 Lakukan penghangatan aktif internal (mis. Infus
 Bayi baru lahir
cairan hangat, oksigen hangat, lavase peritoneal
 Berat badan lahir rendah
dengan cairan hangat)
 Kurang terpapar informasi tentang
Edukasi:
pencegahan hipotermia
 Anjurkan makan/minum air hangat
 Efek agen farmakologis
Regulasi temperatur (I. 14578)
Kondisi klinis terkait Observasi:
 Berat badan ekstrem  Monitor suhu bayi sampai stabil (36,50C-
 Dehidrasi 37,50C)
 Kurang mobilitas fisik  Monitor suhu tubuh anak setiap dua jam, jika
perlu
 Monitor tekanan darah, frekuensi pernapasan
dan nadi
 Monitor warna dan suhu kulit
 Monitor dan catat tanda dan gejala hipotermia
atau hipertermia
Terapeutik:
 Pasang alat pantau suhu kontinu, jika perlu
 Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang
adekuat
 Bedong bayi segera setelah lahir untuk
mencegah kehilangan panas
 Masukkan bayi BBLR ke dalam plastic segera
setelah lahir (mis. Bahan polyethylene,
polyurethane)
 Gunakan topi bayi untuk mencegah kehilangan
panas pada bayi baru lahir
 Tempatkan bayi baru lahir di bawah radiant
warmer
 Pertahankan kelembaban incubator 50% atau
lebih untuk mengurangi kehilangan panas
karena prosesi evaporasi
 Atur suhu incubator sesuai kebutuhan
 Hangatkan terlebih dahulu bahan-bahan yang
kntak dengan bayi (mis. Selimut, kain,
bedongan, stetoskop)
 Hindari meletakkan bayi di dekat jendela
terbuka atau di area aliran pendingin ruangan
atau kipas angina
 Gunakan matras penghangat, selimut hangat,
dan penghangat ruangan untuk menaikkan suhu
tubuh, jika perlu
 Gunakan kasur pendingin, water circulating
blanket, ice pack atau gel pad dan intravascular
cooling catheterization untuk menurunkan suhu
tubuh
 Sesuaikan suhu lingkungan dengan kebutuhan
pasien
Edukasi:
 Jelaskan cara pencegahan heat exhaustion dan
heat stroke
 Jelaskan cara pencegahan hipotermi karena
terpapar udara dingin
 Demonstrasikan teknik perawatan metode
kangguru (PMK) untuk bayi BBLR
Kolaborasi:
 Kolaborasi pemberian antipiretik, jika perlu
DAFTAR PUSTAKA

Arrdian, Amin. Referat Ilmu Kesehatan Anak Pemeriksaan Fisik Pada Bayi Baru
Lahir.Available:https://www.academia.edu/7327870/REFERAT_ILMU_
KESEHATAN_ANAK_PEMERIKSAAN_FISIK_PADA_BAYI_BARU_
LAHIR.
Saifudin, Abdul Bahri, Prof, Dr, SPOG, MPH. 2000. Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan bina Pustaka Sarwono
Wisnasari, Shila. Laporan Pendahuluan Bayi Baru Lahir.
Available:https://www.academia.edu/5744274/LP_BBL.
Mitayani. (2009). Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
Edisi 1.Jakarta Selatan : Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia :
definisi dan indikator diagnostik. Jakarta Selatan : DPP PPNI
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (I).
Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed.). Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.