Anda di halaman 1dari 18

SASARAN KESELAMATAN PASIEN

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Makalah KIG


Pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Semarang

OLEH: KELOMPOK III


MARGARETA NITA NOVIANTI(1904261)
NUR HAMIDA SISLIYADA(1904262)
NURFITRI AKBAR RISQI(1904264)
NURPADILAN (1904265)
NURTINA (1904266)
NURUL NOVITASARI(1904267)
PUJI ABRI ARIANI USMAN(1904268)

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA
HUSADA SEMARANG 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat
dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah kami dengan judul
“SASARAN KESELAMATAN PASIEN ” sesuai waktu yang telah ditentukan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah KIG. Kami
mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini.
Kami menyadari adanya kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena
itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca sebagai
perbaikan pembuatan makalah berikutnya.
Akhirnya, semoga makalah kami dengan judul “SASARAN
KESELAMATAN PASIEN” ini dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya
mahasiswa prodi kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada
Semarang.

Semarang, 24 september 2020

Kelompok III
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN
D. MANFAAT

BAB II PEMBAHASAN

A. DEFINISI
B.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keselamatan pasien (patient safety) adalah sistem dimana Rumah Sakit
membuat asuhan pasien lebih aman, yang bertujuan untuk mencegah
terjadinya harm/ cedera yang tidak seharusnya terjadi atau bebas dari harm/
cedera yang potensial akan terjadi (penyakit, cedera fisik/ sosial/ psikologis,
cacat, kematian dan lain-lain), terkait dengan pelayanan kesehatan (KKP-RS,
2010).
Selanjutnya, seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 1691/MENKES/PER/VIII/2011 Pasal 1 menyebutkan
bahwa Keselamatan Pasien Rumah Sakit adalah suatu sistem dimana rumah
sakit membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen risiko,
identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien,
pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak
lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko
dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya
diambil.
Berdasarkan data penelitian yang dilakukan IOM (Institute of Medicine) di
Amerika Serikat pada tahun 2000, diterbitkan laporan “TO ERR IS HUMAN,
Building a Safer Health System” yang memuat 2 penelitian di rumah sakit,
dimana ditemukan angka KTD (Kejadian Tidak Diharapkan / Adverse Event)
sebesar 2,9 % dan 3.7% dengan angka kematian 6.6% dan 13.6%. Dengan
angka pasien rawat inap di seluruh Amerika yang berjumlah 33.6 juta per
tahun, didapat angka kematian akibat KTD berkisar 44.000 – 98.000 pe tahun
(Sukasih & Toto, 2011).
Di Indonesia berdasarkan laporan pada tahun 2010, Provinsi Jawa Barat
menempati urutan pertama mengenai KTD sebesar 33,33%, Banten dan Jawa
Tengah 20%, DKI Jakarta 16,67%, Bali 6,67%, Jawa Timur 3,33%.
Berdasarkan penyebab kejadian lebih dari 70% diakibatkan oleh tiga hal yaitu
masalah prosedur, dokumentasi dan medikasi (KKP-RS, 2010). Kelalaian
prosedur yang menjadi salah satu penyebab terbesar KTD Internasional
maupun Nasional berkaitan erat dengan manajemen pasien safety Sasaran IV
(Kepastian Tepat Lokasi, Tepat Prosedur, Tepat Pasien Operasi) yang
menjadi penyumbang terbesar tuduhan / laporan “mal praktek” seperti pada
kasus Klinik Muhammadiyah - Kalimantan Timur dimana proses operasi
sterilisasi berujung kelumpuhan.
Mengingat masalah keselamatan pasien merupakan masalah yang perlu
ditangani segera di rumah sakit di Indonesia maka diperlukan standar
keselamatan pasien rumah sakit yang merupakan acuan bagi rumah sakit di
Indonesia untuk melaksanakan kegiatannya. Sasaran Keselamatan Pasien ini
mengacu kepada Nine Life-Saving Patient Safety Solutions dari WHO Patient
Safety yang digunakan juga oleh Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit
PERSI (KKPRS PERSI), dan dari Joint Commission International (JCI). Hal
tersebut untuk menghindari kerugian di kedua belah pihak, baik kerugian
materil (seperti: tuntutan hukum / ganti rugi bagi rumah sakit dan biaya
perawatan yang besar bagi pasien karena rawat inap yang lama) maupunn
kerugian imateril (seperti: praktisi kesehatan menjadi kurang percaya diri
karena menjadi sorotan publik dan kredibilitas RS menjadi buruk serta bagi
pasien bisa mengakibatkan kecemasan, depresi, kecacatan bahkan kematian)
sehingga pentingnya manajemen Keselamatan pasien (patient safety) dalam
mencegah terjadinya insiden atau cedera yang dapat merugikan baik secara
materil maupun immateril bagi pasien, praktisi kesehatan maupun pihak
Rumah Sakit yang berkaitan dengan kelalaian prosedur (KKP-RS, 2010).
B. Rumusan masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah
yaitu sasaran apa saja yang bisa menunjang keselamatan pasien?
C. Tujuan
Mengidentifikasi macam-macam sasaran keselamatan pasien
D. Manfaat
1. Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan informasi atau pertimbangan bagi institusi pelayanan
kesehatan untuk validasi standar dan pedoman manajemen pasien safety
sehingga bisa membangun kepercayaan diri praktisi kesehatan dan
meningkatkan kualitas pelayanan klien di rumah sakit.
2. Bagi Praktisi Kesehatan
Dengan validasi standard dan pedoman terbaru, praktisi kesehatan
utamanya Perawat semakin percaya diri dalam praktik klinis serta bekerja
sesuai SOP sehingga dapat mencegah terjadinya insiden atau cedera yang
dapat merugikan baik secara materil maupun immaterial bagi praktisi
kesehatan.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai literatur otentik serta bahan masukan dalam ilmu pengetahuan
yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya berkaitan dengan
pelaksaan manajemen pasien safety
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Keselamatan Pasien (Patient Safety)


1. Definisi Keselamatan Pasien (Patient Safety)
Patient safety adalah prinsip dasar dari perawatan kesehatan (WHO). Keselamatan
pasien menurut Sunaryo (2009) adalah ada tidak adanya kesalahan atau bebas dari
cidera karena kecelakaan. Keselamatan pasien di rumah sakit adalah suatu sistem
dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi assesment
risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien
pelaporan dan analisis insiden. Kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjut
serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan pencegahan
terjadiya cidera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu
tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (Depkes RI,
2011).
2. Tujuan Keselamatan Pasien
Tujuan keselamatan pasien di rumah sakit yaitu (Depkes RI, 2011) :
a. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit

b. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat

c. Menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) di rumah sakit

d. Terlaksananya program–program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan


kejadian tidak diharapkan (KTD)

3. Standar Keselamatan Pasien


Pentingnya akan keselamatan pasien dirumah sakit, maka dibuatlah standar
keselamatan pasien dirumah sakit. Standar keselamatan pasien dirumah sakit ini
akan menjadi acuan setiap asuhan yang akan diberikan kepada pasien. Menurut
Depkes RI, (2011) ada tujuh standar keselamatan pasien yaitu:
a. Hak pasien

b. Mendidik pasien dan keluarga

c. Keselamatan pasien daam kesinambungan pelayanan

d. Penggunaan metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan


program peningkatan keselamatan pasien

e. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien

f. Mendidik staf tentang keselamatan pasien

g. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.

B. Identifikasi Pasien

1. Definisi Identifikasi Pasien


Identifikasi merupakan penerapan atau penentu atau ciri – ciri atau keterangan
lengkap seseorang (Hamzah, 2008). Identifikasi pasien adalah suatu upaya atau
usaha yang dilakukan dalam sebuah pelayanan kesehatan sebagai suatu proses
yang bersifat konsisten, prosedur yang memiliki kebijakan atau telah disepakati,
diaplikasikan sepenuhnya, diikuti dan dipantau untuk mendapatkan data yang
akan digunakan dalam meningkatkan proses identifikasi (Joint Commission
International, 2007).

2. Maksud dan Tujuan identifikasi Pasien

Rumah sakit terus mengembangkan pendekatan untuk memperbaiki atau


meningkatkan ketelitian dalam melakukan identifikasi pasien. Sasaran
keselamatan pasien (SKP) bertujuan untuk mendorong peningkatan spesifik dalam
keselamatan pasien, menjadi salah satu area bermasalah dalam pemberian
pelayanan kesehatan dan menguraikan solusi atas permasalahan ini. Adapun usaha
yang dilakukan yaitu dengan menerapkan 6 sasaran keselamatan
pasien.Identifikasi pasien menjadi salah satu bagian dari enam sasaran
keselamatan pasien yang sangat penting dalam keberhasilan serta dalam
mencegah masalah-masalah yang timbul akibat kesalahan tindakan, pemberian
obat, dan pelayanan yang diberikan.

3. Elemen identifikasi pasien

Dalam mengidentifikasi pasien terdapat beberapa elemen penilaian antara lain:

a. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh menggunakan


nomer kamar atau lokasi pasien

b. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk darah

c. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain untuk


pemeriksaan klinis

d. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan atau prosedur

e. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi yang konsisten


pada semua situasi dan lokasi.

4. Strategi dalam identifikasi pasien

Kegagalan yang sering terjadi pada saat melakukan identifikasi pasien akan
mengarah kepada tindakan dalam pemberian obat, pelaksanaan prosedur,
pemeriksaan klinis pada orang yang salah. Dalam rangka meminimalkan risiko
tersebut WHO Collaborating Center for Patient Safety Solusions menerbitkan
Sembilan solusi Keselamatan Pasien Rumah Sakit (World Health Organization,
2007), dimana pada solusi ke dua adalah identifikasi pasien. Strategi yang
ditawarkan dalam identifikasi pasien yaitu:

a. Pastikan bahwa organisasi kesehatan memiliki system identifikasi pasien


1) Menekankan bahwa tanggung jawab perawat sebelum melakukan perawatan,
pengobatan, pengambilan specimen atau pemeriksaan klinis harus memastikan
identitas pasien secara benar.

2) Mendorong penggunaan setidaknya dua identitas (nama dan tanggal lahir)

3) Standarisasi pendekatan untuk identifikasi pasien antara fasilitas yang berbeda


dalam sistem perawatan kesehatan

4) Menyediakan protokol yang jelas untuk mengidentifikasi pasien dan untuk


membedakan identitas pasien dengan nama yang sama

5) Mendorong pasien untuk berpartisipasi dalam semua tahapan proses perawatan di


rumah sakit

6) Mendorong pemberian label pada wadah yang digunakan untuk pengambilan


darah dan specimen lainnya

7) Menyediakan protokol yang jelas untuk menjaga identitas sampel pasien pada pra-
analitis, analitis dan proses pasca analitis.

8) Menyediakan protokol yang jelas untuk mempertanyakan hasil laboratorium atau


temuan tes lain ketika mereka tidak konsisten dengan riwayat klinis pasien

9) Menyediakan pemeriksaan berulang dan review dalam rangka untuk mencegah


multiplikasi otomatis dari kesalahan entry pada computer.

b. Memasukkan ke dalam program pelatihan atau orientasi tenaga kesehatan


tentang prosedur pemeriksaan/ verifikasi identitas pasien
5. Akibat Kesalahan Identifikasi Pasien

Kesalahan identifikasi pasien adalah adanya ketidakcocokan antara pasien yang


terkait dengan identifikasi pasien yang akan mendapatkan pelayanan atau perawatan.
Kesalahan identifikasi memiliki potensi untu menimbulkan kejadian adverse events
atau kejadian tidak diharapkan (KTD), near miss atau kejadian nyaris cidera (KNC),
kejdian potensi cidera(KPC), dan kejadian tidak cidera (KTC). (Australian on Safety
and Quality in Health Care, 2008).

C. Pengetahuan

1. Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil dari mengetahui dan hal ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif
adalah domain yang sangat penting untuk membentuk tindakan seseorang
(Notoatmodjo, 2010). Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk
membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Pengetahuan sangat erat
hubungannya dengan pendidikan, dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan
yang tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pengetahuannya. Akan tetapi
perlu ditekankan bahwa bukan berarti seseorang yang pendidikan rendah
pengetahuannya mutlak rendah. Hal ini mengingat bahwa peningkatan
pengetahuan tidak mutlak diperoleh oleh pendidikan formal (Wawan & Dewi,
2011).

2. Tingkatan Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo, (2010), pengetahuan atau kognitif merupakan domain


yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior).
Pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan
lebih langgeng dari pada perilaku yang tidakdidasari oleh pengetahuan.
Notoadmojo (2010) membagi Pengetahuan berdasarkan kognitif mempunyai
enam tingkatan, yaitu

a) Tahu

Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall)
terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang
telah diterima. Oleh sebab itu tahu inimerupakan tingkat pengetahuan yang paling
rendah.

b) Memahami

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar


tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut dengan
benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
Misalnya dapat menjelaskan mengapa harus makan makanan bergizi.

c) Aplikasi

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah


dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai
aplikasi atau penggunaan hokum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya
dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan rumus statistic
dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip
siklus pemecahan masalah di dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang
diberikan.

d) Analisis

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke
dalam komponen- komponen tetapi masih didalam satu struktur dan masih ada
kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapatdilihatdari penggunaan
katakerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan,
memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya. Analisis adalah suatu kemampuan
untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen- komponen tetapi
masih didalam satu struktur dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan
analisis ini dapatdilihatdari penggunaan katakerja, seperti dapat menggambarkan
(membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
e) Sintesis

Sintesis menunjuk kepada suetu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan


bagian- bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sistesis
adalah menyusun formulasi baru dari formulasi – formulasi yang pernah ada.
Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat
menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah
ada.

f) Evaluasi

Evaluasi merupakan kemampuan untuk melakukan penilaian dari materi-materi yang


telah diperoleh. Penilaian itu berdasarkan kriteria yang ditentukan sendiri, atau
menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya dapat membandingkan antara
anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi.

3. Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Adapun factor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu :

a. Tingkat Pendidikan

Pendidikan mempengaruhi pemahaman dan pengetahuan karena pendidikann adalah


salah satu upaya untuk mencari pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilaku
positif.

b. Informasi

Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan memperoleh
pengetahuan yang lebih luas.

c. Budaya

Tingkah laku individu atau kelompok manusia dalam memenihi kebutuhan yang
meliputi sikap dan kepercayaan

d. Pengalaman

Sesuatu yang pernah dialami oleh seorang individu bisa menambah pengetahuan
4. Cara Mengukur Pengetahuan

Pengetahuan dapat diukur dengan cara melakukan wawancara atau memberikan


angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek
penelitian atau responden. Pada pengisian angket pengetahuan yang dinilai
hanyalah pengetahuan pada tingkat dua yaitu memahami (Notoatmodjo, 2010).
Selain itu pengukuran pengetahuan dapat diketahui dengan cara yang
bersangkutan mengungkapkan apa yang diketahuinya dalam bentuk jawaban lisan
maupun tulisan. Menurut Arikunto (2010) pertanyaan tes yang biasa digunakan
dalam pengukuran pengetahuan ada dua bentuk yaitu:

a. Bentuk objektif

Bentuk objektif ini adalah tes yang menjawabnya dapat diberi skor nilai secara
lugas menurut pedoman yang ditentukan sebelumnya. Ada lima macam tes yang
termasuk dalam evaluasi ragam objektif yaitu

1) Tes benar salah

2) Tes pilihan ganda

3) Tes pelengkap melengkapi

b. Bentuk Subjektif

Tes subjektif adalah alat pengukur pengetahuan yang menjawabnya tidak ternilai
dengan skor atau angka pasti seperti tes objektif. Hal ini disebabkan banyaknya
ragam gaya jawaban yang diberikan oleh para responden. Pengetahuan atau penilaian
pengetahuan dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu: tinggi apabila pertanyaaan
dijawab dengan benar oleh responden ≥75%,cukup apabila pertanyaan dijawab
dengan benar oleh responden 56%-74% dan rendah apabila pertanyaan dijawab
dengan benar oleh responden <56%

D. Kepatuhan
1. Definisi Kepatuhan

Kepatuhan berasal dari kata patuh. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa
Indonesia), patuh berarti suka menurut perintah, taat kepada pemerintah atau
aturan dan berdisiplin. Kepatuhan yang dimaksud disini adalah ketaatan dalam
pelaksanaan identifikasi pasien. Kepatuhan perawat dalam memberikan asuhan
sesuai prosedur juga berpengaruh dalam keselamatan pasien.

Kepatuhan didefinisikan sebagai perubahan sikap dan tingkah laku seseorang untuk
mengikuti permintaan atau perintah orang lain (Feldman, 2003 dalam Kusumadewi,
2012) Kepatuhan perawat adalah perilaku perawat sebagai seorang yang profesional
terhadap suatu anjuran, prosedur atau aturan yang harus dilakukan atau ditaati (Ulum,
2013).

2. Factor_faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Milgram (2007), terdapat beberapa faktor
yang mempengaruhi kepatuhan, antara lain:

a. Status lokasi, dimana semakin penting tempat diberikan instruksi maka


semakin tinggi pula tingkat kepatuhan.
b. Tanggung jawab personal, dimana semakin besarnya tanggung jawab personal
maka tingkat kepatuhan akan semakin tinggi
c. Legitimasi dari figure otoritas. Legimasi dari hal ini dapat diartikan sebagai
seberapa jauh masyarakat mau menerima dan mengakui kewenangan,
keputusan, atau kebijakan yang diambil oleh seorang pemimpin. Menurut
Milgram, sekelompok orang cenderung untuk memenuhi perintah dariorang
lain jika mereka mengenal otoritas mereka dengan baik secara moral maupun
hukum yang berlaku dalam berbagai situasi.
d. Status dari figur otoritas. Pada saat melakukan penelitian, mengenakan mantel
laboratorium yang dapat memberikan status tinggi dan berakibat pada
peningkatan kepatuhan dari subyek yang diteliti, namun ketika dia
menggunakan pakaian sehari – hari kepatuhan menjadi berkurang. Sehingga dia
menyimpulkan bahwa statusa dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan.
e. Dukungan rekan, dimana jika seseorang memiliki dukungan sosial dari teman
mereka untuk tidak patuh, maka ketaatan mungkin bisa berkurang.selain itu
kehadiran orang lain yang terlihat tidak mematuhi figure otoritas dapat
mengurangi tingkat ketaatan.
f. Kedekatan dengan figure otoritas, dimana semakin dekat jarak instruksi dari sosok
otoritas maka tingkat kepatuhan semakin tinggi.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Keselamatan pasien adalah proses dalam suatu rumah sakit yang memberikan
pelayanan pasien secara aman. Proses tersebut meliputi pengkajian mengenai
resiko, identifikasi, manajemen resiko terhadap pasien, pelaporan dan analisis
insiden, kemampuan untuk belajar dan menindaklanjuti insiden, dan menerapkan
solusi untuk mengurangi serta meminimalisir timbulnya risiko. Pelayanan
kesehatan yang diberikan tenaga medis kepada pasien mengacu kepada tujuh
standar pelayanan pasien rumah sakit yang meliputi hak pasien, mendididik pasien
dan keluarga, keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan, penggunaan
metode- metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program
peningkatan keselamatan pasien, peran kepemimpinan dalam meningkatkan
keselamatan pasien, mendidik staf tentang keselamatan pasien, dan komunikasi
merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien. Selain mengacu
pada tujuh standar pelayanan tersebut, keselamatan pasien juga dilindungi oleh
undang-undang kesehatan sebagaimana yang diatur dalam UU Kesehatan No. 36
tahun 2009 serta UU Rumah Sakit No. 44 tahun 2009.
B. SARAN
Sebagai tenaga kesehatan kita wajib melakukan tindakan dengan baik dan benar
sesuai standar pelayanan kesehatan pada pasien, sehingga akan terjamin
keselamatan pasien dari segala aspek tindakan yang kita berikan.

DAFTAR PUSTAKA
KOMITE KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT 2010. Panduan Nasional
Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety). In: INDONESIA, D. K. R.
(ed.).
Sukasih & Suharyanto, Toto. 2011. Analisa Faktor-faktor yang Berkontribusi
Terhadap Patient Safety di Kamar Operasi Rumah Sakit Premier Bintaro. Jakarta