Anda di halaman 1dari 109

PERENCANAAN OBAT RUMAH SAKIT

DAN PUSKESMAS

Penulis
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas izin-Nya jugalah kami dapat
menyelesaikan buku yang berjudul ”Perencanaan Obat Rumah Sakit Dan Puskesmas”. Buku
ini memuat delapan bab, dengan cakupan materi meliputi; konsep dasar rumah sakit, konsep
dasar puskesmas, konsep dasar obat, konsep perencanaan, lembaga pengelola obat dan
perbekalan kesehatan publik kab/kota dan provinsi, langkah perencanaan obat, metode
perencanaan kebutuhan obat, dan penerapan perhitungan kebutuhan obat.
Dasar penyusunan buku ini dilatari oleh minimnya referensi bacaan dalam lingkungan
akademik kesehatan, praktisi maupun masyarakat umum. Penulis telah menyusun materi bacaan
ini dari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki selama menjadi dosen, maupun dari berbagai
sumber buku yang ada saat ini. Tujuan penulisan buku ini adalah demi menjawab tantangan
peningkatan pendidikan bagi mahasiswa, dosen, guru, praktisi, dan masyarakat akan kemampuan
dalam pemahaman perencanaan obat rumah sakit dan puskesmas. Kami sadari bahwa dalam
penyusunan bahan bacaan ini masih jauh dari kesempurnaan, olehnya itu kami selaku penyusun
bersedia menerima masukan dan kritikan demi kesempurnaan buku ini.
Harapan penyusun, kiranya dengan hadirnya buku ini dapat mempermudah memahami
konsep dan teori perencanaan obat rumah sakit dan puskesmas, kaitanya dengan pemecahan
masalah-masalah perencanaan obat kesehatan yang dihadapi saat ini dan masa datang, serta
membantu pengayaan wawasan pengetahuan bagi pengguna. Disisi lain dapat mengatasi
kesulitan-kesulitan selama ini dalam mendapatkan sumber bacaan dan materi pembelajaran.
Ucapan terima kasih penyusun haturkan kepada semua pihak yang telah membantu dan
memberi masukan dalam penyusunan buku ini, dan partisipasi pihak-pihak yang ingin memberi
masukan sangat kami harapkan dalam penyempurnaan buku ini.
Semoga Allah SWT, memberi Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua, dan ilmu
yang telah diperoleh dapat bermanfaat bagi umat manusia serta berpahala disisi-Nya
Kendari, 5 April 2018

Penulis
DAFTAR ISI

BAB 1 KONSEP DASAR RUMAH SAKIT................................................................................


A. Pengertian rumah sakit .........................................
B. Tugas dan fungsi rumah sakit .................................
C. Klasifikasi rumah sakit .........................................

BAB 2 KONSEP DASAR PUSKESMAS ..........................


A. Pengertian Puskesmas .................
B. Tujuan Puskesmas
C. Kedudukan Puskesmas
D. Fungsi Puskesmas
E. Program Pokok Puskesmas
D. Struktur Organisasi Puskesmas

BAB 3 KONSEP DASAR OBAT


A. Pengertian Obat
B. Tujuan Penciptaan Obat
C. Jenis-Jenis Obat
D. Bahaya Obat Bagi Kesehatan
E. Dasar Kebijakan Umum Obat

BAB 4 KONSEP PERENCANAAN


A. Pengertian Perencanaan
B. Dasar Perencanaan
C. Tujuan Perencanaan
D. Manfaat Perencanaan
E. Aspek Perencanaan
F. Ciri Perencanaan
G. Macam Perencanaan
H. Fungsi Perencanaan
I. Asas-Asas Perencanaan
J. Unsur Perencanaan
K. Langkah Perencanaan

BAB 5 LEMBAGA PENGELOLA OBAT DAN PERBEKALAN KESEHATAN PUBLIK


KAB/KOTA DAN PROVINSI
A. Bentuk Organisasi
B. Tugas Pokok dan Fungsi Unit Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
C. Tenaga Pelaksana Sebagai Perangkat Organisasi
D. Pengembangan Tenaga Unit Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
E. Anggaran

BAB 6 LANGKAH PERENCANAAN OBAT


A. Persiapan Perencanaan Obat
B. Langkah perencanaan obat
C. Pelaksana perencanaan obat kesehatan
D. Proses perencanaan obat .

BAB 7 METODE PERENCANAAN KEBUTUHAN OBAT


A. Metode konsumsi dan morbiditas
B. Analisa VEN
C. Metode kombinasi ABC–VEN

BAB 8 PENERAPAN PERHITUNGAN KEBUTUHAN OBAT


A. Pehitungan Metode ABC
B. Perhitungan Metode Konsumsi
C. Perhitungan metode Morbiditas

Daftar Pustaka..............................................................................................
Glosarium ....................................................................................................
Profil Penulis ...............................................................................................
BAB 1
KONSEP DASAR RUMAH SAKIT

A. Pengertian Rumah sakit


Defenisi rumah sakit adalah sebuah lembaga pelayanan kesehatan yang diberi tugas
memberikan pelayanan kesehatan kepada perorangan maupun kepada masyarakat yang bersifat
pelayanan kesehatan masyarakat atau pelayanan medis, yang status penyelenggaraanya di
keluarkan oleh kementrian kesehatan. Rumah sakit sebagai pelayanan tingkat lanjutan yang
diharapkan mampu memberi pelayanan spesialis dan sub super spesialis.
Dalam UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, rumah sakit adalah institusi
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna
yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat (Presiden RI, 2009)
Rumah Sakit sebagai public service dalam pelayanan kesehatan lebih mengutamakan
aspek kecepatan, ketepatan, kesederhanaan pelayanan, kemudahan, keterjangkauan dan kepuasan
yang tinggi bagi masyarakat. UU No 44 tahun 2009 menyatakan bahwa rumah sakit
diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan, etika dan
profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti diskriminasi, pemerataan,
perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi sosial. Pengaturan
penyelenggaraan Rumah Sakit bertujuan (Presiden RI, 2009):
a. Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan;
b. Memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan rumah sakit
dan sumber daya manusia di rumah sakit;
c. Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit;
d. Memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya manusia rumah
sakit, dan Rumah Sakit.

B. Tugas dan Fungsi Rumah Sakit


Rumah sakit diselenggarakan dengan tugas untuk menyediakan dan memberikan
pelayanan kesehatan kepada perorangan ataupun secara umum kepada masyarakat luas dengan
tugas utama pelayanan promotif dan preventif yang dikenal dengan pelayanan kesehatan
masyarakat dan pelayanan kuratif dan rehabilitatif yang diistilahkan dengan pelayanan medis.
Dalam UU No 44 tahun 2009 disebutkan bahwa rumah sakit mempunyai tugas
memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna (pelayanan kesehatan yang
meliputi Promotif, Preventif, Kuratif, dan Rehabilitatif). Dalam UU No 44 tahun 2009 juga telah
disebutkan bahwa untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, maka rumah sakit mempunyai fungsi
(Presiden RI, 2009) ;
1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar
pelayanan rumah sakit;
2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang
paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis;
3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan
kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan;
4. penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan
dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu
pengetahuan bidang kesehatan.

C. Klasifikasi Rumah Sakit


Mengapa pelayanan rumah sakit harus di klasifikasikan ? Perlunya klasifikasi rumah sakit :
1. Berkaitan dengan pemberian tugas dan besarnya tanggungjawab yang dibebankan kepada
rumah sakit
2. Berkaitan dengan kesanggupan dan kemampuan Rumah sakit dalam menyediakan dan
memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu
3. Berkaitan dengan sistem pengelolaan majanemen yang berkelanjutan
4. Berkaitan dengan tingkat beban kerja dan tingkat kelas pelayanan
5. Berkaitan dengan kesanggupan rumah sakit dalam pemenuhan kebutuhan dan pelayanan
yang bersifat komprehensif
6. Berkaitan dengan pemenuhan permintaan pelayanan kesehatan utamanya masyarakat mampu
yang menginginkan pelayanan yang cepat, nyaman dan memuaskan bagi pengguna
Rumah sakit dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai kriteria sebagai berikut;
1. Berdasarkan kepemilikan
Menurut Imron T (2009) Rumah sakit berdasarkan atas kepemilikan/pengelolaannya
digolongkan atas;
1) Rumah Sakit vertical (Depkes)
2) Rumah Sakit Propinsi (Pemda TK I)
3) Rumah Sakit Kab/Kota (Pemda TK II)
4) Rumah Sakit ABRI
5) Rumah Sakit Departemen Lain (BUMN)
6) Rumah Sakit Swasta
Berdasarkan kepemilikannya, UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit,
membedakan rumah sakit di Indonesia ke dalam dua jenis (Presiden RI, 2009) ;
1) Rumah sakit publik, yaitu rumah sakit yang dikelola oleh pemerintah (termasuk pemerintah
daerah) dan badan hukum lain yang bersifat nirlaba, meliputi;
a) Rumah sakit milik Departemen Kesehatan
b) Rumah sakit milik Pemerintah Daerah Provinsi
c) Rumah sakit milik Pemerintah Daerah Kabupaten atau kota
d) Rumah sakit milik Tentara Nasional Indonesia (TNI)
e) Rumah sakit milik Kepolisian Republik Indonesia (Polri)
f) Rumah sakit milik Departemen di luar Departemen Kesehatan (termasuk milik Badan
Usaha Milik Negara seperti Pertamina).
2) Rumah sakit privat, yaitu rumah sakit yang didirikan dan dikelola oleh badan hukum
dengan tujuan untuk mencari keutungan (profit) yang berbentuk perseroan terbatas,
meliputi:
a) Rumah sakit milik yayasan, dimiliki oleh kalangan perorangan atau kelompok
b) Rumah sakit milik perusahaan, dimiliki oleh kalangan perorangan atau kelompok
c) Rumah sakit milik penanam modal (dalam negeri dan luar negeri), kalangan
perorangan atau kelompok
d) Rumah sakit milik badan hukum lain, kalangan perorangan atau kelompok
2. Berdasarkan Jenis Pelayanan
Menurut Imron T (2009) penggolongan Rumah sakit berdasarkan atas jenisnya dibagi
atas;
a. Rumah Sakit Umum
b. Rumah Sakit Jiwa
c. Rumah Sakit Kusta
d. Rumah Sakit Paruh
e. Rumah Sakit Mata
f. Rumah Sakit Orthopedi dan protese
g. Rumah Sakit Bersalin
h. Rumah Sakit Spesialis Lainnya
3. Menurut UU No 44 tahun 2009, rumah sakit berdasarkan kelas di klasifikasikan menjadi :
a. Rumah sakit kelas A, adalah rumah sakit yang melaksanakan pelayanan kesehatan yang
spesialistik dan sub-spesialistik yang luas.
b. Rumah sakit kelas B, adalah rumah sakit yang melaksanakan pelayanan kesehatan
spesialistik yang luas dan sub spesialis terbatas.
c. Rumah sakit kelas C, adalah rumah sakit yang melaksanakan pelayanan kesehatan
spesialistik terbatas, paling sedikit empat spesialis dasar yaitu: penyakit dalam, penyakit
bedah, penyakit kebidanan atau kandungan, dan kesehatan anak.
d. Rumah sakit kelas D, adalah rumah sakit yang bersifat transisi karena pada suatu saat
akan ditingkatkan menjadi rumah sakit kelas C, pada saat ini kemampuan rumah sakit
kelas D hanya memberikan pelayanan kedokteran umum dan kedokteran gigi.

Klasifikasi rumah sakit dapat dikelompokan dalam beberapa kategori;


a. Rumah sakit dapat dilihat dari status kepemilikan dapat dikelompokan atas;
1. Rumah sakit milik pemerintah pusat, misalnya RS paru makassar, dibawah
kementrian kesehatan. RS Bayangkari kendari, dibawah kepemilikan kepolisian
negara, dll.
2. Rumah sakit milik pemerintah daerah provinsi, misalnya RS BLUD Bahteramas
Prov. Sultra, RS Labuang Baji Makassar milik Pemerintah Prov. Sulsel dll.
3. Rumah sakit milik swasta, misalnya RS Awal Bros Makassar, dll
4. Rumah sakit misi keagamaan, misalnya RS Santaana Kendari, dll
5. Rumah sakit Investor asing di Indonesia.
b. Rumah sakit dapat dilihat dari status type kelas
1. Rumah sakit tipe A, umumnya rumah sakit ini menyediakan pelayanan kesehatan yang
spesialistik dan subspesialistik Advance.
2. Rumah sakit type B, umumnya rumah sakit ini menyediakan pelayanan kesehatan
spesialistik yang luas dan sub spesialis terbatas.
3. Rumah sakit Type C, umumnya rumah sakit ini menyediakan pelayanan kesehatan
spesialistik terbatas yaitu penyakit dalam, penyakit bedah, penyakit kebidanan atau
kandungan, dan kesehatan anak.
4. Rumah sakit type D, umumnya rumah sakit ini menyediakan pelayanan kedokteran
umum dan kedokteran gigi.
Menurut Imron T (2009) Rumah sakit berdasarkan Fungsinya dibagi atas;
1. Rumah Sakit Non Pendidikan
2. Rumah Sakit Pendidikan

Menurut Imron T (2009) Type Rumah Sakit dibedakan atas ;


1. Kelas A
Pemilik Depkes/Dep lain/Pemda Tk I, jumlah TT > 200 TT, terletak di ibukota Propinsi,
melakukan pelayanan umum, Gawat Darurat, Spesialis Dasar, Spesialis Penunjang, Medik
Spesialistik lain, Penunjang Klinik dan Non Klinik, pelayanan Administrasi dan dapat
ditambah dengan pelayanan Spesialistik Gigi Mulut dan Sub- spesialistik luas, melakukan
pelayanan kesehatan dengan teknologi canggih, pusat rujkan RS type B, C, dan D (terutama
terdekat)
2. Kelas B
Pemilik bisa Depkes, bisa Pemda Tk I, terletak di ibukota Prop (kecuali beberapa RS Prop
terletak di Kab), jumlah TT > 150 TT, melakukan pelayanan umum, Gawat Darurat,
Spesialis Dasar, Spesialis Penunjang, 7 jenis pelayanan medik spesialis lain, Penunjang
Klinik dan Non Klinik, pelayanan Administrasi, Spesialistik Gigi Mulut dan sub
spesialistik terbatas. Pusat rujukan Rumah Sakit Type C dan D.
3. Kelas C
Pemilik Pemda Tk II Kab/Kota, Pusat rujukan Puskesmas, melayani kesehatan dasar (Plus),
melakukan pelayanan Umum, Gawat darurat, spesialistik dasar, 4 jenis spesialistik
penunjang, penunjang klinik dan non klinik, pelayanan Administrasi.
4. Kelas D
Pemilik Pemda Tk II Kab/Kota, Pusat rujukan Puskesmas, melayani kesehatan dasar,
melakukan pelayanan Umum, Gawat darurat, 2 jenis pelayanan spesialistik dasar atau lebih,
penunjang klinik (kecuali perawatan intensif), penunjang non klinik dan Administrasi.
BAB 2
KONSEP DASAR PUSKESMAS

A. Pengertian Puskesmas
Secara konseptual, puskesmas dirancang untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat, utamanya masyarakat yang jauh dari tempat pelayanan kesehatan. Secara geografis
negara Indonesia yang sangat luas, belum seluruhnya pembangunan dilakukan secara merata, oleh
karena itu maka untuk memudahkan pelayanan kesehatan, dibangunlah puskesmas dengan
harapan masyarakat yang sulit dijangkau dan jauh dari pusat pemerintahan di daerah perkotaan
dapat menikmati pelayanan kesehatan tanpa harus ke kota.
Berbicara tentang pengertian puskesmas, pada dasarnya banyak literature yang telah
membahas hal ini. Dalam pengertian sederhana Puskesmas diartikan sebagai unit atau pusat
pelayanan kesehatan masyarakat yang penempatannya di daerah kecamatan dengan tujuan untuk
memudahkan dan terjangkaunya pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Sampai saat ini Status
puskesmas masih menjadi milik pemerintah yang pengelolaanya di bawah dinas kesehatan dan
bertanggungjawab pada Bupati/walikota melalui dinas kesehatan. Penyediaan puskesmas
ditujukan untuk menjangkau daerah-daerah yang jauh dari wilayah perkotaan sebagai pengganti
rumah sakit, utamanya daerah terpencil yang minim sumber daya pelayanan kesehatan (Suhadi
and Rais M.K 2018)
Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi fungsional yang langsung memberikan
pelayanan secara menyeluruh kepada masyarakat dalam suatu wilayah kerja tertentu dalam
membentuk usaha-usaha kesehatan pokok (Azwar. A, 1980). Definisi Puskesmas menurut
Kepmenkes RI No.128/Menkes/SK/II//2004 adalah UPTD Kesehatan/kota yang bertanggung
jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja itu sendiri (Depkes, RI,
2004)
Pengertian puskesmas menurut permenkes nomor 75 tahun 2014 Pusat Kesehatan
Masyarakat adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan
masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan
upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya di wilayah kerjanya (Menkes RI, 2014)
B. Tujuan Puskesmas
Pendirian puskesmas pada dasarnya memiliki suatu tujuan khusus dibidang kesehatan
masyarakat. Secara konseptual tujuan pendirian puskesmas yang disediakan oleh pemerintah
adalah menyediakan dan memelihara pelayanan kesehatan masyarakat dalam menyukseskan cita-
cita pembangunan kesehatan nasional di masa datang dengan harapan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan, kemampuan untuk hidup yang sehat bagi setiap penduduk yang bertempat
tinggal di wilayah kerja puskesmas sehingga terwujud derajat kesehatan yang bermutu, merata
dan berkesinambungan dimasa dating (Suhadi and Rais M.K 2018)
Bila merinci penjelasan diatas maka tujuan pendirian puskesmas dapat dijabarkan sebagai
berikut (Suhadi and Rais M.K 2018) :
1. Penyediaan Pelayanan Kesehatan
2. Pemeliharaan kesehatan
3. Mendukung pembangunan kesehatan
4. Menyukseskan pembangunan bidang kesehatan
5. Meningkatkan kesadaran, kemauan, kemampuan untuk hidup yang sehat bagi setiap penduduk
yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas
6. Mendukung terwujudnya derajat kesehatan yang bermutu, merata dan berkesinambungan
dimasa datang.

C. Kedudukan Puskesmas
Seperti halnya unit pelayanan kesehatan lain, puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan
memiliki kedudukan di dalam struktur pelayanan kesehatan secara nasional. Bila ditinjau dari
posisi letak pelayanan, puskesmas merupakan ,,gate kipper,, sebagai pintu utama pada pelayanan
kesehatan pada level bawah. Keberadaan puskesmas dalam system kesehatan nasional dipandang
sebagai sarana pelayanan kesehatan individual dan kemasyarakatan. Dalam jenjang sistem
kesehatan kabupaten/kota, puskesmas masuk dalam unit pelaksana teknis dinas kesehatan yang
bertanggung jawab menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan kabupaten/kota.
Bila ditinjau dari sistem Pemerintahan Daerah, puskesmas dipandang sebagai unit pelaksana
teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang merupakan unit struktural Pemerintahan Daerah
Kabupaten/kota, disisi lain sebagai sarana pelayanan kesehatan strata pertama (Suhadi and Rais
M.K 2018).

D. Fungsi Puskesmas
Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan masyarakat memiliki fungsi (Suhadi and Rais M.K
2018):
1. Fasilitator Masyarakat
Saat berdirinya Puskesmas telah dibekali dengan berbagai sumber daya pelayanan baik
keuangan, logistik, sarana prasarana, fasilitas dan sumber daya manusia. Kehadiran
puskesmas menjadi bagian dari peran pemerintah dalam mempertemukan apa yang menjadi
kebutuhan msayarakat dengan tanggungjawab pemerintah dalam pelayanan kesehatan. Oleh
karena itu puskesmas yang modern adalah puskesmas yang mampu memenuhi apa yang
menjadi kebutuhan masyarakat di wilayah kerjanya.
2. Health Service Profider
Pendirian puskesmas ditiap kecamatan yang pada dasarnya adalah memberikan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat sesuai dengan wewenang dan tugas pokok puskesmas yang
telah digariskan dalam organisasi dan tata kerja puskesmas sebagai perangkat pelayanan
public. Pelayanan yang diberikan berpedoman pada standar pelayanan minimal puskesmas
yang telah ditetapkan oleh pemerintah kab/kota.
3. Motivator Masyarakat
Masyarakat dan puskesmas, dua dimensi yang berbeda. Masyarakat sebagai penerima
pelayanan dan puskesmas sebagai pemberi pelayanan. Untuk mencapai tujuan pelayanan
puskesmas secara berkesinambungan maka puskesmas terus memberikan motivasi kepada
masyarakat agar ikut berpartisipasi baik dalam menerima pelayanan, menggerakan pelayanan
termasuk keterlibatan masyarakat dalam menyusun program kerja berbasis community basic.
4. Komunikator
Keberadaan puskesmas dalam masyarakat menjalankan fungsi komunikator dalam
merumuskan masalah kesehatan bersama masyarakat, menyusun program kerja,
mengkomunikasikan peran masyarakat dalam pencapaian tujuan program dan pengendalian
program kesehatan masyarakat
5. Edukator Masyarakat
Keberadaan puskesmas diharapkan mampu menjadi ujung tombak dalam penyebarluasan
informasi dan edukasi kepada masyarakat tentang permasalahan dan upaya pelaksanaan
program kesehatan secara berkelanjutan.
6. Sentral pemberdayaan masyarakat.
Selain diberi tugas pelayanan kesehatan, puskesmas juga di beri fungi dalam
merumuskan, mendorong dan menggerakan upaya pemberdayaan masyarakat melalui
program-promgram kesehatan masyarakat, misalnya melalui kegiatan posyandu, desa sehat,
keawaspadaan lingkungan sehat, pengendalian banjir, kegiatan minggu bersih, perlombaan
lingkungan sehat dan lain sebagainya
7. Central pelayanan kesehatan tingkat pertama
Fungsi pelayanan kesehatan tingkat pertama puskesmas diberi 2 tugas tugas pokok
dalam pelayanan kesehatan yaitu;
o Pelayanan medis
Pelayanan medis diistilahkan dengan pelayanan kedokteran yang dilakukan oleh tenaga
medis dengan tujuan untuk penyembuhan dan pemulihan gangguan penyakit. Pelayanan ini
dibagi dalam dua bagian yaitu pelayanan rawat jalan dan pelayanan rawat inap
o Pelayanan kesehatan masyarakat
Pelayanan kesehatan masyarakat dilaksanakan dalam bentuk program kesehatan masyarakat
dengan tujuan untuk mencegah, memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan. Program
Pelayanan kesehatan masyarakat meliputi program promosi kesehatan, program
pemberantasan penyakit, program penyehatan lingkungan, program perbaikan gizi, program
peningkatan kesehatan keluarga, keluarga berencana, kesehatan jiwa serta berbagai program
kesehatan masyarakat lainnya, yang ada di masyarakat.

E. Program Pokok Puskesmas


Menurut Depkes RI (2004) untuk tercapainya visi pembangunan kesehatan melalui
Puskesmas yakni terwujudnya kecamatan sehat menuju Indonesia Sehat. Puskesmas bertanggung
jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat. Yang
kedua jika ditinjau dari system kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat
pertama.
a. Upaya kesehatan ibu dan anak :
1) Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, melahirkan dan menyususi, bayi, balita, dan anak
prasekolah.
2) Memberikan nasehat tentang makanan guna mencegah gizi buruk karena kekurangan
kalori dan protein, serta bila ada pemberian makanan tambahan dan mineral.
3) Pemberian nasehat tentang perkembangan anak dan cara stimulasinya.
4) Imunisasi tetanus toksoid pada ibu hamil, BCG, DPT 3 kali, polio 3 kali dan campak 1
kali pada bayi.
5) Penyuluhan keehatan meliputi berbagai aspek dalam mencapai tujuan program KIA
6) Pelayanan KB pada pasangan usia subur dengan perhatian khusus pada mereka yang
dalam keadaan bahaya karena melahirkan anak berkali-kali dan ibu beresiko tinggi.
7) Pengobatan bagi ibu, bayi, balita dan anak prasekolah untuk macam-macam penyakit
ringan.
8) Kunjungan untuk mencari ibu dan anak yang memerlukan pemeliharaan, memberikan
penerangan dan pendidikan tentang kesehatan dan mengadakan pemantauan pada mereka
yang lalai mengunjungi puskesmas dan meminta mereka datang ke puskesmas lagi.
9) Pengawasan dan bimbingan kepada taman kanak-kanak dan para dukun bayi.
b. Upaya keluarga berencana
1) Mengadakan kursus KB untuk para ibu dan calon ibu.
2) Mengadakan kursus kepada dukun yang kemudian akan bekerja sebagai penggerak calon
peserta KB.
3) Mengadakan pembicaraan-pembicaraan tentang KB kapan saja ada kesempatan baik di
puskesmas maupun ketika mengadakan kunjungan rumah.
4) Memasang IUD, cara-cara penggunaan pil, kondom, dan cara- cara lain dengan
memberikan sarannya.
5) Mengamati mereka yang menggunakan sarana pencegahan kehamilan.
c. Upaya peningkatan gizi
1) Mengenali penderita kekurangan gizi dan mengobati mereka
2) Mempelajari keadaan gizi masyarakat dan mengembangkan program perbaikan gizi.
3) Memberikan pendidikan gizi pada masyarakat secara perseorangan kepada mereka yang
membutuhkan terutama dalam rangka program KIA.
4) Melaksanakan program:
o Program perbaikan gizi keluarga
o Memberikan makanan tambahn yang mengandung protein dan kalori yang cukup
pada anak-anak dibawah umur 5 tahun dan ibu yang menyususi.
o Memberiakn vitamin A pada anak-anak dibawah umur 5 tahun
d. Upaya kesehatan lingkungan
1) Penyehatan air bersih
2) Penyehatan pembuangan kotoran
3) Penyehatan lingkungan perumahan
4) Penyehatan makanan dan minuman
5) Pelaksanaan peratuaran dan perundang-undangan
e. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
1) Mengumpulkan dan menganalisa penyakit
2) Melaporkan kasus penyakit menular
2) Menyelidiki dilapangan untuk melihat benar atau tidaknya laporan yang masuk untuk
menemukan kasus-kasus baru dan untuk mengetahui sumber penularan.
3) Tindakan permulaan untuk menahan penularan penyakit
4) Menyembuhkan penderita sehingga ia tidak lagi menjadi sumber infeksi
5) Pemberian imunisasi
6) Pemberantasa vektor
7) Pendidikan kesehatan pada masyarakat
f. Upaya penyuluhan kesehatan
1) Penyulahan kesehatan masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tiap-tiap
program puskesmas. Kegiatan penyuluhan kesehatan dilakukan pada setiap kesempatan
oleh petugas, apakah di klinik, rumah dan kelompok masyarakat.
2) Di tingakat puskesmas tidak ada petugas pnyuluhan tersendiri tetapi di tingkat kabupaten
diadakan tenaga-tenaga koordinator penyuluhan kesehatan. Koordinator membantu para
petugas puskesmas dalam mengembangkan teknik dan materi penyuluhan di puskesmas.
g. Upaya kesehatan sekolah
1) Membina sarana keteladanan di sekolah, berupa sarana keteladanan gizi berupa kantin
dan sarana keteladanan kebersiahn lingkungan.
2) Membina kebersihan perseorangan peserta didik.
3) Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berperan aktif dalam pelayanan
kesehatan melalui kegiatan dokter kecil.
4) Penjaringan kesehatan peserta didik kelas I.
5) Pemerikasaan kesehatan periodic sekali setahun untuk kelas II-IV dan guru berupa
pemeriksaan kesehatan sederhana
6) Imunisasi peserta didik I dan VI.
7) Pengawasan terhadap keadaan air
8) Pengobatan ringan pertolongan pertama
9) Rujukan medik
10) Penanganan kasus anemia gizi
11) Pembinaan teknik dan pengawasan di sekolah
12) Pencatatan pelaporan
h. Upaya kesehatan olah raga
1) Pemeriksaan kesehatan berkala
2) Penentuan takaran latihan
3) Pengobatan dengan latihan dan rehabilitasi
4) Pengobatan akibat cedera latihan
5) Pengawasan selama pemusatan latihan
i. Upaya kesehatan masyarakat
1) Asuhan perawatan kepada individu di puskesmas maupun di rumah dengan berbagi
tingkat umur, kondisi kesehatan tumbuh kembang dan jenis kelamin
2) Asuhan perawatan yang diarahkan kepada keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat
(keluarga binaan)
3) Pelayanan perawatan kepada kelompok khusus diantaranya: ibu hamil, anak balita, usia
lanjut dan sebagainya.
4) Pelayanan keperawatan kapada tingkat masyarakat
j. Upaya kesehatan kerja
1) Identifikasi masalah, meliputi:
 Pemeriksaan kesehatan awal dan berkal untuk para pekerja
 Pemeriksaan kasus terhadap pekerja yang dating berobat ke puskesmas
 Peninjauan tempat kerja menentukan bahaya akibat kerja
2) Kegiatan peningkatan tenaga kerja melalui peningkatan gizi pekerja, lingkungan kerja dan
peningkatan kegiatan kesejahteraan.
3) Kegiatan pencegahan kecelakaan akibat kerja meliputi:
 Penyuluhan kesehatan
 Kegiatan ergonomic, yaitu kegiatan untuk mencapai kesesuain antara alat kerja agar
tidak terjadi stress fisik
 Kegiatan monitoring bahaya akibat kerja
 Pemakaian alat pelindung
4) Kegiatan pengobatan kasus penyakit akibat kerja
5) Kegiatan pemulihan bagi pekerja yang sakit
6) Kegiatan rujukan medik dan kesehatan terhadap pekerja yang sakit
k. Upaya kesehatan gigi dan mulut
1) Pembinaan/pembangunan kemampuan peran serta masyarakat dalam upaya pemeliharaan
diri dalam wadah program UKGM.
2) Pelayanan asuhan pada kelompok rawan meliputi: anak sekolah, kelompok ibu hamil,
menyusui dan anak prasekolah.
3) Pelayanan medis gigi dasar, meliputi:
 Pengobatan gigi pada penderita yang berobat maupun yang rujuk
 Merujuk kasus-kasus yang dapat ditanggulangi kesasaran yang lebih mampu
 Memberikan penyuluhan secara individu atau kelompok
 Meemlihara kesehatan (hygiene klinik)
 Memelihara atau merawat peralatan atau obat-obatan
4) Pencatatan dan pelaporan
l. Upaya kesehatan jiwa
o Kegiatan kesehatan jiwa yang terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas.
o Penanganan pasien dengan gangguan jiwa
o Kegaitan dalam bentuk penyuluhan serta pembinaan peran serta masyarakat
o Pengembangan upaya kesehatan jiwa puskesmas melalui tekanan bola mata, tes saluran
air mata, tes lapang pandang, pundus copy, dan pemeriksaan laboratorium.
o Penataan dan pelaporan
m. Upaya kesehatan mata.
1) Upaya kesehatan mata, pencegahan kesehatan dasar yang terpadu dengan kegaiatan lainnya
2) Upaya kesehatan mata
 Anamnesa
 Pemeriksaan visus dan mata keluar, tes buta warna, tes tekanan bola mata, tes saluran
air mata, tes lapang pandang, pundus copy, dan pemeriksaan laboratorium.
 Pengobatan dan pemberian kaca mata
 Operasi katarak
 Perawatan post operasi katarak dan glukoma yang dilakukan oleh tim rujukan dari
rumah sakit
 Perawatan post operasi katarakdan glukoma akut
 Merujuk kasus yang tidak dapat diatasi
 Pemberian protesa mata
3) Peningkatan peran serta masyarakat dalam bentuk penyuluhan kesehatan, serta
mencipatkan kemandirian masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan mata mereka
4) Pengembangan masyarakat kesehatan mata masyarakat
5) Pencatatan dan pelaporan
n. Upaya laboratorium kesehatan
1) Diruang laboratorium
 penerimaan pasien
 Pengambilan specimen
 Penanganan specimen
 Pelaksanaan pemeriksaan
 Penanganan sisa specimen
 Pencatata hasil pemeriksaan
 Pengecekan hasil pemeriksaan
 Penyampaian hasil pemeriksaan
2) Terhadap specimen yang akan dirujuk
 Pengambilan specimen
 Penaganan specimen
 Pengemasan specimen
 Pengiriman specimen
 Pengambilan hasil pemeriksaan
 Pencatatan hasil pemeriksaan
 Penyampaian hasil pemeriksaan
3) Diruang klinik dilakukan oleh perawat atau bidan meliputi |
 Persiapan pasien
 Pengambilan specimen
 Menyerahkan specimen untuk diperiksa
4) Diluar gedung meliputi:
 Melakukan tes skrining Hb
 Pengambilan specimen untuk kemudian dikirim kelabolatorium puskesmas
 Memberikan penyuluhan
 Pencatatan dan pelaporan
 Upaya pencatatan dan pelaporan dalam rangka sistem informasi kesehatan.
o Dilakukan oleh semua puskesmas (Pembina, pembantu, dan keliling)
o Pencatatan dan pelaporan mencakup :
 Data umum dan demografi wilayah kerja puskesmas
 Data ketenagaan di puskesmas
 Data sarana yang dimiliki puskesmas
 Data kegiatan pokok puskesmas yang dilakukan baik didalam maupun diluar
gedung puskesmas.
o Laporan dilakukan secara periodic (bulan, triwulan, dan tahunan)

E. Struktur Organisasi Puskesmas


Stuktur organisasi dan tata kerja puskesmas menurut Effendy, N (1998) adalah;
1. Susunan organisasi puskesmas
Unsur pimpinan : Kepala Puskesmas.
Unsur pembantu pimpinan : Urusan tata usaha
Unsur pelaksana ; Unit I-VII
2. Tugas pokok
1) Kepala Puskesmas
Mempunyai tugas memimpin, mengawasi, dan mengkoordinasikan kegiatan puskesmas
yang dapat dilakukan dalam jabatan struktural dan jabatan fungsional
2) Kepal Urusan Tata Usaha
Mempunyai tugas di bidang kepegawaian, keuangan, perlengkapan, dan surat- menyurat
serta pencatatan dan pelaporan
3) Unit I
Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan kesejahteraan ibu dan anak, keluarga
berencana, dan perbaikan gizi
4) Unit II
Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit
khususnya imunisasi, kesehatan lingkungan, dan labolatorium sederhana.
5) Unit III
Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan kesehatan gigi dan mulut, kesehatan tenaga
kerja dan manula.
6) Unit IV
Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat, kesehatan
sekolah dan olah raga, kesehatan jiwa, kesehatan mata dan kesehatan khusus lainnya.
7) Unit V
Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pembinaan dan pengembangan upaya
kesehatan masyarakat dan penyuluhan kesehatan masyarakat, kesejahteraan remaja dan
dana sehat.
8) Unit VI
Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengobatan rawat jalan dan rawat inap
9) Unit VII
Melaksanakan tugas ke-farmasian
BAB 3
KONSEP DASAR OBAT

F. Pengertian Obat
Obat adalah bahan atau materi yang dapat berwujud benda padat, cair atau gas yang
dapat di gunakan dalam proses penyembuhan penyakit pada manusia. Secara umum produksi
obat terdiri dari obat herbal yang komposisi dan bahannya bersifat alami dan obat pabrik yang
komposisi dan bahanya telah mengandung campuran bahan kimia.
Menurut Anief M (1991) pengertian Obat adalah suatu bahan atau campuran bahan
yang di maksudkan untuk digunakan dalam menentukan diagnosis, mencegah, mengurangi,
menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah
ataurohaniah pada manusia atau hewan termasuk memperelok tubuh atau bagian tubuh
manusia
Dalam Undang-Undang RI Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan Bab I pasal 1
tidak disebutkan mengenai pengertian obat, tetapi pengertian tentang sediaan farmasi. Sediaan
farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik (Presiden RI, 1992)
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
43/Menkes/SK/II/1988 tentang Cara Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB), obat adalah tiap
bahan atau campuran bahan yang dibuat, ditawarkan untuk dibuat, ditawarkan untuk dijual
atau disajikan untuk digunakan dalam pengobatan, peredaran, pencegahan atau diagnosa suatu
penyakit, suatu kelainan fisik atau gejala-gejalanya pada manusia atau hewan, atau dalam
pemulihan, perbaikan atau pengubahan fungsi organis pada manusia atau hewan (Depkes RI,
1988)
Menurut Anief M (2003) beberapa istilah yang perlu diketahui tentang obat, antara lain;
1. Obat jadi adalah obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk serbuk, cairan,
salep, tablet, pil, supositoria, atau bentuk lain yang mempunyai nama teknis sesuai dengan
Farmakope Indonesia (FI) atau buku lain.
2. Obat paten yakni obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama si pembuat atau
yang dikuasakan dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya.
3. Obat baru adalah obat yang terdiri atau berisi suatu zat baik sebagai bagian yang berkhasiat
maupunan mutunya terjamin yang tidak berkhasiat, misalnya lapisan, pengisi, pelarut,
bahan pembantu atau komponen lain yang belum dikenal, hingga tidak diketahui khasiat
dan keamanannya.
4. Obat esensial adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan bagi
masyarakat terbanyak yang meliputi diagnosa, profilaksis terapi dan rehabilitasi yang
diupayakan tersedia pada unit pelayanan kesehatan sesuai dengan fungsi dan tingkatnya
(Depkes RI, 2002). Konsep obat esensial merupakan pendekatan untuk menyediakan
pelayanan bermutu dan terjangkau, yang diwujudkan dengan Daftar Obat Esensial Nasional
(Maryetty, I.P)
5. Obat generik berlogo adalah obat esensial yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial
Nasional (DOEN) dan mutunya terjamin karena diproduksi sesuai dengan persyaratan
CPOB dan diuji ulang oleh Pusat Pemeriksaan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan
(PPOM Depkes). PPOM Depkes saat sekarang telah menjadi Badan Pengawas Obat dan
Makanan (BPOM) yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

G. Tujuan Penciptaan Obat


Obat yang dibuat oleh produsen obat herbal atau pabrik di rancang dengan tujuan
untuk :
1. Obat yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit
2. Obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit
3. Obat yang digunakan untuk mencegah rasa sakit.
4. Obat yang digunakan untuk membunuh hewan parasit dalam tubuh
5. Obat yang digunakan untuk membantu menguatkan kerja organ tubuh
6. Obat yang digunakan untuk mencegah pendarahan
7. Obat yang digunakan untuk mencegah pembusukan jaringan dan lain sebagainya.

Macam-Macam Obat dan Tujuan Penggunaannya


Dalam penggunaannya, obat mempunyai berbagai macam bentuk. Semua bentuk obat
mempunyai karakteristik dan tujuan tersendiri. Oleh karena itu penting sekali bagi kita semua
untuk mengetahui bentuk sediaan obat (http://dechacare.com/Macam-Macam-Obat-dan-
Tujuan-Penggunaannya-I461-1.html)
1. Pulvis (serbuk).
Merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk
pemakaian luar.
2. Pulveres.
Merupakan serbuk yang dibagi bobot yang kurang lebih sama, dibungkus menggunakan
bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.Contohnya adalah puyer.
3. Tablet (compressi).
Merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih
atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih
dengan atau tanpa bahan tambahan.
a. Tablet kempa. Paling banyak digunakan, ukuran dapat bervariasi, bentuk serta
penandaannya tergantung desain cetakan.
b. Tablet cetak. Dibuat dengan memberikan tekanan rendah pada massa lembab dalam
lubang cetakan
c. Tablet trikurat. Tablet kempa atau cetak bentuk kecil umumnya silindris. sudah jarang
ditemukan
d. Tablet hipodermik. Dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam
air. Dulu untuk membuat sediaan injeksi hipodermik, sekarang diberikan secara oral.
e. Tablet sublingual. Dikehendaki efek cepat (tidak lewat hati). Digunakan dengan
meletakan tablet di bawah lidah.
f. Tablet bukal. Digunakan dengan meletakan diantara pipi dan gusi
g. Tablet Effervescent. Tablet larut dalam air. harus dikemas dalam wadah tertutup rapat
atau kemasan tahan lembab. Pada etiket tertulis "tidak untuk langsung ditelan"
h. Tablet kunyah. Cara penggunaannya dikunyah. Meninggalkan sisa rasa enak dirongga
mulut, mudah ditelan, tidak meninggalkan rasa pahit atau tidak enak.
4. Pil (pilulae).
Merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan
dimaksudkan untuk pemakaian oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur
tablet dan kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu.
5. Kapsul (capsule).
Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang
dapat larut. keuntungan/tujuan sediaan kapsul adalah :
a. Menutupi bau dan rasa yang tidak enak
b. Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari
c. Lebih enak dipandang (memperbaiki penampilan)
d. Dapat untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis (income fisis), dengan
pemisahan antara lain menggunakan kapsul lain yang lebih kecil kemudian dimasukan
bersama serbuk lain ke dalam kapsul yang lebih besar.
e. Mudah ditelan
6. Kaplet (kapsul tablet).
Merupakan sedian padat kompak dibuat secara kempa cetak, bentuknya oval seperti
kapsul.
7. Larutan (solutiones).
Merupakan sedian cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut,
biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya,cara peracikan, atau
penggunaannya,tidak dimasukan dalam golongan produk lainnya. Dapat juga dikatakan
sedian cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut, misalnya terdispersi
secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling
bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topikal (kulit).
8. Suspensi (suspensiones).
Merupakan sedian cair mengandung partikel padat tidak larut terdispersi dalam fase cair.
macam suspensi antara lain : suspensi oral (juga termasuk susu/magma),suspensi topikal
(penggunaan pada kulit) suspensi tetes telinga (telinga bagian luar),suspensi
optalmik,suspensi sirup kering.
9. Emulsi (elmusiones).
Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase dalam sistem dispersi, fase cairan
yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya, umumnya
distabilkan oleh zat pengemulsi.
10. Galenik.
Merupakan sediaan yang dibuat dari bahan baku yang berasal dari hewan atau tumbuhan
yang disari.
11. Ekstrak (extractum).
Merupakan sediaan yang pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat dari simplisisa
nabati atau simplisia hewani menggunakan zat pelarut yang sesuai.kemudian semua atau
hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan
sedemikian sehingga memenuhi baku yang ditetapkan.
12. Infusa.
Merupakan sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air
pada suhu 90 derajat celcius selama 15 menit.
13. Imunoserum (immunosera).
Merupakan sediaan yang mengandung imunoglobulin khas yang diperoleh dari serum
hewan dengan pemurnian. Berkhasiat menetralkan toksin kuman (bisa ular) dan
mengikut kuman/virus/antigen.
14. Salep (unguenta).
Merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau
selaput lendir. Salep dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan
dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam
dasar salep yang cocok.
15. Suppositoria.
Merupakan sedian padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal,
vagina atau uretra,umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Tujuan
pengobatan adalah :
a. Penggunaan lokal -> memudahkan defekasi serta mengobati gatal,iritasi, dan
inflamasi karena hemoroid.
b. Penggunaan sistematik -> aminofilin dan teofilin untuk asma,klorpromazin untuk anti
muntah,kloral hidrat untuk sedatif dan hipnitif,aspirin untuk analgesik antipiretik.
16. Obat tetes (guttae).
Merupakan sediaan cair berupa larutan,emulsi atau suspensi, dimaksudkan untuk obat
dalam atau obat luar. Digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang
menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes baku yang
disebutkan farmakope indonesia. Sediaan obat tetes dapat berupa antara lain : guttae
(obat dalam), guttae oris (tetes mulut), guttae auriculares (tetes telinga), guttae nasales
(tetes hidung), guttae opthalmicae (tetes mata).
17. Injeksi (injectiones).
Merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikan
dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.
Tujuannya agar kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat
menerima pengobatan melalui mulut.

H. Jenis-Jenis Obat
Penggolongan jenis obat adalah pembagian obat menurut karakteristik tertentu
dengan tujuan untuk memudahkan dalam mengenali, pemilihan, dan penggunaan obat
tersebut. Penggolongan obat dapat dapat bermacam-macam;
1. Berdasarkan wujudnya.
Misalnya obat berwujud padat, cair/crem dan gas
2. Berdasarkan golongan
Misalnya obat generik dan non generik
3. Berdasarkan fungsinya
Misalnya obat untuk pengobatan dalam dan pengobatan di luar tubuh
4. Berdasarkan jangka waktu pemakaian
Misalnya obat dapat digunakan dalam waktu yang lama dan waktu yang singkat
5. Berdasarkan kemasan
Misalnya obat memakai kemasan Alminium foil, botol kaca atau kalen
6. Berdasarkan tingkat bahaya
Misalnya obat sangat berbahaya dan tidak berbahaya
7. Berdasarkan Kebebasan penggunaan
Misalnya obat yang di jual bebas dan tidak dijual bebas
Menurut Depkes (1993) tentang Wajib Daftar Obat Jadi, pembagian obat berdasarkan
golongannya ;
1. Obat Bebas

Logo obat bebas


Obat Bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter.
Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis
tepi berwarna hitam. Obat bebas dapat diperoleh di warung, toko obat, dan apotik.
Obat bebas juga disebut OTC (Over The Counter)
Contoh obat bebas : Parasetamol, vitamin
2. Obat Bebas Terbatas

Logo obat bebas terbatas


Obat bebas terbatas (dulu disebut obat daftar W : Warschuwing (Peringatan)).
Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih dapat
dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, yakni obat-obatan yang dalam jumlah tertentu
masih bisa dibeli di apotek, tanpa resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket
obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam, disertai tanda
peringatan dalam kemasannya:
o P1. Awas! Obat Keras. Bacalah Aturan Memakainya.
o P2. Awas! Obat Keras. Hanya untuk kumur, jangan ditelan
o P3. Awas! Obat Keras. Hanya untuk bagian luar dan badan.
o P4. Awas! Obat Keras. Hanya Untuk Dibakar.
o P5. Awas! Obat Keras. Tidak Boleh Ditelan.
o P6. Awas! Obat Keras. Obat Wasir, jangan ditelan.

Peringatan Obat Keras


Contoh obat bebas terbatas : CTM, Antimo, noza Obat bebas terbatas ini dapat diperoleh
di toko obat, dan apotik tanpa resep dokter. Obat bebas terbatas dan obat bebas disebut
juga OTC (over the counter)
3. Obat Keras

Logo obat keras


Obat keras juga dikenal dengan Obat Daftar G (Gevarlijk : berbahaya)
Obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter. Cara
mengetahui obat tersebut adalah obat keras adalah dengan adanya tanda khusus pada
kemasan obat yaitu terdapat logo huruf K dalam lingkaran merah dengan garis tepi
berwarna hitam.
Contoh Obat Keras : Asam Mefenamat, semua obat antibiotik (ampisilin, tetrasiklin,
sefalosporin, penisilin, dll), serta obat-obatan yang mengandung hormon (obat diabetes,
obat penenang, dll). Obat keras yang dapat diperoleh di apotek tanpa resep dokter dan
diserahkan oleh apoteker disebut OBAT WAJIB APOTIK
4. Obat Psikotropika dan Narkotika
Dulu dikenal obat daftar O (Golongan Opiat/Opium), Logonya berbentuk seperti
palang ( + ), Obat ini berbahaya bila terjadi penyalahgunaan dan dalam penggunaannya
diperlukan pertimbangan khusus, dan dapat menyebabkan ketergantungan psikis dan fisik
oleh karena itu hanya boleh digunakan dengan dasar resep dokter.
Contoh gambar obat-obat narkotika dan psikotropika
a. PSIKOTROPIKA
Obat psikotropika adalah obat keras baik alamiah maupun sintetis bukan
narkotik, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf
pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Zat atau
obat psikotropika ini dapat menurunkan aktivitas otak atau merangsang susunan saraf
pusat dan menimbulkan kelainan perilaku, disertai dengan timbulnya halusinasi
(mengkhayal), ilusi, gangguan cara berpikir, perubahan alam perasaan dan dapat
menyebabkan ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi (merangsang) bagi
para pemakainya.
Contoh Obat Psikotropika : Sedatin (Pil BK), Rohypnol, Magadon, Valium,
Mandrax, Amfetamine, Fensiklidin, Metakualon, Metifenidat, Fenobarbital,
Flunitrazepam, Ekstasi, Shabu-shabu, LSD (Lycergic Syntetic Diethylamide) dan
sebagainya. Obat psikotropika ini dapat diperoleh di apotik, harus dengan resep
dokter.
b. NARKOTIKA
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan
Depkes (1993). Penggolongan Obat Narkotika : Narkotika digolongkan menjadi
tiga golongan sebagaimana tertuang dalam lampiran 1 undang-undang tersebut.
o Narkotika golongan I
Contoh narkotika golongan satu : Tanaman Papaver Somniferum L kecuali
bijinya, Opium mentah, Opium masak, candu, jicing, jicingko, Tanaman koka,
Daun koka, Kokain mentah, dll
o Narkotika golongan II
Contoh narkotika golongan dua : Alfasetilmetadol, Alfameprodina, Alfametadol,
Alfaprodina, dll candu, jicing, jicingko, Tanaman koka, Daun koka, Kokain
mentah, dll
o Narkotika golongan III
Contoh narkotika golongan tiga : Asetildihidrokodeina, Dekstropropoksifena,
Dihidrokodeina, Etilmorfina, dll candu, jicing, jicingko, Tanaman koka, Daun
koka, Kokain mentah, dll
Selain pengertian obat secara umum di atas, ada juga pengertian obat secara khusus.
Berikut ini beberapa pengertian obat secara khusus Syamsuni (2005) :
 Obat baru: Obat baru adalah obat yang berisi zat (berkhasiat/tidak berkhasiat), seperti
pembantu, pelarut, pengisi, lapisan atau komponen lain yang belum dikenal sehingga
tidak diketahui khasiat dan kegunaannya.
 Obat esensial: Obat esensial adalah obat yang paling banyak dibutuhkan untuk layanan
kesehatan masyarakat dan tercantum dalam daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang
ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI.
 Obat generik: Obat generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam FI
untuk zat berkhasiat yang dikandungnya.
 Obat jadi: Obat jadi adalah obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk salep,
cairan, supositoria, kapsul, pil, tablet, serbuk atau bentuk lainnya yang secara teknis
sesuai dengan FI atau buku resmi lain yang ditetapkan pemerintah.
 Obat paten: Obat paten adalah obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama
pembuat yang telah diberi kuasa dan obat itu dijual dalam kemasan asli dari perusahaan
yang memproduksinya.
 Obat asli: Obat asli adalah obat yang diperoleh langsung dari bahan-bahan alamiah,
diolah secara sederhana berdasarkan pengalaman dan digunakan dalam pengobatan
tradisional.
 Obat tradisional: Obat tradisional adalah obat yang didapat dari bahan alam, diolah
secara sederhana berdasarkan pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional.
Menurut Syamsuni (2005) proses fisiologis dan biokimia dalam tubuh, obat
digolongkan menjadi:
 Obat diagnostik: Obat diagnostik adalah obat yang membantu dalam mendiagnosis
(mengenali penyakit), misalnya barium sulfat untuk membantu diagnosis pada saluran
lambung-usus, serta natriummiopanoat dan asam iod organik lainnya untuk membantu
diagnosis pada saluran empedu.
 Obat kemoterapeutik: Obat kemoterapeutik adalah obat yang dapat membunuh parasit
dan kuman di dalam tubuh inang. Obat ini hendaknya memiliki kegiatan farmakodinamik
yang sekecil-kecilnya terhadap organisme inang dan berkhasiat untuk melawan sebanyak
mungkin parasit (cacing protozoa) dan mikroorganisme (bakteri, virus). Obat-obat
neoplasma (onkolitika, sitostika, atau obat kanker) juga dianggap termasuk golongan ini.
 Obat farmakodinamik: Obat farmakodinamik adalah obat yang bekerja terhadap inang
dengan jalan mempercepat atau memperlambat proses fisiologis atau fungsi biokimia
dalam tubuh contohnya hormon, diuretik, hipnotik, dan obat otonom.
Menurut Syamsuni (2005) Penggolongan obat berdasarkan bentuk sediaan obat
dikelompokkan menjadi:
 Bentuk gas; contohnya, inhalasi, spraym aerosol.
 Bentuk cair atau larutan; contohnya, lotio, dauche, infus intravena, injeksi, epithema,
clysma, gargarisma, obat tetes, eliksir, sirop dan potio.
 Bentung setengah padat; misalnya salep mata (occulenta), gel, cerata, pasta, krim, salep
(unguetum).
 Bentuk padat; contohnya, supositoria, kapsul, pil, tablet, dan serbuk.
Menurut Syamsuni (2005) Penggolongan obat berdasarkan sumbernya, dikelompokkan
menjadi:
 Mikroba dan jamur/fungi; misalnya, antibiotik penisilin.
 Sintesis (tiruan); contohnya, vitamin C dan kamper sintesis.
 Mineral (pertambangan); contohnya, sulfur, vaselin, parafin, garam dapur, iodkali.
 Hewan (fauna); contohnya, cera, adeps lanae, dan minyak ikan.
 Tumbuhan (flora); contohnya, minyak jarak, kina, dan digitalis.
Penggolongan obat menurut Depkes RI (1993) dikelompokkan menjadi:
 Obat bebas: Obat bebas adalah obat yang dapat dibeli secara bebas dan tidak
membahayakan si pemakai dalam batas dosis yang dianjurkan; diberi tanda lingkaran
bulat berwarna hijau dengan garis tepi hitam.
 Obat bebas terbatas (daftar W = waarschuwing = peringatan): Obat bebas terbatas
adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dalam bungkus aslinya dari
produsen atau pabrik obat itu, kemudian diberi tanda lingkaran bulat berwarna biru
dengan garis tepi hitam serta diberi tanda peringatan (P No.1 sampai P No.6).
 Obat keras (daftar G = geverlijk = berbahaya): Obat keras adalah semua obat yang
memiliki takaran dosis minimum (DM), diberi tanda khusus lingkaran bulat merah garis
tepi hitam dan huruf K menyentuh garis tepinya, semua obat baru kecuali ada ketetapan
pemerintah bahwa obat itu tidak membahayakan, dan semua sediaan
parenteral/injeksi/infus intravena.
 Psikotropika: Psikotropika adalah obat yang memengaruhi proses mental, meransang
atau menenangkan, mengubah pikiran/perasaan/kelakuan seseorang; contohnya golongan
barbital/luminal, diazepam, dan ekstasi.
 Narkotik: Narkotik adalah obat yang diperlukan dalam bidang pengobatan dan IPTEK
serta dapat menimbulkan ketergantungan dan ketagihan/adiksi yang sanga merugikan
individu apabila digunakan tanpa pembatasan dan pengawasan dokter; contohnya kodein,
metadon, petidin, morfin, dan opium.
Menurut Syamsuni (2005) Penggolongan obat berdasarkan cara kerjanya dalam tubuh
dikelompokkan menjadi:
 Sistemik: obat yang didistribusikan ke seluruh tubuh; contohnya obat analgetik.
 Lokal: obat yang bekerja pada jaringan setempat, seperti pemakaian topikal.
Menurut Syamsuni (2005) Penggolongan obat menurut cara penggunaannya, obat
digolongkan menjadi:
 Medicamentum ad usum externum (pemakaian luar) melalui implantasi, injeksi, membran
mukosa, rektal, vaginal, nasal, opthalmic, aurical, collutio/gargarisma/gargle, diberi tiket
biru.
 Medicamentum ad usum internum (pemakaian dalam) melalui oral, diberi tiket putih.
Menurut Syamsuni (2005) Penggolongan obat berdasarkan kegunaan dalam tubuh
digolongkan ke dalam:
 Untuk diagnosis (diagnostic).
 Untuk mencegah (prophylactic).
 Untuk menyembuhkan (terapeutic).

I. Bahaya Obat Bagi Kesehatan


Pada dasarnya obat diciptakan untuk membantu mengatasi masalah gangguan kesehatan
yang dihadapi oleh seseorang. Namun obat-obatan yang dihasilkan di pabrikan obat tidaklah
semuanya baik untuk kesehatan, sebab obat-obatan tersebut diracik dari bahan dan senyawa
kimia yang berbahaya bagi tubuh manusia. Bila dilakukan konsumsi obat secara
berkepanjangan maka tubuh kita akan mengalami intoleransi dari masuknya bahan kimia
obat-obatan. Beberapa dampak kesehatan yang ditimbulkan dari penggunaan dan konsumsi
obat-obatan dalam jumlah kecil maupun berlebihan dapat berupa;
a. Keracunan obat.
b. Gangguan tidur
c. Jantung berdebar-debar
d. Rasa mual dan muntah
e. Rasa pusing
f. Kerusakan dan kematian sel-sel tubuh
g. Mengganggu fungsi hati
h. Mengganggu fungsi otak
i. Gangguan mental
j. Gangguan fungsi ginjal
k. Gangguan pencernaan
l. Gangguan pernapasan
m. Gangguan penglihatan
n. Gangguan pendengaran
o. Gangguan pada mata
p. Gangguan pada kulit
q. Dll
Obat adalah racun bila pemberiannya tidak sesuai kaidah yang ditentukan. Telah
dilakukan penelitian pada efek tetapi dan efek samping dalam setiap obat. Penelitian pada
efek samping dalam jangka panjang biasanya dilakukan dalam kurun waktu 10-20 tahun.
Pada dasarnya, penggunaan sebuah obat dalam jangka panjang harus dihindari, mengingat
tidak selamanya tubuh kita dapat mengabsorbsi ataupun menetralisir setiap zat yang masuk.
Efek penggunaan obat dalam jangka panjang (https://halosehat.com/farmasi/obat/efek-
samping-obat-jangka-panjang)
Secara Fisik
1. Infeksi
Beberapa obat yang digunakan dalam jangka panjang justru dapat memicu timbulnya
infeksi di beberapa bagian tubuh. Terutama oleh obat-obatan antibiotik ataupun vaksin
yang dibuat melalui pemanfaatan bakteri atau virus. Obat jenis antibiotik merupakan obat
yang dihasilkan dari bioteknologi modern, mengubah bakteri menjadi obat. Oleh karena
itu, penggunaan dalam jangka panjang atau tidak sesuai aturan justru berbahaya bagi
tubuh. Dari resisten hingga infeksi yang berbalik menyerang tubuh.
2. Komplikasi
Komplikasi adalah gabungan kerusakan dari beberapa organ, terjadi bila kita terlalu
banyak dan sering mengkonsumsi berbagai macam obat maupun gaya hidup tidak sehat
yang kurang baik. Obat-obatan yang dikonsumsi secara berlebihan dan dalam jangka
panjang dapat merusak sebuah organ, satu organ yang rusak ini dapat mengganggu
metabolisme yang hasilnya akan merusak atau menurunkan fungsi dari organ lain. Inilah
yang disebut dengan komplikasi.
3. Kerusakan Ginjal
Ginjal merupakan penyaring darah, dan obat-obatan semuanya diangkut oleh darah.
Darah kotor hasil metabolisme juga membawa ampas-ampas obat atau istilahnya sisa
racun yang nantinya akan disaring oleh ginjal. Terlalu banyak mengkonsumsi obat dapat
menjadi penyebab gagal ginjal di kemudian hari. Karena banyaknya racun yang
tertumpuk di ginjal. Beberapa gangguan lain yang mungkin terjadi mulai dari kencing
batu hingga nekrosis ginjal. Untuk itu dianjurkan meminum obat bersama air putih. Dan
per banyak minum air putih, minimal 8 gelas per hari demi kesehatan ginjal.
4. Kerusakan Jantung
Tak dapat dipungkiri, jantung merupakan pemompa darah. Setiap darah di tubuh pun
akan dialirkan ke jantung mulai dari yang bersih hingga yang kotor. Penggunaan obat
penguat jantung seperti digoksin, kardiovaskuler seperti siledenafil, obat-obat anti
hipertensi dan diuretik dapat menurunkan fungsi jantung di kemudian hari. Kerusakan
yang terjadi dapat terlihat dari beberapa masalah penyakit jantung saat tubuh mulai
memasuki usia senja. Masalah tersebut seperti angina pektoris, infark jantung, aritmia,
bahkan gagal jantung.
5. Kerusakan Panca Indera
Ada 5 panca indera didalam tubuh kita yaitu mata, hidung, lidah, telinga, dan kulit.
Beberapa obat memiliki efek samping jangka pendek seperti pandangan kabur, kesulitan
mendengar, hilang rasa, ruam kulit, dsb. Namun, tahukah beberapa obat memiliki efek
jangka panjang juga untuk beberapa panca indera ini. Seperti penggunaan antihistamin
dengan efek jangka panjang yang dapat merusak penglihatan dan pendengaran. Tak
jarang juga beberapa masalah di kemudian hari seperti katarak, rabun, masalah pada
indera pengecap, hingga tuli disebabkan oleh penggunaan beberapa obat, salah satunya
antibiotik.
6. Gangguan Saraf Akut
Biasanya terjadi di usia senja, gangguan saraf mulai dari mati rasa, stroke, tremor, hingga
kelumpuhan dapat di rasakan oleh beberapa pengguna obat-obat seperti antihipertensi
ataupun kardiovaskuler. Penggunaan psikotropik juga dapat menimbulkan masalah pada
saraf di kemudian hari. Salah satu efek paling parah pada gangguan saraf ini adalah
kegagalan sumsum tulang belakang memproduksi sel darah merah.
7. Berkurangnya Sistem Imun
Obat adalah racun, itulah yang kami katakan di awal. Ampas yang di tinggal akan obat-
obatan pun tidak akan bersih total setelah dikeluarkan melalui keringat dan urin. Oleh
karena itu, obat-obatan sejatinya meninggalkan racun dalam tubuh. Bayangkan anda
meminum racun satu botol saat ini, mungkin anda akan langsung mati karena sistem
imun tidak sanggup menetralisir. Begitu pula dengan obat adalah racun yang ada tidak
langsung banyak, sedikit demi sedikit sebanyak kita mengkonsumsinya. Namun,
perlahan tapi pasti sistem imun terus terganggung dan perlahan berkurang efektivitasnya
dalam menangkal zat asing, karena banyaknya racun di dalam tubuh.
8. Resistensi Bakteri
Bahaya antibiotik tidak sesuai aturan dapat menimbulkan resistensi bakteri dalam tubuh.
Hasilnya, beberapa bakteri tidak akan mempan lagi dengan antibiotik tersebut. Oleh
karena itu hindari terlalu sering menggunakan antibiotik, terutama menggunakan
generasi yang paling akhir. Karena jika suatu saat tubuh terserang bakteri patogen,
mungkin tidak ada lagi antibiotik yang mampu menyembuhkan.
9. Tumbuhnya Bakteri dalam Tubuh
Penggunaan beberapa obat dalam jangka panjang justru memicu pertumbuhan bakteri
dalam tubuh. Seperti penggunaan omeprazole yang dapat memicu pertumbuhan bakteri
ECL (Enterokromafin-Like Cells).
10. Nekrosis Hati
Guna hati adalah menetralisir setiap racun yang masuk ke tubuh. Begitu pula dengan
obat, setiap obat yang masuk pun zat berbahayanya beberapa akan di netralisir di hati.
Fungsi hati akan semakin menurun di usia senja, ditambah dengan banyaknya
penggunaan obat di usia muda dapat menimbulkan kerusakan hati di hari tua. mulai dari
kanker hati hingga kerusakan total pada hati (mati).
11. Reaksi Alergi atau Hipersensitiv
Obat-obat golongan steroid, antihistamin, dan beberapa golongan antibiotik dapat
menimbulkan reaksi alergi baik jangka panjang maupun pendek. Bahkan beberapa ada
yang menimbulkan alergi yang sebelumnya tidak ada. Hal ini juga di karenakan
menurunnya sistem imun oleh efek jangka panjang obat-obatan.
12. Pengeroposan Tulang
Biasa terjadi pada pengguna antibiotik sejak kecil, yang terjadi mulai dari gigi keropos,
kuku mudah patah, dan biasanya terjadi pengeroposan gigi dan tulang di usia senja.
Sebagian besar antibiotik memiliki peranan besar pada efek jangka panjang yang satu ini.
Secara Mental
1. Ketergantungan
Merupakan efek jangka panjang yang paling sering terjadi. Biasanya ke tergantungan ini
pun terjadi karena adanya sugesti. Bisa juga terjadi karena penyalahgunaan obat-obatan
seperti penggunaan obat psikotropik atau narkotik (jenis narkoba). Atau orang-orang
yang meminum CTM agar bisa tidur, padahal efek samping CTM adalah sebagai anti
alergi. Kasus lainnya, beberapa orang yang menganggap hanya cocok atau bisa sembuh
dengan satu merek obat. Walaupun ada obat lain yang memiliki kandungan dan dosis
yang sama ia merasa tidak cocok dan hasilnya penyakit yang di derita pun tidak sembuh.
Ingat, sugesti adalah salah satu faktor kesembuhan.
2. Merubah Kebiasaan
Beberapa efek jangka panjang obat juga dapat merubah kebiasaan seperti kebiasaan
BAB, waktu tidur, pola makan, serta keletihan. Banyak pasien yang mengeluhkan waktu
tidur menjadi tidak teratur setelah meminum sebuah obat, atau pola makan menjadi
rusak.
3. Gangguan Psikis
Seperti bahaya narkoba pada beberapa orang dapat menyebabkan gangguan psikis,
sekalipun di gunakan atas arahan dokter. Gangguan psikis ini berapa seringnya muncul
halusinasi, suka menghayal, dan mudah linglung. Ketergantungan juga menimbulkan
gangguan psikis yang serius.
4. Susah Tidur atau Insomnia
Biasa terjadi bagi beberapa orang yang menggunakan obat-obat steroid, pola tidur
menjadi tidak teratur. Beberapa orang yang tidak cocok bahkan mengeluh penyebab
jantung berdebar atau penyebab dada sesak nafas ketika akan tidur. Namun, pilihan yang
salah jika mengatasi hal ini dengan mengonsumsi obat tidur. Cobalah konsultasikan pada
dokter ataupun terapis. Menggunakan obat tidur pada kasus insomnia dapat menimbulkan
efek berbahaya di kemudian hari, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
5. Emosi Labil
Beberapa orang akan merasakan efek seperti ini di usia senja, atau biasanya ketika sudah
tidak banyak melakukan kegiatan. Beberapa obat mempengaruhi susunan saraf, termasuk
yang mengatur emosi. Sehingga tak jarang kita melihat beberapa lansia mudah
tersinggung, mudah marah, mudah bingung. Hal ini tidak murni disebabkan oleh usia,
beberapa obat pun memegang peranan penting atas efek jangka panjang ini seperti
penggunaan obat-obatan dengan diklofenak atau golongan AINS.
6. Fobia Akut
Beberapa obat memiliki efek jangka panjang menimbulkan fobia. Seperti penggunaan
psikotropik atau pun narkotik yang dapat menimbulkan beberapa fobia secara psikis
bahkan hingga di kemudian hari. Beberapa golongan obat antibiotik seperti doxicicline
dapat menimbulkan reaksi fotofobia atau takut terkena sinar matahari.

J. Dasar Kebijakan Umum Obat


Pemerintah sebagai regulator dan pelaksana serta pengawas dalam pengelolaan obat
secara nasional membutuhkan dukungan perangkat kebijakan dan strategis yang mapan untuk
mendukung pembangunan kesehatan. Dalam pencapaian tujuan pembangunan kesehatan
maka unsur pelayanan obat dan perbekalan kesehatan menjadi salah satu point penting yang
perlu dituangkan dalam sistem kesehatan nasional. Mengapa kebijakan pengelolaan obat
perlu dituangkan dalam sistem kesehatan nasional ? Sebab pelayanan kesehatan sebagai suatu
sistem yang terpadu saling terkait dengan aspek lainnya, tidak hanya terdiri atas aspek sumber
daya manusia, sumber keuangan, sarana prasarana, kebijakan dan manajemen pengelolaan,
namun juga terkait dengan pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan.
Menurut Depkes RI (2004) Dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) telah disebutkan
bahwa Subsistem obat dan perbekalan kesehatan adalah tatanan yang menghimpun berbagai
upaya yang menjamin ketersediaan, pemerataan serta mutu obat dan perbekalan kesehatan
secara terpadu dan saling mendukung dalam rangka tercapainya derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya. Tujuan dari subsistem obat dan perbekalan kesehatan adalah tersedianya
obat dan perbekalan kesehatan yang aman, bermutu dan bermanfaat, serta terjangkau oleh
masyarakat untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Subsistem obat dan perbekalan kesehatan terdiri dari tiga unsur utama yakni jaminan
ketersediaan, jaminan pemerataan serta jaminan mutu obat dan perbekalan kesehatan.
Jaminan ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan adalah upaya pemenuhan kebutuhan
obat dan perbekalan kesehatan sesuai dengan jenis dan jumlah yang dibutuhkan oleh
masyarakat. Jaminan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan adalah upaya penyebaran
obat dan perbekalan kesehatan secara merata dan berkesinambungan sehingga mudah
diperoleh dan terjangkau oleh masyarakat. Jaminan mutu obat dan perbekalan kesehatan
adalah upaya menjamin khasiat, keamanan serta keabsahan obat dan perbekalan kesehatan
sejak dari produksi hingga pemanfaatannya. Ketiga unsur utama tersebut, yakni jaminan
ketersediaan, jaminan pemerataan serta jaminan mutu obat dan perbekalan kesehatan,
bersinergi dan ditunjang dengan teknologi, tenaga pengelola serta penatalaksanaan obat dan
perbekalan kesehatan (Depkes RI, 2004)
Menurut Depkes RI (2004) Penyelenggaraan subsistem obat dan perbekalan kesehatan
mengacu pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Obat dan perbekalan kesehatan adalah kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sosial,
sehingga tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas ekonomi semata.
2. Obat dan perbekalan kesehatan sebagai barang publik harus dijamin ketersediaan dan
keterjangkauannya, sehingga penetapan harganya dikendalikan oleh pemerintah dan tidak
sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar.
3. Obat dan Perbekalan Kesehatan tidak dipromosikan secara berlebihan dan menyesatkan.
4. Peredaran serta pemanfaatan obat dan perbekalan kesehatan tidak boleh bertentangan
dengan hukum, etika dan moral.
5. Penyediaan obat mengutamakan obat esensial generik bermutu yang didukung oleh
pengembangan industri bahan baku yang berbasis pada keanekaragaman sumberdaya
alam.
6. Penyediaan perbekalan kesehatan diselenggarakan melalui optimalisasi industri nasional
dengan memperhatikan keragaman produk dan keunggulan daya saing.
7. Pengadaan dan pelayanan obat di rumah sakit disesuaikan dengan standar formularium
obat rumah sakit, sedangkan di sarana kesehatan lain mengacu kepada Daftar Obat
Esensial Nasional.
8. Pelayanan obat dan perbekalan kesehatan diselenggarakan secara rasional dengan
memperhatikan aspek mutu, manfaat, harga, kemudahan diakses serta keamanan bagi
masyarakat dan lingkungannya.
9. Pengembangan dan peningkatan obat tradisional ditujukan agar diperoleh obat tradisional
yang bermutu tinggi, aman, memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah dan
dimanfaatkan secara luas, baik untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun
digunakan dalam pelayanan kesehatan formal.
10. Pengamanan obat dan perbekalan kesehatan diselenggarakan mulai dari tahap produksi,
distribusi dan pemanfaatan yang mencakup mutu, manfaat, keamanan dan
keterjangkauan.
11. Kebijaksanaan Obat Nasional ditetapkan oleh pemerintah bersama pihak terkait lainnya.

Menurut Depkes RI (2004) Bentuk pokok subsistem obat dan perbekalan kesehatan
antara lain:
1. Perencanaan kebutuhan obat dan perbekalan kesehatan secara nasional diselenggarakan
oleh pemerintah bersama pihak terkait.
2. Perencanaan obat merujuk pada Daftar Obat Esensial Nasional yang ditetapkan oleh
pemerintah bekerja sama dengan organisasi profesi dan pihak terkait lainnya.
3. Penyediaan obat dan perbekalan kesehatan diutamakan melalui optimalisasi industri
nasional.
4. Penyediaan obat dan perbekalan kesehatan yang dibutuhkan oleh pembangunan kesehatan
dan secara ekonomis belum diminati swasta menjadi tanggung jawab pemerintah.
5. Pengadaan dan produksi bahan baku obat difasilitasi oleh pemerintah.
6. Pengadaan dan pelayanan obat di rumah sakit didasarkan pada formularium yang
ditetapkan oleh PFT rumah sakit.
7. Jaminan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan.
8. Pendistribusian obat diselenggarakan melalui pedagang besar farmasi.
9. Pelayanan obat dengan resep dokter kepada masyarakat diselenggarakan melalui apotek,
sedangkan pelayanan obat bebas diselenggarakan melalui apotek, toko obat dan tempat-
tempat yang layak lainnya, dengan memperhatikan fungsi sosial.
10. Dalam keadaan tertentu, dimana tidak terdapat pelayanan apotek, dokter dapat
memberikan pelayanan obat secara langsung kepada masyarakat.
11. Pelayanan obat di apotek harus diikuti dengan penyuluhan yang penyelenggaraannya
menjadi tanggung jawab apoteker.
12. Pendistribusian, pelayanan dan pemanfaatan perbekalan kesehatan harus memperhatikan
fungsi sosial.
13. Jaminan mutu obat dan perbekalan kesehatan
14. Pengawasan mutu produk obat dan perbekalan kesehatan dalam peredaran dilakukan oleh
industri yang bersangkutan, pemerintah, organisasi profesi dan masyarakat.
15. Pengawasan distribusi obat dan perbekalan kesehatan dilakukan oleh pemerintah,
kalangan pengusaha, organisasi profesi dan masyarakat.
16. Pengamatan efek samping obat dilakukan oleh pemerintah, bersama dengan kalangan
pengusaha, organisasi profesi dan masyarakat.
17. Pengawasan promosi serta pemanfaatan obat dan perbekalan kesehatan dilakukan oleh
pemerintah bekerja sama dengan kalangan pengusaha, organisasi profesi dan masyarakat.
18. Pengendalian harga obat dan perbekalan kesehatan dilakukan oleh pemerintah bersama
pihak terkait.
19. Pengawasan produksi, distribusi dan penggunaan narkotika, psikotropika, zat adiktif dan
bahan berbahaya lainnya dilakukan oleh pemerintah secara lintas sektor, organisasi
profesi dan masyarakat.
20. Pengawasan produksi, distribusi dan pemanfaatan obat tradisional dilakukan oleh
pemerintah secara lintas sektor, organisasi profesi dan masyarakat.
Selain SKN di Indonesia juga terdapat Kebijakan Obat Nasional (KONAS) yang
digunakan sebagai landasan, arah, dan pedoman dalam pembangunan di bidang obat.
Tujuannya menjamin (Depkes RI, 2004):
1. Ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat, terutama obat esensial.
2. Keamanan, khasiat dan mutu semua obat yang beredar serta melindungi masyarakat dari
penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat.
3. Penggunaan obat yang rasional.
Strategi untuk menjamin ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat esensial,
yaitu (Depkes RI, 2004);
1. Perlu sistem pembiayaan obat berkelanjutan, baik sektor publik maupun sektor swasta.
2. Rasionalisasi harga obat dan pemanfaatan obat generik.
3. Penerapan sistem pengadaan dalam jumlah besar atau pengadaan bersama di sektor
publik.
4. Penyiapan peraturan yang tepat untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan obat.
5. Memanfaatkan skema TRIPs seperti Lisensi Wajib, Pelaksanaan Paten oleh Pemerintah
dan parallel import.
Strategi untuk menjamin keamanan, khasiat dan mutu obat beredar, serta perlindungan
masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat, yaitu (Depkes RI, 2004):
1. Penilaian keamanan, khasiat dan mutu melalui proses pendaftaran.
2. Adanya dasar hukum dan penegakan hukum secara konsisten, dengan efek jera yang
tinggi untuk setiap pelanggaran.
3. Penyempurnaan standar sarana produksi, sarana distribusi dan sarana pelayanan obat.
4. Pemberdayaan masyarakat melaui penyediaan dan peyebaran informasi terpercaya, untuk
menghindarkan dari penggunaan yang tidak memenuhi standar dan penyalahgunaan obat.
5. Penyempurnaan dan pengembangan berbagai standar dan pedoman.
Strategi untuk menjamin penggunaan obat yang rasional, yaitu:
1. Penerapan penggunaan DOEN dalam setiap upaya pelayanan kesehatan.
2. Penerapan pendekatan farmakoekonomi melalui analisis biaya efektif dengan biaya
manfaat pada seleksi obat yang digunakan di semua tingkat pelayanan kesehatan.
3. Penerapan pelayanan kefarmasian yang baik (pharmaceutical care), perubahan dari
product oriented ke patient oriented.
4. Pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE).
BAB 4
KONSEP PERENCANAAN

L. Pengertian Perencanaan
Perencanaan kesehatan menjadi bagian terpenting dalam pelayanan kesehatan.
Puskesmas dan rumah sakit sebagai unit pelayanan kesehatan dengan sederetan tugas pokok
dan fungsi yang dimiliki masing-masing, wajib memiliki perencanaan pelayanan kesehatan.
Di dalam perencanaan terkandung program kerja, penetapan sumber daya kesehatan yang
diperlukan, waktu pelaksanaan, indikator keberhasilan, sampai pada metode evaluasi yang
digunakan. Pendek kata perencanaan kesehatan sebagai pedoman yang disusun untuk
mencapai tujuan pelayanan kesehatan
Ilmu perencanaan kesehatan sebenarnya telah lama berkembang sebagai Disiplin ilmu
perencanaan kesehatan. Berbagai pengertian pula sangat beragam dari para pakar yang telah
menggeluti ilmu tersebut (Suhadi and Rais M.K, 2018)
Dalam pengertian sederhana perencanaan kesehatan adalah suatu proses yang
dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang didahului dengan penetapan tujuan,
mengenali masalah kesehatan melalui analisis situasi masalah masyarakat, menentukan dan
memilih sumber daya yang dibutuhkan, menyusun kegiatan yang akan dilakukan,
menetapkan besarnya biaya, menentukan waktu pelaksanaan, menentukan tempat kegiatan,
menentukan sasaran, menetapkan target yang akan dicapai, dan menyusun indikator
pencapaian serta bentuk evaluasi yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah-masalah
kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat (Suhadi and Rais M.K, 2018).
Menurut Suandy E (2003) secara umum perencanaan merupakan proses penentuan
tujuan organisasi (perusahaan) dan kemudian menyajikan (mengartikulasikan) dengan jelas
strategi-strategi (program), taktik-taktik (tata cara pelaksanaan program) dan operasi
(tindakan) yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan secara menyeluruh.
Menurut Robbins Stephen and Coutler Mary (2004) perencanaan adalah sebuah
proses yang dimulai dari penetapan tujuan organisasi, menentukan strategi untuk pencapaian
tujuan organisasi tersebut secara menyeluruh untuk mengintegrasikan dan mengoordinasikan
seluruh pekerjaan organisasi hingga tercapainya tujuan organisasi.
M. Dasar Perencanaan
Menurut Suhadi and Rais M.K, (2018) suatu perencanaan yang dibuat tidak lahir
begitu saja, namun memiliki latar belakang yang rasional sampai lahirnya sebuah
perencanaan yaitu ;
1. Adanya tujuan
Kenyataan masa depan yang pasti dan menjadi impian mendorong lahirnya usaha
perencanaan yang perlu disiapkan saat ini. Kondisi yang diperkirakan bakal diraih itulah
membutuhkan rancangan apa yang wajib dilakukan, dari saat kini, umumnya angan-angan
akan terlukiskan dalam dokumen tertulis berupa perencanaan.
2. Fungsi manajemen
Organisasi sebagai lembaga, didalamnya terdapat fungsi-fungsi administrasi. Salah satu
fungsi dari administrasi tersebut adalah aktifitas manajemen untuk menggerakan usaha
dan pekerjaan dalam mencapai hasil kerja yang diinginkan oleh lembaga tersebut.
3. Adanya keterbatasan sumber daya
Organisasi sebagai lembaga usaha mengumpulkan sumber daya dan menggunakan
sumber daya tersebut dalam proses produksi. Untuk mencapai hasil produksi yang
optimal, salah satunya ditentukan oleh ketersediaan dan kemampuan daya dukung sumber
daya tersebut. Sumber daya yang dimiliki memiliki keterbatasan dalam hal suplay, tentu
proses produksi juga terhambat. Olehnya itu pihak manajemen membutuhkan kerangka
perencanaan guna memperhitungkan pemilihan dan penggunaan sumber daya secara
efektif dan efisien.
4. Faktor Waktu
Tidak selamanya pekerjaan dalam usaha berjalan sesuai harapan. Terkadang pekerjaan
tidak mencapai hasil yang diinginkan. Salah satunya disebabkan oleh terbatasnya waktu
produksi. Suatu kegiatan membutuhkan waktu yang cukup agar proses usaha dapat
tercapai.
5. Pedoman
Dalam memulai dan melaksanakan proses produksi barang dan jasa untuk mencegah
hilangnya waktu kerja, peningkatan efisiensi, menghindari pekerjaan sia-sia dan lainnya,
terkadang sulit dilakukan. Problema ini muncul, salah satunya kerena tidak adanya
perencanaan dan pedoman yang menjadi acuan dalam proses produksi.
N. Tujuan Perencanaan
Menurut Suhadi and Rais M.K, (2018) secara umum tujuan perencanaan adalah :
1. Menentukan arah pekerjaan
Pekerjaan yang akan dikerjakan harus memiliki arah yang jelas agar bisa mencapai tujuan
dengan mudah. Jalannya upaya kesehatan disini ditentukan oleh perencanaan yang
disusun. Adanya perencanaan yang tersusun secara terstruktur menurut langkah kegiatan,
maka akan memberi jalur pada implementasi program yang jelas.
2. Menetapkan volume kegiatan
Program kesehatan yang akan dilaksanakan baik untuk program jangka pendek maupun
jangka panjang, telah terjabarkan dalam rencana kerja. Dalam program kerja menguraikan
jenis kegiatan termasuk volume kegiatan. Volume kegiatan ini menjadi penting dalam
penggunaan dan efisiensi sumber daya.
3. Pencarian, pemilihan dan meramalkan sumber daya
Setelah penetapan tujuan, dan program kegiatan, maka langkah selanjutnya adalah
menyusun sumber daya yang akan digunakan dalam implementasi program. Pada tahap
ini programmer akan mengeksplorasi, meramalkan, dan memilih sumber daya yang cocok
untuk proses pelayanan.
4. Kontrol produksi
Kegiatan yang dilakukan memerlukan kendali program, ini dimaksudkan agar
diketahuinya perkembangan dan hambatan kegiatan setiap saat. Salah satu tugas
manejerial disini adalah fungsi pengawasan. Dengan pengawasan akan membantu
pimpinan melakukan koreksi program yang telah berjalan.
5. Penentuan parameter output
Untuk memudahkan tim evaluator dalam pengukuran out put program, maka programmer
harus merumuskan secara jelas parameter out put tersebut dalam dokumen perencanaan.
Parameter hendaknya menguraikan secara rinci dan spesifik tiap item produk yang akan
dicapai, dengan demikian akan tergambar kerangka ukur yang tepat.
6. Memilih bentuk evaluasi
Setelah indikator dirumuskan, langkah selanjutnya adalah merumuskan bentuk evaluasi
yang dipilih. Bentuk evaluasi banyak macamnya, olehnya itu evaluator akan menjadi
mudah menentukan metode evaluasi bila dalam dokumen perencanaan telah ditetapkan
bentuk evaluasi program.

O. Manfaat Perencanaan
Menurut Suhadi and Rais M.K, (2018) manfaat perencanaan kesehatan yang disusun oleh
perencana diantaranya ;
1. Memudahkan penetapan tujuan.
Dengan perencanaan maka tujuan yang akan dicapai, mudah dirumuskan seperti apa hasil
yang diinginkan. Dalam perencanaan akan membatasi tujuan kegiatan karena pola
intervensi dibuat terstruktur dan fokus sesuai kebutuhan
2. Memudahkan pengenalan masalah kesehatan
Perencanaan tersebut membantu pimpinan untuk mengenali masalah apa yang terjadi
melalui analisis situasi masalah masyarakat. Dari masalah yang didapatkan dilapangan
akan tergambar masalah yang dihadapi masyarakat.
3. Memudahkan penentuan dan pemilihan sumber daya.
Perencanaan akan mengantar tugas perencana untuk menentukan sumber daya apa yang
diperlukan dalam kegiatan yang akan dilakukan, selanjutnya memutuskan pilihan sumber
daya apa yang cocok dan dibutuhkan nanti. Penentuan dan pemilihan sumberdaya tersebut
dengan memperhatikan kemampuan dan ketersediaan sumber daya.
4. Memudahkan penyusunan kegiatan yang akan dilakukan.
Perencana menjadi mudah menentukan kegiatan apa yang relevan dengan tujuan, tindakan
apa yang akan didahulukan, kegiatan apa saja yang akan dibuat sesuai ketersediaan
sumber daya, kegiatan apa yang masih ditunda pelaksanaanya, kegiatan apa yang sulit
dilakukan dan sebagainya.
5. Memudahkan penetapan besarnya biaya
Sumber daya lain yang diperlukan adalah sumber biaya (besarnya biaya serta alokasi
kegiatan apa saja yang akan dibiayai). Dengan perencanaan akan mengarahkan perencana
dalam mencari sumber biaya, menetapkan alokasi biaya dan bagaimana metode
mensiasati keterbatasan biaya.
6. Memudahkan penentuan waktu pelaksanaan
Memudahkan tugas perencanaan dalam melakukan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk
pelaksanaan kegiatan. Harus ada alokasi waktu berapa lama kegiatan dilakukan dan
disusun dalam rincian hari, bulan, mingguan atau tahunan. Seluruh kegiatan akan dinilai
dalam satuan waktu kerja yang terstruktur agar supaya kegiatan tidak berbenturan dalam
hal waktu.
7. Memudahkan penentuaan tempat kegiatan
Memudahkan tugas perencana memutuskan tempat kegiatan yang akan diintervensi.
Disini akan tergambar luas daerah, jumlah daerah, dan daerah manasaja yang menjadi
prioritas intervensi.
8. Memudahkan penentuan sasaran
Memudahkan tugas perencana menentukan sasaran yang akan diintervensi. Apakah
sasaranya adalah masyarakat desa, kota, pantai, pegunungan maupun daerah lainya. Disini
akan tergambar luas sasaran, jumlah sasaran, karakteristik sasaran, dan sasaran manasaja
yang menjadi prioritas intervensi.
9. Memudahkan penetapan target yang akan dicapai
Memudahkan tugas perencana memutuskan berapa target yang akan dicapai denga
berdasarkan kesiapan dan kemampuan sumber daya yang ada. Disini akan tergambar
besarnya target terhadap intervensi termasuk target terhadap populasi.
10. Mudahkan penyusunan indikator pencapaian
Memudahkan tugas perencana menyusun indikator-indikator pencapaian apa saja yang
relevan. Misalnya indikator tentang input, proses, output, out come. Indikator tersebut
menjadi rujukan dalam intervensi dan evaluasi.
11. Memudahkan bentuk evaluasi yang akan dilakukan
Memudahkan tugas perencana menentukan bentuk evaluasi sebagai pedoman dalam
melakukan penilaian beserta metode penilaian yang akan dikerjakan.

P. Aspek Perencanaan
Menurut Suhadi and Rais M.K, (2018) secara umum perencanaan kesehatan membicarakan
beberapa aspek pokok yang akan dikerjakan ;
1. Tujuan (Visi)
Visi disini adalah tujuan yang akan dicapai dimasa datang dari pekerjaan yang dikerjakan
saat sekarang. Misalnya; „Penurunan angka kejadian TB‟
2. Misi
Misi disini adalah tindakan nyata yang dikerjakan. Misalnya; penyuluhan TB, pengobatan
TB, sanitasi lingkungan dan lain-lain
3. Evaluasi
Penilaian disini dilakukan untuk mengetahui dan mengukur seberapa jauh keberhasilan
pekerjaan yang telah dilakukan. Misalnya dari hasil evaluasi diperoleh penurunan angka
kajadian TB dari 75 jiwa menjadi 40 jiwa. Maka disimpulkan kegiatan pengobatan dan
sanitasi lingkungan berhasil menurunkan kejadian penyakit sebesar 35 penderita.
4. Rekomendasi
Berbagai hambatan dan keberhasilan yang telah dicapai diberikan rekomendasi untuk
perbaikan di masa datang. Misalnya; saran penambahan tenaga dokter untuk membantu
pelayanan TB di desa terpencil.
5. Perbaikan
Tindakan yang dilakukan dalam rangka perbaikan pelaksanaan program pekerjaan.
Misalnya; pemeriksaan darah penderita TB.

Q. Ciri Perencanaan
Menurut Suhadi and Rais M.K, (2018) perencanaan kesehatan memiliki ciri ;
1. Proses menciptakan gagasan (tujuan)
Proses menciptakan gagasan disini adalah merumuskan visi, berupa produk apa yang
ingin di capai di masa datang. Misalnya; produk dalam bentuk barang atau jasa pelayanan
kesehatan
2. Proses memperkirakan tindakan
Proses memperkirakan tindakan yaitu merumuskan program kerja apa yang akan
dikerjakan untuk mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi saat ini dan masa
depan. Program disini dirumuskan terperinci mengacu pada tujuan, teruraikan secara jelas
untuk periode bulanan, semesteran, dan tahunan.
3. Bagian dari sub system manajemen
Perencanaan merupakan fungsi manajemen kesehatan, disini memiliki peran dalam upaya
pembangunan kesehatan sebagai dokumen acuan invertasi dan pengembangan kesehatan
masa datang
4. Bersifat Fleksibilitas.
Perencanaan memungkinkan dilakukan berbagai perubahan sesuai dengan situasi dan
kondisi yang melatarinya
5. Menemukan dan mencari solusi masalah.
Perencanaan memuat rumusan masalah dan pemecahan terhadap masalah yang
ditemukan. Seluruh masalah dan tindakan pemecahan masalah yang telah dipilih
diputuskan menjadi program kerja yang akan dikerjakan.
6. Dilakukan kontinyuitas
Permasalahan kesehatan tak pernah habis ditemui. Belum tuntas suatu permasalahan, lahir
lagi masalah baru, begitu sebaliknya kenyataan kehidupan di masyarakat. Perencanaan
kesehatan disusun untuk memecahkan seluruh permasalahan yang terjadi bukan hanya
saat ini tapi juga untuk masa depan. Dengan demikian keberlanjutan perencanaan akan
terus berjalan seiring waktu.
7. Dimuat dalam dokumen serta dipublikasikan.
Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang disusun secara sistematis,
terdokumentasi dan disosialisasikan kepada seluruh pemangku kepentingan.
8. Perangkuman sumberdaya secara memadai untuk didaya gunakan.
Dalam perencanaan tercipta pemilihan, peramalan dan perangkuman sumber daya untuk
digunakan secara secara efektif dan efisien
9. Motivasi kebutuhan dan permintaan masyarakat.
Perencanaan akan mendorong pelaku dan penerima program kesehatan agar bekerja sama,
sehingga tuntutan kebutuhan dan permintaan masyarakat bisa dicapai dengan baik
R. Macam Perencanaan
Menurut Suhadi and Rais M.K, (2018) perencanaan yang dikenal saat ini banyak
macamnya, tergantung dari sudut pandang seseorang dalam menilai perencanaan. Beberapa
macam perencanaan diantaranya ;
1. Perencanaan dipandang dari segi waktu pelaksanaan
Bila ditinjau dari segi waktu pelaksanaan, maka perencanaan dikategorikan atas tiga
aspesk;
a. Perencanaan jangka panjang (longe-range planning)
Umumnya Perencanaan jangka panjang, memiliki waktu berlakunya diatas 10 tahun.
Biasanya juga disebut master plan, karena memuat kebijakan makro yang akan
dicapai di masa datang.
b. Perencanaan jangka menengah (medium-range planning)
Umumnya Perencanaan jangka menengah, memiliki waktu berlakunya antara 5-10
tahun.
c. Perencanaan jangka pendek (short-range planning)
Umumnya Perencanaan jangka pendek, memiliki waktu berlakunya < 5 tahun.
2. Perencanaan dipandang dari segi intensitas penggunaan
Bila ditinjau dari intensitas penggunaan, maka perencanaan dibedakan atas dua kategori;
a. Intensitas satu kali (single-use planning)
Perencanaan yang disusun hanya dimanfaatkan satu kali, bila telah selesai maka
perencanaan tersebut tidak dipakai lagi, namun digantikan dengan perencanaan baru.
Tidak dimanfaatkannya lagi perencanaan tersebut atas pertimbangan perencana itu
sendiri. Misalnya; pertimbangan pemilihan strategi, penggantian sumber daya dan lain
sebagainya.
b. Intensitas berulang kali
Perencanaan yang disusun dapat dimanfaatkan berulag kali, bila telah selesai maka
perencanaan tersebut akan tetap dipakai lagi untuk periode berikutnya. Tetap
dimanfaatkannya perencanaan tersebut atas pertimbangan perencana itu sendiri.
Misalnya; pertimbangan strategi yang masih tepat dan lain sebagainya.
3. Perencanaan dipandang dari segi tingkatan rencana
Bila ditinjau dari aspek tingkatan (hirarki) maka perencanaan dibedakan atas tiga
kategori ;
a. Perencanaan Pokok
Perencanaan ini dinamakan juga perencanaan induk (master plan). Umumnya
perencanaan ini memuat landasan atau kerangka pokok yang lebih luas, menjadi dasar
kebijakan, dan jangka waktu yang panjang.
b. Perencanaan operasional
Perancanaan ini memuat operasionalisasi kerja, umumnya sebagai pedoman
pelaksanaan yang dijadikan petunjuk penataan usaha lembaga.
c. Perencanaan harian
Umumnya perencanaan ini memuat aktifitas harian lembaga, bersifat spesifik dan
rinci. Rencana harian ini biasanya disusun untuk program yang bersifat rutin.
4. Perencanaan dipandang dari segi ruang lingkup
Perencanaan dipandang dari segi ruang lingkup rencana dibedakan atas;
a. Perencanaan strategik
Perencanaan strategi memuat secara lengkap tujuan, program, kebijakan, sasaran dan
strategi serta rangkaian dan pentahapan kegiatan yang akan dilakukan di masa datang.
Umumnya perencanaan strategik sulit untuk diperbaharui.
b. Perencanaan taktis
Perencanaan taktis (tactical planning) umumnya mengandung uraian tentang
kebijakan, tujuan serta kegiatan jangka pendek saja. Perencanaan taktik disusun
sebagai respon perkembangan situasi dan kondisi makro dan mikro yang
mempengaruhi lembaga saat sekarang.
c. Perencanaan menyeluruh
Perencanaan menyeluruh (comprehensive planning), memuat uraian program yang
bersifat menyeluruh, umumnya mencakup seluruh aspek dan ruang lingkup berbagai
aktifitas yang akan dikerjakan.
d. Perencanaan terpadu
Perencanaan terpadu (integrated planning), umumnya memuat rangkaian kesatuan
berbagai program yang akan dikerjakan.

S. Fungsi Perencanaan
Robbins Stephen and Coutler Mary (2002) menjelaskan bahwa paling tidak terdapat 4
(empat) fungsi dari perencanaan, yaitu sebagai berikut :
1. Perencanaan sebagai Pengarah
Perencanaan akan menghasilkan sebuah upaya untuk meraih sesuatu dengan cara yang
lebih terkoordinasi. Organisasi yang tidak menjalankan sebuah perencanaan akan sangat
mungkin mengalami konflik kepentingan, pemborosan sumber daya, dan tujuan yang
tidak tercapai karena bagian-bagian dari organisasi bekerja secara sendiri-sendiri tanpa
adanya koordinasi yang jelas dan terarah. Perencanaan dalam hal ini memegang fungsi
pengarahan dari apa yang harus dicapai oleh organisasi.
2. Perencanaan sebagai Minimalisasi Ketidakpastian
Seringkali perubahan dalam organisasi berada di luar perkiraan sehingga menimbulkan
ketidakpastian bagi organisasi. Dengan adanya perencanaan diharapkan ketidakpastian
yang mungkin terjadi di masa yang akan datang dapat diantisipasi jauh-jauh hari.
3. Perencanaan sebagai Minimalisasi Pemborosan Sumber Daya
Jika perencanaan dilakukan dengan baik maka jumlah sumber daya yang diperlukan,
bagaimana cara penggunaannya, untuk penggunaan apa saja lebih baik dipersiapkan
sebelum kegiatan dijalankan.
4. Perencanaan sebagai Penetapan Standar dalam Pengawasan Kualitas
Perencanaan berfungsi sebagai penetapan standar kualitas yang harus dicapai oleh
organisasi dan diawasi pelaksanaannya dalam fungsi pengawasan/pengendalian
manajemen. Dalam perencanaan, organisasi menentukan tujuan dan rencana-rencana
untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam pengawasan/pengendalian, organisasi
membandingkan antara tujuan yang ingin dicapai dengan realisasi di lapangan,
membandingkan antara standar yang ingin dicapai dengan realisasi di lapangan,
mengevaluasi penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi, hingga mengambil
tindakan yang dianggap perlu untuk memperbaiki kinerja organisasi. Dengan demikian,
maka perencanaan berfungsi sebagai penetapan standar kualitas yang ingin dicapai oleh
organisasi.

T. Asas-Asas Perencanaan
Menurut Stoner James and Wankel (1993) asas-asas perencanaan meliputi :
1. Principle of contribution to objective. Setiap perencanaan dan segala perubahannya harus
ditujukan kepada pencapaian tujuan.
2. Principle of efficiency of planning. Suatu perencanaan efisien, jika perencanaan itu dalam
pelaksanannya dapat mencapai dengan biaya sekecil-kecilnya.
3. Principle of primacy of planning (asas pengutamaan perencanaan). Perencanaan adalah
keperluan utama para pemimpin dan fungsi-fungsi lainnya, organizing, staffing, directing,
dan controlling. Seseorang tidak akan dapat melaksanakan fungsi-fungsi manajemen
lainnya, tanpa mengetahui tujuan dan pedoman dalam mwnjalankan kebijaksanaan.
4. Principle of pervasiveness of planning (asas pemerataan perencanaan). Asas pemerataan
perencanaan memegang peranan penting mengingat pemimpin pada tingkat tinggi banyak
mengerjakan perencanaan dan bertanggungjawab atas berhasilnya rencana itu.
5. Principle of planning premise (asas patokan perencanaan). Patokan-patokan perencanaan
sangat berguna bagi ramalan, sebab premis-premis perencanaan dapat menunjukkan
kejadian-kejadian yang akan datang.
6. Principle of policy frame work (asas kebijaksanaan pola kerja). Kebijaksanaan ini
mewujudkan pola kerja, prosedur-prosedur kerja, dan program-program kerja tersusun.
7. Principle of timing (asas waktu). Adalah perencanaan waktu yang relatif singkat dan
tepat.
8. Principle of planning communication (prinsip tata hubungan perencanaan). Perencanaan
dapat disusun dan dikoordinasikan dengan baik, jika setiap orang bertanggung jawab
terhadap pekerjaannya dan memperoleh penjelasan yang memadai mengenai bidang yang
dilaksanakannya.
9. Principle of alternative (asas alternatif) Altenatif ada pada setiap rangkaian kerja dan
perencanaan meliputi pemilihan rangkaian alternatif dalam pelaksanaan pekerjaan,
sehingga tercapai tujuan yang telah ditetapkan.
10. Principle of limiting factor (asas pembatasan faktor). Dalam pemilihan alternatif-
alternatif, pertama-tama harus ditujukan pada faktor-faktor yang strategis dan dapat
membantu pemecahan masalah. Asas alternatif dan pembatasan factor merupakan syarat
mutlak dalam penetapan keputusan.
11. The commitment principle. Perencanaan harus memperhitungkan jangka waktu
keterkaitan yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan.
12. The principle of flexibility (asas fleksibilitas). Perencanaan yang efektif memerlukan
fleksibilitas, tetapi tidak berarti mengubah tujuan.
13. The principle of navigation change (asas ketetapan arah). Perencanaan yang efektif
memerlukan pengamatan yang terus-menerus terhadap kejadian-kejadian yang timbul
dalam pelaksanannya untuk mempertahankan tujuan.
14. Principle of strategic planning (asas perencanaan strategis). Dalam kondisi terteentu
manajer harus memilih tindakan-tindakan yang diperlukan untuk menjamin pelaksanaan
rencana agar tujuan tercapai dengan efektif.
U. Unsur Perencanaan
Menurut Suhadi and Rais M.K, (2018) adapun yang menjadi unsur-unsur perencanaan
kesehatan adalah sebagai berikut;
1. Adanya visi
2. Adanya misi
3. Adanya rumusan masalah
4. Adanya rumusan penyebab masalah
5. Adanya rumusan prioritas masalah
6. Adanya rumusan kegiatan
7. Adanya asumsi/peramalan sumber daya.
8. Adanya strategi pendekatan
9. Adanya kelompok sasaran
10. Adanya waktu pelaksanaan program
11. Adanya organisasi dan tenaga pelaksana
12. Adanya rincian pembiayaan
13. Adanya target program
14. Adanya indikator keberhasilan
15. Adanya tindakan pengawasan
16. Adanya metoda penilaian

V. Langkah Perencanaan
Menurut Suhadi and Rais M.K, (2018) dalam menyusun perencanaan kesehatan, tim
perencana puskesmas harus mengetahui dan memahami langkah yang tepat sehingga
perencanaan tersebut dapat berjalan dengan baik. Umumnya perencanaan dilakukan secara
berurutan, suatu tahapan perencanaan tidak saling mendahului dalam pelaksanaanya artinya
suatu langkah tidak dapat dilakukan sebelum langkah yang mendahuluinya terlaksana. Bila
diurutkan keseluruhan langkah perencanaan maka Langkah-langkah tersebut secara sistematis
dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Melakukan kegiatan Identifikasi masalah kesehatan yang terjadi
2. Menetapkan Perumusan masalah kesehatan yang dihadapi
3. Menetapakan prioritas masalah kesehatan yang dipilih
4. Menentukan tujuan perencanaan yang dilakukan
5. Menentukan apa yang menjadi alternatif pemecahan masalah kesehatan tersebut
6. Memilih alternatif pemecahan masalah yang paling baik
7. Menyusun rencana operasional pemecahan masalah atau program kerja
8. Menyusun kebutuhan sumber daya kesehatan yang diperlukan
9. Pelaksanaan program kesehatan yang telah direncanakan
10. Melakukan Pengawasan dan pengendalian program kesehatan
11. Melakukuan Evaluasi untuk memastikan hasil capaian program
12. Menyusun feed back untuk perbaikan dan kesinambungan pelaksanaan program
kesehatan yang sedang dikerjakan
BAB 5
LEMBAGA PENGELOLA OBAT DAN PERBEKALAN KESEHATAN PUBLIK
KAB/KOTA DAN PROVINSI

F. Bentuk Organisasi
Mengapa perlu organisasi pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan di tingkat
wilayah Prov/Kab/Kota ? Tidaklah mudah memenuhi kebutuhan dan permintaan obat untuk
pelayanan kesehatan, utamanya pada pelayanan kesehatan yang sangat vital maupun
pelayanan yang bersifat darurat. Untuk memudahkan dan membantu terciptanya pelayanan
yang efektif, efisien dan bermutu maka perlunya di bentuk organisasi pengelolaan obat dan
alat kesehatan. Umumnya pada sebuah daerah Prov/Kab/Kota, telah menyediakan unit
pengelolah tehnis yang menyelenggarakan penyediaan, dan pendistribusian obat dan
perbekalan kesehatan.
Dalam pembentukan organisasi Unit Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan perlu
disesuaikan dengan Pola Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota. Mengapa hal
ini dilakukan ? Sebab yang memiliki wewenang dan tugas pengelolaan baik bentuk,
pengeloaan ketenagaan, pembiayaan, sistem penggajian, pembinaan, pengawasan dan
manajemen pelayanan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah setempat dalam hal ini
Gubernur, Bupati dan Walikota.
Menurut Depkes RI (2005) Bentuk organisasi unit pengelola obat publik dan
perbekalan kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut :
Pola Organisasi Unit Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan sesuai dengan Pola
Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota
No. Uraian Tugas Pola Maksimal Pola Minimal UPT-Lain
1. Penanggung jawab  Subdin/Bidang  Seksi Obat  UPTD
Unit Pengelola Obat Farmasi Farmasi
Publik dan Perbekalan  Subdin/Bidang  GFK
Kesehatan Yankes  Inst. Farmasi

2. Pelaksanaan  Seksi Obat  Petugas  Subsie


Pendistribusian dan Pendistribusi Pendistribusia
Penyimpangan an n
3. Pelaksana Pencatatan,  Seksi Obat  Petugas  Subsie
Pelaporan dan Evaluasi  Seksi Evaluasi Evaluasi Evaluasi
4. Pelaksana penyedia  Seksi Obat  Petugas  Subsie
informasi obat, Pemantauan Pemantauan
pelatihan dan
monitoring
penggunaan obat
rasional
5. Pelaksana  Staf Sie Obat  Petugas  Subbag TU
Administrasi Umum Seksi Obat

G. Tugas Pokok dan Fungsi Unit Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
Pembentukan organisasi pengeloaan obat dan perbekalan kesehatan dengan tujuan
untuk memudahkan pelayanan kesehatan. Agar terciptanya pelayanan yang optimal maka
tugas pokok dan fungsi Fungsi Unit Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan :
1. Melakukan perencanaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan sesuai kebutuhan
2. Melakukan pengadaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
3. Melakukan penyimpanan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
4. Melakukan pendistribusian Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
5. Melakukan pengendalian penggunaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
6. Melakukan pencatatan dan pelaporan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
7. Melakukan monitoring Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
8. Melakukan supervisi Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
9. Melakukan pemusnahan obat Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
10. Melakukan evaluasi Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
11. Mengadakan pembinaan dan pelatihan kepada unit pelayanan kesehatan tentang
pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan tingkat primer dan sekunder
12. Melakukan koordinasi dengan unit pelayanan kesehatan primer dan sekunder dalam
perencanaan dan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan, termasuk pengendalian
persediaan.

Adapun tugas pokok dan fungsi Unit Pengelola Obat publik dan perbekalan kesehatan
(Depkes RI, 2005);
1. UPOPPK di Provinsi/Kabupaten/Kota mempunyai tugas pokok melaksanakan semua
aspek pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, meliputi perencanaan
kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian penggunaan,
pencatatan pelaporan, monitoring, supervisi dan evaluasi. Termasuk didalamnya pelatihan
pengelolaan obat serta melakukan koordinasi dalam perencanaan dan pengadaan obat dan
perbekalan kesehatan.
2. UPOPPK di Provinsi/Kabupaten/Kota mempunyai fungsi antara lain :
a. Melakukan seleksi obat publik dan perbekalan kesehatan untuk pelayanan kesehatan
dasar.
b. Melakukan perhitungan kebutuhan obat publik dan perbekalan kesehatan untuk
pelayanan kesehatan dasar.
c. Pro-aktif membantu perencanaan dan pelaksanaan pengadaan obat dan perbekalan
kesehatan di Kabupaten/Kota.
d. Melakukan penerimaan obat publik dan perbekalan kesehatan yang berasal dari
berbagai sumber anggaran.
e. Melakukan penyimpanan obat publik dan perbekalan kesehatan dari berbagai sumber
anggaran.
f. Melakukan pendistribusian obat publik dan perbekalan kesehatan yang berasal dari
berbagai sumber anggaran sesuai dengan permintaan dari pemilik program atau
permintaan unit pelayanan kesehatan.
g. Melakukan pencatatan pelaporan obat publik dan perbekalan kesehatan serta obat
program kesehatan yang menjadi tanggung jawabnya.
h. Melakukan monitoring, supervisi dan evaluasi pengelolaan obat publik dan
perbekalan kesehatan pada unit pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya.
i. Melaksanakan kegiatan pelatihan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan
serta penggunaan obat rasional bagi tenaga kesehatan di unit pelayanan kesehatan
dasar.
j. Melaksanakan kegiatan bimbingan teknis pengelolaan obat publik dan perbekalan
kesehatan serta pengendalian penggunaan obat di unit pelayanan kesehatan dasar.
k. Melaksanakan kegiatan administrasi unit pengelola obat publik dan perbekalan
kesehatan.
l. Melaksanakan tugas lain yang diberikan unit vertikal di atasnya.
H. Tenaga Pelaksana Sebagai Perangkat Organisasi
Agar fungsi pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan dapat berjalan
dengan baik, maka unit pengelolah Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan harus
merencanakan dan melakukan rekrutmen tenaga kesehatan sebagai pelaksana tugas tersebut.
Umumnya rekrutmen tenaga pelaksana di lakukan oleh pemerintah setempat sesuai dengan
kebutuhan tenaga baik jenis, jumlah, kualifikasi dan keahlian yang dimiliki. Cara lain untuk
memenuhi kebutuhan tenaga dapat dilakukan dengan sistem kontrak dan mutasi pegawai.
Beberapa pegawai yang dibutuhkan diantaranya sarjana Apoteker, Sarjana Farmasi, sarjana
D3 Farmasi, SAA/SMF dan berpendidikan SMU.
Menurut Depkes RI (2005) Agar organisasi yang tersedia dapat berjalan lancar, maka
diperlukan tenaga yang sesuai dengan jenis pekerjaan tersebut. Adapun tenaga yang
dibutuhkan untuk memperlancar jalannya organisasi adalah tenaga lulusan :
1. Apoteker
2. Sarjana Farmasi
3. D3 Farmasi
4. SAA/SMF
5. SMU
Jumlah tenaga yang tersedia dalam jumlah yang memadai akan memudahkan organisasi
mencapai tujuan, adapun jenis dan jumlah tenaga yang sebaiknya tersedia adalah :
1. Kepala/Penanggung Jawab Unit Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan adalah
seorang Apoteker.
2. Pelaksana pendistribusian dan penyimpanan obat publik dan perbekalan kesehatan adalah
Apoteker/Sarjana Farmasi/D3 Farmasi atau Asisten Apoteker dengan jumlah minimal 1
(satu) orang dan dapat dibantu oleh tenaga lulusan SMU.
3. Pelaksana evaluasi, pencatatan dan perencanaan kebutuhan obat publik dan perbekalan
kesehatan adalah Apoteker/Sarjana Farmasi/ D3 Farmasi atau Asisten Apoteker dengan
jumlah minimal 1 (satu) orang dan dapat dibantu oleh tenaga lulusan SMU.
4. Pelaksana penyedia informasi obat, pelatihan dan monitoring penggunaan obat rasional
adalah seorang Apoteker/Sarjana Farmasi/ D3 Farmasi atau Asisten Apoteker dan dibantu
oleh tenaga lulusan SMU.
5. Pelaksana Administrasi :
a. Administrasi Umum adalah tenaga lulusan D3 dan atau lulusan SMU sesuai dengan
kebutuhan dan tenaga yang tersedia.
b. Bendahara adalah seorang tenaga lulusan D3 atau SMU.

I. Pengembangan Tenaga Unit Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan


Pengembangan tenaga Unit Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan sesuai
dengan Pola Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota di maksudkan untuk
meningkatkan pengetahuan, pendidikan dan keahlian mereka dalam mengelolah dan
menyelesaikan tugas-tugas tersebut secara optimal.
Pengembangan tenaga Unit Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan sesuai
dengan Pola Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota dilakukan dengan
beberapa bentuk :
1. Pendidikan dengan lanjut studi kejenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Studi lanjut ini diberikan kepada tenaga kerja untuk meningkatkan jenjang pendidikan
mereka. Misalnya sebelumnya berpendidikan D3 studi lanjt ke S1
2. Pelatihan
Pelatihan diberikan untuk meningkatkan pengetahuan tenaga kerja, sehingga membantu
memperkenalkan ilmu dan tekonologi terbaru yang akan mempermudah tenaga kerja
dalam menyelesaikan pekerjaan
3. Bimbingan tehnis
Bimbingan tehnis dilakukan kepada tenaga kerja dengan tujuan menjelaskan dan
menanamkan keahlian pada suatu ilmu terapan tertentu. Misalnya perhitungan kebutuhan
obat dengan menggunakan aplikasi komputer.
4. Bancmarking
Bancmarking adalah kegiatan yang dilakukan berupa kunjungan dan observasi lapangan
pada suatu daerah dengan tujuan untuk mengetahui model, konsep dan tehnik pada suatu
program tertentu
Menurut Depkes RI (2005) Selain pendidikan formal seperti yang tersebut di atas
diperlukan pula pendidikan fungsional dalam melaksanakan pengelolaan obat publik dan
perbekalan kesehatan di Kabupaten/Kota. Adapun pelatihan minimal yang sebaiknya diikuti
oleh tenaga tersebut antara lain :
a. Unit Apoteker penanggung jawab pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan di
Kabupaten/Kota sebaiknya mengikuti pelatihan berikut :
 Pengelolaan obat di Kabupaten/Kota
 Perencanaan dan pengelolaan obat terpadu
 Pengelolaan obat di Puskesmas
 Penggunaan obat rasional
 Pemanfaatan data LPLPO
 Pengelolaan obat program kesehatan di Kabupaten/Kota
 Manajemen umum (keuangan, administrasi)
 Komputer (spread sheet, word prosessor).
b. Untuk Apoteker/Sarjana Farmasi/D3 Farmasi atau Asisten Apoteker pelaksana
pendistribusian dan penyimpanan sebaiknya mengikuti pelatihan :
 Pengelolaan obat di Kabupaten/Kota
 Pengelolaan obat di Puskesmas
 Perencanaan dan pengelolaan obat terpadu
 Pemanfaatan data LPLPO
 Komputer (spread sheet, word prosessor)
c. Untuk Apoteker/Sarjana Farmasi/D3 Farmasi atau Asisten Apoteker pelaksana evaluasi,
pencatatan dan perencanaan kebutuhan sebaiknya mengikuti pelatihan :
 Pengelolaan obat di Kabupaten/Kota
 Perencanaan dan pengelolaan obat terpadu
 Pemanfaatan data LPLPO
 Komputer (spread sheet, word prosessor)
d. Untuk Apoteker/Sarjana Farmasi/D3 Farmasi Atau Asisten Apoteker penyedia informasi
obat, pelatihan dan monitoring penggunaan obat rasional sebaiknya mengikuti pelatihan :
 Pemanfaatan data LPLPO
 Penggunaan obat rasional
 Supervisi penggunaan obat di Puskesmas
 Komputer (spread sheet, word prosessor)
e. Untuk D3 Farmasi/Asisten Apoteker sebaiknya mengikut pelatihan
 Pencatatan pelaporan obat publik dan perbekalan kesehatan
 Penyimpanan dan pendistribusian obat publik dan perbekalan kesehatan.
 Pengenalan LPLPO
 Dasar-dasar komputer
f. Untuk Sarjana lain/D3/SMU sebaiknya mengikuti pelatihan :
 Dasar-dasar komputer
 Administrasi umum
 Kursus dasar bendaharawan

J. Anggaran
Anggaran logistik adalah biaya yang harus disediakan untuk kegiatan pelayanan kesehatan.
Ketersediaan anggaran akan mempengaruhi efektifitas pelayanan. Olehnya itu dalam
penyediaan anggaran operasional dan pelayanan beberapa hal yang harus diperhatikan ;
1. Perencanaan anggaran
2. Kecukupan anggaran
3. Ketersediaan anggaran
4. Sumber pendanaan
5. Besarnya alokasi anggaran
6. Pencatatan dan pelaporan keuangan
Dalam pengalokasian dan penetapan anggaran beberapa hal yang menjadi pertimbangan :
1. Proporsional anggaran
2. Prioritas program yang akan dikerjakan
3. Besarnya kebutuhan tiap program
4. Jenis-jenis biaya pelayanan
5. Jenis-jenis biaya pengembangan
Menurut Depkes RI (2005) adapun anggaran yang dibutuhkan oleh UPOPPK di
Provinsi/Kabupaten/Kota dapat dikategorikan sebagai berikut :
1. Kebutuhan Anggaran Rutin
Kebutuhan anggaran rutin UPOPPK di Provinsi/Kabupaten/Kota antara lain :
a. Daya dan jasa, meliputi :
 Telepon, listrik, air, gas
b. Pemeliharaan meliputi :
 Gedung dan halaman
 Kendaraan roda empat dan roda dua
 Komputer, printer, facsimile
c. ATK dan Penyediaan Barang Cetakan, meliputi :
 Alat Tulis Kantor
 Penyediaan Kartu Stok
 Penyediaan Kartu Induk Barang
 Penyediaan Form LPLPO Unit Pelayanan Kesehatan Dasar
d. Pengolahan Data
e. Gaji pegawai, termasuk honor Satpam penjaga gedung UPOPPK di
Provinsi/Kabupaten/Kota.
2. Kebutuhan pengembangan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan meliputi :
a. Pelatihan Pengelola Obat di Puskesmas dan Penggunaan obat Rasional. Kebutuhan
dana sesuai dengan jumlah unit pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja.
Pelaksanaan minimal satu tahun sekali, dengan lama kegiatan 1-2 hari.
b. Monitoring dan Evaluasi pengelolaan obat di Puskesmas dan penggunaan obat
rasional. Kebutuhan dana sesuai dengan jumlah unit pelayanan kesehatan yang ada di
wilayah kerja. Pelaksanaan minimal satu tahun sekali, dan dilakukan sepanjang tahun
anggaran.
c. Pertemuan/Rapat kerja penyusunan kebutuhan obat
Kebutuhan dana sesuai jumlah anggota tim perencanaan obat terpadu, dilaksanakan
minimal 4 (empat) kali dalam setahun, dengan lama kegiatan 1-2 hari.
d. Penyampaian hasil monitoring
Kebutuhan dana sesuai dengan jumlah undangan, dilaksanakan minimal 4 (empat) kali
dalam setahun, dengan lama kegiatan 1-2 hari.
3. Sarana
Ketersediaan sarana yang ada di UPOPPK bertujuan untuk mendukung jalannya
organisasi. Adapun sarana minimal yang tersedia sebaiknya sesuai standar sarana
penyimpanan obat dan perbekalan kesehatan dengan jumlah disesuaikan jumlah unit
pelayanan kesehatan yang dilayani.
BAB 6
LANGKAH PERENCANAAN OBAT

E. Persiapan Perencanaan Obat


Sebelum melakukan kegiatan perencanaan obat, beberapa hal yang harus diketahui oleh
seorang perencana :
1. Seorang perencana harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup sehubungan
dengan bidang perencanaan yang akan dikerjakannya. Misalnya seorang perencana harus
mengetahui pentingnya perencanaan obat bagi pelayanan, langkah perencanaan obat, sistem
informasi perencanaan obat dan lain sebagainya
2. Apakah dalam perencanaan obat di dukung dengan ketersediaan data dan informasi obat.
Ketersediaan data dan informasi menjadi acuan dalam merumuskan perencanaan tersebut,
sebab semakin lengkap data dan informasi maka memudahkan perencana mencari sumber-
sumber referensi.
3. Apakah dalam perencanaan mendapat dukungan pihak manajemen, hal ini berkaitan dengan
terciptanya koneksitas antara satu bagian dengan elemen lain yang turut terlibat dalam
perencanaan yang akan di susun
4. Apakah perencanaan sejalan dengan visi dan misi lembaga tersebut, hal ini dilakukan untuk
memastikan bahwa tidak terjadi tumpang tindih dalam perencanaan.
5. Dalam perencanaan diperlukan kerja tim dan koordinasi yang baik antar satu bagian dengan
bagian lain dalam pelayanan baik di Rumah sakit maupun puskesmas
6. Dalam melakukan perencanaan sebaiknya tenaga perencana memiliki acuan perundang-
undangan sebagai dasar legalitas dan pedoman menyusun perencanaan, sebab kegiatan
perencanaan barang pelayanan publik telah diatur oleh pemerintah.

F. LANGKAH PERENCANAAN OBAT


Langkah perencanaan obat meliputi ;
1. Colection Of ruler legal and concept teoritical
Kumpulkan pedoman perencanaan baik berpedoman pada ketetapan peraturan pemerintah
maupun konsep teoritis yang ada. Hal ini dilakukan untuk memudahkan perencana dalam
menyusun suatu perencanaan secara benar.
Misalnya; UU atau peraturan pemerintah, buku teori perencanaan obat, dll
2. Need Assement
Setelah pedoman acuan dikumpulkan maka langkah berikutnya adalah need assesment. Need
assesment berupa kegiatan pengumpulan data-data atau dokumen tentang pemakaian obat di
tiap pelayanan rawat inap, rawat jalan, instalasi farmasi dan gawat darurat rumah sakit dan
puskesmas. Misalnya data penggunaan obat di Poli gigi, poli anak, poli kandungan dll.
Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan melakukan wawancara langsung kepada
petugas, dan copy dokumen penggunaan obat. Dalam penggumpulan data hendaknya
menggunakan pedoman pengumpulan data untuk memudahkan pengambilan data, mencegah
data yang tidak diperlukan dan memandu pengambil data untuk bekerja secara tepat.
3. Analysis of Data
Setelah pengumpulan data dilakukan maka langkah selanjutnya melakukan analisis data obat
dengan melihat data-data obat tiap bagian pelayanan RS dan puskesmas.
Analisa data obat meliputi;
b. Analisis jumlah ketersediaan obat tiap bagian pelayanan
c. Analisis jumlah penggunaan obat tiap bagian pelayanan
d. Analisis jumlah ketersediaan obat kadarwarsa tiap bagian pelayanan
e. Analisis jumlah kekurangan obat tiap bagian pelayanan
f. Analisis jumlah kerusakan obat tiap bagian pelayanan
g. Analisis jumlah obat yang telah di hapus
4. Analysis of drug needs
Langkah selanjutnya menentukan kebutuhan obat berdasarkan analisis data obat yang ada.
Contoh analisis kebutuhan obat, dibuat dalam bentuk tabel ;
No Ketersediaan Asumsi jumlah Bulan Asumsi jumlah Bulan
Jenis (6 bulan Kekurangan obat kebutuhan obat
Obat kedepan) (6 bulan kedepan) (6 bulan kedepan)
1 A Cukup 0 0
2 B Kurang 3 Bulan 3 Bulan
3 C Cukup 0 0
4 D Kurang 3 Bulan 3 Bulan
5 E Kurang 3 Bulan 3 Bulan
5. Do the formulation of planning
Pada tahap merumuskan perencanaan obat seorang perencana harus memiliki acuan dan
mengetahui metode yang digunakan dalam perencanaan obat. Beberapa metode perencanaan
obat dapat dibahas pada bab 7 (Tujuh)
G. PELAKSANA PERENCANAAN OBAT KESEHATAN
Menurut Kepmenkes RI (2008) tim perencanaan obat dan pembekalan kesehatan terpadu di
kabupaten/kota dibentuk melalui surat keputusan Bupati/Walikota. Perencanaan obat meliputi;
1. Susunan Tim Teknis Perencanaan Obat dan Perbekalan Kesehatan Terpadu
Kabupaten/Walikota.
Tim Perenca Terpadu terdiri dari :
Ketua : Kepada Bidang yang membawahi program kefarmasian di Dinas program
kefarmasian di Dinas Kesehatan Kabupaten /Kota.
Sekertaris : Kepala Unit Pengelola Obat Kabupaten /Kota atau Kepala Seksi Farmasi yang
menangani kefarmasian Dinas Kesehatan.
Anggota : Terdiri dari unsur-unsur unit terkait :
1) Unsur Sekertariat Daerah Kabupaten/Kota
2) Unsur Program yang terkait di Dinkes Kab/Kota
3) Unsur lainnya
2. Tugas dan Fungsi Tim Teknis Perencanaan Obat dan perbekalan Kesehatan Terpadu:
a. Ketua Mengkordinasikan kegiatan Tim Teknis Perencanaan Obat dan perbekalan
Kesehatan Terpadu.
b. Sekertaris mempersiapkan dafatar perencanaan dan pengadaan kebutuhan obat dan
perbekalan kesehatan
c. Uunsur sekretaris Daerah Kabupaten/Kota menyediakan informasi ketersediaan dana
APBD yang dialokasikan untuk obat dan perbekalan kesehatan.
d. Unsur Perbekalan Program Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota memberikan
informasi dan atau target sasaran program Kesehatan.
3. Kegiatan Tim perencanaan Obat dan perbekalan Kesehatan Terpadu.
Tim perencanaan obat dan perbekalan kesehatan terpadu melaksanaakan pertemuan-
pertemuan sesuai kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota untuk membahas :
a. Evaluasi semua aspek pengadaan obat dan perbekalan kesehatan tahun sebelumnya.
b. Evaluasi dilakukan terhadap ketersediaan anggaran, jumlah pengadaan dan sisa persediaan
di Kabupaten/kota.
c. Rencana Kabupaten/Kota didasarakan atas hasil estimasi kebutuhan obat untuk unit
pelayanan kesehatan dasar dan program kesehatan untuk tahun berikutnya yang ditetapkan
berdasarkan data yang disampaikan oleh unit pelayanan kesehatan.
d. Rencana kebutuhan obat dan perbekalan kesehatan tersebut dibahas pada rapat tim untuk
penyempurnaan perencanaan kebutuhan obat perbekalan kesehatan.
e. Hasil rapat adalah disepakitinya jenis dan jumlah obat dan perbekalan kesehatan yang
dibutuhkan, serta jumlah kebutuhan dana untuk tahun anggaran yang akan dilaksanakan,
sekaligus sebagai masukan dalam rakorbang Kabupaten/Kota untuk mendapatkan
pemecahan masalah mengenai kebutuhan dana.
f. Pertemuan terakhir dilaksanakan setelah gambaran alokasi dari berbagai sumber anggaran
diketahui.
4. Langkah-Langkah Perencanaan Obat Dan perbekalan Kesehatan Terpadu, yaitu:
a. Penyusunan Rencana Kerja Operasional (Plan Of Action).
Agar kegiatan dalam perencanaan pengadaam obat dan perbekalan kesehatan dapat
dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan, maka perlu ditetapkan jadwal kegiatan
yang selanjutnya disajikan dalam rencana kerja operasional (plan of action) untuk
perencanaan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan di Kabupaten/Kota.
b. Penyusunan rencana kerja operasiaonal dengan jenis kegiatan dimulai dari persiapan
perencanaan, pelaksanaan perencanaa dan pengendalian perencanaan yang dilanjutkan
dengan penyusunan Rencana Kerja Operasional untuk pengadaan, Pelaksanaan pengadaan
dan pengendalian pengadaan dengan menggunakan (Formulir 1), dan masing-masing
kolom diisi :
Kolom 1 : Nomor urut Kegiatan .
Kolom 2 : Jenis Kegiatan pokok yang akan dilaksanakan.
Kolom 3 : Uraian dari masing-masing kegiatan pokok.
Kolom 4 : Pelaksana / penanggung jawab kegiatan.
Kolom 5 : Instansi terkait.
Kolom 6: Waktu pelaksanaan masing-masing kegiatan
c. Melaksanakan perncanaan obat dan perbekalan kesehatan.
Formulir 1
Rencana Kerja Operasional (PLAN OF ACTION)
Tahun :
No PONDOK URAIAN PELAKSANAAN/ INSTANSI JAN FEB MART APRIL MEI JUNI JULI AGT SEPT OKT NOV DES
KEGIATAN KEGIATAN PENANGGUNGAN TERKAIT
JAWAB
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
I PERENCANAAN
a.. Persiapan

b. Pelakasanaan

c. Pengendalian

II PENGADAAN
a. Persiapan

b. Pelaksanaan

c. Pengendalian
Menurut Depkes RI (2004) kebutuhan obat di puskesmas direncanakan oleh petugas
pengelola obat secara berkala setiap periode kebutuhan. Data mutasi obat yang dilakukan di
puskesmas dalam bentuk Lembar Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO)
merupakan sumber data/informasi penting dalam merencanakan kebutuhan obat baik untuk
kebutuhan puskesmas itu sendiri maupun untuk kebutuhan Kabupaten dalam merencanakan
kebutuhan obat tahunan. Secara umum perencanaan kebutuhan obat meliputi kegiatan : (1)
Evaluasi penggunaan obat periode yang lalu. (2). Perhitungan kebutuhan obat dengan metode
konsumsi atau metode morbiditas. (3). Membuat rencana usulan permintaan obat dengan
memperhatikan sisa stok. (4). Mengusulkan kebutuhan obat ke Kabupaten/Kota.

d. PROSES PERENCANAAN OBAT .


Menurut Kepmenkes RI (2008) proses perencanaan pengadaan obat diawali dengan
kompilasi data yang di sampaikan puskesmas kemudian oleh instalasi farmasi kabupaten/Kota
diolah menjadi rencana kebutuahan obat dengan menggunakan teknik-teknik perhitungan
tertentu;
1. Tahap Pemilihan Obat.
Fungsi pemilihan obat adalah untuk menentukan obat yang benar-benar diperlukan
sesuai dengan pola penyakit. Untuk mendapatkan perencanaan obat yang tepat sebaiknya di
awali dengan dasar-dasar seleksi kebutuhan obat yang meliputi :
a. Obat dipilih berdasarkan seleksi ilmiah, medik dan statistik yang memberikan efek terapi
jauh lebih baik dibandingkan resiko efek samping yang akan ditimbulkan.
b. Jenis obat yang dipilih seminimal mungkin, hal ini untuk menghindari duplikasi dan
kesamaan jenis. Apabila terdapat beberapa jenis obat dengan indikasi yang sama dalam
jumlah banyak, maka kita memilih berdasarkan Drug of Choice dari penyakit yang
prevalensinya tinggi.
c. Jika ada obat baru, harus ada bukti yang spesifik untuk efek terapi yang lebih baik.
d. Hindari penggunaan obat kombinasi kecuali jika obat tersebut mempunyai efek yang lebih
baik dibandingkan obat tunggal.
Kriteria pemilihan obat :
Sebelum melakukan perencanaan obat perlu diperhatikan kriteria yang dipergunakan
sebagai acuan dalam pemilihan obat, yaitu :
a. Obat merupakan kebetulan untuk sebagian besar populasi penyakit
b. Obat memiliki keamanan dan khasiat yang didukung dengan bukti ilmiah
c. Obat memiliki manfaat yang maksimal dengan resiko yang minimal
d. Obat mempunyai mutu yang terjamin baik ditinjau dari segi stabilitas maupun
bioavailibilitasnya
e. Biaya pengobatan mempunyai rasio antara manfaat dan biaya yang baik
f. Dalam hal terdapat obat lebih dari satu pilihan yang memiliki efek terapi yang serupa maka
pilihan diberikan kepada obat yang sifatnya paling banyak diketahui berdasarkan data
ilmiah. Sifat farmako kinetiknya diketahui paling banyak menguntungkan. Stabilitas yang
paling baik. Paling mudah diperoleh.
g. Harga terjangkau
h. Obat sedapat mungkin sediaan tunggal.
Untuk menghindari resiko yang mungkin terjadi harus mempertimbangkan :
a. Kontra indikasi
b. Peringatan dan perhatian.
c. Efek samping.
d. Stabilitas.
Pemilihan obat didasarkan pada obat generik terutama yang tercantum dalam daftar
obat Ensesial Nasional (DOEN) dengan berpedoman pada harga yang ditetapkan oleh Mentri
Kesehatan yang masih berlaku.
2. Tahap Kompilasi Pemakain Obat.
Komplikasi pemakain obat adalah rekapitulasi data pemakaian obat di unit pelayanan
kesehatan, yang bersumber dari laporan pemakaian dan lembar permintaan (LPLPO). Contoh
Formulir LPLPO (Formulir 2). Kompilasi pemakaian obat dapat digunakan sebagai dasar
untuk menghitung stok optimun.
Informasi yang diperbolehkan adalah :
a. Pemakaian tiap jenis obat pada masing-masing unit pelayanan kesehatan/puskesmas
pertahun.
b. Persentase pemakaian tiap jenis obat terhadap total pemakaian setahun seluruh unit
pelayanan kesehatan/puskesmas.
c. Pemakaian rata-rata untuk setiap jenis obat untuk tingkat Kabupaten/Kota secara periodik.
Formulir 2
LAPORAN PEMAKAIAN DAN LEMBARAN PERMINTAAN OBAT ( LPLPO )
PUSKESMAS............................
Puskesmas :............................... Pelaporan Dokumen Nomor Tanggal bulan/periode
Kecamatan :............................... permintaan Dinkes Kab/Kota bulan/perode
Kab/Kota :............................... GFK Kab/Kota
Puskesmas
Propinsi :...............................
d.
No Nama satuan Stok peneri persedi pemak Stok Stok permi Pendanaan Jumlah Kel.
e. obat awal maan aan aian akhir optimu ntaan
m
f. Askes APB APB PKPS-BBM Program Lain- 17=11+12+13+14+15+16
g. D1 D II lain
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
h.
i.

Mengetahui/ menyetujui yang menyerahkan Yang menulis yang menerimah


Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota Kepala GFK Kepala puskesmas petugas puskesmas

Nip No Nip Nip

Keteranagan
Lampiran 1 Dinkes/kab/kota Lampiran 3 GFK.KOTA Lampiran 1 Diinkes kab/kotaz
Lampiran 2 dinkes kab/kota LAMPIRAN 4 ASKES LAMPIRAN 2 Dinkes kab/kota

Jumlah UMUM ASKES JUMLAH


kunjungan BAYAR TIDAK
resep BAYAR
Kegiatan yang harus dilakukan :
Pengisian formulir kompilasi pemakaian obat (Formulir 3) dengan cara :
Jenis obat : Nama obat dan jenis preparatnya. Contoh : Amoksilin 500 mg kaplet.
Kolom 1 :Nomor urut unit pelayanan kesehatan dalam daftar
Kolom 2 :Nama unit pelayanan kesehatan yang dilayani oleh unit pengelola Obat
Kab/Kota.
Kolom 3 s/d 14 :Data pemakaian obat bersangkutan di masing-masing unit pelayanan
Kesehtan (UPK ) termaksud perhitungan untuk menutup kekosongan obat
di tingkat unit pelayanan kesehatan. Data diperoleh dari kolom pemakaian
(7) dari formulir LPLPO yang dilaporkan oleh unit pelayanan kesehatan.
Kolom 16 :Data pemakaian rata-rata obat perbulan (Kolom 15 dibagi dengan 12)
Kolom 17 :Persentase masing-masing kolom (15) terhadap total kolom (15),
dilakukan pada akhir tahun.
Baris lain-lain :Digunakan untuk mencatat pemakaian obat diluar keperluan distribusi
rutin ke masing-masing UPK. Hal ini mencakup pengeluaran kegiatan
sosial oleh sektor lain, misalnya : kejadian luar biasa (KLB), bencana
alam, dll.
Formulir 3
KARTU KOMPILASI PEMAKAIAN OBAT/PERBEKALAN KESEHATAN
Jenis Obat/Perb.Kes :
No. Unit Pelayanan Jan Feb Maret April M Juni Juli Agt Sep Okt Nov Des Total Rata-rata %
Kes ei
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Lain-lain
Total
3. Tahap Perhitungan Kebutuhan Obat .
Dalam merencanakan kebutuhan obat perlu dilakukan perhitungan secara tetap.
Perhitungan kebutuhan obat dapat dilakukan dengan menggunakan metode konsumsi dan atau
metode morbiditas.
4. Tahap Proyeksi Kebutuhan Obat
Proyeksi Kebutuhan Obat adalah perhitungan kebutuhan obat secara komprehensif
dengan memperhitungkan data pemakaian obat dan jumlah sisa stok pada periode yang masih
berjalan dari berbagai sumber anggaran.
5. Tahap Penyesuaian Rencana Pengadaan Obat.
Dengan melaksanakan penyesuaian rencana pengadaan obat dengan jumlah dana yang
tersedia maka informasi yang didapat adalah jumlah rencana pengadaan obat dengan jumlah
dana yang tersedia maka informasi yang didapat adalah jumlah rencana pengadaan, skala
prioritas masing-masing jenis obat dan jumlah dana yang tersedia maka informasi yang di
dapat adalah jumlah yang rencana pengadaan, skala prioritas masing-masing jenis obat dan
jumlah kemasan, untuk rencana pengadaan obat tahun yang akan datang.
BAB 7
METODE PERENCANAAN KEBUTUHAN OBAT

A. Metode Konsumsi dan Morbiditas


Metode perencanaan kebutuhan adalah cara atau tehnis dalam merumuskan dan menetukan
kebutuhan obat sehingga dapat diperoleh rancangan kebutuhan obat untuk periode tertentu.
Berdasarkan metode tertentu maka tenaga perencana akan memilih metode yang tepat dan sesuai
dengan yang diinginkan. Metode inilah yang akan membantu dalam perencanaan obat. Secara
konseptual banyak metode yang digunakan oleh perencana. Misalnya metode konsumsi dan
metode morbiditas. Antara metode konsumsi dan metode morbiditas masing-masing mempunyai
kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, dalam pemilihan kedua metode tersebut, seorang
perencana hendaknya mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi diluar
kemungkinan yang tidak diinginkan.
Menurut Kepmenkes RI (2008) dalam merencanakan kebutuhan obat perlu dilakukan
perhitungan secara tetap. Perhitungan kebutuhan obat dapat dilakukan dengan menggunakan
metode konsumsi dan atau metode morbiditas.
a. Metode Konsumsi
Metode konsumsi adalah metode yang didasarkan atas analisis data konsumsi obat tahun
sebelumnya. Untuk menghitung jumlah obat yang dibutuhkan berdasarkan metode konsumsi
yang perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Pengumpulan data dan pengolahan data .
2) Analisa data untuk informasi dan evaluasi
3) Perhitungan perkiraan kebutuhan obat
4) Penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana.
Untuk memperoleh data kebutuhan obat yang mendekati ketetapan, perlu dilakukan analisa
trend pemakaian obat 3 (tiga) tahun sebelumnya atau lebih.
Data yang perlu dipersiapkan untuk diperhitungan kebutuhan obat dengan metode konsumsi :
1) Daftar obat
2) Stok awal
3) Penerimaan
4) Pengeluaran
5) Sisa stok
6) Obat hilang/rusak, kadaluarsa
7) Kekosongan obat.
8) Pemakain rata-rata/pergerakan obat pertahun
9) Waktu tunggu
10) Stok pengaman
11) Perkembangan pola kunjungan
Menurut Depkes RI (2004) untuk merencanakan kebutuhan obat yang akan datang
dapat digunakan metode Konsumsi. Menghitung kebutuhan obat didasarkan atas analisa data
konsumsi periode sebelumnya. Untuk menghitung jumlah obat yang dibutuhkan perlu
diperhatikan (1) Pengumpulan dan pengolahan data. (2). Analisa data untuk informasi dan
evaluasi. (3). Perhitungan perkiraan kebutuhan obat. Jenis data yang diperlukan untuk
menghitung kebutuhan obat dengan menggunakan metode konsumsi adalah Daftar obat, Stok
awal, Penerimaan, Pengeluaran, Sisa stok obat, Obat hilang, rusak, kadaluarsa, Waktu
kekosongan obat, Waktu tunggu, Pemakaian rata-rata, Stok penyangga/pengaman dan
Perkembangan pola kunjungan. Sumber data untuk merencanakan obat tersebut dapat
diperoleh melalui; LPLPO, Kartu stok, Catatan harian mutasi obat, Catatan obat rusak,
kadaluarsa, dan hilang.

b. Metode Morbiditas
Metode morbiditas adalah perhitungan kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah perkembangan pola penyakit, waktu tunggu, dan
stok pengaman.
Langkah-langkah perhitungan metode morbiditas adalah :
1) Menetapkan pola morbiditas penyakit berdasarkan kelompok umur penyakit. Kegiatan
yang harus dilakukan :
Pengisian (Formulir 4) terlampir dengan masing-masing kolom diisi:
Kolom 1 : Nomor urut
Kolom 2 : Nomor kode penyakit.
Kolom 3 : Nama jenis penyakit diurutkan dari atas dengan jumlah paling besar.
Kolom 4 : Jumlah penderita anak dibawah 5 tahun.
Kolom 5 : Jumlah penderita dewasa
Kolom 6 : Jumlah total penderita anak dan dewasa
2) Menyiapkan data populasi penduduk.
Komposisi demografi dari populasi yang akan diklasifikasikan berdasarkan jenis kelamin
untuk umur antara :
 0 s/d 4 tahun .
 5 s/d 14 tahun.
 15 s/d 44 tahun
 45 tahun
3) Menyediakan data masing-masing penyakit pertahun untuk seluruh populasi pada
kelompok umur yang ada .
4) Menghitung frekuensi kejadian masing-masing penyakit pertahun untuk seluruh populasi
pada kelompok umur yang ada.
5) Menghitung jenis, jumlah, dosis, frekuensi dan lama pemberian obat menggunakan
pedoman pengobatan yang ada.
6) Menghitung jumlah yang harus diadakan untuk tahun anggaran yang akan datang
Formulir 4
DATA 10 PENYAKIT TERBESAR

No. No.Kode Nama Penyakit Jumlah Penderita Total


Anak Dewasa
1 2 3 4 5 6
Menurut Depkes RI (2004) metode morbiditas adalah perhitungan kebutuhan obat
didasarkan pada pola penyakit, perkiraan kenaikan kunjungan dan lead time. Langkah-langkah
yang dilakukan dalam metode ini adalah : menentukan jumlah penduduk yang akan dilayani,
Menentukan jumlah kunjungan kasus berdasarkan frekuensi penyakit, menyediakan
standar/pedoman pengobatan yang digunakan dan Menghitung perkiraan kebutuhan obat.
Adapun Jenis data yang diperlukan untuk perhitungan kebutuhan obat dengan metode
morbiditas adalah Perkiraan jumlah populasi, Komposisi demografi yang diklasifikasikan
untuk umur antara : 0 – 4 tahun; 5 – 14 tahun; 15 – 44 tahun; ≥ 45 tahun, menetapkan pola
morbiditas penyakit berdasarkan umur–penyakit, frekuensi kejadian masing-masing penyakit,
pedoman pengobatan untuk menghitung jumlah dan jenis obat, dan Menghitung perkiraan
kebutuhan obat
Menurut Depkes RI (2004) jenis data dan sumber data untuk merencanakan obat;
No Jenis Data Sumber Data
1. Jumlah pemakaian LPLPO (Sub unit) buku catatan / resep
2. Jumlah kunjungan Laporan penyakit (LB 1)
3. Pemakaian Riil Buku catatan / resep/ LPLPO
4. Lama kekosongan obat Buku catatan / LPLPO / kartu stok
5. Sisa stok LPLPO sub unit / buku catatan/ kartu stok
6. Data penyakit Laporan penyakit (LB 1)
7. Jumlah penduduk / Statistik
keadaan demografi
8. Jenis dan jumlah obat Buku pedoman pengobatan
yang diperlukan
9. Waktu tunggu (Lead Puskesmas / GFK
Time)
10. Jumlah pemakaian obat Lap. masing-masing program
program
11. Jumlah jenis Alkes LT 3

B. Metode ABC
Dalam perencanaan kebutuhan obat dikenal pula perhitungan obat dengan
menggunakan metode ABC. Analisis ABC adalah metode dalam manajemen persediaan
(inventory management) untuk mengendalikan sejumlah kecil barang, tetapi mempunyai nilai
investasi yang tinggi. Analisis ABC didasarkan pada sebuah konsep yang dikenal dengan
nama Hukum Pareto (Ley de Pareto), dari nama ekonom dan sosiolog Italia, Vilfredo Pareto
(1848-1923). Hukum Pareto menyatakan bahwa sebuah grup selalu memiliki persentase
terkecil (20%) yang bernilai atau memiliki dampak terbesar (80%). Pada tahun 1940-an, Ford
Dickie dari General Electric mengembangkan konsep Pareto ini untuk menciptakan konsep
ABC dalam klasifikasi barang persediaan. Berdasarkan hukum Pareto, analisis ABC dapat
menggolongkan barang berdasarkan peringkat nilai dari nilai tertinggi hingga terendah, dan
kemudian dibagi menjadi kelas-kelas besar terprioritas, biasanya kelas dinamai A, B, C, dan
seterusnya secara berurutan dari peringkat nilai tertinggi hingga terendah, oleh karena itu
analisis ini dinamakan “Analisis ABC”. Umumnya kelas A memiliki jumlah jenis barang yang
sedikit, namun memiliki nilai yang sangat tinggi (Quick dkk, 1997)
Menurut Quick dkk (1997) Analisis ABC digunakan untuk menganalisa tingkat
konsumsi semua jenis obat. Analisis ini mengenai 3 kelas yaitu:
a) A (Always)
Obat harus ada karena berhubungan dengan pengendalian dalam pengadaannya.
Persentase kumulatifnya antara 75%-80%. Kelas A tersebut menunjukkan 10%-20%
macam persediaan memiliki 70%-80% dari total biaya persediaan. Hal ini berarti
persediaan memiliki nilai jual yang tinggi sehingga memerlukan pengawasan ekstra dan
pengendalian yang harus baik
b) B (Better)
Kelas B, 20-40% item obat di rumah sakit dengan alokasi dana 10-15% dari keseluruhan
anggaran obat. Persentase kumulatifnya antara 80-95%
c) C (Control)
Obat mempunyai nilai yang rendah, yaitu sekitar 5% namun jumlah obat sangat
banyak, yaitu mencapai 60%. Karena obat selalu tersedia maka pengendalian pada tingkat
ini tidak begitu berat. Persentase kumulatifnya antara 95%-100%
Tabel. Pareto ABC

Kelompok Jumlah item Nilai


A 10-20 % item 80 %
B 20-40% item 15 %
C 60% item 5%

Menurut Kepmenkes RI (2008) beberapa teknik manajemen untuk meningkatkan


efektivitas dan efisiensi penggunaan dana dalam perencanaan kebutuhan obat adalah dengan
cara, analisa ABC. Berdasarkan berbagai pengamatan dalam pengelolaan obat, yang paling
banyak ditemukan adalah tingkat konsumsi pertahun hanya diwakili oleh relatif sejumlah kecil
item. Sebagai contoh, dari pengamatan terhadap pengadaan obat dijumpai bahwa sebagian
besar dana obat (70%) digunakan untuk pengadaan, 10% dari jenis/item obat yang paling
banyak digunakan sedangkan sisanya sekitar 90% jenis/item obat menggunakan dana besar
30%.
Oleh karena itu analisa ABC mengelompokkan item obat berdasarkan kebutuhan yaitu:
Kelompok A :
Kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana
sekitar 70% dari jumlah dana obat keseluruh.

Kelompok B:
Kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana
sekitar 20%.

Kelompok C :
Kelompok jenis obat yang sejumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan
dana sekitar 10% dari jumlah dana obat keseluruhan.

Langkah-langkah menentukan kelompok A, B, dan C :


1) Hitung jumlah dana yang dibutuhkan untuk masing-masing obat dengan cara mengalihkan
Jumlah obat dengan harga obat.
2) Tentukan rangkingnya mulai dari yang terbesar dananya sampai yang terkecil
3) Hitung presentasenya terhadap total dana yang dibutuhkan
4) Hitung kumulasi persennya
5) Obat kelompok A termasuk dalam kumulasi 70%
6) Obat kelompok B termasuk dalam kumulasi > 70% s/d 90%
7) Obat kelompok C termasuk dalam kumulasi > 90% s/d 100%
C. Analisa VEN
Metode lain dalam perencanaan obat adalah dengan menggunakan metode analisa
VEN. Seorang perencana dalam menyusun kebutuhan obat dengan melihat kriteria V = Vital,
E = Esensial dan N = Non Esensial. Menurut Quick dkk (1997) Analisis VEN merupakan
analisa yang digunakan untuk menetapkan prioritas pembelian obat serta menentukan tingkat
stok yang aman dan harga penjualan obat. Kategori dari obat-obat VEN yaitu:
a) V (Vital)
Merupakan obat-obat yang harus ada, yang diperlukan untuk menyelamatkan
kehidupan, masuk dalam kategori potensial life saving drug, mempunyai efek samping
withdrawl secara signifikan (pemberian harus secara teratur dan penghentiannya tidak
tiba-tiba) atau sangat penting dalam penyediaan pelayanan kesehatan. Kriteria nilai kritis
obat ini adalah kelompok obat yang sangat essensial atau vital untuk memperpanjang
hidup, untuk mengatasi penyakit penyebab kematian ataupun untuk pelayanan pokok
kesehatan. Pada obat kelompok ini tidak boleh terjadi kekosongan.
b) E (Essensial)
Merupakan obat-obat yang efektif untuk mengurangi rasa kesakitan, namun sangat
signifikan untuk bermacam-macam penyakit tetapi tidak vital secara absolut, hanya untuk
penyediaan sistem dasar. Kriteria nilai kritis obat ini adalah obat yang bekerja kausal
yaitu obat yang bekerja pada sumber penyebab penyakit dan yang banyak digunakan
dalam pengobatan penyakit terbanyak. Kekosongan obat kelompok ini dapat ditolelir
kurang dari 48 jam
c) N (Non Essensial)
Merupakan obat-obat yang digunakan untuk penyakit yang dapat sembuh sendiri
dan obat yang diragukan manfaatnya dibanding obat lain yang sejenis. Kriteria nilai krisis
obat ini adalah obat penunjang agar tindakan atau pengobatan menjadi lebih baik, untuk
kenyamanan atau untuk mengatasi keluhan. Kekosongan obat kelompok ini dapat ditolerir
lebih dari 48 jam
Menurut Kepmenkes RI (2008) Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi
penggunaan dana obat yang terbatas adalah dengan mengelompokkan obat yang didasarkan
kepada dampak tiap jenis obat pada kesehatan, semua jenis obat yang tercantum dalam daftar
obat di kelompokkan kedalam tiga kelompok berikut :
Kelompok V :
Kelompok obat yang vital, yang termasuk dalam kelompok ini antara lain :
 Obat penyelamat (life saving drugs),
 Obat untuk pelayanan kesehatan pokok (vaksin, dll),
 Obat untuk mengatasi penyaikt-penyakit penyebab kematian terbesar
Kelompok E :
Kelompok obat yang bekerja kausal, yaitu obat yang bekerja pada sumber penyebab penyakit.
Kelompok N:
Merupakan obat penunjang yaitu obat yang kerjanya ringan dan biasa dipergunakan untuk
menimbulkan kenyamanan atau untuk mengatasi keluhan ringan.
Penggolangan obat sistem VEN dapat digunakan untuk :
a. Penyesuaian rencana kebutuhan obat dengan alokasi dana yang tersedia. Obat-obatan yang
perlu di tambah atau dikurangi dapat didasarkan atas pengelompokan obat menurut VEN.
b. Dalam penyusunan rencana kebutuhan obat yang masuk dalam kelompok V agar
diusahakan tidak terjadi kekosongan obat. Untuk menyusun daftar VEN perlu ditentukan
lebih dahulu kriteria penentuan VEN. Kriteria sebaiknya disusun oleh suatu tim. Dalam
menentukan kriteria perlu dipertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Kriteria yang disusun dapat mencakup berbagai aspek antara lain ;
 Klinis
 Konsumsi
 Target kondisi
 Biaya
Langkah-langkah menentukan VEN
 Menyusun kriteria menentukan VEN
 Menyediakan data pola penyakit
 Merujuk pada pedoman pengobatan
D. METODE KOMBINASI ABC–VEN
Jenis obat yang termasuk kategori A (dalam analisis ABC) adalah benar-benar yang
diperlukan untuk menanggulangi penyakit terbanyak dan obat tersebut statusnya harus E dan
sebagian V (dari analisis VEN). Sebaliknya jenis obat dengan status N harusnya masuk dalam
kategori C (Maimun A, 2008)
Metode kombinasi ini digunakan untuk menetapkan prioritas pengadaan obat dimana
anggaran yang ada tidak sesuai kebutuhan. Metode kombinasi ini digunakan untuk melakukan
pengurangan obat. Mekanismenya adalah sebagai berikut (Maimun A, 2008):
a. Obat yang masuk kategori NC menjadi prioritas pertama untik dikurangi atau dihilangkan
dari rencana kebutuhan, bila dana masih kurang, maka obat kategori NB menjadi prioritas
selanjutnya dan obat yang masuk kategori NA menjadi prioritas berikutnya. Jika setelah
dilakukan dengan pendekatan ini dana yang tersedia masih juga kurang lakukan langkah
selanjutnya.
b. Pendekatan sama dengan pada saat pengurangan obat pada criteria NC, NB, NA dimulai
dengan pengurangan obat kategori EC, EB dan EA
BAB 8
PENERAPAN PERHITUNGAN KEBUTUHAN OBAT

D. Pehitungan Metode ABC


Penggunaan perhitungan kebutuhan obat dengan menggunakan analisa ABC, dengan
mengklasifikasikan persediaan obat menurut kategori ABC. Sebagaimana yang telah tercantum
dalam Kepmenkes RI (2008) disebutkan bahwa cara perhitungan analisa ABC berikut ini;
1. Hitung jumlah dana yang dibutukan untuk masing-masing obat dengan cara mengalikan
jumlah obat dengan harga obat.
Untuk memudahkan perhitungan maka sebaiknya dibuat dalam bentuk tabel :
Nama Obat Jumlah Obat Harga Obat Jumlah Harga Obat

Asammefenamat
Amoxicicilin
Paracetamol
Diazepam
Cotrimoksazol
Total Dana Yang dibutuhkan

2. Tentukan rangkingnya mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil.


Penentuan rangkingnya dilakukan dengan melihat harga obat, makin besar harga obat maka
makin tinggi rangkingnya, demikian sebaliknya makin rendah harga obat maka makin rendah
rangkingnya
Untuk memudahkan penentuan rangking maka sebaiknya dibuat dalam bentuk tabel :
Nama Obat Jumlah Obat Harga Obat Jumlah Rangking
Harga Obat
Ampicilin
Amoxicicilin
Paracetamol
Diazepam
Cotrimoksazol
Total Dana Yang dibutuhkan
3. Hitung persentasenya terhadap total dana yang dibutuhkan.
Penentuan persentase terhadap total dana yang dibutuhkan dilakukan dengan perhitungan
dengan menggunakan rumus;
Harga Obat (1)
Persentase Item obat (Obat 1-n) =------------------------------------------------------------ x 100 %
Total harga Obat

Untuk memudahkan penentuan persentasenya terhadap total dana yang dibutuhkan sebaiknya
dibuat dalam bentuk tabel :
Nama Obat Jumlah Obat Harga Obat Jumlah Persentase
Harga Obat
Ampicilin
Amoxicicilin
Paracetamol
Diazepam
Cotrimoksazol
Total Dana Yang dibutuhkan

4. Hitung kumulasi persennya.


Penentuan kumulasi persenya dengan menggunakan Kriteria;
a. Obat dengan kategori A termasuk dalam kumulasi 70 % (Kurang dibutuhkan)
b. Obat dengan kategori B termasuk dalam kumulasi 71 %-90 % (Dibutuhkan)
c. Obat dengan kategori C termasuk dalam kumulasi 91 %-100 % (Sangat dibutuhkan)

E. Perhitungan Metode Konsumsi


Perhitungan metode konsumsi dilakukan dengan melihat data penggunaan obat pada
periode sebelumnya. Pentingnya ketersediaan data pada Pelayanan kesehatan sangat dibutuhkan
sehingga diketahuinya ketersediaan dan penggunaan obat tersebut.
Menurut Kepmenkes RI (2008), perhitungan kebutuhan obat dengan menggunakan
metode Konsumsi dengan menggunakan rumus;
Rumusan :

A = ( B + C+ D) – E

A. = Rencana pengadaan
B. = Pemakaian rata-rata x 12 %
C. = Stok pengaman 10 % - 20 %
D. =Waktu tunggu 3 – 6 bulan
E. =Sisa stok

Contoh perhitungan menggunakan metode konsumsi, menurut Kepemenkes RI (2008);


Selama tahun 2007 (Januari–Desember) pemakaian paracetamol tablet sebanyak
2.500.000 tablet untuk pemakaian selama 10 (sepuluh) bulan. Pernah terjadi kekosongan selama
2 ( dua) bulan. Sisa stok per 31 Desember 2007 adalah 100.000 tablet.
a. Pemakaian rata-rata parasetamol tablet per-bulan tahun 2007 adalah 2.500.000 tablet / 10 =
250.000 tablet .
b. Pemakaian parasetamol tahun 2007 (12 bulan) = 250.000 tablet x 12 = 3.000.000 tablet
c. Pada umumnya stok pengamanan berkisar antara 10%-20% (Termasuk untuk mengantisipasi
kemungkinan kenaikan kunjungan). Misalkan berdasarkan evaluasi data diperkirakan 20% =
20% x 3.000.000 tablet .
d. Pada umumnya waktu tunggu berkisar antara 3 s/d 6 bulan. Misalkan lead time diperkirakan
3 bulanan. Misalkan lead time diperkirakan 3 bulan = 3 x 250.000 tablet =750.000 tablet.
e. Kebutuhan Parasetamol tahun 2007 adalah = b + c + d, yaitu : 3.000.000 tablet + 6.000.000
tablet + 750.000 tablet = 4.350.000 tablet.
f. Rencana pengadaan paracetamol untuk tahun 2008 adalah : hasil perhitungan kebutuhan (e) –
sisa stok = 4.350.000 tablet – 100.000 tablet = 4.250.000 tablet = 4250 kaleng/botol @ 1000
tablet.
Menurut Depkes RI (2004) menghitung kebutuhan obat berdasarkan metode konsumsi.
Sebelum menghitung rencana kebutuhan obat periode yang akan datang, terlebih dahulu perlu
dihitung stok optimum(SO) obat yang dibutuhkan di setiap unit pelayanan kesehatan dengan
rumus sebagai berikut :
SO = SK + WT SP
Rencana kebutuhan periode berikut (RK) :
RK =SO – SS
Keterangan :
SK = Stok kerja ialah pemakaian rata-rata per-periode distribusi
WK = Waktu kekosongan obat ialah lamanya kekosongan obat yang dihitung dalam
hari (hari kerja setiap bulan ± 25 hari).
W = Waktu tunggu, dimulai dari pengajuan permintaan oleh puskesmas sampai
dengan penerimaan obat di puskesmas.
SP = Stok penyangga/pengaman, adalah persediaan obat untuk mengantisipasi
terjadinya peningkatan kunjungan, peningkatan pemakaian. Besarnya
ditentukan berdasarkan kesepakatan antara GFK dan puskesmas.
SS = Sisa stok yang masih tersedia di puskesmas pada akhir periode distribusi.
SO = Stok Optimum
RK = Rencana kebuthan periode berikut.

Contoh Soal menurut Depkes RI (2004) :


Pada tanggal 1 Maret 2005 di Puskesmas Hati Mulia Kabupaten Manis Sapa, sisa persediaan
Amoksisilin kaplet 500 mg =0. Pemakaian Amoksisilin kaplet 500 mg per-triwulan selama ini di
puskesmas adalah 60 botol @ 100 kaplet. Permintaan obat pada periode April–Juni 2005
diajukan oleh puskesmas ke GFK pada akhir bulan Maret. Penerimaan diperkirakan akan di
peroleh pada tanggal 6 April 2005. Berapakah rencana obat Amoksisilin 500 mg kaplet yang
dibutuhkan periode berikut ?
Jawaban:
Stok kerja selama 3 bulan = 60 x 100 kaplet = 6.000 kaplet
Pemakaian rata-rata perbulan = 6000/3 = 2.000 kaplet
Rata-rata perhari = 2000/25 = 80 kaplet dengan asumsi1 bulan = 25 hari kerja
Waktu kekosongan obat = 6 hari x 80 kaplet = 480 kaplet, waktu tunggu 5 hari = 5 x 80 kaplet =
400 kaplet; stok penyangga disepakati 10% = 10 % x 6.000 kaplet = 600 kaplet.
Karena sisa stok = 0 maka RK = SO = 6.000 + 480 + 400 + 600 = 7.480 dibulatkan menjadi
7.500 kaplet atau 75 botol @ 100 kaplet.
F. Perhitungan metode Morbiditas
Perhitungan kebutuhan obat dengan metode Morbiditas, dilakukan dengan melihat
penggunaan obat periode sebelumnya atau berdasarkan pola penyakit di pelayanan kesehatan.
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Kepmenkes RI (2008), bahwa untuk menghitung
masing-masing obat yang diperlukan per penyakit. Sebagai contoh pada pedoman pengobatan
untuk penyakit diare akut pada orang dewasa dan anak-anak digunakan obat oralit dengan
perhitungan sebagai berikut :
 Perhitungan kebutuhan obat untuk kategori Anak-anak
Misalnya;
Dalam suatu lingkungan terdapat 10 orang anak yang mengalami diare. Untuk pengobatan
dilakukan dengan menggunakan Oralit. Dalam satu periode pengobatan membutuhkan 15
bungkus oralit @ 200 ml. Periode yang pengobatan dibutuhkan sampai sembuhnya diare
memerlukan 30 periode. Maka penentuan kebutuhan obat adalah 10 orang X 15 bungkus X 30
periode = 4.500 bungkus @ 200 ml.
 Perhitungan kebutuhan obat untuk kategori Dewasa :
Dalam suatu lingkungan terdapat 20 orang dewasa yang mengalami diare. Untuk pengobatan
dilakukan dengan menggunakan Oralit. Dalam satu periode pengobatan membutuhkan 40
bungkus oralit @ 1 liter. Periode yang pengobatan dibutuhkan sampai sembuhnya diare
memerlukan 60 periode. Maka penentuan kebutuhan obat adalah 20 orang X 40 bungkus X 60
periode = 48.000 bungkus @ 1 liter.
Untuk memudahkan perhitungan kebutuhan obat sebaiknya menggunakan tabel seperti
contoh berikut ini;
Nama Obat Jumlah Kasus Penyakit Jumlah penggunaan Obat
A 2.500 17.000 Kapsul
B 17.000 47.000 Kapsul
C 20.000 57.000 Kapsul
D 17.000 30.000 Kapsul
E 14.000 15.000 Kapsul
Total Penggunaan Obat 166.999 Kapsul
Menurut Depkes RI (2004) rumus yang digunakan dalam menghitung kebutuhan obat
berdasarkan metode morbiditas;
Rumus :
KO = JK x JOP

Rencana kebutuhan periode berikut (RK) :


RK = KO - SS
Keterangan :
KO = Kebutuhan obat ;
JK = Jumlah kasus ;
JOP = Jumlah obat sesuai pedoman pengobatan
RK = Rencana kebutuhan periode berikut
SS = Sisa stok obat.

Contoh Soal menurut Depkes RI (2004) :


Survey epidemiologi di Puskesmas Gunung Jaya menunjukkan kasus diare pada anak 0 – 4 tahun
adalah 2 kali dalam setahun. Diketahui pula bahwa dalam piramida penduduk jumlah anak umur
0 – 4 tahun adalah 200 jiwa. Dari kasus ini ditemukan 90 % kasus diare adalah diare non spesifik.
Jika satu kasus diare non spesifik pada anak memerlukan 3 bungkus oralit @ 200 ml dan
diberikan selama 3 hari. Berapa bungkus oralit yang dibutuhkan untuk kasus diare tersebut ?

Jawaban :
Jumah kasus diare non spesifik pada anak = 200 x 90 % = 180 kasus
Episode kejadian 2 kali = 2 x 180 = 360 kasus
Jumlah oralit yang dibutuhkan perkasus = 3 hari x 3 bungkus = 9 bungkus
Total oralit yang dibutuhkan = 9 bks x 360 kasus = 3.240 bks oralit @ 200 ml.
GLOSARIUM

Advance ; Kemajuan atau Kenaikan


Anamnesa ; Istilah lain untuk riwayat medis seseorang. Kegiatan wawancara antara
pasien/keluarga pasien dan dokter atau tenaga kesehatan lainnya

Comprehensive ; Rencana yang memiliki uraian-uraian secara menyeluruh serta lengkap


planning

Controlling ; Untuk menentukan apa yang telah dicapai, mengadakan evaluasi atasanya, dan
mengambil tindakan –tindakan korektif, bila diperlukan, untuk menjamin agar
hasilnya sesuai dengan rencana

Directing ; Fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha memberi bimbingan, saran,
perintah-perintah, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik
Diuretik ; Obat yang dapat menambah kecepatan pembentuk urin

Drug of Choice ; Obat pilihan

Ergonomic ; Suatu ilmu yang peduli akan adanya keserasian manusia dan pekerjaanya

Farmakodinamik ; Ilmu yang mempelajari efek biokimiawi dan fisiologi obat serta mekanisme
kerjanya

Fasilitas ; Sarana untuk melancarkan pelaksanaan fungsi

Fasilitator ; Orang yanng menyediakan fasilitas,penyedia,di dl konsep belajar mandiri,guru


dan sekolah tidak lagi menjadi titik pusat kegiatan ,tetapi lebih sebgai
pendudukung

Fungsional ; Suatu hal yang di rancang untuk mampu melakukan satu atau lebih kegiatan
yang practical, lebih mengutamakan fungsi dan kebergunaan ketimbang hal-hal
yang berbau dekorasi atraktif

General Electric ; Sebuah konglomerasi perusahaan multi nasional yang tergabung dalam
schenectady di new york

Glukoma ; Salah satu jenis penyakit mata dengan gejala yang tidak langsung, yang secara
bertahap menyebabkan penglihatan pandangan mata semakin lama akan
semakin berkurang sehingga ahirnya mata akan menjadi buta

Hipnotik ; Golongan obat depresi SSP

Hygiene klinik ; Usaha kesehatan preventif yang menitikberatkan kegiatannya kepada usaha
kesehatan individu, maupun kesehatan pribadi hidup manusia

Individual ; Mengenai atau berhubungan dengan manusia secara pribadi, bersifat


perseorangan

Infeksi ; Masuk dan berkembannya agen infeksi kedalam tubuh seseorang atau hewan
Inventory ; Persediaan satu barang atau bahan yang disimpan untuk tujuan tertentu,
Management diantaranya adalah untuk tujuan memenuhi kebutuhan proses produksi atau
mungkin untuk di jual lagi

Integrated planning ; Rencana yang memiliki uraian-uraian menyeluruh yang sifatnya terpadu

Kalori ; Merupakan satuan ukur untuk menyatakan nilai energy

Komunikator ; Suatu kelompok ataupun seseorang yang menyampaikan gagasan, perasaan


ataupun pemikirannya kepada orang lain

Kuratif ; Suatu kegiatan atau serangkaian kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah
kesehatan/penyakit

Lead Time ; Jangka waktu antara pesanan pelanggan dan pengiriman produk akhir

Ley de Pareto ; Didasarkan Pada sebuah konsep yang dikenal dengan nama Hukum Pareto

Life saving drug ; Obat ini dapat di gunakan berbagai penyakit

Literature ; Bahan atau sumber ilmiah yang biasa di gunakan untuk membantu suatu karya
tulis ataupun kegiatan ilmiah lainnya.

Longe-range ; Rencana jangka panjang


planning

LPLPO ; Laporan Penerimaan dan Lembar Permintaan Obat

Lycergic Syntetic ; Golongan narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkotika) yang bersifat
Diethylamide sebagai stimulant

Master plan ; Sebuah perencanaan yang menitik beratkan uraian-uraian korporasi kebijakan
sebuah organisasi

Medium-range ; Suatu rencana kegiatan media untuk mengkomunikasikan satu pesan kesatu
planning sasaran di waktu yang tepat dan frekuensi yang tepat

Medicamentum ad ; (Pemakain luar ) melalui obat yang cara penggunaannya selain melalui oral
usum externum dan diberi tanda etiket putih

Medicamentum ad ; (Pemakain dalam), obat yang digunakan melalui orang dan diberi tanda etiket
usum intern putih

Mikroorganisme ; Organisme yang berukuran sangat kecil sehingga untuk mengamatinya


diperluikan alat bantuan. mikroorganisme disebut juga organisme mikroskopik

Mineral ; Padatan senyawa kimia homongen, non-organik, yang memiliki bentuk teratur
dan terbentuk secara alami

Monitoring ; Aktivitas yang ditunjukkan untuk memberikan informasi tentang sebab dan
akibat dari suatu kebijakan yang sedang di laksankan
Motivator ; Orang yang memiliki profesi atau pencaharian dari memberikan motivasi
kepada orang lain

Nasional ; Bersifat kebangsaan, berkenaan atau berasal dari bangsa sendiri, meliputi suatu
bangsa, cita-cita, perusahaan, tarian

Need assessment ; (Analisis kebutuhan) proses analisis data dalam mengeditifikasi gap
(kesenjangan ) antara kinerja saat ini dengan kinerja yang diharapakan sehingga
dapat diperoleh data mengenai kebutuhan pelatihan

Nirlaba ; Tidak bertujuan untuk mencari profit berupa uang melainkan lebih fokus ke
tujuan sosial dan lingkungan atau bersifat tidak mengejar atau mencari
keuntungan berupa materi

Occulenta ; Salep yang digunakan pada mata

Onkolitika ; Obat anti kecemasan, depresan sistem syaraf pusat yang kuat yang dapat
memperlambat fungsi otak normal

Optimalisasi ; Hasil yang dicapai sesuai dengan keinginan, jadi optimalisasi merupakan
pencapaian hasil sesuai harapan secara efektif dan efisien

Over The Counter ; Sebuah pasar modal yang tidak terdaftar pada main stock exchange di
Indonesia

Parallel import ; Penjualan produk bermuatan hak kekayaan intelektual (HKI)

Patient oriented ; Pengaturan planing produksi yang mengorientasi produksi

Pharmaceutical care ; Paradigma baru pelayanan kefarmasian yang merupakan bagian dari pelayanan
kesehatan (healt care) dan bertujuan untuk meningkatkan penggunaan obat yang
rasional, aman dan efisien demi mencapai peningkatan kualitas hidup manusia

Plan Of Action ; Rencana kegiatan

Preventif ; Suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan /penyakit


Principle of ; Asas alternative
alternative

Principle of ; Asas pencapaian tujuan


contribution to
objective

Principle of ; Suatu perencanaan efisien


efficiency of
planning

Principle of limiting ; Asas pembatasan factor


factor
Principle of ; Asas pemerataan perencanaan
pervasiveness of
planning

Principle of ; Prinsip tata hubungan perencanaan


planning
communication

Principle of ; Asas patokan perancanaan


planning premise

Principle of policy ; Asas patokan perencanaan


frame work

Principle of primacy ; Asas pengutamaan perencanaan


of planning

Principle of strategic ; Asas perencanaan strategi


planning

Principle of timing ; Asas waktu

Profit ; Laba / Keuntungan. Dalam melakukan motif ekonomi para pelaku ekonomi
pasti akan mempertimbangan dari segi profit. Apapun kegiatannya baik
produktif atau jasa

Promosi ; Suatu usaha dari pemasar dalam menginformasikan dan mempengaruhi orang
atau pihak lain sehingga tertarik untuk melakukan transaksi atau pertukaran
produk barang atau jasa yang dipasarkan

Promotif ; Suatu kegiatan dan / serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang lebih
mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan

Protein ; Rantai molekul panjang yang terdiri dari asam amino yang bergabungdengan
ikatan peptide

Public Service ; Segala bentuk jasa pelayanan, baik yang berbentuk barang / jasa yang pada
prakteknya dilakasanakan atau diberikan oleh instansi pemerintah (pusat
maupun daerah) dan juga dalam lingkungan Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) Serta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan tujuan untuk
pemenuhan kebutuhan masyarakat dan sebagai pelaksanaan perarturan
perundang-undangan yang berlaku

Rehabilitasi ; Kegiatan atau serangkaian kegiatan untuk mengembalikan bekas penderita ke


dalam masyarakat sehingga dapat berfungsi lagi sebagai anggota masyarakat
yang berguna untuk dirinya dan mayarakat semaksimal mungkin sesuai dengan
kemampuannya

Service Profider ; Sebuah perusahaan penyedian jasa layanan dengan jasa lainnya yang saling
berhubungan
Short-Range ; Perencanaan umumnya berlakunya hanya untuk sekitar 1 tahun
Planning

Single-use planning ; Rencana yang didesain untuk dilaksanakan satu kali saja

Sitostika ; Proses pengobatan dengan menggunakan obat-obatan kimia yang bertujuan


untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel kanker

Specimen ; Bagian dari kelompok atau bagian dari keseluruhan

Spread Sheet ; Dokumen yang menyimpan data dalam grid baris horisontal dan kolom vertikal

Spesialis ; Orang yang ahli di suatu cabang ilmu atau keterampilan

Staffing ; Aktifitas yang dilakukan yang meliputi menetukan, memilih, menempatkan dan
membimbing personel

Struktural ; Berkenaan dengan stuktur

Sub-spesialistik ; Pelayanan subspesialistik di setiap spesialisasi yang ada

Sub system ; Sistem di dalam suatu sistem,ini berarti bahwa sistem berada pada lebih dari
satu tingkat

Suposit ; Obat rangsang (Supaya buang air) yang dimasukan kedalam dubur

System ; Sekelompok komponen elemen dan elemen yang digabungkan menjadi satu
untuk mencapai tujuan tertentu

Tactical planning ; Rencana yang berisi uraian-uraian yang sifatnya juangka pendek, muda
menyesuaikan kegiatannya, asalkan tujuannya tak berubah

Teknis ; Struktur sosial formal stabil yang memiliki sumber-sumber berasal dari
lingkungan dan memproses sumber-sumber itu agar menghasilkan autput

The commitment ; Asas pelaksanaan kerja


principle

The principle of ; Asas fleksibilitas


flexibility

The principle of ; Asas ketetapan arah


navigation change

Trend ; Suatu gerakan garis lurus dalam waktu yang panjang dan mempunyai
karektiristik bergerak yang lamban serta berjalan ke satu arah

Unguetum ; Sediaan obat dengan bentuk setengah padat yang biasanya digunakan dengan
cara dioleskan

UPOPPK ; Unit pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan


Visus ; Ketajaman penglihatan

Withdraw ; Menarik atau mengambil

Word Prosessor ; Suatu aplikasi komputer yang digunakan untuk produksi (termasuk penyusunan,
penyunting, pemformatan, dan kadang percetakan) segala jenis bahan yang
dapat dicetak
DAFTAR PUSTAKA

Anief, M., Apa yang Perlu Diketahui Tentang Obat. 1991, Yogyakarta:: Penerbit Gajah Mada
University Press.

Anief, M., Apa yang Perlu Diketahui tentang Obat. Vol. 4th ed. 2003, Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press

Azwar, A., Pengantar Administrasi Kesehatan, ed. E. 2. 1980, Jakarta: Bina Rupa Aksara.

Depkes, RI., Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43/Menkes/SK/II/1988


tentang Cara Pembuatan Obat Yang Baik. 1988, Sekretariat Jendral Kemenkes: Jakarta.

Depkes, RI., Peraturan Mentri Kesehatan Nomor 917/MENKES/PER/X/1993 tentang Wajib


Daftar Obat Jadi. 1993, Sekretariat Jendral Kementrian Kesehatan: Jakarta.

Depkes, RI., Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 1375.A/Menkes/ SK/IX/2002 tentang


Daftar Obat Esensial nasional 2002, in 1375A. 2002, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Ditjen Yanfar dan Alkes: Jakarta.

Depkes, RI., Sistem Kesehatan Nasional. 2004, Sekretariat Jendral Depkes: Jakarta.

Depkes, RI., Pedoman Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas. 2004, Jakarta:
Sekretariat Jendral Departemen Kesehatan.

Depkes, RI., Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 128/Menkes/SK/II/2004


Tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat. 2004, Sekretariat Jendrat
Kemenkes: Jakarta.

Depkes, RI., Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. . Vol. Cetakan
kedua. 2005, Jakarta: Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian
Dan Alat Kesehatan.

Effendy, N., Dasar-Dasar Kesehatan Masyarakat. 1998, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.

Imron, T.. Manajemen Logistik rumah Sakit. 2009, Jakarta: Sagung Seto.

Kepmenkes, RI., Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Untuk
Pelayanan Kesehatan Dasar. , in Nomor 1121/Menkes/SK/XII/2008. 2008, Sekretaria
Jendral: Jakarta.

Maimun, A., Perencanaan Obat Antibiotik Berdasarkan Kombinasi Metode Kansumsi Dengan
Analisis ABC dan Reorder Point Terhadap Nilai Persediaan dan turn Over Ratio di
Instalasi Farmasi RS Darul Istiqomah Kendal. Institutional Repository Universitas
Diponegoro, 2008
Maryetty, I.P., Regulasi Obat yang Mempengaruhi Peresepan, in (Online). fkuii.org/tiki-
download_wiki_attachment.php?attId=199&page=pengobatan_rasional_handout ,
diakses tanggal 18 Maret 2008. 2007.

Menkes, RI., Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 Tentang
Pusat Kesehatan mAsyarakat. 2014, Sekretarian Jendral Kemenkes: Jakarta.

Presiden, RI., Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
1992, Sekretariat Negara: Jakarta.

Presiden, RI., Undang-Undang No 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. 2009, Sekretariat
Negara: Jakarta.

Quick dkk, J.D., Hume, M.L., Rankin, J.R.,O‟Connor, R.W., , Managing Drug Supply,
Management Sciences for Health, ed. t. printing. 1997, Boston: Massachussets.

Robbins Stephen and Coutler Mary, Manajemen. 2002, Jakarta: Penerbit; Indeks Group
Garamedia.

Robbins Stephen and Coutler Mary, Manajemen. 2004, Jakarta: Penerbit; Indeks Group
Garamedia.

Stoner James and C. Wankel, Perencanaan dan Pengambilan Keputusan Dalam Manajemen
(Terjemahan Sahat Simamura). 1993, Jakarta: Rineka Cipta.

Suandy, E., Perencanaan Pajak. 2003, Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Suhadi, Rais M.K. Perencanaan Puskesmas. 2015, Jakarta: Penerbit Trans Info Media.

Syamsuni, Farmasetika Dasar & Hitungan Farmasi. 2005, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.

http://dechacare.com/Macam-Macam-Obat-dan-Tujuan-Penggunaannya-I461-1.html

(https://halosehat.com/farmasi/obat/efek-samping-obat-jangka-panjang)
PROFIL PENULIS

Riwayat Kelahiran; Suhadi. Lahir di Lasehao, 22 Mei 1977,


Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara. Anak dari
pasangan La Madi dan Wa Ndihi. Lahir dari Keluarga sangat
sederhana. Anak ke 7 dari 8 bersaudara. Pekerjaan Ayah;
seorang Guru SD, pensiunan tahun 1997. Pekerjaan Ibu; Ibu
rumah tangga. Riwayat Keluarga; Menikah Januari, 2010. Istri;
Nurmulia, S.Kep. (PNS Rumah Sakit Tajuddin Chalid
Makassar) sejak Tahun 2007-sekarang. Anak; Farras Arsy
Soneangka (Lahir di Makassar, 13 November 2010). Fanny
Aulia Adnur (Lahir di Makassar, 6 November 2012).
Riwayat Pendidikan ; Alumni Sekolah Dasar di SDN No. 1 Lasehao tahun 1991.
Alumni SMPN Ulubalano tahun 1993. Alumni SMA Negri Kabawo Tahun 1996. Alumni
Diploma III AKL Kendari tahun 2001. Alumni S1 Kesehatan Masyarakat di Fakultas
Kesehatan Masyarakat Unhas tahun 2004. Alumni S2 Kesehatan Masyarakat Program
Pascasarjana FKM Unhas tahun 2007. Alumni S3 Kedokteran Unhas tahun 2017.
Riwayat Pekerjaan; Tenaga Kesehatan Sukarela pada Dinas kesehatan Kabupaten
Muna Tahun 2001-2002. Dosen Luar Biasa Kesehatan Masyarakat F-MIPA Unhalu
tahun 2007. Dosen tetap FKM Unhalu tahun 2008-sekarang. Sekertaris Program Kelas
Sore Kesehatan Masyarakat F-MIPA Unhalu tahun 2009-2011. Kepala Laboratorium
Kesehatan Masyarakat FKM Unhalu 2011-2012. Ketua Jurusan Kesehatan Masyarakat
FKM Univ. Halu Oleo Kendari tahun 2017-sekarang. Riwayat Organisasi; Pengurus
Senat Mahasiwa AKL Kendari tahun 1997-1998. Pengurus IPPMAK Kab Muna tahu
1997-1998. Sekertaris Forum Tenaga Kesehatan Sukarela Kabupaten Muna tahun
2002-2003. Pengurus Himpunan Mahasiswa Ektensi FKM Unhas 2003-2004