Anda di halaman 1dari 9

Metode Validasi

Oven
Anggota Kelompok:
1. Emelia Oktaviani (F1F118005)
2. Vionatasya Safitri (F1F118009)
3. Nurmaya Sari (F1F118015)
4. Annastya Nur Azizah (F1F118028)
5. Annisa Dhita Syahrial (F1F118031)
6. Elvita Sari (F1F118047)

Dosen Pengampu :
Fathnur Sani, S.Farm., M. Farm., Apt.
Secara umum, panas kering digunakan untuk sterilisasi alat-alat gelas atau kaca untuk proses produksi
secara aseptik. Beberapa bahan yang tidak dapat disterilkan dengan uap, paling baik disterilkan
dengan panas kering. misalnya petrolatum jelly, minyak mineral, lilin, wax, serbuk talk. Proses ini
dilakukan dalam sebuah oven dengan temperatur sekelilingnya 170°C untuk sterilisasi atau 230-
250°C untuk depirogenisasi. Suhu yang digunakan terlalu tinggi untuk wadah plastik. Karena panas
kering kurang efisien dibanding panas lembab, pemaparan lama dan temperatur tinggi dibutuhkan.
Namun, beberapa mikroba dan endotoksin dengan sterilisasi panas kering seperti oven dapat
menunjukkan resistensi akibat inaktivasi, sehingga diperlukan validasi metode dan proses untuk
sterilisasi dan depirogenisasi dengan menggunakan oven.

 Oven digunakan untuk sterilisasi panas kering biasanya secara panas dikontrol dan mungkin gas atau
elektrik gas. Beberapa waktu dan suhu yang umum digunakan pada oven :
• 170°C (340 F) sampai 1 jam
• 160°C (320 F) sampai 2 jam
• 150°C (300 F) sampai 2,5 jam
• 140°C (285 F) sampai 3 jam
Cara Kerja :
1. Bungkus alat-alat gelas dengan menggunakan kertas atau alumunium foil.
2. Atur pengatur suhu oven menjadi 180°C dan alat di sterilkan 2-3 jam.

Prinsip Kerja :
3. Oven merupakan alat sterilisasi dengan menggunakan Uap Panas Kering.
4. Protein mikroba akan mengalami dehidrasi hingga terjadi kekeringan, selanjutnya teroksidasi oleh
oksigen di udara sehingga menyebabkan matinya mikroba.

Spesifikasi Alat :
5. Merupakan alat untuk mensterilisasi alat dan bahan.
6. Tidak semua bahan dapat disterilisasi dengan oven seperti serum, vitamin, antibiotic, dan enzim.
7. Tidak menimbulkan embun/kondensasi pada alat yang disterilisasi karena menggunakan uap panas
kering.
8. Dapat digunakan sebagai inkubator

Validasi data  adalah langkah pemeriksaan untuk memastikan bahwa data tersebut telah sesuai kriteria
yang ditetapkan dengan tujuan untuk memastikan bahwa data yang akan dimasukkan ke dalam basis
data telah diketahui dan dapat dijelaskan sumber dan kebenaran datanya.
Data Validasi Metode Sterilisasi Oven
1. Pemeriksaan jumlah partikel dalam oven.
a. Hidupkan oven tanpa pemanasan
b. Ukur partikel pada tiga titik di depan masing-masing HEPA filter (ada tiga HEPA filter) dengan
menggunakan Particle Counter
c. Lakukan tiga kali pengukuran
d. Lampirkan data yang diperoleh ke dalam kualifikasi
e. Hidupkan oven tanpa pemanasan

Kriteria keterimaan : Jumlah partikel dalam oven harus memenuhi persyaratan untuk kelas A
berdasarkan CPOB.

Pada persyaratan kelas A jumlah partikel maksimum yang diperbolehkan yaitu 3.520 untuk partikel yang ≥
0,5 µm, sehingga data tersebut sudah memenuhi kriteria keterimaan.
2. Verifikasi kebocoran oven
a. Tutup pintu pada sisi steril maupun sisi nonsteril dan pasang grendel pintu
b. Set oven pada temperatur rendah (40°C) dan nyalakan oven dengan memutar tombol oven-pressure fan
c. Uji kebocoran dengan menggunakan asap yang diciptakan dengan “smoke stick”disepanjang sela-sela
pintu. Kebocoran ditandai dengan hembusan angin dari sela-sela pintu yang menghalau asap

Kriteria keberterimaan: Tidak ada kebocoran dari dalam oven baik ke ruangan nonsteril maupun ruangan
steril yang ditunjukkan dengan tidak ada hembusan angin dari sela-sela pintu yang menghalau asap
baik pada sisi steril maupun sisi nonsteril.

Pada uji kebocoran oven, dilakukan sesuai dengan prosedur diatas, dan diperoleh hasil bahwa oven tidak
mengalami kebocoran ditunjukkan dengan tidak adanya hembusan angin dari sela-sela pintu yang
menghalau asap.
3. Kalibrasi termokopel
Kalibrasi termokopel harus dilaksanakan segera sebelum dan sesudah kualifikasi kinerja Oven
a. Kalibrasi dilakukan dengan cara memasukkan secara bersamaan semua termokopel ke dalam beker
gelas yang berisi minyak silikon yang dilengkapi dengan termometer standar dipanaskan dengan
menggunakan alat pemanas dan pengaduk otomatis sampai temperatur 230°C.
b. Setelah temperatur 230°C tercapai selama 10 menit catat hasil dari 5 kali pengukuran pada waktu
berbeda
c. Tentukan temperatur tertinggi dan terendah pada tiap pengukuran
d. Lakukan penghitungan perbedaan antara temperatur tertinggi dan temperatur terendah
e. Tentukan juga perbedaan hasil pengukuran terbesar antara termokopel yang sedang diukur dan
termokopel standar

Kriteria keberterimaan: Perbedaan terbesar (maksimum) temperatur antara semua termokopel (rata-rata dT
maks (1)) tidak boleh lebih dari 1,0°C.

Perbedaan terbesar (maksimum) temperatur antara sebuah termokopel dan termokopel standar (rata-rata
dT maks (2)) tidak boleh lebih dari 0,5°C
4. Pengamatan Distribusi Panas dalam Keadaan Kosong
Untuk mengetahui distribusi panas atau keseragaman panas di dalam oven kosong.
a. Pasang minimal 10 sampai 12 buah termokopel dalam Chamber secara horizontal, vertikal dan lateral
pada titik-titik yang ditunjuk pada titik penempatan termokopel
b. Hitung termokopel dengan recorder
c. Mulai siklus pemanasan
d. Catat hasil pada lembar kerja
e. Lampirkan hasil rekam grafik sterilisasi

Kriteria keberterimaan: Perbedaan antara temperatur yang tertinggi (hottest point) dan temperatur yang
terendah (coldest point) : Maksimal 5°C.
5. Pengamatan Distribusi Panas dengan Muatan
Untuk menentukan daerah dengan temperatur terendah pada tiap jenis muatan oven /peralatan yang di
sterilkan
a. Masukkan ampul 2 mL kosong ke dalam oven sampai penuh (konfigurasi muatan 1) atau tangki baja
Serta peralatan (konfigurasi muatan 2)
b. Pasang termokopel pada oven pada posisi yang sama dengan yang digambar
c. Jalankan oven dan mulai sterilisasi /depirogenisasi pada setting 230°C selama 90 menit
d. Catat temperatur pada saat program tersebut dimulai sampai dengan siklus sterilisasi otomatis dimulai
e. Pada saat siklus sterilisasi dimulai catat temperatur pada lembar kerja ja lanjutkan pencatatan sampai
siklus sterilisasi berakhir
f. Lampirkan hasil rekam grafik sterilisasi

Kriteria keberterimaan:
• Perbedaan temperatur antara temperatur tertinggi dengan temperatur terendah tidak boleh melebihi
15°C pada siklus depirogenisasi
• Perbedaan temperatur terendah dengan temperatur setting tidak boleh lebih dari 2°C
6. Uji Tantang Endotoksin
Uji ini dapat dilakukan bersamaan dengan pengamatan penetrasi panas dengan menempatkan endotoksin
di dekat semua termokopel atau bila dilakukan setelah pemanasan penetrasi panas endotoksin
ditempatkan dekat dengan 50% jumlah termokopel pada daerah temperatur rendah.

Prosedur :
1. Gunakan minimal 10 buah indikator biologi endotoksin untuk masing-masing pola pengujian
2. Tentukan kadar toksin sebelum digunakan untuk uji tantang endotoksin
3. Letakkan minimal 50% endotoksin pada daerah yang diketahui temperaturnya rendah dan Letakkan
endotoksin berdekatan dengan ujung termokopel pada bagian dalam alat yang disterilkan
4. Catat pada lembar kerja

Kriteria keberterimaan :
• Penurunan jumlah endotoksin tidak kurang dari 3log atau 1000 EU pada tiap lokasi.
• Kontrol positif endotoksin menunjukkan jumlah minimal 1000 EU.
• Kontrol negatif endotoksin tidak menunjukkan adanya endotoksin.