Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

........................................................................ Penelitian sebagai sistem ilmu pengetahuan memilik


pengetahuan itu sendiri. Penelitian ilmiah digunakan untuk kebutuhan ilmu pengetahuan.
Sebaliknya, ilmu pengetahuan tidak akan berkembang tanpa penelitian ilmiah. Proses
penelitian harus melalui tahap berpikir ilmiah (Bungin, 2005). Penelitian dapat
didefinisikan sebagai upaya mencari jawaban yang benar atas suatu masalah berdasarkan
logika dan didukung oleh fakta empirik (Sudjana, 2001 dalam Rasnia, 2013).
Ditinjau berdasarkan bidang-bidang ilmu yang ada, penelitian dibedakan menjadi
penelitian pendidikan, pendidikan kedokteran, pendidikan ekonomi, pendidikan
pertanian, pendidikan biologi, pendidikan sejarah dan berbagai penelitian lainnya. Secara
umum, tujuan penelitian pendidikan adalah untuk menemukan prinsip-prinsip umum,
penafsiran tingkah laku yang dapat dipakai untuk menerangkan, meramalkan, dan
mengendalikan kejadian-kejadian dalam lingkungan pendidikan (Rachman, 1993 dalam
Dwi, 2010).
Untuk dapat melaksanakan penelitian dengan baik, seorang peneliti harus
memahami konsep populasi dan sampel. Populasi adalah wilayah generalisasi yang
terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono,
2013 dalam Djhri, 2015). Jika jumlah anggota populasi besar maka peneliti tidak
menyelidiki atau mempelajari semua anggota populasi tetapi peneliti dapat menggunakan
sampel yang diambil dari populasi itu. Sampel adalah sebagian dari populasi yang
terpilih dan mewakili populasi tersebut (Muri, 2007 dalam Djhri, 2015).
Penentuan sampel sangatlah penting peranannya dalam penelitian. Untuk
menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik
sampling yang digunakan. Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang
jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya
dengan memperhatikan sifat-sifat populasi agar diperoleh sampel yang representatif.
Teknik pengambilan sampel dapat dilakukan secara acak (probability sampling) dan
secara tidak acak (non probability sampling) (Firman, 2015).

1
Agar data yang dikumpulkan dalam penelitian menjadi valid maka peneliti harus
mengetahui cara pengumpulan data-data dalam penelitian. Dalam proses penelitian
akan diperoleh data-data yang akan diproses dan diterjemahkan menjadi suatu hasil atau
kesimpulan dari penelitian tersebut. Untuk mendapatkan data tersebut maka diperlukan
suatu alat ukur/instrumen. Proses dalam menyusun alat ukur (instrumen) penelitian
sangatlah penting karena instrumen tersebut menjadi pedoman untuk mengukur variabel-
variabel penelitian. Bentuk-bentuk intrumen dalam penelitian pendidikan meliputi
instrumen tes dan non tes. Terdapat berbagai contoh instrumen tes dan non tes seperti
angket, wawancara, observasi, skala peringkat, dan berbagai contoh instrumen lainnya.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka makalah ini disusun untuk mengetahui
konsep tentang populasi dalam pendidikan, teknik untuk menentukan ukuran sampel dan
teknik penarikan sampel dalam pendidikan, serta untuk mengetahui ragam instrumen
dalam penelitian pendidikan.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :


1. Bagaimana mengidentifikasi populasi ?
2. Bagaimana teknik menentukan ukuran sampel dan teknik penarikan sampel dalam
pendidikan ?
3. Bagaimana bentuk-bentuk instrumen dan karakteristiknya dalam penelitian
pendidikan ?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini yaitu :


1. Untuk mengidentifikasi populasi
2. Untuk mengetahui teknik dalam menentukan ukuran sampel dan teknik penarikan
sampel dalam pendidikan
3. Untuk mengetahui bentuk-bentuk instrumen dan karakteristiknya dalam penelitian
pendidikan

2
D. Manfaat Penulisan

...................................................................... Adapun manfaat penulisan makalah ini yaitu sebagai


makalah atau penelitian tentang penelitian pendidikan yang meliputi konsep tentang
populasi dalam pendidikan, teknik sampling serta berbagai bentuk instrumen dalam
penelitian pendidikan.

1.

3
BAB II
KERANGKA BERPIKIR DALAM PENULISAN

A. Metode Penulisan

Metode penulisan makalah ini yaitu metode pustaka yaitu metode dengan
mengumpulkan data dari pustaka berupa buku, jurnal dan informasi melalui internet.

B. Ruang Lingkup Kajian dan Pembahasan

Ruang lingkup kajian dan pembahasan makalah ini yaitu :


1. Populasi dalam pendidikan
2. Teknik penentuan ukuran sampel dan teknik penarikan sampel dalam pendidikan
3. Ragam instrumen penelitian pendidikan dan karakteristiknya

C. Sumber Data dan Informasi

Sumber data dan informasi diperoleh dari beberapa referensi buku dan jurnal.

D. Teknik Pengumpulan dan Penyajian Data

Teknik pengumpulan data dalam penulisan makalah ini yaitu dengan


mengumpulkan beberapa referensi dari internet dan buku. Sedangkan penyajian data
berupa tabel.

4
E. Peta Konsep Kajian dan Pembahasan

Peta konsep kajian dan pembahasan makalah ini yaitu :

Penelitian Pendidikan

Populasi Teknik sampling Bentuk-bentuk instrumen

Sampel 1. Probability sampling 1. Instrumen tes

2. Non probability sampling 2. Instrumen yang diisi


oleh pengumpul data
3. Instrumen yang diisi
oleh subjek penelitian

1. Populasi
Populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian. Jika jumlah anggota populasi
sangat besar, maka peneliti tidak menyelidiki atau mempelajari semua anggota
populasi, karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu. Oleh sebab itu, peneliti
menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu.

2. Sampel
Sampel merupakan sebagian anggota dengan karakteristik yang mewakili populasi.

3. Teknik sampling terdiri atas probability sampling dan non probability sampling.

4. Bentuk-bentuk instrumen yaitu instrumen tes, instrumen yang diisi oleh pengumpul
data dan instrumen yang diisi oleh subjek penelitian.

5
BAB III
KAJIAN DAN PEMBAHASAN

A. Populasi

Penelitian merupakan usaha untuk menemukan, mengembangkan dan melakukan


verifikasi terhadap kebenaran suatu peristiwa atau suatu pengetahuan dengan
meenggunakan metode ilmiah. Metode penelitian memandu peneliti tentang urutan-
urutan bagaimana peenelitian dilakukan. Metode penelitian membicarakan bagaimana
secara berurut suatu penelitian dilakukan, yaitu dengan alat apa dan prosedur bagaimana
suatu penelitian dilakukan (Hamdi, 2012).
Elemen dasar dalam penelitian adalah sebuah data tunggal yaitu observasi.
Observasi bisa memberikan hasil berupa ukuran fisik, jawaban pertanyaan, atau
klasifikasi. Himpunan yang mewakili semua kemungkinan pengukuran yang perlu
diperhatikan dalam observasi disebut populasi. Sebagai suatu populasi, kelompok subjek
memiliki ciri-ciri atau karakteristik-karakteristik bersama yang membedakannya dari
kelompok subjek yang lain. Informasi tentang populasi sangat penting untuk menarik
kesimpulan. Apabila kita dapat mengobservasi keseluruhan individu anggota populasi,
kita akan mendapatkan besaran yang menyatakan karakteristik populasi yang sebenarnya
(Siswanto dan Suyanto, 2018).
Populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian sedangkan sampel merupakan
sebagian anggota dengan karakteristik yang mewakili populasi. Sebuah populasi harus
didefinisikan secara jelas sehingga orang dapat menentukan anggota populasi
berdasarkan definisi yang telah ditetapkan. Ciri-ciri populasi tersebut merupakan variabel
yang dapat diukur. Sebuah populasi mungkin bersifat homogen, yakni anggota populasi
memiliki sifat yang sama, sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuantitatif.
Pada peneliti pendidikan umumnya bersifat heterogen yakni anggota populasi memiliki
karakteristik atau keadaan yang bervariasi, sehingga perlu ditetapkan batasnya secara
kualitatif dan kuantitatif.
Jika jumlah anggota populasi sangat besar, maka peneliti tidak menyelidiki atau
mempelajari semua anggota populasi, karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu. Oleh
sebab itu, peneliti menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Persyaratan yang
harus dipenuhi dalam pengambilan sampel adalah sampel yang diambil dari populasi
harus betul-betul dapat mewakili populasi. Proses pemilihan sampel disebut dengan

6
sampling yaitu proses pemilihan orang-orang yang diyakini dapat mewakili populasi.
Sebuah sampel dalam studi penelitian adalah kelompok yang diamati atau diberi
perlakuan untuk memperoleh informasi. Selanjutnya, hasil penelitian diterapkan pada
kelompok yang lebih besar atau populasi.
Langkah awal seorang peneliti harus menentukan secara jelas mengenai populasi
yang menjadi sasaran penelitiannya yang disebut dengan populasi sasaran, yaitu populasi
yang nantinya akan menjadi cakupan kesimpulan penelitian. Untuk pengambilan sampel
dari populasi agar diperoleh sampel yang representatif atau mewakili, maka diupayakan
setiap subjek dalam populasi mempunyai peluang untuk menjadi sampel (Nurmalasari,
2014).
Pengambilan sampel sangat diperlukan jika jumlah populasi cukup banyak.
Misalnya populasi mahasiswa Unimed adalah 15.000 mahasiswa, maka dapat diambil
sebanyak 375 mahasiswa sebagai sampel1.Karakteristk populasi ditentukan oleh studi
yang dilakukan. Misalnya jika studi terkait dimana mahasiswa Unimed yang memiliki
kendaraan bermotor, maka populasi atau semua mahasiswa yang memiliki kendaraan
bermotor di kampus Unimed. Pada kasus tertentu, populasi mungkin berada dalam
wilayah yang berbeda dan cukup luas. Misalnya semua pesantren di wilayah sumatera,
pada kasus tersebut tidak mungkin bagi peneliti untuk mendata semua pesantren karena
akan menghabiskan waktu dan biaya, sehingga dilakukan pemilihan sampel dengan cara
tertentu. Untuk dapat menentukan atau menetapkan sampel yang representatif, peneliti
harus memahami teknik sampling, sehingga dapat menentukan jumlah dan sampel mana
yang diambil. Kesalahan dalam menentukan akan berakibat pada tidak tepatnya data
yang dikumpulkan, sehingga tidak mewakili populasi.
1. Mendefinisikan populasi
Langkah pertama yang dilakukan dalam memilih sampel adalah mendefinisikan
populasi, berikut contoh populasi yaitu :
a. Semua kepala sekolah SMA di Indonesia.
b. Semua siswa SMA di Sumatera Utara yang mengikuti Ujian nasional berbasis
komputer.
c. Semua siswa SMA yang mengikuti kelas akselerasi di kota Medan.
d. Semua siswa kelas berbasis di sekolah menengah atas negeri 1 Medan.

7
Contoh di atas menunjukkan bahwa populasi dapat memiliki ukuran dan minimal
memiliki satu atau beberapa karakteristik yang sama, sehingga dapat didefinisikan
sebagai sekelompok sekolah atau bahkan fasilitas, misalnya :
a. Semua kelas di kelas VIII SMP Negeri 3 Kotamadya Medan.
b. Semua gedung olahraga SMA di Kotamadya Medan.

2. Populasi Sasaran dan Populasi yang Dapat Diakses


Umumnya, populasi yang sebenarnya yang disebut populasi sasaran sangat jarang
tersedia. Populasi umum ditemukan adalah populasi yang dapat diakses, dimana peneliti
dapat menerapkan generalisasi dengan mudah didapat pada populasi tersebut. Populasi
sasaran adalah populasi pilihan yang ideal, sedangkan populasi yang dapat diakses adalah
populasi pilihan yang realistis bagi peneliti. Berikut ini diberikan contoh populasi sasaran
dan populasi yang dapat diakses yaitu :
a. Masalah penelitian yang akan diteliti yaitu efek pembelajaran berbantuan komputer
pada hasil belajar siswa kelas satu dan dua di SMP Kotamadya Medan.
1. Populasi sasaran : Semua siswa kelas satu dan kelas dua di SMP wilayah
Kotamadya Medan.
2. Populasi yang dapat diakses : Semua siswa kelas satu dan kelas dua di SMP
wilayah Medan Denai.
3. Sampel : 10% dari semua siswa kelas satu dan kelas dua di SMP wilayah Medan
Denai.
b. Masalah penelitian yang akan diteliti yaitu sikap siswa kelas 5 SD setelah guru
mengikuti pelatihan pendidikan karakter.
1. Populasi sasaran : semua siswa kelas V yang gurunya mengikuti pelatihan
pendidikan karakter.
2. Populasi yang dapat diakses : siswa siswa kelas V yang gurunya mengikuti
kegiatan pelatihan guru pada tahun 2016 di LPMP.
3. Sampel : 200 siswa kelas V dipilih dari siswa yang gurunya mengikuti kegiatan
pelatihan guru pada tahun 2016 di LPMP.

Pada umumnya populasi sasaran merupakan populasi teoritis, yakni populasi yang
batasannya secara kualitatif. Jumlah populasi teoritis mungkin tidak dapat diketahui atau
tak terbatas sehingga peneliti perlu menetapkan populasi yang dapat diakses. Populasi
yang dapat diakses memiliki jumlah yang terbatas sehingga memungkinkan bagi peneliti

8
untuk memilih sampel yang representatif. Pembatasan pemilihan populasi tersebut perlu
dilakukan untuk menghemat waktu, tenaga, dan dana yang akan digunakan dalam
penelitian. Gambaran tentang populasi dan sampel secara cukup rinci penting untuk
dilakukan sehingga orang yang tertarik pada penelitian tersebut dapat menerapkan
temuan untuk kebutuhan mereka.

3. Sampel Acak (Random) dan Sampel Non Acak


Ada dua jenis utama sampel yang digunakan dalam penelitian yaitu sampel acak
(random) dan sampel tidak acak. Sampel acak diambil secara acak, misalnya seorang
peneliti ingin melakukan survei terhadap semua guru ilmu pengetahuan sosial (IPS) di
wilayah kota Medan untuk menentukan sikap mereka terhadap kebijakan penggunaan
buku ajar sejarah lokal dalam pembelajaran sejarah di sekolah menengah. Misalnya ada
724 guru IPS tingkat SMA di kota Medan. Nama-nama guru tersebut diperoleh dan
didaftar menurut abjad. Kemudian peneliti memberi daftar nama guru-guru tersebut dari
001 sampai 724. Selanjutnya, dengan menggunakan tabel bilangan dalam sebuah buku
statistik, peneliti memilih 100 guru sebagai sampingan. Sampel non acak (non random)
dipilih tanpa menggunakan sistem acak (Sani, dkk. 2017).

4. Kerangka Sampling
Ketika akan mengambil sampel dari sebuah populasi penelitian, peneliti harus
memperhatikan kerangka sampling. Kerangka sampling ialah daftar semua unsur
sampling dalam populasi sampling. Kerangka sampling dapat berupa daftar mengenai
jumlah penduduk, jumlah bangunan, batas wilayah, karakteristik penduduk, dan
sebagainya. Sebuah sampel yang baik menurut Margono (2004) dalam Sani dkk (2017)
harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Harus meliputi seluruh unsur sampel (tidak satu unsur pun yang tertinggal).
b. Tidak ada unsur sampel yang dihitung dua kali.
c. Harus up to date.
d. Batas-batasnya harus jelas, misalnya batas wilayah : rumah tangga (siapa-siapa yang
menjadi anggota rumah tangga).
e. Harus dapat dilacak di lapangan, jadi hendaknya tidak terdapat beberapa desa dengan
nama yang sama.

9
B. Teknik Penentuan Ukuran Sampel dan Teknik Penarikan Sampel dalam
Pendidikan

Margono (2004) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan teknik sampling


adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel
yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan
penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif. Untuk menentukan
sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang
digunakan. Jumlah sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang
100% mewakili populasi adalah sama dengan populasi. Makin besar jumlah sampel
mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil dan sebaliknya
makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, maka makin besar kesalahan generalisasi
(Sugiyono, 2001).
Teknik penarikan sampel menunjuk pada proses pemilihan individu-individu dari
sebuah populasi yang akan dijadikan sebagai sampel yang akan berpartisipasi di dalam
penelitian tersebut. Selanjutnya, mengenai penetapan besar kecilnya sampel tidaklah ada
suatu ketetapan yang mutlak, artinya tidak ada satupun ketentuan berapa persen suatu
sampel harus diambil. Suatu hal yang perlu diperhatikan adalah keadaan homogenitas
dan heterogenitas populasi. Jika keadaan populasi homogen, jumlah sampel hampir tidak
menjadi persoalan, sebaliknya, jika keadaan populasi heterogen, maka pertimbangan
pengambilan sampel harus memperhatikan hal, yaitu harus diselidiki kategori-kategori
heterogenitas dan besarnya populasi dalam setiap kategori (Margono, 2004).
Ada 6 alasan dilakukan sampling yaitu :

1. Ukuran populasi
Apabila populasi itu tak terhingga (tidak diketahui) maka peneliti tidak mungkin
melakukan sensus terhadapnya, karena itu harus dilakukan sampling. Ukuran populasi
itu terhingga (dapat diketahui), namun apabila jumlahnya terlalu banyak, maka tidak
mungkin dilakukan sensus, sehingga untuk mengetahui karakteristik populasi harus
dilakukan sampling.

2. Faktor biaya
Salah satu alternatif untuk mengatasi keterbatasan biaya adalah melalui sampling.
Biaya yang diperlukan dalam suatu penelitian, bukan hanya untuk pengumpulan data
saja, tetapi juga untuk analisis, diskusi, perhitungan dan transportasi.

10
3. Faktor waktu
Menganalisis data hasil sampling selain dapat menghemat biaya, juga dapat
menghemat waktu karena dapat dilakukan dalam waktu yang singkat.

4. Percobaan yang sifatnya merusak/mengganggu

5. Faktor kecermatan penelitian


Ketelitian dalam pengumpulan data, pencatatan, dan penganalisisannya sangat
berpengaruh terhadap pembuatan kesimpulan yang akan dipertanggungjawabkan.
Makin banyak obyek yang diteliti makin memberikan peluang untuk terjadinya
ketidakcermatan penelitian baik yang menyangkut pengumpulan, pengolahan, maupun
analisis data. Ketidakcermatan ini akan menimbulkan kekeliruan dalam pengambilan
kesimpulan. Dengan sampling ketidakcermatan ini dapat dikurangi karena peneliti
akan bekerja dalam lingkup yang lebih terbatas yang dapat dia kendalikan.

6. Faktor ekonomis
Teknik pengambilan sampel dapat dilakukan secara acak (probability sampling)
dan secara tidak acak (non probability sampling). Probability sampling adalah teknik
sampling yang memberikan peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur
atau anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Pemilihan sampel secara
acak sangat dianjurkan pada penelitian kuantitatif. Sedangkan non probability
sampling merupakan teknik yang tidak memberikan peluang yang sama bagi setiap
anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sani dkk, 2017).
Dasar pertimbangan pengambilan sampel adalah memperhitungkan masalah
efisiensi dan masalah ketelitian dimana penelitian dengan pengambilan sampel dapat
mempertinggi ketelitian karena jika penelitian terhadap populasi belum tentu dapat
dilakukan secara teliti. Seorang peneliti harus memperhitungkan dan memperhatikan
hubungan antara waktu, biaya dan tenaga yang akan dikeluarkan dengan tingkat
ketepatan (Milzam, 2015).

1. Probability Sampling
Ada 3 cara yang paling umum digunakan untuk memperoleh sampel secara
acak yakni pengambilan acak sederhana (simple random sampling), pengambilan

11
sampel acak terstratifikasi (stratified random sampling) dan pengambilan sampel
berklaster (cluster random sampling). Masing-masing teknik pengambilan sampel
secara acak sederhana dapat dilakukan secara manual atau menggunakan tabel
bilangan acak.

a. Teknik Sampling Acak Sederhana

Sampel acak sederhana dapat digunakan jika unsur atau anggota populasi
bersifat homogen atau memiliki karakteristik yang sama. Syarat lain dari
penggunaan teknik ini adalah jika diketahui identitas-identitas dari anggota
populasi, sedangkan keterangan lain mengenai populasi seperti tingkat
keragaman, dan pembagian ke dalam golongan-golongan tidak diketahui. Dalam
pengambilan acak sederhana (simple random sampling), seluruh individu yang
menjadi anggota populasi memiliki peluang yang sama dan bebas dipilih sebagai
anggota sampel. Setiap individu bebas dipilih karena pemilihan individu-individu
tersebut tidak mempengaruhi individu yang lain. Jika jumlah anggota populasi
tidak terlalu besar, maka peneliti dapat menggunakan cara manual atau tradisional
dalam mengambil sampel. Namun, jika jumlah anggota populasi cukup besar
maka akan lebih efisien jika pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan
tabel bilangan acak.

1. Cara manual atau tradisional

Contoh cara manual ini dapat dilakukan dalam memilih beberapa guru
dari kumpulan-kumpulan guru Fisika di Musyawarah Guru Mata Pelajaran
(MGMP) untuk dijadikan sampel peneltian. Langkah-langkah yang dapat
dilakukan yaitu :
a. Tentukan jumlah populasi yang dapat ditemui.
b. Daftar semua anggota dalam populasi dan masing-masing diberi nomor
urut.
c. Tulislah nama setiap anggota dalam sebuah kartu, kemudian masukkan
dalam sebuah kotak.
d. Kocok kotak tersebut dan keluarkan atau ambil sebuah kartu.
e. Nomor anggota yang diambil adalah mereka yang ditunjuk sebagai sampel
penelitian.

12
f. Lakukan terus pengambilan nomor secara acak sampai jumlah yang
diinginkan dapat dicapai.

2. Sampling Acak Menggunakan Tabel Random

Sampling acak dengan menggunakan tabel ini mudah dilakukan, jika


asal populasi yang sesungguhnya telah diketahui. Langkah-langkah yang dapat
digunakan untuk memilih sampel dengan menggunakan tabel random adalah
sebagai berikut :
a. Identifikasi jumlah total populasi.
b. Tetapkan jumlah sampel yang diinginkan berdasarkan ketentuan yang
berlaku.
c. Daftar semua anggota dan tulis nomor urut untuk masing-masing anggota.
Nomor urut dibuat secara alfabetis berdasarkan nama anggota populasi.
d. Pilih angka pada tabel secara acak dengan menggunakan penunjuk angka
(kolom dan baris), penunjukan angka (yang terdiri dari 2 angka)
ditentukan secara acak.
e. Pada kelompok-kelompok angka yang dipilih, lihat angka dengan digit
yang tepat.
f. Tetapkan beberapa anggota sampel berdasarkan angka-angka pada tabel
random yang bersesuaian.
g. Pilih penunjuk angka yang lain secara acak seperti pada langkah ke 4,
untuk memilih anggota sampel lainnya. Ulangi terus mekanisme pemilihan
anggota sampel sehingga jumlah sampel yang diinginkan tercapai.

b. Pengambilan Sampel Acak Berstratifikasi

Pengambilan sampel acak berstratifikasi dilakukan jika ada subkelompok


yang kemungkinan besar memiliki respon yang berbeda dalam variabel yang
diteliti. Misalnya, peneliti ingin mengetahui kecenderungan siswa SMP dalam
memilih bidang studi ilmu pengetahuan alam (IPA) untuk kuliah. Peneliti
memiliki alasan dan yakin bahwa variabel jenis kelamin adalah variabel penting
yang dapat mempengaruhi hasil penelitian, atau kemungkinan besar menunjukkan
data yang berbeda. Pada kasus seperti ini, peneliti harus memastikan bahwa
proporsi laki-laki dan perempuan dalam sampel penelitian adalah sama dengan

13
proporsi populasi. Namun pada kasus tertentu, bisa saja pengambilan sampel
berstratifikasi ini tidak sesuai proporsi populasi, yakni ketika jumlah populasi dan
sampel terlalu kecil.
Jika populasi perlu digolongkan menurut ciri kelompok atau strata
tertentu, maka peneliti perlu menerapkan teknik sampling berstratifikasi.
Misalnya, ada perbedaan kualifikasi pendidikan guru dari S1 dan S3, perbedaan
umur guru kurang dari 40 tahun, antara 40 tahun sampai 50 tahun, dan lebih dari
50 tahun. Tentu saja, kelompok-kelompok tersebut harus homogen, misalnya
proporsi guru dengan kualifikasi S1 seimbang dengan guru yang memiliki
kualifikasi S2. Sampling acak berstrata dilakukan jika :
1. Elemen-elemen populasinya heterogen (karakteristik individu populasi tidak
homogen).
2. Ada kriteria yang digunakan sebagai dasar untuk mengelompokkan elemen
populasi ke dalam strata-strata.
3. Jumlah elemen untuk tiap strata dapat diketahui dengan tepat.
Pada populasi yang berstratifikasi, unit populasi (N) dapat dibagi ke dalam sub
populasi, misalnya, masing-masing sub populasi memiliki jumlah : N 1, N2,...,
NS. Sub populasi ini tidak boleh tumpang tindih, artinya elemen populasi pada
satu sub populasi tidak boleh menjadi elemen dari sub populasi yang lain. Jika
seluruh sub populasi dijumlahkan, maka diperoleh :
N1 + N2 + .... + NS = N
Beberapa alasan yang mendasari penggunaan sampling acak berstratifikasi
adalah untuk :
a. Meminimalkan kesalahan dan memaksimalkan informasi yang diperoleh.
Pemilihan sampel secara stratifikasi memungkinkan peneliti untuk
memperkecil batas kesalahan sampling (sampling error) jika dibandingkan
dengan sampling acak sederhana dengan ukuran sampel yang sama.
b. Jumlah sampel dapat diperkecil dengan melakukan stratifikasi elemen-
elemen populasi ke dalam kelompok yang tepat, sehingga biaya observasi
pada suatu survei dapat dikurangi.
c. Peneliti dapat menerapkannya metode dan prosedur yang berbeda untuk
setiap strata yang diambil.

14
Berikut ini dideskripsikan tentang pengambilan sampel berstratifikasi secara
proporsional dan non proporsional yaitu :
1. Sampling stratifikasi acak secara proporsional (proportional stratified random
sampling)
Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam proses pengmabilan sampel ini
adalah sebagai berikut :
a. Mengidentifikasi target yang dapat diakses dari populasi, misalnya : 35 siswa
kelas XII yang terdaftar di sekolah negeri.
b. Menentukan populasi atau perbandingan dari strata atau kelompok yang
menjadi perhatian, misalnya : ada 219 perempuan (60%) dan 146 laki-laki
(40%) dalam populasi.
c. Menetapkan persentase jumlah sampel yang akan diambil dari populasi,
misalnya sampel sebanyak 30% dari populasi sasaran.
d. Menggunakan tabel bilangan acak, misalnya memilih secara acak sebanyak
30% dari setiap strata dari populasi. Pada kasus ini diperoleh 66 siswa
perempuan dan (30% dari 219) dan 44 siswa laki-laki (30% dari 146).
Proporsi siswa laki-laki dan perempuan adalah sama dalam kedua populasi
tersebut yakni 40% dan 60%.

Keuntungan sampling acak secara proporsional berdasarkan stratifikasi adalah


bahwa sampel yang diperoleh lebih representatif daripada sampel yang diperoleh
dengan sampling acak yang sederhana. Sampling dengan cara stratifikassi ini
lebih menggambarkan keadaan populasi yang sesungguhnya karena telah
memperhitungkan ciri-ciri tertentu. Oleh karena itu, kesalahan sampling akan
dapat dikurangi. Sedangkan kelemahan teknik sampling ini adalah memerlukan
usaha yang lebih banyak dalam mengenal populasi yang akan diteliti terlebih
dahulu. Peneliti harus mampu memperoleh keterangan yang terperinci tentang
distribusi ciri-ciri elemen-elemen.

2. Sampling stratifikasi acak secara acak proporsional


Sampling ini hampir sama dengan sampling stratifikasi, namun proporsi
strata sampel tidak didasarkan atas proporsi strata dalam populasi. Hal ini
umumnya dilakukan karena sub kategori tertentu memiliki jumlah sampel yang

15
terlampau sedikit. Misalnya, peneliti mengambil populasi tenaga pengajar yang
terdiri atas guru besar, lektor kepala, lektor dan asisten di sebuah fakultas. Sampel
diambil secara merata yakni untuk masing-masing kategori 1/5 atau 20%, padahal
jumlah dosen yang menduduki jabatan guru besar hanya sedikit.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam memilih sampel menggunakan
teknik ini adalah sebagai berikut :
a. Identifikasi jumlah total populasi.
b. Tentukan jumlah sampel yang diinginkan.
c. Daftar semua anggota populasi sesuai dengan karakteristik strata yang dimiliki,
d. Pisahkan anggota populasi sesuai dengan karakteristik strata yang dimiliki.
e. Pilih sampel dengan menggunakan cara acak seprti yang telah dilakukan dalam
teknik random sederhana.
f. Lakukan langkah pemilihan pada setiap strata yang ada, sampai jumlah total
sampel terpenuhi.

3. Sampling acak klaster berstrata


Teknik sampling ini merupakan gabungan atau perpaduan dari cara
pengambilan sampel acak berstrata dengan sampel acak klaster. Pada teknik klaster
pemilihan sampel dilakukan berdasarkan pada kelompok, daerah, atau kelompok
subjek secara alami berkumpul bersama. Contoh klaster adalah kelompok siswa
dalam satu kelas. Setiap elemen populasi pada setiap klaster mungkin memiliki
karakteristik yang berbeda. Teknik sampling klaster berstrata ini dilakukan untuk
memilih sampel dari sebuah populasi yang memiliki strata dan klaster.

c. Pengambilan Sampel Acak Berklaster

Pada beberapa kasus, peneliti tidak dapat memilih sampel individu karena
terkendala pembatasan administratif atau kendala lainnya. Misalnya, populasi
penelitian adalah semua siswa kelas XI pada sebuah kabupaten yang mengikuti
pelajaran Biologi secara kontekstual. Pada kasus tersebut, peneliti tidak mungkin
dapat menarik sampel siswa secara acak yang dipilih untuk berpartisipasi dalam
kegiatan eksperimental. Walaupun hal tersebut dapat dilakukan, akan dibutuhkan
waktu dan upaya luar biasa dan merupakan pilihan yang sulit. Sehingga, peneliti
menjadikan kelas yang sudah ada sebagai sampel. Pemilihan kelompok sebagai

16
sampel secara acak, dan bukan individu dikenal sebagai pengambilan sampel acak
berklaster.
Pengambilan sampel acak berklaster mirip dengan pengambilan sampel
acak sederhana. Perbedaannya adalah bahwa yang dipilih secara acak adalah
kelompok dan bukan individu. Banyak peneliti yang membuat kesalahan umum
berkaitan dengan pengambilan sampel acak berklaster yakni, memilih hanya satu
kelompok sebagai sampel dan kemudian memantau atau mewawancarai semua
individu dalam kelompok tersebut. Pada kasus sampel berklaster, walaupun ada
sejumlah besar individu dalam kelompok, maka kelompok tersebut merupakan satu
kesatuan. Jadi, karakteristik setiap individu dalam kelompok tidak mewakili
populasi sasaran penelitian. Artinya, peneliti tidak dapat membuat kesimpulan
berdasarkan karakteristik masing-masing individu dalam sebuah kelompok yang
dijadikan sampel.

d. Pengambilan Sampel Acak Dua Tahap

Pada kasus tertentu, perlu dilakukan pengambilan sampel secara


berdasarkan klaster, kemudian diikuti dengan pemilihan individu secara acak.
Teknik sampling seperti ini disebut pengambilan sampel acak dua tahap. Misalnya,
peneliti hendak memilih 100 siswa secara acak dari populasi 3000 siswa kelas IX
yang terdiri dari 100 kelas. Penggunaan teknik sampling ini akan memangkas biaya
dan waktu penelitian, karena pengamatan atau kunjungan hanya dilakukan pada 25
kelas 25 kelas saja pada 4 siswa.

2. Non Probability Sampling

Teknik pengambilan sampel secara tidak acak ini mencakup sampling sistematis,
sampling kuota, sampling aksidental, sampling purposif, sampling jenuh dan snowball
sampling. Non probability sampling dapat menjadi alternatif pilihan dengan beberapa
pertimbangan, misalnya penghematan waktu, biaya, tenaga dan keterandalan
subjektifitas peneliti. Pertimbangan penggunaan teknik ini seringkali didasarkan
pengetahuan, kepercayaan dan pengalaman peneliti. Pengambilan sampel dengan
memperhatikan faktor-faktor tersebut menyebabkan tidak semua anggota populasi
memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel secara acak. Pada

17
prakteknya, kadang ada bagian tertentu dari populasi yang tidak dimasukkan dalam
pemilihan sampel untuk mewakili populasi.
Teknik non probability sampling merupakan cara pengambilan sampel yang pada
prinsipnya menggunakan pertimbangan tertentu yang digunakan oleh peneliti. Teknik ini
dapat dilakukan dengan mudah dalam waktu yang singkat, namun terkadang hasil
penelitian tidak dapat diberlakukan bagi seluruh populasi, karena sebagian besar dari
populasi tidak dilibatkan dalam penelitian. Berikut beberapa cara pengambilan sampel
yang tidak dilakukan secara acak yaitu :

a. Pengambilan Sampel Sistematis

Pengambilan sampel secara sistematis adalah suatu metode dimana hanya unsur
pertama dari sampel yang dipilih secara acak, sedangkan elemen-elemen atau anggota
sampel selanjutnya dipilih secara sistematis berdasarkan suatu pola tertentu. Pada
pengambilan sistematis, setiap individu pada daftar populasi didaftar terlebih dahulu,
kemudian dilakukan pemilihan sampel dengan sistematika tertentu. Misalnya ada 5000
anggota dalam daftar populasi dan akan dipilih sebanyak 500 sampel. Pada kasus
tersebut, peneliti dapat memilih setiap nama dengan setiap selang sepuluh angka dari
daftar populasi hingga diperoleh 500 nama sebagai sampel. Untuk menghindari faktor
prasangka, peneliti dapat memilih nomor urut pertama secara acak. Misalnya, nomor urut
pertama adalah 3, maka nomor urut kedua adalah 13, nomor urut ketiga adalah 23 dan
seterusnya. Teknik pengambilan sampel seperti itu dikenal sebagai sampling sistematik
dengan awalan yang acak.
Cara sederhana untuk menentukan selang pengambilan sampel adalah dengan
meninjau ukuran populasi dan ukuran sampel yang akan digunakan. Teknik pemilihan
sampel ini menggunakan prinsip proporsional, dengan cara menentukan pilihan sampel
pada setiap selang , dimana k adalah angka yang merupakan rasio jumlah populasi dan
jumlah sampel. Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam memilih sampel secara
sistemati adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi total populasi yang akan digunakan dalam proses penelitian.
2. Daftar semua anggota populasi.
3. Berikan nomor urut untuk setiap anggota populasi.
4. Tentukan besarnya jumlah sampel yang akan diambil.

18
5. Tentukan angka proporsional sistematis k yang besarnya sama dengan jumlah
populasi dibagi dengan jumlah sampel.
6. Lakukan pengacakan untuk menentukan nomor urut pertama yang akan diambil
sebagai sampel.
7. Selanjutnya, tambahkan nilai k pada nomor urut pertama untuk memilih anggota
sampel yang kedua.
8. Ulangi langkah (7) di atas dengan menambahkan nilai k pada nomor urut anggota
sampel yang kedua, untuk memperoleh anggota sampel yang ketiga. Lakukan hal
tersebut secara sistematis sehingga dapat diperoleh semua anggota sampel sesuai
jumlah yang telah ditetapkan.

b. Pengambilan Sampel Berdasarkan Kemudahan (Convenience Sampling)

Teknik sampling ini dilakukan dengan memilih sekelompok orang yang tersedia
untuk studi. Misalnya, seorang peneliti ingin mempelajari dua kelompok kelas III SD
untuk mengevaluasi efektifitas program literasi di sebuah sekolah. Berikut ini diberikan
beberapa contoh sampel yaitu (1) Untuk mengetahui bagaimana pendapat mahasiswa
tentang layanan perpustakaan universitas, kepala perpusatakaan pada hari senin pagi dan
berdiri di dekat pintu keluar perpustakaan pada hari senin pagi dan mewawancarai (2)
seorang reporter berita untuk sebuah stasiun televisi lokal meminta opini orang yang
lewat di sudut jalan di pusat kota tentang rencana walikota untuk memindahkan pasar
dari pusat kota ke pinggiran kota. Teknik ini mudah digunakan namun memiliki
kelemahan yang mungkin berdampak pada terjadinya bias apada hasil penelitian.

c. Pengambilan Sampel Purposif

Teknik sampling purposif adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan


atau maksud tertentu. Pemilihan sekelompok subjek dalam purposif sampling didasarkan
atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan tujuan
penelitian. Jadi, anggota sampel yang dipilih disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu
sesuai dengan tujuan atau masalah penelitian. Teknik ini biasanya dilakukan pada
penelitian kualitatif. Peneliti menggunakan penilaian pribadi untuk memilih sampel
sampel penelitian. Misalnya, seorang guru IPS kelas VIII SMP memilih 2 siswa dengan
prestasi tertinggi di kelasnya, 2 siswa dengan nilai pertengahan dan 2 dengan nilai rata-
rata terendah. 6 siswa tersebut diwawancarai untuk mengetahui bagaimana pendapat

19
siswa tentang pembejalaran kontekstual berbasis sejarah lokal yang diterapkan oleh guru
dalam pembelajaran sejarah. Kelemahan utama dari pengambilan sampel purposif adalah
adanya keputusan peneliti dalam menetapkan sampel yang mungkin merupakan
kesalahan karena peneliti tidak tepat dalam memperkirakan keterwakilan sampel atau
keahlian mereka dalam informasi yang dibutuhkan.
Beberapa teknik sampling non acak lainnya yang mungkin dilakukan oleh peneliti
dalam kasus tertentu adalah snowball sampling, quota sampling dan total sampling.

1. Snowball Sampling

Pada teknik ini, sampel diambil secara berantai, mulai dari ukuran sampel yang
kecil sampai menjadi besar. Cara ini banyak dipakai jika peneliti tidak banyak
mengetahui tentang populasi dan hanya mengetahui satu atau dua orang saja yang dapat
dijadikan sebagai sampel. Pada penelitian pendidikan teknik ini digunakan dalam
menyebarkan angket untuk suatu wilayah yang besar dalam waktu singkat. Cara yang
dilakukan adalah dengan memberikan sejumlah angket pada beberapa responden yang
dapat dijangkau, kemudian peneliti meminta pada responden untuk menyampailkan
angket pada responden lain yang dapat ditemui. Kelebihan teknik sampling ini adalah
dapat digunakan pada situasi tertentu, namun kelemahannya adalah perwakilan penting
dari populasi mungkin tidak terjaring dalam sampel yang sudah dipilih.

2. Quota Sampling
Teknik pengambilan sampel secara kuota hanya didasarkan pada pertimbangan
peneliti saja, dengan menentukan besar dan kriteria sampel terlebih dahulu. Misalnya,
sampel yang akan diambil berjumlah 80 orang dengan perincian 40 laki-laki dan 40
perempuan yang berumur 15 sampai 40 tahun. Cara ini digunakan jika peneliti mengenal
betul daerah dan situasi daerah penelitian. Keuntungan menggunakan teknik ini adalah
dapat dilakukan secara cepat dengan biaya yang murah.

3. Saturation Sampling

Teknik pengambilan sampel dilakukan jika populasi tidak besar atau peneliti
ingin membuat generalisasi dengan kesalahan sangat kecil. Pada teknik ini semua
anggota populasi digunakan sebagai sampel. Teknik ini tidak cocok untuk populasi yang
anggotanya besar. Misalnya, akan dilakukan penelitian tentang kinerja guru di SMA

20
Negeri 1 Berandan Barat, seluruh guru dijadikan sebagai sampel penelitian karena jumlah
guru SMAN 1 Berandan Barat hanya 35 orang.

C. Instrumen Penelitian

1. Pengertian Instrumen Penelitian

Penyusunan dan pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting


dalam penelitian. Jika instrumen penelitian tidak dapat digunakan untuk
memperoleh data yang valid, maka hasil penelitian tidak akan dapat dipercaya.
Ketika hendak melakukan penelitian, peneliti harus sudah mempunyai gambaran
tentang variabel yang akan diteliti sekaligus memikirkan metode dan instrumen/alat
yang akan digunakan untuk mengumpulkan data penelitiannya. Sebagai contoh,
jika salah satu variabel penelitian adalah motivasi, maka perlu dipikirkan
bagaimana cara mengukur motivasi.
Pemilihan metode dan instrumen penelitian menjadi sangat penting untuk
dapat mengukur variabel-variabel penelitian. Metode pengumpulan data merupakan
cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Misalnya dengan
melakukan wawancara, memberikan tes, melakukan pengamatan, dan sebagainya.
Sedangkan instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih/digunakan
untuk mengumpulkan data. Contoh instrumen penelitian adalah kuesioner atau
angket, daftar centang, pedoman wawancara, lembar pengamatan, tes, dan
sebagainya.
Peneliti dapat menggunakan lebih dari satu metode dan instrumen untuk
mengumpulkan data apalagi jika variabel yang diteliti cukup banyak. Misalnya,
peneliti melakukan pengamatan dengan menggunakan instrumen lembar
pengamatan dan catatan lapangan. Peneliti dapat menggunakan instrumen standar
yang telah diuji validitas dan realibitasnya, atau dapat mengembangkan sendiri. Hal
penting yang harus dilakukan dalam mengembangkan instrumen adalah
mempelajari teori yang terkait dengan variabel penelitian, sehingga instrumen yang
disusun dapat diuji validitas isinya (content validity). Beberapa instrumen yang
telah digunakan dalam penelitian dan evaluasi dapat diperoleh dari berbagai
sumber cetak dan elektronik.

21
Instrumen penelitian dapat dibagi dalam dua kelompok yakni instrumen tes
dan instrumen non tes. Tes merupakan kumpulan pertanyaan atau soal yang sesuai
untuk mengukur variabel tertentu, terutama berupa kemampuan, keterampilan,
intelegensi, kreativitas, sikap atau bakat, dan sebagainya. Ada berbagai bentuk tes
yang umum digunakan dalam penelitian antara lain tes tertulis, tes lisan, tes
praktek, dan sebagainya. Instrumen non tes lebih banyak variasinya dari pada
instrumen tes.
Beberapa instrumen non tes yang umum digunakan dalam penelitian adalah
sebagai berikut :
a. Angket atau kuisioner
Angket atau kuisioner merupakan instrumen yang terdiri dari sejumlah
pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden secara
tertulis terkait pendapat atau hal-hal yang diketahui oleh responden. Angket
tidak digunakan untuk mengukur pengetahuan, namun dapat digunakan untuk
mengetahui informasi mengenai suatu masalah atau pendapat responden. Angket
akan cukup efektif digunakan untuk mengumpulkan data penelitian, jika
pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dapat menggali informasi sesuai harapan
peneliti. Oleh sebab itu, proses paling penting yang perlu diperhatikan adalah
menyusun pertanyaan angket.
Berdasarkan cara responden memberikan respon, angket dapat dibedakan
menjadi dua jenis yaitu angket terbuka dan tertutup. Angket terbuka adalah
angket yang memungkinkan responden untuk dapat memberikan respon atau
isian sesuai dengan kondisi atau pendapatnya. Angket terbuka digunakan jika
peneliti belum dapat memperkirakan atau menduga kemungkinan alternatif
jawaban yang mungkin diberikan oleh responden. Angket tertutup adalah angket
yang disajikan dengan memberi pilihan jawaban, sehingga responden hanya
dapat memilih jawaban yang sesuai keadaannya. Pada beberapa kasus, peneliti
dapat menggunakan angka campuran yaitu gabungan antara angket terbuka dan
tertutup (Sani dkk, 2017).
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan angket,
antara lain:
1. Menggunakan bahasa yang sederhana, disesuaikan dengan responden yang
akan mengisi angket tersebut.

22
2. Menggunakan kalimat yang pendek.
3. Hindari pertanyaan yang berhubungan dengan harga diri dan bersifat pribadi
bagi responden.
4. Butir soal angket jangan terlalu banyak agar tidak memakan waktu pada saat
pengisiannya.
5. Dalam daftar pertanyaan hindari pertanyaan yang menyinggung perasaan
responden atau usaha memberikan pemahaman kepada responden terhadap
angket yang dibuat (Nugraha, 2016).

b. Interview atau wawancara


Interview atau wawancara merupakan metode atau instrumen yang
digunakan untuk memproleh informasi atau pendapat secara lisan dari orang
yang diwawancarai. Seorang peneliti dapat mencari informasi tentang perilaku
seorang siswa di rumah dengan mewawancarai orang tua siswa, mengetahui
pendapat siswa tentang pembelajaran yang diikutinya dan sebagainya.

c. Observasi
Observasi merupakan metode atau instrumen untuk memperoleh data
dengan cara melakukan pengamatan secara langsung perilaku objek penelitian
atau fenomena alam. Observasi dapat dilakukan dengan cara berpartisipasi
dalam kegiatan yang sedang berlangsung.

d. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan cara meemperoleh informasi dengan menelaah
dokumen, arsip, atau artefak. Dokumen yang umum ditelaah adalah buku-buku
yang relevan, data statistik, majalah, catatan pribadi, laporan kegiatan, catatan
harian, notulen rapat dan sebagainya (Sani dkk, 2017).

Metode dokumentasi sebagai metode pengumpulan data mempunyai beberapa


kelebihan, yaitu :

1. Metode ini dapat memberikan gambaran berbagai informasi tentang siswa pada
waktu yang sudah lampau (yang direkam atau didokumentasikan).

23
2.  Berbagai informasi tentang siswa tersebut merupakan bahan kajian yang dapat
menghubungkan keadaan siswa dengan masa lalunya, apakah keadaan
sekarang disebabkan oleh hal yang sudah lalu.

3.  Metode ini dapat merekam berbagai jenis data tentang siswa, identitas siswa,
identitas orang tua, keadaan dan latar belakang keluarga, lingkungan sosial,
data psikis, prestasi belajar, data pendidikan dan data kesehatan jasmani, dan
sebagainya.

Dari data dokumentasi di atas yang menjadi data pokok dari peneliti adalah
dokumentasi untuk melengkapi data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Selain memiliki kelebihan, metode dokumentasi juga mempunyai kelemahan-
kelemahan, yaitu:

1.  Pencatatan dalam dokumen perlu disikapi dengan kritis, apakah pencatatan
yang dilakukan terhadap siswa valid atau tidak.

2.  Jika ada pencatatan yang tidak lengkap karena sesuatu hal, disengaja atau tidak
disengaja, penggunaan dokumen dapat menyesatkan dalam memahami siswa.

Upaya-upaya mengatasi kelemahan dalam dokumentasi yaitu seorang peneliti


harus jeli dan teliti ketika mencatat dalam dokumen sehingga kesalalahan dalam
penulisan data yang bisa menyesatkan bisa terhindari (Ochim, 2009).

e. Skala peringkat (rating)


Skala peringkat (rating) merupakan suatu ukuran subjektif yang dibuat secara
berkala. Data yang dihasilkan dengan skala peringkat merupakan data kasar,
namun dapat memberikan informasi tertentu tentang program/kegiatan atau orang
yang dijadikan objek (Sani dkk, 2017).

2. Bentuk Instumen Penelitian

Dua jenis alat evaluasi yang dapat dikembangkan menjadi instrumen


penelitian yaitu tes dan non tes. Instrumen non tes dapat dibedakan dalam instrumen
yang diisi oleh peneliti dan instrumen yang diisi oleh subjek penelitian. Berikut
bentuk instrumen penelitian yaitu :

24
a. Instrumen Tes
Instrumen tes berupa tes dapat berupa beberapa pertanyaan, lembar kerja, atau
sejenisnya yang dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan, sikap, dan
keterampilan subjek penelitian. Berdasarkan sasaran dan objek yang diteliti terdapat
beberapa macam tes yaitu :
1. Tes kemampuan misalnya tes penguasaan konsep, tes kreativitas, dan sebagainya.
2. Tes kepribadian (personalitty test) yang digunakan untuk mengungkap
kepribadian seseorang yang menyangkut konsep pribadi, disiplin, bakat khusus
dan sebagainya.
3. Tes bakat (aptitude test) yang digunakan untuk mengetahui bakat seseorang.
4. Tes inteligensi (intelligence test) yang digunakan untuk mempekirakan tingkat
intelektual seseorang.
5. Tes sikap (attitude test) yang digunakan untuk mengukur sikap orang dalam
menghadapi suatu kondisi.
6. Tes minat (measures of interest) yang digunakan untuk menggali minat seseorang
terhadap sesuatu.
7. Tes prestasi (achievement test) yang digunakan untuk mengetahui pencapaian
seseorang setelah ia mempelajari sesuatu.

Berikut ini dijelaskan mengenai tes bakat dan tes prestasi yaitu :
a. Tes Bakat
Tes bakat digunakan untuk mengukur potensi individu, yakni dengan
mengukur keterampilan atau kemampuan mengerjakan pertanyaan yang
diberikan. Tes ini berbeda dengan tes prestasi, dan mencakup lebih banyak jenis
keterampilan atau pengetahuan.
Contoh tes bakat Lipatlah lipatan di sebelah kiri. Objek manakah di sebelah
kanan yang dapat dibuat dari lipatan tersebut ?

A B C D E

25
Gambar 3.1 Contoh tes aptitude

Tes bakat yang paling terkenal adalah Stanford Binet Intelligence Scale untuk
menguji bakat individu. Walaupun sebenarnya skala Wechsler lebih banyak
digunakan. Banyak tes kecerdasan memberikan bukti yang dapat diandalkan dan
berlaku bila digunakan dengan jenis individu tertentu dan untuk tujuan tertentu
misalnya, untuk memprediksi nilai mahasiswa di perguruan tinggi. Namun, ada
pengakuan bahwa kebanyakan tes kecerdasan gagal untuk mengukur beberapa
kemampuan penting, termasuk kemampuan untuk mengidentifikasi atau konsepsi
hubungan yang tidak biasa. Oleh sebab itu, seorang peneliti harus berhati-hati
dalam memilih atau mengevaluasi sebuah tes bakat sebelum menggunakannya
dalam penelitian.
Contoh item pada tes kecerdasan
Perhatikan urutan gambar berikut :

Gambar 3.2 Contoh tes kecerdasan

Manakah dari gambar ini yang merupakan urutan berikutnya ?

b. Tes Praktek
Tes praktek digunakan untuk mengukur kinerja individu pada tugas tertentu,
misalnya tes mengetik. Pada tes kemampuan mengetik, penguji mengukur seberapa
akurat dan seberapa cepat orang mengetik. Pada umumnya tes praktek dilakukan
dengan menggunakan peralatan, misalnya untuk menguji kompetensi seorang
peserta didik dalam menjahit, penguji meminta peserta didik untuk menjahit
dengan pola tertentu dengan menggunakan mesin jahit (Sani dkk, 2017).

26
b. Instrumen yang diisi oleh pengumpul data
1. Skala peringkat (rating scale)
Skala peringkat dilengkapi dengan sejumlah pernyataan dan peringkat yang
dapat dipilih sesuai kondisi subek dalam pemenuhan pernyataan. Ketika peneliti
menilai seseorang, mereka dapat membuat penelitian berdasarkan peringkat
perilaku atau sesuatu yang dihasilkan oleh orang yang sedang diamati. Peringkat
terkait dengan putusan pengamat/penilai tentang perilaku individu atau produk.
Berikut diberikan contoh instrumen dengan skala peringkat yaitu :
Petunjuk :
Untuk setiap perilaku guru yang diamati, lingkari nomor yang sesuai, dengan
menggunakan skala berikut :
5 = sangat baik, 4 = di atas rata-rata, 3 = sedang, 2 = di bawah rata-rata,
1 = tidak pernah

a. Guru menjelaskan materi pelajaran dengan jelas


1 2 3 4 5

b. Guru melakukan komunikasi dan pendekatan yang baik dengan siswa


1 2 3 4 5

c. Guru mengajukan pertanyaan tingkat tinggi


1 2 3 4 5

d. Guru menggunakan beberapa variasi dalam kegiatan belajar


1 2 3 4 5

Skala peringkat yang paling sederhana adalah skala numerik, yang menyediakan
serangkaian angka yang masing-masing mewakili peringkat tertentu. Masalah yang
ditemukan dalam penggunaan skala penilaian ini adalah adanya subjektifitas pengamat.
Pengamat yang berbeda cenderung memiliki penafsiran yang berbeda tentang arti dari
angka yang dijadikan peringkat (sangat baik, rata-rata, dan sebagainya). Salah satu cara
untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan memberikan penjelasan tambahan
untuk setiap angka, sehingga deskripsi tentang peringkat menjadi lebih lengkap. Jika

27
defenisi tidak diberikan, maka peneliti harus melatih pengamat untuk meminimalkan
subjektifitas.
Skala peringkat grafis dapat digunakan untuk memperbaiki ketidakjelasan skala
peringkat numerik. Pada skala grafis, masing-masing karakteristik yang akan dinilai
ditempatkan pada garis horizontal. Pengamat dapat memberikan tanda centang pada
suatu lokasi di sepanjang garis tersebut. Berikut ini diberikan contoh skal peringkat grafis
yaitu :

Petunjuk :
Tunjukkan kualitas partisipasi siswa dalam kegiatan belajar di kelas dengan
menempatkan tanda centang (√) pada posisi yang bersesuaian di sepanjang garis yang
disediakan.
1. Mendengarkan instruksi guru

Selalu Sering Kadang Jarang Tidak pernah

2. Mendengarkan pendapat siswa lain

Selalu Sering Kadang Jarang Tidak pernah

3. Mengajukan pendapatnya dalam diskusi kelas

Selalu Sering Kadang Jarang Tidak pernah

Skala peringkat dapat digunakan untuk menilai sebuah produk. Contoh produk yang
sering dinilai dalam penelitian pendidikan adalah karya siswa berupa laporan
praktikum, peta dan grafik, diagram, gambar, karangan siswa atau esai dan
sebagainya. Produk tersebut dapat dinilai kapan saja, sedangkan penilaian perilaku
menggunakan skala peringkat harus dilakukan pada waktu tertentu. Gunakan skala ini
dan sampel tulisan tangan siswa diperoleh.

28
2. Wawancara Terstruktur
Wawancara terstruktur mencakup pertanyaan yang sama dengan instrumen
kuesioner, yaitu satu set pertanyaan yang harus dijawab oleh subjek penelitian.
Namun, wawancara dilakukan secara lisan, baik secara langsung atau melalui telepon,
dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan responden dicatat oleh peneliti. Keuntungan
dari metode dan instrumen ini adalah bahwa pewawancara dapat menjelaskan
pertanyaan yang belum di pahami oleh responden, dan juga dapat meminta responden
untuk menambah atau memperluas jawaban yang penting. Kelemahan utama
pelaksanaan wawancara adalah menghabiskan waktu yang lama untuk
menyelesaikannya. Selain itu, kehadiran peneliti dapat menghambat responden dalam
menjelaskan apa yang sebenarnya mereka pikirkan. Oleh sebab itu, langkah pertama
yang harus dilakukan dalam melakukan wawancara adalah membangun hubungan
yang nyaman dengan peserta.
Peneliti dapat membuat daftar pertanyaan wawancara untuk dapat melakukan
wawancara secara terstruktur. Sebuah wawancara membutuhkan waktu bagi
pewawancara untuk membuat catatan yang memadai, kecuali jika pewawancara
menggunakan alat perekam video. Berikut ini diberikan contoh pertanyaan wawancara
terstuktur.
1. Apakah anda menilai sikap murid di sekolah pada umumnya, sangat baik, baik,
sedang atau tidak baik ?
a. Bagaimana perbandingan sikap murid pada tahun-tahun sebelumnya ?
b. Tolong berikan contoh-contoh spesifik

2. Apakah anda menila sikap murid di sekolah dalam belajar, sangat baik, baik,
sedang atau tidak baik ?
a. Bagaimana perbandingan sikap murid pada tahun-tahun sebelumnya ?
b. Tolong berikan contoh-contoh spesifik

3. Apakah anda menilai sikap murid di sekolah terhadap guru sangat baik, baik,
sedang atau tidak baik ?
a. Bagaimana perbandingan sikap murid pada tahun-tahun sebelumnya ?
b. Tolong berikan contoh-contoh spesifik

4. Apakah anda menilai sikap murid terhadap murid lain di sekolah, sangat baik, baik,
sedang atau tidak baik ?

29
a. Bagaimana perbandingan sikap murid pada tahun-tahun sebelumnya
b. Tolong berikan contoh-contoh spesifik

Pada banyak kondisi, jawaban peserta wawancara harus diperdalam sehingga


instrumen wawancara perlu dibuat dengan membuat klasifikasi tertentu. Berikan
contoh pertanyaan wawancara yang memberikan petunjuk bagi pewawancara untuk
membuat pertanyaan susulan. Berikut contoh pertanyaan susulan yaitu :
1. Apakah bapak ibu memiliki andil dalam keberhasilan sekoah dalam meraih
prestasi di tingkat nasional ?
2. Apa yang bapak/ibu lakukan dalam membina siswa ? (pertanyaan lanjutan :
ceritakan bagaimana kontribusi bapak/ibu dalam meningkatkan prestasi siswa).
3. Apakah kepala sekolah memberikan dukungan atau fasilitas dalam upaya
pembinaan siswa untuk meraih prestasi tingkat nasional ? (pertanyaan lanjutan :
ceritakan tentang upaya kepala sekolah dalam bentuk motivasi, pembiayaan,
integrasi program sekolah terkait pembinaan prestasi siswa).

3. Wawancara Tak Terstruktur


Wawancara tak terstruktur adalah wawancara yang dilakukan tanpa
menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu, namun tema
untuk pembicaraan telah ditetapkan. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan
informasi yang tidak baku. Peserta wawancara atau responden dalam wawancara tak
terstruktur adalah orang terpilih atau subjek yang memiliki karakteristik yang khas.
Pada umumnya, responden yang diwawancarai memiliki pengeetahuan, mendalami
situasi, atau lebih mengetahui informasi yang diperlukan. Peneliti tidak menyusun
pertanyaan terlebih dahulu, namun disesuaikan dengan keadaan dan ciri khas dari
responden. Biasanya, wawancara berjalan lama dan seringkali dilanjutkan pada
kesempatan yang lain.

Wawancara tak terstruktur dilakukan pada kondisi sebagai berikut :


a. Responden adalah orang penting atau berpengaruh
b. Pewawancara ingin menanyakan sesuatu secara lebih mendalam
c. Pewawancara melakukan penelitian kualitatif
d. Pewawancara tertarik untuk mempelajari hal-hal tertentu yang tidak lumrah
e. Pewawancara tertarik untuk berhubungan langsung dengan salah seorang
responden

30
f. Pewawancara tertarik untuk mengungkapkan motivasi, maksud, atau penjelasan
dari responden
g. Pewawancara ingin mencoba mengungkapkan pengertian suatu peristiwa atau
keadaan tertentu.
4. Observasi
Observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilakukan
dengan cara pengamatan dan pencatatan ecara sistematis terhadap fenomena-
fenomena yang dijadikan sasaran pengamatan. Observasi dapat dilakukan secara
partisipasif dan non partisipasif. Observasi secara partisipasif, observer melibatkan
diri di tengah-tengah observe, sedangkan observasi secara non partisipasif, observer
bertindak sebagai penonton saja (Zafira, 2012).
Umumnya dilakukan dengan menggunakan format observasi dan alat tulis.
Bentuk format observasi yang paling umum digunakan adalah daftar centang untuk
mengamati frekuensi kejadian. Kelemahan pelaksanaan observasi adalah bahwa
pengamat harus merekam beberapa subjek secara akurat, padahal peristiwa yang
berbeda dapat terjadi dalam waktu yang bersamaan.
Petunjuk pengamatan :
Berikan tanda centang setiap kali guru melakukan aktivitas berikut :
Tabel 3.1 Contoh observasi
Frekuensi
Bertanya pada siswa secara individual √ √ √ √ 4
Bertanya pada seluruh siswa √ √ 2
Memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya √ 1
Menyuruh siswa ke depan √ √ √ 3

a. Daftar Centang (Checklist)


Daftar centang dapat dibuat dengan format yang bervariasi. Hal yang perlu
dibuat dalam lembar observasi tersebut adalah semua perilaku atau kinerja penting
yang terkait dengan variabel penelitian. Lembar observasi ini digunakan untuk
menentukan apakah seseorang menunjukkan perilaku tertentu (biasanya diinginkan)
ketika menyelesaikan tugas tertentu. Jika perilaku tersebut diamati, maka
peneliti/pengamat memberikan tanda centang (√) pada daftar tersebut. Berikut
diberikan contoh daftar centang yang mencantumkan perilaku yang mungkin
dilakukan oleh subjek penelitian adalah sebagai berikut :
Tabel 3.2 Contoh daftar centang

31
Petunjuk : berikan tanda centang (√) jika aktivitas diamati
Menyampaikan tujuan pembelajaran
Membangkitkan keingintahuan siswa dengan menunjukkan
sebuah fenomena/demonstrasi
Memotivasi siswa untuk belajar
Mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari
Menjelaskan sambil menghadap siswa
Memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya
Memperhatikan siswa ketika bertanya
Memberikan penguatan atas jawaban siswa

b. Daftar Ijir (Tally Sheets)


Sebuah daftar ijir (tally sheet) adalah instrumen yang sering digunakan oleh
peneliti untuk merekam frekuensi perilaku, kegiatan atau komentar subjek penelitian.
Misalnya, peneliti mengamati aktivitas siswa SMA dalam mengikuti latihan tertentu.
Pertanyaan yang diajukan adalah seberapa sering siswa mengajukan pertanyaan
faktual ?, seberapa sering siswa mengajukan pertanyaan inferensial ?, dan aktivitas
lainnya. Lembar pengamatan berupa daftar centang dapat membantu peneliti untuk
dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Berikut ini diberikan contoh daftar
ijir yaitu :
Tabel 3.3 Contoh daftar ijir
Catatan aktivitas
Mengajukan pertanyaan IIII Terkait pelajaran
II Tidak terkait pelajaran
faktual
Mengajukan pertanyaan III Terkait pelajaran
I Tidak terkait pelajaran
untuk klarifikasi
Mengajukan pertanyaan IIII III Terkait pelajaran
Tidak terkait pelajaran
untuk penjelasan

c. Diagram Alur
Suatu bentuk daftar ijir (tally sheet) yag dapat digunakan untuk
mengidentifikasi partisipasi peserta dalam diskusi adalah diagram alur partisipasi.
Diagram alur partisipasi sangat membantu dalam menganalisis diskusi kelas. Salah
satu cara yang mudah dilakukan dalam mengamati partisipasi adalah dengan
menyiapkan denah tempat duduk sesuai tempat duduk siswa kelas yang diamati.

d. Catanan Anekdot

32
Cara lain untuk merekam perilaku individu adalah membuat catatan anekdot.
Pada catatan ini peneliti menulis nama subjek dan mendeskripsikan perilakunya pada
suatu waku tertentu. Tidak ada format tertentu dalam membuat catatan anekdot.
Pengamat bebas untuk mencatat setiap perilaku yang mereka anggap penting dan tidak
fokus pada perilaku yang sama untuk semua mata pelajaran. Untuk dapat
menghasilkan catatan yang berguna, pengamat harus mencoba membuat catatan
spesifik dan faktual, dengan menghindari catatan evaluatif, interpretatif atau komentar
yang terlalu umum.
Catatan anekdot yang bagus adalah berupa catatan deskriptif, yakni anekdot
tentang apa yang dilakukan atau dikatakan subjek, yang menggambarkan situasi
secara nyata ketika tindakan atau komentar terjadi, dan menginformasikan apa yang
dilakukan atau dikatakan oleh orang lain terlibat dalam situasi yang diamati. Bentuk
catatan yang harus dihindari adalah :
1. Catatan evaluatif
Anekdot yang mengevaluasi atau menilai perilaku anak baik atau buruk, diinginkan
atau tidak diinginkan, diterima atau tidak diterima.

2. Catatan interpretatif
Anekdot yang menjelaskan perilaku subjek, biasanya berdasarkan fakta tunggal.

3. Catatan umum
Anekdot yang menggambarkan perilaku tertentu, atau tindakan yang sering terjadi,
atau terkait karakter subjek.
Berikut contoh dari catatan anekdot yaitu :
a. Evaluatif
Siman berbicara keras selama belajar puisi. Ia melakukan dan mengatakan hanya
apa yang ia inginkan dan tidak mempertimbangkan pendapat siswa yang lain. Saya
meminta dia untuk duduk di dekat saya, karena telah menunjukkan sikap buruk.

b. Interpretatif
Selama satu bulan ini Samsul menjadi sangat lincah. Samsul tubuh begitu cepat dan
banyak mengajukan pertanyaan. Namun, selama minggu terakhir ini tampak ada
perubahan yang terjadi dan Samsul mengalami keresahan.

c. Catatan umum

33
Samsul tampak gelisah hari ini. Sering terlihat ia berbisik, walaupun tak terdengar.
Ketika sedang berdiskusi di dalam lingkaran, meskipun ia tertarik, namun
tangannya bergerak meninju teman yang duduk disebelahnya. Dia tersenyum ketika
saya berbicara kepadanya. Suara siswa bertengkar. Ucok mengatakan bahwa semua
anak-anak mendukung Amir dan tidak ada yang ingin berada disisinya. Amir
mengatakan “Saya tidak meminta pada mereka agar berada di sisi saya”.

e. Catatan Waktu dan Gerak


Jika peneliti ingin membuat catatan yang rinci terkait pengamatan aktivitas
seorang individu atau kelompok, instrumen yang digunakan adalah catatan waktu dan
gerak (aktivitas). Catatan seperti itu diperlukan untuk mengidentifikasi alasan yang
mendasari masalah tertentu atau kesulitan seorang individu atau kelas dalam
menyelesaikan suatu tugas tertentu. Berikut tabel 3.4 contoh catatan waktu dan gerak
yaitu :
Tabel 3.4 Contoh catatan waktu dan gerak
Waktu Aktivitas Waktu Aktivitas
08.32  Mengambil kertas 08.47 Memutar pensil dengan
 Mengambil pensil jari
 Menulis nama Menepuk pundak teman
 Membaca petunjuk Berbisik pada teman
Melotot
08.37  Melihat demonstrasi 08.52  Bertanya pada guru
 Menyeringai  Mencatat
 Mencatat  Tersenyum
 Menggambar sketsa  Menggaruk kepala
demo
08.42  Memperhatikan
penjelasan guru
 Mengangguk-
angguk
 Menggigit pensil
 Mengedipkan mata

Sebuah studi waktu dan gerak adalah pengamatan dan pencatatan rinci selama
periode tertentu untuk satu kegiatan dengan mengamati satu individu atau lebih
(misalnya, saat kegiatan demonstrasi selama 15 menit). Pengamat merekam semua
invidu secara singkat dengan interval teratur (misalnya setiap 3 menit, dengan
diselingi istirahat 1 menit setiap interval waktu).

34
Hilda Taba, seorang pelopor dalam evaluasi pendidikan, pernah melakukan
pengamatan dengan catatan waktu dan gerak, untuk menyelidiki kelambatan kelas
dalam menyelesaikan tugas tertentu. Pada awalnya dipercaya bahwa kelas sangat
lambat dalam menyelesaikan tugass karena siswa sangat teliti dalam pekerjaan
mereka. Untuk menyelidiki hal tersebut, Hilda Taba melakukan studi waktu dan gerak
yang rinci terhadap satu siswa yang khas. Hasil studinya menunjukkan bahwa siswa
tersebut bukannya terlalu teliti, namun sebenarnya tidak dapat memusatkan perhatian
pada tugas tertentu.

f. Catatan Lapangan
Catatan lapangan merupakan catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat,
dialami dan dipikirkan oleh peneliti dalam kegiatan pengumpulan data dan membuat
refleksi terhadap data pada penelitian kulitatif. Catatan lapangan berbeda dengan
catatan yang dibuat di lapangan. Ketika peneliti berada di lapangan untuk
mengumpulkan data, dia membuat catatan berupa coretan yang sangat ringkas
seperlunya, berisi kata-kata kunci, pokok-pokok pembicaraan atau pengamatan atau
mungkin dilengkapi dengan gambar, sketsa, sosiogram, diagram, dan sebagainya.
Catatan tersebut diubah menjadi catatan yang lengkap yang setelah peneliti kembali
dari lapangan dan dinamakan catatan lapangan.
Kegiatan membuat catatan lapangan dilakukan setiap kali selesai mengadakan
pengamatan atau wawancara. Seorang peneliti harus segera membuat catatan lapangan
tidak dilupakan dan tidak bercampur dengan informasi lain. Pada dasarnya catatan
lapangan berisi dua bagian, bagian deskriptif dan bagian refrektif yaitu :
1. Bagian deskriptif berisi gambaran tentang latar pengamatan, orang,
perilaku/tindakan dan pembicaraan. Bagian ini mencakup deskriptif objektif
tentang semua peristiwa dan pengalaman yang didengar dan dilihat oleh peneliti.
Pada umumnya bagian ini cukup panjang karena mendeskripsikan semua fakta
yang diamati secara rinci. Peneliti mendeskripsikan apa yang diperbuat oleh subjek
dengan tidak menggunakan kata-kata abstrak, kecuali kutipan yang diucapkan oleh
subjek.
2. Bagian reflektif berisi tanggapan peneliti/pengamat, berupa kerangka berpikir,
pendapat dan gagasan. Bagian ini dituliskan untuk menggambarkan sesuatu yang
berkaitan dengan pengamat. Pada bagian reflektif, penulis menuliskan sspesulasi,

35
perasaan, ide, masalah dan arahan. Bagian refleksi ini dimaksudkan untuk
memperbaiki pengamatan selanjutnya. Pada bagian ini dapat diuraikan tentang
konsep awal, hipotesis pengarah dan teori.
Berikut ini diberikan contoh catatan lapangan :
Catatan lapangan : No.4
Pengamatan/Wawancara :p
Waktu : 02/10/2016, pukul 09:00-10:30 WIB
Disusun jan : 17.00 WIB
Tempat : SMAN 8 Medan
Subjek penelitian : Ibu Siti

Bagian deskriptif :
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw :
Ibu Siti mengajarkan konsep fisika dengan menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw. Siswa dibagi dalam 6 kelompok ahli (focus group) yang
membahas materi yang berbeda yakni momentum, gaya, impuls, energi, usaha, dan
daya. Masing-masing kelompok terdiri dari 6 siswa dan ditugaskan membahas
materi tersebut selama 25 menit. Setelah diskusi berlangsung selama 27 menit, ibu
Siti meminta pada masing-masing dari anggota kelompok tersebut untuk bergabung
dalam kelompok asal (home group) yang telah ditentukan. Masing-masing anggota
kelompok menceritakan apa yang dipahaminya ketika berdiskusi dalam kelompok
ahli dan setelah itu menyelesaikan persoalan yang dipersiapkan oleh ibu Siti untuk
masing-masing kelompok asal. Namun, tidak semua siswa mampu memaparkan
konsep sesuai yang diinginkan. Kondisi ini menyebabkan beberapa kelompok asal
kesulitan menyelesaikan persoalan yang diberikan. Ibu Siti menugaskan pada siswa
untuk mendalami materi yang telah didiskusikan dalam kelompok ahli.

Bagian reflektif :
Kesulitan kelompok dalam berdiskusi di kelompok asal mungkin terjadi akibat siswa
tersebut tidak sering berdiskusi dalam kelompok ahli. Hal tersebut terlihat dari sikap
beberapa siswa yang tampak tidak peduli ketika berdiskusi dalam kelompok ahli. Hal

36
ini harus diperhatikan oleh bu Siti dan diupayakan solusinya pada pertemuan
selanjutnya.

3. Instrumen yang diisi oleh subjek penelitian


a. Kuesioner
Pertanyaan pada wawancara terstruktur dapat dijadikan sebagai kuesioner
atau angket. Ketika menguasai kuesioner, subjek menganggap pertanyaan dengan
cara menulis atau menandai pilihan jawaban yang disediakan. Kentungan
menggunakan kuesioner adalah dapat dikirimkan atau diberikan kepada banyak
orang dalam waktu yang sama. Sedangkan kelemahannya adalah bahwa pertanyaan
yang mungkin tidak jelas atau ambigu, tidak dapat dijelaskan karena responden
tidak memiliki kesempatan untuk menanyakan hal tersebut.
Kuesioner dapat berupa pilihan ganda, benar salah, pencocokan, dan
sebagainya. Jika peneliti ingin memperoleh respon yang beragam dan tidak dapat
memprediksi jawaban responden, ada baiknya menggunakan kuesioner terbuka.
Pada kuesioner terbuka, responden dapat mengisi kuesioner sesuai dengan
keinginan atau keadaannya. Peneliti dapat memperoleh data yang bervariasi, bukan
hanya informasi yang sudah disajikan dalam pilihan jawaban. Namun kuesioner
terbuka lebih sulit untuk dianalisis karena pada umumnya tidak ada pola tertentu
dalam jawaban responden.
Bentuk kuesioner sangat beragam, jika ditinjau dari cara responden memberikan
respon, ada beberapa jenis kuesioner yakni :
1. Kuesioner terbuka atau kuesioner isian, responden bebas menjawab dengan
kalimatnya sendiri.
2. Kuesioner tertutup, responden hanya dapat memilih jawaban yang telah
disediakan, misalnya bentuk pilihan ganda.
3. Kuesioner langsung, responden menjawab pertanyaan tentang dirinya.
4. Kuesioner tidak langsung, responden menjawab pertanyaan tentang orang lain.
5. Kuesioner dengan daftar centang (check list), responden membubuhkan tanda
centang pada kolom jawaban yang tersedia.
6. Kuesioner dengan skala peringkat, responden memilih peringkat sesuai dengan
pendapat atau sikap, yang umunya mencakup rentang diri dari “sangat setuju”
sampai “sangat tidak setuju” terhadap pertanyaan yang diberikan.

37
Peneliti perlu mempertimbangkan jumlah pertanyaan dalam sebuah kuesioner,
kerana pertanyaan yang terlalu banyak akan membuat responden menjadi jenuh,
sedangkan pertanyaan yang terlalu sedikit dapat berakibat pada kurangnya data
yang mendukung penelitian. Oleh sebab itu, peneliti perlu membuat dan memilih
pertanyaan-pertanyaan penting yang sesuai dengan indikator yang ditetapkan. Hal-
hal yang tidak penting tidak perlu ditanyakan dalam kuesioner. Ketika menata
tampilan kuesioner, perlu diperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan kemudahan
mengisi dan kemudahan memeriksa jawaban atau respon.

b. Checklist diri
Data periksa diri (self checklist) adalah daftar beberapa karakteristik atau
kegiatan yang dilakukan oleh subjek penelitian. Subjek penelitian diminta untuk
membaca dan mempelajari daftar pertanyaan, kemudian menempatkan tanda centang
yang bersesuaian dengan karakteristik mereka atau kegiatan dalam jangka waktu
tertentu. Daftar periksa diri sering digunakan ketika peneeliti ingin mendiagnosa siswa
dengan cara meminta siswa untuk menilai karakteristik atau kinerja mereka sendiri.
Berikut ini diberikan contoh daftar periksa diri untuk siswa sekolah dasar sebagai
berikut :

Tanggal : Nama :
Petunjuk : berilah tanda centang (√) dalam kolom hari, terkaitan kegiatan minggu
terakhir yang kamu lakukan. Lingkari aktivitas yang kamu rasakan perlu ditambah
partisipasinya minggu depan.

Tabel 3.5 Contoh daftar periksa diri


Aktivitas Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu
Berpartisipasi dalam diskusi √ √ √
kelas
Tidak mengganggu teman √ √ √ √ √ √
ketika berbicara
Mendorong teman untuk √
mengemukakan gagasannya
Mendengarkan ketika teman √ √ √ √
berbicara
Mengajukan pertanyaan jika √ √
kurang jelas berbicara
Memikirkan ide teman √ √ √

38
c. Skala Sikap
Skala sikap digunakan untuk mengtahui sikap individu tentang sebuah
pertanyaan, usulan, atau fenomena sosial. Instrumen skala sikap terdiri dari satu set
pertanyaan yang membutuhkan respons subjek penelitian. Pola jawaban dianggap
sebagai salah satu bukti yang mendasari sikap kelompok. Skala sikap yang paling
sederhana adalah skala Gutmann, yang digunakan untuk memperoleh respons yang
tegas, yakni salah benar, atau setuju tidak setuju. Pada skala Gutmann, jawaban setuju
diberi skor 1 dan jawaban tidak setuju diberi skor 0 (nol). Skala ini cukup efektif
digunakan untuk menghindari pilihan ragu-ragu oleh responden, namun memerlukan
pertanyaan yang cukup banyak sehingga dapat membuat responden jenuh dalam
mengisi instrumen.
Pada umunya, peneliti menggunakan intrumen skala sikap dengan skala Likert.
Subjek diminta melingkari kata atau angka yang paling mewakili bagaimana perasaan
atau pendapat mereka tentang topik dalam pertanyaan-pertanyaan atau pertanyaan
yang diberikan.

Petunjuk :
Lingkarilah pilihan jawaban untuk setiap pertanyaan yang sesuai dengan pendapat
anda
1. Profesor pendidikan harus mengajar di SD minimal satu semester setiap 5 tahun
Sangat Setuju Tidak ada Tidak Sangat tidak
setuju pendapat setuju Setuju
(5) (4) (3) (2) (1)

2. Profesor dalam bidang pendidikan harus menghasilkan satu buku berdasarkan


hasil riset dan pengabdian pada masyarakat di sekolah
Sangat Setuju Tidak ada Tidak Sangat tidak
setuju pendapat setuju Setuju
(5) (4) (3) (2) (1)

Skala sikap dapat dibuat dengan pilihan yang lebih banyak dengan cara menempatkan
kolom pilihan diantara dua pilihan yang saling berlawanan. Skala ini merupakan skala
semantik diferensial yang dikembangkan oleh Osgood. Penggunaan skala tersebut
memungkinkan peneliti untuk mengukur sikap subjek terhadap konsep tertentu.
Subjek disajikan dengan pilihan kontinum diantara beberapa pasang kata sifat dan

39
diminta untuk menenpatkan tanda centang di antara setiap pasangan kata untuk
menunjukkan sikapnya. Contoh skala sikap dengan pasangan kata adalah sebagai
berikut :

Petunjuk :
Berikut ini adalah beberapa pasang kata sifat. Tempatkan tanda centang (√) pada baris
antara setiap pasangan untuk menunjukkan apa yang kamu rasakan
Contoh :
Belajar Fisika
Menarik : : : : : : Tidak menarik

Jika kamu merasakan bahwa belajar fisika adalah sangat menarik, anda akan
menempatkan tanda centang di runag pertama di sebelah kata menarik. Namun, jika
kamu merasa bahwa belajar fisika adalah sangat membosankan, anda akan
menempatkan tanda centang di ruang terdekat kata “tidak menarik”. Jika kamu
semacam ragu-ragu, kamu akan menempatkan tanda centang di ruang tengah antara
dua kata tersebut.
Sekarang kamu diminta menilai aktivitas ketika bekerja dengan siswa lain dalam
kelompok kecil.
Ramah : : : : : : : kasar
Senang : : : : : : : Tidak senang
Mudah: : : : : : : : Sulit
Gembira: : : : : : : : Sedih
Saling bantu : : : : : : Tidak peduli
Baik : : : : : : : Buruk
Tertawa : : : : : : : Menangis
Paham : : : : : : : Bingung

Ada dua cara yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh instrumen yakni
menggunakan instrumen yang sudah ada atau mengembangkan instrumen sesuai
karakteristik variabel penelitian. Kegiatan mengembangkan istrumen tidak mudah untuk
dilakukan. Upaya mengembangkan instrumen yang baik membutuhkan banyak waktu
dan usaha, serta kompetensi yang memadai. Sedangkan memilih dan menggunakan
instrumen yang sudah dikembangkan lebih mudah dilakukan dan lebih dapat

40
dipertanggungjawabkan. Pada umunya, instrumen yang telah terstandarisasi tersebut
dikembangkan oleh para ahli yang memiliki keterampilan. Salah satu sumber informasi
yang memuat penjelasan tentang instrumen yang dapat dijadikan referensi dalam
penelitian adalah database ERIC.
Saran untuk penyusunan instrumen berupa kuesioner yaitu :
1. Pertanyaan harus jelas
2. Hindari pertanyaan yang bersifat mengarahkan (leading question), sebaiknya
hindari membuat pertanyaan yang mengarahkan responden sehingga tidak punya
pilihan selain menjawab jawaban yang sesuai dengan keinginan peneliti.
3. Hindari pertanyaan yang dapat menyinggung responden
4. Jangan membuat pertanyaan hipotesis, pertanyaan bersifat hipotesis didasarkan
pada dugaan yang belum tentu pernah dilakukan oleh responden.
5. Jangan menanyakan tentang moral, yang umumnya di jawab secara formalitas
saja.

3. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian

Istilah validitas (validity) terkait dengan hasil pengukuran atau pengamatan,


sedangkan istilah relieabilitas (reliability) terkait dengan instrumen yang digunakan
untuk melakukan pengukuran. Validitas instrumen tidak semata-mata berkaitan dengan
kedudukan instrumen sebagai alat, namun terutama pada kesesuaian hasilnya, yakni
sesuai dengan tujuan penggunaan instrumen. Dapat dikatakan bahwa validitas (atau
tingkat ketepatan) instrumen adalah tingkat kemampuan instrumen untuk mengukur apa
yang hendak diukur secara tepat dan benar. Sebuah instrumen penelitian yang valid akan
dapat digunakan untuk mengungkapkan data sesuai dengan masalah yang hendak
diungkapkannya. Instrumen penelitian yang valid merupakan instrumen penelitian yang
memiliki kemampuan untuk mengukur variabel sesuai dengan kenyataan yang
sesungguhnya.
Suatu alat ukur hasil belajar Fisika dikatakan valid apabila alat ukur tersebut
benar-benar mengukur hasil belajar Fisika. Alat ukur yang valid dapat digunakan untuk
mengukur objek yang seharusnya diukur dan sesuai dengan kriteria tertentu. Artinya ada
kesesuaian antara alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran. Data
yang diperoleh menggunakan instrumen yang valid akan dapat digunakan untuk

41
membuat analisis dan kesimpulan yang benar, dibutuhkan instrumen penelitian yang
dapat dijamin validitasnya.
Reliabilitas atau tingkat ketetapan adalah tingkat kemampuan instrumen
penelitian untuk mengumpulkan data secara tetap dari sekelompok sampel. Instrumen
yang memiliki tingkat reliabilitas tinggi akan dapat menghasilkan data yang sama, jika
digunakan ulang pada waktu yang berbeda pada kelompok sampel yang sama. Misalnya
seorang peneliti melakukan pengukuran prestasi fisika dengan menggunakan sebuah tes
pada sekelompok individu dalam waktu yang berbeda. Jika hasil tes tersebut digunakan
adalah instrumen yang reliabel atau handal. Sebuah alat ukur dan hasil pengukurannya
merupakan suatu kesatuan, sehingga kriteria validitas dan reliabilitas tidak dapat berdiri
sendiri. Seorang peneliti harus selalu berusaha untuk membuat atau menggunakan alat
ukur yang reliabel dengan hasil pengukuran yang valid. Jenis-Jenis validitas yaitu :
a. Validitas Isi (Content Validity)
Validitas isi (content validity) sebuah instrumen adalah ketepatan instrumen
ditinjau dari isi alat ukur tersebut. Suatu instrumen dikatakan memiliki validitas isi
jika setiap butir instrumen tersebut mewakili bahan pembelajaran yang diberikan. Jadi,
sebuah instrumen tes harus disesuaikan dengan kurikulum yang digunakan. Cara
menyelidiki validitas isi adalah dengan melalukan diskusi panel yang dihadiri oleh
para ahli dalam bidang studi dan ahli dalam pengukuran. Jika cara tersebut tidak dapat
dilakukan, maka dapat meminta bantuan pakar untuk melakukan analisis rasional dan
logis dengan cara menbandingkan butir instrumen dengan bahan-bahan dalam
penyusunan alat ukur (kisi-kisi instrumen). Jika instrumen sesuai dengan materi
penyusunan alat ukur maka alat ukur tersebut memiliki validitas isi.

b. Validitas Konstruk (Construct Validity)


Validitas konstruk (construct validity) berkaitan dengan kesesuaian konsep
bidang ilmu dengan alat ukur yang digunakan. Suatu instrumen dikatakan memiliki
validitas konstruk yang tinggi apakah hasil alat ukur sesuai dengan ciri-ciri tingkah
laku yang diukur. Validitas konstruk harus ditinjau dari kesesuaian defenisi konseptual
tentang variabel dan dimensi variabel dengan butir-butir instrumen yang digunakan.
Jadi, untuk meningkatkan validitas konstruk penyusunan butir instrumen harus
dilakukan berdasarkan pada kisi-kisi instrumen.
c. Validitas Sejalan (Concurent Validity)

42
Validitas sejalan atau validitas empiris terkait dengan tingkah kemampuan
instrumen untuk memperoleh hasil yang mencerminkan kemampuan seorang pada
bidang yang diteskan dengan skor pada bidang lain yang mempunyai persamaan
karakteristik. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas sejalan (konkuren) jika hasil tes
sesuai dengan pengalaman. Pengujian validitas konkuren dapat dilakukn dengan
menghitung koefisien korelasi antara hasil tes dengn hasil tes pada bidang lain yang
memiliki karakteristik yang sama dengan instrumen yang diujikan. Tinggi rendahnya
koefisien korelasi yang diperoleh dari perhitungan tersebut akan menentukan tinggi
rendahnya tingkat validitas sejalan tes penguasaan kosa kata yang diuji (Sani dkk,
2017).

43
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dalan makalah ini yaitu :


1. Populasi dalam pendidikan adalah keseluruhan subjek dalam suatu penelitian.
2. Teknik penentuan ukuran sampel dan teknik penarikan sampel dalam pendidikan
terdiri atas beberapa teknik yaitu probability sampling dan non probability
sampling.
3. Bentuk-bentuk instrumen dalam penelitian pendidikan yaitu instrumen tes dan
non tes. Bentuk tes yang umum digunakan adalah tes bakat, tes tertulis dan tes
praktek, sedangkan instrumen non tes yaitu angket/kuesioner,
interview/wawancara, observasi, dokumentasi dan skala peringkat.

B. Saran

Adapun saran dalan makalah ini yaitu diharapkan pembaca dapat mengetahui dan
memahami tentang populasi dalam pendidikan, teknik untuk menentukan ukuran sampel
dan teknik penarikan sampel dalam pendidikan serta ragam instrumen penelitian
pendidikan.

44
DAFTAR PUSTAKA

Bungin, Burhan. (2005). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta : Penerbit Kencana.

Djhri, Suprawi. (2015). Makalah Populasi dan Sampel. www.blog.id. Diakses 20


September 2019.

Dwi, H. Sulistyo. (2010). Tujuan Penelitian Pendidikan. www.blog.id. Diakses 20


September 2019.

Firman. (2015). Makalah Teknik Sampling. www.blog.id. Diakses 20 September 2019.

Hamdi, Asep Saepul dan E. Baharuddin. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Aplikasi
dalam Pendidikan. Yogyakarta : Penerbit Deepublish.

Margono. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

Milzam, Sandi. (2015). Populasi dan Sampel dalam Penelitian Kuantitatif. www.blog.id.
Diakses 20 September 2019.

Nugraha, Rizki Siddiq. (2016). Instrumen Penelitian Pendidikan. www.blog.id. Diakses


20 September 2019.

Nurmalasari. (2014). Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Citra terhadap Kepuasan


Mahasiswa pada Akademi Kebidanan Aisyiyah Pontianak. Jurnal Khatulistiwa
Informatika, Vol. 2, (2).

Ochim. (2009). Kelebihan dan Kelemahan Dokumentasi. www.blog.id. Diakses 20


Sepetember 2019.

Rasnia. (2013). Makalah Penelitian Pendidikan. www.blog.id. Diakses 20 September


2019.

Sani, R.A., Sondang, R.M., Hary, S., dan Sudiran. (2017). Penelitian Pendidikan.
Tangerang : Tsmart.

Siswanto dan Suyanto. (2018). Metodologi Penelitian Kuantitatif Korelasional. Klaten :


Penerbit Bossscript.

Sugiyono. (2001). Statistika untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.

Sugiyono. (2013). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung :


Alfabeta.

Zafira, Liya. (2012). Instrumen Tes dan Non tes. www.blog.id. Diakses 20 September
2019.

45

Anda mungkin juga menyukai