Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK

ASKEP DEMAM TYPHOID

Disusun Oleh :

Eka Perdana Putra NIM. 191913006

Nurul Shabrina NIM. 191913010

R. Syalvia Susanti NIM. 191913011

Riski Andriani NIM. 191913012

Try Sutrianda Ilham NIM. 191913019

Dosen Pembimbing :

Komala Sari, S.Kep, Ns, M.Kep

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANGTUAH

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

TANJUNGPINANG

2020

i
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami mampu menyusun sebuah makalah dengan judul
“Askep Demam Typhoid” Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas yang
diberikan dalam mata kuliah Keperawatan Anak di Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Hang Tuah Tanjungpinang.

Dalam Penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima


kasih kepada :

1. Dr. Bambang Wijayanto. selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan


Hang Tuah Tanjungpinang.

2. Yusnaini Siagian, S.Kep, Ns, M.Kep. selaku Waket I Sekolah Tinggi


Ilmu Kesehatan Hang Tuah Tanjungpinang.

3. Komala Sari, S.Kep, Ns, M.Kep. selaku Ka.Prodi D-3 Keperawatan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah Tanjungpinang.

4. Komala Sari, S.Kep, Ns, M.Kep. selaku Pembimbing mata kuliah


Keperawatan Anak.

Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan baik pada penulisan
maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu
penulis mengharapkan, kritik dan saran dari semua pihak sangatkami harapkan
demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Tanjungpinang, 20 September 2020

Kelompok 3

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i


KATA PENGANTAR ................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG .......................................................................... 1
B. RUMUSAN MASALAH ...................................................................... 2
C. TUJUAN PENULISAN ........................................................................ 2

BAB II TINJAUAN TEORITIS


A. DEFINISI ............................................................................................. 3
B. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PENCERNAAN .............................. 3
C. ETIOLOGI ........................................................................................... 6
D. MANIFESTASI KLINIS ...................................................................... 6
E. PATOFISIOLOGI................................................................................. 6
F. PATHWAY .......................................................................................... 8
G. KOMPLIKASI ...................................................................................... 9
H. PENATALAKSAAN ............................................................................ 9
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG ........................................................ 10
J. PENGKAJIAN FOKUS ...................................................................... 11
K. DIAGNOSA KEPERAWATAN ......................................................... 13
L. FOKUS INTERVENSI DAN RASIONAL ......................................... 13

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN ................................................................................... 18
B. SARAN .............................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Typhoid merupakan penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan
oleh salmonella typhi, salmonella paratyphi A, salmonella paratyphi B,
salmonella typhi C. Penyakit ini mempunyai tanda – tanda khas berupa
perjalanan yang cepat dan berlangsung kurang lebih 3 minggu disertai gejala
demam, nyeri perut, dan erupsi kulit. Penyakit ini termasuk dalam penyakit
daerah tropis dan penyakit ini sangat sering di jumpai di Asia termasuk di
Indonesia (Widodo Djoko, 2009).
Dewasa ini, perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran telah banyak
menyelamatkan nyawa manusia. Penyakit – penyakit yang selama ini tidak
terdiagnosis dan terobati, sekarang sudah banyak teratasi. Tetapi untuk
memperbaiki taraf kesehatan secara global tidak dapat mengandalkan hanya
pada tindakan kuratif, karena penyakit yang memerlukan biaya mahal itu
sebagian besar dapat dicegah dengan pola hidup sehat dan menjauhi pola
hidup beresiko. Artinya para pengambil kebijakan harus
mempertimbangkan untuk mengalokasi dana kesehatan yang lebih
menekankan pada segi preventif dari pada kuratif. (Muttaqin Arif, 2011).
Didunia pada tanggal 27 September 2011 sampai dengan 11 Januari 2012
WHO mencatat sekitar 42.564 orang menderita Typhoid dan 214 orang
meninggal. Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak usia pra sekolah
maupun sekolah akan tetapi tidak menutup kemungkinan juga menyerang
orang dewasa. Demam Typhoid atau tifus abdominalis banyak ditemukan
dalam kehidupan masyarakat kita, baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kualitas kebersihan pribadi dan
sanitasi lingkungan seperti lingkungan kumuh, kebersihan tempat-tempat
umun yang kurang serta perilaku masyarakat yang tidak mendukung untuk
hidup sehat. Di Indonesia penyakit ini bersifat endemik. Telaah kasus di
rumah sakit besar di Indonesia kasus Demam Typhoid menunjukan
kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. ( Sudoyo, 2006 )

1
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada
makalah ini adalah “ Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan
Demam Typhoid?”

C. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami asuhan
keperawatan pada klien dengan Demam Typhoid.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui dan memahami definisi demam typhoid
b. Untuk mengetahui dan memahami anatomi fisiologi
c. Untuk mengetahui dan memahami etiologi demam typhoid
d. Untuk mengetahui dan memahami manifestasi klinis demam
typhoid
e. Untuk mengetahui dan memahami patofisiologi demam typhoid
f. Untuk mengetahui dan memahami pathway demam typhoid
g. Untuk mengetahui dan memahami komplikasi demam typhoid
h. Untuk mengetahui dan memahami penatalaksanaan demam typhoid

2
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. DEFINISI
Demam Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus, yang
disebabkan oleh salmonella typhi, salmonella paratyphi A, salmonella
paratyphi B, salmonella paratyphi C, paratifoid biasanya lebih ringan,
dengan gambaran klinis sama. ( Widodo Djoko, 2009 )

B. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PENCERNAAN


Sistem pencernaan atau sistem gastrointestinal (mulai dari mulut sampai
anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi menerima
makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat
gizi kedalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat
dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh.

a. Mulut
Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air
pada manusia. Mulut biasanya terletak dikepala dan umumnya
merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir
di anus. Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian
dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh
organ perasa yang terdapat dipermukaan lidah. Terdiri atas dua bagian
luar yang sempit atau vestibula yaitu ruang diantara gusi serta gigi
dengan bibir dan pipi dan bagian dalam yaitu rongga mulut yang dibatasi

3
disisi-sisinya oleh tulang maxilaris dan semua gigi dan disebelah
belakang dengan awal faring.
b. Faring
Faring atau tekak terletak dibelakang hidung, mulut dan laring
(tenggorokan) faring berupa saluran berbentuk kerucut dari bagian
membrane berotot (muskulo membrannuse) dengan bagian terlebar di
sebelah atas dan berjalan dari dasar tengkorak sampai diketinggian
vertebra servika ke enam yaitu ketinggian tulang rawan krikoid, tempat
faring bersambung dengan esophagus.
c. Esofagus
Adalah sebuah tabung berotot yang panjangnya 20-25 cm, diatas
dimulai dari faring sampai pintu masuk kardiak lambung dibawah.
Terletak dibelakang trakea dan didepan tulang punggung setelah melalui
thorak menyambung dengan lambung.
d. Lambung (gaster)
Merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak
terutama didaerah epigaster lambung, terdiri dari bagian dari bagian atas
fundus uteri berhubungan dengan eshopagus melalui orifisiumpilarik
terletak dibawah diafragma didepan pankreas dan limpa menempel
disebelah kiri fundus uteri.
e. Usus Halus (intesium minor)
Usus halus adalah bagian dari sistem pencernaan makanan yang
berpangkal pada pylorus dan berakhir pada seikum, panjangnya kurang
lebih 6 m merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan
dan diabsopsi dari pencernaan, usus halus didaerah umbilicus dan
dikelilingi oleh usus besar dibagi dalam beberapa bagian:
1) Duodenum : Disebut juga usus 12 jari panjangnya kurang lebih 25
cm, berbentuk seperti sepatu kuda melengkung kekiri pada
lengkungan ini terdapat pankreas.
2) Yeyenum dan ileum : Mempunyai panjang sekitar 6 m, dua perlima
bagian atas adalah (yeyenum) dengan panjang 2-3 m dan ileum
dengan panjang 4-5 m lekungan yeyenum dan ileum melekat pada
dinding abdomen posterior yang berbentuk kipas dikenal sebagai
mesentrium.
4
f. Usus besar terdiri dari panjang 1,5 m, lebarnya 5-6 cm. Usus besar terdiri
dari seikum, kolon asenden, apendik, kolon trasversum, kolon desenden,
kolon sigmoid :
1. Seikum.
Dibawah seikum terdapat apendik vermiformis yang berbentuk
seperti cacing sehingga disebut juga umbai cacing panjangnya 6 cm.
2. Kolon Asenden.
Panjang 15 cm terletak dibawah abdomen sebelah kanan
membujur keatas dari ilium kebawah hati.
3. Apendik.
Bagian dari usus besar yang muncul seperti corong dari akhir
seikum mempunyai pintu keluar yang sempit tapi masih
memungkinkan dapat dilewati oleh beberapa isi usus.
4. Kolon Transversum.
Panjang 38 cm, membujur dari kolon asenden sampai kekolom
desenden, berada dibawah abdomen, sebelah kanan terdapat
flekyura hepatica dan sebelah kiri terdapat flektura lienalis.
5. Kolon Desenden.
Panjangnya 25 cm, terletak dibawah abdomen sebelah kiri,
membujur dari atas kebawah dari fleksura henalis sampai didelapan
ileum kiri kesambungan dengan kolon sigmoid.
6. Kolon Sigmoid.
Merupakan lanjutan dari kolon desenden terletak miring dalam
rongga pelvis sebelah kiri, bentuknya menyerupai bentuk huruf S
ujung bawahnya berubungan dengan rectum.
g. Rektum
Terletak dibawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum
mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis didepan os secrum
dan as robsigis.
h. Anus
Adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rektum
dengan dunia luar terletak didasar pelvis dindingnya.

5
C. ETIOLOGI
Demam Typhoid merupakan penyakit yang ditularkan melalui makanan
dan minuman yang tercemar oleh bakteri Salmonella typhosa. Seseorang
yang sering menderita penyakit demam typhoid menandakan bahwa ia
mengonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri ini.

D. MANIFESTASI KLINIS
Pada minggu pertama gejala klinis penyakit ini ditemukan keluhan dan
gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu : demam,
nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau
diare, perasaan tidak enak diperut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan
fisik hanya didapatkan suhu tubuh meningkat. Sifat demam adalah
meningkat perlahan-lahan dan terutama pada sore hingga malam hari.
(Widodo Djoko, 2009)

E. PATOFISIOLOGI
Masuknya kuman Salmonella Typhi dan Salmonella Paratyphi kedalam
tubuh manusia terjadi melalui makanan yang terkontaminasi kuman.
Sebagian kuman dimusnahkan dalam lambung, sebagian lolos masuk ke
dalam usus dan selanjutnya berkembang biak.
Bila respon imunitas humoral mukosa (IgA) usus kurang baik maka
kuman akan menembus sel-sel epitel (terutama sel-M). Bila terjadi
komplikasi perdarahan dan peforasi intestianal, kuman menembus lamina
propia, masuk aliran limfe menjadi kelenjar limfe mesenterial, dan masuk
aliran darah melalui duktus torasikus. Kuman berkembangbiak di lamina
dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. Kuman dapat
hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya di bawa ke
plague peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening
mesenterika. Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang terdapat di
dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan
bakterimia pertama yang asimtomatik) dan menyebar ke seluruh organ
retikuloendetial tubuh terutama hati dan limfa. Di organ-organ ini kuman
meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian berkembang biak di luar sel atau
ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi
6
mengakibatkan bakterimia yang kedua kalinya dengan di sertai tanda-tanda
dan gejala penyakit infeksi sistemik.
Kuman di dalam hati masuk ke dalam kandung empedu berkembang
biak dan bersama cairan empedu diekskresikan secara intermitten ke dalam
lumen usus. Sebagian kuman di keluarkan melalui feses dan sebagian
melalui masuk lagi ke dalam sirkulasi setelah menembus usus. Proses yang
sama terulang kembali, berhubung makrofag telah teraktivasi dan hiperaktif
maka saat fagositosit kuman salmonella terjadi pelepasan beberapa mediator
inflamasi yang selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi yang
selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti
demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut, instabilitas vaskular,
gangguan mental, dan koagulasi.
Di dalam plague peyeri makrofag hiperaktif menimbulkan reaksi
hiperplasia jaringan Salmonella typhi intra makrofag menginduksi reaksi
hipersensitivitas tipe lambat, hiperplasia jaringan dan nekrosis organ).
Pendarahan saluran cerna dapat terjadi akibat erosi pembuluh darah sekitar
plague peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hiperpalsia akibat
akumulasi sel-sel mononuklear di dinding usus. Proses patologis jaringan
limpoid ini dapat berkembang hingga di lapisan otot, serosa usus, dan dapat
mengakibatkan perforasi. Endotoksin dapat menempel di reseptor sel
endotel kapiler dengan akibat timbulnya komplikasi seperti gangguan
neuropsikiatrik, kardiovaskuler, pernafasan dan gangguan organ lainnya
(Widodo, 2007; Mansjoer, 2000).

7
F. PATHWAY

8
G. KOMPLIKASI
Komplikasi Thypus Abdominalis menurut Mandala (2006) sebagai berikut:
1. Perdarahan dan perforasi usus (terutama pada minggu ketiga).
2. Miokarditis
3. Neuropsikiatrik: psikosis, ensefalomielitis.
4. Kolesistitis, kolangitis, hepatitis, pneumonia, pancreatitis.
5. Abses pada limpa, tulang atau ovarium (biasanya setelah pemulihan).
6. Keadaan karier kronik (kultur urin atau tinja positif setelah 3 bulan)
terjadi pada 3 % kasus (lebih sedikit setelah terapi fluorokuinolon).

H. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan thypoid secara medis dan keperawatan menurut
Widodo (2007), Samekto( 2001), Mansjoer(2000) sebagai berikut:
1. Penatalaksanaan Medis
Pemberian antibiotik untuk menghentikan dan memusnahkan
penyebaran kuman. Antibiotik yang dapat digunakan:
a. Cloramfenikol: Obat ini digunakan untuk menekan fungsi sumsum
tulang, sehingga tidak boleh diberikan pada penderita dengan gangguan
fungsi sumsum tulang belakang.
b. Tiamfenikol: Efektifitasnya hampir sama dengan kloramfenikol,
tetapi komplikasi hematologi seperti kemungkinan terjadinya anemia
aplastik lebih rendah.
c. Kotrimoksazol.
d. Ampisillin/ Amoksilin: Diberikan selama dua minggu. Kemampuan
obat ini menurunkan demam lebih rendah dibandingkan dengan
kloramfenikol.
e. Sefalosporin generasi ketiga: Golongan sefalosporin generasi ke tiga
yang terbukti efektif untuk demam tifoid adalah Ceftriaxone.
f. Golongan Fluorokuinolon: Norfloksasin , Siprofloksasin, Ofloksasin,
Pefloksasin, Fleroksasin.
g. Kombinasi antibiotik: Pemakaian kombinasi 2 antibiotik atau lebih
hanya diindikasikan pada keadaan tertentu seperti: Typhoid toksik,
peritonitis atau peforasi, syok septik.

9
h. Kortikosteroid: Penggunaan steroid hanya diindikasikan pada toksik
tifoid atau demam tifoid yang mengalami syok septik.
2. Keperawatan
Pencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Pasien harus
tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang
lebih selama 14 hari. Mobilisasi dilakukan tahap sesuai dengan pulihnya
kekuatan pasien. Dalam perawatan perlu sekali dijaga higine
perseorangan, kebersihan tempat tidur, pakaian dan peralatan yang
dipakai oleh pasien. Pasien dengan kesadaran menurun posisinya perlu
diubah ubah untuk mencegah dekubitus dan pneumonia hipostatik,
defekasi dan buang air perlu diperhatikan karena kadang-kadang terjadi
konstipasi dan retensi urine.

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Samekto (2001) pemeriksaan penunjang yang perlu
dilakukan pada pasien dengan demam typhoid adalah
1. Pemeriksaan darah perifer lengkap
Dapat ditemukan leukopeni, dapat pula leukositosis atau kadar
leukosit normal. Leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai
infeksi sekunder. Dapat pula ditemukan anemia ringan dan
trombositopeni. Pemeriksaan hitung jenis leukosit dapat terjadi
aneosinofilia maupun limfopeni. Laju endap darah dapat meningkat.
2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal
setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan
penanganan khusus.
3. Pemeriksaan uji widal
Uji widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap
bakteri Salmonella Thypi. Pada uji widal terjadi suatu reaksi
aglutinasi antara antigen bakteri Salmonella Thypi dengan antibodi
yang disebut aglutinin. Uji widal dimaksudkan untuk menentukan
adanya aglutinin dalam serum penderita tersangka demam tifoid.
Akibat adanya infeksi oleh kuman Salmonella Typhi maka penderita
membuat antibodi (aglutinin) yaitu: Aglutinin O, Aglutinin H,
10
Aglutinin Vi. Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H
yang digunakan untuk diagnosis demam tifoid. Semakin tinggi
titernya semakin besar kemungkinan menderita demam typhoid.

J. PENGKAJIAN FOKUS
Pengkajian fokus pada pasien thypoid merujuk pada Mansjoer (1999),
Smeltzer dan Bare (2002) antara lain:
1. Demografi
a. Usia
Presentase penderita dengan usia di atas 12-29 tahun 70-80%, 30-39
tahun 10-20% dan penderita dengan usia di atas 40 tahun 5-10%. Tetapi
umumnya penyakit ini lebih sering diderita anak-anak.
b. Pekerjaan
Pekerjaan yang lebih banyak beraktivitas di lapangan dan kurang
menjaga kebersihan maka kemungkinan mengalami sakit thypoid.
c. Jenis kelamin
Pada pria lebih banyak terpapar dengan kuman Salmonela Typhi
dibandingkan wanita karena aktivitas di luar rumah lebih banyak.
d. Lingkungan
Penyebaran penyakit thypoid dipengaruhi oleh kebersihan
lingkungan yang kotor dan pribadi kurang diperhatikan.
2. Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit thypoid, apakah
pasien menderita penyakit lainnya.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya penyakit pada pasien thypoid, demam, anoreksia,
mual, muntah, diare, perasaan tidak enak diperut, pucat (anemi), nyeri
kepala/pusing, nyeri otot, lidah tifoid (kotor), gangguan kesadaran berupa
samnolen sampai koma.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah menderita Thypoid
atau sakit yang lainnya.

11
5. Pola-Pola Fungsi Kesehatan
a. Persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Kebiasaan tidak cuci tangan dengan bersih dapat terkena kuman
Salmonella Typhi. Kebiasaan makan ditempat terbuka, kebiasaan
mencuci tangan dengan alakadarnya.
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Adanya mual dan muntah, penurunan nafsu makan selama sakit,
lidah kotor dan rasa pahit waktu makan sehingga dapat mempengaruhi
status nutrisi berubah. Adanya demam dan keluhan badan panas.
c. Pola eliminasi
Pada pasien thypoid kadang-kadang diare atau konstipasi, produk
kemih pasien biasa mengalami penurunan (kurang dari normal).
d. Pola tata nilai dan kepercayaan
Timbulnya distress dalam spiritual pada pasien, maka pasien akan
menjadi cemas dan takut akan kematian, serta kebiasaan ibadahnya
akan terganggu.
6. Persepsi sensori dan kognitif
a. Nyeri : Pada pasien yang sakit thypoid akan terjadi nyeri pada
uluhati.
b. Kesadaran : Kesadaran penderita typhoid berfariasi antara
composmentis (sadar penuh) atau apatis, somnolen, dan koma pada
penderita typoid.
7. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum dan Tanda-tanda vital
Biasanya pada pasien thypoid yang ditemukan tekanan darah yang
meningkat akan tetapi bila didapatkan tachikardi saat pasien
mengalami peningkatan suhu tubuh.
b. Kepala : Konjungtiva anemis, mata cekung, pucat atau bibir kering,
lidah kotor, ditepi dan ditengah merah.
c. Abdomen : Abdomen ditemukan nyeri tekan di di uluhati.
d. Kulit : Kulit bersih, turgor kulit menurun, pucat, berkeringat banyak,
akral hangat.
e. Sistem ekstermitas : Apakah ada gangguan pada ekstremitas atas dan
bawah atau tidak ada gangguan.
12
K. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang dapat dirumuskan pada pasien thypoid
secara teori adalah :
1. Peningkatan suhu tubuh atau hipertermi berhubungan dengan Infeksi
Salmonella Thypi.
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan anoreksia.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
4. Resiko keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan)berhubungan dengan
pengeluaran cairan yang berlebihan (diare atau muntah), hipertermi.
5. Gangguan pola eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan kurangnya
cairan dan serat dalam tubuh, imobilisasi.
6. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.
7. Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang
informasi.

L. FOKUS INTERVENSI DAN RASIONAL


Fokus intervensi yang dapat dirumuskan untuk mengetahui masalah
keperawatan pada pasien thypoid merujuk pada NIC NOC, (2008),
Carpenito, (2001):
1. Peningkatan suhu tubuh atau hipertermi berhubungan dengan Infeksi
Salmonella Thypi.
a. Tujuan : suhu tubuh normal atau terkontrol.
b. Kriteria hasil : Suhu tubuh 36,5-37,5°C, mencari pertolongan untuk
pencegahan peningkatan suhu tubuh, turgor kulit membaik, badan
tidak teraba panas.
c. Intervensi:
1) Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang peningkatan
suhu tubuh. Rasional: agar klien dan keluarga mengetahui sebab
dari peningkatan suhu dan membentu mengurangi kecemasan
yang timbul.
2) Anjurkan klien menggunakan pakaian tipis dan menyerap
keringat. Rasional: Untuk menjaga agar klien merasa nyaman,
pakaian tipis akan membantu mengurangi penguapan tubuh.
13
3) Batasi pengunjung. Rasional: Agar klien merasa tenang dan udara
di dalam ruangan tidak terasa panas.
4) Observasi TTV tiap 4 jam sekali. Rasional: Tanda-tanda vital
merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
5) Anjurkan pasien untuk banyak minum, minum kurang lebih 2,5
liter / 24 jam. Rasional: Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan
penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan
asupan cairan yang banyak.
6) Berikan kompres hangat. Rasional: Untuk membantu menurunkan
suhu tubuh.
7) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotic dan
antipiretik. Rasional: Antibiotik untuk mengurangi infeksi dan
antipiretik untuk mengurangi panas.
2. Resiko kurang nutrisi berhubungan dengan intake tidak adekuat karena
mual dan tidak narsu makan.
a. Tujuan: pasien mampu mempertahankan kebutuhan nutrisi adekuat.
b. Kriteria hasil : Nafsu makan meningkat, pasien mampu
menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan.
c. Intervensi:
1) Jelaskan pada klien dan keluarga tentang manfaat makanan atau
nutrisi. Rasional: Untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang
nutrisi sehingga motivasi untuk makan meningkat.
2) Timbang berat badan klien setiap 2 hari. Rasional: Untuk
mengetahui peningkatan dan penurunan berat badan.
3) Beri nutrisi dengan diet lembek, tidak mengandung banyak serat,
tidak merangsang, mampu menimbulkan banyak gas dan
dihidangkan saat masih hangat. Rasional: Unutk meningkatkan
asupan makanan karena mudah ditelan.
4) Beri makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering. Rasional:
Untuk menghindari mual dan muntah.
5) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida dan nutrisi
parentral. Rasional: Antasida mengurangi rasa mual dan muntah,
nutrisi parenteral dibutuhkan terutama jika kebutuhan nutrisi per
oral sangat kurang.
14
3. Intoleransi aktivitas berhubungan kelemahan fisik.
a. Tujuan: pasien bias melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
optimal.
b. Kriteria hasil: Kebutuhan personal terpenuhi, dapat melakukan
gerakan yang bermanfaat bagi tubuh, memenuhi aktivitas kehidupan
sehari-hari dengan tehnik penghematan energy.
c. Intervensi :
1) Tingkatkan tirah baring /duduk. Rasional : Meningkatkan istirahat
dan ketenangan.
2) Beri motivasi pada klien dan keluarga untuk melakukan mobilisasi
sebatas kemampuan (missal : miring kanan, miring kiri). Rasional:
Agar klien dan keluarga mengetahui pentingnya mobilisasi bagi
pasien yang bedrest.
3) Kaji kemampuan klien dalam beraktivitas (makan, minum).
Rasional: untuk mengetahui sejauh mana kelemahan yang terjadi.
4) Berikan latihan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang.
Rasional: untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegah
adanya dekubitus.
4. Resiko kurang cairan berhubungan dengan pengeluaran cairan yang
berlebihan intake menurun.
a. Tujuan: tidak terjadi gangguan keseimbangan cairan.
b. Kriteria hasil: Turgor baik , wajah tidak nampak pucat, suhu
36,537,5°C, TD : 120/80 mmHg, urin out put 1-2 cc/kg BB/jam.
c. Intervensi:
1) Berikan penjelasan tentang pentingnya kebutuhan cairan pada
klien dan keluarga. Rasional: Untuk mempermudah pemberian
cairan (minum) pada pasien.
2) Observasi pemasukan dan pengeluaran cairan. Rasional: Untuk
mengetahui keseimbangan cairan.
3) Anjurkan klien untuk banyak minum kurang lebih 2,5 liter/24
jam. Rasional: Untuk pemenuhan kebutuhan cairan.
4) Observasi kelancaran tetesan infuse. Rasional: Untuk pemenuhan
kebutuhan cairan.

15
5) Kolaborasi dengan dokter untuk terapi cairan (oral/parentral).
Rasional: Untuk pemenuhan kebutuhan cairan yang tidak
terpenuhi (secara parentral ).
5. Gangguan pola eliminasi: BAB (konstipasi) berhubungan dengan
kurangnya cairan dan serat dalam tubuh, imobilisasi.
a. Tujuan :Tidak terjadi gangguan pada pola eliminasi BAB.
b. Kriteria hasil :Klien dapat BAB secara rutin yaitu 1X sehari seperti
biasa, feses lunak
c. Intervensi :
1) Monitor tanda-tanda vital. Rasional: Untuk mengetahui
perkembangan kondisi klien.
2) Anjurkan klien untuk sering minum air putih yang banyak.
Rasional: Supaya masukan cairan adekuat membantu
mempertahankan konsistensi feses yang sesuai pada usus dan
membantu eliminasi.
3) Anjurkan klien untuk makan makanan yang berserat. Rasional:
Karena diet seimbang tinggi kandungan serat merangsang
peristaltik dan eliminasi regular.
4) Berikan huknah gliserin untuk membantu mempermudah BAB.
6. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.
a. Tujuan : Nyeri tidak timbul
b. Kriteria hasil: Ekspresi wajah rileks, nyeri hilang, skala nyeri
menurun.
c. Intervensi :
1) Ajarkan tindakan penurun nyeri noninvasif (relaksasi, stimulasi
kutan). Rasional: untuk mengontrol nyeri.
2) Berikan individu kesempatan untuk istirahat selama siang hari dan
dengan waktu yang tidak terganggu pada malam hari. Rasional:
untuk meningkatkan istirahat klien agar mengurangi nyeri.
3) Berikan informasi yang akurat untuk mengurangi nyeri. Rasional:
agar klien tau penyebab nyeri pada pasien thypus abdominalis.
4) Berikan individu pereda rasa sakit yang optimal dengan analgesik.
Rasional :Untuk memberikan terapi pereda nyeri.

16
7. Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan
kurang informasi.
a. Tujuan : Pengetahuan keluarga meningkat
b. Kriteria hasil : Keluarga mampu menyebutkan pengertian thypoid,
tanda gejala, penyebab, diit yang diberikan pada pasien thypoid
c. Intervensi:
1) Kaji sejauh mana tingkat pengetahuan pasien tentang
penyakitnya. Rasional: mengetahui apa yang diketahui pasien
tentang penyakitnya.
2) Beri pendidikan kesehatan tentang penyakit dan perawatan
pasien. Rasional: supaya pasien tahu tata laksana penyakit,
perawatan dan pencegahan penyakit typhoid.
3) Beri kesempatan pasien dan keluarga pasien untuk bertanya bila
ada yang belum dimengerti. Rasional :mengetahui sejauh mana
pengetahuan pasien dan keluarga pasien setelah diberi penjelasan
tentang penyakitnya.
4) Beri reinforcement positif jika klien menjawab dengan tepat.
Rasional : memberikan rasa percaya diri pasien dalam
kesembuhan sakitnya.

17
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Demam typhoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang
disebabkan oleh salmonella type A, B dan C yang dapat menular melalui
oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi. Demam typoid
dapat ditemukan pada semua umur, tetapi yang paling sering pada anak
besar, umur 5-9 tahun. Dengan keadaan seperti ini, adalah penting
melakukan pengenalan dini demam typoid, yaitu adanya 3 komponen
utama, demam yang berkepanjangan (lebih dari 7 hari), Gangguan susunan
saraf pusat / kesadaran.
Cara pencegahan penyakit typoid yang dilakukan adalah cuci tangan
setelah dari toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan
makanan, hindari minum susu mentah (yang belum dipasteurisasi), hindari
minum air mentah, rebus air sampai mendidih dan hindari makanan pedas .

B. SARAN
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan maka
dengan adanya makalah ini, diharapkan pembaca dapat memahami tentang
penyakit typoid dengan baik.

18
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, 2007. Diagnosa Keperawatan. Aplikasi pada Praktek Klinis. Edisi


IX. Alih Bahasa: Kusrini Semarwati Kadar. Editor: Eka Anisa Mardella,
Meining Issuryanti. Jakarta: EGC.

Zulkoni Akhsin. 2011. Parasitologi. Yogyakarta : Nuha Medika.

Muttaqin Arif. 2011. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi Asuhan


Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta. Salemba Medika.

Dinas Kesehatan Jawa Tengah. 2011. Demam Typhoid di Jawa Tengah.


Diunduh dari http://www. Profil Kesehatan Jawa Tengah.go.id/dokumen/profil
2011/htn.

19