Anda di halaman 1dari 1

LEMBAR KASUS

PAJANAN OKUPASIONAL

Studi kasus 1

Seorang bidan, berumur 30 tahun, datang untuk pemeriksaan darah setelah terpajan ketika
membantu proses kelahiran. Matanya terpercik darah dalam proses itu pada dua hari yang
lalu. Ia datang untuk tes dasar. Ia mempunyai dua orang anak, 7 dan 5 tahun, dan telah
menikah selama 10 tahun. Ia dan suami memegang teguh perkawinan monogami.

Ia sangat cemas dan berusaha untuk mengetahui status HIV pasiennya. Suaminya
memprihatinkan kejadian isterinya dan semakin lama kecemasannya meningkat. Ia tidak
menderita gangguan apapun secara psikologis pra morbid. Keluarganya sangat mendukung
dirinya, walaupun ia positif, namun yang ia kuatirkan justeru dari koleganya (kebanyakan
rekan sekerjanya mengetahui proses pajanan tersebut).

Studi kasus 2

Seorang perawat perempuan tertusuk jarum infus ketika sedang memasang infus satu jam
yang lalu. Ia sangat tertekan karena pasiennya ODHA. Tusukan jarum mengenai kulit
perawat, tidak dalam, ketika itu ia tidak menggunakan sarung tangan.

Perawat ini belum menikah. Ia takut dilarang bekerja sebagai perawat sampai hasil
laboratorium diperoleh. Ia tak ingin seorangpun mengetahui kejadian ini, sementara
peraturan rumah sakit mengharuskan setiap orang yang terkena pajanan melapor dengan
cara mengisi formulir. Ia takut laboratorium tak dapat menjaga rahasia. Ia juga takut teman-
teman kerja menghindari bergaul dengannya.